Al-Qur’an dan Kesejahteraan Sosial

“Sebuah Rintisan Membangun Paradigma Sosial Islam Yang Berkeadilan dan Berkesahteraan” 

Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah yang berarti kesejahteraan sosial. Di antara istilah-istilah itu yang cakupan maknanya luas dan mendalam serta menggambarkan konsep kesejahteraan sosial secara mendasar adalah istilah “al-falah” yang menjadi tujuan akhir dalam kehidupan manusia di dunia ini.

Di dalam al-qur’an, masyarakat yang sejahtera dinamakan al-Muflihun, yang secara harfiah berarti orang-orang yan beruntung. Indikator masyarakat yang sejahtera (al-muflihun), yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung, (meraih kesejahteraan dunia dan akhirat) (QS. Al-Baqarah(2):4-5).

Dalam bukunya ini penulis menyajikan sebuah tulisan dengan corak tafsir al-maudhu’i (istilah dalam kajian tafsir al-qur’an) atau tafsir tematik.  Tema yang saat ini berkaitan dengan masalah sosial tentang “kesejahteraan”, Kenapa tema pokok yang diangkat karena ada dua pertimbangan dalam memilih corak tafsir ini. Pertama, agar isu-isu sosial, seperti kemiskinan, mendapat jawaban yang meyakinkan dari al-Qur’an. Kedua, agar para mahasiswa Muslim meyakini bahwa al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga berbicara tentang maslah sosial dan mendorong kaum muslim untuk melakukan program community development, pengembangan masyarakat, guna meningkatkan kualitas kesejahteraan kaum dhuafa.

Menarik buku ini untuk dibaca karena berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat yang sedang berlangsung saat ini tentang kesejahteraan sosial yang solusinya adalah kembali kepada pesan dan ajaran al-Qur’an. Dalam buku ini berbicara dhuafa, fakir, dan miskin dalam perspektif Al-Qur’an, Gelandangan dan pengemis dalam perspektif Al-Qur’an, Sumber-sumber harta yang haram, Wawasan al-Qur’an dalam kedermawanan, Keluarga, pengasuhan dan perlindungan anak, Model pembunuhan anak dan tindak kejahatan Aborsi, Perlindungan tenaga kerja Anak dan pencegahan praktik human Traffickking, Meningkatkan kesejahteraan, membangun kesehatan masyarakat  dan pada bab terakhir pembahasan mengenai Memelihara air, menjaga kualitas lingkungan hidup.

Akhirnya buku ini dapat dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak ajaran al-Qur’an tentang kesejahteraan sosial berikut penerapannya.

Resensi

Judul Buku : Al-Qur’an dan Kesejahteraan Sosial “Sebuah Rintisan Membangun Paradigma Sosial Islam Yang Berkeadilan dan Berkesahteraan 
Penulis : DR. H. Asep Usman Ismail, MA
Editor : Abd. Syakur DJ
Penerbit : Lentera Hati
Kolasi : 377 hal; 15×23 cm
ISBN : 978-979-9048-99-8
Cetakan : I, Juni 2012

M.Y.Arfan (28/9)

Mengapa Mursyid Diperlukan?

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Republika Online

(1) “Barang siapa yang tidak mempunyai mursyid, setanlah yang akan menjadi gurunya.” (Imam Malik).

“Jika seseorang berjalan tanpa mursyid, dia akan tersesat. Dia akan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan.” (Ibnu Athaillah).

Mursyid dalam literatur tasawuf berarti pembimbing spiritual bagi orang-orang yang menempuh jalan khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang menempuh jalan itu biasa disebut salik, dan jalan yang ditempuhnya disebut dengan thariqah.

Biasanya, mursyid dalam sebuah tarekat memiliki beberapa tingkatan, mulai dari mursyid utama (mursyid kamil) yang biasa juga disebut dengan syekh, sampai kepada mursyid pembantu, yang memiliki kewenangan terbatas dibandingkan kewenangan yang melekat pada mursyid utama.

Tugas dan fungsi mursyid

Tugas dan fungsi mursyid adalah membimbing, mendidik, dan menempa para salik yang juga disebut murid (orang-orang yang memiliki kesungguhan belajar mengenal Allah) dalam memahami jalan-jalan spiritual menuju Allah. Mursyid dengan tekun menuntun salik.

Langkah itu mulai dari proses pembersihan dan pencucian diri (tadzkiyah al-nafs) hingga di antara mereka mencapai pemahaman yang mendalam (ma’rifah) terhadap Al-Haq. Tugas dan fungsi mursyid di hadapan para salik menyerupai Rasulullah SAW di depan para sahabatnya.

Jika para sahabat dengan tekun dan penuh tawadhu di hadapan Rasulullah, para salik juga melakukan hal yang sama di hadapan mursyidnya. Mursyid pertama kali melakukan seleksi siapa yang bisa menjadi salik. Banyak cara dan metode ditempuh mursyid dalam menyeleksi calon salik.

Di Konya, Turki, calon salik yang akan bergabung dalam tarekat Jalaluddin Rumi dan selanjutnya menjalani latihan tarian sufi (Whirling Darwishes), diuji secara lisan di depan mursyid di maktab dalam bentuk balai-balai yang berjejer di dalam suatu kompleks.

Penentuan diterima atau ditolaknya seorang calon ditandai dengan arah sandal. Jika sandal calon salik menghadap pintu balai-balai, pertanda calon itu lulus. Sebaliknya, jika sandal membelakangi pintu, sang calon ditolak. Setelah resmi diterima, mursyid mulai melakukan bimbingan pembersihan diri pada para salik itu.

Hal tersebut dilakukan sebelum mursyid mengajarkan dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran spiritual. Ini dilakukan sebagaimana halnya Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebelum mengajarkan Alquran, terlebih dahulu dilakukan pembersihan dan penyucian jiwa, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, “Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah: 151).

Dalam ayat ini terungkap, sebelum dilakukan pengajaran (yu’allimukum) terlebih dahulu dilakukan penyucian diri (yuzakkikum). Dalam ayat lain juga ditegaskan, La yamassuhu illa al-thahharun. Maknanya, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah: 79).

(2)

Kesucian jiwa dan keluhuran pikiran tergambar dari kelembutan dan ketawaduan komunitas tasawuf dan tarekat, apalagi dari para salik kepada mursyid atau syekhnya.

Keadaan ini tergambar dari pernyataan Ali bin Abi Thalib, “Man ‘allamani harfan kuntu lahu ‘abdan. (Barang siapa mengajariku satu huruf, aku rela menjadi budaknya).”

Bahkan dikatakan, mursyid di tengah para muridnya bagaikan Nabi di tengah para sahabatnya. Dan salik yang belum menunaikan hak-hak mursyid, maka belum menunaikan hak-hak Allah. Itulah sebabnya, kitab tipis Al-Ta’lim al-Muta’allim yang mengajarkan etika pembelajaran, masih menjadi pelajaran wajib di pesantren.

Kriteria mursyid

Menjadi mursyid tentu lebih berat ketimbang menjadi salik. Selain sifat-sifat standar sebagai seorang shalihin/shalihat seperti alim, amanah, tawadu, terpercaya, wara’, sabar, teladan dalam pengamalan syariat, dan tentunya berakhlak mulia. Posisi dan kedudukan mursyid juga terkadang ditentukan sistem dan organisasi setiap tarekat.

Tarekat yang dikenal secara umum (mu’tabarah) biasanya memberikan kriteria mursyid dengan sangat ketat. Berbeda dengan tarekat yang tidak populer (ghair mu’tabarah) biasanya lebih longgar. Secara khusus, seorang mursyid selalu berusaha membersihkan niat dan meluruskan tujuan hidup salik.

Mursyid juga mengetahui kemampuan salik, mendidik tanpa pamrih, menyesuaikan ucapan dan tindakan, menyayangi orang lemah, menyucikan ucapan, berbicara dengan bijaksana, selalu mengingat dan memuliakan Allah sewaktu berbicara, serta  menjaga rahasia salik.

Selain itu, mursyid pun mempunyai sikap memaafkan kesalahan salik, mengabaikan haknya sendiri, memberikan hak-hak salik, mampu membagi waktu untuk menyendiri atau berkhalwat dan beramal, serta selalu mengerjakan amal sunah dan amal-amal sosial.

Sejatinya, mursyid juga memiliki sifat-sifat lebih khusus seperti merasa fakir setelah kaya, merasa rendah setelah tinggi, merasa sepi setelah populer, memuliakan ilmu pengetahuan dan mengamalkannya, bersih jiwanya, dan lurus jalan pikirannya. Tentu saja, sifat-sifat tersebut sudah menjadi sifat-sifat alamiah para mursyid.

Jika mursyid menyimpang jauh dari kriteria, itu akan menimbulkan dampak luas di dalam masyarakat. Kriteria mursyid seperti di atas sesungguhnya juga dimiliki kalangan ulama, meski tak secara formal mereka menjadi mursyid. Bahkan, mungkin ada di antara mereka lebih layak menjadi atau disebut mursyid.

Para wali misalnya, banyak sekali yang tidak tergabung di dalam tarekat dan karenanya tidak disebut mursyid. Orang bisa disebut mursyid jika mempunyai salik. Seorang yang mumpuni tetapi tidak punya salik, tentu tidak mungkin disebut mursyid.

 

PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI

Oleh : Wahib Mu’thi

Surat Al-Baqarah/2 : 30-33

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ {30} وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَآءِ هَؤُلآءِ إِن كُنتُم صَادِقِينَ {31} قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32} قَالَ يَآءَادَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّآ أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ {33}

ARTINYA

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata : “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku me-ngetahui apa yang tidak Engkau ketahui.”  Dia mengajar kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian memaparkannya kepada para malaikat, lalu berfirman : “Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda itu, jika kamu ‘orang-orang’ yang benar.” Mereka berkata : “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman : “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini !” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman : “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan kamu sembunyikan?”

 TAFSIR MUFRADAT

Khalifah berarti pengganti, yaitu pengganti dari jenis makhluk yang lain, atau  pengganti, dalam arti makhluk yang diberi wewenang oleh Allah agar  melaksanakan perintahNya di muka bumi. Tasbih berarti menyucikan Allah dengan meniadakan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah. Taqdis, berarti menyucikan Allah dengan menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Al-Asma’ adalah bentuk jamak dari ism. Secara harfiah al-asma’ berarti ma bihi yu’lam al-syay’, yakni sesuatu (kata/lambang) yang dengannya diketahui sesuatu (benda/orang dan sebagainya). Al-inba’ berarti al-ikhbar, yaitu memberitakan atau mengabarkan sesuatu. Perkataan al-inba’ secara khusus dipergunakan dalam arti memberitakan sesuatu yang penting nilainya. Al-‘Alim berarti yang maha mengetahui segala sesuatu. Al-Hakim berarti yang maha bijaksana dalam segala perbuatan-Nya, yang tidak berbuat sesuatu kecuali di dalamnya terkandung hikmah yang besar nilainya. (Tafsir Al-Maraghi).

 TAFSIR IJMALI

Ayat tersebut di atas menjelaskan ketetapan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Yang dimaksud dengan khalifah ialah makhluk Allah yang mendapat kepercayaan untuk menjalankan kehendak Allah dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya di muka bumi. Untuk menjalankan fungsi kekhalifahan itu Allah mengajarkan kepada manusia ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan manusia mempunyai kemampuan mengatur, menundukkan, dan memanfaatkan benda-benda ciptaan Allah di muka bumi sesuai dengan maksud diciptakannya.

PENJELASAN

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan ketetapanNya untuk menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman : Inni ja’ilun fi al-ardh khalifah.” (“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi).” Ketika hal itu disampaikan kepada para malaikat, para malaikat itu bertanya kepada Tuhan : “Apakah Engkau akan menjadikan di muka bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Sedangkan kami, para malaikat, adalah makhluk yang senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan memahasucikan Engkau? Para malaikat itu bertanya mengapa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah, karena mereka mengira bahwa manusia yang diciptakan Allah sebagai khalifah itu akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia di mana ada makhluk yang berlaku demikian atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat maka pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan menyucikan Allah (Tafsir Al-Misbah, I, hal. 139). Maka Allah berfirman menjawab pertanyaan malaikat itu dengan firmanNya : “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Artinya, di balik ketetapan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah itu ada hikmah yang tersembunyi. Allah mengetahui hikmah itu sedangkan para malaikat tidak mengetahuinya.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah mengajarkan “nama-nama” kepada Adam. Allah berfirman : Wa ‘allama Adam al-asma’a kullaha. (Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya). Yang dimaksud dengan nama-nama bukanlah nama-nama dalam pengertian harfiah dari kalimat itu, tetapi yang dimaksud dengan “nama-nama” itu ialah pengetahuan tentang benda-benda,  yakni karakteristiknya, sifatnya, fungsinya dan kegunaan dari benda-benda  yang ada di muka bumi, di mana tugas kekhalifahan dibebankan kepada manusia. Dengan kata lain Allah memberikan kepada Adam anugerah yang agung, yaitu  anugerah pengetahuan, yang tidak dimiliki oleh malaikat. Dengan berbekal ilmu pengetahuan itu manusia mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi.

            Mohammad Quraish Shihab menjelaskan arti khalifah sebagai berikut  : “Khalifah pada mulanya berarti “yang menggantikan” atau “yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya”. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan. Dengan pengangkatan itu Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.” (Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 140).

Perkataan khalifah itu sendiri disebut dua kali di dalam Al-Qur’an. Pertama dalam Surat Al-Baqarah/2 : 30, yang telah dikutip di atas. Kedua dalam Surat Surat Shad/38 : 26, yang artinya “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Syaikh Thabathaba’i berkata yang dimaksud khilafah adalah khilafah ‘an Allah, yakni pengganti, dalam arti makhluk yang mendapat kepercayaan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk menjalankan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Fungsi kekhalifahan ialah mengatur, menundukkan, dan memanfaatkan benda-benda ciptaan Allah di muka bumi ini sesuai dengan maksud diciptakannya.  Hal ini sesuai dengan makna yang terkandung dalam ayat berikutnya “wa ‘allama Adam Al-Asma’ (“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama.)” Dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan Adam bukanlah syakhsiyyat Adam, bukan Adam sebagai pribadi,  akan Adam dan keturunannya yaitu manusia pada umumnya. Khilafah dalam ayat tersebut diperuntukkan bagi manusia pada umumnya. Bahwa khilafah itu mengandung arti umum juga diperkuat dengan ayat Al-Qur’an “idz ja’alakum khulafa’ min ba’di qawm Nuh” (Al-A’raf/7 : 69), “Tsumma ja’alnakum khala’ifa fi al-ardh” (Yunus/10 : 14), “Wa yaj’alakum khulafa al-ardh” (Al-Naml/27 : 62).

Perkataan Al-Asma’, secara harfiah berarti “nama-nama”, yang dimaksud ialah al-asyya’ al-musammayat (benda-benda yang diberi nama). Mengajarkan nama-nama artinya mengajarkan pengetahuan tentang benda-benda, sifatnya, fungsinya, kegunaannya dan sebagainya. Telah dikemukakan yang dimaksud dengan Adam bukanlah Adam sebagai seorang manusia, akan tetapi manusia secara keseluruhannya, yaitu Nabi Adam dan keturunannya, dari semenjak penciptaan sampai hari kiamat. Dengan demikian yang dimaksud mengajarkan nama-nama kepada Adam yang dimaksud bukanlah mengajar dengan komunikasi lisan, tetapi untuk memberikan pengertian bahwa pengetahuan manusia tentang nama-nama itu meliputi seluruh nama-nama, merupakan pengetahuan yang berkembang dari masa ke masa, yang digunakan untuk kemajuan kehidupan di dunia.

Faruq Ahmad Dasuqi dalam bukunya Istikhlaf Al-Insan fi Al-Ardh menjelaskan bahwa di dalam khilafah itu terdapat lima   unsur. Pertama, yang memberi wewenang. Kedua, yang diberi wewenang. Ketiga, apa tugas yang dibebankan. Keempat,  syarat kekhalifahan.  Kelima, kapan berlangsungnya masa kekhalifahan dan bagaimana pertanggungannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Pertama, yang memberi wewenang ialah Allah. Kedua, yang diberi wewenang ialah manusia, yaitu Nabi Adam dan keturunannya. Ketiga, tugas yang dibebankan ialah tugas kekhalifahan di muka bumi, yaitu memakmurkan kehidupan di muka bumi, menjadikan benda-benda bumi bermanfaat bagi dirinya dan alam semesta pada umumnya sesuai dengan maksud diciptakannya. Keempat, syarat melaksanakan kekhalifahan ialah dengan ilmu dan dengan petunjuk agama. Kelima, masa kekhalifahan ialah semenjak penciptaan sampai hari kiamat dan tanggung jawab atau hisabnya adalah di hari pembalasan. Dengan demikian khilafah adalah hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan alam semesta. Hubungan manusia dengan Allah yang membebankan taklif kekhalifahan adalah hubungan ketaatan, kepatuhan, menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, dengan kata lain merupakan hubungan yang bersifat ‘ubudiyah. Hubungan manusia dengan alam semesta ialah hubungan manusia sebagai khalifah dengan benda-benda di muka bumi agar dipelihara dan digunakan untuk kehidupan yang baik di muka bumi. Dengan kata lain hubungan yang bersifat siyadah (kepemimpinan) antara pemimpin yang dipimpin. Khilafah adalah ‘ubudiyah dan sekaligus siyadah, ‘ubudiyah dilihat dari segi manusia dalam hubungannya dengan Allah dan siyadah dilihat dari segi manusia dalam hubungannya dengan alam semesta.

Syaikh Al-Maraghi berkata bahwa Surat Al-Baqarah/3 : 30 tersebut di atas yaitu ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang penciptaan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi termasuk ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang samar artinya. Dalam ayat tersebut digambarkan ada dialog yang digambarkan dalam bentuk tanya jawab antara Allah dan malaikat. Dialog tersebut sulit dipahami bagaimana hakikatnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat tersebut. (1). Pendapat mutaqaddimin (para ulama pada zaman dahulu),  mereka bersikap tafwidh kepada Allah, yakni menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan firmanNya kepada Allah. Dengan kata lain mereka mengatakan bahwa bagaimana terjadinya dialog antara Allah dengan malaikat, hanyalah Allah yang mengetahui. Kita hanya dapat memahami maksud ayat tersebut secara ijmali, yaitu menjelaskan tentang keistimewaan manusia dan kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi. (2). Pendapat muta’akhhirin, yaitu mereka berkata bahwa dialog antara Allah dan para malaikat, yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas dalam bentuk tanya jawab, sesungguhnya merupakan kisah perumpamaan. Dengan perumpamaan tersebut dimaksud untuk memberikan pemahaman tentang penciptaan manusia dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepadanya.  Manusia adalah makhluk yang diberi oleh Allah daya berfikir dan kebebasan berkehendak yang oleh karenanya, seperti diindikasi oleh para malaikat, manusia cenderung berbuat kerusakan di muka bumi. Maka Allah SWT memberikan kepada manusia ilmu pengetahuan, dengan pengetahuan yang dianugerahkan Allah itu manusia dapat mengemban amanat Allah sebagai khalifahNya di muka bumi. Demikian Syaikh Al-Maraghi menjelaskan di dalam Tafsirnya. (Tafsir Al-Maraghi, Juz, I, hal. 78-79).

DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 138-149.  Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan, I, hal. 115-123. Tafsir Al-Maraghi, Juz I, hal. 77-85. Faruq Ahmad Dasuqi, Istikhlaf Al-Insan fi Al-Ardh, Dar Al-Da’wah, Iskandariah, t.t. “Khalifah” dalam Ensiklopedi  Al-Qur’an,  Penerbit Lentera Hati, edisi 1997, hal. 206.

[] Input 17/9/12

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

 

PENGANTAR

Al-Qur’an: firman Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. untuk menjadi pedoman dan pegangan hidup bagi umatnya hingga akhir zaman dan mukjizat Rasulullah sejak awal diturunkan. Sebagai pedoman dan pegangan hidup bagi kaum muslimin Al-Qur’an harus bermakna dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan pesan-pesan Allah swt. melalui ajaran-ajaran Al-Qur’an haruslah dapat diaplikasikan dalam segala tingkah laku, perbuatan, perkataan, dan keadaan kita sehari-hari. Al-Qur’an yang mengandung tuntunan hidup itu tidak akan dapat memberi pengaruh sedikitpun kepada manusia dalam membawa mereka kepada jalan yang benar apabila nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya tidak diketahui, tidak dipahami,  tidak dikaji, dan tidak diamalkan.

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Ada 6 langkah untuk berinterkasi dengan al-Qur’an, yaitu:

1. Al-Qur’an harus dipelajari bacaannya

2. Al-Qur’an harus dibaca dan didengarkan

3. Al-Qur’an harus dihafal

4. Al-Qur’an harus dipahami maknanya

5. Al-Qur’an harus dikaji tafsirnya

6. Al-Qur’an harus diikuti, diamalkan, dan didakwahkan

 

LANGKAH 1   : AL-QUR’AN HARUS DIPELAJARI BACANNYA

Langkah pertama dan utama ialah mempelajari Al-Qur’an. Yang dimaksud dengan mempelajari Al-Qur’an di sini ialah suatu upaya untuk mengetahui dan tahu membaca Al-Qur’an. Yang harus dilakukan adalah mempelajari huruf-huruf Al-Qur’an, mempelajari bagiamana cara membaca Al-Qur’an. Untuk memenuhi langkah ini, maka kita di waktu kecil diajarkan bagaimana cara membaca huruf-huruf Al-Qur’an, bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf Al-Qur’an, dan bagaimana cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Untuk memenuhi langkah ini pulalah, maka pada saat ini dilakukan upaya-upaya ke arah itu dengan  mendidirikan lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an, seperti TKA, TPA, atau lainnya. Para orang tua yang menyadari pentingnya mempelajari Al-Qur’an bagi anak-anaknya akan berupaya dengan sungguh-sungguh agar anak-anaknya dapat membaca Al-Qur’an. Boleh jadi, hal itu dilakukan dengan cara mengajarkannya sendiri atau memanggil guru-guru privat yang dapat mengajarkan anak-anak mereka membaca Al-Qur’an. Anak-anak kita harus sejak dini diajak untuk mendekat dengan Al-Qur’an.

 LANGKAH 2 : AL-QUR’AN HARUS DIBACA

Langkah kedua: membaca Al-Qur’an. Pengetahuan kita tentang bagaimana membaca Al-Qur’an harus dapat dipraktekkan terus menerus untuk membaca Al-Qur’an. Kita tidak boleh berhenti hanya sampai pada mengenal dan mengetahui membaca Al-Qur’an, tetapi juga Al-Qur’an dituntut untuk selalu dibaca.

Membaca Al-Qur’an, walaupun tidak memahami makna yang terkandung di dalam ayat yang dibaca, sangat dianjurkan dalam agama. Seseorang yang mebaca satu huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an diberi ganjaran satu kebajikan oleh Allah swt.  Dapat dibayangkan kalau kita membaca satu surat dari surat-surat Al-Qur’an, walaupun surat yang dibaca itu surat yang amat pendek.

Dalam membaca Al-Qur’an harus diperhatikan etika-etika dan hukum-hukum bacaannya. Al-Qur’an ketika dibacakan harus didengarkan.

LANGKAH 3  : AL-QUR’AN HARUS DIHAFAL

Langkah ketiga adalah menghafal Al-Qur’an. Idealnya, dan itu yang terbaik setiap muslim harus menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan, mulai dari surat pertama hingga surat terakhir. Hal ini menjadi penting dilakukan karena dengan hafalannya seseorang dengan mudah akan dapat menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai kebutuhannya, termasuk di dalamnya ketika memimpin shalat. Hanya saja, tidak mudah bagi setiap muslim untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Paling tidak yang menjadi kewajiban setiap muslim adalah menghafal Surah al-Fatihah karena surah ini selalu dibaca pada setiap rakaat shalat, lalu menghafal surah-surah pendek yang terdapat di dalam Juz Amma.

LANGKAH 4 : AL-QUR’AN HARUS DIPAHAMI MAKNANYA

Langkah keempat  yang harus dilakukan ialah memahami Al-Qur’an. Yang dimaksud ialah memahami secara harfiyah arti kata-kata atau terjemahan ayat-ayatnya. Untuk itu, setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an, saat itu pula kita berusaha  memahami makna ayat-ayatnya. Dengan memahami maknanya itu, kita akan menjadi lebih dekat dan lebih akrab dengan Al-Qur’an.

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh orang atau para ahli agar seseorang dapat memahami arti ayat-ayat Al-Qur’an dengan menyusun berbagai macam buku atau tuntunan praktis untuk memahami Al-Qur’an.  Ada yang menerjemahkannya kata per kata, bahkan ada yang ayat per ayat.

Membaca surat Al-Fatihah tanpa memahami maknanya tentu akan sangat berbeda kalau kita membacanya sambil memahami makna yang terkandung di dalamnya. Membaca sambil memahami maknanya akan menanamkan dalam diri kita segala pesan yang dimuat di dalamnya.

Hal ini diharapkan akan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang melakukan salat akan terasa khusyu’ shalatnya, apabila dia memahami makna bacaan-bacaan yang dibacanya selama salat itu. Al-Fatihah yang dibaca dan dipahami maknanya akan menambah kekhusyu’an, penghayatan, dan kesadaran seseorang.

LANGKAH 5 : AL-QUR’AN HARUS DIKAJI TAFSIRNYA

 Langkah lima: mengkaji Al-Qur’an. Mengkaji Al-Qur’an adalah upaya lanjutan yang dilakukan untuk memahami dan menghayati Al-Qur’an secara lebih dalam. Pengkajian terhadap Al-Qur’an pada langkah ini dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji secara lebih dalam dan lebih luas lagi.

Pada tahap ini, kita dituntut tidak hanya untuk memahami arti ayat-ayat Al-Qur’an secara harfiyah, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu  mempelajari penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Mempelajari dan memahami penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadikan kita memahami lebih jauh lagi pesan yang terdapat dalam ayat-ayat itu dan pesan-pesan yang terdapat di balik ayat-ayat itu, dan ini  hanya dapat diperoleh melalui pengkajian yang lebih dalam.

 LANGKAH 6 : AL-QUR’AN HARUS DIIKUTI, DIAMALKAN, DAN DIDAKWAHKAN TUNTUNANYA

Langkah keenam: mengikuti, mengamalkan, dan mendakwahkan tuntunan Al-Qur’an. Mengikuti, mengamalkan Al-Qur’an berarti mengikuti dan mengamalkan segala ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, lalu mendakwahkan tuntuna-tuntunannya itu kepada orang lain.

Kandungan Al-Qur’an secara garis besarnya dapat dibagi atas dua bahagian, yaitu kandungan yang berisi larangan dan perintah. Mewujudkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari  dari sisi ini sangatlah mudah, yaitu bahwa segala yang dilarang harus ditinggalkan dan segala yang diperintahkan harus dikerjakan. Larangan dan perintah yang terdapat di dalam Al-Qur’an diperoleh melalui langkah pemahaman dan pengkajian Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengandung kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang bersifat umum dan global. Sebahagian dari perintah dan larangan di dalam Al-Qur’an diungkapkan secara umum, tidak mendail dan terinci. Untuk memahami dan menhgetahui rinciannya, kita dituntut untuk memahami dan mempelajari hadis Nabi Muhammad saw. Hal-hal yang belum terinci dalam Al-Qur’an dapat ditemukan rincian-rinciannya dalam hadis Nabi. Itulah sebabnya, maka Al-Qur’an dan Hadis merupakan dua sumber hukum Islam, Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama yang dipandang sebagai undang-undang dasar, sedangkan Hadis merupakan sumber kedua sesudah Al-Qur’an yang dipandang sebagai undang-undang yang berfungsi sebagai penjelasan terhadap hal-hal yang bersifat umum di dalam Al-Qur’an.

 *makalah disampaikan pada pembukaan halaqah tafsir dan pembukaan program PSQ (5/9/2012)

Seputar Surah Al-Fatihah

 Oleh : Wahib Mu’thi

Surat al-Fatihah tergolong Surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekah sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Perkataan Al-Fatihah berarti “pembuka”. Surat ini dinamakan Surat Al-Fatihah karena menjadi pembuka kitab suci Al-Qur’an. Ia merupakan surat yang pertama dari segi penempatannya dalam susunan Kitab Suci Al-Qur’an.  Perkataan Al-Fatihah yang menjadi nama dari surat ini dapat juga berarti “pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebajikan.”

Surat Al-Fatihah mempunyai beberapa nama lainnya. Di antara nama-nama dari Surat Al-Fatihah ialah :

1. Umm Al- Qur’an atau Umm Al-Kitab. Dinamakan Umm Al-Qur’an atau Umm Al-Kitab karena Surat Al-Fatihah itu merupakan induk dari semua ayat-ayat Al-Qur’an.

2.  Al-Sab’ al-Matsani, yang berarti “tujuh ayat yang diulang-ulang.” Allah SWT berfirman (artinya) :“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan As-Sab’ al-Matsani dan Al-Qur’an yang Agung.”  Q. S. Al-Hijr/15 : 87. Dinamakan Al-Sab’ al-Matsani karena surat tersebut terdiri dari tujuh ayat yang diulang-ulang pembacaannya di dalam shalat. Dapat juga dinamakan Al-Sab’ Al-Matsani karena kandungan atau pesannya diulang-ulang dan dirinci oleh ayat-ayat lainnya di dalam Al-Qur’an.

3.  Surat Al-Shalat. Dinamakan Surat Al-Shalat, demikian tersebut dalam hadits qudsi,  karena Surat Al-Fatihah dibaca pada setiap ra’kaat di dalam shalat.

4.  Surat Al-Hamd, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah.

Pokok-Pokok Kandungan Surat Al-Fatihah

 Surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Empat ayat yang pertama berisi puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya disebut  Nama Allah : Al-Rahman, Al-Rahim, Rabb al-‘Alamin, dan Maliki Yaum al-ddin. Tiga ayat yang terakhir berisi  doa  kepada Allah SWT, yaitu mohon pertolongan kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang membawa kepada kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Syekh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah mengandung lima intisari ajaran Al-Qur’an (maqashid al-Qur’an), yaitu  :

1.  Tauhid (Keesaan Allah), yaitu terdapat pada ayat Al-hamdulillahi Rabb Al-‘Alamin dan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.

2.  Ibadah (Ketaatan kepada Allah), yaitu terdapat pada ayat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.

3.  Jalan menuju kebahagiaan, yaitu terdapat pada ayat Ihdina al-shirath al-mustaqim.

4. Janji dan ancaman, yaitu terdapat pada ayat Al-Rahman Al-Rahim dan Malik Yawm Al-Din.

5. Kisah-kisah umat pada zaman dahulu, yaitu sebagaimana diisyaratkan pada ayat “Shirat alladzina an’amta ‘alaihim ghayr al-maghdhubi ‘alaihim wala al-dhallin”. Dalam ayat tersebut disebutkan  tiga golongan manusia, yaitu orang-orang yang diberi nikmat, orang-orang yang dimurkai dan  orang-orang yang sesat.

Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah dinamakan Umm Al-Kitab, karena di dalamnya terkandung initisari ajaran Al-Qur’an. Sebagaimana biji korma dinamakan Umm Al-Nahlah, karena ia merupakan benih atau asal dari pohon korma secara keseluruhannya. Demikian tersebut dalam Tafsir Al-Manar, jilid I, hal. 383.

Tafsir Ayat Demi Ayat

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Allah, yang Rahman lagi Rahim.”

 Allah SWT memulai kitabnya dengan Basmalah. Ayat yang pertama dari Surat Al-Fatihah tersebut  mengandung pesan kepada umat manusia agar memulai segala aktivitasnya dengan menyebut nama Allah. Kata “ba’ yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “dengan” mengandung pengertian  yang tidak diucapkan, yaitu “saya memulai” (“abtadi’u). “Bismillah” yang diucapkan ketika kita memulai suatu pekerjaan mengandung arti  “Saya memulai pekerjaan ini dengan menyebut nama Allah”.  Sebagai ayat yang pertama dari Surat Al-Fatihah, Basmalah mengandung arti bahwa semua yang terkandung di dalam Kitab Suci Al-Qur’an adalah wahyu Allah.

Menyebut Nama Allah ketika kita akan memulai sesuatu pekerjaan merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam agama. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ أَمْرٍ ذِى باَلٍ لَمْ يُبْدَأ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara yang penting yang tidak dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim”, maka perkara tersebut cacat”. (Hadits diriwayatkan oleh Al-Suyuthi dalam Jami’ Al-Shaghir). Yang dimaksud dengan “cacat” ialah “munqathi’ al-akhir”, artinya terputus atau gagal dengan kata lain perbuatan itu tidak membawa kebaikan di dalam kesudahannya.  M. Quraish Shihab menjelaskan : “Ketika membaca Basmalah dan memulai satu pekerjaan, apapun jenis pekerjaan itu : makan, minum, belajar, belajar, bahkan bergerak dan diam sekalipun, kesemuanya harus disadari bahwa titik tolaknya adalah Allah SWT dan bahwa ia dilakukan demi karena Allah. Ia tidak mungkin dapat terlaksana kecuali atas bantuan dan kekuasaan Allah SWT. (Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 12).

Kata Allah adalah Nama yang menunjuk kepada Dzat yang wajib wujudnya yang menciptakan alam semesta. DaripadaNya berasal segala sesuatu, dan kepadaNya kembali segala sesuatu. Jika disebut nama “Allah” maka Nama itu telah mencakup semua Nama-nama yang lain seperti Al-Rahman, Al-Rahim, Al-‘Alim dan sebagainya. Sedangkan Nama-nama yang lain hanya mengandung makna atau sifat tertentu seperti Al-Rahman (Yang Maha Pengasih/penyayang) mengandung sifat  rahmat,  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) mengandung sifat ilmu,  dan sebagainya. Apabila seseorang mengucapkan kata Allah maka akan terlintas dalam benaknya segala sifat kesempurnaan. Allah SWT menamai dirinya “Allah”, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an (artinya) : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” Q.S. Thaha/20 : 14.

Para ulama berbeda pendapat apakah kata Allah itu diambil  dari kata yang lain atau merupakan kata asal yang tidak diambil atau dibentuk dari kata yang lain. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Allah itu tidak terambil dari kata lain (ghair musytaq). Ia merupakan kata asal, yaitu Nama bagi Tuhan. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Allah diambil dari kata ilah, kemudian diberi adat al-ta’rif,  yaitu huruf alif dan lam (al) maka berbunyi Al-Ilah. Kemudian hamzah pada kata Al-Ilah dibuang, maka berbunyi Allah. Adapun  al-ilah itu berasal dari aliha yang berarti ‘abada  (menyembah, mengabdi, tunduk). Disebut ilah karena sesuatu itu disembah (li’annahu ma’bud).  Kata ilah diper-gunakan dalam arti segala sesuatu yang disembah oleh manusia, apapun agama dan kepercayaannya. Sedangkan Allah adalah Tuhan yang sesungguhnya, sebagaimana yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul sepanjang masa. Bentuk jamak dari ilah adalah alihah yang berarti tuhan-tuhan, sedangkan kata Allah itu tidak ada bentuk jamak-nya.

Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah termasuk ayat dari surat Al-Fatihah atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa basmalah tidak termasuk ayat dari surat Al-Fatihah, karena itu tidak dibaca ketika membaca Surat Al-Fatihah di dalam shalat. Imam Syafi’i berpendapat bahwa basmalah termasuk Surat Al-Fatihah karena itu wajib dibaca di dalam shalat. Imam Abu Hanifah mengambil jalan tengah berpendapat bahwa Basmalah dibaca ketika membaca Surat Al-Fatihah, tetapi tidak dengan suara keras. Berbagai pendapat itu tidak harus dipertentangkan. Masing-masing dari pendapat tersebut ada dalilnya, yaitu  merujuk kepada hadits Nabi. Para ulama dari berbagai madzhab sepakat bahwa sah shalat seseorang yang berpendapat bahwa basmalah wajib dibaca di dalam shalat, dan sah pula shalatnya ketika mengikuti imam yang tidak membaca basmalah di dalam shalat. Tafsir Al-Misbah, jilid I, hal. 24-26.

 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya bagi Allah, pemelihara seluruh alam.”

Puji (al-hamdu) dan syukur (al-syukru) adalah dua kata yang sering digabungkan sehingga menjadi kesatuan di dalam ucapan dan keduanya ditujukan kepada Allah. Kedua kata tersebut  mempunyai makna yang berdekatan. Puji, dalam bahasa Arab al-hamd,  berarti ucapan yang baik yang mengandung penghormatan yang ditujukan kepada siapa yang berbuat kebaikan, baik kebaikan itu ditujukan kepada yang memuji atau tidak. Adapun syukur, dalam bahasa Arab al-syukr, adalah ucapan atau ungkapan yang ditujukan kepada siapa yang berbuat kebaikan kepada orang yang menyatakan syukur itu. Syukur dinyatakan dengan hati, dengan lisan maupun dengan perbuatan, sedangkan puji dinyatakan dengan lisan atau perkataan saja. Dengan demikian, dari satu sisi kata puji lebih umum daripada syukur, dari sisi lain syukur mengandung pengertian yang lebih umum daripada pujian. Perkataan al-hamd, yang berarti segala puji, dalam ayat tersebut di atas ditujukan kepada Allah, Dialah sumber dari segala kebaikan.

Rabb, mengandung arti yang memelihara, yang mendidik. Pemeliharaan Allah kepada makhluk meliputi pemeliharaan fisik (tarbiyah khalqiyah), dan pemeliharaan agama dan budi pakerti (tarbiyah diniyah/khuluqiyah). Al-‘Alamin, adalah bentuk jamak dari ‘alam, berarti seluruh alam semesta, yaitu semua yang mempunyai wujud dalam alam semesta ini.  Ada  alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.

Memuji Allah merupakan ibadah yang dianjurkan dalam agama. Rasulullah saw memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa memuji kepada Allah, lebih-lebih ketika merasakan adanya anugerah ilahi. Bahkan ketika mendapat cobaan atau ditimpa musibah kita dian-jurkan memuji Allah dengan mengucapkan : “Alhamdulillah alladzi la yuhmadu ‘ala makruh siwah.” Segala puji bagi Allah, tidak ada yang dipuji ketika suatu cobaan menimpa, selain Allah.

 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Rahman, lagi Rahim

Allah bersifat Al-Rahman dan Al-Rahim. Kedua kata tersebut merupakan bentuk superlatif (mubalaghah) yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu al-rahmah, yang berarti kasih sayang.  Al-Rahman, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, yadullu ‘ala al-katsrah, yakni mengandung arti bahwa kebaikan atau kasih sayang itu sangat banyak, tidak terbatas. Al-Rahim, kata tersebut yadullu ‘ala al-tsabat wa al-baqa’, yakni mengandung arti bahwa kasih sayang Allah merupakan kasih sayang yang tetap dan selama-lamanya. Atas dasar makna tersebut para ulama berpendapat bahwa Al-Rahman adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan kepada semua makhlukNya. Sedangkan Al-Rahim adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan khusus kepada orang-orang yang beriman. Al-Rahman adalah kasih sayang yang ditujukan kepada makhluk pada umumnya baik yang beriman maupun yang tidak beriman (misalnya dalam Q.S. Maryam : 75), sedangkan Al-Rahim secara khusus ditujukan kepada orang yang beriman (misalnya dalam Q.S. Al-Ahzab : 43, Al-Taubat : 117). Sebagian ulama ada pula yang berpendapat bahwa Al-Rahman mengan-dung arti kasih sayang pada umumnya, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan. Sedangkan Al-Rahim secara khusus mengandung arti kasih sayang yang dirasakan.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang Memiliki hari pembalasan.

Kata Malik dapat dibaca dengan mim panjang dan dapat pula dibaca dengan mim pendek. Jika dibaca dengan mim panjang, kata tersebut berarti “yang memiliki” atau “yang menguasai.” Jika dibaca dengan mim pendek, berarti “raja.” Kedua bacaan itu merupakan bacaan Nabi berdasarkan riwayat yang dapat dipertanggung jawabkan kesahihan-nya. Ad-Din, berarti perhitungan atau pembalasan, yang dimaksud ialah perhitungan dan pembalasan kelak di hari kiamat tentang amal baik dan buruk yang dilakukan manusia. Allah SWT adalah Maliki Yawm Al-Din. Artinya yang memiliki hari pembalasan atau Raja di hari pembalasan.  Allah SWT berfirman, “milikNya kerajaan/ ke-kuasaan pada hari ditiup sangkakala” (Q.S. Al-An’am/6 : 73).  Dalam ayat lain Allah berfirman (artinya) : “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Al-Jatsiyah/45 : 28).

Firman Allah Maliki yaumiddin disebutkan dalam surat Al-Fatihah sesudah Al-Rahman Al-Rahim. Hal tersebut mengandung isyarat adanya tarhib, yaitu memberi peri-ngatan dengan menyampaikan berita yang menakutan, sesudah adanya targhib, yaitu menyampaikan kabar yang menggembirakan.  Dalam penjelasan lain, ayat tersebut mengandung wa’d dan wa’id. Yang dimaksud wa’d ialah janji bahwa Allah akan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik. Sedangkan wa’id ialah ancaman bahwa Allah akan menim-pakan siksa kepada orang yang berbuat jahat.

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Iyyaka Na’budu, Hanya kepada Engkau, kami ber-ibadah.  Na’budu diterjemahkan dengan menyembah, me-ngabdi atau taat.  Ibadah  mengandung arti tunduk dan patuh kepada Allah. Dalam pengertian khusus, yang di-maksud dengan ibadah ialah perbuatan yang diperin-tahkan atau dianjurkan dalam agama seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya. Dalam pengertian yang luas, ibadah ialah segala pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan mengabdi kepada Allah SWT.

Iyyaka Nastain, Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Ayat ini mengandung pengajaran kepada umat manusia agar mohon pertolongan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, dan meyakini dengan setulus-tulusnya bahwa segala sesuatu itu terjadi karena per-tolongan Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Syaikh al-Maraghi menyebutkan ada 4 macam hidayah (petunjuk) yang diberikan oleh Allah kepada makhlukNya. Yaitu hidayah ilham (intuisi, naluri), hidayah indra (panca indra), hidayah akal dan hidayah agama. Dengan hidayah dari Allah manusia menempuh jalan yang benar, jalan yang membawa kepada kebahagiaan, dunia dan akhirat.

Shirath al-mustaqim berarti jalan yang lurus. Jalan yang membawa kepada kebahagiaan, di dunia dan di akhirat.  Yang dimaksud dengan jalan yang lurus tidak lain adalah agama yang intinya lain adalah menjalani hidup dengan tujuan beribadah kepada Allah.  Allah SWT berfirman (artinya) : “Katakanlah, sesungguhnya aku telah ditunjukkan oleh Tuhanku kepada shirath al-mustaqim, jalan luas yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Al-An’am/6 : 161).  Al-Shirath Al-Mustaqim adalah menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah. Allah berfirman (artinya) : “Dan beribadahlah kepadaKu, inilah Shirath Al-Mustaqim.” (Q.S. Yasin/36 : 61).

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ

(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka,  bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

 Yang dimaksud dengan “alladzina an’amta ‘alayhim” ialah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Menurut Syaikh Thabathaba’i penafsiran yang paling tepat tentang siapa yang diberi nikmat itu ialah dengan merujuk firman Allah dalam Surat Al-Nisa’/4 : 69 (artinya) : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Al-Maghdhubi ‘alaihim, berarti orang yang dimurkai oleh Allah, ialah orang yang telah datang kepadanya petunjuk, tetapi petunjuk Allah itu diabaikan. Dengan kata lain orang yang mempunyai ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya.  Al-dhallin, berarti orang-orang yang sesat,  ialah orang yang tak pernah mendapat petunjuk, atau tidak mau menerima petunjuk,  karena tertutup hatinya oleh hawa nafsu sehingga ia terjerumus ke dalam kesesatan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang hanya mengandalkan kepada akalnya dan mengabaikan ajaran agama.

 آمين

 Semoga Engkau mengabulkan doa kami.

 Dianjurkan mengakhiri bacaan Surat Al-Fatihah dengan mengucapkan Amin, walaupun kata ini bukan bagian dari Surat Al-Fatihah. Amin berarti “kabulkanlah permintaan  kami,” yakni doa sebagaimana yang tersebut pada ayat 6 dan 7 : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka,  bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”  

Kepustakaan :

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, jilid I, hal. 3-77. Syaikh Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar.  Syaikh Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan.

Hadits Qudsi : Keutamaan Surat Al-Fatihah

عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ :قاَلَ اللهُ تعَالىَ : قَسَّمْتُ  الصَّلاَةَ بَيْنىِ وَبَيْنَ عَبْدِى  نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِى مَا سَألَ . وَفِى رِوَايَةٍ : فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهاَ لِعَبْدِى .  فَاِذَا قَالَ العَبْدُ:  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمَيِن  قاَلَ اللهُ : حَمَدَنِى عَبْدِى . فَاذَا قاَلَ : الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : قَالَ : أثنىَ عَلَىَّ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ  قاَلَ : مَجَّدَنىِ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ  نَسْتَعِيْنُ  قاَلَ : هَذاَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَألَ . فَاذاَ قاَلَ : اِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ  صِرَاطَ الَّذِيْنَ  أنعَمْتَ عَلَيْهِمْ  غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ  قاَلَ : هَذاَ لِعَبْدِى  وَلِعَبْدِى مَا سَألَ”. رَوَاهُ الامَام ُمُسْلِم .

Diriwayatkan oleh  Abu Hurairah RA bahwa  Rasulullah saw bersabda : Allah SWT berfirman : “Aku membagi shalat (yakni al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dimohonnya. Apabila hamba-Ku berkata   “Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin”, Allah menyambut dengan berfirman  “Hamadani ‘Abdi” (“Aku dipuja oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Al-Rahman Al-Rahim”, Allah berfirman “Atsna ‘Alayya ‘Abdi” (“Aku dipuji oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Maliki Yawmid Din”, Allah berfirman : “Majjadani ‘Abdi” (“Aku diagungkan oleh hamba-Ku”). Dan apabila ia membaca : “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, maka Allah berfiman : “Hadza bayni wa bayna ‘abdi, wa li’abdi ma sa’ala”, (“Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon (kepada-Ku)”. Dan apabila ia berkata : “Ihdina al-shirath al-mustaqim, Shirat al-ladzina an’amta ‘alayhim ghayr al-maghdhubi ‘alayhim wala al-dhallin”, maka Allah berfirman: “Hadza li ‘abdi wa li’abdi ma sa’ala” (“Ini adalah bagi hamba-Ku. Bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon kepada-Ku”).

Demikian hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah ra. (radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah SWT memberi ridha kepadanya).

 

 

 

ILMU DAN ULAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Berbeda dengan kitab suci lainnya, Alquran memberikan apresiasi yang tinggi terhadap ilmu dan ulama. Dalam Perjanjian Lama, kitab suci yang diturunkan untuk komunitas dan waktu tertentu, perbincangan tentang ilmu belum mendapat tempat yang selayaknya, sebab ilmu dapat tumbuh dan berkembang dengan stabilitas ruhani, sosial dan dorongan spiritual untuk berkhidmat kepada manusia. Alih-alih mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, yang terjadi justru pertentangan antara ilmu dan kitab suci. Pandangan ini dipengaruhi kitab suci yang menghilangkan sifat kemahatahuan dari Tuhan. Tuhan, seperti digambarkan dalam Kitab Kejadian 12 : 13, tidak memiliki kemampuan untuk sekadar membedakan hamba yang akan mendapat siksa dan yang tidak, sehingga meminta bangsa Israel untuk melulurkan darah di rumah mereka yang membedakannya dengan bangsa Mesir[1].

Tidak jauh berbeda tradisi dalam agama Kristen. Pertentangan antara akal dan agama begitu sengitnya dan memakan korban yang tidak sedikit. Galileo adalah salah satu contohnya. Pandangannya tentang perputaran bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya seperti pandangan gereja, mengharuskannya menerima hukuman yang keji, dan baru pada tahun 1992 Vatikan membebaskannya dari hukuman kafir[2].  Sikap tersebut sejalan dengan pandangan para penulis Perjanjian Baru terhadap alam raya yang menurut banyak ahli sangat tidak ilmiah[3]. Karena itu, menurut Muhammad Asad, sangat keliru menisbatkan kemajuan yang dicapai dunia Kristen saat ini sebagai pengaruh dari kitab sucinya[4]. Bahkan seperti ditengarai M. Abduh, seorang tokoh reformis Islam yang sempat berkelana di Eropa, barat yang Kristen maju karena para ilmuwan berhasil membatasi dominasi gerejawan dalam ruang publik, atau dengan kata lain maju karena meninggalkan ajaran agamanya[5].

Hal seperti di atas tidak terjadi dalam Islam. Kitab suci Alquran yang berfungsi sebagai hudan (petunjuk) memberikan berbagai kemungkinan bagi manusia untuk melakukan tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, termasuk dengan memberinya akal yang menghasilkan ilmu. Karena itu perbincangan tentang ilmu dan penghargaan terhadap ilmuwan (ulama) banyak ditemukan dalam paparannya.

Memang Alquran bukan buku ilmiah, tetapi tidak satu ayat pun di dalamnya yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan terdapat hampir 750 ayat yang bersinggungan, secara langsung atau tidak, dengan berbagai bidang keilmuan seperti kosmologi, kedokteran, geologi dan sebagainya. Selain itu juga terdapat sekian ayat yang merangsang manusia untuk berkarya dan beraktifitas ilmiah.

Ilmu dan Ulama dalam Alquran

Apresiasi Alquran terhadap ilmu tidak hanya tergambar dari penyebutan kata al-`ilm dan derivasinya yang mencapai 823 kali, tetapi terdapat sekian ungkapan yang bermuara pada kesamaan makna seperti al-`aql, al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, al-i`tibâr dan al-dzikr. Kata al-`ilm dan derivasinya, menurut pakar Alquran Raghib al-Ashfahani, bermakna pengetahuan akan hakikat sesuatu[6]. Padanannya adalah al-ma`rifah. Kendati keduanya bermakna pengetahuan tetapi para pakar bahasa Arab menggunakan kata al-ma`rifah sebagai ungkapan untuk pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemikiran dan perenungan terhadap gejala atau fenomena sesuatu yang dicermati. Karena itu dalam bahasa Arab pengetahuan Tuhan akan makhluk-Nya digambarkan dengan ungkapan `alima, bukan `arafa. Sebaliknya, pengetahuan manusia akan Tuhannya diungkapkan dengan kata `arafa karena diperoleh melalui perenungan terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya[7].

Pengetahuan, apapun bentuknya, diperoleh melalui sebuah proses mencermati, membaca dan menganalisa yang dilakukan oleh akal, indera (al-bashar) dan kalbu (al-bashîrah). Proses ini biasa disebut dengan berfikir. Melalui dua unit wahyu yang pertama, lima ayat pertama surah al-‘alaq dan awal surah al-qalam, Alquran telah mengajak manusia untuk bergegas menghasilkan ilmu pengetahuan. Sebab hanya dengan ilmu pengetahuan manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dengan baik. Karena itu yang diajarkan pertama kali kepada Adam AS ketika turun ke bumi adalah pengetahuan tentang nama-nama benda (Q.,s. Al-Baqarah :   31).

Kedua unit wahyu pertama menekankan pentingnya membaca yang disimbolkan dengan kata iqra’ dan menulis yang disimbolkan dengan al-qalam (pena atau alat tulis lainnya). Keduanya menjadi simbol kemajuan peradaban manusia. Dengan membaca akan tercipta ilmu, dan dengan menulis proses transformasi ilmu dapat berjalan secara berkesinambungan.

Pada unit wahyu pertama, kata iqra’ yang mengandung arti membaca, mengumpulkan, menganalisa sehingga menjadi satu himpunan yang padu, tidak disebutkan objeknya. Sesuai dengan kaidah ilmu tafsir, redaksi seperti ini menunjukkan bahwa objeknya bersifat umum. Dari sini, Alquran tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan ; ilmu agama dan umum, ilmu dunia dan akhirat. Dalam pandangannya ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika. Kesan ini diperkuat dengan dikaitkannya perintah iqra’ dengan sifat rubûbiyah Tuhan yang maha mencipta, bismi rabbika alladzî khalaq.

Kata rabb yang sering diartikan Tuhan mengandung makna pemeliharaan dengan segala kelazimannya. Kaidah ilmu tafsir lain mengatakan, penyebutan suatu perintah yang disertai dengan suatu sifat menunjukkan keterkaitan perintah tersebut dengan sifat yang menyertainya. Dengan kata lain ayat pertama ini berpesan, “bacalah dengan nama Tuhan pemelihara yang telah mencipta, segala apa saja yang dapat memelihara kelangsungan hidupmu.” Dan jika kita merujuk kepada asal makna kata ism yang berarti tanda yang dapat mengenalkan identitas pemiliknya, maka dapat ditangkap kesan lain bahwa objek perintah iqra` pada ayat ini secara khusus tertuju pada tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terbentang di alam luas ini.

Dari sini tidak berlebihan jika ada yang mengatakan sejak awal agama Islam telah bercirikan ilmiah dan rasional[8]. Ciri tersebut sejalan dengan substansi ajaran Islam yang menuntut seseorang yang mengimaninya untuk terlebih dahulu memiliki ilmu pengetahuan.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah” (Q.,s. Muhammad : 19).

Karena itu, tidak berlebihan jika Abbas Mahmud al-Aqqad, seorang cendekiawan terkemuka Mesir, mengatakan, berpikir dalam rangka mencari kebenaran merupakan bagian dari kewajiban Islam (al-tafkîr farîdhah islâmiyyah)[9].

Kehidupan seorang Muslim harus selalu ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Katakan, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu pengetahuanku’.” (Q.,s. Thaha : 114), demikian doa yang harus selalu dipanjatkan oleh seorang Muslim. Sebab pasti berbeda antara orang yang memiliki ilmu pengetahuan dengan yang tidak.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا  يعلمون

Katakan, tidaklah sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu (Q.,s. Al-Zumar : 9).

Orang yang berilmu akan ditempatkan oleh Tuhan pada posisi yang terpuji dan amat termuliakan (Q.,s. Al-Mujadilah : 11). Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran akan diturunkan derajatnya sampai pada tingkatan terendah, yaitu seperti binatang atau yang lebih hina darinya (Q.,s. Al-A`raf : 179).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.,s. Al-Mujadilah : 11)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.,s. Al-A`raf : 179)

Dengan ilmu manusia menjadi berbeda dengan makhluk lainnya. Al-Ghazali berkata, “Ilmulah yang membedakan manusia dari binatang. Dengan ilmu ia menjadi mulia, bukan dengan kekuatan fisiknya, sebab dari sisi ini onta jauh lebih kuat, dan bukan dengan kebesaran tubuhnya, sebab gajah pasti melebihinya, juga bukan dengan keberaniannya, sebab singa lebih berani darinya…. Manusia diciptakan hanya untuk ilmu”[10].

Sekali lagi, ketika berbicara ilmu pengetahuan Alquran tidak mengkhususkan pada ilmu tertentu, agama misalnya, tetapi mencakup segala bentuk pengetahuan yang dicapai manusia melalui upaya mencermati langit dan bumi beserta isinya.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

Tidakkah kalian perhatikan dan cermati kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah (Q.,s. Al-A`râf : 185).

Berbeda dengan tradisi keilmuan di barat yang materialistis, Islam membimbing agar ilmu pengetahuan dapat mengantarkan manusia pada pemilik rahasia alam raya ini, bukan sekadar ilmu untuk ilmu. Tujuan akhirnya adalah :

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Sesungguhnya kepada Tuhanmu segala sesuatu bermuara (Q.,s. Al-Najm : 42)

Dengan demikian, segala proses mencari ilmu pengetahuan, apapun jenisnya, selama untuk kemaslahatan manusia dan berakhir pada upaya menemukan Tuhan akan bernilai ibadah dan merupakan bagian dari hijrah kepada Allah Swt[11]. Ilmu harus selalu dibimbang dengan iman, dan sebaliknya iman harus ditopang dengan ilmu.

Ilmu sebagai pijakan iman dan amal

Di muka telah diurai dalam Islam tidak dikenal pertentangan antara ilmu dan iman seperti yang terjadi di bumi Eropa pada abad pertengahan. Tidak satu pun ayat Alquran memperkenankan pertentangan itu terjadi. Bahkan keduanya berjalan secara beriringan. Karena itu keimanan yang benar harus dilandasi oleh bukti yang dicapai melalui proses pemikiran dan penghayatan, bukan sekadar ikut-ikutan atau sangkaan dan dugaan. Sekian ayat dalam Alquran menjelaskan kecaman terhadap mereka yang beriman dengan membebek kepada ajaran nenek moyang (Q.,s. Al-Ma`idah : 104), atau mengikuti ajaran berdasarkan dugaan yang belum tentu benar Q.,s. Al-Najm : 23).

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Q.,s. Al-Ma`idah : 104)

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَءَابَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Q.,s. Al-Najm : 23).

Tantangan Alquran kepada orang yang berseberangan dengan ajarannya jelas,

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah, datangkanlah bukti-bukti kalian jika kalian merasa benar (Q.,s. Al-Baqarah : 111).

Alquran tidak pernah khawatir seruannya untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan akan berdampak memprakporandakan bangunan keimanan. Sebab dalam pandangan Islam, hakekat keagamaan tidak akan bertentangan dengan hakekat yang dicapai ilmu pengetahuan. Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebuah kaidah, “teks-teks keagamaan yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan nalar yang jernih dan benar”. Jika secara lahir keduanya terkesan bertentangan pasti salah satunya ada yang keliru atau lemah[12].

Alquran berpandangan ilmu yang benar akan membawa kepada keimanan yang teguh. Sebaliknya, keimanan yang teguh akan menumbuhsuburkan lahan tempat ilmu tumbuh dan berkembang. Dalam sebuah ayat Allah berfirman ;

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

Dan supaya mereka yang berilmu itu tahu bahwa Alquran itu benar berasal dari Allah sehingga mereka mengimaninya dan hati mereka menjadi tunduk kepada ajarannya. (Q.,s. Al-Hajj : 54)

Ada tiga hal yang saling berkaitan pada ayat di atas; ilmu (al-`ilm), iman (al-Îmân) dan ketundukan (al-Ikhbât). Ilmu diikuti tanpa jarak, sesuai dengan kata penghubung fa, dengan keimanan (liya`lamû fayu`minû), dan selanjutnya keimanan akan membuahkan gerakan hati yang terpancar melalui ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah Swt. Karena itu, menurut Ibnu Mas`ud, ukuran sebuah ilmu bukan pada banyaknya, tetapi sejauh mana ilmu tersebut dapat mengantarkan kepada kekhusyukan (laysa al-`ilm bikatsrat al-riwâyati, innama al-`ilmu khasyyatullâh)[13].

Pada ayat lain Allah menjelaskan, ““Sesungguhnya hanya hamba-hamba-Ku yang berilmulah yang dapat tunduk dan khusyuk kepada-Ku dengan baik”, demikian kurang lebih makna firman-Nya dalam surah Fâthir ayat 28. Dilihat dari kontek rangkaian penyebutannya, ayat ini didahului dengan penyebutan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa turunnya hujan yang kemudian menghasilkan buah-buahan dengan berbagai warna dan rasa, gunung yang berwarna-warni dan perbedaan warna yang ada pada bintang dan manusia. Suatu hal yang mengisyaratkan tingginya nilai ilmu yang didasari atas pengamatan terhadap alam. Sungguh benar apa yang pernah dikatakan Albert Einstein: “Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan hati melebihi saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya. Sekali pun rahasia itu tidak terungkap, tetapi di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk penghambaan.” Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh al-Razi, seorang pakar tafsir Alquran kenamaan. Ia mengomentari ayat di atas dengan mengatakan, “Semakin dalam seseorang menyelami lautan ciptaan Tuhan semakin tahu ia akan kebesaran dan keagungan-Nya.”

Seorang yang berilmu benar tidak akan cepat merasa puas dan menyombongkan diri. Perhatikan kisah Dzul Qarnain yang diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk menaklukkan musuh dan membangun bendungan yang maha dahsyat dengan ilmu yang dimilikinya. Selesai membangun ia berkata,

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي

“Inilah bentuk kasih sayang dari Tuhanku” (Q.,s. Al-Kahf : 98).

Ilmu yang menghasilkan kebenaran dan keimanan dalam bahasa Alquran disebut al-hikmah. Pakar bahasa Alquran, Raghib al-Ashfahaniy, mengartikannya sebagai menemukan kebenaran melalui ilmu dan akal[14]. Ilmu hikmah inilah yang diajarkan Tuhan kepada para Nabi seperti Yahya AS (Q.,s. Maryam : 12), dan orang bijak seperti Luqman (Q.,s. Luqman : 12).

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan barangsiapa diberi hikmah sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak, demikian firman Allah dalam Q.,s. Al-Baqarah : 269. Kebaikan itu tidak hanya ketika di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda : Innal jannata lil muhakkimîn[15]. Hadis ini oleh sebagian ulama dipahami sebagai menjelaskan balasan surga bagi sebuah kaum yang diberi pilihan antara mati terbunuh dalam keadaan Islam atau keluar dari Islam (murtadd), lalu mereka memilih yang pertama. Tetapi ulama lain memahami balasan surga dalam hadis ini diperuntukkan bagi orang-orang yang diberi al-hikmah[16].

Al-hikmah dititipkan oleh Allah Swt dalam bentuk ayat-ayat-Nya yang bersifat tanzîliyyah (Alquran) dan kawniyyah (yang tersimpan di jadat raya). Seseorang dapat menemukannya dari mana dan di mana saja. Hikmah, seperti diumpamakan dalam sebuah hadis, seperti barang hilang yang dapat ditemukan oleh siapa dan di mana saja, termasuk dari musuh atau orang-orang yang berseberangan dengan kita[17]. Seorang sufi besar, Ibu Arabi pernah berpesan, “Wahai para penuntut ilmu agama, jangan sampai Anda menolak sebuah wacana (ilmu kalam) dari seorang filosof lantaran dia tidak beragama. Itu sikap orang yang tidak berilmu, sebab tidak semua ucapan mereka keliru, apalagi jika tidak bertentangan dengan ajaran agama”[18]. Agaknya, pandangan inilah yang mendasari sebagian kalangan yang berpendapat perlu berbijak dalam menyikapi karya-karya orientalis (non muslim) terutama produk ilmiah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas ilmu, iman dan amal. Mungkinkah itu terjadi?

Kendati sejarah membuktikan bahwa kajian keislaman dan kearaban oleh orientalis tidak terlepaskan dari misi kristenisasi dan kolonialisasi, tetapi diakui ada sedikit kalangan yang melakukannya demi berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Namun yang perlu dicermati, Islam menganut three in one ; satu kesatuan ilmu, iman dan amal. Tradisi keilmuan Islam dibangun atas dasar kesatuan tersebut. Karena itu pendidikan dan pengajaran Islam harus berujung pada mengenal Tuhan dan memupuk rasa penghambaan kepada Yang kuasa.

Ulama besar India, Wahiduddin Khan, mengkritik pedas sistem pendidikan Islam yang hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman sekadar memenuhi dahaga intelektual. Dalam bukunya Tajdîd `Ulûm al-Dîn (pembaruan ilmu-ilmu agama) ia mengatakan, lembaga-lembaga pendidikan Islam belum lagi meletakkan unsur khasyyah (kekhusyukan pada Tuhan) dan taqwa sebagai dasar pengajaran, tetapi baru sekadar mengajarkan disiplin ilmu. Maka  yang dihasilkan hanyalah para ahli di bidang ilmu-ilmu keislaman, bukan seorang ulama yang tahu dan mengimani serta mengamalkan nilai-nilai agama sepenuhnya. Untuk itu perlu diteladani generasi pertama Islam yang teguh berpegang pada Alquran dan sunah. Wahiduddin mengusulkan agar pendidikan Islam tidak terfokus pada teori-teori teknis keilmuan, tetapi kembali kepada Alquran dan sunah[19].

Wahiduddin benar, tetapi mempertahankan khazanah turats Islam yang dibangun atas dasar pandangan hidup Islam adalah sebuah keniscayaan untuk mempertahankan identitas Islam di tengah gempuran globalisasi yang amat dahsyat. Kembali kepada Alquran dan sunnah adalah sebuah jargon yang perlu mendapat penjabaran lebih jauh; kayfa (bagaimana) dan limâdza (mengapa).

Bagaimana sosok ulama yang ideal, mari kita perhatikan ungkapan yang sering diklaim sebagai sabda Rasulullah Saw yang berbunyi :

Manusia akan berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu. Yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmu. Dan yang mengamalkannya juga akan binasa kecuali mereka melakukannya dengan ikhlas[20].

Semoga kita kita termasuk hamba Allah yang ikhlas dalam berilmu, beriman dan beramal.



[1] Al-Kitab (Perjanjian Lama), (Jakarta : Lembaga Al-Kitab, 1970), h. 81

[2] Muhammad Al-Sammak, Muqaddimah ilâ al-Hiwâr al-Masîhiy al-Islâmiy, (Beirut: Dar al-Nafâ`is, 1998), h. 109

[3] Willian Born, Christlicher Glaube und Naturwisenschaft, S : 4, Blefeld 1954, dikutip dari Abd. Radhi M. Abd. Mohsen, Al-Ghârah `alâ al-Qur`ân al-Karîm, (Kairo: Dar Quba, 2000), h. 81

                [4] Muhammad Asad, Al-Islâm `alâ Muftaraq al-Thuruq, (Beirut: Dar al-`Ilm li al-Malâyîn, 1987), h. 40

[5] Muhammad Abdul, Al-Islâm Dîn al-`Ilm wa al-Madaniyyah, (Kairo: Al-Hay`ah al-Mishriyyah al-`Ammah li al-Kitâb, 1997), h. 188

[6] Raghib al-Ashfahaniy, Al-Mufradât, (Beirut : Dar al-Fikr), h. 127

[7] Ibid 343.

[8] Abdul Halim Mahmud, Al-Islâm wa al-`Aql, (Kairo, Dâr al-Ma`ârif), h. 212

[9] Abbas Mahmud al-Aqqad, Al-Tafkîr Farîdhah Islâmiyyah (Kairo, Al-Hay`ah al-Mishriyyah al-`Ammah li al-Kitâb, 1998) h. 20

[10] Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ `Ulum al-Dîn (Beirut : Dar al-Ma`rifah), 1/7

[11] Dalam sebuah hadis Nabi Saw disebutkan, فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه (Barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat balsan dari Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah atau hanya menginginkan dunia atau wanita yang akan dinikahi maka ia hanya akan mendapat itu). Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab mâ jâ`a annal a`mâl binniyyah, nmr : 54, h. 1/29

[12] Yusuf al-Qardhawi, Al-Rasûl wa al-`Ilm (Kairo: Dâr al-Shahwah), h. 14

[13]  Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi` Bayân al-`Ilm wa Fadhlihi (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1398 H) h. 2/25 dan Abu Na`im dalam Hilyat al-Awliyâ wa Thabaqât al-Ashfiyâ (Beirut : Dar al-Kitab al-Arabiy, 1405 H), 1/131. Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ `Ulum al-Dîn (Beirut : Dar al-Ma`rifah), 1/50 menyebutkannya dengan redaksi sedikit berbeda, yaitu : laysa al-`ilm bikatsrat al-riwâyati, innama al-`ilmu nûrun yuqdzafu fi al-qalbi (Ilmu tidak dipandang dari banyaknya, tetapi ilmu adalah cahaya yang dicampakkan ke dalam hati).

[14] Al-Ashfahani, 126

[15] Penulis tidak menemukan ungkapan di atas dalam buku-buku hadis yang otoritatif, tetapi hadis ini, jika ingin mengatakannya demikian, disebut oleh beberapa pakar hadis yang menjelasakan kosa kata hadis seperti Zamakhsyari dalam Al-Fâ`iq fî Gharîb al-Hadîts (Beirut : Dar al-Ma`rifah), 1/303, dan Ibnu al-Atsir dalam al-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts wal Atsar (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), 1/419

[16] Al-Ashfahani, h. 126

[17] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Al-Jâmi` al-Shah Sunan al-Tirmidziy, bab Mâ jâ`a fi Fadhlil `ilmi `alal `ibâdati, 5/51 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bab al-Hikmah, 2/1395. Al-Tirmidzi menilai Ibrahim bin Al-Fadh, salah seorang perawi hadis ini, lemah hafalannya. Pakar hadis Daru Quthni mengatakan hadis Ibrahin al-Fadhl ditinggalkan orang (matrûk) karena lemah. Tahzhîb al-Tahdzîb, Ibnu Hajar (Beirut : Dar al-Ma`rifah), 1/131. Demikian juga menurut Ibnu al-Jawzi dalam al-`Ilal al-Mutanâhiyah fil Ahâdîts al-Wâhiyah (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H), 1/95

[18] Dikutip oleh Abdul Ra`uf al-Munawiy dalam kitabnya Faydh al-Qadîr Syarh al-Jâmi` al-Shaghîr (Mesir : Al-Maktabah al-Tijâriyyah al-Kubrâ, 1356 H), 5/56

[19] Wahiduddin Khan, Tajdîd `Ulûm al-Dîn, Madkhal litashhîh Masâr al-Fiqhi wa al-Tashawwufi wa `Ilm al-Kalâm wa al-Ta`lîm al-Islâmiy (Kairo, Dâr al-Shahwah li al-Nasyr, 1986), h.102-105

[20] Para pakar hadis mengkategorikan hadis ini sebagai hadis palsu (mawdhû`). Lihat misalnya : Muhammad Ibn Darwisy al-Bayruti, Asnâ al-Mathâlib fî Ahâdîts Mukhtalaf al-Marâtib (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), h. 1/309; Al-Syaukani, Al-Fawâ`id al-Majmû`ah fi al-Ahâdîts al-Mawdhû`ah (Beirut : Al-Maktab al-Islami, 1407), 1/257. Menurut al-Bairuti, hadis ini disebut oleh al-Samarqandi dalam bukunya Tanbîh al-Ghâfilîn, dan sangat diminati oleh para kaum sufi. Buku ini, masih menurutnya, banyak dipenuhi dengan hadis-hadis mawdhû`. Kendati demikian penulis tetap mengutipnya, tetapi tidak dengan keyakinan bahwa  itu hadis Rasul,  sebab kandungannya masih dapat ditolerir.

Etika Pemimpin dalam Al-Quran (Rahasia Kesuksesan Negeri Saba’)

Oleh, Nasaruddin Umar

Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat. Ada kisah pembela kebenaran seperti para Nabi dan Rasul serta ada juga tokoh pengumbar kezhaliman seperti Fir’aun, Tsamud, ‘Ad, dan Abraha.

Salah satu di antara figur yang akan dibahas dalam khutbah singkat ini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah Saba’.

Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, tetapi salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, utusan bangsa burung; وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? (QS. an-Naml [27]: 20). Nabi Sulaiman marah tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang” (21). فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini, (22). Nabi Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama alasan Hudhud: إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23). وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24).

Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan tetapi langsung segera ditindaklanjuti: اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”). (28). Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa surat itu kepada Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ ketika itu. Sebagai seorang pemimpin tertinggi negeri Saba’, ia tidak mau gegabah dan mengambil tindakan sendiri, tetapi ia segera mengumpulkan para petingginya:  قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia). (29). Redaksi surat Nabi Sulaiman cukup singkat tetapi sarat dengan makna: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (30). Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri” (31).

Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi surat Nabi Sulaiman. Ia meminta pendapat dan saran para pembesarnya mengenai langkah-langkah yang akan diambil: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis-(ku)” (32). Pola kepemimpinan yang terbuka seorang pemimpin disambut dengan sikap tawadhu’ dari para petingginya: قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”). (33).

Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan  kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.

Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”). (Q.S. Saba’/34:15).

Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, selain memiliki singgasana besar (‘arsyun ‘azhim) negerinya juga dilukiskan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, yang merupakan obsesi setiap negeri muslim. Sayang sekali kejayaan negeri ini tidak dapat dipertahankan karena para penerusnya meninggalkan pola-pola ideal kepemimpinan para pendahulunya. فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr). (16).

Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:

  1. Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;
  2. Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;
  3. Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni  Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;
  4. Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;
  5. Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi penikmat, dan akhirnya ada generasi perusak;
  6. Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);
  7. Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.

Penutup

Cuplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia yang kini sedang berusaha menciptakan model kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Kisah-kisah dalam al-Quran semestinya memberikan pelajaran kepada kita semua, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat. Pemimpin ideal dan masyarakat yang adil berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini. Para elit politik seharusnya banyak belajar tentang kisah jatuh-bangunnya sebuah rezim dan hidup matinya sebuah bangsa di dalam al-Quran. Perlu diketahui bahwa al-Quran telah memberikan warning (peringatan) bahwa ajal tidak hanya dipunyai oleh seorang individu tetapi juga kelompok masyarakat. Likulli ummatin ajalun (setiap ummat atau rezim mempunyai ajal). Panjang atau pendeknya sebuah rezim menurut al-Quran ditentukan seberapa jauh seorang pemimpin berpegang teguh kepada nilai-nilai ideal kemanusiaan dan kemasyarakatan, seperti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam.

Berbisnis Dalam Terminologi Al-Qur’an

Oleh : M. Quraish Shihab

Bukankah al-Qur’an dan Sunnah menggunakan kata-kata yang digunakan dalam dunia bisnis untuk menggambarkan interaksi/muamalah dengan Allah? Perhatikan firman-Nya dalam QS. At-Taubah (9): 111

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:111)

Perhatikanlah kata-kata yang penulis garis bawahi di atas. Bukankah ayat ini menunjukkan bahwa telah terjadi bisnis, jual beli antara orang-orang Mukmin dengan Allah? Bukankah ayat di atas menunjukkan bahwa Allah “membeli” jiwa raga dan harta orang beriman dan “bayarannya” adalah surga?

 Dalam QS. Ash-Shaff (61): 10, Allah mengajak orang-orang beriman untuk berbisnis dengan Firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih? (QS. 61:10)

Anda bisa berkata bahwa “keselamatan dari siksa” yang dijanjikan oleh ayat di atas bukanlah sesuatu yang menggiurkan para pedagang. Dengan kata lain, tidak rugi   bukanlah harapan mereka, yang mereka harapkan adalah  keuntungan. Itu benar, karena itu lanjutan ayat di atas, setelah menegaskan “jenis barang/jasa” yang diminta, menegaskan lebih jauh harga yang akan dibayarkan yakni :

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dengan harta dan jiwa kamu dijalan Allah, yang demikian itu baik buat kamu mengetahui, Dia  mengampuni buat kamu dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dann yang lain yang kamu menyukainya: Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. 61:13)

Ayat 11 adalah barang/jasa yang diminta sedang ayat 12 dan 13 adalah harga yang akan dibayarkan.

Perhatikan juga firman-Nya dalam QS.Al-Baqarah (2):245;

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. 2:245)

Disini dan dalam sekian ayat yang lain, Allah menggunakan kata qard/kredit untuk menganjurkan seseorang bersedekah! Bukankah itu “bisinis”? bahkan dengerkan penjelasan al-Qur’an tentang beberapa “barang dagangan/komoditi” yang dikehendaki-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (QS. 35:29)

Siapa yang menyai-nyiakan tawaran ini, maka dialah yang merugi, yang hilang – bila tawaran tidak disambut—bukan saja keuntungan, tetapi juga modal, yaitu umur dan peluangnya.

Al-qur’an menekankan pelipatgandaan ganjaran/keuntungan sebagaimana lazimnya dambaan setiap pebisnis agar mereka tidak enggan berbisnis dengan-Nya. Keuntungan itu berlipat ganda dengan angka fantastis dan di luar kebiasaan para pebisnis.

Al-hasil, ada puluhan ayat yang menggunakan istilah-istilah bisnis. Kata tijarah (perniagaan) ditemukan sebanyak sembilan kali, kata yasytary (membeli) dalam berbagai bentuk dan konteksnya sebanyak dua puluh dua kali, kata bai’ ( jual beli ) sebanyak tujuh kali, selain bentuk-bentuknya yang lain. Kata qard dalam arti kredit/utang dan yuqridh (memberi utang/kredit) ditemukan sebanyak dua belas kali. Ini belum lagi kata-kata lain yang mengarah kepada bisnis dan kaitannya.

–       Dikutip dari buku “Berbisnis Dengan Allah, Tip Jitu Pebisnis Sukses Dunia-Akhirat” Lentera hati, 2008

Penjelasan Ringkas Surah Al-Qadr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. 97:1-5)

Surah ke 97 dalam urutan surah pada mushaf Ustmani, pandangan yang lebih kuat surah ini temasuk ke dalam surah –surah madaniyah, karena surah ini berkaitan dengan saat pertama turunnya Al-Qur’an, sementara bulan turunnya Al-Qur’an jatuh pada bulan ramadhan, maka sudah dipastikan bahwa surah ini adalah surah Madaniyah.

Perhitungan Ibnu Abbas surah ini terdiri dari 5 ayat, terdiri dari 30 kata, dan terdiri dari 121 huruf.

ASBABUN NUZUL SURAH 2 riwayat :

  1. Dari Imam Ibnu Jarir melalui hadist yang diriwayatkan Mujahid : menceritakan bahwa dikalangan orang-orang bani israil terdapat seorang laki-laki yang setiap malam selalu shalat hingga pag hari, kemudian pada siang harinya ia selalu berjihad melawan musuh-musuh Allah hingga sore harinya, hal tersebut dilakukan selama seribu bulan secara terus menerus. Maka Allah menurunkan FirmanNya: Laylat al-Qadaritu lebih baik dari seribu bulan “
  2. Dari ibnu hatim yang juga melalui Mijahid, menceritakan bahwanya Rasulullah Saw pernah menceritakan seoran laki-laki dari kaum bani Israil, ia menyandang senjatanya selama seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah. Kaum muslimin merasa takjub atas hal tersebut, maka Allah SWT segera menurunkan firmanNya:  Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. 97:1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  (QS. 97:2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. 97:3)

 

MUNASABAH SURAH INI DENGAN SURAH LAIN

  1. Yaitu dengan surah sebelumnya surah Al-Alaq, yakni 5 ayat pertama ( bahwa pertama kali malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw membawa wahyu 5 ayat pertama, kapan itu terjadi? Tidak dijelaskan oleh surah al-Alaq tersebut, kemudian surah inilah yang menjelaskan bahwa al-qur’an turun pada malam lailat Al-Daqr.

Kemudian surah al-Alaq terkandung perintah untuk membaca, tanpa menyebut apa yang akan dibaca, maka surah Al-Qadr ini berbicara tentang Al-Qur’an yang makna harfiyahnya adalah bacaan. Disini bertemu ruas dengan buku, yakni perintah membaca dengan apa yang harus dibaca.

  1. Surah Al-Baqarah ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

  1. Surah Al-Anfal ayat 41

إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِاللهِ وَمَآأَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada hambaNya, Nabi Muhammad SAW pada hari Furqan, yaitu dijelaskan oleh ayat ini adalah pada hari bertemunya dua pasukan kafir Quraisy dan pasukan kaum Muslimin yaitu pada perang Badar. Sejarah mencatat bahawa perang Badar itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.

Namun perlu dicermati, bahwa perang Badar itu terjadi setelah peristiwa Hijrah, jauh sesudah turunnya Al-Qur’an di Mekkah di awal kenabian. Oleh sebab itu penyebutan tanggal dan bulan ini hanya sebatas tanggal 17 pada bulan Ramadhan, bukanlah pada tahun yang sama, karena jarak waktu antara turunya al-Qur’an di gua Hira dengan perang Badar adalah 15 tahun, sebab ayat Al-Qur’an pertama turun adalah pada tahun pertama kenabian atau 571 Miladiyah, sedangkan perang Badar terjadi pada tahun 586 Miladiyah.

Penjelasaan Ungkapan  وَمَآ أَدْرَاكَ مَا

Dalam qawaid tafsir terdapat teori yang mengatakan bahwa apabila Allah mempergunakan ungkapan “wa ma adraka ma”, maka sesuatu yang mengiringi kemudian setelah pertanyaan itu adlah sesuatu yang agung dan istimewa,

Ungkapan “wa ma adraka ma” dijumpai 13 kali di dalam Al-Qur’an, yakni :

  1.    Surah Al-Haqqah ayat 3

 الْحَاقَّةُ {1} مَاالْحَاقَّةُ {2} وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحَآقَّةُ {3} كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ {4} فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ{5} وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ {6}

Hari kiamat (QS. 69:1) apakah hari kiamat itu? (QS. 69:2) Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (QS. 69:3) Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat. (QS. 69:4)

Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. (QS. 69:5) Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. (QS. 69:6)

 2.    Surah Al-Muddatsir ayat 27

  وَمَآأَدْرَاكَ مَاسَقَرُ {27} لاَتُبْقِى وَلاَتَذَرُ {28} لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ {29} عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ {30}

Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu (QS. 74:27) Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (QS. 74:28) (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. 74:29) Di atasnya ada sembilanbelas (malaikat penjaga). (QS. 74:30)

 3.    Surah Al-Mursalat ayat 14

لِيَوْمِ الْفَصْلِ {13} وَمَآأَدْرَاكَ مَايَوْمُ الْفَصْلِ {14} وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ {15}

Sampai hari keputusan. (QS. 77:13) Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu? (QS. 77:14) Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS. 77:15)

 4.    Surah Infithar ayat 17 dan 18

وَمَآأَدْرَاكَ مَايَوْمُ الدِّينِ {17} ثُمَّ مَآأَدْرَاكَ مَايَوْمُ الدِّينِ {18} يَوْمَ لاَتَمْلِكُ نَفْسُُ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَاْلأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ {19}

 Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu (QS. 82:17) Sekali lagi, tahukah apakah hari pembalasan itu (QS. 82:18) (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS. 82:19)

 5.    Surah al-Muthafifin ayat 8 dan 19

وَمَآأَدْرَاكَ مَاسِجِّينُُ{8} كِتَابُُمَرْقُومُُ{9} وَيْلُُيَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ {10}

Tahukah kamu apakah sijjin itu (QS. 83:8) (Ialah) kitab yang bertulis. (QS. 83:9) Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (QS. 83:10)

وَمَآأَدْرَاكَ مَاعِلِّيُّونَ {19} كِتَابُُمَّرْقُومُُ{20} يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ {21} إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ{22}

Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (QS. 83:19) (yaitu) kitab yang bertulis, (QS. 83:20) yang disaksikan oleh maliakat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). (QS. 83:21) Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), (QS. 83:22)

 6.    Surah Al-Thariq ayat 2

وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ {1} وَمَآأَدْرَاكَ مَاالطَّارِقُ {2} النَّجْمُ الثَّاقِبُ {3} إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ {4}

Demi langit dan yang datang pada malam hari, (QS. 86:1) tahukah kamu apa yang datang pada malam hari itu? (QS. 86:2) (yaitu) binatang yang cahayanya menembus, (QS. 86:3) tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya. (QS. 86:4)

7.    Surah Al- Balad ayat 12

وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْعَقَبَةُ {12} فَكُّ رَقَبَةٍ {13} أَوْ إِطْعَامٌ فيِ يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ

 Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS. 90:12) (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, (QS. 90:13) atau memberi makan pada hari kelaparan, (QS. 90:14)

8.    Surah Al-Qadar ayat 2

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ{4} سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. 97:1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS. 97:2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. 97:3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (QS. 97:4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. 97:5)

9.    Surah Al-Qariah ayat 3 dan 10

اَلْقَارِعَةُ {1} مَاالْقَارِعَةُ {2} وَمَاأَدْرَاكَ مَاالْقَارِعَةُ {3} يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ {4} وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ {5} فَأَمَّامَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ {6} فَهُوَ فِي عِيْشَتٍ رَّاضِيَةٍ {7} وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ {8} فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ {9} وَمَاأَدْرَاكَ مَاهِيَهْ {10} نَارٌحَامِيَةُ {11}.

Hari Kiamat, Apakah hari Kiamat itu, Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu, Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adlah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dala kehidupan yang memuaskan. dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu, (yaitu) api yang sangat panas. (QS. 101:11)

 10.    Surah Al-Humazah

وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحُطَمَةُ {5} نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ {6} الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ {7}

Dan tahukah kamu apa Huthamah itu (QS. 104:5) (yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, (QS. 104:6) yang (naik) sampai ke hati. (QS. 104:7)

 * Diambil dari “Tafsir Juz ‘Amma – As-Sirajul Wahhaj ( terang Cahaya Juz ‘Amma),  Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Penamadani, Jakarta 2010

THE POWER OF WE; Meretas Perubahan

Oleh: Nasaruddin Umar

 Kalau teman-teman membaca di internet khususnya di dunia spiritual, sedang ada satu tren yang sebetulnya ini adalah konsep agama tapi dikemas dalam bentuk konsep manajemen, yaitu The Power of We. Dalam kalimat ini, kata We memang perlu dijadikan satu budaya kerja di lingkungan perusahaan.

Di Amerika, Bill Gate suatu waktu memberikan ceramah umum yang luar biasa. Ia menyebutkan pola-pola sukses yang dilakukannya dalam memanaj perusahaan Microsoft yang dipimpinnya, yang sebenarnya merujuk kepada manajemen kenabian (prophetic management). Kata kunci yang harus dipegang, menurutnya, adalah The Power of We. Jadi, kita hilangkan istilah ”I” (aku) dan yang ada adalah ”We” (kita), demikian semangat yang terusung dalam pernyataan ”Kita dan Perubahan”.

Dalam Islam kata-kata we sering diangkat dalam bahasa agama. Dalam al-Quran, meskipun Allah Maha Esa, Tunggal, seperti termaktub pada ayat pertama dalam surah al-Ikhlas ”Qul huwa Allâh ahad”, namun dalam ayat lain Allah menyebut dirinya dengan ”We” (Kami) ”Nahnu narzuqukum”, (kamilah yang memberikan rezeki). Tuhan sering menggunakan kata ”We” bukan ”I” (Aku).

Satu hal lagi yang dilakukan oleh Bill Gate dalam memanaj perusahaannya, yaitu dalam sebuah visi-misi terdapat proses seleksi (test) yang lebih memprioritaskan pada aspek psikologisnya. Divisi SDM memberikan pengukuran yang sangat ”njelimet” kepada setiap orang. Dalam testing ini ia tidak membolehkan dalam satu divisi terkumpul orang-orang yang sepaham. Kita dalam hal ini memang berbeda.

Manajemen perusahaan Microsoft memang sengaja dibuat sistem demikian dan pada akhirnya melahirkan sebuah sintesa yang sangat produktif. Menurutnya, ”kalau tidak ada satu yang baru dalam satu hari, maka kemungkinan besar perusahaan akan bangkrut”, dan semua ini sudah diprediksinya. Jadi, memang diciptakan suatu kondisi di mana ia dipicu dan dipacu oleh suatu persaingan yang sangat ketat dan sehat.

Dalam sejarah Islam pun Nabi Saw. memilih kabinetnya dengan empat pemimpin di bawahnya, yaitu Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kabinet Nabi ini dari awal hingga akhir hayatnya tidak pernah berubah. Yang menarik, pola rekrutmen Nabi mirip dengan pola Microsoft yang dijalankan Bill Gate di atas. Personalia kabinet ini satu sama lainnya juga tidak begitu sama tipologinya.

Abu Bakar misalnya, ia merupakan tipe orang yang piawai dan disegani oleh para sahabat lainnya. Pandangannya begitu kharismatik, lebih tepat dikategorikan sebagai seorang figur leader daripada manajer. Umar adalah tipe orang yang cenderung reformis, barangkali sekarang ini bisa dikatakan sebagai orang yang bergaya Islam Sekuler. Utsman merupakan sosok yang lebih sebagai manajer profesional ketimbang figur leader. Seorang manajer tidak perduli apakah ia populer atau tidak. Usman adalah tipe orang yang memiliki wawasan bisnis yang luar biasa. Suatu ketika pernah ditegur oleh Nabi Saw. karena menghibahkan seluruh hartanya (unta) dalam suatu peperangan. Namun kemudian, dalam waktu singkat Usmanpun kembali kaya dengan harta yang banyak. Ali bih Abi Thalib dikategorikan sebagai seorang cendekiawan, yang dijuluki oleh Nabi Saw. sebagai ”pintunya” dalam persoalan keilmuan (agama), di mana Nabi sendiri sebagai ”gudangnya”.

Abu bakar adalah sosok figur tempat rujukan Rasulullah. Ketika perang Badar usai, umat Islam mengalami kemenangan besar. Lalu, Nabi memanggil para kabinetnya dan memimpin langsung rapat. Nabi berkata, “Kita akan apakan tawanan perang ini?” Umar menjawab, “Ya Rasulullah, bukankah tradisi kita jika tawanan perang adalah seorang laki-laki ia harus dibunuh dan perempuannya dijadikan budak?”. Lain halnya dengan Abu bakar, ia berpendapat, “Ya Rasulullah, mereka ini bukan orang sembarangan, mereka adalah orang yang memiliki banyak kemampuan dan seabreg potensi yang besar. Mereka ini dapat diberdayakan untuk umat kita. Jadi, kita bisa manfaatkan mereka sebagai pengajar bagi kaum muslimin”. Shahabat lain pun berkata, “Saya setuju dengan pendapat Abu Bakar”. Kemudian, Rasulullah mengumpulkan masyarakat, baik laki-laki ataupun perempuan, yang dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 20 orang. Mereka akan dibimbing, dibina, dan dilatih  dalam segala aspek pendidikan dan keterampilan.

Akhirnya, dalam waktu singkat SDM Madinah pada waktu itu menjadi hebat dan tiga tahun kemudian Madinah pada saat itu menjadi mercusuar dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan pendidikan untuk kawasan sekitarnya. Umat Islam mampu membuat produk-produk lokal yang bisa dipasarkan dan menguasai pasar Timur Tengah. Dari pihak musuh (tawanan) sangat berterima kasih kepada Islam karena mereka dibebaskan tanpa setetes darah pun yang jatuh. Sehingga, para tawanan itu masuk Islam bukan karena paksaan, tapi karena kerelaan dan kekaguman mereka akan ajaran Islam.

Ini salah satu bukti keberhasilan manajemen yang dibuat oleh Rasulullah. Abu Bakar dan Umar selalu berseberangan pendapat. Kita tahu bahwa umar adalah sosok yang kritis jika ada yang tidak sesuai dengan visi-misi yang diemban bersama, maka ia akan memprotesnya, termasuk Rasulullah sendiri. Sebagai seorang manajer yang kritis, ia tidak mengabdi kepada figur (orang), tapi ia komitmen terhadap visi-misi yang telah ditetapkan. Satu hal yang sangat istimewa pada diri Umar, dialah salah seorang shahabat yang sering berdebat dengan Rasulullah. Lebih istimewanya lagi, karena seringkali perbedaan pendapat antara keduanya (sampai-sampai) menyebabkan ayat turun dan ironisnya ayat itu lebih memihak kepada Umar.

Di sini bisa dibayangkan, bagaimana bisa dikatakan Rasulullah sebagai kepala negara dan Rasul tidak sukses dalam memanaj pemerintahannya, padahal hanya memiliki empat personalia kabinet (khulafâ ar-Râsyidîn)? Hal lain, dalam memilih pembantunya, Rasulullah tidak KKN. Suatu saat pernah ada yang protes, ”Kenapa sekretaris Nabi itu (Zaid bin Tsabit) adalah seorang budak?”. Belakangan para ilmuan baru mengerti, karena Zaid bin Tsabit adalah satu-satunya sahabat Nabi yang mampu menguasai 6 (enam) bahasa dunia, di antaranya Suryani, Hebrew, Yunani, dan Ibrani (Arab). Semua keinginan Rasulullah diterjemahkan dalam bentuk surat tertulis. Jadi,  ia lebih sebagai konseptor Nabi.

Mengapa Nabi Muhammad sukses? Karena yang bekerja bukan hanya fisik dan otaknya, tapi juga ada heart (hati). Jangan heran, sekarang ini di Amerika tes IQ tidak begitu umum lagi, tapi yang populer adalah tes EQ (Emotional Question atau Kecerdasan Emosional). Yang jelas, dari contoh-contoh konkrit di atas menjelaskan bahwa apa yang dipasarkan oleh manajemen modern itu ternyata ada pada masa Nabi Saw. Kita hanya keliru membaca secara tekstual.

Kesimpulannya, orang yang cerdas akalnya belum tentu mampu memanaj perusahaan yang besar. Karena, orang yang pintar yang IQ-nya tinggi itu belum tentu jujur, berani mengambil keputusan, loyal, dan mencintai pekerjaannya,  dimana ini semua adalah hal penting dalam suatu perusahaan. Mereka yang cerdas secara emosional, walau tidak pintar, tapi mereka loyal, mencintai pekerjaan, tangguh, dan berani mengambil keputusan. Inilah yang lebih banyak memajukan perusahaan dibanding yang IQ-nya tinggi.

 

Ada cerita menarik, sebuah Jurnal Bisnis di India menginformasikan, sebuah anak perusahaan Suzuki membuat eksperimen tentang pemasaran. Ia membagi dua eksekutif manajernya; yang pertama diberi kesempatan mendapatkan pelatihan di Jepang dan Amerika, dan, yang menarik, sebagiannya lagi diposisikan pada bagian meditasi, seperti di India sendiri.

Setelah  berjalan dua tahun, ternyata produktivitas bagian meditasi ternyata lebih banyak yang berhasil. Kenapa?  Karena ia jujur, menganggap pekerjaan yang dilakukan itu adalah ibadah, ikhlas, dan tulus. Sementara yang mendapatkan pelatihan dari Jepang dan Amerika itu, mereka memang adalah orang yang ahli, tapi ia ”jual mahal”, tidak jujur, bekerja semaunya, dan susah diatur. Dan pada akhirnya, tidak berbanding lurus dengan prestasi  yang diharapkan oleh perusahaannya.

Jadi The Power of We ini sangat penting, karena tidak mungkin kita bisa mengubah sesuatu sebelum dimulai dari diri sendiri, ibda’ bi nafsika. Di dalam al-Quran, 90% ayat-ayat hukumnya membicarakan tentang pembangunan individu dan keluarga, sedang yang lainnya bisa dihitung jari, seperti persoalan negara dan bangsa. Kenapa? Sederhana sekali, bahwa tidak mungkin menciptakan bangsa dan negara yang berhasil dan produktif jika dibangun di atas rumah tangga yang berantakan dan individu yang rusak. Jika individu kuat, maka keluarga akan hebat, dan jika keluarga baik, maka secara otomatis akan mudah menciptakan masyarakat yang ideal. Kalau masyarakatnya kuat, otomatis pula negara akan solid dan kuat pula.

(Transkrip Ceramah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA pada Pembekalan Karyawan tentang ”Kita dan Perubahan” di Garuda Indonesia, 15 Desember 2006)