ASBAB ANNUZUL (bagian 2)

4. Cara-Cara Mengetahui “Asbab al-Nuzul”

“Asbab al-Nuzul” merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw selaku pengemban al-Qur’an. Oleh karenanya, tidak ada cara lain untuk mengetahuinya, selain merujuk kepada periwayatan yang diakui keabsahannya dari orang-orang yang memiliki integritas kepribadian yang dipercaya selaku pengemban dalam periwayatan tersebut. Orang-orang tersebut menegaskan keberadaan dirinya yang mendengar langsung tentang turunnya al-Qur’an. Hal ini menuntut kehati-hatian dalam menerima riwayat-riwayat yang berkaitan dengan “asbab al-Nuzul”.

Para ulama umumnya, baik dulu maupun sekarang tetap bersikap ekstra hati-hati dan ketat dalam menerima riwayat yang berkaitan dengan“asbab al-Nuzul”. Ketetatan dan ketelitian mereka difokuskan kepada seleksi pribadi orang yang membawa riwayat (ruwwat), sumber riwayat (isnad) dan redaksi riwayat (matan). Al-Wahidi misalanya, dengan tegas menyatakan:

لا يحل القول في أسباب نزول الكتاب إلا بالرواية والسماع ممن شاهدوا التنزيل, ووقفوا على الأسباب وبحثوا عن علمها وجدوا في الطلب.

Artinya: “Tidak dibenarkan mengemukakan pandangan terkait dengan Asbab Nuzul al-Qur’an, kecuali berdasarkan riwayat dan informasi yang didengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa turunnya ayat, mencermati sebab-sebab tersebut, dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya”.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak setiap riwayat tentang “asbab al-Nuzul” yang dikemukakan oleh para sahabat dapat diterima begitu saja, tanpa pengecekan dan penelitian lebih cermat.  Hal ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang “asbab al-Nuzul” suatu ayat merupakan pekerjaan yang sulit, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang beberapa riwayat yang terkait dengannya. Al-Dahlawi mengidentifikasi sumber kesulitan dalam riwayat “asbab al-Nuzul”, yaitu:

(a) Adakalanya kalangan sahabat atau tabi‘in mengemukakan suatu kisah ketika menjelaskan suatu ayat. Tapi mereka tidak secara tegas menyatakan bahwa kisah itu merupakan “asbab al-Nuzul”. Padahal, setelah diteliti ternyata kisah itu merupakan sebab turunnya ayat tersebut;

(b) Adakalanya kalangan sahabat dan tabi‘in mengemukakan hukum suatu kasus dengan mengemukakan ayat tertentu, kemudian mereka menyatakan dengan kalimat: نزلت في كذا …; seolah-olah mereka menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan penyebab turunnya ayat tersebut. Padahal, boleh jadi pernyataan itu sekedar istinbath hukum dari Nabi Saw tentang ayat yang dikemukakan tadi.

Oleh karena itu, para ulama seperti Imam al-Hakim al-Naysaburi, Ibn al-Shalah, dan ulama hadits lainnya menegaskan bahwa hadits yang menjadi sumber dalam riwayat “asbab al-Nuzul” harus merupakan hadits marfu‘, bersambung sanadnya, dan shahih dari sisi sanad maupun matan-nya.

Sedangkan susunan atau bentuk redaksi dalam pengungkapan riwayat “asbab al-Nuzul”, secara garis besar ada tiga macam, yaitu:

(1)   Bentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-muttafaq ‘ala al-i‘tidad bihi). Bentuk ini mengandung tiga unsur utama, yaitu: pertama, sahabat yang mengemukakan riwayat harus menyebutkan suatu kisah atau peristiwa yang yang menyebabkan turunnya ayat; Kedua, sahabat yang mengemukakan riwayat harus mengemukakan dengan redaksi yang jelas (bi al- lafzhi al-sharih) menunjukkan kepada pengertian “turunnya ayat”; dan Ketiga, sahabat yang mengemukakan riwayat harus mengemukakan riwayatnya dengan pola bahasa yang bersifat pasti, seperti ungkapan: حدث كذا وكذا فنزلت آية كذا, atau حدث كذا وكذا فأنزل الله كذا.

Redaksi dalam bentuk tegas (sharih) dan pasti dalam pengungkapan “asbab al-Nuzul” ini dapat saja berupa: (a) redaksi yang tegas berbunyi: سبب نزول الآية كذا…; (b) adanya huruf fa’ (ف) yang bermakna al-sababiyah atau ta‘qibiyah yang masuk pada riwayat yang berkaitan dengan turunnya ayat, seperti: حدث هذا… فنزلت الآية… ; atau (c) adanya keterangan yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw ditanya tentang sesuatu kemudian diikuti dengan turunnya ayat sebagai jawabannya: سئل رسول الله عن كذا … فنزلت الآية …

(2)   Bentuk susunan redaksi yang masih diperselisihkan dikalangan ulama untuk menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-mukhtalaf fi al-i‘tidad bihi wa ‘adamihi), karena redaksi pengungkapannya masih bersifat  muhtamilah (mengandung kemungkinan). Dalam bentuk ini, perawi tidak menginformasikan dengan gamblang adanya suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat, namun hanya mengemukakan suatu riwayat dengan ungkapan: إن الآية نزلت في إباحة كذا… أو في منع كذا… , atau نزلت هذه الآية في … , atau نزلت الآية ….

Terdapat perbedaan pandangan ulama dalam memahami bentuk redaksi seperti ini, diantaranya adalah:

(a)    Imam al-Bukhari dan Ibn al-Shalah memandang redaksi tersebut selaku riwayat yang menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” suatu ayat.

(b)   Imam al-Zarkasyi dan al-Sayuthi menilai bahwa redaksi tersebut menunjukkan kepada penafsiran dan penjelasan yang terkait dengan ketentuan suatu hukum yang disinggung dalam pembahasan ayat (shigat tafsir wa istidlal bi al-ayat ‘ala al-hukmi), bukan sebagai riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat (shigat al-naql).

(c)    Ibnu Taimiyah menilai bentuk redaksi tersebut mengandung dua kemungkinan, yaitu: pertama, sebagai riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat; dan kedua, sebagai keterangan tentang maksud ayat dan bukan sebagai riwayat tentang sebab turunnya. Ungkapan redaksi tersebut sama dengan pernyataan yang berbunyi:عني بهذه الآية … (yang dimaksud dengan ayat ini adalah …).

(d)   Al-Qasimi menilai redaksi tersebut selaku pernyataan yang diungkapkan oleh para sahabat dan tabi‘in dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang apa yang dibenarkan oleh ayat. Dalam hal ini perlu dilakukan langkah ijtihad guna menentukan apakah riwayat tersebut sebagai “asbab al-Nuzul” ayat atau hanya sekedar penjelasan tentang kandungan suatu ayat.

(e)    Al-Zarqani menilai bahwa bentuk redaksi seperti ini bukanlah serta merta secara pasti menunjukkan kepada riwayat sebab turunnya ayat, karena dapat saja menunjukkan kepada penjelasan tentang kandungan ayat. Dalam hal ini harus diteliti lebih cermat indikator (qarinah) yang menunjukkan ke salah satu dari kedua kemungkinan tersebut. Jika ada indikator yang menguatkan arah tunjukannya selaku riwayat sebab turunnya ayat, maka barulah dipahami bahwa redaksi itu menunjukkan kepada peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat.

(3)   Bentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama tidak menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-muttafaq ‘ala ’adami al-i‘tidad bihi). Bentuk susunan redaksi ini ada dua macam, yaitu:

Pertama, adakalanya si Perawi tidak mengungkapkan riwayat dengan redaksi yang jelas menunjukkan kepada pengertian “turun” (shigat al-Nuzul), namun mengemukakannya dengan redaksi lain, seperti lafaz qira’ah atau tilawah. Misalnya, si Perawi mengatakan:حدث كذا فقرأ النبي صلى الله عليه وسلم … أو فتلا النبي صلى الله عليه وسلم كذا …. Para ulama menilai bahwa pengungkapan “qira’ah” atau “tilawah” setelah penyebutan adanya suatu kejadian (al-haditsah) jelas menunjukkan bahwa suatu ayat pasti turun mengiringi kejadian atau peristiwa tersebut. Padahal dalam kenyataan berdasarkan ungkapan redaksi itu sendiri, jelas menunjukkan ayat yang dibaca oleh Nabi Saw sudah turun sebelum terjadinya peristiwa dimaksud. Atau bisa jadi pembacaan Nabi Saw akan ayat tersebut sebagai penjelasan penguat dari ayat yang turun lebih dahulu yang memiliki hubungan yang kuat dengan ayat yang dibacakan Nabi Saw ketika ada suatu kejadian.

Kedua, adakalanya si Perawi mengungkapkan redaksi riwayatnya dengan pola bahasa yang tidak secara pasti menunjukkan kepada sebab turunnya ayat, namun mempergunakan pola bahasa yang mengandung “dugaan” atau “perkiraan” semata. Misalnya, si Perawi mengatakan:حدث كذا فأحسب أن الآية نزلت فيه …, atau حدث كذا فأظن أن هذه الآية نزلت فيه, atau ما أحسب أو ما أظن أن هذه الآية نزلت إلا في كذا …. Pola redaksi semacam ini menunjukkan bahwa si Perawi memahami suatu riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat hanya berdasarkan indikator berupa situasi dan kondisi konteks semata (qara’in al-ahwal) yang bersifat sangat spekulatif (dugaan). Dan hal itu jelas tidak menunjukkan kepada keterlibatan si Perawi dalam menyaksikan langsung peristiwa turunnya ayat (musyahadah) atau mendengarkan informasinya dari orang yang menyaksikan secara langsung tersebut (sima’i).

Para ulama memberikan catatan bahwa redaksi seperti ini dapat diterima apabila ada riwayat lain yang menunjukkan hal yang sama, tapi dengan lafaz redaksi yang bersifat pasti (bukan dugaan dan persangkaan semata) sebagaimana dalam bentuk yang disepakati oleh para ulama untuk menunjukkan kepada sebab turunnya ayat.

5. Macam-Macam “Asbab alNuzul

Surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’an pada umumnya diturunkan hanya satu kali, namun sebagian besar ulama juga mengakui bahwa diantara surat dan ayat al-Qur’an ada yang diturunkan lebih dari satu kali (maksimal dua kali). Diantara surat yang dtengarai turun sebanyak dua kali adalah surat al-Fatihah [1] dan surat al-Ikhlash [112]. Dan diantara ayat yang dianggap turun dua kali adalah ayat 85 surat al-Isra’ [17]. Kenyataan ini dapat membuka ruang bagi kemungkinan adanya surat atau ayat yang turunnya dilatarbelakangi oleh lebih dari satu sebab (ta‘addud al-sabab wa al-nazil wahid).

Disamping itu, ada juga lebih dari satu ayat yang diturunkan hanya satu kali, namun dilatarbelakangi oleh satu peristiwa yang menyebabkan turunnya (ta‘addud al-Nazil wa al-sabab wahid). Artinya, ada beberapa ayat yang dipandang memiliki sebab yang sama yang menjadi latar belakang turunnya.

Berdasarkan hal ini, para ulama membagi “asbab al-Nuzul” menjadi tiga macam, yaitu:

(1)   Satu “sebab” yang menjadi latar belakang turunnya satu ayat (al-sabab wahid wa al-Nazil wahid). Permasalahan dalam bagian ini masih sangat sederhana, karena hanya melihat sisi keabsahan dan keakuratan dalam menilai suatu riwayat selaku “asbab al-Nuzul”. Artinya, jika riwayat itu memenuhi kriteria selaku “asbab al-Nuzul”, maka ia dapat diterima dan dipandang sebagai sebab turunnya suatu ayat.

(2)   Satu “sebab” yang menjadi latar belakang turunnya beberapa ayat yang berbeda dan bukan satu kelompok yang berurutan (al-sabab wahid wa al-Nazil muta‘addid). Terkadang ada suatu peristiwa yang dalam rekaman sejarah memang menjadi latar belakang turunnya dua ayat atau lebih, dimana keberadaa ayat-ayat tersebut bukan dalam satu kelompok secara berurutan dalam satu surat dan antara waktu turunnya ada jarak yang menyelangi. Sebagai contoh adalah kasus Ummu Salamah ra yang mempertanyakan kepada Rasulullah Saw mengapa Allah SWT hanya menyebutkan kaum laki-laki saja dan tidak menyebut-nyebut kaum perempuan. Atas pertanyaan ini turunlah ayat 35 surat al-Ahzab [33] dan ayat 195 surat Ali ‘Imran [3]. Berdasarkan riwayat Imam Ahmad, al-Nasa’i, Ibnu Jarir al-Thabari, Ibnu al-Munzir, al-Thabrani, dan Ibnu Mardawaih, pertanyaan Ummu Salamah ra ini merupakan sebab turunnya ayat 35 surat al-Ahzab [33] yang berbunyi:

Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Q.S. al-Ahzab [33]: 35)

Sementara berdasarkan riwayat Sa‘id bin Manshur, ‘Abd al-Razzaq, al-Turmuzi, Ibnu Jarir al-Thabari, Ibnu al-Munzir, Ibnu Abi Hatim, al-Thabrani, dan al-Hakim, pertanyaan Ummu Salamah ra ini juga merupakan sebab turunnya ayat 195 surat Ali ‘Imran [3] yang berbunyi:

Artinya: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah;  dan disisi Allah itu  pahala yang baik.”(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 195)

 Dan contoh lainnya adalah satu peristiwa di mana Rasulullah Saw mewanti-wanti para sahabatnya agar jangan berbicara dengan seseorang yang memandang orang lain dengan pandangan syetan dan orang tersebut bersama teman-temannya suka memaki Rasulullah Saw. Namun ketika Rasulullah Saw bertanya kepadanya, mereka bersumpah tidak pernah melakukan hal tersebut. Berdasarkan riwayat Ibnu Jarir al-Thabari, al-Thabrani, dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas ra peristiwa tersebut merupakan sebab turunnya ayat 74 surat al-Taubah [9] yang berbunyi:

Artinya: “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka Telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan Telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali Karena Allah dan rasul-Nya Telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi”. (Q.S. al-Taubah [9]: 74)

Sementara al-Hakim juga mengemukakan riwayat yang sama dan menyatakannya sebagai sebab turunnya ayat 18-19 surat al-Mujadalah [58] yang berbunyi:

Artinya: “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Alla) lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi. (Q.S. al-Mujadalah [58]: 18-19)

(3)   Beberapa “sebab” yang menjadi latar belakang turunnya satu ayat (ta‘addud al-asbab wa al-nazil wahid).

Disamping adanya satu riwayat sebagai “asbab al-Nuzul”  bagi lebih dari satu ayat, ada juga sebaliknya, yaitu terdapat lebih dari satu riwayat yang mengemukakan tentang “asbab al-Nuzul” untuk satu ayat tertentu. Dalam hal ini tidak akan timbul suatu persoalan jika riwayat-riwayat tersebut mengemukakan hal-hal yang tidak kontradiksi. Persoalan akan muncul bila dalam riwayat-riwayat yang beragam itu mengemukan hal-hal yang saling bertentangan dan sulit untuk menemukan titik temu sebagai langkah untuk mengkompromikannya. Untuk itu diperlukan penelitian dan analisis mendalam terkait dengan riwayat-riwayat yang beragam tersebut.

Dalam melihat permasalahan ini, para ulama mengemukakan cara-cara yang sudah biasa ditempuh dalam menyelesaikan persoalan dalam kasus adanya perbedaan riwayat selaku sumber dalil tasyri‘. Dalam hal ini, setidaknya ada empat cara yang ditempuh, yaitu:

Pertama, Tidak mempermasalahkan atau mengabaikan semua riwayat-riwayat tersebut. Cara ini ditempuh ketika riwayat-riwayat yang beragam tentang “asbab al-Nuzul” tersebut berbentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama tidak menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-muttafaq ‘ala ’adami al-i‘tidad bihi), seperti si Perawi tidak mengungkapkan riwayat dengan redaksi yang jelas menunjukkan kepada pengertian “turun” (shigat al-Nuzul) atau si Perawi mengungkapkan redaksi riwayatnya dengan mempergunakan pola bahasa yang mengandung “dugaan” atau “perkiraan” semata. Misalnya dalam satu riwayat, si Perawi mengatakan:حدث كذا فقرأ النبي صلى الله عليه وسلم … ; dan dalam riwayat lainnya si Perawi mengatakan: حدث كذا فأحسب أن الآية نزلت فيه ….

Keragaman riwayat “asbab al-Nuzul” ini tidak perlu dipermasalahkan, karena para ulama menyepakati bahwa yang dimaksud oleh setiap riwayat tersebut bukan sebagai “asbab al-Nuzul”.

Kedua, melakukan langkah tarjih atau penyeleksian terhadap riwayat-riwayat “asbab al-Nuzul” yang beragam dan kontradiktif untuk menemukan riwayat yang shahih (kuat) diantara riwayat yang dha‘if (lemah), dan menentukan riwayat yang lebih kuat dan valid (ashah) diantara riwayat yang tampak sama-sama shahih. Upaya pen-tarjih-an riwayat-riwayat ini dapat ditempuh dengan melihat dua sisi, yaitu:

(a)    Pen-tarjih-an dari sisi redaksi lafal; dengan mengedepankan riwayat yang menggunakan bentuk redaksi yang bersifat jelas dan pasti (sharih) dari pada riwayat yang masih bersifat muhtamilah (mengandung kemungkinan). Misalnya dalam kasus riwayat-riwayat yang melatarbelakangi turunnya ayat 223 surat al-Baqarah [2] yang berbunyi:

Artinya: “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki…”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 223).

Dalam riwayat yang berasal dari Nafi‘ berbunyi:

Nafi‘ berkata, suatu hari aku membaca ayat “Nisa’ukum Hartsun Lakum…”; Lalu Ibnu ‘Umar ra mengatakan: “Tahukah kamu  tentang apa ayat ini diturunkan?”, Nafi‘ menjawab: “Tidak”. Ibnu ‘Umar ra mengatakan: “Ayat ini diturunkan berkanaan dengan ketentuan hukum menggauli wanita pada bagian belakang (dubur)”.

Dalam riwayat ini, jelas Ibnu ‘Umar ra tidak menggunakan bentuk redaksi yang secara jelas dan pasti menunjukkan kepada sebab turunnya ayat. Sementara dalam riwayat lain yang bersumber dari Jabir ra dikatakan:

Dari Jabir ra berkata: Orang-orang Yahudi mengatakan: “Jika seseorang menyetubuhi istrinya dari jalan belakang, maka anak yang lahir akan bermata juling. (Atas) ini, turunlah ayat “Nisa’ukum Hartsun Lakum …”.

Dalam kasus perbedaan dan keragaman riwayat “asbab al-Nuzul” ayat diatas, dapat dilakukan pen-tarjih-an dengan melihat sisi redaksi masing-masing riwayat. Berdasarkan hal itu, maka riwayat Jabir-lah yang harus dipegang, karena ia menggunakan redaksi yang secara jelas dan pasti (sharih) menunjukkan kepada sebab turunnya ayat.

(b)   Pen-tarjih-an dari sisi sanad yang ditempuh melalui: (1) mengedepankan riwayat yang status sanadnya shahih atas yang dha‘if; (2) mengedepankan riwayat yang sanadnya paling shahih (ashah) diantara riwayat-riwayat yang dipandang sama-sama shahih; (3) mengedepankan perawi yang terlibat secara langsung dalam peristiwa turunnya ayat atas perawi yang tidak terlibat langsung; dan (4) mengedepankan perawi yang diakui memiliki keahlian sebagai seorang Mufassir atas perawi lainnya. Semua ini ditempuh jika antara riwayat-riwayat yang beragam dan kontaradiktif tersebut tidak ditemukan titik temu yang mengkompromikannya. Diantara contoh pen-tarjih-an dengan mengedepankan riwayat yang sanadnya shahih atas yang dha‘if adalah riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat 1-3 surat al-Dhuha [93]. Riwayat pertama dikemukakan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, dan Imam lainnya dari Jundub al-Bajali ra:

Artinya: “Dari Jundub al-Bajali ra berkata: Nabi Saw menderita sakit sehinggatidak mendirikan shalat malam selama dua atau tiga malam. Lalu datanglah kepada beliau seorang wanita seraya mengatakan: Wahai Muhammad, tidaklah aku  melihat syetan (yang bertugas menggodamu) kecuali meninggalkanmu dan tidak pernah mendekatimu semenjak dua atau tiga malam. Maka Allah menurunkan ayat 1-3 surat al-Dhuha”.

Riwayat kedua dikemukakan oleh Imam al-Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah dari Hafash bin Maesarah:

عن حفص بن ميسرة عن أمه , عن أمها- وكانت خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم – أن جروا دخل بيت النبي صلى الله عليه وسلم, فدخل تحت السرير, فمات, فمكث النبي صلى الله عليه وسلم أربعة أيام لا ينزل عليه الوحي, فقال: يا خولة: ما حدث في بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ جبريل لا يأتيني! فقلت في نفسي: لو هيأت البيت وكنسته, فأهويت بالمكنسة تحت السرير فأخرجت الجرو, فجاء النبي صلى الله عليه وسلم ترعد لحيته, وكان إذا نزل عليه أخذته الرعدة, فقال: يا خولة: دثريني, فأنزل الله: ((وَالضُّحَى))… إلى قوله: (( فَتَرْضَى ))

Artinya: “Dari Hafash bin Maesarah, dari ibunya, dari neneknya (pembantu Rasulullah Saw) mengatakan bahwa ada seekor anak anjing masuk ke dalam rumah Nabi Saw dan bersembunyi dikolong tempat tidur sampai mati. Oleh karena itu, selama empat hari Nabi saw diam (menunggu) wahyu yang tidak kunjung turun kepadanya. Lalu Nabi Saw berkata: wahai Khaulah! Apa yang telah terjadi di rumah Rasulullah saw? (sehingga) Jibril tidak pernah mendatangiku! Maka aku (Khaulah) berkata pada diriku: alangkah baiknya jika kuperiksa seluruh rumah dan membersihkannya. Lalu kuambil sapu dan memasukkannya sampai ke kolong tempat tidur, dan kukeluarkan (bangkai) anak anjing tersebut. Lalu datanglah Nabi saw (dalam keadaan) dagu yang gemetar. Dan seperti kebiasaan setiap turun wahyu kepadanya, Nabi saw selalu tampak gemetar. Nabi Saw lalu berkata: wahai Khaulah selimutilah (tubuh) saya! Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya yang berbunyi: “Wa al-Dhuha”, sampai firman-Nya yang berbunyi: “fa tardha” (ayat 1-5 surat al-Dhuha)”.

Setelah melakukan kajian dan analisis terhadap kedua riwayat ini, para ulama menetapkan bahwa status riwayat pertama shahih, sementara yang kedua dha‘if. Dalam hal ini Ibnu Hajar ra mengatakan bahwa riwayat tentang kisah keterlambatan Jibril as dalam menyampaikan wahyu kepada Nabi saw yang disebabkan karena adanya anak anjing itu memang terkenal, tetapi keberadaannya selaku sebab turunnya ayat adalah sangat aneh (garib) disamping dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal (man la yu‘rafu). Oleh karena itu, maka riwayat yang harus dipegang adalah yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

Dan diantara contoh pen-tarjih-an dengan mengedepankan riwayat yang perawinya menyaksikan langsung peristiwa turunnya ayat adalah riwayat-riwayat yang mengemukakan kasus pertanyaan kepada Rasullah saw tentang ruh selaku sebab turunnya ayat 85 surat al-Isra’ [17]. Riwayat pertama dikemukakan oleh Imam al-Bukhari dari Ibnu Mas‘ud ra yang berbunyi:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كنت أمشي مع النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة, وهو يتوكأ على عسيب, فمر بنفرمن اليهود, فقال بعضهم: لو سألتموه, فقالوا: حدثنا عن الروح, فقام ساعة ورفع رأسه, فعرفت أنه يوحى إليه, حتى صعد الوحي, ثم قال: ((قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَآأُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً )).

Artinya: “Dari Ibnu Mas‘ud ra berkata: aku berjalan bersama Nabi saw di Madinah dalam keadaan beliau bertelekan pada pelepah kurma. Beliau lalu lewat dihadapan sekelompok orang Yahudi. Maka diantara mereka mengatakan: bagaimana kalau kalian coba bertanya kepadanya tentang sesuatu. Mereka lalu berkata: (Hai Muhammad) coba kamu jelaskan kepada kami tentang ruh! Nabi saw berdiri sejenak sambil menengadahkan kepalanya. Pada saat itu akupun tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu dan Nabi saw kemudian membacakan: “Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”(Q.S. al-Isra’ [17]: 85).

Sementara riwayat lainnya dikemukakan oleh Imam al-Tirmizi dari Ibnu ‘Abbas ra yang berbunyi:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قالت قريش لليهود: أعطونا شيئا نسأل عنه هذا الرجل, فقالوا: إسألوه عن الروح, فسألوه, فأنزل الله: (( وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَآأُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً ))

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata: Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: berikan kepada kami tentang permasalahn yang akan kami tanyakan kepada laki-laki ini (Nabi saw)! Mereka menjawab: tanyakan kepadanya tentang ruh! Selanjutnya merekapun bertanya kepada Nabi saw tentang ruh. Maka Allah SWT menurunkan ayat “wa Yas’alunaka ‘an al-Ruh…” (Q.S. al-Isra’ [17]: 85)”.

Riwayat kedua ini menunjukkan bahwa ayat tersebut diturunkan di Makkah karena melihat faktor penanya dari orang-orang Quraisy; sementara riwayat pertama menunjukkan ayat ini turun di Madinah. Dan kedua riwayat ini dilihat dari sisi sanadnya, sama-sama berkualitas shahih. Namun, para ulama pada umumnya lebih mengedepankan riwayat pertama atas riwayat kedua. Hal itu dikarenakan riwayat pertama dikemukakan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Ibnu Mas‘ud ra yang terlibat secara langsung dalam peristiwa turunnya ayat; sementara riwayat kedua dikemukakan oleh Imam al-Tirmizi dari sahabat Ibnu ‘Abbas ra yang jelas tidak terlibat dalam peristiwa selaku sebab turunnya ayat tersebut. Jadi, riwayat Bukhari lebih unggul (rajih) dari pada riwayat Tirmizi (marjuh), karena keterlibatan perawi dalam peristiwa “asbab al-Nuzul” ayat.

Ketiga, menggabungkan atau mengkompromikan riwayat-riwayat yang dipandang sama-sama shahih dan tidak dapat di-tarjih-kan. Artinya semua riwayat itu sama-sama diterima dan dipakai dan dipandang saling menjelaskan. Misalnya, dua bentuk riwayat yang mengemukakan “asbab al-Nuzul” ayat 6-9 surat al-Nur [24] yang berbicara tentang masalah li‘an. Riwayat pertama dikemukakan oleh Imam al-Bukhari, Tirmizi, dan Ibnu Majah dari jalur Ibnu ‘Abbas ra menyatakan bahwa turunnya ayat 6-9 surat al-Nur [24] dilatarbelakangi oleh kasus Hilal bin Umayyah yang menuduh istrinya dihadapan Nabi Saw telah berselingkuh dengan Syarik bin Samha’:

عن ابن عباس رضي الله عنهما: أن هلال بن  أمية قذف إمرأته عند النبي صلى الله عليه وسلم بـشريك بن سمحاء. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ألبينة وإلا حد في ظهرك, فقال: يا رسول الله: إذا رأى أحدنا على إمرأته رجلا ينطلق يلتمس البينة؟ فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: البينة وإلا حد في ظـهرك, فقال هلال: والذي بعثك بالحق إني لصادق, ولينزلن الله ما يبرئ ظهري من الحد, ونزل جبريل فأنزل عليه ((والذين يرمون أزواجهم)) حتى بلغ ((إن كان من الصادقين)).

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Hilal bin Umayyah telah menuduh istrinya dihadapan Rasulullah berzina dengan Syarik bin Sahma’. Nabi saw bersabda: (coba kemukakan) bukti (atas tuduhanmu), dan jika tidak, maka hukuman (hadd) akan ditimpakan ketubuhmu. Hilal berkata: wahai Rasulullah! Jika seseorang melihat (dengan matanya) ada bersama istrinya laki-laki lain, apakah dia harus mencari bukti lagi? Rasulullah saw kemudian bersabda lagi: (coba kemukakan) bukti (atas tuduhanmu), dan jika tidak, maka hukuman (hadd) akan ditimpakan ketubuhmu. Maka Hilalpun berkata: Demi Zat Yang Mengutusmu (sebagai Rasul) dengan sebenarnya, (saksikanlah) bahwa sesungguhnya aku benar (dalam tuduhanku), dan Allah SWT pasti menurunkan penjelasan (selaku bukti) yang akan membebaskanku dari hukuman yang ditimpakan kepadaku (karena menuduh). Dan Jibrilpun turun dan menyampaikan kepada Nabi saw firman Allah “wa Allazina yarmuna azwajahum” sampai dengan “in kana min al-shadiqin” (Q.S. al-Nur [24]: 6-9)”.

Sementara dalam riwayat lain yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, dan Imam lainnya dari jalur Sahal bin Sa‘ad dinyatakan bahwa turunnya ayat 6-9 surat al-Nur [24] disebabkan oleh kasus yang berkenaan dengan sahabat yang bernama ‘Uwaimir yang meminta kepada ‘Ashim bin ‘Adi untuk menanyakan kepada Rasulullah saw tentang sikap yang harus diambil oleh seorang suami jika menemukan istrinya berzina dengan laki-laki lain:

عن سهل بن سعد قال: جاء عويمر إلى عاصم بن عدي, فقال: سل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن رجل وجد مع إمرأته رجلا أيقتله فيقتل به أم كيف يصنع؟…

 Artinya: “Dari Sahal bin Sa‘ad berkata: ‘Uwaimir telah mendatangi ‘Ashim bin ‘Adi seraya mengatakan: (coba) tanyakan kepada Rasulullah saw tentang (sikap yang harus diambil) oleh seseorang yang menemukan istrinya berzina dengan laki-laki lain; apa dia (boleh) membunuh (laki-laki selingkuhan) tersebut dan selanjutnya dia juga akan dibunuh karenanya (secara qishash), atau apa yang harus dia perbuat?…”.

Kedua  riwayat ini memiliki kualitas dan tingkat ke-shahih-an yang sama dan tidak ada faktor pendukung untuk lebih mengedepankan salah satu diantara keduanya (tarjih). Para ulama menilai bahwa kedua riwayat tersebut dapat dikompromikan karena mengemukakan kejadian yang tidak memiliki jarak waktu yang lama. Para ulama menyimpulkan bahwa kasus yang dikemukakan oleh Hilal bertepatan waktunya dengan pertanyaan ‘Uwaimir yang dikemukakan oleh ‘Ashim bin ‘Adi dan ayat 6-9 surat al-Nur [24] turun dalam rangka menjawab kedua kasus tersebut secara bersamaan.

Keempat, menerima dan memakai semua riwayat yang dipandang sama-sama shahih dan tidak dapat dikompromikan, atas dasar pengertian bahwa ayat yang dilatarbelakangi oleh riwayat-riwayat tersebut turun lebih dari satu kali (ta‘addud al-Nuzul) sesuai dengan jumlah riwayat tersebut. Misalnya dua riwayat yang mengemukakan latar belakang turunnya surat al-Ikhlash [112]. Satu riwayat menyatakan bahwa surat ini turun untuk memberikan jawaban atas pertanyaan orang-orang Musyrik di Makkah yang meminta Rasulullah saw untuk mengemukakan gambaran sifat dan bentuk Tuhan. Sedangkan dalam riwayat lain ditegaskan bahwa surat ini diturunkan sebagai jawaban pertanyaan yang diajukan oleh para pendeta Yahudi kepada Rasulullah saw  tentang bentuk dan sifat Tuhan. Karena kedua riwayat ini memiliki kualitas dan tingkat ke-shahih-an yang sama dan tidak ada faktor pendukung untuk melakukan tarjih atau mengkompromikan keduanya, maka para ulama mempertimbangkan kedua riwayat ini dengan menganggap bahwa surat tersebut diturunkan sebanyak dua kali, satu kali pada periode Makkah dan satunya lagi pada periode Madinah.

Pandangan mayoritas ulama ini dibantah oleh sebagian ulama tafsir yang tidak mendukung anggapan adanya pengulangan dalam penurunan satu surat atau ayat (takarrur al-nuzul). Para ulama yang menolak ini mengemukakan argumen bahwa tidak ada suatu faedah yang signifikan untuk menurunkan kembali suatu surat atau ayat yang sudah turun; karena hanya akan mengarah kepada tahshil al-hashil (pleonastis) atau penghamburan energi belaka. Kelompok yang menentang ini juga mempertanyakan apakah hal itu tidak berarti suatu surat atau ayat yang telah diturunkan mengalami penghapusan status sehingga diturunkan kembali untuk menetapkannya lagi? Atau apakah hal ini tidak berarti menunjukkan kepada adanya surat atau ayat al-Qur’an yang diturunkan tapi tidak ditetapkan dalam mushhaf, atau diturunkan dua kali tapi ditetapkan hanya satu kali saja? Karena secara logis, seharusnya  jika ada suatu surat atau ayat yang mengalami pengulangan dalam penurunan, maka surat atau ayat tersebut juga harus mengalami pengulangan dalam hal penetapan keberadaannya di dalam mushhaf.

ASBAB ANNUZUL ( bagian 1)

Asbab Annuzul ( Bagian 1 )

Al-Qur’an adalah kitab yang terdiri atas ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang timbul. Proses turunnya al-Qur’an secara bertahap juga sangat membantu manusia dalam memahami dan mengikuti kandungan petunjuk kitab suci tersebut.

Beradasarkan realitas sejarah, ayat-ayat al-Qur’an ada yang turun dengan didahului oleh sebab tertentu yang melatarbelakanginya, dan ada pula yang turun tanpa didahului oleh sebab tertentu. Dan diantara ayat-ayat yang turun dengan didahului oleh sebab tertentu, ada yang sebabnya tergambar secara tegas dan gamblang dalam teks ayat itu, dan ada pula yang tidak dinyatakan secara jelas dalam ayat yang bersangkutan. Ayat al-Qur’an yang secara tegas menyatakan sebab turunnya, antara lain tampak dalam ayat yang memuat kata-kata يسئلونك (mereka bertanya kepadamu) atau يستفتونك (mereka meminta fatwa kepadamu). Sedangkan ayat yang tidak memuat secara tegas sebab turunnya dapat dilacak dan dipelajari melalui hadits-hadits Nabi Saw.

Oleh karena itu, salah satu hal penting dalam upaya memahami kandungan pesan al-Qur’an secara utuh adalah mempelajari dan mengetahui konteks latar belakang yang menjadi sebab turunnya al-Qur’an tersebut.

1. Pengertian Asbab alNuzul

Sebelum dikemukakan pengertian “Asbab al-Nuzûl” secara utuh dalam pandangan ulama ‘Ulum al-Qur’an, maka perlu dikemukakan pengertian dari kedua kata yang merangkainya secara kebahasaan. Kata “Asbab” merupakan bentuk plural dari kata tunggal “sebab”, yang secara kebahasaan bermakna: “segala sesuatu yang dijadikan jalan yang dapat menghubungkan atau menyampaikan kepada sesuatu lainnya”. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah [2] ayat 166:

Artinya: “(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 166)

Sedangkan kata “nuzul”, menurut bahasa setidaknya memilik dua pengertian, yaitu: (1) “Gerakan menurun dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang rendah” (al-inhidar aw al-inhithath min ‘uluwwin ila safalin), seperti ungkapan نزل فلان من الجبل, Si A turun dari atas gunung; dan (2) “Mendiami, menempati, atau mampir pada suatu tempat” (al-hulul), sebagaimana dalam ungkapan نزل فلان في المدينة, Si A tinggal di kota.

Dan sebelum diuraikan tentang pengertian “asbab alNuzul” lebih lanjut, maka perlu untuk diperhatikan bahwa istilah “sebab” di sini, tidak sama dengan istilah “sebab” yang dikenal dalam hukum sebab-akibat. Istilah “sebab” dalam hukum sebab-akibat mengandung pengertian keharusan adanya “sebab” untuk menimbulkan adanya “akibat”; dan suatu “akibat” tidak akan pernah terjadi tanpa ada “sebab” yang mendahului.

Dan bagi al-Qur’an, meski diantara ayatnya yang turun didahului oleh sebab tertentu, namun keberadaan sebab itu tidak mutlak adanya walaupun secara realita telah terjadi peristiwanya. Adanya sebab bagi turunnya al-Qur’an tak lain merupakan bentuk wujud nyata kebijaksanaan Allah SWT dalam memberikan petunjuk kepada hamba-Nya. Dengan adanya sebab yang mendahului, maka akan lebih tampak dan terasa kebenaran al-Qur’an selaku petunjuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia.

Menurut Imam al-Zarkasyi sebab turunnya ayat al-Qur’an ada dua kemungkinan, yaitu: (a) adanya pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi Saw; dan (b) adanya peristiwa tertentu yang bukan dalam bentuk pertanyaan.

Sedangkan dalam istilah ‘ulum al-Qur’an, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama untuk memberikan batasan makna “Asbab al-Nuzul”. Diantaranya adalah:

(a)    Menurut ‘Abd al-‘Azim al-Zarqani:

هو ما نزلت الآية أو الآيات متحدثة عنه أو مبينة لحكمه أيام وقوعه

“Asbab al-Nuzul adalah sesuatu, yang satu ayat atau beberapa ayat turun dalam rangka berbicara tentangnya atau menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut”.

(b)   Menurut Dr. Subhi al-Shaleh:

ما نزلت الأية أو الآيات بسببه متضمنة له أو مجيبة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه

“Asbab al-Nuzul ialah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang memang mengandung peristiwa itu atau sebagai jawaban pertanyaan darinya atau sebagai penjelasan terhadap hokum-hukum yang terjadi pada saat terjadinya peristiwa tersebut”.

(c)    Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan:

ما نزل قرآن بشأنه وقت وقوعه كحادثة أو سؤال

“Asbab al-Nuzul adalah sesuatu yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengannya pada waktu terjadinya, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Saw”.

(d)   Adapun M. Quraish Shihab memperjelas pengertian “asbab nuzul al-Qur’an” dengan cara memilah peristiwanya. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “asbab nuzul al-Qur’an” adalah: (1) Peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat, di mana ayat tersebut menjelaskan pandangan al-Qur’an tentang peristiwa tadi atau mengomentarinya; (2) peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah turunnya suatu ayat, di mana peristiwa tersebut dicakup pengertiannya atau dijelaskan hukumnya oleh ayat tadi.

Meskipun berbagai definisi “asbab al-Nuzul” yang dikemukakan di atas tampak agak sedikit berbeda, namun secara substansial semuanya sepakat untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “asbab al-Nuzul” adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat. Dan ayat itu sendiri merupakan jawaban, penjelasan, dan penyelesaian dari pada permasalahan yang timbul dalam kejadian atau peristiwa tersebut.

“Asbab al-Nuzul” merupakan bahan-bahan sejarah yang mencakup peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya al-Qur’an (‘ashr al-Tanzil) yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-keterangan terhadap maksud dan pemahaman suatu ayat yang dilatarbelakanginya.

Bentuk-bentuk peristiwa yang melatarbelakangi turunnya al-Qur’an itu sangat beragam, diantaranya berupa: (a) konflik sosial, seperti ketegangan yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj; (b) adanya suatu kesalahan fatal atau kesalahan pandangan yang membutuhkan arahan dan teguran, seperti kasus salah seorang sahabat yang mengimami sholat dalam keadaan mabuk; (c) adanya kasus pencemaran nama baik, seperti yang dituduhkan kepada salah seorang Umm al-Mukminin Siti ‘Aisyah ra; (d) adanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad Saw, baik yang berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat, sedang, atau yang akan terjadi.

2. Pandangan Ulama Tentang Asbab alNuzul

Salah satu persoalan yang diperdebatkan dikalangan para ulama adalah apakah seluruh ayat al-Qur’an itu memiliki sebab yang melatarbelakangi turunnya atau tidak? Dalam menyikapi hal ini ada dua pandangan para ulama, yaitu:

Pertama, mayoritas ulama menilai bahwa tidak semua ayat al-Qur’an itu memiliki “asbab al-Nuzul”, sehingga ada ayat-ayat yang diturunkan dengan dilatarbelakangi oleh suatu sebab (ghair ibtida’), dan ada ayat-ayat yang diturunkan tanpa dilatarbelakangi oleh suatu sebab (ibtida’).

Kedua, sebagian mereka memandang bahwa seluruh ayat al-Qur’an itu pasti memiliki “asbab alNuzul” yang melatarbelakanginya, baik dalam skala mikro maupun makro. Riwayat-riwayat yang mengemukakan tentang “asbab alNuzul” suatu ayat merupakan sebab-sebab yang bersifat mikro; sementara kesejarahan bangsa Arab pra-Qur’an pada masa turunnya al-Qur’an merupakan latar belakang yang bersifat makro.

Disamping perbedaan dalam penetapan apakah seluruh ayat memiliki “asbab alNuzul” atau sebagian ayat saja, para ulama juga berbeda pandangan dalam menetapkan jarak waktu antara suatu peristiwa yang mendahului ayat yang turun. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa antara peristiwa dengan ayat yang turun, dapat berjarak dengan interval waktu yang relatif lama. Pendapat ini antara lain dianut oleh al-Wahidi dengan mengemukakan contoh surat al-Fil. Menurut al-Wahidi, surat ini turun karena peristiwa terjadinya penyerangan Ka‘bah oleh pasukan bergajah di bawah pimpinan Gubernur Abrahah. Berdasarkan realitas sejarah, penyerangan itu terjadi pada tahun Nabi Saw dilahirkan. Itu berarti, jarak waktu antara peristiwa yang terjadi dengan turunnya ayat sekitar 40 tahun. Sebagian ulama menyatakan bahwa jarak waktu antara peristiwa dengan ayat yang turun tidak boleh terlalu lama. Kelompok ini mengkritik pandangan sebelumnya dan membantah pernyataan al-Wahidi dengan menegaskan bahwa kedudukan peristiwa penyerangan Ka‘bah oleh tentara bergajah itu sama dengan kisah-kisah umat terdahulu, pembangunan Ka‘bah, dan kisah-kisah lainnya, yang bukan merupakan sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat, karena jarak waktunya dengan ayat yang turun lama sekali.

Para ulama juga berbeda pendapat dalam memandang suatu peristiwa selaku “sebab”, apakah peristiwa itu terbatas pada peristiwa yang mendahului turunnya ayat atau juga peristiwa yang menyusul turunnya ayat? Artinya apakah pernyataan “sebab” itu disematkan pada peristiwa yang mendahului turunnya ayat saja, ataukah juga pada peristiwa yang terjadi tidak lama setelah turunnya ayat? Pada umumnya, para ulama mengakui adanya ayat yang turun lebih dahulu dari suatu peristiwa yang tetap dipandang sebagai “asbab alNuzul” bagi ayat tersebut. Diantara contohnya adalah surat al-Balad yang merupakan kelompok surat makkiyah. Sementara kalimat “Wa anta hillun bi haza al-Balad” (وأنت حل بهذا البلد) dalam salah satu ayat dari surat tersebut menunjukkan kepada tinggalnya Nabi Saw beberapa saat di Makkah yang terjadi pada saat terjadi penaklukan kota Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-8 H. Ketika itu Nabi Saw menyatakan: أحلت لي ساعة من النهار (Saya telah diberi kesempatan tinggal di Makkah suatu saat di siang hari). Jarak waktu antara ayat dengan peristiwa tersebut cukup lama. Tetapi karena terjadiannya masih pada zaman Nabi Saw, maka tetap dapat dinyatakan sebagai “asbab alNuzul”; meskipun di sisi lain, tampaknya dapat dinyatakan bahwa ayat tersebut merupakan ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi yang dikemukakan oleh Rasulullah Saw sesuai petunjuk Allah SWT.

3. Urgensi Mengetahui Asbab alNuzul

Dalam menilai urgensi dan kegunaan mengetahui “asbab alNuzul”, terjadi perbedaan sikap dan pandangan diantara para ulama, yaitu:

a). Diantara mereka ada yang memandang bahwa mengetahui “asbab alNuzul” merupakan hal yang tidak penting dalam memahami al-Qur’an. Hal itu dikarenakan “asbab alNuzul” hanyalah bentuk sejarah penafsiran awal yang hanya berlaku pada saat turunnya al-Qur’an, dan tidak berlaku untuk saat-saat seterusnya. Pandangan ini tidak melihat “asbab alNuzul” sebagai salah satu instrumen penting dalam membantu upaya menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami al-Qur’an dengan meletakkan ke dalam bingkai konteks sejarah (historis) saat al-Qur’an diturunkan, berarti sama saja dengan membatasi pesan-pesan al-Qur’an itu sendiri dalam ruang dan waktu tertentu yang sangat terbatas dan sudah selesai. Hal itu dapat berdampak pada penyempitan makna pesan dan maksud kandungan ayat yang begitu luas dan kompleks, dan dapat mencabut keuniversalitasannya. Kelompok ini meyakini bahwa memahami al-Qur’an tidak perlu, bahkan tidak boleh dengan melihat konteks kesejarahan tertentu, termasuk konteks kesejarahan yang melingkupi saat-saat turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Pemahaman yang baik adalah yang bersifat dinamis dengan melepaskan ayat-ayat al-Qur’an dari ikatan-ikatan sejarah tertentu dan disesuaikan dengan konteks perkembangan zaman.

Diantara ulama yang ditengarai menganggap tidak terlalu penting pengetahuan tentang “asbab alNuzul” dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad ‘Abduh. Penilaian ini didasarkan atas pandangan Muhammad ‘Abduh yang tidak menyinggung keberadaan “asbab alNuzul” dalam prinsip-prinsip pokok penafsirannya. Dalam membangun konstruksi penafsirannya, Muhammad ‘Abduh berpegang kepada sembilan dasar, yakni: (1) Universalitas dan komprehensifitas al-Qur’an; (2) kesatuan tema dalam surat dan koherensi antar ayat-ayat al-Qur’an; (3) Memposisikan al-Qur’an sebagai sumber utama dalam syariat dan mengedepankannya atas pandangan para Fuqaha’ dan mazhabnya; (4) Anti terhadap sikap taklid (membeo) dan stagnan; (5) Mengerahkan segenap pandangan dan pikiran  serta menggunakan metode ilmiah dalam pembahasan dan pengistinbatan; (6) Mengedepankan otoritas rasio; (7) Tidak memaksakan diri untuk terlalu jauh dalam menentukan hal-hal yang bersifat umum (mubham) dalam al-Qur’an; (8) Menghindari Israiliyyat; dan (9) Membangun tatanan kehidupan sosial berdasarkan petunjuk al-Qur’an. Dari kesembilan dasar konstruksi penafsiraannya, tampak tidak sedikitpun Muhammad ‘Abduh menyinggung urgensitas kegunaan “asbab alNuzul” didalamnya.

Diantara tokoh yang dinilai tegas dalam memandang tidak pentingnya pengetahuan tentang “asbab alNuzul” dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad Husein al-Thabathaba’i. Dalam kitab “al-Qur’an fi al-Islam”, al-Thabathaba’i mengajukan tiga alasan untuk menunjukkan bukti kuat atas penilaiaannya ini, yaitu:

Pertama, Hadits-hadits yang berkaitan dengan “asbab alNuzul” tidak shahih, karena tidak ada yang mempunyai sanad;

Kedua, Periwayatan hadits-hadits tersebut tidak dilakukan secara berhadapan muka antara pemberi dan penerima riwayat, dan tidak juga dengan cara tahamul dan hapalan. Para perawi hanya mengaitkan suatu ayat dengan kisah-kisah tertentu. Jadi, pada hakikatnya “asbab alNuzul” hanyalah sebuah hasil ijtihad semata. Karenanya, banyak riwayat yang saling bertentangan; dan

Ketiga, Sampai akhir abad I Hijriyah, penulisan hadits masih tetap dilarang oleh Nabi Saw. Ketika itu orang-orang yang mengemukakan catatan hadits, segera dibakar catatannya. Akhirnya, periwayatan hadits tentang “asbab alNuzul” termasuk hanya dalam bentuk makna saja. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya perubahan kandungan hadits itu sendiri.

Dan diantara tokoh yang akhir-akhir ini memandang pengetahuan tentang “asbab alNuzul” tidak ada urgensitasnya dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad Syahrur. Dalam buku “Nahwa Ushul Jadidah”, Syahrur dengan gamblang menyatakan bahwa penafsiran saat ini tidak memerlukan asbâb al-Nuzûl. Sebab menurutnya, hal itu hanyalah bentuk sejarah penafsiran awal yang hanya berlaku pada saat turunnya al-Qur’an (abad ke-VII M), dan tidak berlaku untuk waktu dimana kita berada saat ini (abad ke-XXI).

b). Mayoritas ulama memandang bahwa pengetahuan tentang konteks kesejarahan yang melingkupi al-Qur’an pada masa-masa turunnya yang terkumpul dalam riwayat-riwayat “asbab alNuzul” merupakan salah satu hal yang signifikan dalam membantu upaya memahami maksud dan kandungan pesan-pesan al-Qur’an. Pandangan ini didukung oleh umumnya ulama-ulama klasik dan diikuti oleh kebanyakan ulama-ulama muta’akhkhirin sampai kontemporer.

Al-Wahidi misalnya, dengan tegas menyatakan ketidakmungkinan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tanpa mempertimbangkan aspek pengetahuan tentang kisah dan “asbab alNuzul” dari pada ayat-ayat tersebut (لا يمكن معرفة تفسير الآية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولـها).

Ibnu Taymiyah juga melihat kemestian untuk mempertimbangkan aspek “asbab alNuzul” dalam membantu pemahaman terhadap ayat. Karena pengetahuan tentang “sebab” pasti mengarah kepada pemahaman tentang “musabbab”nya (معرفة سبب النزول تعين على فهم الآية؛ فإن العلم بالسبب يورث العلم بالمسبب).

Pernyataan ini juga dikemukakakan oleh Ibnu Daqiq al-‘Id yang mengukuhkan bahwa penjelasan tentang “asbab alNuzul” merupakan jalan yang valid dalam memahami makna-makna al-Qur’an (بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني الكتاب العزيز). Demikian juga dengan Imam al-Sayuthi yang mengidentifikasi bahwa mengabaikan aspek “asbab alNuzul” dapat mengarah kepada kesulitan dalam memahami maksud ayat-ayat al-Qur’an seperti kasus yang dialami oleh Marwah bin al-Hakam ketika mencoba memahami maksud firman Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 188 yang berbunyi:

Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 188)

Kesulitan yang dihadapi oleh Marwan adalah pengertian dari pernyataan dalam ayat tersebut yang mengemukakan bahwa orang yang merasa gembira dengan apa yang telah diperbuatnya dan merasa senang dengan pujian atas perbuatannya tersebut akan berujung kepada siksaan Allah SWT yang amat pedih. Marwan mencoba memikirkan hubungan hal tersebut, namun dia tetap tak habis pikir bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Akhirnya Marwan menanyakan hal itu kepada Ibnu ‘Abbas ra. Ibnu ‘Abbas ra menjelaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan kasus orang-orang Yahudi yang ditanya oleh Rasulullah Saw, dan mengabaikan pertanyaan Rasulullah saw, bahkan menceritakan sesuatu yang tidak ditanyakan oleh Rasulullah Saw. Dengan sikap dan perbuatan yang demikian itu, mereka mengira akan menimbulkan respek Rasulullah Saw terhadap mereka. Dan mereka merasa gembira dengan hal tersebut. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Abbas ra yang mengemukakan “asbab alNuzul” dari ayat tersebut, maka Marwan al-Hakam dapat memahami maksud dari ayat yang tadinya terasa sulit untuk dipahami.

Pandangan ulama-ulama klasik ini juga didukung oleh ilmuwan dan pemikir kontemporer yang  mengkaji secara intensif tentang diskursus-diskursus ke-Qur’an-an, seperti Muhammad ‘Abdullah Diraz, Fazlurrahman dan Nashr Hamid Abu Zaid. ‘Abdullah Diraz menyatakan dalam buku “Hashshad Qalam” bahwa tidak mungkin bagi siapapun untuk membatasi maksud ucapan seorang pembicara atau mengarahkannya kepada satu bentuk makna tertentu, tanpa melihat kepada tanda-tanda dan indikator-indikator yang menunjukkan kepada maksud dan makna tersebut. Dan diantara tanda-tanda dan indikator itu, ada yang bersifat tekstual (maqali), ada yang bersifat situasional dan kondisional (hali), ada yang melekat dengan ungkapannya (internal), dan ada yang terpisah di luar ungkapan tersebut (eksternal). Dan pengetahuan tentang “asbab alNuzul” dari suatu ayat mencakup pemahaman tentang tanda-tanda dan indikator yang tidak terdapat dalam teks tersebut secara verbal. Mengabaikan aspek pengetahuan tentang tanda-tanda dan indikator ini dapat menghalangi seseorang dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena pemahaman tentang tanda-tanda dan indikator dapat memberikan rincian dari penjelasan yang bersifat global sekaligus menghilangkan kepelikan yang melingkupi teks itu sendiri sebagaimana tampak dalam kasus ayat-ayat yang dinilai kontras, ambigu, dan musykil.

Adapun Fazlurrahman menggambarkan al-Qur’an sebagai puncak dari sebuah gunung es; dimana sembilan persepuluh bagiannya terendam di bawah perairan sejarah, dan hanya sepersepuluh yang tampak terlihat. Rahman menegaskan bahwa sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi sejarah tertentu, yang mendapat solusi, komentar, dan atau tanggapan dari al-Qur’an. Dalam buku “Islam and Modernity”, Rahman kembali menegaskan bahwa “asbâb al-Nuzûl”; baik dalam skala mikro maupun makro tetap dipandang sebagai informasi historis yang harus diketahui dan dijadikan pertimbangan dalam penafsiran. Penegasan Rahman ini juga dikemukakan oleh Nashr Hamid Abu Zaid. Dalam kitab “Mafhum al-Nash”, Abu Zaid menegaskan bahwa “asbab alNuzul” disamping dipandang selaku informasi historis atau data-data sejarah, juga harus tetap dijadikan sebagai suatu pertimbangan dalam penafsiran al-Qur’ân.

Kelompok yang memandang sangat pentingnya pengetahuan tentang “asbab alNuzul” dalam memahami al-Qur’an mengemukakan beberapa bentuk kegunaannya, diantaranya yaitu:

(1) Membantu dalam memahami pesan ayat-ayat al-Qur’an sekaligus cara efektif dalam mengatasi kesulitan untuk menangkap maksudnya (thariq daf‘i isykal al-Qur’an), sehingga terhindar dari kesalahan fatal dalam menafsirkannya; sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad ra dan al-Nasa’i tentang kasus yang dialami oleh Qudamah bin Mazh‘un yang salah dalam memahami maksud firman Allah SWT dalam ayat 93 surat al-Maidah [5]. Ketika Sayyidin ‘Umar ra menugaskan Qudamah bin Mazh‘un di Bahrain, maka menghadaplah kepada Khalifah ‘Umar ra seorang yang bernama Jarud yang melaporkan kebiasaan Qudamah bin Mazh‘un yang masih suka minum khamar sampai mabuk-mabukan. ‘Umar berkata: “Apakah kamu mempunyai saksi yang menguatkan laporanmu?”, Jarud menjawab: “Ada saksi laporanku, yaitu Abu Hurairah”. ‘Umar lalu mengatakan kepada Qudamah bin Mazh‘un: “Jika begitu aku harus mencambukmu wahai Qudamah”. Qudamah bin Mazh‘un membela diri dengan mengatakan: “kenapa engkau mau mencambukku? Padahal ada ayat al-Qur’an yang menjadi peganganku”. Umar bertanya: “ayat manakah dalam al-Qur’an yang membelamu sehingga aku tidak perlu mencambukmu?”. Qudamah menjawab: “Bukankah Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh dikarenakan memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. al-Maidah [5]: 93); dan bukankah aku juga termasuk orang yang beriman yang dimaksudkan dalam ayat tersebut? Bukankan aku juga orang yang tetap bertakwa dan berbuat kebaikan dengan ikut bersama Rasulullah Saw dalam peperangan Badar, Uhud, Khandaq, dan peperangan-peperangan lainnya?”. ‘Umar ra berkata kepada para hadirin: “Apakah diantara kalian tidak ada yang mau membantah ucapan Qudamah?”. Ibnu ‘Abbas ra berkata: “ayat tersebut dan rentetannya diturunkan sebagai bentuk penegasan pemberian maaf bagi orang-orang mukmin yang suka meminum khamar dan menkonsumsi makanan yang saat itu belum diharamkan, sekaligus sebagai dalil kuat (terhadap kejahatan) orang-orang yang tetap mengkonsumsinya setelah hal tersebut dilarang sebagaimana firman Allah SWT: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. al-Maidah [5]: 90). Kemudian Ibnu ‘Abbas ra membacakan ayat lain yang tegas mengemukakan pengharaman khamar, dan mengatakan: “siapapun yang merasa sebagai orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh serta betakwa, beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan; maka ketahuilah bahwa Allah SWT telah melarang mereka untuk mengkonsumsi khamar”. ‘Umar ra berkata: “Sungguh benar engkau wahai Ibnu ‘Abbas”. Demikianlah, satu bentuk kesalahan dalam memahami teks al-Qur’an yang disebabkan karena ketidaktahuan tentang latar belakang turunnya ayat. Dan setelah latar belakang dikemukakan, akhirnya pemahamannyapun menjadi jelas.

 (2) Mengatasi keraguan dalam ayat yang diduga mengandung pengertian umum, seperti pengertian ayat 145 surat al-An‘am [6]:

Artinya: “Katakanlah: “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (Q.S. al-An‘am [6]: 145)

Imam al-Syafi‘i ra menegaskan bahwa pesan dalam ayat ini tidaklah bersifat umum, namun didalamnya ada ketentuan pembatasan (al-hashr). Pemahaman ini akan tampak secara jelas dengan merujuk kepada “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat. Menurut al-Syafi‘i ra, ayat ini diturunkan berkenaan dengan pandangan orang-orang kafir yang tidak mau mengkonsumsi suatu makanan, kecuali apa yang telah mereka sendiri halalkan. Karena sikap mengharamkan apa yang Allah SWT halalkan dan menghalalkan apa yang Allah SWT tentukan keharamannya merupakan kebiasaan orang-orang kafir, termasuk orang Yahudi, maka turunlah ayat tersebut. Ayat itu tidaklah dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa selain dari apa yang disebut dalam ayat, dengan sendirinya hukumnya menjadi halal semua. Karena penekanan dalam ayat ini tidak terletak pada kehalalan sesuatu, namun keharamannya.

Karena kesalahan dalam memandang sisi keumumuan cakupan ayat ini, sering mengarah kepada kesalahan fatal dalam memahami dan menarik suatu kesimpulan hukum. Padahal jika dirujuk kepada “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat, akan tampak adanya ketentuan pembatasan cakupan ayat yang dipandang umum tersebut. Hal inilah yang menyebabkan kesalahan kelompok Khawarij dalam menghukumi para pelaku dosa besar dari kalangan kaum Mukmin selaku orang-orang yang akan kekal dalam siksa neraka. Kesalahan ini berawal dari kekliruan cara pandang mereka terhadap ayat-ayat yang mengemukakan ancaman (al-wa‘ id). Mereka menetapkan ayat-ayat tersebut berlaku secara umum. Padahal berdasarkan realitas “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya, ayat-ayat tersebut dialamatkan kepada orang-orang kafir. Namun kerena mereka tidak mengetahui “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat, mereka menggeneralisir pengertiannya dan memberlakukan hukumnya secara umum, termasuk orang-orang Mukmin.

(3) Memberikan petunjuk tentang adanya ayat-ayat tertentu yang memiliki kekhususan hukum tertentu, sebagaimana pemahaman yang dikemukakan oleh kalangan yang mengedepankan bahwa yang menjadi pegangan adalah “sebab yang bersifat khusus”, bukan bentuk “keumuman lafaz” (العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ). Berdasarkan ini, maka ayat “zhihar” dalam permulaan surat al-Mujadalah [58] yang diturunkan berkenaan dengan kasus yang terjadi pada sahabat Aus bin Shamit yang men-zhihar istrinya Khaulah binti Hakim bin Tsa‘labah, hanya berlaku bagi kedua orang tersebut. Hukum zhihar yang berlaku bagi selain keduanya ditentukan melalui jalan qiyas (analogi), karena adanya kesamaan dalam ‘illat-nya.

(4) Membantu dalam mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat dan menghindarkan kesalahan dalam menentukan pelaku tersebut, seperti dalam kasus Marwan yang menunjuk ‘Abd al-Rahman bin Abu Bakar ra selaku orang yang menyebabkan turunnya ayat 17 surat al-Ahqaf [46] yang berbunyi:

Artinya: “Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (Q.S. al-Ahqaf [46]: 17)

Marwan menganggap bahwa ‘Abd al-Rahmanlah orang yang mengatakan “Cis“ (uffin) kepada kedua orang tuanya; sehingga ayat tersebut turun untuk menegurnya. ‘Aisyah membantah kekeliruan anggapan Marwan dan meluruskannya seraya menegaskan: “Demi Allah bukan dia yang menyebabkan ayat itu turun, dan aku bisa menyebutkan kepadamu siapa orang yang sebenarnya”.

(5) Membantu dalam memudahkan penghapalan dan peresapan kandungan makna ayat ke dalam hati orang yang memperhatikannya. Sebab, hubungan sebab-akibat (musabbab), hukum, peristiwa, pelaku, masa, setting, dan latar merupakan satu jalinan yang bisa mengikat dan membekas di hati.

(6) Memudahkan dalam mengidentifikasi gejala-gejala moral dan sosial yang terjadi dikalangan masyarakat Arab pada masa turunnya al-Qur’an (‘ashr al-Tanzil), dan bagaimana sikap dan cara al-Qur’an dalam mentransformasikan gejala tersebut sehingga sejalan dengan pandangan dunia dan petunjuknya. Hal ini tentu, dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam dalam mengidentifikasi, dan menangani berbagai problema yang mereka hadapi.