Salat, Antara Kewajiban atau Kebutuhan?

Ibadah salat sudah sering kita dirikan. Bahkan sebagian dari kita ada yang melaksanakan salat lebih, diluar yang wajib. Ada sebagian yang merasakan kesenangan yang luar biasa saat mereka bisa mendapati kehadiran hatinya bisa begitu dekat dengan Rab-nya. Inilah yang melatarbelakangi banyak dari kita yang tetap bisa menjaga salatnya dengan baik.

Ketika pertanyaan salat diajukan menjadi, apakah ia menjadi kewajiban atau kebutuhan, inilah yang menjadikan ibadah ini begitu menarik. Terutama bagi orang tua yang mendapati anaknya begitu sulitnya untuk dikendalikan agar tetap menjaga salat.

Bagi mereka, jangankan untuk membuat ibadah salat menjadi kebutuhan, menjadikannya sebagai kewajiban saja sudah begitu merepotkan. Tak hanya berlaku bagi anak-anak, nyatanya kegiatan ini juga masih banyak yang ditinggalkan oleh mereka yang baligh, dan mengaku muslim. Inilah yang menjadikan pertanyaanya menjadi relevan untuk kembali diangkat.

Menurut Romli Syarqawi Zaen, MA, yang hadir sebagai salah satu narasumber, kebutuhan atupun kewajiban pun keduanya memang benar. Sudah jelas bahwa ibadah salat sudah diwajibkan atas semua muslim. Seperti yang disebut dalam QS. Adz Dzariyat: 56-57. Dan di ayat inipun disebutkan bahwa Allah bukanlah sebagai pihak yang membutuhkan kegiatan salat dari umat-Nya. Karena umatnya lah yang memeiliki kebutuhan untuk berdoa.

Kebutuhan ini, nantinya tidak akan menganggu kekuasaan Allah, karena tanpa umat-Nya beribadah pun Allah masih tetap Maha Agung dan Perkasa atas segala sesuatu. Manusia, disebutkan lebih lanjut, memiliki kecenderungan untuk menyembah kepada mahluk hidup. Untuk itu perintah salat dibentuk untuk meluruskan kembali niat manusia agar menyembah hanya kepada Yang Maha Esa.

Lebih lanjut, untuk persoalan teknis kepada anak-anak didik, dijelaskan oleh Ust. Chairul Amin, S.Th.I dari sekolah Mumtaza, bahwa anak-anak tidak bisa langsung diberikan konsep salat yang utuh agar mereka memahami secara penuh atas perintah salat. Untuk usia-usia dini di sekolah, mereka biasanya secara mudah diperkenalkan dengan hal seperti menjaga kesucian masjid, tetap tenang saat berada di dalam masjid, agar mereka mengetahui bahwa inilah tempat ibadah. Sekaligus mempersiapkan kondisi psikologis mereka agar tahu memperlakukan rumah ibadah ini dengan baik, tanpa menganggu kegiataan jamaah lain.

Bagi Dyah Wahyuningsih yang berasal dari Living Qur’an, beliau menambahkan bahwa dalam sebuat penelitian terkini, rujukan anak saat beribadah, terumata salat, kini lebih banyak ditumpu oleh sang Ayah. Jadi baik buruknya, rajin tidaknya, konsistensi dalam beribadah bisa sangat efektif apabila dalam sebuah keluarga ada yang menjadi panutan dalam mendidik, terutama faktor sang Ayah dalam sebuah keluarga (tanpa mengecilkan peran sang Ibu, tentu saja.)

Inilah ringkasan yang bisa diambil dari kegiatan Talkshow yang diadakan pada hari Rabu, 3 Mei 2017 bertempat di Pesantren Bayt al-Quran Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab Nyambangi Santri-santri BQM

Usai menghadiri muktamar pada Kamis dan Jumat (27-28/4/2017), esok harinya, Sabtu (29/4) Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab menyempatkan diri menemui para santri Bayt al-Quran Mesir, alumni Bayt al-Quran-Pusat Studi al-Quran Jakarta yang melanjutkan studi di Mesir.

Pak Quraish—demikian sapaan akrabnya—mengundang para santri untuk hadir ke Hotel Fairmont Kairo. Lumrahnya “bapak” yang menyambangi “anak”, perjumpaan itu terasa demikian teduh nan hangat. Tiga puluh lima menit pertama, ruangan itu penuh dengan canda dan tawa. Cendekiawan muslim yang populer dengan tulisan-tulisan serta kajian-kajian serius itu bercerita tentang peristiwa-peristiwa jenaka masa-masa saat ia di Mesir dengan penuh humor. Hampir tanpa jeda para santri dibuatnya terpingkal-pingkal.

Menit-menit selanjutnya, Pak Quraish bertanya tentang keluhan-keluhan santrinya. Dan setelah hampir satu jam, barulah beliau mulai berbicara hal-hal yang serius.Quraish Shihab dan Santri Bayt al-Quran

Quraish Shihab dan Santri Bayt al-Quran

“Al-Azhar itu wasatiah. Kita harus menghormati semua pendapat. Walaupun, pendapat itu tidak dapat disetujui. Wong Tuhan saja memberi kebebasan. Fa Man Syā’a Fal Yu’min. Wa Man Syā’a Fal Yakfur. Siapa pun yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia muslim, meskipun tidak salat. Saya ditanya tentang ISIS. Saya menjawab, ISIS muslim, tetapi dia muslim yang durhaka,” tutur Pak Quraish.

Direktur Pusat Studi al-Quran (PSQ) itu juga memaparkan bahwa di Pusat Studi al-Quran, semua pendapat kita terima. Tapi, kita punya pendapat yang kita anut. Pendapat yang kita anut itu adalah pendapat Ahlussunnah wal Jamaah. Tetapi kita tidak kafirkan Wahabi, walaupun kita tidak setuju. Kita tidak kafirkan Syiah, walaupun kita tidak setuju.

Wasatiah adalah keberagamaan yang paling sulit. Anda yang ingin menganut dan mengamalkan paham ini, ada dua yang harus sangat diperhatikan, dan itu yang sangat menyulitkan. Yang pertama adalah ilmu. Dan yang kedua adalah kemampuan mengendalikan emosi.

Pak Quraish memberikan sebuah ilustrasi. “Jika ada sejumlah orang, dan Anda mau mencari siapa yang berada di tengah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari tahu berapa orang yang ada di sana, berapa yang bukan orang, dan berapa bayangannya. Anda harus tahu persis, itu orang yang harus dihitung, atau itu bayangannya.”

“Kenapa di mana-mana ada orang ekstrem?” lanjutnya dengan pertanyaan retorik. “Karena ilmunya kurang. Boleh jadi dia hanya mengira ada lima orang. Sehingga ia menunjuk tiga lah yang di tengah. Tapi kalau tujuh orang? Sudah salah jika tiga dikatakan yang di tengah. Karena itu Anda harus tahu.”

Pakar tafsir kebanggaan Indonesia tersebut mengatakan bahwa penyebab utama kekerasan adalah karena keterbatasan ilmu. “Dia pikir hanya ini pendapat. Dia hanya tahu yang ini. Padahal yang ini dan yang itu sama. Hanya redaksinya yang berbeda.”

“Saat ini banyak orang yang tidak memiliki keduanya. Tidak punya ilmu. Emosi semangatnya lebih hebat dari Nabi saw. Nabi dulu juga begitu semangatnya, tapi kemudian ditegur oleh Tuhan, La’allaka Bākhi’un Nafsaka An Lā Yakūnū Mu’minīn.”

“Didiklah diri Anda untuk paham, dan kendalikan emosi,” tegasnya lagi.

Nasihat lainnya yang diberikan Pak Quraish pada para mahasiswa al-Azhar itu adalah, bahwa kita sudah tidak bisa lagi berpegang sepenuhnya dengan pendapat lama. Kita akan ketinggalan. Ada hal-hal baru yang perlu kita lihat.

Riwayat selain Alquran, hampir semuanya bisa diragukan kebenarannya. Orang-orang memercayai bahwa Hadis Mutawatir dijamin kebenarannya. Tapi, Syekh Muhammad Abduh berkata, “Suatu berita yang menyenangkan, memiliki potensi banyak yang menceritakan. Sehingga, jika cerita menyenangkan itu diceritakan oleh banyak orang tetapi bohong, maka tidak harus kita menerimanya.” Dalam hal ini, Muhammad Abduh memberi contoh Hadis Mutawatir tentang al-Kautsar, bahwa ia adalah telaga di surga.

Semua riwayat dapat diragukan, kecuali Alquran. Karena Alquran selain mutawatir, ia juga dijaga oleh Allah swt. dan dijamin kemurniannya.

“Apakah semua dalam Bukhari itu benar?” Kembali Pak Quraish bertanya dengan pertanyaan retorik. “ Bahkan Imam Muslim memiliki kritik terhadap sahih Bukhari. Ada orang-orang yang dipakai oleh Imam Bukhari, tapi dianggap daif oleh Imam Muslim.”

Belajar. Berusaha objektif. Carilah pandangan yang bisa mempersatukan.

Sudah tidak bisa lagi Anda hidup dengan pemikiran-pemikiran masa lalu. Jangan lagi berbicara soal mayoritas dan minoritas. Karena mayoritas dan minoritas cenderung membeda-bedakan. Padahal kita semua sama dalam berkewarganegaraan.

“Semua bisa salah, semua bisa benar. Ada yang benar sebagian, sebagiannya salah. Bisa juga yang berbeda-beda itu benar semua. Tuhan tidak bertanya lima tambah lima berapa. Tapi, Tuhan bertanya sepuluh itu berapa tambah berapa,” pungkasnya. (tw/hd)

Sumber : https://nuhidiyah.wordpress.com/2017/04/30/prof-dr-k-h-m-quraish-shihab-nyambangi-santri-santri-bqm/

Selamat, Alumni Bayt al-Quran Lolos Seleksi Imam Masjid di Abu Dhabi

Alhamdulillah, berita gembira ini kami terima. Salah seorang alumni kami dari angkatan XIII, yakni M. Shoifi akhirnya lolos dan menjalani kontrak selama dua tahun untuk menjadi imam masjid di Abu Dhabi dan wilayah lain di Emirat.

Kegiatan ini adalah kerjasama Kementerian Agama dengan Lembaga Urusan Agama Islam dan Wakaf Persatuan Emirat Arab (PEA). Ada lebih dari 60 orang peserta yang mengikuti ujian seleksi ini. Tercatat ada enam utusan langsung datang dari Dubai untuk melakukan seleksi.

Delegasi dipimpin oleh Muhammad Ubaid Rosyid Al Mazru’i (Direktur Eksekutif Urusan Islam), beranggotakan Hamad Yusuf Hamad (Direktur Eksekutif Layanan), DR. Abdul Azis Abdullah (Direktur Otoritas di Al Ain), Muhammad Hamad Al Khobiri (Staff Ahli), Rosyid Muhammad Hamad (Penceramah), Adil Muhammad Abdullah (Staf Administrasi).

M. Shoifi

M. Shoifi

Selanjutnya M. Shoifi dan rekan-rekan lainnya yang telah lulus seleksi akan diberangkatkan dan mendapatkan tunjangan sebesar AED 6.300 atau 22 Juta rupiah. Inipun dengan ketentuan, jika selama bertugas mendapat respon baik dari masayarakat maka kontrak akan diperpanjang.

M. Shoifi adalah alumni Bayt al-Qur’an yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Selama menjalani masa pendidikan selama 6 bulan, beliau tetap bersemangat untuk melanjutkan kecintaannya mempelajari al-Qur’an dan hadits dengan mengikuti beragam kegiatan, hingga akhirnya mencoba untuk mengikuti ujian menjadi calon imam masjid.

Selamat, doa kami selalu menyertaimu.

Bedah Buku Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer

Kegiatan bedah buku menjadi kegiatan rutin yang biasa dilakukan oleh Pusat Studi al-Qur’an (PSQ). Sebagai lembaga yang mengkaji tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran terkait dengan al-Qur’an, kali ini buku yang diangkat untuk dibahas adalah buku ‘Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer’.

Acara ini menghadirkan penulisnya, yakni Ayang Utriza Yakin, ditemani oleh General Manager Pusat Studi al-Qur’an Agus Rachmanto dan juga beberapa narasumber dari PSQ yakni Ust. Romli Syarqawi Zein, Lc. berlangsung pada Senin 17 April 2017.

PPL IAIN Cirebon April 2017

Pada hari Senin lalu, bertepatan dengan 10 April 2017, sebanyak 65 mahasiswa dari IAIN Cirebon yang rata-rata sudah menempuh semester 7, disambut di masjid baru Bayt al-Qur’an di kompleks Pondok Pesantren yang berlokasi di Pondok Cabe Tangerang Selatan.

Kegiatan ini mengawali rangkaian acara PPL yang akan berlangsung selama 2 minggu ke depan. Masing-masing mahasiswa selama itu akan mendapatkan bimbingan langsung berupa pengajaran yang akan diberikan oleh Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an (PSQ), diberikan kesempatan untuk menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pihak PSQ berupa dukungan perpustakaan lengkap digital, mengetahui seluk beluk pengajaran kepada santri yang berada di ponpesBayt al-Qur’an, serta fasilitas ruangan inap yang tersedia di dalam kompleks.

Dengan demikian, diharapkan nantinya mereka akan lebih konsentrasi dalam menyerap ilmu yang diterima dan bisa menggunakan apa yang mereka dapatkan untuk menunjang kegiatan belajarnya di kampus.

Al-Quran dan Komunikasi

RESUME HALAQAH TAFSIR
PONDOK PESANTREN BAYT AL-QURAN
RABU,22 FEBRUARI 2017

Tafsir Tematik :
AL-QURAN DAN KOMUNIKASI
Oleh : Bpk. Prof. Dr. Hamdani Anwar

Al-Quran sebagaimana di siratkan dalam QS. Al-Baqarah : 185 merupakan hudan linnas yakni sebagai petunjuk dalam semua aspek kehidupan manusia. Salah satu diantaranya adalah komunikasi.
Komunikasi berasal dari bahasa Latin, communicatio – communis yang berarti sama. Maksudnya, “sama maknanya” dengan pesan yang disampaikan. Penyampai pesan dan penerimanya memiliki kesan yang sama tentang pesan yang terjadi antara keduanya. Dan komunikasi tidak hanya tentang penyampaian pesan, melainkan juga mengandung edukasi dan mempengaruhi.
Unsur-unsur komunikasi : komunikator (penyampai pesan), komunikan (penerima pesan), pesan dan media.
1. Unsur Komunikator dalam al-Quran
Komunikator dalam al-Quran yaitu Rasulullah SAW. Al-Quran menyebutkan bahwa tugas utama seorang Rasul adalah menyampaikan pesan (tabligh). Disebutkan sebanyak 15 kali dalam 13 surah, diantaranya : QS. (5) Al-Maidah : 99.
Rasulullah menyampaikan pesan Allah kepada ummat dengan : 1) lisan yang berupa perintah, larangan, nasehat dan teguran; 2) perilaku berupa keteladanan. Tugas Rasul hanyalah menyampaikan, sedangkan beriman atau tidak bukan menjadi tanggung jawabnya.
2. Unsur Komunikan dalam al-Quran
Komunikan dalam dakwah Nabi adalah seluruh ummat manusia.
3. Unsur Pesan dalam al-Quran
Pesan al-Quran sebagai hudan linnas, memberi jalan keluar terbaik bagi semua problem manusia. Isi al-Quran itu tentang akidah, syariah dan akhlak.
Prinsip-prinsip komunikasi sesuai petunjuk al-Quran :
1) Kejujuran, (QS. An-Nahl : 116)
2) Ketepatan, (QS. Al-Hujurat : 6)
3) Tanggung jawab, (QS. Al-Isra : 36)
4) Kritik konstruktif, (QS. Ali Imran : 104)
5) Berorientasi kesejahteraan dunia akhirat, (QS. Al-Baqarah : 201)
6) Keadilan dan kebaikan, (QS. An-Nahl : 90)
Penutup
• Meninggalkan al-Quran hanya berakibat pada kemunduran
• Al-Quran memberikan beragam petunjuk kehidupan termasuk dalam bidang komunikasi dan informasi
• Dengan mewujudkan ajarannya dalam kehidupan maka ketenangan dan kesejahteraan akan tercapai.
By : Azzam (santri Bayt al-Qur’an)

Lepas Sambut Santri Pesantren BQ Angkatan XIV dan XV

Mulai bulan Februari ini, pesantren Bay al-Qur’an yang berada di kawasan South City Tangerang Selatan memiliki santri angkatan baru. Kali ini adalah angkatan ke XV. Santri angkatan sebelumnya dihadirkan untuk memberikan pengenalan akan lingkungan baru di pesantren. Selain itu, dengan adanya pisah sambut, santri angkatan baru juga diharapkan akan memiliki pandangan akan apa yang akan mereka dapatkan selama mengikuti pendidikan untuk 6 bulan ke depan.

Itulah mengapa, saat salah santri santri yang menjadi santri terbaik angkatan XIV, yakni Ahmad Mubarok Alyamamah menyampaikan selamat datang kepada santri baru dan berharap mereka bisa berbelanja sebanyak mungkin akan ilmu-ilmu berbobot yang akan disampaikan oleh pemateri dari Pusat Studi al-Qur’an (PSQ). Lanjutkan membaca “Lepas Sambut Santri Pesantren BQ Angkatan XIV dan XV”

In Picture: Pelajaran Berharga dari Mbah Moen, Gus Mus, dan Quraish Shihab

Di tengah-tengah krisis keteladanan, sebenarnya masih banyak ‘oase’ yang menjadi penyejuk dan penawar kedahagaan serta kerinduan umat akan contoh-contoh kebesaran hati ulama. Kesahajaan mereka jauh dari sorotan media, dan tetap tegar di tengah serangan sarkatik netizen di dunia maya.

Cerita yang dinukilkan Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia (IAAI), Muchlis M Hanafi tentang kunjungan dan silaturahim tiga guru besar, yaitu Prof M Quraish Shihab, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), dan KH Mustofa Bisri mengajarkan kepada kita semua tentang banyak hal di antaranya kerendahhatian, penghormatan dan kecintaan terhadap ulama. Tiga hal tersebut serasa kian tergerus diterpa perilaku tak sedikit orang di media sosial yang kian tak beradab.

Berikut ini, kutipan penggalan kisah pertemuan tiga tokoh besar itu di sela-sela Seminar Nasional Tafsir Alquran yang dihelat PP al-Anwar, Sarang Rembang asuhan Mbah Moen beberapa waktu lalu yang diterima Republika.co.id :

Mbah Moen dan Quraish Shihab

Gus Mus dan Quraish Shihab

Sisi Lain Kehidupan Kaum Santri

Tidak biasanya, di pojok ruang tamu kediaman Gus Mus yg sederhana dan bersahaja, tersedia tiga buah kursi dan meja. Semua tamu, tak terkecuali para pejabat, selalu diterima dengan lesehan.

Sore itu, Sabtu (24/12), agak berbeda. “Saya pinjam kursi ini dari tetangga”, begitu seloroh Gus Mus menyambut Ustaz M Quraish Shihab (MQS), sambil mempersilakan MQS duduk di atas.

Gus Mus sendiri? Beliau lebih memilih duduk (ndesor) di bawah, seperti dalam gambar. Kalau tidak ‘dipaksa’ MQS, beliau pun enggan. “Kalau tidak mau duduk di sini, saya yang akan duduk di bawah”, begitu kata MQS.

Gus Mus sediakan kursi bukan saja karena mengira MQS tidak bisa duduk di bawah, tapi kerendahan hatinya mendorong untuk memuliakan org yang dipandangnya alim. Akankah MQS bangga dan berbesar hati? TIDAK!

Selang satu hari, Ahad (25/12), di Sarang, dengan penuh ketulusan MQS mencium tangan ulama kharismatik yg dihormatinya, Mbah Maimoen Zubair.

Tak segan2 MQS juga meminta Gus Mus dan Mbah Moen memimpin doa. Saat tiba shalat maghrib, MQS pun persilakan Gus Mus mengimami, meski di awal Gus Mus sempat menolak.

“Di atas org yg berilmu selalu ada yg lebih berilmu”, begitu kata Alquran. Ilmu tidak akan pernah sampai ke dalam hati yg sombong, seperti air yang tidak akan pernah sampai ke tempat yang tinggi, begitu kata Imam Nawawi. Perlu kerendahan hati.

العلم حرب للفتي المتعالي كالسيل حرب للمكان العالي

Terima kasih para guru yang mulia.

Muchlis M Hanafi

Santri MQS dan Pelayan Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta.

Sumber Republika

Quraish Shihab: Hormati Perbedaan dan Kembangkan Perdamaian

Cendekiawan Muslim serta pakar tafsir Alquran Muhammad Quraish Shihab menyerukan, agar masyarakat di Indonesia menghormati adanya perbedaan serta mengembangkan budaya Islam yang damai. “Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki budaya yang sangat plural. Karena itu, semua pendapat yang berbeda harus kita hormati. Menghormati pendapat yang berbeda itu bukan berarti menerimanya,” katanya saat berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12).

Pihaknya meminta seluruh kalangan pesantren serta masyarakat umum di Indonesia untuk menghormati perbedaan serta mengembangkan budaya Islam yang damai. Ia mencontohkan, bagaimana muslimah Indonesia zaman dulu hanya mengenakan kerudung yang diselempangkan di kepala, dan tetap menampakkan sebagian rambut mereka. Berbeda dengan jilbab yang dikenakan perempuan zaman sekarang, yang menutupi seluruh kepala.

Menurut dia, para ulama zaman dahulu membiarkan praktik tersebut bukan tanpa dasar. Sebab, setiap pemikiran dan praktik keagamaan saat itu tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berlaku di masyarakat. “Pasti para ulama waktu itu mempertimbangkan konteks budaya yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Pendiri Pusat Studi Alquran ini pun mengajak kalangan pesantren menjadikan konteks budaya sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pemikiran dan studi Alquran. “Dalam konteks studi dan pengembangan nilai-nilai Al-Quran, jangan sampai penafsiran kita tidak sejalan dengan budaya yang berkembang di masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini, menambahkan, penghormatan terhadap perbedaan seharusnya juga dibatasi pada budaya dan pendapat yang mengarah pada kedamaian. “Semua pendapat yang berbeda, dari manapun datangnya, selama bercirikan kedamaian, harus kita hormati. Pendapat yang berbeda dengan kita, tapi tidak bercirikan kedamaian, (harus) kita tolak,” tegasnya.

Quraish menegaskan, bahwa penjelasannya soal jilbab bukan berarti mengajak yang sudah berjilbab untuk melepaskan jilbab mereka. “Saya hanya tersinggung kalau orangtua kita yang dulu hanya berkerudung dianggap tidak menutup aurat. Sebab, ibu saya dulu juga tidak berjilbab (seperti orang sekarang),” ujarnya.

Di sela kunjungannya tersebut, Quraish Shihab juga sempat berziarah ke makam Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur yang ada di kompleks pondok. Di makam itu sekaligus juga terdapat makam kakek Gus Dur yang juga pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Al Asy’ari, serta ayahandanya yaitu KH Wahid Hasyim.

Selain itu, di sela kunjungan Quraish Shihab juga terdapat dialog terbuka. Acara itu berlangsung di Aula Gedung Yusuf Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, dan itu diikuti oleh ratusan kiai dan pengajar Alquran dari seluruh Jawa Timur.

Sejumlah kiai yang hadir dalam acara itu misalnya Pengasuh PP Roudhotu Tahfidhil Quran Perak, Jombang KH Masduqi, “Mudir” (Dewan Pengasuh) Madrasatul Quran Tebuireng KH Syakir Ridwan dan “Mudir” Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Nur Hannan.

Quraish Shihab datang bersama istri dan sebagian anak cucunya. Ia juga didampingi Direktur PSQ Mukhlis M Hanafi. Rombongan tersebut disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid beserta Nyai Hj Farida Salahuddin.

Sumber : Antara