Kuliah PKM “QAWA’ID AL-LUGHAH”

Rabu, 10 Oktober 2012, peserta PKM membahas tema kaidah kebahasaan dalam tafsir bersama guru besar tafsir Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Pada kesempatan tersebut dua peserta kuliah PKM – Reni Rahmawati dan Aceng Abdul Kodir mendapatkan kesempatan mempresentasikan makalah tentang tema di atas di hadapan peserta PKM semuanya.

Adalah penting memahami kaidah kebahasaan (Arab) ketika seseorang menafsirkan al-Qur’an, sebab al-Qur’an sebagai wahyu Allah menggunakan medium bahasa Arab sebagai bahasa komunikasinya. Contohnya, dalam surat al-‘Ashr ayat 2 Allah berfirman innal insana lafi khusr. Kata insan merupakan bentuk mufrad (tunggal), meski begitu karena sebelumnya menggunakan alif lam maka maknanya tidak lagi mufrad (seorang manusia), tapi jadi memiliki makna lebih luas lagi jama’ (semua manusia). Proses perubahan makna ini (dari tunggal ke jamak) hanya bisa ditelusuri jika seseorang memahami kaidah kebahasaan (qawa’id al-lughah) dengan baik. Dalam kasus ayat di atas kaidah kebahasaannya berbunyi ‘alif lam yang masuk kepada isim mufrad memiliki makna jama’ lil istighraq’.

Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, perkuliahan pada sore hari itu mengundang antusiasme peserta PKM. Menurutnya pendekatan kebahasaan dalam tafsir penting adanya, meski bukan satu-satunya. Kita melihat ada ayat al-Qur’an yang secara gramatika tidak benar tetapi tidak merusak keutuhannya. Inna rahmatallah qarib min al-muhsinin (Rahmat Allah dekat adanya pada orang-orang yang berbuat kebaikan). Secara gramatika harusnya qaribatun bukan qaribun. Sebab kata qarib berposisi khabar dari kata rahmat,  di antara ketentuan mubtada-kabar harus ada kesesuaian mudzakar-muanats-nya. Pada ayat itu kahabar-nya (qarib) berbentuk mudzakar sedangkan isim inna (rahmat) berbentuk muannats. Menurut Prof. Thib Raya, hal itu tidak masalah. Mengomentari ayat itu, suami dari Prof. Dr Musdah Mulia, APU itu, Siapa pun boleh tidak dekat dengan rahmat Allah, tapi, meski begitu ia tidak boleh jauh dari Allah, tandasnya. [AAK]