Diskusi Tafsir Tabi’in

oke Setelah beberapa hari Prof. Thib Raya tidak bisa hadir sebab sakit, kini Kamis (5/10) beliau kembali mengisi perkuliahan PKM dengan tema Tafsir al-Quran dengan pendapat tabi’in. Menurut suami Prof. Muzda Mulia ini, tafsir tabiin tidak bisa dilepaskan dari tafsir ayat al-Quran dengan ayat yang lain. dicontohkan tentang tafsir QS. al-Thalaq [65]:10. dalam ayat ini lafadz zikr ditafsiri sebagai al-Quran yang merupakan ruh Allah. Hal itu sesuai dengan makna ayat lain QS. al-Syura [42]: 52. Logikanya karena peringatan Allah itu disampaikan melalui wahyu. Wahyu itulah yang menjadi sarana untuk memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Jadi zikr itu dipahami sebagai al-Quran. Zikru dan ruh, menurutnya, dalam al-Quran disebutkan di beberapa tempat.

Selanjutnya tafsir tabi’in juga tidak lepas dari penafsiran al-Quran dengan Sunnah Nabi saw. Misalnya tafsir QS. Maryam [19]: 57. Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi dalam ayat ini ditafsirkan sebagai Nabi Idris berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Tabiin dari sahabat Anas ibn Malik dari sabda Nabi saw.

Tafsir Tabi’in juga dapat bersumber dari pendapat sahabat. Misalnya, dalam QS. al-Najm [53]: 9 lafadz fa kana qaba qausaini (Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah, terj-), ditafsiri sebagai jibril yang begitu dekat dengan Nabi saw. tafsir ini berdasarkan informasi dari Ibn Mas’ud bahwa Nabi saw pernah melihat Jibril dengan 600 sayab. dari sini bisa disimpulkan bahwa karena begitu dekatnya Nabi saw dengan Jibril maka Nabi saw sampai dapat menghitung.

Sumber tafsir tabi’in berikutnya adalah tabi’in lain. misalnya, informasi dari Ibnu Mas’ud di atas didapatkan oleh Abu Ishaq al-Syaibani, seorang tabi’in, dari Zir ibn Hubaisyi yang juga seorang tabi’in lain. Setelah tafsir dari tabi’in lain, maka mereka main di bahasa. Lalu, apakah bahasa merupakan kategori ra’yu? jawabannya, menurut Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sarif Hidayatullah ini, adalah iya. Misalnya, tafsir QS. al-Jatsiyah [45]: 29 lafadz nastansihu dalam ayat ini ditafsiri sebagai naktubu (menulis, terj-).

sumber tafsir tabi’in yang lain adalah ahl kitab. Misalnya tafsir QS. al-Maidah [5]: 23. Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jarir dari Ibn Ishaq dari sumber kalangan Ahli Kitab. kemudian pembahasan sumber tafsir tabi’in dilanjutkan dengan ijtihad tabi’in lain dan pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi pada waktu ayat turun.

Dalam perkuliahan ini, dibahas juga fungsi tafsir tabi’in. Diantaranya adalah menjelaskan kosakata, menjelaskan pengkhususan yang umum, yang ringkas, pengkaitan yang muthlaq, pembatalan (naskh) dan menjelaskan yang samar. Perkulihan dengan suasana ‘gayeng’ ini diselingi juga cerita tentang toleransi sunni-syiah, toleransi Imam syafi’i dengan Imam Hanafi, dan cerita tentang pemilihan Abu bakar sebagai Khalifah.

Perkuliahan dilanjutkan dengan pembahasan kedudukan tafsir tabi’in. berdasarkan kedudukannya, tafsir tabi’in diklasifikasikan menjadi; rafa, ijmak, kutipan dari ahli kitab dan perbedaan pendapat, Namun, kehujjahannya tidak mutlak, bila ijmak, barulah ucapan tabi’in itu menjadi hujjah. Perkuliahan diakhiri dengan cerita tentang penyadaran Prof. Thib terhadap saudara yang meyakini menyentuh istri tidak membatalkan wudhu menjadi membatalkan wudhu. “Saya ceritakan kepada Pak Quraish,  kata Pak Quraish, itu kan cara orang NU agar orang tidak berwudhu berwudhu lagi.” Kelakarnya sambil bersyukur dalam kondisi kurang sehat, beliau tetap dapat mengajar. bersambung. (Hamzah/PKMXI).