Kajian Buku : Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir

sip

Buku “Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir” dibedah di Pesantren Bayt al-Qur’an, Selasa (9/6). Pesantren yang mengelola program Pasca-Tahfidzh Al-Quran ini beralamat di Perum Villa Bukit Raya (South City) Jl Boulevard Diamond Selatan, No 10 Pondok Cabe, Cinere, Tangerang Selatan, Banten.

Diskusi dan bedah buku karya kader muda NU Dr M Ulin Nuha Husnan ini dimoderatori Romli Syarqawi Zain. Dua narasumber didaulat membedah buku tersebut, yakni intelektual muda NU Dr Abdul Moqsith Ghazali dan peneliti Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Faried F Saenong, PhD.

Dalam prolognya, moderator Romli Syarqawi Zain mengatakan, ada beberapa sarjana muslim yang mencoba memberi pendekatan baru bagi teks atau penafsiran Al-Quran. Selain Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir, Muhammad Syahrur asal Suriah juga mencoba mendekati kitab suci ini secara kritis.

Tradisi kritis terhadap pendekatan Al-Quran, lanjut Romli, lahir bukan dari sarjana lulusan kuliah keagamaan, bukan lulusan UIN atau IAIN. Umumnya, yang menyumbangkan pemikiran kritis itu justru lulusan ilmu umum.

“Nah, Doktor Ulin Nuha memecahkan rekor ini. Penulis buku ini ternyata santri lulusan madrasah dan pesantren di Lamongan lalu kuliah di Al-Azhar Cairo. Beliau ini adik kelas saya di Mesir. Huwa asgharu minni sinnan, wa akbaru minni ‘ilman. Meski secara umur lebih muda, namun ilmunya lebih luas dari saya,” ujar Romli mengawali diskusi.

Dalam presentasinya, Ulin Nuha Husnan mengatakan, metodologi tafsir penting untuk mengetahui makna Al-Quran. Penelitian ini berangkat dari beberapa temuan adanya inhirafat yang kalau dibiarkan akan berimplikasi kepada pemaknaan kitab suci itu sendiri.

“Padahal Al-Quran berbeda sama sekali dengan tafsir. Al-Quran itu universal yang melampaui ruang dan waktu. Sementara Tafsir itu nisbi. Meski nisbi, tetap saja ia harus memiliki parameter untuk mengukur kenisbian itu agar tidak melampaui batas,” ujar Ulin.

Abdul Moqsith Ghazali dalam penilaiannya menyatakan, tentu jika dicari kesalahan buku ini pasti banyak sekali apalagi ketika yang dikritik sudah dituliskan. Buku ini misalnya, menjelaskan adanya banyak kosakata dalam Al-Quran yang bukan bahasa Arab, misalnya, kaafuuraa, zanjabiilaa, firdaus, dan lain-lain.selanjutnya

a-3a-4

a-2a-1

Studi Pengayaan Lapangan Mahasiswi UNIDA Gontor ke PSQ

gontor-1

(Senin-26/1/2015) tepat pukul 09.00 WIB Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ” menerima kunjungan dari mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor “UNIDA”, sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan Studi Pengayaan Lapangan yang salah satu tujuannya adalah Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ”. Dengan mengangkat tema “ Integrasi Keilmuan” rombongan mengawali kegiatan dengan mengujungi Perpustakaan Digital yang berada di lantai dua Pusat Studi Al-Qur’an, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian dan pemaparan program – program PSQ oleh Ach. Zayadi, M.Pd yang kemudian disambung dengan penyampaian kata sambutan mewakili rombongan dan sekaligus Dosen pembimbing yang disampaikan Asif Trisnani, MA dan M. Adib Fuadi Nuriz, MA. M.Phil.

gontor-2

Kegiatan pertemuan dalam rangka studi pengayaan lapangan ini sekaligus disampaikan pemaparan materi oleh Farid. F. Saenong Ph.D terkait Integrasi Keilmuan khususnya tentang Integrasi Keilmuan dalam Pendekatan Kajian Tafsir. kemudian dilanjutkan dengan dialog tanya jawab dan sampai akhirnya kegiatan di tutup dengan sama-sama memberikan cinderamata.

gontor-3gontor-4

Wakil PSQ di Workshop Leiden-Belanda

pak-faried-1

 

 

 

 

 

Faried F. Saenong, salah satu Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an (PSQ), di awal tahun ini berangkat ke Belanda untuk sebuah workshop bertajuk “Female Islamic Authority in Comparative Perspective: Exemplars, Institutions, Practices” yang diadakan 8-9 Januari 2015 di KITLV Leiden.

pak-farid-2

Dalam workshop yang dipandu oleh David Kloos (Indonesanis muda di KITLV) dan Mirjam Künkler (Princeton University), Faried menyampaikan paper berjudul “Exercising Religious Authority: Female Islamic Authority in Majelis Taklim Circles in Jakarta”. Workshop yang diadakan oleh KITLV, LUCIs dan IIAS tersebut, menghadirkan nara sumber (peneliti dan pakar) dari berbagai universitas di dunia untuk menyampaikan hasil riset mereka seputar otoritas keulamaan perempuan di berbagai negara, khususnya Iran, Tajikistan, Thailand, Singapura, Indonesia dan India. Workshop ini memang ingin mendalami dan mengikuti berbagai perubahan dalam model otoritas keulamaan perempuan di berbagai negara. Dalam papernya, Faried menyampaikan pengalaman Indonesia dalam mereproduksi ulama perempuan. Secara khusus, paper ini mengangkat kasus Ustadzah yang memiliki otoritas keulamaan di lingkungan Majelis Taklim di Jakarta. Paper yang mendapat sambutan baik dalam workshop ini merekomendasikan sebuah pemikiran tentang fragmentasi otoritas keulamaan di dunia Muslim khususnya di Indonesia.

 

Pelatihan Multimedia Hadis bersama Dr. Ahmad Lutfi Fathullah untuk Peserta PKM

pkm-digitalBogor-(13-15 Januari 2015), para peserta Pendidikan Kader Mufassir Angk.X mengikuti pelatihan pembuatan aplikasi al-Qur’an dan Hadis digital, bertempat di Pesantren Keluarga PKH (Pusat Kajian Hadis) pimpinan Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA.

Pada kesempatan ini peserta mendapatkan materi baik Dr. Lutfi sendiri maupun Tim Pusat Kajian Hadis. Di antara materi yang disampaikan adalah cara mengolah data yang berupa ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis dengan mengacu pada pola klasifikasinya masing-masing untuk kemudian dijadikan Bank Data dalam membuat aplikasi al-Qur’an dan Hadis, Materi selanjutnya adalah praktek pembuatan aplikasi dengan menggunakan dasar power point dan dengan memaksimalkan tols yang ada di dalamnya, para pemateri juga memberikan pelajaran mengenai tips-tips membuat tampilan aplikasi menjadi menarik dan nyaman bagi pembaca. Di antaranya terkait perpaduan warna, pemilihan font dan gambar dekorasi aplikasi.

HADIS-MULTI-1 HADIS-MULTI-2
Pada tahap akhir, para peserta PKM diajarkan cara mengdan mengupload dan menginput data-data yang telah dibuat dan diselesaikan dalam bentuk powerpoint tadi ke dalam server Pusat Kajian Hadis (PKH). Demikianlah sekilas tentang kegiatan pelatihan yang diikuti para peserta PKM ke-X.

Sambutan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam Pemancangan Tiang Pembangunan PSQ Pondok Cabe

Ibu-airiin

Bismillahirrahmanirrahim 
Alhamdulillah pada sore hari ini, betapa bangganya kami atas kehadiran Ibu Airin hadir dalam rangka, insyaallah, pemancangan awal dari pembangunan masjid. Yang kita pancang ini bukan hanya tiang untuk masjid, tapi juga sekaligus tiang langit. Sepanjang masih ada kalimat syahadat maka langit tidak akan roboh dan apa yang kita pancangkan disini bukan sekedar tiang masjid tapi adalah tiang langit.
Kita sangat bersyukur, Ibu Airin selaku wakil dari pemerintah di kawasan ini memberikan dukungan, Pak Quraish, Allah akan menjadi saksi bahwa keluhuran Ibu Airin merespon permintaan kita, walaupun kadang-kadang hanya lewat sms dan telepon tidak melalui surat resmi seperti halnya yang lain, tapi justru karena Ibu Airin membaca dengan hati nurani dan kami juga bekerja dengan hati nurani sehingga dua hati saling berjumpa dan inilah yang bisa kami lakukan.
Ibu Airin dibelakang kita disini ini ada anak-anak binaan dari seluruh indonesia dan ini kita istilahnya ToT, mereka-mereka ini nantinya akan menjadi guru-guru al-Qur’an yang profesional di seluruh tanah air, dan selesai nanti kita rekrut lagi yang baru, dan kedepan, insyaallah ini akan kita lakukan memperbanyak orang yang akan kita didik tapi kemampuan kami sangat terbatas.
Dengan hadirnya Pusat Studi Al-Qur’an ini maka tentu insyaallah akan kita lakukan sesuatu yang lebih besar lagi daripada apa yang selama ini telah kita lakukan di 2014.
Ibu Airin yang sama-sama kita hormati, nanti sambil jalan sesudah melakukan peresmian, nanti akan ada tayangan seperti apa nanti, bentuk bangunan yang akan kita bentuk. Insyaallah softwarenya dan hardwarenya sudah kita siapkan, yang kita mohon dari Ibu Airin adalah selain doa tentunya adalah kami memohon menjadi masyarakat binaan Ibu Airin selaku kepala daerah.
Dari segi umur Ibu Airin adinda kita tapi dari segi pemimpin wilayah adalah orang tua kita. Percayalah doa para hafidz Qur’an disini untuk Ibu Airin diberi keselamatan dan sebagainya dan keberkahan selalu menyertainya dan kebaikan selalu kita adreskan kepada Ibu Airin.
Dan yang terakhir dari kami adalah, bukan kali ini saja kita mengharapkan kehadiran Ibu Airin dan rombongan, tapi dalam keadaan apapun insyaallah bahkan tidak menjadi pejabat sekalipun juga kami akan tetap menjadikan Ibu Airin sebagai warga kehormatan dari Pusat Studi Al-Qur’an. Apa yang akan kita lakukan ini adalah sabuah sejarah buat kita semua. Insyaallah apa yang kita lakukan sore ini akan menjadi sejarah buat kita semua.
Sore ini tanggal 10 desember 2014 ini kita akan memancangkan sejarah Pusat Studi Al-Quran. Kalau kita melihat company profilenya, obsesi kita adalah akan menjadi Pusat Studi Al-Qur’an yang obsesinya terbesar di asia tenggara, nanti akan kita merealisasikannya, dan insyallah ke depan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam seperti halnya negara-negara Islam di Timur Tengah.
Inilah yang dapat kami sampaikan demikian sekali lagi atas kehadiran Ibu Airin bersama seluruh staff yang hadir juga ada tokoh-tokoh masyarakat, saya minta maaf tidak menyebutkan namanya tadi, kami juga bangga karena didampingi tokoh-tokoh masyarakat yang ada di sekitar sini, sehingga nanti komplek disini menyatu dengan masyarakat sekitar tidak akan menjadi mercusuar yang asyik dengan dirinya sendiri, selalu nanti akan kita libatkan dan kita terlibat dengan masyarakat sekitar.
Disini juga hadir pengembang yang sejak awal memberikan itikad baiknya pada kita semua, terutama Pusat Studi Al-Qur’an. Kami juga memohon sedkit kata-kata dari Ibu Airin. Sedikit tapi besar artinya buat kami.
Demikian
Wassalamualaikum.

Kunjungan Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang

FR-1

 

 

 

 

 

Ciputat (11/12/2014)- Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) menerima kunjungan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits UIN Walisongo Semarang sebanyak 52 Mahasiswa, dalam kesempatan kunjungannya yang tiba pukul 10.30 WIB para Mahasiswa ditempatkan di ruang Digital Libray PSQ. Kegiatan dibuka Ach. Zayadi selaku Divisi Program dengan mengucapkan terimakasih kepada para Mahasiswa atas kunjungannya ke PSQ yang kemudian dilanjutkan pemaparan program PSQ.

HR-3

HR-2Kegiatan dilanjutkan kuliah umum metodologi penafsiran al-Qur’an oleh Faried F. Saenong (salah satu Dewan Pakar PSQ) dengan tema ‘Sensing new significances of the Qur’an’. Tentu menjadi hal yang diharapkan bagi para Mahasiswa dengan adanya kuliah umum yang disampaikan, terlihat dengan antusiasnya para Mahasiswa untuk menanggapi dan sekaligus bertanya kepada pembicara. Kegiatan ditutup dengan penyerahan CD yang berisi kumpulan  tulisan tema-tema terkait Al-Qur’an pada kegiatan Call For Paper – International Conference On Qur’anic Studies Centre Of Qur’anic Studies (PSQ)

 

Diskusi “Perkembangan Kajian Tafsir” peserta PKM bersama Prof. Nasaruddin Umar, MA

pkm-prof-nasar (Senin, 1/12/2014) Sekitar pukul 08. 45 WIB, bertempat di Kantor PSQ, peserta PKM ke X melakukan diskusi bersama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Dengan tema besar “Perkembangan kajian Tafsir”, diskusi ini dimulai dengan sekelumit cerita dari sosok Prof. Nasar yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai aparatur negara selama + 8 tahun terakhir ini selalu berkutat pada pekerjaan kantor dengan tumpukan kertas yang harus selalu diteliti dan ditandatangani,  pada fase itu Prof. Nasar harus benar-benar meluangkan waktu untuk tetap belajar, salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan menyempatkan diri menulis minimal 10 halaman di tiap hari dan selalu menyempatkan untuk menulis di berbagai media dan juga berceramah agar ilmu-ilmu yang didapatkannya selalu tertancap dan terasah. Demikian kurang lebih prolog pengantar diskusi ini yang pada intinya Prof. Nasar memberikan motivasi akan pentingnya sebuah waktu, karena semenit pun waktu terlewat, ia takkan bisa kembali.

Dimulai dengan seruan berdoa bersama kepada Allah kiranya dibukakan pemahaman dalam proses belajar ini, baru setelah itu dimulai lah diskusi pada hari ini. Pada kali pertama tatap muka ini, Prof. Nasar mengingatkan kembali pada peserta PKM ke X dan umumnya pada para “murid” yang sedang menimba ilmu, agar hendaknya mengingat kembali pentingnya “penyucian jiwa/batin” dalam proses tranfer ilmu. Menurutnya, pembersihan jiwa “tazkiah” harus dilakukan terlebih dahulu dibanding proses tranfer ilmu itu sendiri (ta‘lim), ini berdasarkan QS. al-Baqarah [2]: 151, di mana pada ayat ini kalimat “yuzakkikum” didahulukan dari kalimat “wa yu‘allimukum”. Inilah sebab mengapa dalam kitab-kitab klasik selalu yang didahulukan adalah pembahasan “taharah” yang jika dikaji maknanya mencakup pembersihan hati dan pembersihan lahiriyah, tidak seperti kata “nazhafah” yang artinya hanya mencakup pembersihan lahiriyah saja.  Proses tazkiah berarti seorang guru “mursyid” tidak hanya cukup menyiapkan materi-materi yang akan disampaikannya, melainkan juga berdoa kepada Allah agar ia dibimbing dalam mentransfer ilmu Allah tersebut, begitu juga jangan sampai guru dan murid itu melakukan kemaksiatan sebelum, sesaat atau sesudah proses transfer ilmu, karena dengan itulah Allah akan menurunkan ilmu-Nya kepada para hamba-Nya, bukankah jika ada pesawat yang akan mendarat harus sudah memiliki landasan?, pembersihan hati adalah upaya menyiapkan landasan tempat turunnya ilmu Allah. Demikian kurang lebih penjelasan Prof. Nasar terkait pentingnya menjaga hati untuk selalu suci, dekat, dan terkait erat dengan Allah al-‘Alim.

Banyak hal yang dikaji, dikembangakan, dan dikritisi pada diskusi kali ini, sebagiannya adalah terkait cakupan makna al-Kitab,  bahwa sebenarnya al-Kitab yang notabene sebagai ayat Allah, bukan hanya terbatas pada al-Qur’an, melainkan juga alam raya dan manusia itu sendiri. Selanjutnya adalah perbedaan antara Kalamullah dan Kitabullah, antara lain: Kitabullah adalah bagian dari Kalamullah yang tertulis dalam kitab yang secara fisik bisa diperbaharui (misal ada naskh mansukh), sedangkan Kalamullah adalah lebih umum, tidak terbatas pada apa yang ada di kitab, dan juga melekat di dalam diri Allah (sifat-Nya). Perbedaan makna al-Qur’an dan al-Furqan, bahwa al-Qur’an lebih menekankan makna pengumpulan kebenaran-kebenaran yang secara umum, baik yang merupakan syari’at Allah maupun kisah atau pelajaran umat-umat terdahulu yang secara substansi mempunyai kemanfaatan untuk dijadikan pelajaran, sehingga tidak heran banyak ajaran-ajaran umat terdahulu yang tetap diambil tetapi dengan disertai perubahan dan modifikasi tatacaranya agar sesuai dengan syari’at Allah, misal haji, puasa, dan sebagainya, sedangkan al-Furqan lebih sebagai sifat al-Qur’an yang menekankan pada pemisahan, pembedaan secara tegas antara yang haq dan batil. Inilah beberapa kesimpulan terkait diskusi yang berlangsung sampai pukul 11.10 ini, dan ditutup dengan doa bersama dengan harapan apa yang dipelajari di kali ini mendapatkan berkah dari Allah.

Kegiatan Tadrib ‘Amali Peserta Pendidikan Kader Mufassir

tadrib-1

(Selasa,4/11/2014) – Bertempat di Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an, peserta PKM angkatan X melakukan kegiatan Tadrib ‘Amali bersama para santri Pasca Tahfizh Pesantren Bayt al-Qur’an angkatan X. Peserta PKM yang hadir adalah kelompok pertama yang terdiri dari lima anggota. Tiga anggota sebagai pemateri tafsir, dan dua lainnya sebagai penilai. Kegiatan diskusi dimulai pada pukul 10.00 WIB, dimulai dengan pengantar sebagai perkenalan, lalu disusul dengan pemaparan materi tafsir dari tiga anggota kelompok PKM, masing-masing memaparkan salah satu tema dalam tiap surat, yakni QS. Al-Isra’, QS. Maryam dan QS. Al-Anbiya.

tadrib-2Tema yang dipaparkan dari QS. Al-Isra’ adalah mengenai al-Qur’an dan segala hal yang berkaitan dengannya, antara lain penjelasan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk yang menghantarkan manusia pada jalan yang terbaik “aqwam”, tantangan pada orang-orang yang mendustakan al-Qur’an dan juga metode al-Qur’an dalam menyampaikan dakwahnya. Tema yang disampaikan dari QS.Maryam seputar kisah Nabi Zakariya yang dianugerahi anak oleh Allah di saat usianya telah tua dan istrinya yang mandul, dijelaskan juga seputar kisah Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa seorang suami, kedua kisah ini sebagai bukti kekuasaan Allah. Adapun tema yang dipaparkan dari QS. Al-Anbiya adalah menyangkut keadaan Hari Kiamat, di mana akan adanya perhitungan amal manusia, dan melalui salah satu ayat QS. Al-Anbiya ini Allah menegaskan bahwa perhitungan/timbangan saat itu adalah timbangan yang adil “qisth” sehingga tidak akan ada satupun yang terzhalimi oleh pengadilan pada saat itu.

Inilah beberapa inti pembahasan yang disampaikan oleh tiap pemateri yang masing-masingnya disampaikan dalam durasi 15 menit. Selain pemaparan tema tersebut, setiap pemateri memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan surat yang sedang dibahasnya, baik mengenai munasabah ayat dan surat, kategori Makiyyah atau Madaniyah, termasuk juga tema-tema pokok dan dan tujuan surat-surat tersebut.

tadrib-3Terjalin suasana yang hangat dalam diskusi ini, terbukti dengan antusias para santri dalam menyimak penjelasan, memberikan komentar, pertanyaan dan juga beberapa informasi lain sebagai kekayaan wacana dan informasi seputar surat-surat yang dikaji. Selain mendiskusikan persoalan penafsiran surat-surat yang dibahas, didiskusikan pula beberapa hal terkait ilmu-ilmu al-Qur’an seperti Komsep Makkiyah dan Madaniyah, Tartib Nuzuli dan Tartib Mushafi dan I’jaz Kebahasaan dan keindahan al-Qur’an. Demikianlah suasana diskusi yang berlangsung selama dua jam itu. (Lip. Agus Imam)

Perkuliahan Manahij Tafsir

 

KI-1

Rabu, 15 Oktober 2014 Pukul 10.00 WIB-  bertempat di Kantor PSQ, peserta PKM angkatan X mengikuti perkuliahan Manahij Tafsir yang dibawakan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. Beberapa penjelasan yang disampaikan adalah mengenai rumpun keilmuan kajian al-Qur’an. Menurut pemaparan Dr. Muchlis, rumpun kajian al-Qur’an terbagi menjadi empat, yakni, 1) Ulum al-Qur’an yang mencakup pembahasan kesejarahan al-Qur’an (antara lain kodifikasi dan perihal mushaf), pembahasan terkait kaidah yang berhubungan dengan al-Qur’an sebagai teks kebahasaan (antara lain hakikat dan majazi) dan al-Qur’an sebagai teks keagamaan (antara lain maqashid al-Qur’an).  2) Ulum al-Tafsir yang mencakup pembahasan metode dan pendekatan tafsir maupun studi naskah kitab tafsir, 3) Ushul al-Tafsir/Qawaid al-tafsir meliputi pembahasan kaidah-kaidah dalam menafsirkan al-Qur’an, dan 4) Manhaj Naqd al-Tafsir yakni ilmu untuk mengkritisi dan menyeleksi kitab-kitab tafsir yang ada sampai sekarang, termasuk kategori ini adalah pembahasan al-Dakhil fi al-Tafsir.

KI-2Selain itu, Dr. Muchlis juga menjelaskan unsur – unsur yang diperlukan dalam mencetak kader mufasir, menurutnya ada tiga unsur yang diperlukan, pertama, al-Takwin al-Khuluqi, maksudnya membekali akhlak mulia pada para kader, kedua, al-Ta’hil al-Ilmi maksudnya membekali para kader ilmu yang dibutuhkan dalam rangka menafsirkan al-Qur’an (keempat rumpun keilmuan kajian al-Qur’an), dan ketiga, Takwin Malakah al-tafsir/al-Tadrib Amali yakni mendidik kader agar memiliki ketrampilan menafsirkan al-Qur’an yang mencakup ketrampilan menafsirkan dalam bentuk tulisan, lisan, maupun menjawab pertanyaan seputar tafsir.

Lebih lanjut Dr. Muchlis menjelaskan seputar misi adanya program PKM secara khusus dan visi misi lahirnya Pusat Studi al-Qur’an secara umum, yang salah salah satunya tersimpul pada Upaya Membumikan al-Qur’an. Menurut Dr. Muchlis, untuk mencapai misi tersebut perlu dirumuskan metode/cara yang tentunya sesuai dengan metode/manhaj Qur’ani dalam hal ini mengacu pada QS. Al-Jumu’ah [62]: 2. Dia menyebutnya dengan Trilogi Interaksi. Yakni: 1) Tilawah (membaca), Hifzh (menghafal) dan istima’ (mendengarkan), 2) al-Fahm (memahami) dan al-Tafsir (menafsirkan), dan 3) Itiba’ (mengikuti), Amal (mengamalkan) dan Da’wah (mengajak), Point ketiga inilah dalam rangka tazkiyah (mensucikan jiwa), dan poin kedua termanifestasi dalam program PKM.  Demikianlah beberapa pokok bahasan yang disampaikan pada perkuliahan yang berlangsung selama hampir dua jam ini.

 

 

Kuliah Pendidikan Kader Mufassir bersama Prof. Quraish Shihab

mqs-1

(Ciputat 18/9/2014) Diskusi Peserta PKM Angkatan X (sepuluh) bersama Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Pukul 10.00 WIB bertempat di kantor PSQ, acara diawali pengantar oleh Muhammad Arifin, MA memperkenalkan seputar profil para peserta PKM kepada Prof. Quraish Shihab. Selanjutnya diskusi dimulai dan dipimpin oleh moderator sekaligus ketua angkatan PKM X Agus  Imam Kharomen. Diskusi ini dikemas dalam bentuk tanya jawab, tiap peserta diberikan kesempatan mengajukan beberapa pertanyaan untuk selanjutnya dijawab oleh Prof. Quraish Shihab sebagai narasumber, dan pertanyaan yang diajukan adalah seputar materi pembahasan Tesis/Disertasi peserta PKM.

mqs-3Pertanyaan yang diajukan sangat beragam seperti maqashid al-Qur’an, prisip multikultural dalam al-Qur’an, tafsir bil ma’tsur di Indonesia, kemu’jizatan bahasa al-Qur’an, penafsiran kelompok Ibadiyah di Oman, amsal al-Qur’an, fenomena ta’wil dalam ayat antropomorfisme, eksisitensi tafsir sufi, implikasi penafsiran secara lughawi, dan penafsiran ayat-ayat beredaksi mirip. Inilah tema pokok pertanyaan yang diajukan dan didiskusikan oleh para peserta PKM bersama Prof. Quraish Shihab.

Meskipun format diskusi ini adalah tanya jawab, tidak mengurangi antusias dan keseriusan para peserta PKM, terbukti adanya feed back (timbal balik) di antara peserta mengenai jawaban yang telah dikemukakan, yang disusul komentar sebagai solusi dari narasumber diskusi Prof. M. Quraish Shihab sehingga terciptanya suasana keilmuan yang hangat di ruang diskusi ini. Disela-sela memberikan jawabannya, Prof. Quraish juga sering melontarkan pertanyaan untuk membangkitkan perhatian para peserta tentang hal-hal yang sedang didiskusikan. Banyak informasi yang didapatkan melalui diskusi ini, baik yang berkaitan dengan penelitian mereka, ataupun seputar ilmu-ilmu tafsir dan al-Qur’an secara umum.

mqs-2Beberapa informasi penting yang dimaksud adalah dalam menilai madzhab/aliran seseorang (mufasir misalnya) harus dilihat apakah ia telah menganut semua dasar-dasar suatu madzhab tersebut (ushul al-madzhab). Sebagai ilmuan haruslah dapat mencari informasi/pendapat yang paling baik walaupun itu di luar madzhabnya. Betapa pun para sahabat adalah seseorang yang kita hormati, kita juga tetap harus menyeleksi penafsiran mereka, karena bisa jadi terdapat kesalahpahaman didalamnya disebabkan perbedaan tingkat keilmuan (kita tidak mengatakan mereka berbohong). Betapapun penafsiran al-Qur’an adalah hal yang subyektif, tetap ada kaidah/rambu-rambu yang harus dipatuhi, dan tidak hanya mendasarkan penafsirannya pada prasangka semata, melainkan pada “dugaan keras” yang tetap mengacu pada teks al-Qur’an dan kaidah-kaidah yang ada. Pentingnya bersikap moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat, tanpa harus memaksakan kehendak. Hal penting dalam menilai syari’at Allah adalah adanya mashlahah (manfaat, kebaikan) di dalamnya, bahkan ada ungkapan bahwa dimana ada mashlahah, maka di situlah syari’at Allah. Tapi perlu diingat, mashlahah itu harus benar-benar mashlahah, bukan sekedar prasangka hawa nafsu semata. Akhirnya pukul 11.45 diskusi ditutup oleh moderator dengan harapan ilmu yang didapatkan pada diskusi singkat ini memberikan manfaat dan kelak dapat berjumpa lagi pada diskusi-diskusi di waktu mendatang Amin.