|
Judul Buku : Wawasan al-Qur’an tentang Dzikir dan Doa
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati Jakarta & Pusat Studi al-Qur’an
Volume : ix + 401 h
Cetakan : I, Rajab 1427/Juli 2006
Seri : 05
Maraknya dzikir dan doa yang dilakukan secara massif belakangan ini, setali tiga uang dengan harapan akan kedamaian dari krisis multi dimensi yang belum usai. Terdapat banyak kegelisahan, karena ulah sebagian orang yang menyebabkan krisis sosial-ekonomi, plus tawaran ide yang bertentangan dan serba membingungkan.
Bagi M. Quraish Shihab, ajakan berdzikir dan berdoa merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam yang dipraktekkan sepanjang saat dan dalam seluruh kondisi dan situasi nabi Muhammad saw. serta para sahabat beliau (h. 3). Dalam al-Qur’an saja bertebaran ayat-ayat yang mengajarkan dzikir dan doa untuk berbagai situasi dan kondisi, baik secara langsung maupun tidak.
Buku ini mengurai dzikir menjadi bab-bab; makna dan substansi dzikir, media dan waktu berdzikir, bacaan dzikir, dampak dzikir bagi kehidupan, dan wirid. Sedangkan doa; doa dalam kehidupan manusia, kandungan doa dan tata cara berdoa, sasaran dan pengabulan doa, tawassul dan ruqyah, dan shalawat.
Dzikir dan doa dijelaskan sebagai dua kata yang berkaitan erat; arti dan prakteknya dalam ibadah muslim. Berdzikir berarti mengingat sekaligus mengandung harapan dari yang kita ingat itu. Berdoa berarti meminta sesuatu yang kita inginkan dengan tulus dan ikhlas. Karenanya, ucapan/perbuatan yang mengandung ingatan dan harapan yang ditujukan pada yang Kuasa, bisa dikatakan dzikir -doa.
Dzikir sedianya dilakukan kapan dan dimanapun. Bukankah setiap hari, kita menyaksikan keagungan ciptaan-Nya dan segala kejadian yang diluar prediksi nalar kita? Nabi sendiri melakukannya dalam berbagai kondisi dan situasi, sejak bangun hingga tidur, saat gundah dan senang. Ini dilakukan karena setan menggoda manusia setiap detik; mengintip kelengahan kita karena lupa dzikir.
Bacaan dzikir bisa dipadatkan pada dua point; (1) permohonan perlindungan kepada Allah swt. dan (2) pengakuan atas kekuasaan Allah swt. mengatur dan menguasai alam raya. Yang pertama sebagai manifestasi tauhid dan yang kedua menegaskan kekuatan adi manusia, baik telintas dalam benak maupun tidak.
Dzikir yang dibaca dengan jumlah ribuan oleh kaum muslim, ditengarai lahir dari praktek-praktek tasauf yang mulai populer pada abad ke-2H/8M. Padahal Nabi saw. sendiri menganjurkan untuk melakukan dzikir sebanyak tiga, tujuh, tiga puluh tiga dan seratus kali.
Pada perkembangan selanjutnya lebih dikenal dengan istilah wirid sebagai medium penyucian diri bagi orang yang hendak mendekatkan diri pada Tuhan lewat jalur tasauf. Meski hadits yang dijadikan sandarannya lemah, para ahli hadits ada membolehkannya sebagai fadhâ’il al-’amal (keutamaan amal) asal ada pijakan utamanya.
Adapun doa bersama, diperbolehkan dengan syarat dilakukan dengan ikhlas dan oleh orang yang beribadah kepada-Nya. Doa bersama lintas agama besebrangan dengan misi Islam sendiri sebagai pemurni akidah. Dengan mengamini doa non-muslim, berarti membenarkan isi dan kepada siapa doa itu dipanjatkan. Tapi tetap dianjurkan untuk melakukan aktifitas sosial bersama agama lain. Nabi saw. pernah mempersilahkan agama lain melakukan shalat dan doa di masjid yang disaksikan oleh para sahabatnya.
Dalam memanjatkan doa dengan washîlah (perantara), diperbolehkan asal tidak meyakini washîlah sebagai sebab utama terkabulnya satu permohonan. Karena mempercayainya dapat mengurangi peran Allah swt. merupakan syirik. Kebolehan Nabi saw. dijadikan washîlah, lebih disebabkan oleh rasa cinta kepada-Nya agar dikabulkan doa oleh Allah swt.
Sementara tabarruq (cara untuk mendapatkan berkah) meski banyak ulama melarangnya, tapi ada yang membolehkan dengan argumen pengalaman sahabat Nabi saw. yang dalam satu riwayat memperebutkan sisa makanan Nabi saw. Umar bib Khattâb ra. pun meminta untuk dimakamkan berdekatan dengan Nabi saw. dan Sayyidina Ali ra.
Ruqyah sama dengan mantra, yaitu kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatang kekuatan gaib. Islamisasi ruqyat terjadi dengan menggantinya dengan ayat-ayat al-Qur’an atau kalimat yang dibenarkan oleh Nabi saw. dalam rangka memohon pada Allah swt., tapi sepenuhnya berpulang pada kehendak-Nya. Kalaupun ditambahkan kalimat selainnya, harus jelas maksudnya. Untuk tidak mencampurkan ayat al-Qur’an dengan kalimat yang mengandung syirik dan tidak logis.
Doa, sebenarnya makna lain dari shalawat yang dilakukan oleh yang rendah pada yang lebih tinggi --hamba kepada Tuhannya. Adapun shalawat kepada Nabi swt. dimaksudkan sebagai rasa terima kasih atas jasa-jasa-Nya untuk menunjukkan kebenaran. Dalam QS. al-Ahzâb [33]: 56 dijelaskan, Allah swt. sendiri bershalawat dengan melimpahkan rahmat. Dan malaikat bershalawat memohon pada Allah swt, kiranya mempertinggi lagi derajat-Nya.
Buku ini berhasil menyajikan definisi, praktek, dan manfaat dzikir-doa untuk kehidupan. Sedianya dibaca oleh kaum muslim untuk menyikapi ragam dan cara melakukannya, sehingga sesuai dengan praktek Nabi saw. dan para sahabatnya. Semoga. [Muhtar Sadili]
Judul Buku : Dia Dimana-mana, “Tangan” Tuhan Dibalik Setiap Fenomena
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati Jakarta
Volume : 513 h
Cetakan : Pertama, Jumadil Tsaniyah 1425/Juli 2004
“Tariklah pelajaran dari sebuah batu yang sedemikian kokoh, lalu dapat berlubang walau hanya dibasahi oleh air setetes demi seteteh”
“Ada sinar matahari yang tidak dapat kita jangkau, masih banyak menyangkut matahari yang tidak dapat kita ketahui. Cahayanya pun tidak mampu kita tatap berlama-lama, kalau matahari saja demikian bagaimana kita dapat melihat dengan mata kepala kita pencipta matahari itu”
Buku ini menawarkan jalan sederhana untuk merasakan peran ‘tangan tak terlihat’ dalam setiap peristiwa dan benda yang ada di sekeliling kita. Melalui hal-hal yang seringkali diremehkan, sebenarnya kita bisa meyakini keberadaan Tuhan. Caranya dengan meninggalkan sejenak kesibukan dan hiruk pikuk kegiatan dan dengan sedikit renungan akan ciptaan-Nya. Anda akan merasa bahwa peran Tuhan itu ada setiap saat dan di semua tempat.
Anatomi buku ini berbentuk kumpulan renungan dari penulisnya, yang tentu saja dengan piranti analisa qur’anik yang memang sesuai dengan bidang kajiannya. Dengan tutur bahasa yang renyah –seperti tulisan-tulisannya yang kita kenal--, deskriptif, analitik, tidak menghakimi satu pendapat, dan seakan mempersilahkan pembacanya untuk memilih mana yang paling mendekati kebenaran. Sementara informasi lainnya, ditambahkan dengan beberapa bacaan kontemporer yakni ensiklopedi hewan dan tumbuhan yang sedikit-banyak membantu analisa yang disuguhkan.
Bahasannya diawali dengan pengamatan akan keberadaan alam semesta sebagai macro cosmis dari ciptaan-Nya yang menyimpan banyak pelajaran. Langit, bumi, bintang, matahari dan lainnya lebih diterangkan secara filosofis sebagai gugusan jagat raya yang mustahil bagi manusia untuk menciptakannya. Keteraturan dan keharmonisan sistem jagat raya ini menyiratkan satu kekuasaan di luar nalar sekuler kita. Kata ‘alâmât yang diintrodusir sebagai ‘cara yang menjelaskan sesuatu selain-Nya’ menjelaskan bahwa jagat raya meliputi sesuatu yang sudah dan belum kita ketahui.
Sedangkan bagian micro cosmis dibahas mengenai manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Kesemuanya itu diklasifikasi secara deteil untuk menyingkap pesan yang tersembunyi yang kerap terlupakan oleh kita. Sebagai unsur-unsur yang membentuk gugusan jagat raya, semuanya mempunyai keteraturan yang tidak mungkin bagi manusia untuk menciptakannya. Puluhan penelitian silih berganti mematahkan hasil penelitian sebelumnya, dan terus berganti. Sementara, jagad raya masih tetap jadi misteri.
Eksistensi manusia, yang diistimewakan dari makhluk lainnya dengan keberadaan akal, ruh, dan jiwa mempunyai keunikan tersendiri yang dalam Islam diredaksikan dengan ahsanu taqwîm’ (sebaik-baik yang diciptakan). Penemuan mutakhir yang dicoba kenalkan adalah identifikasi manusia sebagai ‘man the unknown’, dari Alexis Carrel (1873-1944) yang menyimpan banyak misteri diluar sifatnya yang sederhana seperti bisa bicara, ketawa, dan lainnya. Yang mendasar, ia berasal dari tanah, bermukin di tanah, meminta energi dari tanah, dan akan berakhir ke tanah. Penulis menyadur anasir yang harus diperhatikan secara seksama oleh kita ‘hai manusia apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan-mu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang; dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu!’ (QS. al-Infithâr [82]: 6-8).
Banyaknya ragam hewan dengan segala sifat dan keunikannya menarik untuk diamanati. Ia dibedakan dengan manusia karena tidak mempunyai akal-budi sehingga kelanjutan hidupnya ditentukan oleh insting yang melindunginya untuk berkembang, mempertahankan diri, bahkan satu saat saling menyerang. Kesemuanya diciptakan tidak sia-sia. Bagaimana dan apa sesunggunya manfaat diciptakan nyamuk, lebah, unta, dan lainnya? Keserupaan sistem atau tata cara hidup binatang dengan manusia, telah membuktikan betapa Allah swt menciptakannya dengan satu tujuan, dan masing-masing tidak terhalangi untuk mencapai kesempurnaan sesuai dengan potensi yang dianugrahkan-Nya.
Adapuan tumbuh-tumbuhan diciptakan sebagai penunjang kebutuhan hidup manusia dan hewan yang ada di sekelilingnya. Ada oksigen yang dihasilkannya untuk pernafasan manusia dan binatang, yang sebelumnya berbentuk karbondioksida sebagai hasil pembakaran dalam tubuh keduanya. Akarnya yang menghujam terus ke tanah, meliuk-liuk di sela-sela bebatuan mencari air yang nantinya dikirim ke daun dan didistribusikan ke seluruh bagian batangnya. Mereka tidak pernah mengeluh akan ada dan tiadanya air. Ada satu jenis kacang, yang hampir sepuluh tahun terpendam di tanah, yang hanya tumbuh sampai waktu datangnya air. Keindahan warna, bentuk, dan cara bertahan tumbuhan mendatangkan kekaguman, tenang dan tentram di tengah himpitan ‘hasrat keserakahan’ manusia. Sifat efesiensinya yang disesuasikan dengan kondisi alamnya jadi pelajaran betapa sumber daya alam ini terbatas dan harus terus dijaga!
Tamsil lainnya adalah keberadaan rizki yang sering tidak dimengerti darimana dia datang dan kemana dia akan pergi. Begitu juga tentang ciptaan manusia seperti lalu lintas, yang diperlukan untuk mengatur perjalanan kita. Ini sama dengan keberadaan manusia yang tadinya satu, lalu Allah mengutus para nabi untuk keteraturan hidup manusia (QS. al-Baqarah [2]: 213). Lalu lintas adalah cara untuk mengatur ‘perjalanan material’ sedangkan keberadaan beberapa nabi dan rasul sebagai pengatur ‘perjalanan spiritual’ manusia. Dua-duanya sama karena ada yang mengaturnya.
Penulis buku ini berhasil menilik secara tajam dan lugas prihal bukti ciptaan-Nya, yang kerap kita lewatkan setiap hari. Dengan kata lain, sekecil benda dan atau peristiwa di alam raya ini selalu ada pesan tentang kekuasaan Yang Maha Pencipta. Urainnya sepintas lalu bisa jadi terlihat biasa-biasa saja, tapi apabila diterima lewat pikiran bersih dan hati jernih pasti akan dimengerti bahwa Dia di mana-mana, bisan dirasakan kapan dan oleh siapa pun! [Muhtar Sadili]
 |