Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)

Nusantara bukan kata yang banyak dipakai oleh generasi muda. Nusantara terdengar seperti barang lama, nusantara dianggap hanya menggambarkan kejayaan di era yang berbeda. Di sisi lain, kemajuan bukan kata yang diterima tanpa tantangan. Kemajuan didefinisikan sebagai meninggalkan adat istiadat, kemajuan dipandang bertentangan dengan akar ajaran keagamaan.

Namun, kedua kata yang sering dianggap berlawanan, disatukan dalam doa dan harapan Abi Muhammad Quraish Shihab, di perjalanan ke Cirebon minggu ini. “Semoga kita bisa terus hidup bersama Al-Qur’an dengan mewujudkan Islam Nusantara yang Berkemajuan”, begitu ujarnya disambut tepuk tangan bahagia ribuan santri di Pesantren Dar Al-Qur’an, Buntet Pesantren dan Pesantren KHAS Kempek di Cirebon.

Abi menggambarkan persatuan sebagai bagian terpenting dari ajaran Islam. Persatuan antar sesama Muslim, apapun mazhabnya, menjadi fondasi dari pengamalan Al-Qur’an. Selama manusia yang bersangkutan berikat pada syahadat dan bersujud ke kiblat yang sama – selama itu pula kita tidak berhak mengkafirkannya. Islam dan Al-Qur’an bukan untuk dimonopoli oleh mazhab tertentu – salafi dan syiah, wahabi maupun aswaja (ahlul sunnah wal jamaah) seperti kita, sesungguhnya punya jauh lebih banyak persamaan daripada perbedaan yang seringkali digadangkan.

Saya makin yakin, bahwa 100% Muslim bukan berarti 100% cara beragama yang seragam, selama kita menjaga 100% mengikuti kaidah akidah.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara

Sebagaimana semua muslim bersaudara, semua warganegara adalah saudara dalam bangsa. Saudara yang salah satu peran utamanya adalah saling menjaga. Mengutip Abi, “Hanya orang gila yang tidak cinta pada negaranya, karena ikatan pada tumpah darah adalah fitrah”. Saya teringat doa Nabi Muhammad SAW yang begitu sedih pada saat meninggalkan Makkah, dan memohon pada Allah untuk menumbuhkan kecintaannya pada Madinah sebagaimana cintanya pada kota kelahiran yang penuh sejarah. Di uraiannya, Abi mencontohkan doa Nabi Ibrahim AS (dalam semangat keagamaannya)1 yang membatasi permohonannya hanya bagi kaumnya yang beriman dan kemudian mendapat “peringatan” dari Allah SWT akan hak semua manusia, apapun keyakinannya (Q.s. Al-Baqarah: 126).

Sebagaimana selalu diucapkannya sejak saya kecil dulu, Abi menyatakan berulang dalam perjalanan minggu ini, “Perbedaan mayoritas dan minoritas sudah selesai sejak kita semua mengikatkan diri dalam satu nama kebangsaan.”

Saya makin yakin, jaminan keamanan dan kesempatan memanfaatkan alam raya, bukan monopoli umat satu agama. Pertanggungjawaban pilihan agama, perhitungan jatah surga-neraka bukan urusan manusia di dunia, tetapi menjadi bukti keadilan dari Tuhan yang penuh rahmat di akhirat.

Sesungguhnya uraian di atas bukan sekadar cita-cita, tetapi sudah dibuktikan dengan pengamalan oleh orangtua kita, pemuka agama dan budaya masyarakat sejak dahulu kala. Sejak kesepakatan Madinah maupun kejayaan Nusantara. Menjadi penggerak, bukan sekedar pengikut, apalagi penghambat kemajuan zaman, adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Perintah mengambil pengalaman dari sejarah (Q.s. Ali Imran: 137) dan beradaptasi pada potensi alam (dan teknologi) (Q.s. Al-Haj: 65), sering kita pelajari. Tetapi kita kadang masih lupa bahwa tradisi dan inovasi tidak dipertentangkan dalam ajaran kitab suci.

Sekali lagi, mari bersama-sama mempraktikkan Islam Berkemajuan yang Nusantara – ini seharusnya menjadi cita-cita kekinian, lintas golongan.[Najelaa Shihab (Pendidik)]

BACA JUGA; Semua Murid Semua Guru:
Pesantren yang Memanusiakan Hubungan, Al-Qur’an yang Hidup dan Menghidupkan (Bagian 1 dari Dua Catatan Perjalanan)

Pesantren yang Memanusiakan Hubungan, Al-Qur’an yang Hidup dan Menghidupkan (Bagian 1 dari Dua Catatan Perjalanan)

Datang dan belajar di pesantren, jarang diceritakan. Padahal pengalaman ini tidak bisa dinikmati semua orang, dan untuk yang beruntung menjalaninya, dirindukan sepanjang hayat. Abi Muhammad Quraish Shihab selalu menceritakan, 1.5 tahun di Pesantren Dar Al-Hadits Malang, beliau belajar jauh lebih banyak daripada 15 tahun di Al-Azhar Cairo.

Keluarbiasaan pesantren, bukan soal mutu pembelajaran agama yang diajarkan, tetapi karena keikhlasan dan kesederhanaan. Saya seringkali bicara tentang memanusiakan hubungan dalam pendidikan, di perjalanan keliling pesantren Dar Al-Qur’an, Buntet Pesantren dan Pesantren KHAS Kempek tempo hari, saya melihat nyata bagaimana ini dipraktikkan.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara

Rantai keikhlasan dimulai dari relasi yang bermakna dengan kyai. Abi bercerita betapa hubungannya dengan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bafaqih, terus terjalin hingga sekarang, saat Almarhum datang lewat firasat dan mimpi. Kyai bukan hanya tempat setor hafalan Al-Qur’an, kyai adalah teladan kehidupan. Yang seringkali mengagetkan buat orang kebanyakan, penghormatan pada kyai ini bukan didasarkan oleh ketakutan atau keturunan, tetapi didasari oleh keyakinan akan keberkahan. Kekuatan akidah tidak dicapai dengan materi ceramah satu arah, tetapi dengan bertukar kisah hikmah yang selalu penuh tawa.

Kebiasaan kesederhanaan adalah modal kedamaian dalam pergaulan. Jurus anti kelaparan dilatihkan sejak dini – jatah makanan bisa “diakalin” asal punya strategi. Menambahkan kecap yang sengaja dibikin kebanyakan, sehingga bisa mengantri lagi minta tambahan nasi. Konsistensi dibiasakan lewat kedisiplinan ibadah malam, keberagaman dihormati dengan tidak menyalahkan bacaan tartil yang bermacam-macam. Merasa berkecukupan walau tidak hidup berlebihan, adalah modal menjadi ummatan washatan.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren mengasah penghormatan pada keber-agama-an, pesantren adalah praktik kehidupan ke-manusia-an. Semua tujuan ini dicapai santri dengan hidup bersama Al-Qur’an.

Membaca, memahami dan hidup bersama Al-Qur’an adalah tiga tingkatan berbeda. Sekadar membaca harfiah mudah menjebak kita pada penafsiran tunggal. Hanya dengan hidup bersama Al-Qur’an kita menyadari bahwa kebenaran bukan pembenaran berlebihan pada satu jawaban. Pemahaman mengantar kita mengenal wahyu dalam berbagai konteks budaya dimana kita berada. Namun hidup bersama Al-Qur’an yang akan membuktikan mukjizatnya yang tak lekang oleh masa.

Dalam pertemuan dengan ribuan santri di Cirebon minggu hari, satu kalimat Abi yang paling memotivasi diri adalah “Mendekatlah pada Al-Qur’an, karena Kitab ini sesungguhnya hidup dan menghidupkan. Saat kita mengajaknya bercakap layaknya sahabat, maka di saat itulah Al-Qur’an mengungkap rahasianya yang tidak pernah diceritakannya pada sembarang orang.”

Saya, bersama tim Pusat Studi Al-Qur’an, menjadi saksi betapa mata para santri menyala mendengar kata-kata ini, saya membayangkan betapa banyaknya api perjuangan yang ditularkan Abi. Bukan karena santri-santri ini -seperti Abi – selalu qunut saat shalat subuh, tetapi karena kecintaan pada Al-Qur’an yang insya Allah menyatukan mereka untuk terus berjihad dengan ilmu.

Menjadi ahli yang bukan saja hafal, memahami dan mempraktikan kehidupan bersama Al-Qur’an selama 60 tahun lebih seutuh Abi, rasanya masih luar biasa jauh untuk diri ini. Tetapi nasihat sederhana untuk menjawab pertanyaan yang diajukan wahyu, berdoa saat mendengar kabar gembira di dalamnya, dan mengucapkan salam saat Al-Qur’an menceritakan tokoh panutan, bisa mulai kita lakukan.

Saya yakin, pertanyaan Allah dalam surah Ar-Rahman, فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, layak kita jawab dengan syukur. Sungguh ya Allah, tak terhitung nikmat-Mu untuk kami sebagai bangsa dan segenap alam raya.

Perjalanan adalah cara menemukan persamaan dengan teman dalam pikiran. Semoga catatan ini juga menjadi sarana meneguhkan perjanjian kita berjalan seiringan dalam moderasi.

BACA JUGA: Semua Murid Semua Guru:
Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)
[Najelaa Shihab (Pendidik)]

Bedah Buku Moderasi Islam Karya Dr. Muchlis M. Hanafi

Sabtu, 16 Desember 2017 di Jogoroto. Tepatnya pada waktu menjelang senja. Sekitar jam 16:30, bedah buku “Moderasi Islam” karya Dr. Muchlis M. Hanafi, MA dimulai dengan pembacaan surat Al-fatihah yang dipandu langsung oleh pembawa acara, Ust. Muhammad Faiq Faizin, M.Pd.

Acara itu bertempat di halaman pondok pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto-Jombang. Tepatnya berada di panggung utama yang akan digunakan untuk mewisuda 64 santri yang telah merampungkan hafalan 30 juz al-Qur’an bil-ghoib dan yang telah memenuhi persyaratan untuk mengikuti wisuda hafidh ke empat tahun 2017.

Tampak di depan Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA, Kiai Ainul Yaqin, SQ, dan Ust. Muhammad Faiq Faizin, M.Pd sedang duduk di panggung utama yang telah disediakan panitia dan sudah siap untuk mendiskusikan buku “Moderasi Islam.”

Tidak sedikit hadirin yang hadir di majelis itu. Lebih kurang ada 200 yang ikut serta khidmat mendengarkan setiap apa yang di dauhkan Dr. Mukhlis. Bukan hanya santri Hamalatul Qur’an dan alumni Bayt al-Quran, hadirin dari luar pun juga banyak yang antusias mengikuti bedah buku hingga acara selesai.

Inti ditulisnya buku itu, karena banyaknya orang-orang yang masih memiliki pemahaman yang tidak sejalan dengan agama. Ada sekelompok yang sangat ketat dalam beragama, ada juga yang sangat longgar. Sebagian ekstrim ke kiri, sebagian lagi ada yang ke kanan. Nah, dalam buku itu, penulis mengenalkan pemahaman Islam yang moderat, adil, lagi baik yang sejalan dengan ajaran agama.

Bedah buku “Moderasi Islam” oleh Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA itu diadakan dalam rangka wisuda hafidh yang ke-empat pondok pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto dan sebagai reoni (silaturahmi) alumni pondok pesantren pasca tahfidh Bayt al-Quran Pusat Studi al-Quran Jakarta.. 

Dalam rangkaian acara pada sore hari itu dimulai dengan pembukaan, pembacaan Kalam ilahi oleh saudara Haidar Ali. Sambutan pengasuh pondok pesantren Hamalatul Qur’an oleh Bapak Kiai Ainul Yaqin, SQ pada rangkaian acara setelah Kalam ilahi. Dilanjutkan bedah buku “Moderasi Islam” yang langsung disampaikan oleh beliau Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA. Acara itu ditutup dengan do’a oleh K.H Imam Mawardi.

Jogoroto, 16 Desember 2017

Al-Quran dan Komunikasi

RESUME HALAQAH TAFSIR
PONDOK PESANTREN BAYT AL-QURAN
RABU,22 FEBRUARI 2017

Tafsir Tematik :
AL-QURAN DAN KOMUNIKASI
Oleh : Bpk. Prof. Dr. Hamdani Anwar

Al-Quran sebagaimana di siratkan dalam QS. Al-Baqarah : 185 merupakan hudan linnas yakni sebagai petunjuk dalam semua aspek kehidupan manusia. Salah satu diantaranya adalah komunikasi.
Komunikasi berasal dari bahasa Latin, communicatio – communis yang berarti sama. Maksudnya, “sama maknanya” dengan pesan yang disampaikan. Penyampai pesan dan penerimanya memiliki kesan yang sama tentang pesan yang terjadi antara keduanya. Dan komunikasi tidak hanya tentang penyampaian pesan, melainkan juga mengandung edukasi dan mempengaruhi.
Unsur-unsur komunikasi : komunikator (penyampai pesan), komunikan (penerima pesan), pesan dan media.
1. Unsur Komunikator dalam al-Quran
Komunikator dalam al-Quran yaitu Rasulullah SAW. Al-Quran menyebutkan bahwa tugas utama seorang Rasul adalah menyampaikan pesan (tabligh). Disebutkan sebanyak 15 kali dalam 13 surah, diantaranya : QS. (5) Al-Maidah : 99.
Rasulullah menyampaikan pesan Allah kepada ummat dengan : 1) lisan yang berupa perintah, larangan, nasehat dan teguran; 2) perilaku berupa keteladanan. Tugas Rasul hanyalah menyampaikan, sedangkan beriman atau tidak bukan menjadi tanggung jawabnya.
2. Unsur Komunikan dalam al-Quran
Komunikan dalam dakwah Nabi adalah seluruh ummat manusia.
3. Unsur Pesan dalam al-Quran
Pesan al-Quran sebagai hudan linnas, memberi jalan keluar terbaik bagi semua problem manusia. Isi al-Quran itu tentang akidah, syariah dan akhlak.
Prinsip-prinsip komunikasi sesuai petunjuk al-Quran :
1) Kejujuran, (QS. An-Nahl : 116)
2) Ketepatan, (QS. Al-Hujurat : 6)
3) Tanggung jawab, (QS. Al-Isra : 36)
4) Kritik konstruktif, (QS. Ali Imran : 104)
5) Berorientasi kesejahteraan dunia akhirat, (QS. Al-Baqarah : 201)
6) Keadilan dan kebaikan, (QS. An-Nahl : 90)
Penutup
• Meninggalkan al-Quran hanya berakibat pada kemunduran
• Al-Quran memberikan beragam petunjuk kehidupan termasuk dalam bidang komunikasi dan informasi
• Dengan mewujudkan ajarannya dalam kehidupan maka ketenangan dan kesejahteraan akan tercapai.
By : Azzam (santri Bayt al-Qur’an)

Perspektif al-Qur’an tentang Kafir

Ma’asyiral muslimin wa zumrotal mukminin rahimakumullah,
Alhamdulillah Allah swt., melimpahkan kepada kita nikmat lahir dan batin sehingga kita dapat melaksanakan kewajiban kita kepada Allah swt., semoga nikmat ini langgeng sebagai tambahan ketaatan kita kepada-Nya.

Ma’asyiral muslimin,
Ijinkan khotib untuk memulai khutbah Jumat ini dengan mengutip sebuah statement dari seorang ulama Mesir kontemporer Syekh Muhammad Abduh. Beliau pernah menyebutkan ‘Apa yang kulihat dari kaum muslimin yang mayoritas, tapi minus nilai-nilai Islam. Dan aku melihat nilai-nilai Islam, tapi minus kaum muslimin.’

Selanjutnya

Semangat Hijrah untuk Perubahan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di hari Jumat yang penuh kebaikan dan keberkahan ini, kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt., sebab hanya dengan berbekal keimanan dan ketakwaan yang berkualitas kita akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu sangat wajar karena Allah swt., berwasiat kepada umat-umat terdahulu dan juga kepada kita umat Nabi Muhammad saw., agar terus selalu berkomitmen dan berpegang teguh kepada ketakwaan.

Baca lebih lanjut

Manfaat Silaturahmi

Kalaupun kita memahami makna silaturrahmi dalam pengertian sempit, yakni menjalin hubungan harmonis antar keluarga, maka ini saja telah membawa dampaknya yang sangat besar bagi seluruh masyarakat. Masyarakat terdiri dari kumpulan keluarga kecil. Keluarga kecil berkaitan dengan keluarga besar, demikian seterusnya. Bila terjalin hubungan harmonis antar keluarga, maka keharmonisan itu akan merambat ke keluarga yang lain sehingga pada gilirannya akan mewujudkan masyarakat harmonis yang didambakan oleh agama, yakni Ruhama’u Bainahun (saling kasih mengasihi antar mereka) (QS.al-Fath [48]:29).

Tentu saja pengertian yang seluas mungkin dari silaturrahim akan membawa dampak yang lebih positif lagi karena ia menuntut terjalinnya kasih sayang antar semua makhluk Ilahi. Ia menuntut terciptanya persahabatan dan persaudaraan , bukan hanya Ukhuwwah fi ad-Din (Persaudaraan seagama), atau Ukhuwwah Wathaniyah (Persaudaraan Sebangsa), tetapi melebihi hal tersebut sehingga mencakup Ukhuwwah Basyariyah/Insaniyah (Persaudaraan kemanusiaan) dan Ukhuwah Khalqiyah (Persaudaraan semakhluk), dengan jalan memberi rahmat dan kasih sayang kepada semua makhluk, yang kesemuanya merupakan bagian dari Ukhuwwah Islamiyyah, yakni ukhuwah yang bersifat Islami dan diajarkan oleh agama Islam.

Ukhuwah tersebut paling tidak memberi peluang pada semua makhluk untuk meraih apa yang dibutuhkannya, karena semua adalah makhluk seperti kita juga. Dan tiadalah binatang-binatang yang melata di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat seperti kamu juga (QS. Al-An’am [6]:38). Dalam konteks ini Nabi Muhammad saw. melarang kita menggunakan tulang-tulang untuk ber-istinja karena “Tulang adalah makanan saudara-saudara kamu dari jenis makhluk jin.” Dengan demikian semua yang “seudara dengan kita adalah saudara kita”. (Buku Menabur pesan Ilahi, Karya M.Quraish Shihab. Hal. 72)

Menghadirkan Khusyu’

Kajian Halaqah Tafsir oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.

(Rabu, 19 Agustus 2015)

Penyakit masyarakat moderen adalah sulit khusyu atau fokus. Mereka kuat dalam beribadah tapi kurang berkualitas. Hal ini karena mereka cenderung lebih suka berlogika dalam melihat segala sesuatu. Dari sini mereka lebih mudah disetir oleh pikiran. Sementara, cara kerja pikiran adalah memetak-metakkan sesuatu. Dialah yang mengatakan adanya aku, kamu, dia, di sini, di sana, dan sebagainya.

“Anakku yang itu begini dan yang itu begitu” misalnya. Secara tidak langsung, ungkapan ini menuntun orang tua untuk memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda terhadap anaknya. Perhatian dan perlakuan tersebut berbanding lurus dengan perbuatan anaknya. Semakin baik perbuatan sang anak, semakin baik pula perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, semakin buruk perilaku si anak, semakin biasa pula – bahkan semakin buruk – perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sepanjang orang tua tersebut mampu dalam mengisi kotak-kotak tersebut – terlebih terhadap anakknya yang berperilaku baik dengan memberikan perhatian dan perlakuan yang baik – ia akan merasa senang dan gembira. Namun jika tidak, ia akan tertekan dan menderita.

Pada dasarnya, perasaan “terkena musibah” bukan berasal dari diri kita sendiri. Ia adalah barang luar yang menempel pada diri kita. Jadi efek yang ditimbulkan olehnya tergantung pada bagaimana kita melihatnya. Jika kita menilainya sebagai hukuman atau kesulitan yang Tuhan berikan kepada kita, ia akan menjadi musibah. Dan jika kita melihatnya sebagai bentuk perhatian-Nya kepada kita, ia akan menjadi kenikmatan. Dengan demikian, penyebab penderitaan yang sebenarnya bukanlah kondisi buruk yang menghampiri kita, melainkan bagaimana fikiran dan cara kita menyikapi kondisi tersebut. Ada sebuah penemuan yang layak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan, “pasien yang bersahabat dengan penyakitnya hanya merasakan 60% rasa sakit tersebut. Sedangkan dia yang mengutuk penyakitnya, akan merasakan 100% rasa sakit tersebut”. Untuk lebih memantapkan hal ini, silahkan perhatikan kisah Nabi Ayyub as. Oleh karenanya, jinakkan pikiran dan bukan mengusir tamu permasalahan.

Racun dalam kehidupan kita bukan hanya nafsu melainkan juga fikiran. Ia perlu dikendalikan sebagaimana nafsu. Kebanyakan dari kita masih suka memberikan ruang gerak yang luas kepada fikiran dalam berkreasi dan mempersempit ruang gerak nafsu. Padahal, fikiran punya potensi seperti nafsu. Ia bisa berkolaborasi dengan nafsu. Cara menjinakkan keduanya adalah dengan memahami, menghayati dan mempraktikkan agama.

Orang tua dahulu para pejuang berpegang pada prinsip dengan kuat. Bagi mereka berangkat ke medan perang belum tentu tertembak. Kalaupun tertembak belum tentu mati. Kalaupun mati sudah tentu kematian tersebut adalah mati syahid. Terkait dengan kematian, Jalaluddin al-Rumi berkata pada mulanya kita adalah mati yang kemudian hidup sebagai bebatuan.setelah itu, kita mati dan hidup kembali sebagai tumbuhan. Pada saatnya kita akan mati lagi lalu dihidupkan kembali sebagai hewan. Pada usia tertentu kita akan mati lagi dan kemudian hidup terlahir sebagai manusia. Setelah itu mati lagi dan hidup kembali sebagai malaikat. Setelah menjadi malaikat kita akan bersatu dengan Dzat sumber segala sesuatu. Pernyataan Rumi ini berbeda dengan reingkarnasi yang menjadi keyakinan umat Hindu. Bagi mereka, kehidupan berikutnya bergantung pada amal perbuatan yang dikerjakan pada kehidupan sebelumnya. Selain itu, dalam perputaran tersebut ada siklus mundur dari manusia menjadi hewan. Berbeda dengan pernyataan Rumi, perputaran tersebut bersifat linier maju. Terkait hidup dan mati, yang perlu diperhatikan adalah dari mana, sedang dimana, dan akan kemanakah kita.

Kesadaran akan “eksistensi segala sesuatu adalah Engkau” harus kita miliki. Hal ini karena seluruh alam raya ini merupakan tajalli-nya Allah (QS. al Baqarah: 115). Untuk mencapai hal ini kita harus lebih sering mengajak batin untuk aktif dalam kehidupan. Penggunakan batin dalam melihat dan menangkap sesuatu akan memberikan jawaban yang sama, yakni “aku”. Berbeda dengan fikiran, ia akan memberikan jawaban “itu kamu dan ini aku”.

Dengan mata batin, penderitaan akan jarang meghampiri. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pasti ada satu dari dua perasaan yang menyertainya. Perasaan tersebut adalah suka dan beban. Rasa suka akan menghantarkan pelakunya pada kenyamanan Misalnya pada saat menyiram tanaman, terbesit rasa bahwa kita sama-sama butuh air dan perawatan. Kondisi akan merlahirkan rasa suka dan cinta. Dalam menolong juga demikian, jika masih terkotak-kotak oleh pikiran, yakni dengan merasa “ini aku dan itu kamu”, rasa pamrih bisa muncul. Karena ia menlong orang lain dan bukan diri sendiri. Jarang ada orang yang pamrih ketika menolong dirinya sendiri, bahkan tidak ada.

Kesenangan dan penderitaan akan tetap eksis terwujud ketika pikiran tetap bekerja. Perhatikan saat kita tidur, kesenangan dan beban yang terasa sebelum tidur akan hilang tidak membekas sama sekali. Semakin beristirahat pikiran kita, semakin tenang pula tidur kita.

Sholat adalah waktu yang paling enak untuk menghayal. Pada saat itu, biasanya seseorang mendadak menjadi cerdas. Biasanya ia mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini dicari. Orang yang terlalu pintar biasanya sedikit khusyuknya. hal ini karena pikirannya masih bekerja sehingga muncul pengotak-kotakan segala sesuatu. Untuk memperoleh kualitas solat yang baik, Allah memberikan beberapa shock theraphy, antara lain:

1. Azan; karena isinya memperdengarkan akhirat yang hanya bisa digapai oleh batin.
2. Wudhu; terdapat rahasia di balik pendiktean Allah secara langsung terkait oragan tubuh yang harus dibasuh dalam wudlu.

Menurut Omar Barren Ehren Falles, pakar neurologi yang sekaligus psikiater, pusat kesadaran manusia terdapat pada tiga tempat; wajah, tangan dan kaki. Ketiga tempat ini merupakan anggota tubuh yang dibasuh pada saat berwudhu. Terkait hal ini ada yang mengatakan bahwa orang yang tidak khusyu dalam mengambil air wudlu, akan susah khusyu dalam sholat.

Sholat mampu menghadirkan ketenangan pada pelakunya. Ketenangan tersebut diperoleh malalui dzikir yang terdapat di dalamnya. Allah menyuruh hamba-Nya menjalankan sholat untuk mengingat-Nya, berdzikir kepada-Nya (QS. Thaha: 14). Sebagaimana janji Allah, berdzikir akan menghadirkan ketenangan diri (QS. arRa’d: 28

Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

(Allah Hadirkan contoh Empirik Masyarakat Baduwy)

disajikan pada pengajian halaqah Tafsir (Rabu,1 April 2015)

Oleh : Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi, MA

Tidak ada teks Al-Qur’am atau sunnah yang berbicara langsung terkait ketahanan pangan. Ayat-ayat yang memberi informasi terkait itu bisa dirujuk surat quraisy yang menggambarkan bahwa perintah menyembah Tuhan diikuti dengan sifat melekat terkait pentingnya memperhatikan soal pangan dan soal rasa aman.
Ayat lain yang juga terkait langsung atau tidak langsung gambaran AlQur’an tentang pohon (syajarah toyyibah) yang memberi buah tanpa musim. Mampukan petani muslim mewujudkannya?
Mari kita belajar dari contoh ayat kauniyah yang dihadirkan Allah yakni masyarakat Baduwy terkait ketahanan pangan. Indonesia telah dianugerahi Allah memiliki lahan luas yang subur darat maupun laut, namun tudak memiliki kemandirian dalam pangan sekalipun apalagi dalam bidang-bidang yang lain.
Kata baduy (بدوي) dalam bahasa Arab berarti pedalaman. Karena memang orang­orang baduy tinggal di daerah pedalaman nan jauh dari kemodernan dan gaya hidup kekinian. Mereka dalam menjalani hidup sangat menjunjung tinggi adat dan prinsif yang digariskan para leluhur mereka. Meskipun mereka terkesan hidup mengisolir diri, jangan pernah mengira bahwa keberadaannya tidak ada sisi positif untuk dicontoh bagi kehidupan modern.
Dalam soal ketersediaan pangan dan ketahanan pangan masyarakat Baduy di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Propinsi Banten boleh dicontoh. Masyarakat Baduy telah sanggup mempertahankan hidup kemandirian dalam komunitasnya sendiri. Mereka pada saat panen tiba biasa menyimpan padi untuk stok di lumbung-Iumbung padi yang disebut leuit ( Kaman Nainggolan 2011: 300). Mereka melakukan ini dengan kesiapan penuh jika ada salah satu warga komunitasnya kehabisan tabungan padi, warga lainnya pasti akan membantunya memberikan padi sehingga tidak mungkin kasus kelaparan hingga masa panen berikutnya tiba. Bukankan kita punya ayat ; Surah al-Maidah ayat 2

Apa yang dilakukan masyarakat Baduy sesungguhnya mereka telah mencontoh dan menjalankan pesan Alqur’an yang digambarkan dalam kisah Yusuf AS yang selalu

menyediakan stok pangan pada waktu panen untuk mengantisipasi masa paceklik tiba. lnilah yang dibelajarkan Nabi terkait pola hidup sederhana saat berpunya. Hasilnya sejak dulu mereka tidak pernah mengalami rawan pangan apalagi kelaparan. Kita semua tahu saat itu belum ada modernisasi tehnologi industry pertanian apapun, kecuali pertanian tradisional.

Karena itu menjadi ironis jika di dalam masyarakat modern kelemahanan pangandan mahalnya harga bahan pokok, hanya akibat naiknya harga BBM menjadi Ikon bagi kegagalan mengelola bangsa menjadi bangsa beradab dan sejahtera. Lebih-Iebih di kalangan muslim yang mencitrakan, seolah kita tidak pernah sukses mengembangkan kepedulian sebagai refleksi dari keberimanan dan ketaqwaan. Dengan demikian kita wajib berusaha menciptakan suasana hidup sejahtera berbasis rahmatan Iii alamin.

Kata kunci dari semua itu adalah hidup dalam suasana harmoni, saling peduli, hidup rukun apalagi antar sesama warga, sesama lembaga, membudayakan saling gotong royong dan saling menolong mewujudkan kesejahteraan hidup dan kebaikan hidup sebagai sesama hamba Allah. Inilah yang diisyaratkan Alqur’an dalam surat al­Maidah ayat 2 yang bagian ayatnya berbunyi:

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Artinya saling bertolonganlah kalian dalam mewujudkan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan sekali kali saling membantu dalam hidup berdosa dan permusuhan.

Pesan ayat tentang mewujudkan kebaikan hidup untuk menuju manusia taqwa jelas membutuhkan ketahanan pangan, ketahanan keamanan dan keutuhan social. Kini yang kita rasakan adalah hidup disharmoni, saling menjatuhkan, saling menuding yang mengarah dan bisa menjadi pemicu emosi tak terkendali dan konflik horizontal seperti terjadi di beberapa tempat di wilayah kesatuan Republik tercinta ini. Juga terjadi di belahan bumi berpenduduk muslim di Timur Tengah yang memilukan. Dalam suasana lapar dan terpicu oleh kecemburuan social karena ketidak adilan akses, ketidak adilan ekonomi politik dan social bara emosi masyarakat mudah dibakar ibarat BBM disuguhkan api. Ini pula yang terjadi menjelang naiknya harga BBM lalu, sa at perangkat desa berdemo di Jakarta meminta di PNS kan? Situasi massa besar hilang rasionalitas dan kesabaran didorong hawa nafsu amarah. Siapa kemudian yang harus jadi panutan moral di negeri ini? Muslim-muslimah Indonesia mestinya menjadi garda terdepan atau

Paling tidak belajar ikut memikirkan persoalan budaya bangsa yang sedang terperosok menjadi tidak beradab. Nah di masyarakat Baduy yang tradisional itu tidak ada keserakahan, filsafat hidup yang dikembangkan adalah jika ada salah satu hidup kesusahan warga lainnya pasti akan menolong. Hidup gembira dini’mati bersama dan hidup susah juga ditanggung bersama. Bisakah kita hadir mewujudkan II teori bersama pasti kita bisa”
Di sisi lain masyarakat Baduy sangat menghargai dan memelihara alam. Mereka pantang menebang hutan, atau merusak bukit dan lahan pertanian. Karena hal itu dalam pandangan mereka melanggar adat. Mereka tidak terlalu butuh undang-undang yang mereka butuhkan adalah ketaatan pada filosofi hidup yang berbunyi: ponok teu meunang disambung nu panjang teu meunag dipotong” ini memiliki makna yang dalam bahwa yang pendek tidak boleh disambung dan yang panjang tidak boleh dipotong biarkan apa adanya. lnilah filsafat beragama” membiasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan”. Mereka hidup menyatu dengan alam karena itu jangan harap mereka mau dipindahkan di tempat elite dengan merusak lingkungan. Berbeda dengan masyarakat modern tidak peduli proyek perumahan ataupun apa merusak lingkungan dan merusak tatanan hingga menjadi pemicu banjir dan longsor yang penting memberi untung besar walau sesaat.
Inilah masyarakat Baduy yang Allah hadirkan sebagai tanda hidup agar kita bisa belajar mengenali sisi positif dari kehadirannya. Dalam kisah Sulaiman AS dalam Al-Qur’an, sosok Nabi yang terkenal kaya raya dan begitu hebat ketaqwaannya kepada Allah pun pernah belajar bersyukur dari panglima semut ( an-namal). Jadi ayat Allah telah hadir di tengah-tengah kehidupan di masa manapun untuk dijadikan ibrah (pelajaran berharga).
Indonesia setelah merdeka lebih dari 60 tahun, dengan lahan darat dan lautan yang teramat luas, nelayan dan petani penggarap kita masih hidup di bawah garis kemiskinan belum bisa meni’mati layanan kesehatan apalagi mempunyai ketahanan pangan yang kokoh. Pertanyaan besar muncul kapan masyarakat terbebas dari masalah kerawanan pangan, kerawanan gizi buruk dan kemiskinan akan dapat terkikis dari bumi Indonesia. Mana pula andil kita sebagai warga muslim terbesar dunia? Berapa ribu kali lipat naiknya APBN kita tidak akan memberi arti apa-apa bagi rakyat kecil, jika kaum elite membisu dari memperjuangkan keadilan, kecuali hanya untuk kelompok dan golongannya. Yang kecil dan tidak berdaya akan tetap merana sepanjang masa walau kepemimpinan silih berganti.

Itu sebabnya Nabi Muhammad saw mengkrit keberagamaan dan keimanan kita, jika bisa tidur nyenyak padahal tetangga kita kelaparan. Di sisi lain Al-Qur’an mengecam keras para pendusta agama. Dia adalah orang-orang yang shalat namun tidak memiliki sensitifitas dan tidak memiliki kepedulian social. Ini berarti di balik perintah ibadah ritual ada pesan moral yang harus juga ditegakkan dan harus dapat diwujudkan oleh para pengelola Negara yang kita cintai ini.

Maka agama dan ajaran Islam tidak hanya bicara pentingnya ritual dikerjakan secara baik, benar dan bermutu melainkan jga bicara tanggungjawab social terutama hal yang mendasar bagi kebutuhan masyarakat yakni terbebas dari rasa lapar dan terjamin adanya rasa aman.

Haruslah diwujudkan dengan upaya maksimal sesuai porsi masing-masing dan sesuai tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan tugas hamba sebagai pengabdi.