Menyingkap Misteri Maryam (2)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Republika, Sabtu, 07 Juli 2012

Akibat kekeliruan dilakukan Hawa/Maria maka kaum perempuan dinyatakan menanggung 10 macam kutukan, yaitu:

  1. Perempuan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya Hawa tidak pernah mengalaminya di surga.
  2. Perempuan yang pertama kali melakukan persetubuhan mengalami rasa sakit.
  3. Perempuan mengalami penderitaan dalam mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian, kebersihan, dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risi manakala pertumbuhan anak-anaknya tidak seperti yang diharapkan.
  4. Perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.
  5. Perempuan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur tua.
  6. Perempuan merasa sakit pada waktu melahirkan.
  7. Perempuan tidak boleh mengawini lebih dari satu laki-laki.
  8. Perempuan masih ingin merasakan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi.
  9. Perempuan sangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepadanya.
  10. Perempuan lebih suka tinggal di rumah.

Bandingkan juga dengan Kitab Kejadian [3]: 15 yang sering dianggap sebagai the protoevangelium:
“Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu (benihmu) dan keturunannya (benihnya); keturunannya (benihnya) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Kalangan teolog Kristen sering mempertentangkan atau memperhadap-hadapkan antara figur Hawa dan Maryam, namun ada juga yang menganggap Hawa dan Maryam adalah sepasang perawan yang saling melengkapi.
Jika Hawa yang muncul dari Adam menjadi simbol kejatuhan manusia, maka Maria perawan suci yang melahirkan Nabi Isa adalah simbol kemenangan dan keterangkatan manusia ke langit atas.
Melalui simbol kesucian dan kasih sayang Maryam, maka manusia akan menguasai dosa yang diwariskan oleh simbol Hawa, sang pembawa bencana dengan kekuatannya sebagai penggoda (tempter).

Menyingkap Misteri Maryam (1)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Republika, Jumat, 06 Juli 2012

Dalam literatur Islam, baik klasik maupun kontemporer, misteri Maryam masih sangat langka dibahas. Kitab-kitab Tafsir pun jarang menyingkap lebih jauh siapa sesungguhnya Maryam.
Padahal, di dalam Alquran, Maryam dijadikan sebagai sebuah nama surah dengan 98 ayat. Maryam lebih banyak dijelaskan sebagai ibunda Nabi Isa AS—nabi yang lahir tanpa bapak.
Peristiwa hamilnya Maryam tanpa pernah disentuh laki-laki cenderung diselesaikan dengan menyerahkan kepada kemahakuasaan Allah SWT, padahal ada sejumlah ayat menyatakan proses dan peran malaikat Jibril, seperti:
“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 17-19).
Dalam tulisan ini tidak akan dikaji sudut pandang biologis Maryam dengan proses dan peran Jibril yang kemudian melahirkan Nabi Isa, akan tetapi tulisan ini akan mengkaji sudut pandangan esoteris kehadiran Maryam yang kemudian melahirkan Nabi Isa As.
Dalam pandangan esoteris, Maryam merupakan simbol orisinalitas kesucian (the original holiness) kebalikannya Hawa yang merupakan simbol orisinalitas dosa (the original sin). Maryam dan Hawa simbol dari sepasang karakter feminin.
Hawa menjadi simbol kejatuhan anak manusia ke bumi kehinaan dan Maryam menjadi simbol kenaikan anak manusia ke langit kesucian. Karena Hawa menggoda suaminya, Adam, maka anak manusia jatuh ke lembah kehinaan dan karena sang perawan suci Maryam melahirkan Nabi Isa, maka manusia diangkat kembali ke langit, kampung halaman pertama manusia.
Di dalam tradisi Talmud Babilonia, semacam kitab tafsir Taurat (Perjanjian Lama), Hawa dinyatakan sebagai penyebab dari segala sumber kehinaan dan malapetaka kemanusiaan sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Eruvin pasal 100 b.

 

APA YANG SALAH DALAM BERAGAMA KITA?

M. Quraish Shihab

I. PENDAHULUAN.

       “Indonesia 58 tahun. Apa yang salah dalam beragama kita?” Begitu tema yang tercantum dalam Kerangka Acuan Sarasehan . Suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

       Pertanyaan tersebut penulis pahami sebagai upaya mencari apa yang salah dalam pemahaman dan praktik keberagamaan kita, sehingga kita sebagai bangsa mengalami apa yang kita alami dewasa ini. Padahal kita mengaku sebagai masyarakat religus dan meyakini bahwa agama dan keberagamaan mengantar para pemeluknya hidup berdampingan dengan penuh kedamaian, rukun, tertib, serta sejahtera lahir dan batin.

 II. AGAMA DAN KEBERAGAMAAN.

           Untuk menjawab pertanyaan di atas, agaknya terlebih dahulu kita perlu mengetahui apakah “Agama“ dan “bagaimana  beragama itu?”  Dua pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh ilmuan.

        “Apakah Agama?” Jangankan definisinya, makna asal kata ini pun diperselisihkan para pakar. Ada yang berkata kata tersebut terambil  dari bahasa Sansekerta, yang terdiri dari kata  “A” yang berarti “tidak”  dan “gama”  yang berarti  “kacau”.  Agama adalah peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan serta mengantar mereka hidup dalam ketertiban dan keteraturan. Ada lagi yang berkata ia  berasal dari bahasa Indo-Germania, yang darinya lahir kata  “go” dalam bahasa Inggris, atau  “gaan” dalam bahasa Belanda, dan  “gein”  dalam bahasa Jerman yang kesemuanya mengacu ke makna “jalan”. Penambahan huruf “A” pada awal kata itu menjadikannya  sebagai kata benda sehingga “agama” adalah “jalan” yang mengantar pemeluknya  menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Di Indonesia, secara umum kita mengenal kata “Agama”,  walau di Bali dikenal istilah “Agama”, “Igama”, dan “Ugama”. Agama menurut istilah ini mencerminkan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Penguasa, Igama adalah yang mengatur hubungan dengan tuhan/ dewa-dewa, misalnya sembahyang. Sedang Ugama adalah ketentuan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.  Di Singapura dan Malaysia, kata yang digunakan adalah  Ugama  dalam arti agama dalam bahasa Indonesia.

      Sebagian pakar Muslim Indonesia memperoleh  kesan bahwa kata  “agama”   sejalan dengan bahasa Arab “aqama” (أقام ) yang dalam dialek bahasa Arab Hadhramaut Selatan  di Jazirah Arabia,  diucapkan “agama”,  yang maknanya adalah “menetap”. Makna kebahasaan “agama” menurut pendapat ini  adalah “menetap”. “Beragama Islam” berarti “menetap di dalam Islam”.  Kalau hanya sekali-sekali melaksanakan tuntunan Islam, maka yang bersangkutan tidak dapat dinamai “beragama Islam”.

      Kata Dîn dalam bahasa Al-Quran, seringkali dipersamakan dengan  kata agama.    Kata tersebut terdiri dari tiga huruf hija’iyah  yaitu  dâl, yâ’,  dan nûn.  Bagaimanapun cara anda membacanya, maknanya selalu menggambarkan hubungan antara dua pihak, yang satu lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Seperti  dain  yang berarti  utang, atau  dîn  yang berarti balasan  dan kepatuhan,  serta  hubungan antara manusia  dengan Allah swt.. Dalam hubungan dengan Tuhan, tentu saja Dia-lah Yang Maha Tinggi dan manusia di tempat yang rendah.

     Dalam  bahasa Inggris ditemukan kata “religion”  yang juga biasa diterjemahkan dengan “agama”.  Dalam beberapa kamus bahasa Inggris kata tersebut diartikan sebagai belief in the existence of a supernatural ruling power , the creator and controller of the universe who has given to man a spiritual nature which continues to exist after the death of the body. 

     Memang kita dapat berkata bahwa kepercayaan tentang wujud supranatural, Pencipta dan Pengatur alam raya, serta adanya kehidupan setelah kematian merupakan unsur utama  agama, namun itu bukan segalanya, bahkan  boleh jadi sementara ajaran yang juga dinamai agama tidak menekankan tentang wujud Tuhan¾seperti dalam agama Buddha misalnya. Kaum musyrik Mekkah pun tidak percaya adanya hari kebangkitan, tetapi Al-Quran menamai pandangan hidup mereka sebagai  agama sebagaimana terbaca dalam firman-Nya  Lakum Dînukum Wa Liya Dîn(y).  (Q.S. Al-Kafirûn [109] : 6).

Oleh karena itu, merumuskan definisi agama pun tidak mudah¾kalau tidak dikatakan “mustahil” ¾bagi ilmuan, yang ingin memberi batasan yang tepat dan menyuluruh. Lebih-lebih lagi jika kita menyetujui pandangan filosof Inggris, John Locke ( 1632-1704 M.), yang menyatakan bahwa “Agama  bersifat khusus, pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi selainku, memberi aku petunjuk, jika jiwaku sendiri enggan menerima petunjuk itu.”

     Memang, sebagian pakar telah berusaha menggambarkannya. “Agama adalah     pengetahuan tentang Tuhan  dan upaya meneladani-Nya,” kata Seneque ( 2-66 M).

“Agama adalah pengabdian kemanusiaan,” kata Auguste Comte (1798-1857 M).   “Agama adalah sekumpulan petunjuk Ilahi yang disampaikan melalui nabi /rasul untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia dan mengantar penganutnya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” demikian tulis Mahmud Syaltut ( 1960 M). “Beragama  adalah  menjadikan semua kewajiban kita adalah perintah-pertintah Tuhan yang suci dan harus dilaksanakan,” begitu menurut Immanuel Kant (1724-1804 M).

       Begitulah yang terbaca. Masing-masing hanya mampu  menggambarkan satu atau beberapa sisi dari makna atau definisi agama, dan demikian juga  terlihat keragaman pandangan para pakar.

     Dalam rangka menjawab pertanyaan di atas mungkin tidak keliru kiranya kalau   dikatakan bahwa  agama adalah hubungan yang dirasakan antara jiwa  manusia dan satu kekuatan yang Maha Dahsyat, dengan sifat-sifat-Nya yang amat indah dan sempurna, dan mendorong jiwa itu untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pengabdian itu dilakukan baik karena takut maupun karena berharap memperoleh kasih-Nya yang khusus, atau bisa juga karena dorongan kagum dan cinta. Jika demikian, untuk bisa disebut “beragama”, maka paling tidak ada tiga hal yang harus terpenuhi.

     Pertama: Merasakan dalam jiwa tentang kehadiran  satu kekuatan  yang Maha Agung, Yang mencipta  dan mengatur alam raya. Kehadiran-Nya itu bersifat sinambung, bukan saja pada  saat seseorang berada di tempat suci, tetapi setiap saat, baik ketika manusia sadar, maupun saat ia terlena atau tidur; saat ia hidup di dunia ini, maupun setelah kematiannya.

       Kedua: Lahirnya dorongan dalam hati untuk melakukan hubungan dengan kekuatan tersebut, suatu hubungan yang terpantul dalam ketaatan melaksanakan apa yang diyakini sebagi perintah atau kehendak-Nya, serta menjauhi larangan-Nya

     Ketiga: Meyakini bahwa Yang Maha Agung itu Maha Adil, sehingga pasti akan memberi balasan dan ganjaran sempurna pada waktu yang ditentukan-Nya. Dengan kata lain, keyakinan ini merupakan cerminan kepercayaan tentang adanya hari pembalasan, hari kemudian.

III. APA YANG SALAH ?

      Agaknya terdapat kesalahan dalam ketiga unsur pokok keberagamaan  yang disimpulkan di atas.

      1). Kita belum mengenal siapa Tuhan, apalagi mampu meneledani-Nya, sesuai kemampun kita sebagai makhluk. Kita diberi potensi oleh-Nya untuk mengenal dan meneladani-Nya, tetapi jangankan meneladani-Nya, mengenal sifat-Nya yang paling dominan pun belum. Berapa banyakkah di antara kaum Muslim yang memahami arti Rahmân dan Rahîm yang sering diterjemahkan Maha Pengasih lagi  Maha Penyayang?   Rahmân  adalah pelimpah kasih sempurna di dunia bagi semua makhluk termasuk binatang dan manusia durhaka, dan Rahîm adalah  Pelimpah kasih di akhirat bagi  yang taat.

       Tuhan Maha Pemaaf, atau paling tidak menangguhkan siksa, untuk memberi kesempatan kepada pendurhaka melakukan introspeksi, tetapi kita sering kali dengan cepatnya mengutuk dan menghukum orang yang “dianggap” durhaka. Tuhan memberi manusia kebebasan memilih, tetapi kita tidak meneladani-Nya dan malah memaksa pihak lain sehingga kita seperti lebih bersemangat dari Tuhan atau ingin menandingi-Nya.

      Sebelum  Nabi Muhammad saw.,  mengajarkan bagaimana hukum-hukum keagamaan, beliau terlibih dahulu memperkenalkan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang indah.  Dia adalah Rab/ Tuhan Pemelihara,  Dia  adalah Pencipta alam semesta, dan  Dia adalah  al-Akram/ Maha Pemurah.  Itulah yang pertama kali diperkenalkan dalam wahyu pertama. Tuhan dilukiskan dalam sifat kemurahan-Nya itu sebagai : “Yang Maha Pemurah dengan pemberian-Nya, Maha luas dengan anugerah-Nya,  Dia yang bila berjanji, menepati janji-Nya, bila memberi melampaui batas harapan pengharap-Nya. Tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia  memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang  dimohonkan kepada selain-Nya. Dia yang bila “kecil hati “, menegur tanpa berlebih. Tidak mengabaikan  siapa pun yang berlindung kepada-Nya. Dia yang bergembira dengan diterimanya anugerah-Nya, serta yang memberi sambil memuji yang diberi-Nya, Dia bahkan  memberi siapa yang mendurhakai-Nya  Sungguh indah sifat yang satu ini.  Demikian juga sifat-sifat lain-Nya.

     Kehadiran Tuhan dalam kehidupan sebagian kaum beragama, baru terasakan ketika berada di tempat-tempat peribadatan. Ini pun boleh jadi asumsi yang berlebihan. Adapun kehadiran-Nya di luar itu, maka agaknya jauh  panggang dari api, jauh harapan dari kenyataan yang umum.

        Ini hal pertama yang harus diluruskan dalam kehidupan beragama kita, dan itu dimulai dengan mengenal dan memperkenalkan-Nya kepada peserta didik dan masyarakat kita, agar mereka mau meneladani-Nya.

    2). Dalam hal mematuhi ketentuan-ketentuan-Nya, kita sering kali lupa bahwa ketentuan-ketentuan-Nya adalah sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Ia juga bisa menjadi media pemeliharaan diri dari dosa dan pelanggraan sekaligus prasyarat bagi lahirnya kemaslahatan pribadi dan masyarakat. Ketentuan-ketentuan itu memiliki bentuk formal yang tidak boleh diabaikan, tetapi pada saat yang sama memiliki substansi yang harus selalu menyertainya. Tanpa substansi itu, maka pelaksanaan perintah-Nya tidak memberi bekas di dalam jiwa. Shalat, misalnya, dalam pandangan hukum agama adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tetapi ia juga memiliki substansi yang bila diabaikan, maka pelakunya terancam dengan kecelakaan (Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lengah terhadap (substansi) shalat mereka  (Q.S.al-Mâ’ûn  [107] : 4.).  Substansi shalat adalah perwujudan makna kelemahan manusia dan kebutuhannya kepada Allah. Substansi itu juga menggambarkan keagungan dan kebesaran-Nya, yang jika bisa bergabung dalam jiwa manusia, ia memperoleh kekuatan yang bersumber dari-Nya     Kalau substani shalat seperti itu adanya, wajarkah manusia bermuka dua ketika melakukannya? Mereka yang berbuat demikian berarti tidak menghayati arti shalatnya dan lalai dari tujuannya.

      Yang melaksanakan shalat adalah mereka yang butuh kepada Allah serta mendambakan bantuan-Nya, -karen shalat berarti doa – kalau demikian wajarkah yang butuh ini, menolak membantu sesamanya yang butuh, apalagi jika ia memiliki kemampuan? Tidakkah ia mengukur dirinya dan kebutuhannya kepada Tuhan ?  Jika ia enggan memberi pertolongan, maka pada hakekatnya ia tidak menghayati arti dan tujuan shalat, seperti yang diuraikan diatas.

        Kita seringkali menduga bahwa hanya yang tidak melaksanakan tuntunan-Nya yang berkaitan dengan ibadah ritual yang dinilai tidak beragama, padahal secara tegas dinyatakan dalam kitab suci Al-Quran bahwa:  

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?Itulah dia yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.  Q.S. al-Ma’un  [107 : 1-2-3].

      Mungkin penjelasan ayat di atas tentang siapa yang mendustakan agama mengagetkan sebagian orang, karena selama ini yang populer dari pengertian tidak beragama bukan seperti itu, tetapi apa yang dinyatakan ayat itulah  salah satu  hakikat dan substansi yang terlupakan.

      Hakikat pembenaran agama bukannya ucapan dengan lidah , tetapi ia adalah  perubahan positif dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap saudara-saudara sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan. Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang hanya dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya nyata, yang membenarkan kalimat yang diucapkan itu, sebab kalau tidak, maka itu semua hampa tidak berarti dan tidak dipandang-Nya

       Ayat di atas, menegaskan hakikat persoalan dari sudut pandang dan penilaian Tuhan. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa kewajiban  dan tuntunan agama yang ditetapkan Allah, sedikit pun tidak bertujuan kecuali untuk kemaslahatan seluruh makhluk, khususnya ummat manusia. Allah menghendaki di balik kewajiban dan tuntunan itu  keharmonisan hubungan antar seluruh makhluk-Nya demi kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

      Kesalahan kita dalam bidang ini adalah terlalu memperhatikan sisi formal dan melupakan substansi, bahkan yang lebih salah lagi adalah sebagian kita menjadikan hukum-hukum agama sebagai Tuhan, sehingga mungkin tidak keliru jika ada yang menyatakan bahwa:”Kita telah menciptakan berhala baru, dan menempatkannya sebagai Tuhan.” Berhala baru itu adalah hukum-hukum formal agama. Dan yang lebih buruk lagi adalah bahwa tuhan  itu  tidak menyadang sifat kasih dan sangat otoriter. Atas namanya  kita seenaknya   menjatuhkan sanksi, padahal Tuhan Yang berhak disembah memberi toleransi.

      Kitab suci Al-Quran menegaskan bahwa:

Allah menghendaki kemudahan buat kamu dan tidak mengehendaki kesulitan (Q.S. al-Baqarah  [2]:185), dan

  Dia sekali-kali tidak menjadikan buat kamu dalam soal agama sedikit kesempitan  (Q.S.  al-Haj  [22] :78).

 Tetapi sebagian kemudahan yang dianugerahkan itu kita pesempit. Kita menuntut atas nama hukum agama bahwa ketetapan hukum  harus  dilaksanakan apapun dan bagaimanapun situasi yang dihadapi. Padahal  rumus agama menyatakan: “Apabila sesuatu telah menyempit, maka ia menjadi mudah” ( yakni dengan dibolehkan sesuatu yang tadinya terlarang).

  3). Dalam hal kepercayaan tentang adanya hari kemudian, terasa bahwa kita seringkali melupakannya. Yang dipercaya hanya  yang di sini dan kini (yang  sekarang). Tidak ada kata sebentar apalagi hari esok, sehingga lahirlah dalam kehidupan sebagian di antara kita “budaya mumpung”.  Satu sikap yang sepenuhnya bertentangan dengan kepercayaan tentang adanya hari esok, yang dekat dan jauh.

  IV. PENUTUP.

         Melihat kenyataan yang ada di masyarakat, maka  asumsi yang menyatakan bahwa “Kita adalah masyarakat religus,” agaknya merupakan sesuatu yang perlu ditinjau kebenarannya.  Yang terlibat secara serius dalam upaya mensosialisasikan nilai-nilai agama atau yang memperaktikkannya sungguh sangat minim jika dibandingkan dengan mereka yang mensosialisasikan nilai-nilai buruk. Salah satu yang dapat dijadikan tolok ukur adalah media massa kita. Perhatikanlah apa yang ditayangkan dan informasi yang disebarluaskan, lalu tanyakanlah rating masing-masing. Memang masih terlalu banyak kesalahan kita, sehingga wajar jika krisis yang kita alami belum kunjung teratasi. Wa Allâh-u A‘lam.[]



[1] Makalah disampaikan  pada   Sarasehan yang diselenggaran oleh Badan Interaksi Sosial Masyarakat dengan thema  “Indonesia 58 tahun, apa yang salah kita dalam beragama “ yang diselanggarakan pada tanggal 30 Agustus 2003.

Ulumul Qur’an 1

  1. Pengertian Ulum al-Qur’an

Pembahasan tentang ‘Ulum al-Qur’an harus ditinjau dari sisi kata-kata yang merangkai kalimatnya. Ungkapan “’Ulum al-Qur’an” berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas dua suku kata, yaitu ”’Ulum” dan “al-Qur’an”. Kata “’Ulum” merupakan bentuk jamak (plural) dari kata tunggal “ilmu’. Kata “ilmu” dapat diartikan dengan salah satu dari tiga makna dasarnya, yaitu:

(a) Masalah-masalah yang telah ditetapkan dalam lingkup rumusan satu disiplin pengetahuan tertentu;

(b) Pengetahuan atau pemahaman tentang masalah-masalah yang telah ditetapkan tersebut secara mantap dan meyakinkan; dan

(c) Kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang dihasilkan melalui kajian mendalam terhadap masalah-masalah tersebut.

Dari ketiga makna dasar di atas, yang dimaksudkan dengan kata “ilmu” disini adalah pengertian pertama, yakni sejumlah masalah atau materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau suatu tujuan tertentu.

Sementara kata “al-Qur’an” menurut bahasa berarti: (a) semakna dengan lafaz “qira’ah” yang berarti bacaan; (b) kumpul dan berhimpun menjadi satu (al-jam‘ wa al-dhamm); dan (c) bukti (qarinah).

Dan menurut istilah, ada beberapa definisi “al-Qur’an” yang dikemukakan, diantaranya adalah:

(a)    Menurut Dr. Yusuf al-Qasim

القرآن هو الكلام المعجز المنزل على النبي المكتوب في المصاحف المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته

 Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, ditulis dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir, dan membacanya memiliki nilai ibadah”.

 (b)   Menurut Syeikh Ali al-Shabuni:

القرآن هو كلام الله المعجز المنزل على خاتم الأنبياء والمرسلين بواسطة الأمين جبريل عليه السلام المكتوب في المصاحف المنقول إلينا بالتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة والمختوم بسورة الناس

Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul, melalui perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya memiliki nilai ibadah, (disusun secara sistematis) mulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas”.

 (c)    Menurut Dr. Bakri Syeikh Amin:

القرآن هو كلام الله المعجز المنزل على خاتم الأنبياء والمرسلين بواسطة الأمين جبريل عليه السلام المكتوب في المصاحف المحفوظ في الصدور المنقول إلينا بالتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة والمختتم بسورة الناس

Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul, melalui perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, dihafal di dalam dada, disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya memiliki nilai ibadah, (disusun secara sistematis) mulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas”.

Dr. Bakri Syeikh Amin menegaskan bahwa definisi inilah yang disepakati oleh para ulama umumnya dengan para ulama Ushul.

 (d)   Menurut ‘Abd al-Wahhab Khalaf:

القرآن هو كلام الله الذي نزل به الروح الأمين على قلب رسول الله محمد بن عبد الله بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة للرسول على أنه رسول الله، ودستورا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته؛ وهو المدون بين دفتي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا بالتواتر كتابة ومشافهة جيلا عن جيل محفوظا من أي تغيير أو تبديل

 “Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang dibawa turun oleh al-Rûh al-Amin ke dalam hati sanubari Rasulullah Muhammad saw secara bersamaan antara lafaz dan maknanya, sebagai bukti yang mengukuhkan kebenaran Rasulullah saw selaku utusan Allah dan (untuk dijadikan) sebagai pedoman bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar, dan membacanya merupakan perbuatan ta‘at yang bernilai ibadah. Semua firman itu terhimpun dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fatihah dan di tutup dengan surat al-Nas, diriwayatkan secara mutawatir dari satu generasi ke generasi yang lain melalui tulisan dan lisan, serta tetap terjamin keaslian dan keutuhannya dari segala bentuk perubahan, pertukaran, atau penggantian”.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, meski diungkapkan dengan berbagai redaksi namun mengacu kepada inti pemahaman yang sama. Namun, disini terlihat bahwa definisi yang diungkapkan oleh ‘Abd al-Wahhab Khalaf lebih lengkap dan mencakup pengertian definisi-definisi lainnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ungkapan “’Ulum al-Qur’an” secara bahasa, adalah ilmu-ilmu (pembahasan-pembahasan) yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Sedangkan menurut istilah, ada beberapa definisi “’Ulum al-Qur’an” yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya adalah:

  1. Menurut Imam al-Suyuthi:

علم يبحث فيه عن أحوال الكتاب العزيز من جهة نزوله وسنده وآدابه وألفاظه ومعانيه المتعلقة بالأحكام وغير ذلك

 Artinya: “Suatu ilmu yang membahas tentang berbagai keadaan kitab suci Al-Qur’an, dari sisi turun, sanad, adab, lafaz, makna-maknanya yang berkaitan hukum, dan hal lainnya”.

  1. Menurut Syeikh ‘Abdul ‘Azim al-Zarqani:

مباحث تتعلق بالقرآن الكريم من ناحية نزوله وترتيبه وجمعه وكتابته وقراءته وتفسيره وإعجازه وناسخه ومنسوخه ودفع الشبه عنه ونحو ذلك

 Artinya: “Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari sisi turun, pengaturan urutan (ayat dan surat), pengumpulan, penulisan, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh-mansukh, dan bantahan atau penolakan terhadap hal-hal yang bias menimbulkan kerancauan terhadapnya, serta hal-hal terkait lainnya”.

  1. Menurut Syeikh ‘Ali al-Shabuni:

يقصد بعلوم القرآن الأبحاث التي تتعلق بهذا الكتاب المجيد من حيث النزول والجمع والترتيب والتدوين ومعرفة أسباب النزول والمكي والمدني ومعرفة الناسخ والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الأبحاث التي تتعلق بالقرآن الكريم

Artinya: “Yang dimaksud dengan ‘Ulum al-Qur’an adalah pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an menyangkut segi turunnya, pengumpulan, tata urutan, kodifikasi, pengetahuan tentang sebab-sebab turun, makki-madani, pengetahuan tentang nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, dan persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan al-Qur’an al-Karim”.

  1.  Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan:

العلم الذي يتناول الأبحاث المتعلقة بالقرآن من حيث معرفة أسباب النزول وجمع القرآن وترتيبه ومعرفة المكي والمدني والناسخ والمنسوخ والمحكم والمتشابه إلى غير ذلك مما له صلة بالقرآن

Artinya: “Ilmu yang mencakup berbagai pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an dari sisi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya al-Qur’an, pengumpulan, tata urutan (ayat dan surat), pengetahuan tentang makki-madani, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, dan persoalan-persoalan lain yang terkait dengan ke-al-Qur’an-an”.

  1. Menurut Dr. Muhammad Abu Syuhbah:

علم ذو مباحث تتعلق بالقرآن الكريم من حيث نزوله وترتيبه وكتابته وجمعه وقراءته وتفسيره وإعجازه وناسخه ومنسوخه ومحكمه ومتشابهه إلى غير ذلك من المباحث التي تذكر في هذا العلم

 Artinya: “Ilmu yang memiliki berbagai objek pembahasan yang terkait erat dengan al-Qur’an dari sisi turun, pengaturan urutan (ayat dan surat), pengumpulan, penulisan, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih dan pembahsan terkait lainnya yang dikaji dalam lingkup ilmu ini”.

Meski “Ulum al-Qur’an” didefinisikan dengan redaksi yang sedikit agak berbeda, namun menunjuk kepada maksud yang sama, yaitu sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti persoalan sebab-sebab diturunkannya ayat (asbab al-nuzul), pengumpulan al-Qur’an, penulisan al-Qur’an, penertiban susunan ayat-ayat dan surat-suratnya, masalah makkiyah-madaniyyah, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, cara-cara membacanya, kemukjizatannya, upaya penolakan hal-hal yang dapat menimbulkan keragu-raguan terhadapnya, dan berbagai permasalahan lainnya yang menyangkut materi-materi selaku pokok-pokok bahasannya.

BERPIKIR POSITIF

MARI BERFIKIR POSITIF

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Berfikir adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang terambil dari bahasa Arab al fikr, yang berarti “kekuatan yang menembus suatu obyek sehingga menghasilkan pengetahuari”. Manakala pengetahuan atau pandangan yang dihasilkannya didukung oleh bukti-bukti kuat yang meyakinkan maka dinamakan “ilmu”. Sementara jika bukti-bukti tersebut belum meyakinkan, tetapi kebenarannya lebih dominan, maka disebut zhann (dugaan). Dan jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut syakk (keraguan). Sementara jika tidak didukung bukti, atau bukti tersebut lemah, sehingga kemungkinan salahnya lebih besar disebut wahm.

Akar kata fa, ka, ra, sampai pun ia berubah susunan (fa, ra, ka), memiliki makna seperti disebut di muka. Sebab al fark dalam bahasa Arab berarti “menyisiri sesuatu untuk mencapai hakikat yang sebenarnya”. Bedanya, menurut beberapa pakar bahasa, al-farak/ al-firk untuk sesuatu yang bersifat materil, sementara al-fikr untuk yang bersifat maknawi (Al-Mufradat Fi Gharib AI­Qur’aan 2/496).

Dengan demikian, berfikir merupakan sebuah proses cara pandang seseorang terhadap suatu obyek, baik itu nyata ataupun tidak, yang kemudian menghasilkan penilaian apakah obyek itu positif atau negative. Banyak hal tentunya yang dapat mempengaruhi hasilpenilaian tersebut, antara lain, yang bersifat internal; suasana hati, pemahaman dan penafsiran suatu informasi yang tidak lengkap, peristiwa yang dialami seseorang dalam kehidupan yang mendorong adanya pergeseran cara pandang terhadap sesuatu/orang lain. Yang bersifat eksternal antara lain faktor tingkat pendidikan, budaya, ekonomi, dan lain-lain

Berpikir positif adalah cara berfikir secara terbuka dan melihat segala sesuatu selalu memberi hikmah bagi pengalaman hidup. Sebaliknya, seorang yang berfikir negatif hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian atau keburukan pada seseorang. Pernahkah kita terpikir mengapa pita film yang umum kita kenal untuk mencuci gambar-gambar yang kita inginkan dikenal dengan film negatif. Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu di sana. Namun, bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik , kita akan dapati suansa indah penuh warna-warni sebagaimana yang kita harapkan. Demikian halnya dengan gambaran pikiran negatif; pikiran yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Kita takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah, mengapa kita disarankan untuk selalu melihat segala sesuatunya dengan kacamata positif. Apalagi jika disadari, bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berada dalam kendali Tuhan Yang Mahakuasa.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi” (Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku). Imam Al-Qurthubi, seperti dikutip pakar hadis Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari (13/386), menjelaskan dugaan atau sangkaan dimaksud adalah “dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diterima jika bertobat, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan”. Imam Nawawi dalam Syarh shahih Muslim (17/2) menambahkan, “dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi”.

Hadis di atas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusan, pasti akan diberi balasan oleh swt. (QS. Ali Imran 195). Sebab rahmat Allah sangatlah luas, “maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”, demikian QS.Yusuf ayat 87. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit telah diperuntukkan untuk kebaikan manusia, karena ia telah dipilih untuk bertugas menjadi khalifah yang akan memakmurkan bumi.

Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi dan berprestasi. Alkisah, seorang Jendral Jepang termasyur bernama Nobunaga memutuskan untuk menyerang musuh meskipun jumlah prajuritnya hanya sepersepeluh dari jumlah prajurit musuh yang akan dihadapinya. la memiliki keyakinan akan mendapatkan kemenangan, tapi para prajuritnya pesimis/sangsi. Para prajurit mengatakan ini hal yang mustahil. “Mana mungkin kita melawan musuh yang secara jumlah kita sudah tidak berimbang”. Dalam perjalanannya menuju medan pertempuran, Jendral Nobunaga berhenti di sebuah kuil Shinto, la kemudian melakukan doa, setelah berdoa dalam kuil sang Jendral berkata, “sekarang aku akan melempar mata uang, jika nanti yang muncul gambar kepala maka kita akan menang, dan jika angka kita akan kalah, nasib akan terungkap sekarang. Lalu ia melempar mata uang tersebut. Ternyata kepala yang muncul. Kemudian para prajurit begitu bersemangat untuk maju kemedan perang dan memenangkan dengan mudah. Hari berikutnya, seorang Ajudan berkata kepada Sang Jendral Nobunaga, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan”. ” Memang benar”, kata Sang Jendral Nobunaga sambil menunjuk mata uang rangkap yang kedua sisinya bergambar kepala.

Kisah di atas, kendati nuansanya berbeda, mengingatkan kita akan kisah Thalut dan Jalut yang terekam dalam (QS.Al-Baqarah 247-251). Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas raja muda, Thalut, berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu tumbuh karena mereka yakin pasti akan “menjumpai Tuhan”, sehingga “berapa banyak kelompok minoritas/ kecil berhasil mengalahkan mayoritas/ besar dengan kekuasaan Allah” (QS. Al-Baqarah 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan kembali dengan anaknya, Yusuf as., setelah berpisah sekian lama.

Memang betul seperti kata sang ajudan, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan'”. Tetapi dalam pandangan Islam, manusia memiliki kebebasan untuk memilih antara kebaikan atau keburukan (QS. Al-Balad: 10), (QS. Al-Syams : 8). Karena itu, jika diterpa musibah atau keburukan, jangan tergesa-gesa menyalahkan Tuhan, orang lain atau lingkungan. Ketahuilah, “Kebaikan yang kamu terima adalah dari Allah, dan keburukan yang kamu derita berasal dari dirimu sendiri”; QS. Al-Nisa Ayat 79. Ayat 10 surah al-Jin mengajarkan kepada kita bagaimana bersopan santun kepada Tuhan dengan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. “Dan kami tidak tahu, apakah keburukan yang diinginkan oleh penghuni bumi (asyarrun urida biman fil arhd), ataukah mereka menghendaki agar Tuhan memberikan petunjuk (kebaikan) kepada mereka (arada bihim rabbuhum rasyada)”. Perhatikan, ketika menunjuk keburukan kata yang digunakan bersifat pasif/majhul (urida), dan ketika menunjukkan kebaikan kata yang dipilih bersifat aktif (araada).

Seorang yang berfikir positif akan diliputi dengan ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagai anugrah yang patut disyukuri, bukan berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya, musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) di balik itu. Untuk itu ia akan bersikap terbuka menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan. Perhatikan kehidupan Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat, Ya’qub memperoleh keistimewaan karena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka (husnu al-zhann) kepada Tuhan (Tafsir Ibnu Katsir 4/18). Keluh kesahnya hanya ditumpahkan kepada Allah Swt (QS. Yusuf 86), bukan kepada orang lain. Sehingga beliau cepat mengambil tindakan dengan mengirim kembali anak-anaknya ke Negeri Mesir untuk mencari Yusuf (QS. Yusuf 87).  Seorang yang berfikir positif bukan penganut NATO yang diplesetkan menjadi “No Action, Talk Only”.

Terakhir, sikap optimis dan cara pandang positif akan melahirkan bahasa yang positif, baik tutur kata maupun bahasa tubuh. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, optimisme (al fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Kata-katanya bernadakan optimisme, seperti, “masalah itu pasti akan terselesaikan”, atau “Dia memang berbakat”. Rasul pun, seperti dalam hadis lain, senang mendengar kata “sukses” (yaa najiih) jika akan melakukan sesuatu (Aunul Ma’bud 10/293). Sudah barang tentu, ungkapan tersebut dibarengi dengan senyuman, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Berbicaranya pun dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’. Wallahua’lam.

KAIDAH TAFSIR 1

KAIDAH TAFSIR 1

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA

Mempelajari  al-Qur’an  bagi setiap muslim merupakan salah satu aktivitas terpenting, bahkan Rasul saw. menilai bahwa: Sebaik-baik kamu adalah siapa yang memelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Hanya saja sementara orang mengeluhkan sulit dan lamanya mempelajari kitab suci itu yang terdiri dari enam ribu ayat lebih. Pengalaman membuktikan bahwa pengajaran tafsir di Perguruan-perguruan Tinggi Islam dengan cara yang ditempuh selama ini tidak lebih dari empat puluh ayat setiap semesternya. Ini berarti hanya sekitar 10% dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dijelaskan di hadapan kelas. Itu pun belum tentu sebagian besar kandungannya telah dicerna oleh mahasiswa.

Sejak sekian tahun yang lalu[1] penulis mengajak peminat studi Al-Qur’an di lembaga-lembaga Pendidikan agar meninjau kembali penekanan dalam mengajarkan Al-Qur’an. Yakni agar menekankan pada kaidah-kaidah Tafsir karena dengan penguasaan kaidah-kaidah itu, seorang peminat studi Al-Qur’an akan memeroleh bimbingan – melalui kaidah-kaidah itu  saat menemukannya pada ayat-ayat serupa –walau tidak dipelajarinya dalam kelas.

Disadari bahwa banyak pihak yang belum memahami apa yang dimaksud dengan “Kaidah-kaidah Tafsir”, lebih-lebih aneka kaidahnya. Hal itu disebabkan antara lain karena buku-buku tentang hal tersebut cukup langka apalagi dalam bahasa Indonesia. Karena itu, Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), Jakarta, berusaha menutupi kelangkaan itu dengan mengajak sekian Guru Besar dalam bidang Tafsir untuk menulis dan menghidangkannya kepada para peminat studi Al-Qur’an dalam sebuah buku yang akan dilengkapi dengan modul-modul untuk memudahkan  pemahamannya.

 Apa yang dimaksud dengan  Kaidah Tafsir?

Kata “kaidah” oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan “Rumusan asas-asas yang menjadi hukum; aturan tertentu; patokan; dalil (dalam matematika)”.

Dalam bahasa Arab, قاعدة /kaidah diartikan “asas/ fondasi” jika ia dikaitkan dengan bangunan, dan ia bermakna “tiang” jika dikaitkan dengan kemah.

Dalam pengertian istilah, ditemukan beberapa  penjelasan. Syarif al-Jurjâny (1339- 1413) dalam bukunya “at Ta’rifât “ menulis bahwa: Kaidah adalah  قضية كلية منطبقة على جميع جزئيتها   Rumusan yang bersifat kully (umum) mencakup semua bagian-bagiannya.”

Khâlid bin Usman as-Sabt, salah seorang ulama kontemporer, dalam bukunya  “Qawâ’id at-Tafsîr Jam’(an) Wa Dirâsat(an), mendifiniskan kaidah sebagai حكم كلي يتعرف بها على احكام جزئية  yakni “Ketentuan umum yang dengannya diketahui ketentuan menyangkut rincian”.

Kedua difinisi di atas menggarisbawahi bahwa kaidah mencakup semua bagian-bagiannya. Namun dalam kenyataan tidak jarang ditemukan bagian yang menyimpang dari kaidah umum itu. Menanggapi kenyataan di atas, ada ulama yang menegaskan bahwa memang demikian sifat kaidah –lebih-lebih dalam hal-hal yang bersifat  teoritis. Yakni kalaupun rumusan pengertian istilah  kaidah mengandung makna bahwa ia mencakup segala rinciannya, namun secara substansial sejak semula para perumus tidak memaksudkkan dari kata  kully /umum sebagai mencakup segala sesuatu tanpa kecuali. Apa yang tidak tercakup itu  dinamai Syâdz oleh pakar-pakar bahasa, yakni menyimpang dalam arti  tidak dicakup oleh kaidah. Dalam hal yang semacam ini kita tidak dapat berkata bahwa yang menyimpang /tidak tercakup itu salah. Ia hanya tidak dicakup oleh kaidah karena kelemahan perumus dalam merumuskan, atau karena jarangnya kasus itu dan bisa juga karena adanya pertimbangan-pertimbangan makna yang mendorong dipilihnya sesuatu yang dinilai menyimpang itu. Sebagai contoh dari kaidah kebahasaan dalam kaitannya dengan Al-Qur’an  adalah firman- Allah  إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينََ   (Q.S. al-A’râf [7]:56. Kalau mengikuti kaidah kebahasaan maka kata   قَرِيبٌ (Qarîb) seharusnya  قريبة  (Qarîbatun) karena ia menyifati kata  رحمة (rahmat), sebab  menurut kaidah “Sifat/adjektive mengikuti keadaan yang disifatinya”. Bila yang disifati tunggal,   dual, jamak, feminin  atau maskulin, maka adjektive-nya pun demikian. Banyak jawaban yang diberikan menyangkut ayat di atas yang tidak sejalan dengan kaidah. Namun berpagi-pagi harus digarisbawahi bahwa kaidah bahasa Arab dirumuskan  jauh setelah turunnya Al-Qur’an, sehingga setiap ditemukan ayat yang berbeda dengan kaidah bahasa Arab, Al-Qur’an tidak dapat dipersalahkan. Jangankan Al-Qur’an, konon al-Farazdaq (641-733 M), salah seorang penyair terbesar masa Umawiyah, pernah berucap yang dinilai oleh seseorang sebagai keliru dari segi kaidah bahasa. Sang penyair mengecam pengeritiknya dengan berkata, “Saya yang berbicara dan Anda yang harus membuatkan kaidah untuk ucapan saya.” Yakni  kalaupun ada yang dipersalahkan, maka itu adalah  perumus kaidah yang tidak mampu merumuskan kaidahnya sehingga tidak mencakup segala bagian-bagiannya.

Dari sini para pakar memeras keringat untuk mencari jawaban atas “penyimpangan”. Salah satu jawaban yang terbaik dalam kasus ayat di atas  adalah pertimbangan makna, yakni jika ayat di atas menggunakan kata qarîbatun maka yang dekat kepada  al-Muhsinîn (orang-orang yang mantap kebaikannya) hanyalah rahmat Allah, padahal ayat ini agaknya bermaksud menjelaskan bahwa Allah dengan segala anugerah-Nya dekat kepada al-Muhsinĭn, bukan hanya rahmat-Nya.

Hal semacam ini banyak ditemukan, baik  dalam al-Qur’an maupun syair-syair  dan ungkapan-ungkapan bahasa Arab.

Melihat dan menyadari kenyataan tentang  adanya rincian yang tidak dicakup oleh kaidah dengan rumusan tentang “Kaidah “ sebagaimana dicontohkan di atas, maka sementara ulama mendifiniskan kaidah sebagai   حكم اغلبي ينطبق على معظم أجزائه yakni Ketetapan yang bersifat umum yang dapat diterapkan pada kebanyakan bagian-bagiannya”.

Dengan rumusan ini dapat dihindari kesalahfahaman tentang pengertian kaidah. Di sisi lain, kesadaran tentang hakikat kaidah seperti dikemukakan di atas –baik dengan rumusan pertama maupun kedua– kesadaran tentang hal tersebut mengundang  setiap pengamat untuk mencermati kalimat bahkan kata[2], yang ditemukannya dalam sebuah teks sebelum menerapkan kaidah atau mengecualikan apalagi mempersalahkan. Ini berlaku pada segala disiplin  ilmu seperti Ilmu  Bahasa,  Fiqh atau Ushul Fiqh , Tafsir dan lain-lain. Dengan demikian, tidak setiap menemukan kasus yang terlihat menyimpang,  serta merta dinyatakan bahwa ia  syădz/ menyimpang.

Dalam konteks kaidah kebahasaan yang diadopsi oleh Tafsir, ditemukan misalnya kaidah yang menyatakan bahwa: Pengulangan kata yang sama dalam satu redaksi, bila ia berbentuk definite (ma’rafah) maka kata yang pertama sama kandungan maknanya dengan kata yang kedua; sedangkan bila ia berbentuk indefinite (nakirah) maka kandungan makna kata yang kedua berbeda dengan yang pertama. Mereka, misalnya, menunjuk firman Allah dalam surah Alam Nasyrah [94]: 5-6    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  , Karena sesungguhnya bersama al-‘Usr (kesulitan) ada Yusră (kemudahan) (5); Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6).   Di sini kata al-‘Usr (kesulitan) berbentuk definite ditemukan dua kali masing-masing pada ayat 5 dan 6. Ini berarti keduanya mengandung makna yang sama, sehingga berarti yusra yang pertama berbeda dengan yusra yang kedua. Dari sini difahami bahwa setiap ada satu kesulitan dapat ditemukan dua kemudahan.

 Kendati banyak contoh yang dapat membuktikan kebenaran kaidah ini, namun tidak semuanya demikian. Bacalah firman Allah QS. az-Zukhruf [43]: 84  yang menyatakan: َ   ٍوَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. Kata إِلَهٌ  Ilah pada ayat ini diulangi dua kali dan keduanya bersifat indefinite (nakirah ) sehingga sepintas terkesan ayat ini bermakna bahwa ada Tuhan di langit dan ada lagi Tuhan yang berbeda di bumi. Ini tentu saja bukan makna yang lurus dan benar. Dari sini ulama-ulama tafsir –tanpa mempersalahkan kaidah– menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kata Ilăh pada ayat itu bukan dalam arti zat Allah, tetapi Ketuhanan-Nya. Dengan demikian, ayat di atas bermaksud menyatakan (wa Allah A’lam) bahwa Ketuhanan Allah berlaku bukan saja di langit tetapi juga di bumi. Ketuhanan-Nya yang di langit itu diakui oleh semua penghuninya, sedang Ketuhanan-Nya di bumi tidak demikian. Bukankah amat banyak manusia yang durhaka bahkan enggan mengakui wujud dan atau keesaan-Nya ?

 Kaidah Tafsir

 Salah satu difinisi Tafsir yang singkat tapi cukup mencakup adalah: Penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Tafsir/penjelasan itu lahir dari upaya sang penafsir untuk beristinbath/ menarik –sesuai kemampuan dan kecenderungannya– makna-makna yang ditemukannya pada teks ayat-ayat Al-Qur’an.

 Dari sini dan setelah jelas pengertian kaidah yang diuraikan sebelum ini, agaknya dapat dikemukakan pengertian “Kaidah Tafsir” yaitu: Ketetapan yang bersifat kully yang membantu seorang penafsir untuk menarik makna/pesan-pesan Al-Qur’an.” [3]

Ketetapan-ketetapan itu merupakan “patokan” bagi mufassir untuk memahami kandungan dan pesan Al-Quran yang dalam penerapannya memerlukan kejelian dan kehati-hatian apalagi sebagian dari kaidah atau patokan itu dapat memiliki pesan/kesan atau makna yang bertolak belakang. Sebagai contoh kaidah yang menyatakan: Tanwîn pada satu kata dapat mengandung makna banyak atau agung dan dapat juga sebaliknya berarti sedikit. Firman Allah yang berbunyi لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ difahami sebagai pengampunan yang banyak dan agung sedang  pada firman-Nya dalam QS. at-Taubah [9]:72  وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ   difahami dalam arti sedikit  yakni walau sedikit dari ridha Allah, itu lebih besar dibandingkan dengan surga dengan istana-istananya.

Hal serupa pada kata  هَذَا Hâdzâ. Ia sekali digunakan untuk menunjukkan kedekatan dan keagungan antara lain yang menunjuk Al-Qur’an tetapi digunakan  juga sebagai penghinaan. Antara lain sebagaimana ucapan kaum musyrik yang bermaksud melecehkan Nabi Muhammad saw. dengan ucapan mereka: وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا : Dan apabila mereka (kaum musyrik) melihatmu (wahai Nabi Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu sebagai bahan ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?” (QS. al-Furqân  [25]: 41).

 Betapapun demikian, atau disebabkan oleh karena itu, kaidah-kaidah amat dibutuhkan karena ia dapat menjadi tolok ukur bagi mufassir dalam penafsiran yang dia temukan atau kemukakan serta patokan yang dapat menghindarkannya dari kesalahan sebagaimana fungsi kaidah-kaidah yang lain.

Kaidah yang disepakati  dan tidak disepakati

Tidak mudah menetapkan atau membatasi jumlah kaidah-kaidah Tafsir, apalagi dari saat ke saat bisa saja lahir dari pengamatan seorang mufassir sesuatu yang dinilainya dapat menjadi kaidah/patokan guna memahami Al-Qur’an. Hal ini dapat dibuktikan melalui penafsiran para mufassir kontemporer. Sebagai contoh pandangan Almarhum Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi (1911-1998 M) yang mengamati bahwa: “Bila al-Qur’an menyebut nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka itu menunjukkan bahwa peristiwa serupa tidak akan terulang, tetapi bila tidak menyebut nama tokohnya, maka peristiwa serupa dapat terulang.” Aisyah Abdurrahman (Bint asy-Syâthi, lahir 1926 M), yang memberi perhatian besar pada pengertian kosa kata, menyimpulkan dalam bukunya “at-Tafsir al-Bayâny” bahwa kata   نعيم (Na’îm) digunakan Al-Qur’an dalam arti kenikmatan ukhrawy, dan dengan demikian, setiap menemukan kata na’ĭm maka yang dimaksud adalah kenikmatan ukhrawi.

Dari sini bisa saja ada kaidah yang tidak disepakati. Hal ini lumrah dan  berlaku juga dalam berbagai kaidah displin ilmu, seperti Ilmu Bahasa atau Ushul Fiqh. Sangat populer di kalangan peminat ilmu bahasa Arab aneka perbedaan antara mazhab ulama-ulama bahasa yang bermukim di Kufah dan ulama yang bermukim di Basrah (keduanya di Irak), dan sangat popular juga sekian perbedaan ulama Ushul Fiqh yang bermazhab Syafi’i dengan ulama-ulama mazhab lainnya dalam kaidah-kaidah yang mereka anut.

 Perbedaan pendapat menyangkut kaidah Tafsir, misalnya, adalah yang menyangkut sebab Nuzŭl.  Apakah   العبرة بعموم اللفظ  لا بخصوص السبب  (patokan dalam memahami ayat adalah redaksinya yang bersifat umum bukan pelaku peristiwanya, atau sebaliknya  العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ  .

 Memang dalam konteks ini ada yang menduga bahwa hasil perbedaan itu pada akhirnya sama, namun hal tersebut tidak sesederhana apa yang diduga sementara orang.[4]

Di sisi lain bisa saja para ulama sepakat tentang satu kaidah, tetapi ketika menerapkannya mereka berbeda sehingga kesimpulan mereka menyangkut ayat berbeda pula. Sebagai contoh kaidah yang menyatakan bahwa: Jika ada dua ayat yang berbicara tentang satu persoalan yang sama, tetapi salah satunya bersifat Muhkam (jelas maknanya) dan yang kedua bersifat Mutasyăbih (samar maknanya), maka yang Mutasyăbih harus difahami berdasar makna yang dikandung oleh yang Muhkam. Ketika menerapkan kaidah ini pada firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23 وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ  Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat, menerapkannya dengan menyandingkannya dengan firman yang menyatakanلاَ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الخَبِيرُ Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. al-An’ăm [6]: 103), maka yang menjadikan ayat surah al-Qiyamah sebagai ayat Muhkam, menegaskan bahwa Allah dapat dilihat dengan pandangan mata di akhirat nanti, walau hakikat dzat-Nya tidak dapat terjangkau. Tetapi bagi yang menjadikan ayat al-An’ăm sebagai ayat Muhkam, dan ayat al-Qiyămah sebagai Mutasyăbih, maka mereka menegaskan bahwa Allah sekali-kali dalam keadaan apa pun tidak dapat dijangkau /dilihat dengan pandangan mata.

 Sekelumit sejarah Kaidah-Kaidah Tafsir

 Para pakar Al-Qur’an sejak dahulu memberi perhatian menyangkut apa yang kemudian dinamai Kaidah-kaidah Tafsir, bahkan lahirnya aneka disiplin ilmu agama  pada hakikatnya dipicu oleh  dorongan memahami yat-ayat Al-Qur’an.

Dalam penulisan kitab-kitab Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, sementara ulama masa lampau menguraikan kaidah-kaidah tafsir. Antara lain Badruddîn Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi  (w. 794 H/1392 M) dalam kitabnya  “Al-Burhân Fî ‘Ulûm al-Qur’an”, Jalâluddin Abdurrahman as-Sayuthy (w. 911 H /11505 M) dalam al-Itqân.

Namun demikian, penulisan kaidah-kaidah itu secara berdiri sendiri baru dikenal jauh setelah generasi umat yang pertama. Ahmad bin Abdul Halim yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M) dapat dicatat sebagai salah seorang perintis penulisan kaidah tafsir secara berdiri sendiri. Tokoh ini menulis buku yang bernama “Muqaddimah Ushûl al-Tafsîr”. Di sana Ibnu Taimiyah mengemukakan sekian persoalan yang dapat dinilai sebagai kaidah seperti: Sifat perbedaan pendapat ulama masa lampau, cara penafsiran yang terbaik,  persoalan Sebab Nuzûl, Israiliyât dan sebagainya. Setelah Ibnu Taimiyah menyusul Muhammad Bin Sulaiman al-Kâfîjiy (w. 879 H) yang menulis “al-Taisîr Fi Qawa’id ‘Ilm al-Tafsir”.

Penulisan kaidah-kaidah Tafsir secara berdiri sendiri, seakan-akan sejak itu mandek dan baru mulai segar kembali akhir-akhir ini. Buku-buku yang relatif baru dalam bidang ini antara lain “Ushŭl al-Tafsîr wa Qawâ’iduhu” karya Syekh Khalid Abdurrahman al-‘Ak, “Qawâ’id al-Tarjîh ‘Inda al-Mufassirîn” karya Husain bin Ali bin al-Husain al-Harby, “Qawâ’id al-Tafsir jam’(an)  wa Dirâsat(an)” karya Khalid bin Usman as-Sabt.  Buku  “al-Qawâ’id al-Hisân Li Tafsîr Al-Qur’an karya Syekh Abdurrahman al-Sa’dy merupakan juga salah satu kitab yang cukup baik dalam bidang ini. Kitab ini memaparkan tujuh puluh masalah yang dinamainya kaidah.

 Keragaman Kaidah-kaidah Tafsir

       Kaidah-kaidah Tafsir, pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga bagian pokok.

Pertama bersumber dari displin ilmu tertentu seperti Ilmu Bahasa dan Ushul Fiqh. Keragamam sumber itu menjadikan kaidah dimaksud  dapat diterapkan juga dalam bidang ilmu yang berkaitan, misalnya yang dari segi bahasa tentang fungsi-fungsi huruf wauw dan perbedaannya dengan tsumma dan fa’. Demikian juga  makna-makna yang dikandung oleh setiap kata, atau bentuk kata itu seperti kala kini/mendatang (mudhâri’) kala lalu (Mâdhi) atau perbedaan kandungan makna antara kalimat yang berbentuk verbal sentence dengan nominal sentence. Seorang penafsir mestinya dapat menghayati –misalnya— mengapa Nabi Ibrahim as. menjawab para malaikat yang berkunjung ke rumah beliau sambil berucap  “salamă” lalu  beliau menjawabanya dengan “salămun”  (QS. Hud [11]: 69) dengan menghayati perbedaan yang dikemukakan pakar-pakar bahasa antara bentuk kata salama, dan salămun yakni yang pertama mereka namai Jumlah Fi’liyah. Ucapan malaikat salam(an) beerbentuk Jumlah Fi’liyah sehingga ia  dipahami sebagai bermakna Kami mengucapkan salam (Kata salam(an) di sini berkedudukan sebagai objek ucapan), sedang  ucapan Nabi Ibrahim as. berbentuk Jumlah Ismiyah sehingga maknanya  adalah keselamatan mantap dan terus menerus menyertai kalian. Demikian beliau menjawab sambutan damai dengan yang lebih baik.

Kalimat ambigu/ bertimbal misalnya ditetapkan oleh kaidah Tafsir bahwa kedua maknanya dapat digunakan bila memungkinkan untuk ditampung. Kata يُضَارَّ  dalam firman Allah  وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ  ( QS. al-Baqarah [2]: 282 , asalnya dapat merupakan Yudhârir/memberi mudharrat, sehingga kata-kata Kâtib dan Syahid berkedudukan sebagai pelaku dan dengan demikian ayat ini berpesan kepada penulis utang piutang dan saksi agar tidak memberi mudharat kepada salah seorang yang bertransaksi. Di sisi lain, kalau kata yudhârra asalnya adalah yudhârar, maka ia berbentuk passif voice (mabny li al-majhûl) dan dengan demikian, penggalan ayat ini berpesan kepada siapa pun yang bertransaksi agar tidak merugikan/ mengakibatkan mudharrat bagi penulis/notaris maupun saksi. Kedua makna di atas dapat digabung sehingga berdasar kaidah tersebut ayat di atas dapat difahami dengan kedua pemahaman itu.

Kaidah-kaidah Usuh Fiqh banyak sekali diadopsi oleh Tafsir. Misalnya “Perintah pada dasarnya mengandung makna wajib, kecuali jika ada yang mengalihkannya”. Di sini sangat diperlukan keluasan ilmu, agar dapat menemukan  dalil-dalil yang mengalihkannya itu. Demikian juga kaidah yang berbunyi “Teks keagamaan yang memerintahkan sedang sebelumnya ada larangan, maka perintah itu sekadar mengandung makna boleh dilakukan”.

Kedua: Kaidah yang khusus dibutuhkan oleh penafsir sebelum melangkah masuk ke dalam penafsiran dan ini antara lain bersumber dari pengamatan terhadap kesalahan-kesalahan sementara penafsir atau dari kesadaran tentang perlunya mengikat diri agar tidak terjerumus dalam kesalahan. Misalnya kaidah-kaidah yang berkaitan dengan penerapan metode Tahlily, Maudhu’iy, atau Muqaran. Demikian juga menyangkut sistematika  penyusunan urutan uraian – misalnya kapan uraian Asbab an-Nuzûl didahulukan atas uraian tentang Hubungan ayat dan kapan sebaliknya. Bagaimana sikap terhadap sinonim yang terdapat dalam al-Qur’an apakah maknanya sama atau berbeda. Demikian juga apakah dalam al-Qur’an ada kata atau huruf yang tidak bermakna (zâidah) dan lain-lain.

 Ketiga: Kaidah yang ditarik dari dan bersumber langsung dari pengamatan terhadap al-Qur’an dan yang bisa jadi ia tidak sejalan dengan kaidah-kaidah disiplin ilmu lain.

Kaidah kelompok ketiga ini cukup banyak. Ambillah sebagai contoh penggunaan bentuk kata Mudhări’ (Kala kini) untuk suatu peristiwa yang lalu. Ini bila digunakan al-Qur’an, maka ia mengisyaratkan keindahan atau keburukan peristiwa itu. Firman Allah yang menyinggung pembunuhan orang-orang Yahudi terhadap nabi-nabi dilukiskan al-Qur’an dengan kata يقتلون الأنبياء  Yaqtuluna al-Anbiya’ yakni dalam bentuk kata kerja masa kini dan datang, padahal pembunuhan itu telah berlalu sekian lama. Sebaliknya firman Allah melukiskan pembaiatan sahabat-sahabat dilukiskan oleh QS. al-Fath [48]: 10 dalam bentuk kata kerja masa kini, padahal ayat tersebut turun setelah pembaiatan itu. Ini guna mengisyaratkan betapa indah pemabaiatan itu.

Sebaliknya bila bentuk  Mădhy (Kala lampau)  digunakan untuk peristiwa yang belum terjadi, maka itu antara lain untuk menunjukkan kepastian terjadinya peristiwa itu. Firman Allah dalam QS. an-Nahl [16]: 1 yang melukiskan kepastian datangnya hari Kiamat menggunakan bentuk kata masa lampau أتى امر الله  فلا تستعجلوه  /Telah datang ketetapan Allah (Kiamat) maka janganlah meminta disegerakan kedatangannya .  Maksudnya Kiamat pasti datang.

Demikian juga kata Kami yang menunjuk Allah Tuhan Yang Maha Esa. Penggunaan kata tersebut di samping bertujuan menunjukkan keagungan-Nya juga dapat berarti adanya keterlibatan makhluk dalam aktivitas yang ditunjuknya. Firman Allah إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ   Sesungguhnya Kami  yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar adalah Pemelihara(nya). (QS. al-Hijr [15]: 9). Ini karena yang membawa “turun” al-Qur’an adalah malaikat Jibril as. atas perintah Allah dan yang mememeliharanya bersama Allah antara lain adalah umat Islam. Sedangkan kalau Allah menunjuk diri-Nya dengan kata Aku, maka itu antara lain mengisyaratkan bahwa tidak ada selain-Nya yang boleh /dapat terlibat di dalamnya, seperti firman-Nya dalam QS. Yâsîn [36]: 61وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ  dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

 Bisa juga kata Aku menunjukkan bahwa keterlibatan selainnya sedemikian sedikit/kecil tidak berarti sehingga dinilai “tidak ada” seperti dalam firman-Nya  ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا  Biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian (QS. al-Muddaststir [74]: 11).

Demikian sekelumit pengantar. Sekali lagi ditegaskan bahwa kaidah-kaidah Tafsir adalah patokan umum bagi para pengkaji al-Qur’an untuk memahami pesan-pesan Kitab Suci itu dan yang dapat membantunya memahami al-Qur’an dalam waktu yang tidak terlalu lama.



[1] Hal ini antara lain penulis kemukakan dalam buku “ Membumikan Al-Qur’an” yang diterbitkan  pertama kali pada tahun   1992 oleh Penerbit Mizan Bandung.

[2] Sementara  orang mempertanyakan mengapa Al-Qur’an memilih kata  akala, dalam firman-Nya yang melukiskan ucapan putra –putra Nabi Ya’kub  yang berbohong bahwa saudara mereka Yusuf, telah dimakan serigala, Mereka berkata  Akalahu az-Zi’bu ( dia dimakan serigala “ (Q.S. Yusuf  [12]:14)  bukan  Iftarasahu ( diterkam)  yang   menurut penggunaan bahasa lebih tepat. Tetapi pandangan ini tidak memertimbangkan makna lain yang hendak ditekankan oleh ayat, yaitu bahwa serigala itu telah menghabiskan segala sesuatu pada diri Yusuf, sehingga mereka tidak dapat membawa tulang  belulang yang tersisa sekalipun karena serigala telah “memakan semuanya” tanpa sisa.

[3] Harus diingat bahwa yang dimaksud dengan ketetapan kully disini adalah sebagian besar saja bukan keseluruhan bagian-bagiannya.

[4] Baca persoalan ini dalam buku penulis Membumikan Al-Quran.

IBADAH DAN KERJA

Oleh: M. Quraish Shihab

  Ibadah dan Kerja  atau sebaliknya mengesankan bahwa  ibadah  berbeda dengan kerja.  Ini karena dua hal itu diselingi oleh kata  dan  yang mengandung arti bahwa keduanya berbeda. Dengan demikian, Ibadah berbeda dengan kerja. Hal tersebut dapat dibenarkan, karena memang banyak orang yang membedakannya dalam praktik hidup mereka. Misalnya, seseorang beribadah di masjid atau gereja dalam arti menyadari kehadiran Tuhan dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Namun, ketika di kantor atau pasar, ia bekerja tanpa mengingat kehadiran Tuhan, bahkan bisa jadi melanggar perintah-Nya. Padahal, lebih baik secara konseptual juga secara praktis, bila kita berkata bahwa “ibadah adalah kerja” atau “kerja adalah ibadah”, sehingga menjadikan aktivitas yang dilakukan menjadi ibadah dan pengabdian kepada Tuhan Yang Mahaesa.

 Kerja didefinisikan sebagai penggunaan daya. Manusia secara garis besar dianugerahi Tuhan empat daya pokok, yaitu daya fisik, yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan; daya pikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan; daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, serta beriman, merasakan, dan berhubungan dengan Allah Sang Maha Pencipta; dan daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan, serta menanggulangi kesulitan.

 Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut — betapapun sederhananya — melahiran kerja, atau “amal” dalam istilah agama. Anda tidak dapat hidup tanpa menggunakan (paling sedikit) salah satu dari daya itu. Untuk melangkah, anda memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya  tarik bumi. Karena itu, kerja adalah keniscayaan. Tetapi, perlu diingat bahwa  kerja atau amal yang dituntut oleh-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang baik (amal saleh). Saleh adalah yang sesuai, bermanfaat, lagi memenuhi syarat-syarat dan nilai-nilainya.  Sebuah kursi yang tidak hanya memiliki tiga kaki, sehingga tidak dapat diduduki, maka ia bukan kursi yang saleh. Ia tidak bermanfaat karena tidak memenuhi nilai-nilai yang menjadikannya dapat dijadikan tempat duduk. Seseorang dituntut untuk melakukan yang saleh, karena itu bila ia bertemu dengan sesuatu yang tidak memenuhi nilai-nilainya, maka ia dituntut untuk melakukan perbaikan (ishlâh) dengan menambah yang kurang dari nilainya itu, yakni menambah satu kaki bagi kursi tadi. Bahkan,  ishlâh yang lebih baik lagi adalah memberi nilai tambah bagi kursi yang saleh, sehingga ia bukan saja dapat diduduki, tetapi juga nyaman dan indah dipandang.

 Ibadah  terambil dari akar kata yang sama dengan ‘abid.  Lalu, darinya dibentuk kata  Abdullah yang arti harfiyahnya adalah ”hamba Allah”. Dalam kamus-kamus bahasa, ‘abid (atau abdi) mempunyai   sekian  banyak arti.   “Hamba sahaya, anak panah  yang  pendek  dan lebar, serta “tumbuhan  yang  memiliki  aroma yang  harum“. Apabila  seseorang  menjadi ‘abid/”abdi” sesuatu,  anggaplah sebagai abdi negara, maka ketiga arti di atas merupakan  sifat dan sikapnya  yang menonjol.

 Seorang  hamba sahaya  tidak memiliki sesuatu.  Apa  yang  dimilikinya adalah  milik tuannya. Dia adalah anak panah yang dapat  digunakan tuannya  untuk tujuan yang dikehendaki sang tuan, dan  dalam  saat yang  sama   dia juga harus mampu memberi aroma  yang  harum  bagi lingkungannya. Pengabdian bukan hanya  sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang  terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi, serta sebagai dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya.

Sementara pakar berkata bahwa ada tiga unsur pokok yang merupakan hakikat ibadah kepada Allah: Pertama, si pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak memi liki sesuatu. Apa yang dimilikinya adalah milik tuannya. Kedua, segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ketiga, tidak memastikan sesuatu untuk dilaksanakan, kecuali  mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya ia mengabdi.

 Ada dua ragam ibadah, yaitu: Pertama, ibadah murni, yaitu kegiatan yang telah ditentukan Tuhan atau Nabi-Nya dalam hal cara, waktu, kadar, atau tempatnya. Bagi seorang muslim, shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah murni, karena cara, waktu, atau kadarnya telah ditentukan Tuhan. Kedua, ibadah umum, yaitu semua aktivitas yang dilakukan dengan motivasi memenuhi perintah Tuhan. Berdandan, misalnya, dapat bernilai ibadah jika motivasinya ingin tampil indah sebagaimana diperintahkan Tuhan, bukan untuk merayu dan menggoda. Bahkan, Nabi Muhammad Saw. pernah menyatakan bahwa hubungan seks dengan pasangan yang sah pun merupakan ibadah, selama motivasinya dibenarkan agama. Dengan demikian, motivasi-lah yang menjadikan satu aktivitas dinilai ibadah atau bukan. Dua orang yang menggunakan pisau yang sama dalam memotong kaki seseorang, dapat berbeda nilai kegiatannya tergantung dari motivasinya. Jika yang pertama seorang dokter yang mengamputasi pasiennya, maka aktivitasnya ini dapat menjadi ibadah, berbeda dengan seorang penjahat yang melakukan hal serupa.  Jika demikian, semua aktivitas dapat menjadi ibadah,  selama motivasinya sejalan dengan tuntunan Tuhan.         

 Dalam konteks beribadah, kita harus pandai-pandai memilih apa yang disenangi Tuhan bukan apa yang kita senangi. Dari sini ada prioritas-prioritas yang harus menjadi pilihan. Secara umum, membersihkan diri dari yang kotor lebih baik daripada menghiasi diri dengan yang indah. Mandi tanpa parfum lebih baik daripada memakai parfum tanpa mandi. Ironinya, sementara kita melakukan kegiatan ibadah yang bersifat menghiasi diri (tidak wajib), tetapi tidak meninggalkan larangan Tuhan yang bersifat wajib. Ini adalah kekeliruan umum dalam ibadah kita.

 Sekian banyak hal yang berkaitan dengan  aktivitas kerja dan ibadah yang harus mendapat perhatian, antara lain: Pertama, motivasi mesti menjadi landasan setiap aktivitas agar lebih terarah. Guna bernilai ibadah, maka aktivitas harus tertuju  kepada Tuhan, yang dalam bahasa agama disebut ikhlash. Ikhlas menjadikan pelakunya tidak semata-mata menuntut atau mengandalkan imbalan di sini dan sekarang (duniawi), tetapi pandangan  dan visinya harus melampaui batas-batas kekinian dan kedisinian, yaitu kekal di akhirat sana.  Berangkat dari hal ini, setiap pekerjaan hendaknya dihiasi dengan niat yang tulus, serta hendaknya juga dimulai dengan membaca Basmalah untuk mengingatkan pelakunya tentang tujuan akhir yang diharapkan dari kerjanya, serta menyadarkan dirinya tentang anugerah Allah yang menjadikannya mampu melaksanakan pekerjaan itu.

Kedua, tiada waktu tanpa kerja (amal saleh) dalam hidup. Al-Quran  tidak memberi peluang bagi seseorang  untuk  menganggur sepanjang saat yang dialami dalam kehidupan dunia ini.  Faidzâ faraghta fanshab  (QS. 94: 7). Kata  faraghta  terambil dari  kata  faragha, yang berarti  “kosong setelah sebelumnya penuh”. Kata ini tidak digunakan kecuali untuk menggambarkan kekosongan yang didahului oleh kepenuhan, termasuk keluangan yang didahului oleh  kesibukan. Seseorang  yang telah memenuhi waktunya dengan  pekerjaan, kemudian ia menyelesaikan  pekerjaan  tersebut, maka waktu antara selesainya pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan  selanjutnya dinamai   faragha.  Ayat di atas berpesan, “Kalau engkau dalam keluangan  sedang sebelumnya engkau telah memenuhi waktumu dengan kerja, maka  fanshab.  Kata fanshab antara lain berarti  berat, letih. Pada mulanya ia berarti “menegakkan  sesuatu sampai nyata dan  mantap”.   fanshab seakar dengn kata  “nasib” yang biasa  difahami sebagai ”bahagian tertentu yang diperoleh dalam kehidupan yang telah ditegakkan, sehingga menjadi nyata dan tidak dapat (sulit) dielakkan”. Atas dasar ini, ayat di atas dapat diterjemahkan, “Maka apabila  engkau telah berada di dalam keluangan (setelah tadinya  engkau sibuk),   maka  (bersungguh-sungguhlah  bekerja)  sampai   engkau letih, atau tegakkanlah (persoalan baru ) sehingga menjadi nyata”.

 Ketiga, bertebaran ayat dan hadis Nabi yang menuntut umat Islam agar bekerja dengan penuh kesungguhan, apik, dan bukan asal jadi. “Sesungguhnya  Allah  senang apabila salah seorang  di antara  kamu mengerjakan satu pekerjaan, (bila) dikerjakannya dengan  baik (jitu)”,  demikian  sabda  Nabi Muhammad Saw. Di sisi lain perlu dicatat bahwa Nabi pernah menjelaskan kepada malaikat Jibril tentang makna Ihsân (kebajikan) dengan sabdanya: “Ihsân adalah beribadah kepada Allah sekan-akan engkau  melihat-Nya. Bila tak mampu, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu”.   Ibadah ritual atau ibadah secara umum bila didasari oleh petunjuk  ini pastilah akan lahir  bentuk keindahan dan keapikan yang mengagumkan.

 

Ketiga, penghargaan kepada waktu. Al-Quran mengaitkan dengan sangat erat antara waktu dan kerja keras, antara lain melalui surah al-‘Ashr. ‘Ashr berarti memeras.  Waktu dinamai ‘ashr karena seseorang dituntut untuk memeras tenaga dan fikirannya untuk mengisi waktunya. Mereka yang tidak memerasnya akan rugi dan kerugian itu akan dirasakannya pada ‘ashr umurnya, yakni pada saat tua atau menjelang kehadiran ajalnya. Dalam konteks menghargai waktu, apabila  ada dua alternatif untuk melakukan  satu  pekerjaan yang sama dan nilainya sama, maka hendaknya dipilih yang  menggunakan  waktu  lebih  singkat.

 Di sisi lain, apabila ada pekerjaan yang mengandung nilai tambah dan dapat diselesaikan dalam waktu yang sama tanpa nilai tambah, maka pilihlah yang memiliki nilai tambah. Itu sebabnya shalat jamaah jauh lebih dianjurkan daripada shalat sendirian, karena waktu yang digunakan untuk kedua shalat sama atau tidak jauh berbeda, tetapi nilai tambah berupa ganjarannya adalah  27:1.

Kelima, kerja sama dalam melakukan sesuatu (bekerja). Pernyataan seorang muslim dalam shalat, iyyâka na’budu (hanya kepada-Mu kami beribadah), yang dikemukakan dalam bentuk jamak itu — walau yang bersangkutan shalat sendirian — menunjukkan bahwa Islam sangat mendambakan kerjasama dalam  melaksanakan  ibadah, termasuk  dalam bekerja.   Dengan kerjasama akan lahir harmonisme,  yang pada gilirannya akan mempercepat penyelesaian pekerjaan dan mempermudahnya. Kerjasama akan meningkatkan produktivitas.

 Keenam, optimisme dalam bekerja. Kerja  harus dibarengi dengan optimisme dan harapan akan bantuan Ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam surah asy-Syarh: fa inna ma’al ‘usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran.  Ayat ini menegaskan bahwa satu kesulitan akan dibarengi dengan dua kemudahan. Karena itu, akhir surah tersebut menyatakan, wa ilâ Rabbika farghab  (Hanya kepada Tuhanmulah, hendaknya engkau berharap).

 Manusia dituntut untuk melakukan usaha, atau dalam bahasa al-Quran disebut sa’y. Usaha tersebut harus bertolak dari Shafâ  yang arti harfiahnya  adalah  “kesucian”  dan berakhir di Marwah. Bila terpenuhi usahanya akan berakhir dengan “kepuasaan” (Marwah). Insya Allah, ia akan memperoleh hasil dari sumber yang ia sendiri tidak pernah menduganya.

 Ketujuh, rejeki yang diraih dari hasil kerja seseorang. Rejeki ada dua macam, yaitu “rejeki materil” dan “rejeki spirituil”. Jangan pernah menduga bahwa rejeki hanya  sesuatu yang bersifat materil. Seorang yang berpenghasilan sepuluh juta  belum tentu  mendapat rejeki lebih banyak daripada yang berpenghasilan lima juta. Karena, yang berpenghasilan sepuluh juta itu boleh jadi tidak meraih ketenangan, sehingga – katakanlah – bila anaknya sakit, ia cepat-cepat membawanya ke dokter dan memberikannya obat. Sedangkan yang mendapat rejeki materil hanya lima juta, bila disertai dengan rejeki spirituil, boleh jadi dia membeli untuk anaknya salah satu obat di kedai obat dan sembuh. Jika kecemasan berlarut-larut, maka rejeki materil yang diperoleh pada akhirnya akan sangat berkurang, bahkan lebih kurang daripada yang tadinya hanya memperoleh setengah penghasilannya. Demikian, Wallahu a’lam.

Etika Pemimpin dalam Al-Quran (Rahasia Kesuksesan Negeri Saba’)

Oleh, Nasaruddin Umar

 Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat. Ada kisah pembela kebenaran seperti para Nabi dan Rasul serta ada juga tokoh pengumbar kezhaliman seperti Fir’aun, Tsamud, ‘Ad, dan Abraha.

 Salah satu di antara figur yang akan dibahas dalam khutbah singkat ini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah Saba’.

 Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, tetapi salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, utusan bangsa burung; وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? (QS. an-Naml [27]: 20). Nabi Sulaiman marah tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang” (21). فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini, (22). Nabi Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama alasan Hudhud: إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23). وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24).

 Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan tetapi langsung segera ditindaklanjuti: اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”). (28). Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa surat itu kepada Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ ketika itu. Sebagai seorang pemimpin tertinggi negeri Saba’, ia tidak mau gegabah dan mengambil tindakan sendiri, tetapi ia segera mengumpulkan para petingginya:  قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia). (29). Redaksi surat Nabi Sulaiman cukup singkat tetapi sarat dengan makna: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (30). Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri” (31).

 Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi surat Nabi Sulaiman. Ia meminta pendapat dan saran para pembesarnya mengenai langkah-langkah yang akan diambil: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis-(ku)” (32). Pola kepemimpinan yang terbuka seorang pemimpin disambut dengan sikap tawadhu’ dari para petingginya: قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”). (33).

 Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan  kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.

 Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”). (Q.S. Saba’/34:15).

 Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, selain memiliki singgasana besar (‘arsyun ‘azhim) negerinya juga dilukiskan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, yang merupakan obsesi setiap negeri muslim. Sayang sekali kejayaan negeri ini tidak dapat dipertahankan karena para penerusnya meninggalkan pola-pola ideal kepemimpinan para pendahulunya. فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr). (16).

 Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:

  1. Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;
  2. Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;
  3. Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni  Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;
  4. Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;
  5. Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi penikmat, dan akhirnya ada generasi perusak;
  6. Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);
  7. Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.

 Penutup

Cuplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia yang kini sedang berusaha menciptakan model kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Kisah-kisah dalam al-Quran semestinya memberikan pelajaran kepada kita semua, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat. Pemimpin ideal dan masyarakat yang adil berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

 Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini. Para elit politik seharusnya banyak belajar tentang kisah jatuh-bangunnya sebuah rezim dan hidup matinya sebuah bangsa di dalam al-Quran. Perlu diketahui bahwa al-Quran telah memberikan warning (peringatan) bahwa ajal tidak hanya dipunyai oleh seorang individu tetapi juga kelompok masyarakat. Likulli ummatin ajalun (setiap ummat atau rezim mempunyai ajal). Panjang atau pendeknya sebuah rezim menurut al-Quran ditentukan seberapa jauh seorang pemimpin berpegang teguh kepada nilai-nilai ideal kemanusiaan dan kemasyarakatan, seperti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam.

RETORIKA AL-QURAN TENTANG ISRA’ MI’RAJ

Oleh: Muchlis M. Hanafi

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya Rasulullah Saw. dari Mekah ke Bayt al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha dan kembali lagi ke Mekah pada satu malam dalam waktu singkat. Sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.

 Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw. dapat terbang dengan kecepatan sangat tinggi, menembus atmosfir dan melepaskan diri dari daya tarik bumi. Bagaimana mungkin jasad beliau tidak terbakar dan terluka sedikit pun, padahal dalam sejumlah riwayat dijelaskan bahwa beliau diperjalankan dengan ruh dan jasadnya. Demikian keberatan-keberatan yang muncul jika kita mencoba memahaminya dengan pendekatan ilmu pengetahuan.

 Alam seisinya, termasuk langit dan bumi, diciptakan dengan ketentuan-ketentuan yang disebut sunnatullah yang terjadi di depan mata. Realitas materil inilah yang menjadi tumpuan sains modern. Kenyataan ini diakui oleh al-Quran. Namun, di sisi lain al-Quran menjelaskan bahwa ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera sehingga tidak bisa menjadi obyek observasi ilmiah. Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat (Q.S. 69: 38-39)

 Karena itu, terjadinya kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak kasat mata sangatlah mungkin. Keterbatasan mata untuk menjangkau “apa-apa yang tidak dapat dilihat” tidak berarti sesuatu itu mustahil terjadi. Sastrawan dan budayawan Arab terkemuka, Abbas M. El-Aqqad, menyatakan, “membatasi akal hanya pada satu kemungkinan atau pilihan adalah penyakit yang paling berbahaya buat akal.”

 Dalam kerangka inilah selayaknya kita memahami peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw. Hendaknya kita menyisakan ruang dalam hati untuk mempercayai dan mengimaninya. Selama kita meyakini bahwa seluruh alam ini di bawah kendali dan kekuasaan Tuhan, maka tidak ada yang mustahil terjadi jika Dia telah berkehendak, Sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Q.S. Yâsîn: 82)

 Dengan pendekatan imany inilah akal harus siap menerima hal-hal yang tidak ilmiah. Menurut Syeikh Sya’rawi, da’i terkemuka Mesir: Al-îmânu qad yufhamu wa qad lâ yufhamu (masalah-masalah keimanan terkadang dapat dipahami dan terkadang tidak).

 Peristiwa Isra’ secara eksplisit dijelaskan dalam sebuah surat yang disebut al-Isra’ (surat ke-17). Sementara Mi’raj hanya disebut secara implisit dalam surat an-Najm (surat ke-53). Kita mungkin akan bertanya, mengapa demikian?

 Pada saat peristiwa itu berlangsung orang telah sering melakukan perjalanan dari Mekah ke Palestina, tempat Bayt al-Maqdis berada. Dengan mengendarai kuda atau onta, perjalanan pergi dan pulang dapat ditempuh selama dua bulan. Dengan Isra’ Mi’raj, Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa kekuasaan-Nya tidak mengenal batas waktu. Dicantumkannya peristiwa tersebut dalam al-Quran adalah untuk memberi kesempatan kepada akal manusia untuk percaya. Terlepas dari panjang dan pendeknya waktu yang ditempuh, yang jelas jarak antara Mekah dan Palestina mungkin ditempuh oleh manusia. Dengan begitu Rasullullah akan dengan mudah menjelaskan bukti-bukti mukjizat, seperti penjelasan rinci keadaan Masjid al-Aqsha yang baru saja dikunjunginya.

 Tidak demikian halnya peristiwa Mi’raj, yaitu naiknya Nabi dari Masjidil Aqsha menembus tujuh lapis langit menuju Sidrat al-Muntaha. Peristiwa tersebut hanya Nabi seorang yang mengalaminya. Maka tidak dicantumkannya peristiwa tersebut secara tegas dalam Al-Quran sebenarnya membuktikan keterbatasan akal manusia dalam memahami bukti-bukti akan keberadaannya. Penempatannya secara implisit dalam surat an-Najm yang berarti ‘bintang’ menguatkan kenyataan itu. Seperti dinyatakan oleh banyak pakar al-Quran, nama-nama surat menggambarkan kesimpulan ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut. Ketidakmampuan manusia untuk menjangkau semua galaksi bintang-bintang yang ada di kosmos alam raya sampai saat ini adalah merupakan gambaran ketidakmampuannya untuk memahami peristiwa Mi’raj dengan pendekatan rasio.

 Dengan demikian, peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sebuah ujian keimanan. Manusia tidak hanya ditantang dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang tampak, tetapi Tuhan juga menyodorkan tantangan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan yang jauh di luar jangkauan manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang kamu alami (hai Muhammad, pada malam Isra’ dan Mi’raj) melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Q.S. al-Isrâ: 60)

 Dengan ujian keimanan ini diharapkan akan muncul manusia berkualitas dengan kekuatan ruhani yang tinggi. Oleh karena itu “oleh-oleh” yang dibawa oleh Rasulullah Saw. sepulangnya dari Isra’ dan Mi’raj adalah shalat. Shalat adalah alat komunikasi yang menghantarkan seorang hamba kepada Dzat Pencipta, Penguasa alam semesta. Dengan komunikasi yang baik, manusia akan sampai pada derajat yang tinggi. Shalat juga merupakan kebutuhan manusia. Sebab tidak seorang pun di dunia ini yang tidak pernah berharap dan merasa cemas. Secara sadar atau tidak, dalam shalat itulah semuanya tertumpahkan. Karena itu shalat menjadi ajaran seluruh agama-agama meski dengan cara yang berbeda-beda.

 Dalam Islam, shalat merupakan inti peribadatan (mukhkhul ‘ibâdah). Berbeda dengan ajaran-ajaran ibadah lainnya, ajaran shalat dijemput dan diterima langsung oleh Rasulullah Saw. berhadapan dengan Tuhannya di sebuah tempat yang sangat agung, Sidrat al-Muntaha. Suatu kehormatan tersendiri yang diberikan kepada Nabi kita, Muhammad Saw. Tidak seorang makhluk pun pernah mendapat kehormatan seperti itu. Malaikat Jibril yang dikenal dekat Tuhan tidak mampu menembus wilayah Sidrat al-Muntaha yang dipenuhi dengan cahaya-cahaya ketuhanan. Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah dan Jibril mendekati Sidrat al-Muntaha, Rasulullah meminta Jibril maju lebih dahulu. Lalu apa kata Jibril? “Idzâ taqaddamtu ihtaraqtu, wa idza taqaddamta anta ikhtaraqta(Kalau aku maju pasti akan terbakar, tetapi jika engkau yang maju, hai Muhammad, pasti engkau dapat menembus dan melampauinya).

 Nabi Musa AS yang dikenal gagah perkasa juga tidak mampu berhadapan langsung menatap wajah (cahaya) Tuhan. Ketika menerima ajaran Taurât di bukit Sinai, dia meminta agar Allah menampakkan diri. Tetapi apa yang terjadi ketika Tuhan menampakkan diri di sebuah bukit? Seketika itu bukit terguncang dan hancur luluh, sementara Musa jatuh pingsan (QS. Al-A’râf [7]: 143).

 Dua kisah di atas membuktikan bahwa ibadah shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena diterima oleh seorang Nabi yang sangat terhormat di tempat yang sangat mulia.

 Bukanlah suatu kebetulan jika di dalam mushaf al-Quran ditemukan kisah Nabi Musa dan Bani Isra’il disebut setelah ayat yang mengisahkan peristiwa Isra’. Sementara pada akhir surat an-Nahl (surat ke-16) yang terletak sebelum surat al-Isra’ diceritakan sosok Nabi Ibrahim yang dapat dijadikan teladan yang baik, patuh kepada Tuhan dan penganut ajaran monoteisme (Tauhid). Susunan semacam ini memberikan beberapa kesan kepada kita antara lain; Pertama, perintah shalat yang diterima oleh Rasulullah Saw. dalam Isra’ dan Mi’raj adalah pengejawantahan dari inti ajaran monoteisme yang dibawa oleh para Nabi pembawa ajaran-ajaran Samawi yang terlahir dari keturunan Ibrahim AS yang dikenal sebagai “Bapak Monoteisme”, termasuk Yahudi dan Nasrani.

 Kedua, seperti dinyatakan oleh seorang ilmuwan Al-Quran Mesir terkemuka, M. Abdullah Diraz, setiap surat dalam al-Quran terdiri atas mukaddimah, batang tubuh, dan penutup. Di penutup surat ini kita temukan tata cara dalam shalat yang harus diperhatikan agar tercapai tujuan pengikraran akan keesaan Tuhan (Lihat QS. 17: 110). Dengan demikian, penyebutan Nabi Musa setelah peristiwa Isra’ membuktikan bahwa melalui shalat yang ditetapkan saat Isra’ dan Mi’raj Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad Saw. ke tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para Nabi, termasuk Nabi Musa. Tingkatan ini dalam ayat ke 79 disebut sebagai Maqâman Mahmûdâ.  “Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS. 17:79). Dengan kata lain, shalat dapat mengantarkan manusia kepada tingkat yang paling ideal, dalam arti menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

 Ketiga, penyebutan kisah Isra’ dan Mi’raj bergandengan dengan Nabi Musa sebagai Nabi bangsa Isra’il merupakan ikrar pernyataan perpindahan misi kenabian dan kerasulan dari keluarga Bani Isra’il keturunan Ya’kub kepada bangsa Arab keturunan Isma’il bin Ibrahim alayhimussalâm. Selama kurang lebih 2300 tahun misi kenabian berada di tengah-tengah keluarga Bani Isra’il dan keturunannya, nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan seringkali dilanggar. Bahkan, sampai ke tingkat membunuh para utusan Tuhan yang berasal dari mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa dalam sejarah kemanusiaan yang cukup panjang bangsa Isra’il selalu gagal mewujudkan misi kedamaian dan kemanusiaan di muka bumi ini. Sedemikian pentingnya peristiwa pemindahan amanat ini, maka surat ini disebut juga dengan surat Bani Isra’il.

 Demikian sedikit tentang kesan yang dapat kami tangkap dari pemaparan kisah Isra’ dan Mi’raj dalam Al-Quran. Semoga kita semua dapat meningkatkan ketahanan iman kita kepada Allah Swt. Sehingga keyakinan tersebut dapat menebar rahmat dan kedamaian di muka bumi ini. Wa Allâh ‘alam bi al-shawâb.

ASBAB ANNUZUL (bagian 3)

6. Hubungan Sebab-Akibat Dalam Kaitannya Dengan“Asbab al-Nuzul”

Pembahasan tentang “asbab al-Nuzul”  merupakan salah satu kajian penting dalam memahami syari‘at Islam. Hal ini dikarenakan kejadian atau peristiwa dan pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya ayat dapat memberikan gambaran dalam penetapan suatu hukum. Dan dalam hal ini, ungkapan yang dikemukakan oleh ayat menggunakan redaksi  umum (‘am), sehingga secara logis mencakup pengertian yang luas dan tidak terbatas pada kasus peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya. Berdasarkan persoalan ini, muncul suatu pertanyaan apakah pemahaman terhadap ayat tersebut didasarkan pada keumuman cakupan lafaznya ataukah pada pertimbangan kekhususan sebab turunnya? Puncak dari perdebatan ulama dalam persoalan pemahaman terkait sebab-akibat dalam konteks “asbab al-Nuzul” ini adalah lahirnya dua buah formulasi kaidah yang saling berhadapan, yaitu:

(1)العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب  (yang dipandang adalah keumuman kandungan lafaz, bukan kekhususan sebab); dan

(2)العبرة بخصوص السبب, لا بعموم اللفظ  (yang dipandang adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafaz).

Muhammad ‘Abdullah Diraz menyatakan bahwa jawaban atau respon atas suatu sebab itu mengandung dua kemungkinan, yaitu:

Pertama, Jawaban atau respon itu dalam bentuk pernyataan yang tidak bebas dan terkait secara langsung dengan sebab yang ada, seperti jawaban dengan kata “Ya” atau “Tidak”. Kata “Ya” atau “Tidak” sangat terikat dengan pertanyaannya. Kata “Ya” atau “Tidak”, tidak akan dapat dipahami dengan baik dan benar, jika tidak dikaitkan secara langsung dengan maksud pertanyaan yang telah diajukan. Dalam jawaban yang tidak bebas ini disepakati pemberlakuan hukumnya sesuai dengan sebabnya. Jika sebabnya menunjukkan kepada keumuman, maka jawabannya juga diberlakukan secara umum. Dan jika sebab menunjukkan kepada kekhususan, maka jawabannya harus diberlakukan secara khusus. Misalnya, kasus seorang yang bertanya tentang kebolehan berwudhu’ dengan air laut. Seandainya pertanyaanya itu diungkapkan dengan: “Apakah boleh hukumnya berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab: “Ya”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara umum, baik untuk pribadi si penanya dan untuk semua orang selain penanya. Hal ini dikarenakan pertanyaannya diungkapkan secara umum. Namun, jika orang yang bertanya tersebut bertanya dengan ungkapan: “Apakah boleh bagi saya untuk berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab: “Ya”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara khusus untuk si penanya saja. Jika hukum tersebut ingin diberlakukan untuk orang lain, maka pemberlakuannya ditetapkan melalui qiyas (analogi) atau teks lain yang menunjukkan bahwa hukum-hukum agama pada dasarnya bersifat umum selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Kedua, jawaban atau respon itu dalam bentuk pernyataan bebas, berdiri sendiri, dan terlepas dari sebab yang ada. Dalam hal ini berlaku ketentuan bahwa jika jawaban menggunakan redaksi khusus, maka hukum yang ditetapkan juga bersifat khusus; meski sebabnya bersifat umum. Misalnya, kasus seorang yang bertanya tentang kebolehan berwudhu’ dengan air laut. Seandainya pertanyaan dikemukakan dengan ungkapan: “Apakah boleh berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab dengan: “Boleh untukmu berwudhu’ dengan air laut”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara khusus untuk si penanya saja, dan tidak berlaku untuk orang lain sesuai dengan tunjukan redaksi jawaban. Namun, bagaimana jika jawabannya menggunakan pernyataan yang bersifat umum? Apakah hukumnya berlaku secara umum meski dilatarbelakangi oleh sebab yang bersifat khusus? Disinilah letak pangkal perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan ketentuan hukumnya, apakah yang dipandang keumuman lafaz dan mengabaikan kekhususan sebabnya? Ataukah sebaliknya bahwa yang harus diperhatikan adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafaz.

Mayoritas ulama berpegang pada sikap untuk mempertimbangkan keumuman lafaz, bukan pada kekhususan sebabnya. Karena dalam kenyataannya, meski turunnya ayat-ayat al-Qur’an dilatarbelakangi oleh peristiwa tertentu atau menunjuk kepada pribadi tertentu, namun pemberlakuan hukumnya tetap bersifat umum dan tidak terbatas pada peristiwa dan pribadi itu saja. Misalnya, ayat zhihar turun terkait kasus Salman bin Shakhr, ayat li‘an terkait kasus Hilal bin Umayyah dan ‘Uwaimir, ayat qazaf  terkait dengan tuduhan yang dialami oleh Siti ‘Aisyah ra, dan ayat-ayat lainnya yang merupakan respon peristiwa tertentu. Namun, faktanya hukum dalam ayat-ayat tersebut juga diberlakukan pada peristiwa-peristiwa dan kasus-kasus lain yang serupa.

Setidaknya ada tiga argumen yang dikemukakan oleh mayoritas (jumhur) ulama dalam berpegang pada keumuman lafaz dan bukan kekhususan sebab, yaitu:

(1)    Dalil yang harus dipegang adalah lafaz ayat; sementara sebab-sebab yang timbul hanya berfungsi sebagai penjelasan. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Imam al-Syafi‘i ra yang menegaskan dalam kitab “alUmm” bahwa suatu sebab tidak dapat berbuat banyak dalam menetapkan ketentuan suatu hukum, namun lafazlah yang memiliki peran besar didalamnya (إن السبب لا يصنع شيئا إنما تصنعه الألفاظ).

(2)    Pada dasarnya, kandungan lafaz memiliki pengertian umum, kecuali ada qarinah atau dalil lain yang membatasi keumumannya dan mengalihkannya kepada pengertian khusus. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa banyak ayat al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan suatu kasus tertentu atau menunjuk kepada kaum atau pribadi tertentu. Namun, hal itu harus tetap dipahami dan diberlakukan secara umum, bukan dibatasi dengan kasus, kaum, atau pribadi tersebut. Misalnya ayat 49 surat al-Ma’idah [5] yang berbunyi:

Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

Ayat ini diturunkan terkait perintah kepada Nabi saw untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan prisnsip keadilan sebagaimana diamanatkan dalam kitab Allah. Perintah kepada Nabi saw terkait dengan kasus Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Namun, sungguh tidak tepat jika perintah kepada Nabi saw untuk berlaku secara adil hanya terbatas kepada kedua kelompok suku tersebut.

(3)    Para sahabat Nabi saw dan para mujtahid di berbagai tempat dan masa berpegang pada teks suatu ayat, bukan terpaku pada sebab yang terjadi.

Disisi lain, ada juga ulama yang mengedepankan bahwa yang harus dipandang dalam pemahaman terkait sebab-akibat dalam konteks “asbab al-Nuzul” adalah kekhususan sebab, bukan sisi keumuman lafaz. Dengan demikian, maka cakupan kandungan ayat atau tunjukan hukumnya terbatas pada kasus atau pribadi yang menyebabkan diturunkannya suatu ayat. Sedangkan kasus lain yang memiliki kesamaan, penyelesaiannya ditetapkan melalui jalan qiyas, jika memenuhi kriteria dan syarat-syarat pemberlakuan qiyas tersebut. Jadi, pemberlakuan hukum terhadap kasus atau untuk pribadi selain yang menjadi sebab turunnya ayat tidak serta merta berdasarkan keumuman tunjukan lafaz ayat itu sendiri, tapi melalui dalil lain diluar ayat tersebut. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa kita sering menemukan komentar atau ungkapan para ulama terkait dengan riwayat “asbab al-Nuzul” yang terkesan menunjukkan kepada keberadaan ayat yang turun untuk menjawab kasus tertentu, atau untuk seseorang yang tertentu, atau untuk suatu kaum tertentu (هذه الآية نزلت في كذا, أو في فلان, أو في قوم من كذا). Namun, melaui komentar-komentar seperti itu, mereka bukan bermaksud membatasi pemberlakuan ayat secara khusus kepada orang-orang atau individu-individu tertentu saja dan tidak berlaku bagi orang lain. Semua orang Muslim yang berakal pasti tidak setuju dengan pemahaman yang membatasi pemberlakuan ayat secara khusus kepada individu tertentu itu. Para ulama umumnya, meski mereka berbeda pendapat dalam memandang suatu lafaz umum yang menunjuk kepada pribadi atau kejadian tertentu apakah pemahamannya dapat dibatasi pada kekhususan sebabnya? Yang jelas tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa pemahaman ayat itu harus dibatasi pada pribadi atau peristiwa tertentu yang melatarbelakanginya. Hanya saja, terkadang yang mereka maksudkan dengan pernyataan mereka untuk mempertimbangkan kekhususan sebab suatu ayat adalah spesifikasi jenis sebab tersebut sehingga mencakup semua peristiwa atau pribadi yang memiliki kesamaan dengan kasus dalam sebab. Berdasarkan pemahaman ini, maka keumuman kandungan dan tunjukan makna suatu ayat tidak serta merta atau spontan berasal dari sisi lafaznya.

DAFTAR PUSTAKA:

Abu Syuhbah, Muhammad, al-Madkhal Li Dirasat al-Qur’an al-Karim, (Riyadh: Dar al-Liwa’, 1987)

Abu> Zahrah, al-Ima>m Muhammad, al-Mu‘jizah al-Kubra> al-Qur’a>n: Nuzu>luhu>, Kita>batuhu>, Jam‘uhu>, I‘ja>zuhu>, Jadaluhu>, ‘Ulu>muhu>, Tafsi>ruhu>, Hukm al-Gina>’ bihi>, (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi, 1418 H/1998 M)

Dira>z, Muhammad ‘Abdulla>h, Hashsha>d al-Qalam  (Kuwait: Dar Al-Qalam, 1424 H/2004 M)

Khallaf, ‘Abd al-Wahhab, Ilmu Ushul al-Fiqh, (Dar al-Rasyid, 2008)

Al-Manshur, ‘Abdullah bin Hamd, Musykil al-Qur’an al-Karim, (KSA: Dar Ibn al-Jauzi, 1426 H)

Al-Qaththan, Manna‘ Khalil, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tt)

Al-Sayu>thi, Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rahma>n, Al-Itqa>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqi>q: Muhammad Abu> al-Fadl Ibra>hi>m (Kairo: Maktabah Da>r al-Tura>ts, tt)

Al-Sha>bu>ni, Muhammad ‘Ali, al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Damaskus: Maktabah al-Ghaza>li, 1390 H)

Al-Shaleh, Subhi, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ilmi Li al-Malayin, 1988)

Al-Shiddiqi, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988)

Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, (Kairo: Isa Bab al-Halabi, 1968)

Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad bin ‘Abdulla>h, Al-Burha>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqiq Mushtafa> ‘Abd al-Qa>dir ‘Atho’ (Beirut: Da>r al-Fikr, 1408 H/1988 M)

Al-Zarqa>ni, Muhammad ‘Abd al-‘Azi>m, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Kairo: Maktabah al-Tau>fiqiyyah, tt.)

Zarzur, ‘Adna>n Muh}ammad, Madkhal Ila> al-Tafsi>r al-Qur’a>n wa ‘Ulu>mihi, (Damaskus: Da>r al-Qalam, 1419 H/1998 M)