Pusat Studi Al Quran Jakarta Jalin Kerjasama di Maroko

maroko-5

Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerjasama dengan dua lembaga studi Al-Quran di Maroko. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA., selaku Direktur Eksekutif PSQ Jakarta menyambut antusias kerjasama yang telah ditandatangani pada hari Jum’at (4/7) dengan Ketua Pusat Studi Al-Quran Ikatan Muhammadiyah Ulama Maroko (Markaz Al-Dirasat Al-Quraniyyah Al-Rabithah Al-Muhammadiyyah li Al-‘Ulama) Dr. Mohamed Al-Mantar dan Rektor Institut Studi Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran Mohamed VI (Ma’had Mohamed VI li Al-Qiraat wa Al-Dirasat Al-Quraniyah) Dr. Khalid Al-Saqi di Rabat-Maroko.

Hari Jum’at adalah hari penuh keutamaan sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari). Pada hari ini kita membicarakan serta menandatangani kerjasama yang dibangun untuk merayakan bulan suci Ramadhan sebagai perayaan kedua bangsa Indonesia-Maroko atas diturunkannya Al-Quran, ujar Dr. Muchlis M. Hanafi, MA., yang didampingi langung Dubes RI untuk Maroko H. Tosari Widjaja pada acara penandatanganan MoU tersebut.

Dr. Mohamed Al-Mantar mengaku sangat tertarik dengan beberapa program kerjasama yang telah didiskusikan seperti Seminar Internasional Kajian Tafsir Indonesia dan Maroko. Masyarakat Maroko menurutnya perlu mengetahui lebih banyak karya-karya magnum opus para ulama ahli tafsir Indonesia semisal tafsir klasik Al-Munir (Murah Labid) karya Imam Nawawi Banten dan juga tafsir modern Al-Azhar karya Buya Hamka dan Al-Mishbah karya Quraish Shihab.

maroko-1

maroko-2

Sementara Dr. Khalid Al-Saqi menjelaskan bahwa Institut Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran ini memiliki persyaratan ketat dengan hanya menerima 30 orang mahasiswa setiap tahunnya dengan pilihan dua jurusan studi, Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran. Dikatakannya bahwa persyaratan utama adalah calon mahasiswa harus sudah hafidz Al-Quran 30 juz dan memiliki ijazah setara SMA/MA kemudian mengikuti tes lisan dan tulisan.  Rektor menyambut baik bilamana para hafidz Al-Quran dari Indonesia berniat melanjutkan studi di Institut ini. Sepuluh persen dari jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya dikhususkan untuk para mahasiswa non-Maroko termasuk Indonesia.
Ikatan Muhammadiyah Ulama Maroko (Al-Rabithah Al-Muhammadiyyah li Al-‘Ulama) di mana Pusat Studi Al-Quran (Markaz Al-Dirasat Al-Quraniyyah) bernaung didirikan berdasarkan Royal Decry (Al-Zhahir Al-Syarif) Raja Maroko Mohamed VI nomor 1.05.210 pada 4 Februari 2006 sebagai pengukuhan dari Organisasi Ulama Maroko (Jam’iyyah Ulama Al-Maghrib) yang telah ada sejak tahun 1970 sebagai lembaga kajian keilmuan para ulama otoritatif di Maroko. Lembaga ini melengkapi keberadaan Dewan Tinggi Ulama Maroko (Majlis Al-‘Ilmi Al-A’la ) yang dipimpin langung oleh Raja Mohamed VI selaku Amir Al-Mukminin serta Institut Daar Al-Hadith Al-Hassaniyah sebagai lembaga pendidikan tinggi, kajian dan riset yang didirikan oleh Almarhum Raja Hassan II Maroko pada tahun 1974 untuk menjaga warisan keilmuan dan melestarikan identitas keberagamaan (Islam) bangsa Maroko.
Melengkapi perhatian besar terhadap pelestarian warisan keilmuan Islam di Kerajaan Maroko khususnya tentang kajian Al-Quran, pada 2 Mei 2013 Raja Maroko Mohamed VI melalui  Royal Decry (Al-Zhahir Al-Syarif)  nomor 1.13.50 memerintahkan pendirian lembaga pendidikan tinggi Institut Studi Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran Mohamed VI (Ma’had Mohamed VI li Al-Qiraat wa Al-Dirasat Al-Quraniyah) yang memulai aktifitas penerimaan mahasiswa barunya pada tahun ini. berita terkait

maroko-3maroko-4