| ‘ADHDHU (عَضُّ = berpegang teguh) |
|
|
|
| Ensiklopedia Al-Quran |
|
‘ADHDHU (عَضُّ = berpegang teguh) Kata ‘adhdhu (عَضُّ) berasal dari ‘adhdha (عَضَّ), ya‘adhdhu (يَعَضَّ) yang secara literal mengandung pengertian “menahan sesuatu dengan gigi” atau “menggigit”, baik secara hakiki maupun kiasan. Sesuatu yang digigit dan dimakan disebut al-‘adhadhu (الْعَضَضُ). Sesuatu yang terlepas dari yang mestinya diraih karena kelalaian disebut al-‘idhdhu (الْعِضُّ); karena itu maka al-‘idhdhu (العِضُّ) juga berarti “bencana”. Kata ‘adhdhu (عَضُّ) juga berarti “berpegang teguh”. Pengertian yang disebutkan terakhir ini ditemukan di dalam salah satu hadis Nabi yang memerintahkan umatnya agar mereka berpegang teguh kepada sunnah beliau. Kata ‘adhdhu (عَضُّ) juga digunakan untuk menunjuk kepada teman yang sangat akrab, bahkan juga untuk menunjuk kepada orang yang sangat kikir. Di dalam al-Qur’an, kata ‘adhdhu (عَضُّ) disebut dua kali, yaitu di dalam S. Ali ‘Imran (3): 119 dan S. Al-Furqan (25): 27). Penggunaan kata ‘adhdhu di dalam al-Qur’an semuanya menunjuk kepada pengertian “menggigit” dengan arti kiasan. Di dalam S. Ali ‘Imran (3): 119 diterangkan sikap dan perilaku orang-orang munafik terhadap kaum muslimin. Mereka sangat pandai berpura-pura sebagai muslim ketika mereka berada di tengah-tengah umat Islam, dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam. Akan tetapi, ketika mereka kembali ke tengah-tengah kelompoknya, watak aslinya muncul, bahkan mereka sangat marah dan dendam karena tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu menipu dan memperdayai umat Islam. Mereka seolah-olah menggigit bibir karena menahan kemarahannya. Adapun kata ‘adhdhu (عَضُّ) di dalam S. Al-Furqan (25): 27 berbicara tentang penyesalan orang-orang lalim di hari kemudian, karena mereka tidak mengikuti petunjuk dan ajaran Rasul. Kata “menggigit kedua tangan” di dalam ayat tersebut menunjukkan penyesalan yang sangat besar dari mereka. Ungkapan penyesalan karena tidak mengikuti petunjuk yang dibawa oleh rasul, sekaligus diikuti dengan penyesalan karena mereka menjadikan setan sebagai teman akrabnya, yang menyeretnya kepada kesesatan dan kebinasaan yang abadi. Ungkapan tersebut menunjukkan penyesalan orang-orang lalim atas perbuatannya yang telah lalu. Perbuatan menggigit jari atau bibir menunjukkan kebiasaan manusia apabila sedang menahan marah atau menyesali suatu perbuatannya, atau menggigit tangannya karena mereka ingin meraih sesuatu yang telah lewat, yaitu suatu impian yang tidak mungkin bisa terjadi. Hal ini juga dipahami dari lanjutan ayat ini yang menyatakan penyesalan mereka dengan mengatakan, “Kecelakaan besarlah bagiku, seyogyanya aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” (M. Galib Matola) |
Ikuti Twitter Alifmagz
- Loading...


