info@psq.or.id
+62 21 7421661

Halaqah Pemikiran : Memahami Gerakan Salafi

    Home / News / Halaqah Pemikiran : Memahami Gerakan Salafi

Halaqah Pemikiran : Memahami Gerakan Salafi

0

Beragam cara yang dilaksanakan umat Islam menuju peringatan hari kelahiran Rasulullah Saw tak terkecuali dengan para huffadz Al-Quran dari para santri Bayt Al-Quran Pondok Cabe angktan VIII juga para mahasiswa Pendidikan Kader Mufassir angkatan IX. Acara ini sendiri sebagai serangkaian momen sebelum tibanya maulid Rasulullah Saw yang tahun ini jatuh pada tanggal 14 Januari 2014.

Acara yang digelar oleh segenap panitia Maulid dari Pusat Studi Al-Quran ini dihadiri oleh Dr Arifin dan Bapak Zayadi juga pembicara tunggal, Dr.Din Wahid dengan tema Gerakan Salafi di Indonesia. Beliau memaparkan secara gamblang semua yang berkaitan dengan salafi mulai dari jenis salafi, ajarannya, terlebih doktrin yang juga sering digunakan kaum salafi dalam berargumen.

Din mengungkapkan bahwa gerakan salafi dimulai oleh Jamaluddin Al-Afghani, kemudian berlanjut oleh Muhammad Abduh di Mesir sekitar 19 M dan Rasyid Ridha di Syria. Tiga Inti ajaran kaum salafi ialah pemurnian ajaran Islam, kembali kepada Al-Quran dan Hadits dengan contoh dari para salafus shalih (tiga generasi pertama umat Islam), dan terakhir ialah melakukan ijtihad.

Sedangkan gerakan salafi kontemporer, yang dimaksud Din ialah orang yang mengikuti manhaj (cara atau jalan) generasi salaf yang mengikuti cara berpikir, berperilaku dan beragama.

“Definisi ini berpijak pada hadits Rasulullah yang berarti bahwa sebaik-baik masa ialah masaku, kemudian masa sesudahku, kemudian disusul oleh masa sesudahnya. Dasar ajaran mereka ialah Al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum Islam, juga kewajiban mengikuti manhaj (following the manhaj or path,” ucap Din.

Kewajiban mengikuti manhaj salafi, yang sering didengungkan atau djadikan argumen kaum salafi, lanjut Din, ialah surah At-Taubah ayat 100. Mereka (kaum salafi) menyatakan bahwa dalam ayat tersebut mengandung perintah keharusan mengkuti manhaj salafi. Yang dimaksud perintah disini ialah dalam bentuk khabar.

Din juga menguraikan beberapa doktrin dasar gerakan salafi ialah pertama, kembali kepada contoh salafus shalih. Kedua, berpedoman pada tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa al sifat. Ketiga, menentang syirik dan bid’ah. Keempat mengikuti Al-Quran dan Hadits juga ijma sahabat. Kelima, Mengikuti penafsiran literal terhadap Al-Quran dan Hadits.

“Yang perlu diketahui selanjutnya ialah bahwa kaum salafi juga memiliki pemikiran tentang Al-Walaa wa Al Bara atau Aliansi dan Disasosiaasi. Al Walaa berarti mencintai, menolong, mengikuti atau mendekat pada sesuatu. Sedangkan Al-Bara ialah menjauhi, membersihkan diri dan melepaskan diri,”

“Saya pernah ingin meneliti sebuah pondok pesantren salafi wahabi di Jember. Tiket sudah di tangan dan besok pagi tinggal berangkat. Namun, malam hari saya ditelpon oleh pengasuh pondok bahwa saya tidak boleh datang. Alasannya singkat, karena ia mengira saya adalah antek Barat,” kenangnya.

Tak hanya itu, Din juga diklaim sebagai Muslim yang bekerja sama dengan Barat, mengingat memang, Din menyelesaikan masa perkuliahannya di Leiden University, Belanda. Pengasuh pondok itupun membuat memo bahwa ia ingin bekerja sama setelah Din menjadi muslim yang benar. Kiranya, itulah aplikasi Al-Walaa dan Al-Bara. Dimana ada kaum salafi yang mereka berpikiran sangat ekstim, menaruh curiga yang berlebih di kalangan sesama muslim, apalagi di luar muslim.

Meski waktu yang tidak terlalu banyak, diskusi pun menjadi lebih menggairahkan, terlebih saat Din memaparkan bahwa gerakan salafi terbagi banyak. Din menggunakan istilah ‘Anatomi Gerakan Salafi di Indonesia’ yang salah satunya berpijak pada Q. Wiktorowicz, menurutnya, gerkan salafi terbagi menjadi tiga yaitu Purist (murni berdakwah), Politics (mereka bersinggungan dengan politik), Jihadist (menebar ajaran islam dengan kekerasan).

Adapun pendapat lain, gerakan salafi terbagi menjadi tiga juga, dengan penjabaran pertama, salafi Purist terbagi menjadi tiga yaitu rejectionist (mereka mengharamkan segala kegiatan dengan non salafi), cooperationist (mereka berdamai dan mau beriteraksi dengan kaum lain) ketiga tanzimi yang bermetamorfosis menjadi Ormas. Kedua, aliran salafi Haraki dan terakhir ialah jihadist, dimana mereka mengaku salafi tapi justru menympang dari ajaran sesungguhnya.

Acara yang berakhir pukul 11.40 Wib ini berhasil memenuhi kalbu peserta dengan ilmu dan wawasan baru tentang gerakan salafi. Meski singkat, diskusi yang melahirkan lima pertanyaan dari peserta mampu terjawab dengan lugas dan padat oleh Din Wahid. Semoga kiranya kita lebih cerdas dan kritis dalam memahami gerakan salafi. (Ina S Febriany)