Diskusi “Perkembangan Kajian Tafsir” peserta PKM bersama Prof. Nasaruddin Umar, MA

pkm-prof-nasar (Senin, 1/12/2014) Sekitar pukul 08. 45 WIB, bertempat di Kantor PSQ, peserta PKM ke X melakukan diskusi bersama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Dengan tema besar “Perkembangan kajian Tafsir”, diskusi ini dimulai dengan sekelumit cerita dari sosok Prof. Nasar yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai aparatur negara selama + 8 tahun terakhir ini selalu berkutat pada pekerjaan kantor dengan tumpukan kertas yang harus selalu diteliti dan ditandatangani,  pada fase itu Prof. Nasar harus benar-benar meluangkan waktu untuk tetap belajar, salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan menyempatkan diri menulis minimal 10 halaman di tiap hari dan selalu menyempatkan untuk menulis di berbagai media dan juga berceramah agar ilmu-ilmu yang didapatkannya selalu tertancap dan terasah. Demikian kurang lebih prolog pengantar diskusi ini yang pada intinya Prof. Nasar memberikan motivasi akan pentingnya sebuah waktu, karena semenit pun waktu terlewat, ia takkan bisa kembali.

Dimulai dengan seruan berdoa bersama kepada Allah kiranya dibukakan pemahaman dalam proses belajar ini, baru setelah itu dimulai lah diskusi pada hari ini. Pada kali pertama tatap muka ini, Prof. Nasar mengingatkan kembali pada peserta PKM ke X dan umumnya pada para “murid” yang sedang menimba ilmu, agar hendaknya mengingat kembali pentingnya “penyucian jiwa/batin” dalam proses tranfer ilmu. Menurutnya, pembersihan jiwa “tazkiah” harus dilakukan terlebih dahulu dibanding proses tranfer ilmu itu sendiri (ta‘lim), ini berdasarkan QS. al-Baqarah [2]: 151, di mana pada ayat ini kalimat “yuzakkikum” didahulukan dari kalimat “wa yu‘allimukum”. Inilah sebab mengapa dalam kitab-kitab klasik selalu yang didahulukan adalah pembahasan “taharah” yang jika dikaji maknanya mencakup pembersihan hati dan pembersihan lahiriyah, tidak seperti kata “nazhafah” yang artinya hanya mencakup pembersihan lahiriyah saja.  Proses tazkiah berarti seorang guru “mursyid” tidak hanya cukup menyiapkan materi-materi yang akan disampaikannya, melainkan juga berdoa kepada Allah agar ia dibimbing dalam mentransfer ilmu Allah tersebut, begitu juga jangan sampai guru dan murid itu melakukan kemaksiatan sebelum, sesaat atau sesudah proses transfer ilmu, karena dengan itulah Allah akan menurunkan ilmu-Nya kepada para hamba-Nya, bukankah jika ada pesawat yang akan mendarat harus sudah memiliki landasan?, pembersihan hati adalah upaya menyiapkan landasan tempat turunnya ilmu Allah. Demikian kurang lebih penjelasan Prof. Nasar terkait pentingnya menjaga hati untuk selalu suci, dekat, dan terkait erat dengan Allah al-‘Alim.

Banyak hal yang dikaji, dikembangakan, dan dikritisi pada diskusi kali ini, sebagiannya adalah terkait cakupan makna al-Kitab,  bahwa sebenarnya al-Kitab yang notabene sebagai ayat Allah, bukan hanya terbatas pada al-Qur’an, melainkan juga alam raya dan manusia itu sendiri. Selanjutnya adalah perbedaan antara Kalamullah dan Kitabullah, antara lain: Kitabullah adalah bagian dari Kalamullah yang tertulis dalam kitab yang secara fisik bisa diperbaharui (misal ada naskh mansukh), sedangkan Kalamullah adalah lebih umum, tidak terbatas pada apa yang ada di kitab, dan juga melekat di dalam diri Allah (sifat-Nya). Perbedaan makna al-Qur’an dan al-Furqan, bahwa al-Qur’an lebih menekankan makna pengumpulan kebenaran-kebenaran yang secara umum, baik yang merupakan syari’at Allah maupun kisah atau pelajaran umat-umat terdahulu yang secara substansi mempunyai kemanfaatan untuk dijadikan pelajaran, sehingga tidak heran banyak ajaran-ajaran umat terdahulu yang tetap diambil tetapi dengan disertai perubahan dan modifikasi tatacaranya agar sesuai dengan syari’at Allah, misal haji, puasa, dan sebagainya, sedangkan al-Furqan lebih sebagai sifat al-Qur’an yang menekankan pada pemisahan, pembedaan secara tegas antara yang haq dan batil. Inilah beberapa kesimpulan terkait diskusi yang berlangsung sampai pukul 11.10 ini, dan ditutup dengan doa bersama dengan harapan apa yang dipelajari di kali ini mendapatkan berkah dari Allah.

Komentar Dinonaktifkan pada Diskusi “Perkembangan Kajian Tafsir” peserta PKM bersama Prof. Nasaruddin Umar, MA