“Pola Kepribadian” Untuk Peserta PKM dan Santri Bayt Qur’an

Selasa (25/9) Pendidikan Kader Mufassir “PKM” dan Santri Bayt Qur’an belajar bersama di pesantren Bayt Qur’an, pondok cabe Ciputat, kuliah yang dimulai pukul 10.00 wib ini belajar tentang “Pola Kepribadian” yang disampaikan oleh Nasywa Shihab, M.Psi sebagai pemateri.

Kuliah yang disampaikan melalui materi dan game ini bertujuan agar peserta dapat saling mengenal satu sama lain dan agar lebih dekat, Dimana game tersebut “memaksa” para peserta untuk mencari hoby dan karakter rekan-rekannya yang lain yang sesuai dengan karakter dan hoby yang telah tertulis didalam selembar kertas yang telah dibagi kepada semuanya. pemenangnya ditentukan dengan cara siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dari peserta lainya. dan pemenangya pun berhak memekikkan kata “BINGGO”. Walhasil, dengan cara demikian banyak dari perserta yang sebelumnya terlihat tampak tidak saling sapa berbuah menjadi saling kenal.

Kegiatan dilanjutkan kali ini peserta diminta untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan yang tertuang dalam tiga lembar kertas. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk melihat tipe keperibadian dari masing-masing peserta. Pertanyaan-pertanyaan ini merujuk kepada penelitian yang dilakukan oleh Carl Jung yang bernama MYERS BRIGGS TYPE INDICATOR (MBTI). Yang mana pertanyaan-pertantyaan tersebut akan menghasilkan 16 tipe keperibadian. Setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut selesai dijawab para peserta diminta untuk menghitung jumlah hasil yang yang telah mereka kerjakan, yang kemudian dijelaskan maksud dan tujuan agar bermanfaat bagi keperibadian masing-masing peserta.

 

Kuliah PKM Angk VIII “Kaidah-Kaidah Tafsir”

Rabu (25/09) pukul 13.00 WIB perkuliahan kajian Kaidah-kaidah tafsir bersama Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Seorang dosen yang tidak asing dalam kalangan akademik maupun kelompok pengajian. Ia banyak menghabiskan waktunya dalam rangka berbagi ilmu di berbagai perguruan tinggi baik di Indonesia maupun luar negeri.

Sebagai pembimbing peserta PKM dalam memberikan tutorial Kaidah-kaidah Tafsir, pertemuan di ruang serbaguna PSQ itu diawali dengan perkenalan dan penjelasan materi pembuka tentang kaidah-kaidah tafsir dan terakhir pembagian tugas makalah sesuai dengan materi kuliah yang telah ditetapkan. “Semua bahan telah tersedia di perpustakaan PSQ”

Diskusi Mandiri PKM “Pengawasan Dalam Pandangan Al-Qur’an”

Sesi diskusi mandiri termasuk pada jadwal perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir sebagai tugas tambahan bagi peserta PKM. Diskusi mandiri pertama dilaksanakan Senin (24/09) di ruang serbaguna PSQ pukul 13.30 wib, sebagai pemateri disampaikan oleh Mufham Al-Amin (peserta PKM kelahiran 1954 yang saat ini berkuliah di IIQ ‘Intittut Ilmu Al-Qur’an’ Jakarta) mengangkat dikusi tentang “Pengawasan Dalam Pandangan Al-Qur’an”.

Tema “pengawasan” ini diangkat karena merasa sangat penting melihat kenyataan yang terjadi dengan banyaknya kasus-kasus yang beredar seperti; korupsi, perampokan, tipu menipu yang membudaya dalam kehidupan masyarakat, dsb. Tidak asing lagi, kasus ini kerap terjadi juga terhadap orang yang dianggap paham agama. Anehnya kenapa perasaan selalu diawasi seketika itu hilang ketika melakukan hal-hal yang tidak diinginkan itu. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan diskusi dari sudut pandang yang berbeda-beda, salah satunya dibahas pengawasan dalam perspektif Al-Qur’an.

 

 

Kuliah PKM Angk VIII “Pengenalan dan Pemahaman Ilmu Balaghah”

Jum’at (14/09) pukul 09.00 WIB di ruangan serbaguna PSQ kegiatan perkuliahan membahas tentang pengenalan dan pemahaman ilmu balaghah. Sebagai dosen Prof. Dr. D. Hidayat menyampaikan materinya tentang betapa agungnya ungkapan yang ada dalam Al-Qur’an. Pada dasarnya bahasa Indonesia memiliki aneka peribahasa, ungkapan dan gaya bahasa yang populer pada suatu masa tertentu, kemudian lambat laun akan menghilang dari peredaran sampai masa berikutnya. Menurutnya, hal ini berbeda dengan Al-Qur’an yang tetap lekang dan abadi, baik ungkapan maupun aturan didalamnya. Al-Qur’an itu semakin didalami semakin banyak ditemui nilai-nilai kebahasaan dan makna. Selain itu, Al-Qur’an juga memiliki kemukjizatan yang terlihat dari ungkapan dan gaya bahasa yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai tersebut bisa dilihat ketika memahami ke-balaghah-an Al-Quran. “Balaghah adalah menyampaikan makna yang luhur secara jelas dengan menggunakan ungkapan bahasa yang benar serta fasih. Ungkapan tersebut memiliki pengaruh yang menarik dalam jiwa, akibat kesesuaian setiap ujaran dengan situasi tempat dan waktu disampaikannya ujaran dan sesuai pula dengan kondisi mukhatab”

Ia juga menerangkan betapa pentingnya mempelajari ilmu balaghah agar bisa menganalisa kemegahan ayat-ayat Al-Qur’an. peserta PKM dianjurkan merujuk buku karangannya sendiri yang berjudul Al-Balâghah lil Jamî` wa Asy-Syawâhid min kalâm Al-Badî`, yang akan menjadi bahasan diskusi pada pertemuan selanjutnya. Buku ini menggunakan pendekatan Qur’ani yang sedapat mungkin menghindari definisi dan klasifikasi yang terperinci, sehingga dapat dipelajari secara praktis oleh peserta didik pemula sekalipun, dan menjadi pembuka awal ke arah tercapainya penghayatan balaghah (at-tazawwuq al-balâghi) serta apresiasi “balaghah Qur’ani” yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan perilaku warga masyarakat yang lebih arif, toleran, egatiler dan berkeadilan dalam kemunikasi sehari-hari.

 

 

PENGAJIAN RUTIN TAFSIR TAHLILI

Sesi bersalaman setelah pengajian yang di asuh oleh Prof. Quraish Shihab membahas Tafsir Al-Qur’an secara tahlili atau berurutan dari ayat per-ayat, Pengajian  diadakan rutin setiap bulan Rabu pertama ba’da sholat isya’ bertempat di masjid Al-Barkah Jl. Jeruk Purut 2-A RT 006/03, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

 

JALAN-JALAN DI KOTA SEJUTA BUKU

Ditulis oleh: Muhammad Nashrullah

Bagi pecinta literatur, Kairo adalah sorga.Terutama literatur klasik.Di sini, kita akan dimanjakan dengan jutaan judul kitab dengan harga terjangkau. Maka, tak perlu heran jika perpustakaan-perpustakaan di Mesir sepi pengunjung.Bukan karena pengunjungnya malas, tapi lebih karena kitab-kitab yang ada di perpustakaan-perpustakaan itu memang telah ada di rak bukunya.Jika pembaca adalah penghobi melancong ke tempat-tempat bersejarah sekaligus pecinta buku, Kairo merupakan salah satu tempat yang disarankan.

Sejak pertama kali tiba di asrama, mata saya selalu digoda oleh tumpukan kitab-kitab yang ada di kamar para senior.Kitab-kitab ulama dari zaman klasik hingga kontemporer berbaris rapi di rak-rak, sebagian menumpuk di meja, tanda usai dibaca.Beberapa kitab itu selama ini hanya saya ketahui namanya, sebagian besar malah saya tak tahu kalau kitab itu ada.Maklum, saya baru sedikit melek kitab saat nyantri di Bayt Al-Quran.

Mata saya kemudian terbuka lebar saat tiba di Kairo ini.Tuhfah al-Ahwadzi fi Syarh Sunan At-Turmudzi, Adab al-Katib, Hady al-Arwah, Al-Kamil fi Al-Lughoh wa Al-Adab, Audhah al-Masalik Ila Alfiyah Ibnu Malik, al-Muthawwal, dan Maqamat Al-Hariri adalah beberapa contoh kitab asing yang sama sekali tak saya ketahui sebelumnya, bahkan sekadar namanya.Dan betapa sumringah-nya saya waktu melihat kitab-kitab itu ‘berceceran’ di depan mata. Jika mau menyebutkan, ada ribuan kitab lain yang baru saya temui keberadaannya di sini.

* * *

Ada banyak model maktabah di Kairo.Sebatas yang saya tahu,secara umum, setidaknya ada tiga model maktabah.Pertama, maktabah yang fokus pada penerbitan karya-karya ulama klasik, atau biasa disebut denganturats.Maktabah yang demikian berjasa banyak dalam menjembatani antara tumpukan naskah kuno dengan para konsumen.Tapi, maktabah semacam ini tak banyak.Jumlahnya bisa dihitung dengan jari.Di antara yang sedikit itu adalah maktabah Al-Khanji.Maktabah ini terletak di sebuah gang di kawasan Opera, jauh dari jangkauan para pelajar di Al-Azhar.

Seandainya tanpa pemandu, sepertinya saya tak mungkin bisa sampai di maktabah ini. Selain berada di gang jauh, maktabah ini jika dilihat dari depan tak seperti maktabah pada umumnya. Lebih tampak seperti rumah kosong,bahkan sekadar nama maktabah pun tak tercantum,tanpa cat, hanya warna hitam tanda penuaan yang tampak di bagian muka bangunan.

Sebagaimana penuturan salah seorang sumber, Al-Khanji adalah salah satu maktabah tertua di Mesir.Pada abad akhir abad 19, terjadi gerakan penerbitan naskah-naskah kuno besar-besaran.Gerakan yang dipelopori salah satunya oleh Muhammad Abduh itu bertujuan menemukan kembali harta umat Islam yang terpendam.Nah, Al-Khanji adalah salah satu maktabah yang berjasa besar dalam mendukung gerakan itu.Bersama dengan beberapa maktabah yang hanya segelintir waktu itu, mereka bahu membahu menyelamatkan harta zaman kejayaan umat Islam yang nyaris punah.

Jika kita masuk, di sana akan menjumpai Kitab Sibawaih[1], Dalail al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah[2], Khizanah al-Adab, dan beberapa karya ulama tempo doeloe.Tapi, kitab-kitab dicetak di Al-Khanji dikemas bagus, lebih gagah daripada terbitan Musthafa el-Baby el-Halaby, seperti yang saya urai nanti.

Seiring berjalannya waktu, Al-Khanji kini bukan hanya menerbitkan kitab-kitab turats.Mereka saat ini juga menerbitkan karya-karya penulis kontemporer, meski tidak se-gesit dan se-produktif saudara-saudaranya yang masih berusia muda.

Nama Mustafa el-Baby el-Halaby tak bisa dilupakan dari barisan maktabah penyelamat turats.Terletak di sudut pasar, menyendiri, dan bergaya klasik. Jika maktabah-maktabah lain bersaing atau bekerjasama dengan maktabah di sisi kanan-kirinya, maka maktabah ini tak punya tetangga selain tukang sayur dan toko kosmetik.

Jika kita masuk, akan merasa terbawa ke masa lalu. Desainnya yang sama sekali nggak nyeni, kitab-kitab dengan bahan kertas kelas duaplus kebanyakan sampulnya yang hanya bermodal karton, dan debu yang menempel di kitab-kitab itu akan membuat sumpek siapapun yang memandang. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan maktabah ini.Tapi, siapa sangka justru maktabah inilah yang menjadi tujuan para penulis kontemporer.Keistimewaan maktabah ini adalah jaminan keaslian dan keotentikan teks.Hal inilah yang menjadikan kitab-kitab terbitan maktabah Musthafa el-Baby el-Halaby banyak diburu.

Perlu pembaca ketahui, tak semua kitab-kitab yang beredar di pasaran itu bebas dari salah cetak.Banyak kitab yang mengalami ‘penyelewengan-penyelewengan’.Banyak faktor yang menyebabkan penyimpangan itu terjadi.Diantara faktor-faktor itu adalah fanatisme madzhab, kemampuan penyunting yang belum memadai, atau bisa juga kurangnya tingkat ketelitian dalam penulisan.Nah, Musthafa el-Baby el-Halaby adalah salah satu penerbit yang masih diakui keotentikan dan keakuratan teksnya. Insya Allah permasalahan editing dan penyuntingan ini akan saya bahas dalam edisi yang akan datang.

Di maktabah ini pula kita akan menemukan karya-karya ulama Nusantara. Ada Hasyiyah Al-Nafahat[3]karya syeikh Khatib al-Minangkabawi, beberapa karya syeikh Nawawi Al-Bantany dalam ilmu kalam dan fikih, serta sejumlah kitab berbahasa melayu dengan tulisan arab pegon.

“Saya mempunyai data kitab-kitab Nusantara yang pernah dicetak oleh Musthafa el-Baby el-Halaby, dan tak dicetak lagi karena tidak ada konsumen.Pada saat menelusuri kekumuhan el-Halaby bersama Pak Oman Fathurrahman dan Yumi Sugahara, ada sekitar 40 kitab yang tak ditemukan.Sedang yang berhasil kita temukan ada sekitar 81 judul buku.Beberapa buku yang mempergunakan bahasa Arab, dicetak ulang oleh Dar al-Bashair, dan disebarkan oleh Dar al-Salam.Akan tetapi, buku-buku yang dikarang mempergunakan bahasa Melayu, Sunda, atau Jawa, tetap menumpuk kumuh di Musthafa el-Baby el-Halaby,” terang salah satu sumber yang telah melakukan observasi di maktabah tersebut.

Sebagaimana umur maktabah ini yang tak bisa lagi dikatakan muda, kitab-kitab koleksinya pun banyak yang diterbitkan sejak Indonesia masih dijajah Belanda.Ada yang terbitan tahun 1938, bahkan 1923.Aroma kertas kitab pun terkadang memaksa pembacanya bersin-bersin.

Belum lama ini, penulis baru tahu bahwa ternyata Mustafa el-Baby el-Halaby mempunyai ‘adik’.Dia adalah Faisol ‘Isa el-Baby el-Halaby. Mengapa saya mengatakan kedua maktabah itu kakak-beradik adalah karena kedua nama maktabah itu diambil dari pendirinya yang memang bersaudara.

Sebagaimana kakaknya, Faisol ‘Isa el-Baby el-Halaby juga terkenal dengan keakuratan teks-nya. Hanya saja, jumlah kitab yang diterbitkan sang adik tak sebanyak yang diterbitkan oleh sang kakak. Tapi, kitab-kitab dengan kemasan yang lebih cantik dan modern yang ditawarkan sang adik menjadi kelebihan tersendiri.

Kedua, maktabah yang membawa bendera kelompok tertentu.Maktabah al-Shafa misalnya, maktabah ini sangat kental dengan nuansa salafi-nya.Maktabah-maktabah yang berhaluan salafi sangat banyak.Ciri yang paling menonjol dari kitab-kitab terbitan salafi adalah perhatian mereka yang sangat besar terhadap persoalan akidah. Standard untuk menilai persoalan-persoalan akidah itu pun merujuk pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ciri lain bisa dilihat dari nama penerbitnya. Umumnya, mereka mengambil dari nama-nama ulama seperti Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Al-Taimiyah, atau hal lain yang ‘khas’ seperti Dar-al-Aqidah sebagai nama maktabah.Ciri terakhir yang sangat sukar dibantah adalah sumber rujukan.Biasanya mereka merujuk pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, atau takhrij hadits bersandarkan kitab-kitab Muhammad Nashiruddin Al-Albany.

Maktabah Al-Azhar dapat juga dimasukkan ke dalam kelompok pembawa bendera tertentu. Berbeda dengan maktabah pada umumnya, Al-Azhar selain menerbitkan kitab, juga menerbitkan surat kabar, majalah, jurnal, dan disertasi para alumninya.

Mungkin karena jangkauannya yang demikian luas itulah pengaruh Al-Azhar di dunia keislaman sangat kuat. Karena selain berkutat di dunia penerbitan, Al-Azhar juga membidik media informasi lain berupa internet, radio, maupun televisi sebagai media dakwah.

Selain kelompok agama dan lembaga, ada juga maktabah yang membawa bendera ‘Fakultas’.Maktabah yang saya maksud adalah Maktabah Al-Adab dan Muassasah Al-Mokhtar.Kedua maktabah itu berkhidmah penuh pada penerbitan karya-karya yang berhubungan dengan bahasa Arab.

Maktabah Al-Adab misalnya, banyak menerbitkan diwan (kumpulan syair) sastrawan-sastrawan klasik seperti Diwan Al-Hamasah[4]karya Abu Tammam, Diwan Al-Mutanabbi[5], Al-Ashma’iyyat[6]karya Al-Ashma’I, karya-karya Al-Suyuthi dalam bidang bahasa, dan banyak karya-karya penulis kontemporer. Sedangkan Muassasah Al-Mokhtar berjasa banyak dalam menerbitkan kitab-kitab terbitan Maktabah Al-Adab.Selain bekerjasama dalam penyebaran buku dengan Maktabah Al-Adab, Muassasah Al-Mokhtar juga menerbitkan kitab sendiri.Beberapa karya penulis kontemporer dalam bidang Balaghah, Nahwu, ‘Arudh, dan bidang bahasa Arab lainnya dapat ditemukan di sini.

Yang menjadi nilai tambahan bagi Muassasah Mokhtar adalah mereka menyediakan kitab-kitab terbitan Dar Al-Tholai’.Menjadi kelebihan sendiri karena kitab-kitab yang banyak berhubungan Nahwu dan Bahasa Arab terbitan Dar Al-Tholai’ itu adalah kitab yang ‘sangat disarankan’ untuk dibeli.

Ketiga, kelompok moderat.Kami mengatakannya moderat karena maktabah yang masuk dalam kelompok ini tidak membawa bendera tertentu, juga tidak mempunyai kecenderungan khusus.Mereka menerbitkan karya-karya ulama klasik, kontemporer, dan juga dari kelompok manapun.Tampaknya, mereka memang benar-benar berkhidmah untuk ilmu dan lebih mementingkan kualitas produksi.Dari ketiga kelompok maktabah, kelompok ketiga ini adalah yang paling banyak jumlahnya.

Dar al-Salam, Dar al-Bashair,  Maktabah Al-Mujallad al-’Araby, dan Dar al-Kotob al-Ilmiyah adalah beberapa nama yang mewakili maktabah yang moderat. Khusus nama terakhir, banyak kalangan yang menilai bahwa tak sedikit dari kitab-kitab terbitan mereka yang mengalami salah cetak. Apakah kesalahan itu murni salah cetak atau ada motif tertentu, masih perlu penyelidikan lebih jauh.

Salah satu maktabah idola pemburu literartur adalah Dar- al-Salam.Selain tata ruang yang apik, ruangan ber-AC dan bebas debu yang membuat pengunjung betah berlama-lama di maktabah, mereka juga memanjakan pengunjung dengan banyaknya pilihan.

Kitab-kitab terbitan Dar al-Salam berkemasan menarik dan bernilai seni tinggi.Kertas yang digunakan pun termasuk kelas wahid.Meski demikian, harga yang mereka tawarkan termasuk moderat.Yang agak unik dari produk mereka adalah puluhan kitab-kitab dengan kemasan imut.Kitab semacam Bulughul Maram, At-Tibyan, Matn Taqrib, atau Bidayah al-Hidayah yang biasa kita temui dalam ukuran buku sedang, di sini dicetak dengan format buku saku.

Dar al-Salam juga menerbitkan beberapa kitab kontemporer, semisal karya-karya Syeikh Ali Jumah atau dosen-dosen al-Azhar lainnya.Selain menerbitkan sendiri banyak kitab klasik dan kontemporer, Dar al-Salam juga bekerjasama dengan sejumlah penerbit mancanegara.Kitab-kitab terbitan Dar El-Fikr, Maktabah Al-‘Asriyah, dan Dar al-Makrifah (semua dari Beirut, Lebanon) banyak ditemukan di salah satu penerbit terkemuka di Mesir itu.

Sedangkan Dar al-Bashair adalah Maktabah Al-Azhar kedua.Banyaknya karya-karya ulama Al-Azhar yang diterbitkan di sini menjadi alasan mengapa saya menyebutnya maktabah Al-Azhar kedua.Selain itu, banyak terbitan Musthafa el-Baby el-Halaby yang dicetak ulang di sini, dengan wajah baru tentunya.Beberapa karya Syeikh al-Nawawi Al-Bantani juga ditemukan di Dar al-Bashair.

Beragamnya pilihan yang ditawarkan oleh maktabah-maktabah di Kairo membuat kota ini menjadi tujuan banyak kalangan. Kawan-kawan yang kuliah di luar kota biasa datang ke Kairo hanya untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan.

Keterjangkauan harga yang ditawarkan juga banyak dimanfaatkan oleh banyak mahasiswa. Sebagian dari mereka bertindak sebagai distributor dan sebagian yang lainsebagai kolektor. Untuk kelompok terakhir, biasanya mereka belanja sebanyak-banyaknya menjelang pulang.Sebagai persiapan, siapa tahu jadi kyai.

Kairo, 14 September 2012  ( penulis adalah peserta Bayt Qur’an  Santri Pasca Tahfidz Al-Qur’an angkatan I)

 

 


[1]Al-Kitab karya Imam Sibawaih adalah kitab induk nahwu.Karena demikian agungnya kitab itu di mata para ahli nahwu, sampai mereka menggelari kitab itu dengan Quran-nya Nahwu.

[2]Keduanya karya Imam Abdul Qahir Al-Jurjani, danmerupakan kitab induk balaghah.

[3]Catatan pinggir (Hasyiyah) atas Syarah Al-Waraqat oleh Jalaluddin Al-Mahalli.

[4]Berisi kumpulan syair-syair pilihan dari zaman jahiliyyah hingga awal periode Islam.Dikumpulkan oleh Abu Tammam yang merupakan penyair besar pada masa dinasti Abbasiyah.

[5]Kumpulan syair-syair Al-Mutanabbi, salah satu penyair terbesar Islamyang melegenda.

[6]Kumpulan syair-syair pilihan yang berhasil dikumpulkan oleh Al-Ashma’I, salah satu murid imam Al-Khalil.

Temu Alumni & Halal Bi Halal Santri Bayt Qur’an Angkatan I – V

Sebanyak 46 santri angkatan I – V hadir di Pesantren Bayt Qur’an Perum Villa Bukit Raya No.10 Pondok Cabe Ciputat untuk mengikuti Kegiatan temu alumni dan halal bi halal santri bayt Qur’an. Sejumlah alumni yang hadir dari setiap angkatan terdiri : 7 santri dari angkatan I, 10 santri dari angkatan II, 8 santri dari angkatan III, 13 santri dari angkatan IV dan 8 santri dari angkatan V.  Kegiatan dimulai pada Sabtu 15/9/2012 pada acara Sima’ul Qur’an dan pada malam harinya diadakan pembentukan pengurus alumni dengan memilih ketua alumni, wakil ketua dan sekretaris. Sebagai ketua alumni terpilih “Malikul Mahfuz” santri angk III asal kediri, wakil ketua alumni “M. Lutfi” santri angk II asal Malang dan Sekretaris terpilih “Abdul Fattah” santri angk II asal Jepara.

Kegiatan temu alumni dilanjutkan Ahad 16/9/2012 pada acara dialog seputar Al-Qur’an dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan bersama Prof. Qurais Shihab dan Prof. Dede Kusmana (sebagai dokter jantung di RS Harapan Kita) yang saat itu bersamaan hadir dalam rangka silaturahim dengan pengurus dan Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an.

Kuliah Santri Pasca Tahfidz Al-Qur’an “Penulusuran Informasi Di Internet”

Selasa (11/9) bertempat diruang pertemuan PSQ berlangsung perkuliahan 30 santri pasca tahfidz Al-Qur’an angkatan VI (enam), kuliah yang dimulai pukul 10.00 – 11.30 wib ini disampaikan oleh  Ach. Zayadi, M.Pd  dengan materi Penelusuran Informasi Di Internet.

Disampaikan kebutuhan untuk mempejari dan paham perkembangan informasi melalui internet pada zaman modern saat ini haruslah dimiliki oleh santri khususnya peserta pasca tahfidz Al-Qur’an Pesantren Bayt Qur’an Angkatan VI (enam) agar tidak ketinggalan informasi sebagai calon pendakwah yang akan terjun di masyarakat, sekaligus agar dengan mudah dan cepat mengakses kebutuhan tambahan materi dan pelajaran yang akan di dapatkan. Selanjutnya kegiatan perkuliahan diarahkan langsung pada sesi praktek di Perpustakaan PSQ Digital Library  yang berada dilantai 2 kantor Pusat Studi Al-Qur’an [] m.y.arfan

Kuliah PKM angkt VIII “Kaidah-Kaidah Tafsir”

Bertempat di Kantor PSQ perkuliahan Rabu (12/09) dilanjutkan pada pukul 16.00 wib bersama Prof. Dr. Salman Harun, MA membahas “Kaidah-Kaidah Tafsir”.  pada awal pertemuan Prof.  Salman menyarankan peserta kuliah PKM agar memiliki buku Qawâidu at-Tafsîr yang dikarang oleh Khâlid bin Utsmân at-Tsabât, yang nantinya buku yang terdiri dari 2 jilid ini akan dibahas dengan 2 dosen tutorial. Adapun Prof. Salman akan memberikan tutor pada buku jilid pertama.

Misi dan harapannya agar setiap peserta PKM benar-benar menguasai kaidah-kaidah tafsir. Sangat esensial sekali mengkaji ulang kembali demi mencapai  kematangan dan menambah wawasan. Selain itu ketika menulis tesis tentunya akan lebih berbobot dan berkualitas. “Buku ini perlu diselesaikan dengan tuntas,” terang Prof. Salman dengan semangat.

Pada awal pertemuan itu, ia membahas hal-hal terkait Asbabun Nuzul. Anggota PKM juga diajak berdiskusi dan ikut memberikan keterangan dari pembahasan pada buku tersebut. Pertemuan selanjutnya akan diserahkan kepada anggota PKM sesuai pembagian tugas yang telah ditentukan. [] Reni Rahmawati

Kuliah PKM angkt VIII “Metodologi Penelitian Tesis”

Jadual perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir Rabu 12/9/2012 dimulai pukul 10.00 wib bersama Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, MA. pada perkuliahan ini membahas tentang penelitian tesis meliputi abstrak pemikiran yang diperlukan oleh seorang peneliti sebelum menuangkannya dalam proposal. di mulai dari deskripsi judul secara problematis, latar belakang, rumusan masalah, sumber data, instrumen, cara menjawab masalah dan hasil dari penelitian tersebut.

Selain menjelaskan mengenai penelitian tafsir, Prof. Yunan menceritakan pengalamannya ketika menulis disertasi, pemilihan metodologi penelitian yang tepat menurut beliau bertujuan untuk menghindari kesalahan penelitian yang dapat menyebabkan timbulnya kesulitan dalam menyelesaikan karya ilmiah dan untuk menghindari kesimpulan yang salah dari penelitian yang dilakukan.

Perkuliahan ini diakhiri dengan penugasan kepada setiap peserta kuliah untuk menyiapkan contoh proposal masing-masing untuk didiskusikan bersama pada pertemuan berikutnya. Perkuliahan mengenai mata kuliah metodologi penelitian tesis ini direncanakan selanjutnya diadakan setiap hari Rabu, tepatnya minggu kedua setiap bulannya selama program PKM berlangsung.(Andi’s; pserta PKM angk VIII)