Kuliah Pendidikan Kader Mufassir bersama Prof. Quraish Shihab

mqs-1

(Ciputat 18/9/2014) Diskusi Peserta PKM Angkatan X (sepuluh) bersama Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Pukul 10.00 WIB bertempat di kantor PSQ, acara diawali pengantar oleh Muhammad Arifin, MA memperkenalkan seputar profil para peserta PKM kepada Prof. Quraish Shihab. Selanjutnya diskusi dimulai dan dipimpin oleh moderator sekaligus ketua angkatan PKM X Agus  Imam Kharomen. Diskusi ini dikemas dalam bentuk tanya jawab, tiap peserta diberikan kesempatan mengajukan beberapa pertanyaan untuk selanjutnya dijawab oleh Prof. Quraish Shihab sebagai narasumber, dan pertanyaan yang diajukan adalah seputar materi pembahasan Tesis/Disertasi peserta PKM.

mqs-3Pertanyaan yang diajukan sangat beragam seperti maqashid al-Qur’an, prisip multikultural dalam al-Qur’an, tafsir bil ma’tsur di Indonesia, kemu’jizatan bahasa al-Qur’an, penafsiran kelompok Ibadiyah di Oman, amsal al-Qur’an, fenomena ta’wil dalam ayat antropomorfisme, eksisitensi tafsir sufi, implikasi penafsiran secara lughawi, dan penafsiran ayat-ayat beredaksi mirip. Inilah tema pokok pertanyaan yang diajukan dan didiskusikan oleh para peserta PKM bersama Prof. Quraish Shihab.

Meskipun format diskusi ini adalah tanya jawab, tidak mengurangi antusias dan keseriusan para peserta PKM, terbukti adanya feed back (timbal balik) di antara peserta mengenai jawaban yang telah dikemukakan, yang disusul komentar sebagai solusi dari narasumber diskusi Prof. M. Quraish Shihab sehingga terciptanya suasana keilmuan yang hangat di ruang diskusi ini. Disela-sela memberikan jawabannya, Prof. Quraish juga sering melontarkan pertanyaan untuk membangkitkan perhatian para peserta tentang hal-hal yang sedang didiskusikan. Banyak informasi yang didapatkan melalui diskusi ini, baik yang berkaitan dengan penelitian mereka, ataupun seputar ilmu-ilmu tafsir dan al-Qur’an secara umum.

mqs-2Beberapa informasi penting yang dimaksud adalah dalam menilai madzhab/aliran seseorang (mufasir misalnya) harus dilihat apakah ia telah menganut semua dasar-dasar suatu madzhab tersebut (ushul al-madzhab). Sebagai ilmuan haruslah dapat mencari informasi/pendapat yang paling baik walaupun itu di luar madzhabnya. Betapa pun para sahabat adalah seseorang yang kita hormati, kita juga tetap harus menyeleksi penafsiran mereka, karena bisa jadi terdapat kesalahpahaman didalamnya disebabkan perbedaan tingkat keilmuan (kita tidak mengatakan mereka berbohong). Betapapun penafsiran al-Qur’an adalah hal yang subyektif, tetap ada kaidah/rambu-rambu yang harus dipatuhi, dan tidak hanya mendasarkan penafsirannya pada prasangka semata, melainkan pada “dugaan keras” yang tetap mengacu pada teks al-Qur’an dan kaidah-kaidah yang ada. Pentingnya bersikap moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat, tanpa harus memaksakan kehendak. Hal penting dalam menilai syari’at Allah adalah adanya mashlahah (manfaat, kebaikan) di dalamnya, bahkan ada ungkapan bahwa dimana ada mashlahah, maka di situlah syari’at Allah. Tapi perlu diingat, mashlahah itu harus benar-benar mashlahah, bukan sekedar prasangka hawa nafsu semata. Akhirnya pukul 11.45 diskusi ditutup oleh moderator dengan harapan ilmu yang didapatkan pada diskusi singkat ini memberikan manfaat dan kelak dapat berjumpa lagi pada diskusi-diskusi di waktu mendatang Amin.