info@psq.or.id
+62 21 7421661

Selamat Datang di Pusat Studi Al-Qur’an

    Home / Selamat Datang di Pusat Studi Al-Qur’an

Selamat Datang di Pusat Studi Al-Qur’an

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu yang bersedia menghadiri acara yang sederhana ini, walaupun saya yakin mimpi kita, cita-cita kita amat besar.  Teman-teman mengistilahkan acara ini dengan peletakan batu pertama.  Ketika saya merenungkan tentang peletakan batu pertama ini, saya teringat bahwa tidak sedikit orang yang tidak berkenan dengan istilah peletakan batu pertama. Bukan saja karena biasanya lama, jarak antara batu pertama dengan batu terakhir. Namun pada akhirnya saya bisa menerima jalan pemikiran teman-teman itu.

Yayasan Lentera Hati telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Apa yang akan kita usahakan ini adalah berkaitan dengan Studi Al-Qur’an. Sedangkan Studi Al-Qur’an adalah never ending, tidak ada akhirnya.  Walaupun teks Al-Qur’an ada akhirnya, tetapi studinya tidak pernah berakhir. Memang, Nabi Muhammad pun tidak meletakkan batu pertama, yang beliau letakkan itu adalah batu terakhir.  Dalam hadisnya, beliau mengatakan bahwa, “Perumpamaan saya dengan nabi-nabi sebelumnya adalah seperti seseorang yang membangun bangunan amat indah kecuali satu bata yang belum sempurna, sayalah yang menyempurnakan, meletakkan batu terakhir itu”.

Saya katakan, saya pada akhirnya setuju dengan istilah itu karena saya ingin usaha ini menjadi milik kita bersama.  Kita menyaksikan dan ikut serta menanam benihnya.  Kami ingin kita semua ikut bermimpi dan mimpi itu sangat-sangat penting.
Kejayaan yang dicapai oleh dinasti Abbasyiah bermula dari mimpi. Mimpi mendirikan satu dinasti, kerjaan, mimpi tentang tokoh Aristoteles. Sehingga dari sana mereka menerjemahkan kitab-kitab sehingga tersebarlah filsafat Islam sedemikian luasnya.  Nah, Kami ingin Bapak-bapak ikut bermimpi dengan pendiri. Kami ingin Bapak-bapak  berpartisipasi dan merasa memiliki.  Kami ingin saran dari bapak-bapak.  Kami ingin doa dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sehingga mimpi kita itu dapat terwujud.

Nah, sekarang saya ingin menceritakan mimpi itu apa. Kalau dulu, ulama-ulama tafsir ketika menulis tafsirnya, seringkali memulainya dengan mimpi.  Saya teringat disertasi saya tentang al-Biqa’iy, dia mulai menulis tafsirnya setelah bermimpi melihat Rasul saw yang memintanya menulis tafsir. Mimpi kami bukan saat tidur. Mimpi kami di alam nyata.
Mimpi kami bermula dari melihat di masjid IAIN (UIN) sana, anak-anak menghafal Al-Qur’an. Rupanya ada orang-orang yang ingin tekun menghafal teks suci. Mengapa kita tidak memberikan mereka dukungan, memberikan mereka fasilitas untuk dapat menghafal Al-Qur’an. Dari menghafal inilah lahir mimpi yang sangat besar. Saya berpendapat bahwa seorang yang menghafal satu buku dewasa ini, tidak lebih dari penambahan satu eksemplar buku, tidak lebih dari penambahan satu CD ROM.  Menghafal yang dimaksud di dalam Al-Qur’an bukan sekedar mengingat di dalam benak, tetapi menghafal itu menurut Al-Ghazali, adalah mewujudkan sesuatu dan melanggengkannya dengan mudah. Ketika Al-Qur’an atau Allah Swt berfiman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّالَهُ لحَاَفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kamilah yang menjaganya.

Bukan dimaksud dengan pemeliharaannya hanya sekedar menghafalkannya. Tapi, pemeliharaannya adalah memahami kandungannya, adalah mengamalkannya, adalah memberikan semudah mungkin informasi tentang Al-Qur’an. Sama mudahnya ketika kita menghafalkan 2 + 2 langsung mengatakan 4. Maka menghafal Al-Qur’an kita juga bermimpi begitu mudahnya ketika orang bertanya apa Al-Qur’an, apa ayat ini, dengan mudah pula kita dapat memberikan jawabannya.
Tentu banyak langkah yang diperlukan untuk ini.  Salah satu yang seringkali saya dapatkan selama saya di Mesir – sudah 3 tahun – banyak sekali ide-ide baru tentang penafsiran Al-Qur’an yang saya tidak tahu, walaupun saya tekun mempelajari Al-Qur’an.  Banyak sekali penulis-penulis yang menguraikan hal-hal baru menyangkut Al-Qur’an yang tidak sampai di tengah-tengah kita atau tidak memasyarakat di Indonesia. Banyak juga yang terlarang dengan berbagai alasan. Kami bermimpi, mudah-mudahan usaha-usaha kita bersama dengan adanya tempat ini – apapun namanya – bahwa kita dapat menampilkan Al-Qur’an dengan mudah, informasinya mudah dijangkau orang; dan yang lebih dari itu, kiranya orang dapat mengenal Al-Qur’an melalui tingkah laku dan pengalaman orang-orang yang memahami Al-Qur’an.

Karena itu, kita bermimpi nanti di gedung ini boleh jadi di tingkat tiga. Mungkin kalau Syeikh Muhammad Abduh pernah berkata, “Berikan saya sepuluh orang.  Saya didik dan dia akan mampu mengubah dunia”, maka mudah-mudahan kalau di atas ini dapat menampung 25 orang yang terpilih, paling tidak kita dapat merubah wajah negeri kita sehingga lebih damai dan lebih Islami.  Itu mimpi kami.

Kami mengharapkan dari tempat ini nanti, setiap orang dapat dengan mudah mempelajari Al-Qur’an. Kita tidak akan membuat universitas baru, karena perguruan tinggi sudah ada atau banyak. Tetapi, kita ingin membuat sesuatu yang kalaupun belum ada, paling tidak masih jarang adanya. Kita ingin pusat ini memberi pelayanan secara khusus menyangkut Al-Qur’an. Di sinilah antara lain yang dapat menjawabnya.  Itu mimpi kami, dan mimpi kami tidak akan wujud tanpa bantuan Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Mudah-mudahan itu dapat kita wujudkan dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.