info@psq.or.id
+62 21 7421661

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)

    Home / Artikel / Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)

0

Nusantara bukan kata yang banyak dipakai oleh generasi muda. Nusantara terdengar seperti barang lama, nusantara dianggap hanya menggambarkan kejayaan di era yang berbeda. Di sisi lain, kemajuan bukan kata yang diterima tanpa tantangan. Kemajuan didefinisikan sebagai meninggalkan adat istiadat, kemajuan dipandang bertentangan dengan akar ajaran keagamaan.

Namun, kedua kata yang sering dianggap berlawanan, disatukan dalam doa dan harapan Abi Muhammad Quraish Shihab, di perjalanan ke Cirebon minggu ini. “Semoga kita bisa terus hidup bersama Al-Qur’an dengan mewujudkan Islam Nusantara yang Berkemajuan”, begitu ujarnya disambut tepuk tangan bahagia ribuan santri di Pesantren Dar Al-Qur’an, Buntet Pesantren dan Pesantren KHAS Kempek di Cirebon.

Abi menggambarkan persatuan sebagai bagian terpenting dari ajaran Islam. Persatuan antar sesama Muslim, apapun mazhabnya, menjadi fondasi dari pengamalan Al-Qur’an. Selama manusia yang bersangkutan berikat pada syahadat dan bersujud ke kiblat yang sama – selama itu pula kita tidak berhak mengkafirkannya. Islam dan Al-Qur’an bukan untuk dimonopoli oleh mazhab tertentu – salafi dan syiah, wahabi maupun aswaja (ahlul sunnah wal jamaah) seperti kita, sesungguhnya punya jauh lebih banyak persamaan daripada perbedaan yang seringkali digadangkan.

Saya makin yakin, bahwa 100% Muslim bukan berarti 100% cara beragama yang seragam, selama kita menjaga 100% mengikuti kaidah akidah.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara

Sebagaimana semua muslim bersaudara, semua warganegara adalah saudara dalam bangsa. Saudara yang salah satu peran utamanya adalah saling menjaga. Mengutip Abi, “Hanya orang gila yang tidak cinta pada negaranya, karena ikatan pada tumpah darah adalah fitrah”. Saya teringat doa Nabi Muhammad SAW yang begitu sedih pada saat meninggalkan Makkah, dan memohon pada Allah untuk menumbuhkan kecintaannya pada Madinah sebagaimana cintanya pada kota kelahiran yang penuh sejarah. Di uraiannya, Abi mencontohkan doa Nabi Ibrahim AS (dalam semangat keagamaannya)1 yang membatasi permohonannya hanya bagi kaumnya yang beriman dan kemudian mendapat “peringatan” dari Allah SWT akan hak semua manusia, apapun keyakinannya (Q.s. Al-Baqarah: 126).

Sebagaimana selalu diucapkannya sejak saya kecil dulu, Abi menyatakan berulang dalam perjalanan minggu ini, “Perbedaan mayoritas dan minoritas sudah selesai sejak kita semua mengikatkan diri dalam satu nama kebangsaan.”

Saya makin yakin, jaminan keamanan dan kesempatan memanfaatkan alam raya, bukan monopoli umat satu agama. Pertanggungjawaban pilihan agama, perhitungan jatah surga-neraka bukan urusan manusia di dunia, tetapi menjadi bukti keadilan dari Tuhan yang penuh rahmat di akhirat.

Sesungguhnya uraian di atas bukan sekadar cita-cita, tetapi sudah dibuktikan dengan pengamalan oleh orangtua kita, pemuka agama dan budaya masyarakat sejak dahulu kala. Sejak kesepakatan Madinah maupun kejayaan Nusantara. Menjadi penggerak, bukan sekedar pengikut, apalagi penghambat kemajuan zaman, adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Perintah mengambil pengalaman dari sejarah (Q.s. Ali Imran: 137) dan beradaptasi pada potensi alam (dan teknologi) (Q.s. Al-Haj: 65), sering kita pelajari. Tetapi kita kadang masih lupa bahwa tradisi dan inovasi tidak dipertentangkan dalam ajaran kitab suci.

Sekali lagi, mari bersama-sama mempraktikkan Islam Berkemajuan yang Nusantara – ini seharusnya menjadi cita-cita kekinian, lintas golongan.[Najelaa Shihab (Pendidik)]

BACA JUGA; Semua Murid Semua Guru:
Pesantren yang Memanusiakan Hubungan, Al-Qur’an yang Hidup dan Menghidupkan (Bagian 1 dari Dua Catatan Perjalanan)