Konsultasi Tafsir bersama Prof. M. Quraish Shihab

Untitled-1

Senin, 26/11/2015 sebuah pertemuan atau diskusi terbuka bagi mahasiswa PKM (Pendidikan Kader Mufassir) yang di adakan oleh Pusat Studi al-Qur’an bersama Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Dalam diskusi terbuka ini diikuti 19 mahasiswa programa magister dan doktor dari berbagai kampus Islam baik di Jawa maupun luar Jawa negeri maupun swasta. Dalam diskusi terbuka ini di mulai pada jam 10.30-11.50. Tentu sekelas Prof Quraish Dalam jangka waktu demikian memberikan informasi dan gagasan yang yang penting seputar tafsir maupun al-Qur’an.

Diskusi ini terbuka sebab para mahasiswa dengan secara terbuka diberikan “kebebasan” untuk bertanya maupun meminta saran-saran yang terkait dengan kajian tesis masing-masing, sehingga diskusi ini tidak dibatasi topik tertentu karena setiap peserta/mahasiswa menanyakan atau meminta saran kepada beliau apa saja yang menjadi kendala dan seperti apa seharusnya sebuah kajian atau penelitian yang tepat dan menarik seputar tesis.

Dengan berbagai kajian atau judul tesis para mahasiswa, maka diskusi ini menarik karena berbagai aspek dibahas, mulai terkait mutasyabih al-Qur’an, kecerdasan menurut al-Qur’an, toleransi menurut al-Qur’an, pancasila, nasionalisme dan lain-lain yang menjadi pertanyaan para mahsiswa. Para peserta PKM menanyakan dan meminta saran kepada beliau, misalnya penelitian Muhammad Adib dalam tesisnya meniliti tentang nasionalisme dalam tafsir kontemporer dengan problem yang dihadapi apakah harus mencari kata kunci nasionalisme itu sendiri atau di dalam al-Qur’an menjelaskan tentang nasionalisme. Beliau menegaskan bahwa seorang peneliti harus meneliti terlebih dahulu tujuan dan apa yang diinginkan peneliti. Dalam hal nasionalisme memang tidak disebutkan suatu kata yang membahas demikian, akan tetapi subtansi dan semangat nasionalisme telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya coba baca buku saya di Wawasa al-Qur’an. Tandasnya kepada mahasiswa.

Pertanyaan yang lain adalah apakah kebenaran tafsir ilmi bisa menjadi sebuah kebenaran yang mapan? Karena fokus kajian yang saya tulis adalah penciptaan manusia menurut Thahthawi Jauhar. Tanya Hulaimi. Beliau menjawab bahwa apapun penelitian itu tetap baik dan benar selama didukung dengan metodologi yang baik dan benar pula. Yang terpenting adalah ilmu pengetahuan itu berkembang sehingga bisa relatif, sehingga apa yang ditafsirkan Thantawi Jauhari pada saat itu benar pada masanya.[lip.Mabrur.pkmXI]