Tafsir Isyari Dasar Pertama Perintah Membaca

pk-1Ciputat,(24/9/2015)- Salah satu mata kuliah dalam Pendidikan Kader Mufassir (PKM) yang di adakan PSQ adalah kajian tafsir Isyari dalam hal ini di bimbing langsung oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA salah satu pakar tafsir Indonesia yang di agendakan setiap Senin jam 09.00-10.30. Pada Pertemuan pertama ini Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan perintah awal Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw yaitu iqra’ (bacalah). Dalam ayat ini Tuhan memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca namun pada saat itu Jibril datang kepada Muhammad tidak membawa objek apa yang akan dibaca. Pesan dari ayat ini menegaskan bahwa, perintah membaca dalam ayat tersebut bukan menegaskan membaca hanya sebatas membaca semata.

            Penjelasan lebih detail beliau menjelaskan bahwa perintah membaca lebih dari itu adalah bagaimana kita bisa memahami dan mendalami al-Qur’an sehingga bisa dijadikan sebagai hudan (petunjuk). Nah, langkah awal untuk memahami al-Qur’an adalah dengan tazkiyatun nafs (penyucian diri) lebih awal sehingga al-Qur’an memberikan pancaran dan maknanya terhadap pembaca. Lalu beliau memberikan sebuah pertanyaan bahwa apakah hanya manusia (pembaca) yang memahami al-Qur’an atau al-Qur’an sendiri juga memahami maksud atau keinginan pembaca?. Dalam proses membaca dan memahami al-Qur’an ternyata antara pembaca dan al-Qur’an terhadap pembacanya sama-sama berinteraksi untuk saling memahami, sehingga langkah awal untuk memahami dan mengkaji al-Qur’an adalah dengan tazkiyah nafs (penyucian diri) di awal. Dengan merujuk pada al-Qur’an bahwa la yamassuhu illa al-mutahharun (janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali bagi-bagi orang yang suci).

pk-3

         Beliau kemudian memetakan makna iqra pada lima hal yaitu, how to read, how to learn, how understanding, how to meditate dan how to realize. Dari pemetaan lima kategori membaca ini juga memberi dampak tersendiri terhadap proses pembacaan terhadap al-Qur’an. Pertama, how to read itu hanya sebatas membaca teks-teks al-Qur’an sebagaimana semangat umat Islam dalam bulan suci Ramadhan yang hanya memberi implikasi pahala bagi yang membacanya. Kedua, how to learn/think.  Proses pembacaan seperti melibatkan daya kemampuan berpikir manusia dalam memahami al-Qur’an. Beliau menegaskan dalam ranah akademik bentuk pembacaan kedua ini juga banyak. Ketiga, how to undestanding, dengan melibatkan emosional dalam menghayati pesan-pesan al-Qur’an. Keempat, how to meditate, proses pembacaan dalam konteks ini melibatkan kecerdasan spritual dalam memahami pesan-pesan al-Qur’an sehingga dalam memahaminya selalu memberikan kesejukan, pesan kedamaian dan ketenangan jiwa. Dan kelima, how to realize, bagaimana dalam proses pemahaman dan penghayatan dapat direalisasikan, dalam konteks ini bagaimana al-Qur’an terungkag segala pesan-pesannya atau pembaca dapat mukasyafah  dengan al-Qur’an sendiri.

pk-2

Sebab al-Qur’an sebagai bacaan dan itu merupakan kalamullah, beliau menegaskan selama ini terkadang kita menyamakan antara kalamullah dengan kitabullah. Pada dasarnya setiap kitabullah adalah kalamullah, dan tidak semua kalamullah adalah kitabullah.. Kalamullah itu merupakan alamul al-amr sedangkan kitabullah pada wilayah alamaul khalk.

            Pada pertemuan berikutnya akan dikaji dengan pendekatan atau analisi sufistik terkait dengan pemamahan dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. [lip.Mabrur.PKMXI]