| ‘ADAS (kacang adas) |
|
|
|
| Ensiklopedia Al-Quran |
|
‘ADAS (kacang adas) Kata ‘adas (عَدَس) merupakan kata benda. Bentuk satuannya adalah ‘adasah (عَدَسَة). ‘Adas (عَدَس) adalah nama tumbuh-tumbuhan sejenis kapas, ditanam dari bijinya yang dapat juga dimakan. Dalam istilah Indonesia disebut juga “kacang adas”. Kacang adas berasal dari Asia, sekarang sudah dapat tumbuh di berbagai wilayah di dunia. Muhammad Farid Wajdi di dalam “Da’irah al-Ma‘arif al-Qarn al-‘Isyrin“ menyebutkan bahwa ‘adas (kacang adas) itu tergolong sayur-mayur yang banyak tumbuh di tanah Arab (Timur Tengah). Para petani menganggap ‘adas sebagai salah satu menu makanan mereka yang utama. Kacang adas banyak ditanam di daerah pedalaman yang banyak air dan sedikit sekali ditanam di daerah pantai. Penyiraman tanaman ini dilakukan dengan sistem irigasi. Biasanya kacang adas ditanam bersamaan waktunya dengan gandum. Di dalam al-Qur’an, kata ‘adas (عَدَس) hanya disebut satu kali, yakni di dalam S. al-Baqarah (2): 61, yang berbentuk kata benda tunggal. Disebutnya kata ‘adas berkaitan dengan kerewelan umat Nabi Musa (Bani Israil) yang mengadakan eksodus besar-besaran menyeberangi Laut Merah. Dalam perjalanan menuju Tanah Harapan, tanah Kan‘an (Palestina), di tengah gurun dalam kondisi sulit mereka meminta hal-hal yang susah didapat. Mereka menginginkan makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya, seperti yang telah mereka dapatkan di tanah Mesir dahulu. Di dalam surat tersebut digambarkan bahwa mereka tidak tahan lagi bersama Nabi Musa, karena hanya punya satu macam makanan saja. Oleh karena itu, mereka mendesak Nabi Musa agar memohon kepada Tuhan supaya mereka memperoleh apa-apa yang tumbuh di bumi, yakni sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Secara kontekstual Ayat 61 dari S. al-Baqarah (2) ini berbicara mengenai peringatan terhadap orang Yahudi di Madinah atas nikmat-nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada nenek moyang mereka, Bani Israil, terutama pengikut Nabi Musa, dan mengingatkan kembali akan watak buruk mereka agar jangan ditiru atau diulang lagi. (Ahmad Asymuni) |
Ikuti Twitter Alifmagz
- Loading...


