JALAN-JALAN DI KOTA SEJUTA BUKU

Ditulis oleh: Muhammad Nashrullah

Bagi pecinta literatur, Kairo adalah sorga.Terutama literatur klasik.Di sini, kita akan dimanjakan dengan jutaan judul kitab dengan harga terjangkau. Maka, tak perlu heran jika perpustakaan-perpustakaan di Mesir sepi pengunjung.Bukan karena pengunjungnya malas, tapi lebih karena kitab-kitab yang ada di perpustakaan-perpustakaan itu memang telah ada di rak bukunya.Jika pembaca adalah penghobi melancong ke tempat-tempat bersejarah sekaligus pecinta buku, Kairo merupakan salah satu tempat yang disarankan.

Sejak pertama kali tiba di asrama, mata saya selalu digoda oleh tumpukan kitab-kitab yang ada di kamar para senior.Kitab-kitab ulama dari zaman klasik hingga kontemporer berbaris rapi di rak-rak, sebagian menumpuk di meja, tanda usai dibaca.Beberapa kitab itu selama ini hanya saya ketahui namanya, sebagian besar malah saya tak tahu kalau kitab itu ada.Maklum, saya baru sedikit melek kitab saat nyantri di Bayt Al-Quran.

Mata saya kemudian terbuka lebar saat tiba di Kairo ini.Tuhfah al-Ahwadzi fi Syarh Sunan At-Turmudzi, Adab al-Katib, Hady al-Arwah, Al-Kamil fi Al-Lughoh wa Al-Adab, Audhah al-Masalik Ila Alfiyah Ibnu Malik, al-Muthawwal, dan Maqamat Al-Hariri adalah beberapa contoh kitab asing yang sama sekali tak saya ketahui sebelumnya, bahkan sekadar namanya.Dan betapa sumringah-nya saya waktu melihat kitab-kitab itu ‘berceceran’ di depan mata. Jika mau menyebutkan, ada ribuan kitab lain yang baru saya temui keberadaannya di sini.

* * *

Ada banyak model maktabah di Kairo.Sebatas yang saya tahu,secara umum, setidaknya ada tiga model maktabah.Pertama, maktabah yang fokus pada penerbitan karya-karya ulama klasik, atau biasa disebut denganturats.Maktabah yang demikian berjasa banyak dalam menjembatani antara tumpukan naskah kuno dengan para konsumen.Tapi, maktabah semacam ini tak banyak.Jumlahnya bisa dihitung dengan jari.Di antara yang sedikit itu adalah maktabah Al-Khanji.Maktabah ini terletak di sebuah gang di kawasan Opera, jauh dari jangkauan para pelajar di Al-Azhar.

Seandainya tanpa pemandu, sepertinya saya tak mungkin bisa sampai di maktabah ini. Selain berada di gang jauh, maktabah ini jika dilihat dari depan tak seperti maktabah pada umumnya. Lebih tampak seperti rumah kosong,bahkan sekadar nama maktabah pun tak tercantum,tanpa cat, hanya warna hitam tanda penuaan yang tampak di bagian muka bangunan.

Sebagaimana penuturan salah seorang sumber, Al-Khanji adalah salah satu maktabah tertua di Mesir.Pada abad akhir abad 19, terjadi gerakan penerbitan naskah-naskah kuno besar-besaran.Gerakan yang dipelopori salah satunya oleh Muhammad Abduh itu bertujuan menemukan kembali harta umat Islam yang terpendam.Nah, Al-Khanji adalah salah satu maktabah yang berjasa besar dalam mendukung gerakan itu.Bersama dengan beberapa maktabah yang hanya segelintir waktu itu, mereka bahu membahu menyelamatkan harta zaman kejayaan umat Islam yang nyaris punah.

Jika kita masuk, di sana akan menjumpai Kitab Sibawaih[1], Dalail al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah[2], Khizanah al-Adab, dan beberapa karya ulama tempo doeloe.Tapi, kitab-kitab dicetak di Al-Khanji dikemas bagus, lebih gagah daripada terbitan Musthafa el-Baby el-Halaby, seperti yang saya urai nanti.

Seiring berjalannya waktu, Al-Khanji kini bukan hanya menerbitkan kitab-kitab turats.Mereka saat ini juga menerbitkan karya-karya penulis kontemporer, meski tidak se-gesit dan se-produktif saudara-saudaranya yang masih berusia muda.

Nama Mustafa el-Baby el-Halaby tak bisa dilupakan dari barisan maktabah penyelamat turats.Terletak di sudut pasar, menyendiri, dan bergaya klasik. Jika maktabah-maktabah lain bersaing atau bekerjasama dengan maktabah di sisi kanan-kirinya, maka maktabah ini tak punya tetangga selain tukang sayur dan toko kosmetik.

Jika kita masuk, akan merasa terbawa ke masa lalu. Desainnya yang sama sekali nggak nyeni, kitab-kitab dengan bahan kertas kelas duaplus kebanyakan sampulnya yang hanya bermodal karton, dan debu yang menempel di kitab-kitab itu akan membuat sumpek siapapun yang memandang. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan maktabah ini.Tapi, siapa sangka justru maktabah inilah yang menjadi tujuan para penulis kontemporer.Keistimewaan maktabah ini adalah jaminan keaslian dan keotentikan teks.Hal inilah yang menjadikan kitab-kitab terbitan maktabah Musthafa el-Baby el-Halaby banyak diburu.

Perlu pembaca ketahui, tak semua kitab-kitab yang beredar di pasaran itu bebas dari salah cetak.Banyak kitab yang mengalami ‘penyelewengan-penyelewengan’.Banyak faktor yang menyebabkan penyimpangan itu terjadi.Diantara faktor-faktor itu adalah fanatisme madzhab, kemampuan penyunting yang belum memadai, atau bisa juga kurangnya tingkat ketelitian dalam penulisan.Nah, Musthafa el-Baby el-Halaby adalah salah satu penerbit yang masih diakui keotentikan dan keakuratan teksnya. Insya Allah permasalahan editing dan penyuntingan ini akan saya bahas dalam edisi yang akan datang.

Di maktabah ini pula kita akan menemukan karya-karya ulama Nusantara. Ada Hasyiyah Al-Nafahat[3]karya syeikh Khatib al-Minangkabawi, beberapa karya syeikh Nawawi Al-Bantany dalam ilmu kalam dan fikih, serta sejumlah kitab berbahasa melayu dengan tulisan arab pegon.

“Saya mempunyai data kitab-kitab Nusantara yang pernah dicetak oleh Musthafa el-Baby el-Halaby, dan tak dicetak lagi karena tidak ada konsumen.Pada saat menelusuri kekumuhan el-Halaby bersama Pak Oman Fathurrahman dan Yumi Sugahara, ada sekitar 40 kitab yang tak ditemukan.Sedang yang berhasil kita temukan ada sekitar 81 judul buku.Beberapa buku yang mempergunakan bahasa Arab, dicetak ulang oleh Dar al-Bashair, dan disebarkan oleh Dar al-Salam.Akan tetapi, buku-buku yang dikarang mempergunakan bahasa Melayu, Sunda, atau Jawa, tetap menumpuk kumuh di Musthafa el-Baby el-Halaby,” terang salah satu sumber yang telah melakukan observasi di maktabah tersebut.

Sebagaimana umur maktabah ini yang tak bisa lagi dikatakan muda, kitab-kitab koleksinya pun banyak yang diterbitkan sejak Indonesia masih dijajah Belanda.Ada yang terbitan tahun 1938, bahkan 1923.Aroma kertas kitab pun terkadang memaksa pembacanya bersin-bersin.

Belum lama ini, penulis baru tahu bahwa ternyata Mustafa el-Baby el-Halaby mempunyai ‘adik’.Dia adalah Faisol ‘Isa el-Baby el-Halaby. Mengapa saya mengatakan kedua maktabah itu kakak-beradik adalah karena kedua nama maktabah itu diambil dari pendirinya yang memang bersaudara.

Sebagaimana kakaknya, Faisol ‘Isa el-Baby el-Halaby juga terkenal dengan keakuratan teks-nya. Hanya saja, jumlah kitab yang diterbitkan sang adik tak sebanyak yang diterbitkan oleh sang kakak. Tapi, kitab-kitab dengan kemasan yang lebih cantik dan modern yang ditawarkan sang adik menjadi kelebihan tersendiri.

Kedua, maktabah yang membawa bendera kelompok tertentu.Maktabah al-Shafa misalnya, maktabah ini sangat kental dengan nuansa salafi-nya.Maktabah-maktabah yang berhaluan salafi sangat banyak.Ciri yang paling menonjol dari kitab-kitab terbitan salafi adalah perhatian mereka yang sangat besar terhadap persoalan akidah. Standard untuk menilai persoalan-persoalan akidah itu pun merujuk pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ciri lain bisa dilihat dari nama penerbitnya. Umumnya, mereka mengambil dari nama-nama ulama seperti Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Al-Taimiyah, atau hal lain yang ‘khas’ seperti Dar-al-Aqidah sebagai nama maktabah.Ciri terakhir yang sangat sukar dibantah adalah sumber rujukan.Biasanya mereka merujuk pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, atau takhrij hadits bersandarkan kitab-kitab Muhammad Nashiruddin Al-Albany.

Maktabah Al-Azhar dapat juga dimasukkan ke dalam kelompok pembawa bendera tertentu. Berbeda dengan maktabah pada umumnya, Al-Azhar selain menerbitkan kitab, juga menerbitkan surat kabar, majalah, jurnal, dan disertasi para alumninya.

Mungkin karena jangkauannya yang demikian luas itulah pengaruh Al-Azhar di dunia keislaman sangat kuat. Karena selain berkutat di dunia penerbitan, Al-Azhar juga membidik media informasi lain berupa internet, radio, maupun televisi sebagai media dakwah.

Selain kelompok agama dan lembaga, ada juga maktabah yang membawa bendera ‘Fakultas’.Maktabah yang saya maksud adalah Maktabah Al-Adab dan Muassasah Al-Mokhtar.Kedua maktabah itu berkhidmah penuh pada penerbitan karya-karya yang berhubungan dengan bahasa Arab.

Maktabah Al-Adab misalnya, banyak menerbitkan diwan (kumpulan syair) sastrawan-sastrawan klasik seperti Diwan Al-Hamasah[4]karya Abu Tammam, Diwan Al-Mutanabbi[5], Al-Ashma’iyyat[6]karya Al-Ashma’I, karya-karya Al-Suyuthi dalam bidang bahasa, dan banyak karya-karya penulis kontemporer. Sedangkan Muassasah Al-Mokhtar berjasa banyak dalam menerbitkan kitab-kitab terbitan Maktabah Al-Adab.Selain bekerjasama dalam penyebaran buku dengan Maktabah Al-Adab, Muassasah Al-Mokhtar juga menerbitkan kitab sendiri.Beberapa karya penulis kontemporer dalam bidang Balaghah, Nahwu, ‘Arudh, dan bidang bahasa Arab lainnya dapat ditemukan di sini.

Yang menjadi nilai tambahan bagi Muassasah Mokhtar adalah mereka menyediakan kitab-kitab terbitan Dar Al-Tholai’.Menjadi kelebihan sendiri karena kitab-kitab yang banyak berhubungan Nahwu dan Bahasa Arab terbitan Dar Al-Tholai’ itu adalah kitab yang ‘sangat disarankan’ untuk dibeli.

Ketiga, kelompok moderat.Kami mengatakannya moderat karena maktabah yang masuk dalam kelompok ini tidak membawa bendera tertentu, juga tidak mempunyai kecenderungan khusus.Mereka menerbitkan karya-karya ulama klasik, kontemporer, dan juga dari kelompok manapun.Tampaknya, mereka memang benar-benar berkhidmah untuk ilmu dan lebih mementingkan kualitas produksi.Dari ketiga kelompok maktabah, kelompok ketiga ini adalah yang paling banyak jumlahnya.

Dar al-Salam, Dar al-Bashair,  Maktabah Al-Mujallad al-’Araby, dan Dar al-Kotob al-Ilmiyah adalah beberapa nama yang mewakili maktabah yang moderat. Khusus nama terakhir, banyak kalangan yang menilai bahwa tak sedikit dari kitab-kitab terbitan mereka yang mengalami salah cetak. Apakah kesalahan itu murni salah cetak atau ada motif tertentu, masih perlu penyelidikan lebih jauh.

Salah satu maktabah idola pemburu literartur adalah Dar- al-Salam.Selain tata ruang yang apik, ruangan ber-AC dan bebas debu yang membuat pengunjung betah berlama-lama di maktabah, mereka juga memanjakan pengunjung dengan banyaknya pilihan.

Kitab-kitab terbitan Dar al-Salam berkemasan menarik dan bernilai seni tinggi.Kertas yang digunakan pun termasuk kelas wahid.Meski demikian, harga yang mereka tawarkan termasuk moderat.Yang agak unik dari produk mereka adalah puluhan kitab-kitab dengan kemasan imut.Kitab semacam Bulughul Maram, At-Tibyan, Matn Taqrib, atau Bidayah al-Hidayah yang biasa kita temui dalam ukuran buku sedang, di sini dicetak dengan format buku saku.

Dar al-Salam juga menerbitkan beberapa kitab kontemporer, semisal karya-karya Syeikh Ali Jumah atau dosen-dosen al-Azhar lainnya.Selain menerbitkan sendiri banyak kitab klasik dan kontemporer, Dar al-Salam juga bekerjasama dengan sejumlah penerbit mancanegara.Kitab-kitab terbitan Dar El-Fikr, Maktabah Al-‘Asriyah, dan Dar al-Makrifah (semua dari Beirut, Lebanon) banyak ditemukan di salah satu penerbit terkemuka di Mesir itu.

Sedangkan Dar al-Bashair adalah Maktabah Al-Azhar kedua.Banyaknya karya-karya ulama Al-Azhar yang diterbitkan di sini menjadi alasan mengapa saya menyebutnya maktabah Al-Azhar kedua.Selain itu, banyak terbitan Musthafa el-Baby el-Halaby yang dicetak ulang di sini, dengan wajah baru tentunya.Beberapa karya Syeikh al-Nawawi Al-Bantani juga ditemukan di Dar al-Bashair.

Beragamnya pilihan yang ditawarkan oleh maktabah-maktabah di Kairo membuat kota ini menjadi tujuan banyak kalangan. Kawan-kawan yang kuliah di luar kota biasa datang ke Kairo hanya untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan.

Keterjangkauan harga yang ditawarkan juga banyak dimanfaatkan oleh banyak mahasiswa. Sebagian dari mereka bertindak sebagai distributor dan sebagian yang lainsebagai kolektor. Untuk kelompok terakhir, biasanya mereka belanja sebanyak-banyaknya menjelang pulang.Sebagai persiapan, siapa tahu jadi kyai.

Kairo, 14 September 2012  ( penulis adalah peserta Bayt Qur’an  Santri Pasca Tahfidz Al-Qur’an angkatan I)

 

 


[1]Al-Kitab karya Imam Sibawaih adalah kitab induk nahwu.Karena demikian agungnya kitab itu di mata para ahli nahwu, sampai mereka menggelari kitab itu dengan Quran-nya Nahwu.

[2]Keduanya karya Imam Abdul Qahir Al-Jurjani, danmerupakan kitab induk balaghah.

[3]Catatan pinggir (Hasyiyah) atas Syarah Al-Waraqat oleh Jalaluddin Al-Mahalli.

[4]Berisi kumpulan syair-syair pilihan dari zaman jahiliyyah hingga awal periode Islam.Dikumpulkan oleh Abu Tammam yang merupakan penyair besar pada masa dinasti Abbasiyah.

[5]Kumpulan syair-syair Al-Mutanabbi, salah satu penyair terbesar Islamyang melegenda.

[6]Kumpulan syair-syair pilihan yang berhasil dikumpulkan oleh Al-Ashma’I, salah satu murid imam Al-Khalil.