Kunjungan MTS-MA Al-Qur’an La Raiba Hanifida

Pada hari Kamis, 2 Juni 2016, PSQ mendapat kunjungan tamu jauh. Sekira 54 siswa dan siswi MTS-MA Al-Qur’an La Raiba datang dan berkunjung ke pesantren Bayt al-Qur’an Pondok Cabe Tangerang Selatan.

Bagi siswa-siswinya, ini adalah kali pertama mereka menapak kakinya di pesantren tahfiz Qur’an. Namun bagi pendirinya, Hanifudin Mahadun, M.Ag ini kali kedua bisa bertemu langsung dengan Direktur PSQ, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Seperti kunjungan perdananya yang menjelaskan metode Hanifida, yakni teknik membaca dan menghafal cepat, dalam kunjungan kali ini siswa-siswinya ditantang untuk diuji kemampuan menghafalkan al-Qur’an. Para santri Bayt al-Qur’an memancing dengan meminta para siswa untuk melanjutkan melantunkan surat maupun ayat yang disebut sebelumnya.

Dalam presentasinya yang diadakan di ruang kelas pesantren, pengasuh dan sekaligus penemu metode ini juga menjelaskan perkembangan metode kepada pengurus PSQ. Jika dalam pertemuan sebelumnya metode ini mendapatkan dukungan, lebih jauh mereka ingin memperkenalkan praktek menghafal kata dan angka. Angka dipilih karena relatif lebih sulit untuk dihafal. Jika pada akhirnya angka-angka ini bisa dihafal dengan baik, maka pada prakteknya menghafalkan asmaul-husna, atau bentukan kata dan kalimat juga akan semakin mudah.

Dalam sambutannya, Prof.Dr. M. Quraish Shihab, MA menyambut gembira perkembangan metode ini. Saat diminta untuk memberikan wejangan bagi para siswanya, beliau ingin agar mereka tak sekedar hafal, namun juga bisa mengembangakannya lebih jauh. Hingga saat ini metode ini sudah mendapatkan penghargaan Dari DEPAG RI dan Kerajaan Arab Saudi. Setelah hafal, maka ada tingkatan MEMAHAMI baik teks secara kontekstual agar mereka bisa berinteraksi dengan al-Qur’an. Dengan begitu mereka bisa memberikan pemahaman baik bagi dirinya,maupun bagi yang bertanya akan ilmu al-Qur’an.

Tingkatan selanjutnya adalah, adalah mempraktekan kandungan dan nilai-nilai al-Qur’an. Karena inilah yang sesungguhnya lebih dicintai dan bermanfaat luas.

Salah satu siswa dalam akhir kunjungannya memberikan kenang-kenangan berupa frame yang berisi perjalanan Prof. Dr. M. Quraish Shihab,MA selama hidupnya.

IMG_7286-

IMG_7287-

Terima kasih untuk Khoirotul Idawati Mahmud, M. Pd.I yang turut hadir dalam kunjungannya kali ini.

Kunjungan Grand Syeikh Al-Azhar

Grand Syech Al-AzharDalam rangkaian kunjungan bersejarahnya ke Indonesia yang berlangsung 22– 26 Februari 2016, Grand Syeikh Al-Azhar Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al-Thayyeb yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional (World Association of Al-Azhar Graduates), berkesempatan berkunjung dan meninjau Pusat Studi Al-Quran (PSQ) yang dipimpin oleh Prof. Dr. M Quraish Shihab yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Al-Azhar di Indonesia.

Pada kesempatan kunjungan Selasa siang, 23 Februari 2016, Grand Syeikh didampingi oleh sejumlah anggota Majelis Hukama Al-Muslimin yang dipimpinnya, mantan Menteri Wakaf Mesir Prof. Dr. Mahmoud Hamdy Zakzouk, sejumlah pejabat tinggi Al-Azhar, Duta Besar dan anggota Korps Diplomatik Kedutaan Besar Mesir di Jakarta.

Al-Azhar merupakan salah satu lembaga keislaman tertua di dunia yang dikenal dengan pendekatan studinya yang moderat dan mengakar kuat kepada tradisi keilmuan Islam klasik. Sementara Syeikh Ahmed Al-Thayyeb dikenal sebagai sosok ulama moderat, selalu menyerukan persaudaraan, dan tegas mengkritik Zionis. Di bidang akidah, Syekh Al-Thayyeb dikenal sebagai tokoh ulama yang selalu menganjurkan mazhab Asy’ari yang menurutnya paling pas dalam memadukan antara wahyu dan akal. Mazhab Asy’ari juga paling hati-hati dalam mengafirkan seseorang.

Grand Syech Al-Azhar

Dalam kunjungannya di PSQ, Grand Syeikh mendengarkan penjelasan Dr. Quraish Shihab mengenai program dan kegiatan PSQ yang membina kader-kader umat di bidang tafsir dan kajian Al-Qur’an. Saat ini, PSQ memiliki program Pendidikan Kader Mufasir (PKM), sebuah program yang dikhususkan bagi mahasiswa pascasarjana atau peneliti yang sedang menyelesaikan tesis atau disertasi dalam studi Al-Qur’an. PSQ juga memiliki program Pesantren Pasca Tahfiz Bayt Al-Qur’an, sebuah pesantren khusus bagi mereka yang hafal Al-Qur’an. Para santri di Bayt Al-Qur’an dibekali dengan sejumlah perangkat ilmu pendukung sebagai bekal mereka melakukan kajian Al-Qur’an secara lebih mendalam.

Selain itu, PSQ juga menyelenggarakan pelatihan bagi para dai dan penyuluh agama, guru agama maupun dosen pengajar tafsir di seluruh Indonesia, dengan menekankan pada materi-materi pola interaksi dengan Al-Qur’an dan Sunnah, wawasan Islam yang moderat dan toleran, Islam yang menjadi rahmat bagi semua kelompok dan golongan, kaidah-kaidah tafsir, dan dan materi-materi lain sesuai dengan kapasitas pesertanya.

Grand Syech Al-Azhar

PSQ sendiri merupakan sebuah lembaga studi non-pemerintah yang memfokuskan diri pada penelitian dan studi Al-Qur’an, pembinaan kader-kader umat dengan berpegang pada prinsip Islam moderat. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memiliki ajaran-ajaran luhur yang dapat dijadikan solusi bagi berbagai persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia yang majemuk.

Halaqah Tafsir Memperingati Maulud Nabi

maulid-psq-tKegiatan halaqah tafsir yang rutin dilangsungkan setiap Rabu di pondok pesantren Bayt al-Qur-an pada hari Rabu ini (6/1/2015) terbilang istimewa. Sebab dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Jamaah pengajian halaqah tafsir

Untuk peringatan maulid kali ini, menghadirkan narasumber Dr. M. Nurul Irfan, MA. Acara terlebih dahulu dibuka dengan khatmil Quran dan tahlil, pembacaan kalam Ilahi, serta sambutan-sambutan dari pihak penyelenggara pesantren.

Dr. M. Nurul Irfan, MA

‘Persatuan Umat tak Harus Hapus Identitas Kelompok’ Sambutan Prof Quraish Shihab pada acara Multaqa Serantau Alumni Al-Azhar di Kuala Lumpur, Malaysia.

multaqa-1REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR — Pakar tafsir dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, Prof Dr HM Quraish Shihab mengungkapkan persatuan umat tidak berarti melebur atau menghapus identitas kelompok-kelompok yang berbeda, lalu memaksa mereka menganut satu pendapat saja, sebab perbedaan, menurutnya, adalah kehendak Tuhan.

Dalam kertas kerja yang berjudul Perpaduan Ummah; Pendekatan Wasathiyyah yang disampaikan pada Multaqa Serantau Alumni Al-Azhardi Kuala Lumpur, Malaysia, 16-18 Desember lalu, Quraish menerangkan benang merah yang menggabungkan makna kata ummah adalah himpunan sekian banyak hal yang memiliki persamaan.

Dalam pertemuan yang dihadiri para tokoh Al azhar dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara ini, Prof Quraish Shihab mengungkapkan arti kata ummah yang berdasarkan penelusurannya memiliki beberapa makna dalam Alquran, seperti kelompok, cara dan gaya hidup, kaum, pemimpin dan lainnya.
multaqa-2Menurut Quraish Shihab, pada kata ummah terselip makna gerak dinamis dan arah, karena tidak ada arti satu jalan kalau tidak ada arah yang dituju atau jalan yang dilalui. 

”Kata ummah dengan keluwesan maknanya memberi isyarat bahwa Alquran dapat menampung perbedaan kelompok-kelompok umat Islam, betapa pun banyak atau kecil jumlah mereka, selama perbedaan itu tidak mengakibatkan perbedaan,” ungkap Quraish.

Dengan kata lain, sambung Direktur Pusat Studi Alquran (PSQ) ini, selama mereka tidak menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama dan selama perbedaan itu tidak mengakibatkan perpecahan atau teror.

Perpaduan umat, sambung Quraish Shihab berjalan seiring pada satu jalan lebar yang lurus lagi luas, yang diistilahkan dalam Al-Qur`an dengan al-shirath al-[mustaqim.http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/12/20]

Diskusi Tafsir Tabi’in

oke Setelah beberapa hari Prof. Thib Raya tidak bisa hadir sebab sakit, kini Kamis (5/10) beliau kembali mengisi perkuliahan PKM dengan tema Tafsir al-Quran dengan pendapat tabi’in. Menurut suami Prof. Muzda Mulia ini, tafsir tabiin tidak bisa dilepaskan dari tafsir ayat al-Quran dengan ayat yang lain. dicontohkan tentang tafsir QS. al-Thalaq [65]:10. dalam ayat ini lafadz zikr ditafsiri sebagai al-Quran yang merupakan ruh Allah. Hal itu sesuai dengan makna ayat lain QS. al-Syura [42]: 52. Logikanya karena peringatan Allah itu disampaikan melalui wahyu. Wahyu itulah yang menjadi sarana untuk memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Jadi zikr itu dipahami sebagai al-Quran. Zikru dan ruh, menurutnya, dalam al-Quran disebutkan di beberapa tempat.

Selanjutnya tafsir tabi’in juga tidak lepas dari penafsiran al-Quran dengan Sunnah Nabi saw. Misalnya tafsir QS. Maryam [19]: 57. Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi dalam ayat ini ditafsirkan sebagai Nabi Idris berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Tabiin dari sahabat Anas ibn Malik dari sabda Nabi saw.

Tafsir Tabi’in juga dapat bersumber dari pendapat sahabat. Misalnya, dalam QS. al-Najm [53]: 9 lafadz fa kana qaba qausaini (Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah, terj-), ditafsiri sebagai jibril yang begitu dekat dengan Nabi saw. tafsir ini berdasarkan informasi dari Ibn Mas’ud bahwa Nabi saw pernah melihat Jibril dengan 600 sayab. dari sini bisa disimpulkan bahwa karena begitu dekatnya Nabi saw dengan Jibril maka Nabi saw sampai dapat menghitung.

Sumber tafsir tabi’in berikutnya adalah tabi’in lain. misalnya, informasi dari Ibnu Mas’ud di atas didapatkan oleh Abu Ishaq al-Syaibani, seorang tabi’in, dari Zir ibn Hubaisyi yang juga seorang tabi’in lain. Setelah tafsir dari tabi’in lain, maka mereka main di bahasa. Lalu, apakah bahasa merupakan kategori ra’yu? jawabannya, menurut Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sarif Hidayatullah ini, adalah iya. Misalnya, tafsir QS. al-Jatsiyah [45]: 29 lafadz nastansihu dalam ayat ini ditafsiri sebagai naktubu (menulis, terj-).

sumber tafsir tabi’in yang lain adalah ahl kitab. Misalnya tafsir QS. al-Maidah [5]: 23. Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jarir dari Ibn Ishaq dari sumber kalangan Ahli Kitab. kemudian pembahasan sumber tafsir tabi’in dilanjutkan dengan ijtihad tabi’in lain dan pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi pada waktu ayat turun.

Dalam perkuliahan ini, dibahas juga fungsi tafsir tabi’in. Diantaranya adalah menjelaskan kosakata, menjelaskan pengkhususan yang umum, yang ringkas, pengkaitan yang muthlaq, pembatalan (naskh) dan menjelaskan yang samar. Perkulihan dengan suasana ‘gayeng’ ini diselingi juga cerita tentang toleransi sunni-syiah, toleransi Imam syafi’i dengan Imam Hanafi, dan cerita tentang pemilihan Abu bakar sebagai Khalifah.

Perkuliahan dilanjutkan dengan pembahasan kedudukan tafsir tabi’in. berdasarkan kedudukannya, tafsir tabi’in diklasifikasikan menjadi; rafa, ijmak, kutipan dari ahli kitab dan perbedaan pendapat, Namun, kehujjahannya tidak mutlak, bila ijmak, barulah ucapan tabi’in itu menjadi hujjah. Perkuliahan diakhiri dengan cerita tentang penyadaran Prof. Thib terhadap saudara yang meyakini menyentuh istri tidak membatalkan wudhu menjadi membatalkan wudhu. “Saya ceritakan kepada Pak Quraish,  kata Pak Quraish, itu kan cara orang NU agar orang tidak berwudhu berwudhu lagi.” Kelakarnya sambil bersyukur dalam kondisi kurang sehat, beliau tetap dapat mengajar. bersambung. (Hamzah/PKMXI).

Konsultasi Tafsir bersama Prof. M. Quraish Shihab

Untitled-1

Senin, 26/11/2015 sebuah pertemuan atau diskusi terbuka bagi mahasiswa PKM (Pendidikan Kader Mufassir) yang di adakan oleh Pusat Studi al-Qur’an bersama Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Dalam diskusi terbuka ini diikuti 19 mahasiswa programa magister dan doktor dari berbagai kampus Islam baik di Jawa maupun luar Jawa negeri maupun swasta. Dalam diskusi terbuka ini di mulai pada jam 10.30-11.50. Tentu sekelas Prof Quraish Dalam jangka waktu demikian memberikan informasi dan gagasan yang yang penting seputar tafsir maupun al-Qur’an.

Diskusi ini terbuka sebab para mahasiswa dengan secara terbuka diberikan “kebebasan” untuk bertanya maupun meminta saran-saran yang terkait dengan kajian tesis masing-masing, sehingga diskusi ini tidak dibatasi topik tertentu karena setiap peserta/mahasiswa menanyakan atau meminta saran kepada beliau apa saja yang menjadi kendala dan seperti apa seharusnya sebuah kajian atau penelitian yang tepat dan menarik seputar tesis.

Dengan berbagai kajian atau judul tesis para mahasiswa, maka diskusi ini menarik karena berbagai aspek dibahas, mulai terkait mutasyabih al-Qur’an, kecerdasan menurut al-Qur’an, toleransi menurut al-Qur’an, pancasila, nasionalisme dan lain-lain yang menjadi pertanyaan para mahsiswa. Para peserta PKM menanyakan dan meminta saran kepada beliau, misalnya penelitian Muhammad Adib dalam tesisnya meniliti tentang nasionalisme dalam tafsir kontemporer dengan problem yang dihadapi apakah harus mencari kata kunci nasionalisme itu sendiri atau di dalam al-Qur’an menjelaskan tentang nasionalisme. Beliau menegaskan bahwa seorang peneliti harus meneliti terlebih dahulu tujuan dan apa yang diinginkan peneliti. Dalam hal nasionalisme memang tidak disebutkan suatu kata yang membahas demikian, akan tetapi subtansi dan semangat nasionalisme telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya coba baca buku saya di Wawasa al-Qur’an. Tandasnya kepada mahasiswa.

Pertanyaan yang lain adalah apakah kebenaran tafsir ilmi bisa menjadi sebuah kebenaran yang mapan? Karena fokus kajian yang saya tulis adalah penciptaan manusia menurut Thahthawi Jauhar. Tanya Hulaimi. Beliau menjawab bahwa apapun penelitian itu tetap baik dan benar selama didukung dengan metodologi yang baik dan benar pula. Yang terpenting adalah ilmu pengetahuan itu berkembang sehingga bisa relatif, sehingga apa yang ditafsirkan Thantawi Jauhari pada saat itu benar pada masanya.[lip.Mabrur.pkmXI]

Arah Strategis Pembangunan Masjid Bayt Al-Qur’an di Tangerang Selatan

kecil

Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) pada hari Kamis 10 September 2015 mengundang beberapa pejabat pemerintahan daerah di sekitar Tangerang Selatan dan Depok. Terkait dengan peletakan batu pertama yang menandai dimulainya pembangunan masjid yang diberi nama Bayt al-Qur’an.

Pemberian nama ini menjadi kelanjutan kegiatan PSQ selama ini yang setia menggunakan namanya, termasuk untuk masjid yang sedang dibangun di wilayah Pondok Cabe ini. Lokasi yang berada di wilayah administrasi pemerintahan Tangerang Selatan ini memiliki lokasi strategis. Posisinya berada di pertumbuhan Tangerang Selatan di sebelah timur yang berbatasan langsung dengan provinsi Jakarta Selatan dan berbatasan pula dengan kota Depok sebagai pusat pertumbuhan regional Jawa Barat di sebelah utara.

Daya tarik lokasi ini pula yang menurut Wakil Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Bpk. Drs. H. Benyamin Davnie akan menjadi anugerah bagi wilayahnya untuk menyediakan sarana infrastuktur bagi warganya, sejalan dengan motto kota Tangerang Selatan sendiri yaitu ‘Cerdas, Modern dan Religius’.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Benyamin-Davnie.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Benyamin-Davnie.jpg” alt=”Benyamin Davnie” width=”600″ height=”469″ class=”size-full wp-image-31209″ /></a> Benyamin Davnie

“Maka kehadiran masjid menjadi sebuah sentral kehidupan masyaratkat yang memegang peranan penting. Terlebih lagi wilayah Tangsel sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor perbatasan wilayah, kemudian dinamika sosial, politik, hukum maka tak heran bila kehidupan warga Tangsel begitu dinamis,” tambahnya.

Masih kuat dalam ingatannya saat pergantian tahun baru 2014 lalu. Dirinya mendapati laporan adanya keberadaan teroris di wilayah Kampung Sawah. Beliau meyakini bahwa sebagai sebuah wilayah yang memiliki potensi strategis, semua warga di wilayahnya mempunyai rencana, apakah rencana baik maupun tidak.

Akan menjadi tantangan berat bagi pemerintahannya untuk bisa mewujudukan motto kotanya dengan kepadatan penduduk yang semakin menuntut fasilitas yang memadai.

“Kepadatan penduduk di wilayah kami sudah mencapai 8000-9000 jiwa perkilometer persegi. Artinya dalam satu meter perseginya ada 8 orang berdiam. Tentu ini menuntut adanya fasilitas memadai dengan infrastruktur, bila tidak tentunya akan menimbulkan friksi dan problematik sosial antar masyakarat.”

Selain karena tingkat kepadakatan yang tinggi, juga latar belakang yang berbeda di antara warganya. Tentunya beliau berharap agar pembangunan yang dilakukan adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas, modern dan religius baik secara duniawiyah, maupun uhrowiyah.

Menilik hal ini, maka menurutnya peran masjid menjadi semakin strategis guna mengisi dan membentengi semua aspek kehidupan masyarakat di wilayahnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA selaku perwakilan dari PSQ saat memberikan sambutan dalam acara peletakan batu pertama menegaskan, upaya pembangunan Masjid Bayt al-Qur’an ini merupakan keinginan yang sejalan dengan visi dan misi PSQ selama ini.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nasaruddin-umar2.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nasaruddin-umar2.jpg” alt=”nasaruddin umar” width=”600″ height=”400″ class=”size-full wp-image-31212″ /></a> nasaruddin umar

“Apa yang akan kita lakukan pada pagi hari ini, bukan saja untuk meletakan batu pertama pembanguna Masjid Bayt al-Qur’an, tetapi sekaligus kita juga meletakan batu sejarah PSQ yang akan memancrkan cahayanya di kawasan ini.”

Menurut mantan wakil agama Republik Indonesia ini, umat saat ini membutuhkan pelayanan yang intensif, sungguh pun tanpa harus melalui pendidikan formal. Ini terbukti dengan apa yang telah PSQ rintis dan lakukan selama ini, dimana lulusan PSQ sudah bisa dinikmati hasilya dan sudah bisa mengharumkan nama baik PSQ sendiri.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nassarudin-umar.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nassarudin-umar.jpg” alt=”Nassarudin Umar” width=”600″ height=”902″ class=”size-full wp-image-31211″ /></a> Nassarudin Umar

Dalam sambutannya, beliau juga memberikan apresiasi yang sangat positif kepada Wiraland selaku pengembang yang telah bekerja bersama PSQ dan berharap kerjasama ini bisa terus kita lanjutkan. Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan dakwah Yayasan Lentera Hati; Husein Ibrahim, Ali Ibrahim, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Fikri Assegaf, Zarkasih Noer yang merupakan Menteri Negara Koperasi dan UKM pada Kabinet Persatuan Nasional.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Zarkasih-Noer.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Zarkasih-Noer.jpg” alt=”Zarkasih Noer” width=”600″ height=”400″ class=”size-full wp-image-31210″ /></a> Zarkasih Noer

 

 

 

Tafsir Isyari Dasar Pertama Perintah Membaca

pk-1Ciputat,(24/9/2015)- Salah satu mata kuliah dalam Pendidikan Kader Mufassir (PKM) yang di adakan PSQ adalah kajian tafsir Isyari dalam hal ini di bimbing langsung oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA salah satu pakar tafsir Indonesia yang di agendakan setiap Senin jam 09.00-10.30. Pada Pertemuan pertama ini Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan perintah awal Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw yaitu iqra’ (bacalah). Dalam ayat ini Tuhan memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca namun pada saat itu Jibril datang kepada Muhammad tidak membawa objek apa yang akan dibaca. Pesan dari ayat ini menegaskan bahwa, perintah membaca dalam ayat tersebut bukan menegaskan membaca hanya sebatas membaca semata.

            Penjelasan lebih detail beliau menjelaskan bahwa perintah membaca lebih dari itu adalah bagaimana kita bisa memahami dan mendalami al-Qur’an sehingga bisa dijadikan sebagai hudan (petunjuk). Nah, langkah awal untuk memahami al-Qur’an adalah dengan tazkiyatun nafs (penyucian diri) lebih awal sehingga al-Qur’an memberikan pancaran dan maknanya terhadap pembaca. Lalu beliau memberikan sebuah pertanyaan bahwa apakah hanya manusia (pembaca) yang memahami al-Qur’an atau al-Qur’an sendiri juga memahami maksud atau keinginan pembaca?. Dalam proses membaca dan memahami al-Qur’an ternyata antara pembaca dan al-Qur’an terhadap pembacanya sama-sama berinteraksi untuk saling memahami, sehingga langkah awal untuk memahami dan mengkaji al-Qur’an adalah dengan tazkiyah nafs (penyucian diri) di awal. Dengan merujuk pada al-Qur’an bahwa la yamassuhu illa al-mutahharun (janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali bagi-bagi orang yang suci).

pk-3

         Beliau kemudian memetakan makna iqra pada lima hal yaitu, how to read, how to learn, how understanding, how to meditate dan how to realize. Dari pemetaan lima kategori membaca ini juga memberi dampak tersendiri terhadap proses pembacaan terhadap al-Qur’an. Pertama, how to read itu hanya sebatas membaca teks-teks al-Qur’an sebagaimana semangat umat Islam dalam bulan suci Ramadhan yang hanya memberi implikasi pahala bagi yang membacanya. Kedua, how to learn/think.  Proses pembacaan seperti melibatkan daya kemampuan berpikir manusia dalam memahami al-Qur’an. Beliau menegaskan dalam ranah akademik bentuk pembacaan kedua ini juga banyak. Ketiga, how to undestanding, dengan melibatkan emosional dalam menghayati pesan-pesan al-Qur’an. Keempat, how to meditate, proses pembacaan dalam konteks ini melibatkan kecerdasan spritual dalam memahami pesan-pesan al-Qur’an sehingga dalam memahaminya selalu memberikan kesejukan, pesan kedamaian dan ketenangan jiwa. Dan kelima, how to realize, bagaimana dalam proses pemahaman dan penghayatan dapat direalisasikan, dalam konteks ini bagaimana al-Qur’an terungkag segala pesan-pesannya atau pembaca dapat mukasyafah  dengan al-Qur’an sendiri.

pk-2

Sebab al-Qur’an sebagai bacaan dan itu merupakan kalamullah, beliau menegaskan selama ini terkadang kita menyamakan antara kalamullah dengan kitabullah. Pada dasarnya setiap kitabullah adalah kalamullah, dan tidak semua kalamullah adalah kitabullah.. Kalamullah itu merupakan alamul al-amr sedangkan kitabullah pada wilayah alamaul khalk.

            Pada pertemuan berikutnya akan dikaji dengan pendekatan atau analisi sufistik terkait dengan pemamahan dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. [lip.Mabrur.PKMXI]

Perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir [PKM XI] Perkembangan Ilmu Hadis

pk-xi Pengembangan pemahaman dan pengetahuan tentang ilmu hadis dan berbagai disiplinnya sangat penting dalam memahami kajian ke-Islaman. Sebab hadis merupakan representasi kedua sebagai sumber hukum dalam Islam. Hal itulah yang menjadi kesadaran bagi mahasiswa S2 dan S3 Pelatihan Kader Mufassir (PKM) yang diselenggarakan dan difasilitasi oleh Pusat Studi al-Qur’an dibawah bimbingan Prof. Dr. Quraish Shihab.

            Pada pertemuan awal tepatnya senin tanggal 11-08-2015  pada materi ilmu hadis, yang diampuh oleh Dr. Sahabuddin. MA yang dimulai pada jam 14:00-17:30 dengan metode ceramah, namun diselingi dengan dialog terhadap mahasiswa. Pokok mendasar yang dibahas adalah bagamaina perkembangan ilmu hadis itu sendiri. Beliau memaparkan di awal bahwa kunci utama dalam memahami ilmu hadis didasarkan pada 10 poin. Namun pada kesempatan tersebut beliau belum memaparkan apa saja 10 poin tersebut. Namun tandasnya nanti akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Namun yang paling mendasar adalah awal mula perkembangan ilmu hadis itu sendiri dimulai sejak kapan dan dipopulerkan oleh siapa yang pertama kali yang menjadikan sebagai sebuah disiplin keilmuan. Beliau menegaskan bahwa secara konsep ulum hadis sudah terjadi pada masa Imam Malik, namun belum menjadi sebuah disiplin keilmuan. Singkat cerita, pada masa Imam Syafi’i-lah kemudian ulum hadis menjadi sebuah disiplin keilmuan sehingga beliau disebut sebagai nashiru al-sunnah (pembela sunnah). Istilah-istilah yang terkait dengan ulum hadis yang pertama kali dipopulerkan oleh Imam Syafi’i dapat dilihat dalam kitabnya al-Risalah meskipun secara konten kitab banyak mengkaji tentang ushul fiqh, namun beberapa istilah dan dibahas didalamnya sering dimunculkan semisal istilah hadis mursal, hadis ahad dan lain-lain.

Bahkan lebih lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa Imam Syafii juga lah yang membela bahwa hadis ahad dapat dijadikan sebagai hujjah baik pada persoalan akidah maupun hukum. Pada perkembangan berikutnya yang mengembangkan ulum hadis dan yang terkait dengannya adalah beberapa ulama sebagai berikut:

–          Ibn Sa’din dengan karyanya Thabaqat al-Kubra wafat pada tahun 230 H

–          Yahya Ibn Ma’im (w 233 H) dengan karyanya al-Asma wa al-Kuna

–          Imam Ali bin al-Madini (w 234 H) dengan karya al-‘Ilal

–          Imam Bukhari (w 256 H) salah satu karyanya adalah al-Kuna

–          Imam Muslim dengan karyanya al-Tamyiz sebanyak 12 jilid

–          Imam Tirmidzi (w 279 H) dengan karyanya al-‘Ilal sebanyak 4 jilid