Menghadirkan Khusyu’

Kajian Halaqah Tafsir oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.

(Rabu, 19 Agustus 2015)

Penyakit masyarakat moderen adalah sulit khusyu atau fokus. Mereka kuat dalam beribadah tapi kurang berkualitas. Hal ini karena mereka cenderung lebih suka berlogika dalam melihat segala sesuatu. Dari sini mereka lebih mudah disetir oleh pikiran. Sementara, cara kerja pikiran adalah memetak-metakkan sesuatu. Dialah yang mengatakan adanya aku, kamu, dia, di sini, di sana, dan sebagainya.

“Anakku yang itu begini dan yang itu begitu” misalnya. Secara tidak langsung, ungkapan ini menuntun orang tua untuk memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda terhadap anaknya. Perhatian dan perlakuan tersebut berbanding lurus dengan perbuatan anaknya. Semakin baik perbuatan sang anak, semakin baik pula perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, semakin buruk perilaku si anak, semakin biasa pula – bahkan semakin buruk – perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sepanjang orang tua tersebut mampu dalam mengisi kotak-kotak tersebut – terlebih terhadap anakknya yang berperilaku baik dengan memberikan perhatian dan perlakuan yang baik – ia akan merasa senang dan gembira. Namun jika tidak, ia akan tertekan dan menderita.

Pada dasarnya, perasaan “terkena musibah” bukan berasal dari diri kita sendiri. Ia adalah barang luar yang menempel pada diri kita. Jadi efek yang ditimbulkan olehnya tergantung pada bagaimana kita melihatnya. Jika kita menilainya sebagai hukuman atau kesulitan yang Tuhan berikan kepada kita, ia akan menjadi musibah. Dan jika kita melihatnya sebagai bentuk perhatian-Nya kepada kita, ia akan menjadi kenikmatan. Dengan demikian, penyebab penderitaan yang sebenarnya bukanlah kondisi buruk yang menghampiri kita, melainkan bagaimana fikiran dan cara kita menyikapi kondisi tersebut. Ada sebuah penemuan yang layak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan, “pasien yang bersahabat dengan penyakitnya hanya merasakan 60% rasa sakit tersebut. Sedangkan dia yang mengutuk penyakitnya, akan merasakan 100% rasa sakit tersebut”. Untuk lebih memantapkan hal ini, silahkan perhatikan kisah Nabi Ayyub as. Oleh karenanya, jinakkan pikiran dan bukan mengusir tamu permasalahan.

Racun dalam kehidupan kita bukan hanya nafsu melainkan juga fikiran. Ia perlu dikendalikan sebagaimana nafsu. Kebanyakan dari kita masih suka memberikan ruang gerak yang luas kepada fikiran dalam berkreasi dan mempersempit ruang gerak nafsu. Padahal, fikiran punya potensi seperti nafsu. Ia bisa berkolaborasi dengan nafsu. Cara menjinakkan keduanya adalah dengan memahami, menghayati dan mempraktikkan agama.

Orang tua dahulu para pejuang berpegang pada prinsip dengan kuat. Bagi mereka berangkat ke medan perang belum tentu tertembak. Kalaupun tertembak belum tentu mati. Kalaupun mati sudah tentu kematian tersebut adalah mati syahid. Terkait dengan kematian, Jalaluddin al-Rumi berkata pada mulanya kita adalah mati yang kemudian hidup sebagai bebatuan.setelah itu, kita mati dan hidup kembali sebagai tumbuhan. Pada saatnya kita akan mati lagi lalu dihidupkan kembali sebagai hewan. Pada usia tertentu kita akan mati lagi dan kemudian hidup terlahir sebagai manusia. Setelah itu mati lagi dan hidup kembali sebagai malaikat. Setelah menjadi malaikat kita akan bersatu dengan Dzat sumber segala sesuatu. Pernyataan Rumi ini berbeda dengan reingkarnasi yang menjadi keyakinan umat Hindu. Bagi mereka, kehidupan berikutnya bergantung pada amal perbuatan yang dikerjakan pada kehidupan sebelumnya. Selain itu, dalam perputaran tersebut ada siklus mundur dari manusia menjadi hewan. Berbeda dengan pernyataan Rumi, perputaran tersebut bersifat linier maju. Terkait hidup dan mati, yang perlu diperhatikan adalah dari mana, sedang dimana, dan akan kemanakah kita.

Kesadaran akan “eksistensi segala sesuatu adalah Engkau” harus kita miliki. Hal ini karena seluruh alam raya ini merupakan tajalli-nya Allah (QS. al Baqarah: 115). Untuk mencapai hal ini kita harus lebih sering mengajak batin untuk aktif dalam kehidupan. Penggunakan batin dalam melihat dan menangkap sesuatu akan memberikan jawaban yang sama, yakni “aku”. Berbeda dengan fikiran, ia akan memberikan jawaban “itu kamu dan ini aku”.

Dengan mata batin, penderitaan akan jarang meghampiri. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pasti ada satu dari dua perasaan yang menyertainya. Perasaan tersebut adalah suka dan beban. Rasa suka akan menghantarkan pelakunya pada kenyamanan Misalnya pada saat menyiram tanaman, terbesit rasa bahwa kita sama-sama butuh air dan perawatan. Kondisi akan merlahirkan rasa suka dan cinta. Dalam menolong juga demikian, jika masih terkotak-kotak oleh pikiran, yakni dengan merasa “ini aku dan itu kamu”, rasa pamrih bisa muncul. Karena ia menlong orang lain dan bukan diri sendiri. Jarang ada orang yang pamrih ketika menolong dirinya sendiri, bahkan tidak ada.

Kesenangan dan penderitaan akan tetap eksis terwujud ketika pikiran tetap bekerja. Perhatikan saat kita tidur, kesenangan dan beban yang terasa sebelum tidur akan hilang tidak membekas sama sekali. Semakin beristirahat pikiran kita, semakin tenang pula tidur kita.

Sholat adalah waktu yang paling enak untuk menghayal. Pada saat itu, biasanya seseorang mendadak menjadi cerdas. Biasanya ia mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini dicari. Orang yang terlalu pintar biasanya sedikit khusyuknya. hal ini karena pikirannya masih bekerja sehingga muncul pengotak-kotakan segala sesuatu. Untuk memperoleh kualitas solat yang baik, Allah memberikan beberapa shock theraphy, antara lain:

1. Azan; karena isinya memperdengarkan akhirat yang hanya bisa digapai oleh batin.
2. Wudhu; terdapat rahasia di balik pendiktean Allah secara langsung terkait oragan tubuh yang harus dibasuh dalam wudlu.

Menurut Omar Barren Ehren Falles, pakar neurologi yang sekaligus psikiater, pusat kesadaran manusia terdapat pada tiga tempat; wajah, tangan dan kaki. Ketiga tempat ini merupakan anggota tubuh yang dibasuh pada saat berwudhu. Terkait hal ini ada yang mengatakan bahwa orang yang tidak khusyu dalam mengambil air wudlu, akan susah khusyu dalam sholat.

Sholat mampu menghadirkan ketenangan pada pelakunya. Ketenangan tersebut diperoleh malalui dzikir yang terdapat di dalamnya. Allah menyuruh hamba-Nya menjalankan sholat untuk mengingat-Nya, berdzikir kepada-Nya (QS. Thaha: 14). Sebagaimana janji Allah, berdzikir akan menghadirkan ketenangan diri (QS. arRa’d: 28

Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

(Allah Hadirkan contoh Empirik Masyarakat Baduwy)

disajikan pada pengajian halaqah Tafsir (Rabu,1 April 2015)

Oleh : Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi, MA

Tidak ada teks Al-Qur’am atau sunnah yang berbicara langsung terkait ketahanan pangan. Ayat-ayat yang memberi informasi terkait itu bisa dirujuk surat quraisy yang menggambarkan bahwa perintah menyembah Tuhan diikuti dengan sifat melekat terkait pentingnya memperhatikan soal pangan dan soal rasa aman.
Ayat lain yang juga terkait langsung atau tidak langsung gambaran AlQur’an tentang pohon (syajarah toyyibah) yang memberi buah tanpa musim. Mampukan petani muslim mewujudkannya?
Mari kita belajar dari contoh ayat kauniyah yang dihadirkan Allah yakni masyarakat Baduwy terkait ketahanan pangan. Indonesia telah dianugerahi Allah memiliki lahan luas yang subur darat maupun laut, namun tudak memiliki kemandirian dalam pangan sekalipun apalagi dalam bidang-bidang yang lain.
Kata baduy (بدوي) dalam bahasa Arab berarti pedalaman. Karena memang orang­orang baduy tinggal di daerah pedalaman nan jauh dari kemodernan dan gaya hidup kekinian. Mereka dalam menjalani hidup sangat menjunjung tinggi adat dan prinsif yang digariskan para leluhur mereka. Meskipun mereka terkesan hidup mengisolir diri, jangan pernah mengira bahwa keberadaannya tidak ada sisi positif untuk dicontoh bagi kehidupan modern.
Dalam soal ketersediaan pangan dan ketahanan pangan masyarakat Baduy di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Propinsi Banten boleh dicontoh. Masyarakat Baduy telah sanggup mempertahankan hidup kemandirian dalam komunitasnya sendiri. Mereka pada saat panen tiba biasa menyimpan padi untuk stok di lumbung-Iumbung padi yang disebut leuit ( Kaman Nainggolan 2011: 300). Mereka melakukan ini dengan kesiapan penuh jika ada salah satu warga komunitasnya kehabisan tabungan padi, warga lainnya pasti akan membantunya memberikan padi sehingga tidak mungkin kasus kelaparan hingga masa panen berikutnya tiba. Bukankan kita punya ayat ; Surah al-Maidah ayat 2

Apa yang dilakukan masyarakat Baduy sesungguhnya mereka telah mencontoh dan menjalankan pesan Alqur’an yang digambarkan dalam kisah Yusuf AS yang selalu

menyediakan stok pangan pada waktu panen untuk mengantisipasi masa paceklik tiba. lnilah yang dibelajarkan Nabi terkait pola hidup sederhana saat berpunya. Hasilnya sejak dulu mereka tidak pernah mengalami rawan pangan apalagi kelaparan. Kita semua tahu saat itu belum ada modernisasi tehnologi industry pertanian apapun, kecuali pertanian tradisional.

Karena itu menjadi ironis jika di dalam masyarakat modern kelemahanan pangandan mahalnya harga bahan pokok, hanya akibat naiknya harga BBM menjadi Ikon bagi kegagalan mengelola bangsa menjadi bangsa beradab dan sejahtera. Lebih-Iebih di kalangan muslim yang mencitrakan, seolah kita tidak pernah sukses mengembangkan kepedulian sebagai refleksi dari keberimanan dan ketaqwaan. Dengan demikian kita wajib berusaha menciptakan suasana hidup sejahtera berbasis rahmatan Iii alamin.

Kata kunci dari semua itu adalah hidup dalam suasana harmoni, saling peduli, hidup rukun apalagi antar sesama warga, sesama lembaga, membudayakan saling gotong royong dan saling menolong mewujudkan kesejahteraan hidup dan kebaikan hidup sebagai sesama hamba Allah. Inilah yang diisyaratkan Alqur’an dalam surat al­Maidah ayat 2 yang bagian ayatnya berbunyi:

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Artinya saling bertolonganlah kalian dalam mewujudkan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan sekali kali saling membantu dalam hidup berdosa dan permusuhan.

Pesan ayat tentang mewujudkan kebaikan hidup untuk menuju manusia taqwa jelas membutuhkan ketahanan pangan, ketahanan keamanan dan keutuhan social. Kini yang kita rasakan adalah hidup disharmoni, saling menjatuhkan, saling menuding yang mengarah dan bisa menjadi pemicu emosi tak terkendali dan konflik horizontal seperti terjadi di beberapa tempat di wilayah kesatuan Republik tercinta ini. Juga terjadi di belahan bumi berpenduduk muslim di Timur Tengah yang memilukan. Dalam suasana lapar dan terpicu oleh kecemburuan social karena ketidak adilan akses, ketidak adilan ekonomi politik dan social bara emosi masyarakat mudah dibakar ibarat BBM disuguhkan api. Ini pula yang terjadi menjelang naiknya harga BBM lalu, sa at perangkat desa berdemo di Jakarta meminta di PNS kan? Situasi massa besar hilang rasionalitas dan kesabaran didorong hawa nafsu amarah. Siapa kemudian yang harus jadi panutan moral di negeri ini? Muslim-muslimah Indonesia mestinya menjadi garda terdepan atau

Paling tidak belajar ikut memikirkan persoalan budaya bangsa yang sedang terperosok menjadi tidak beradab. Nah di masyarakat Baduy yang tradisional itu tidak ada keserakahan, filsafat hidup yang dikembangkan adalah jika ada salah satu hidup kesusahan warga lainnya pasti akan menolong. Hidup gembira dini’mati bersama dan hidup susah juga ditanggung bersama. Bisakah kita hadir mewujudkan II teori bersama pasti kita bisa”
Di sisi lain masyarakat Baduy sangat menghargai dan memelihara alam. Mereka pantang menebang hutan, atau merusak bukit dan lahan pertanian. Karena hal itu dalam pandangan mereka melanggar adat. Mereka tidak terlalu butuh undang-undang yang mereka butuhkan adalah ketaatan pada filosofi hidup yang berbunyi: ponok teu meunang disambung nu panjang teu meunag dipotong” ini memiliki makna yang dalam bahwa yang pendek tidak boleh disambung dan yang panjang tidak boleh dipotong biarkan apa adanya. lnilah filsafat beragama” membiasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan”. Mereka hidup menyatu dengan alam karena itu jangan harap mereka mau dipindahkan di tempat elite dengan merusak lingkungan. Berbeda dengan masyarakat modern tidak peduli proyek perumahan ataupun apa merusak lingkungan dan merusak tatanan hingga menjadi pemicu banjir dan longsor yang penting memberi untung besar walau sesaat.
Inilah masyarakat Baduy yang Allah hadirkan sebagai tanda hidup agar kita bisa belajar mengenali sisi positif dari kehadirannya. Dalam kisah Sulaiman AS dalam Al-Qur’an, sosok Nabi yang terkenal kaya raya dan begitu hebat ketaqwaannya kepada Allah pun pernah belajar bersyukur dari panglima semut ( an-namal). Jadi ayat Allah telah hadir di tengah-tengah kehidupan di masa manapun untuk dijadikan ibrah (pelajaran berharga).
Indonesia setelah merdeka lebih dari 60 tahun, dengan lahan darat dan lautan yang teramat luas, nelayan dan petani penggarap kita masih hidup di bawah garis kemiskinan belum bisa meni’mati layanan kesehatan apalagi mempunyai ketahanan pangan yang kokoh. Pertanyaan besar muncul kapan masyarakat terbebas dari masalah kerawanan pangan, kerawanan gizi buruk dan kemiskinan akan dapat terkikis dari bumi Indonesia. Mana pula andil kita sebagai warga muslim terbesar dunia? Berapa ribu kali lipat naiknya APBN kita tidak akan memberi arti apa-apa bagi rakyat kecil, jika kaum elite membisu dari memperjuangkan keadilan, kecuali hanya untuk kelompok dan golongannya. Yang kecil dan tidak berdaya akan tetap merana sepanjang masa walau kepemimpinan silih berganti.

Itu sebabnya Nabi Muhammad saw mengkrit keberagamaan dan keimanan kita, jika bisa tidur nyenyak padahal tetangga kita kelaparan. Di sisi lain Al-Qur’an mengecam keras para pendusta agama. Dia adalah orang-orang yang shalat namun tidak memiliki sensitifitas dan tidak memiliki kepedulian social. Ini berarti di balik perintah ibadah ritual ada pesan moral yang harus juga ditegakkan dan harus dapat diwujudkan oleh para pengelola Negara yang kita cintai ini.

Maka agama dan ajaran Islam tidak hanya bicara pentingnya ritual dikerjakan secara baik, benar dan bermutu melainkan jga bicara tanggungjawab social terutama hal yang mendasar bagi kebutuhan masyarakat yakni terbebas dari rasa lapar dan terjamin adanya rasa aman.

Haruslah diwujudkan dengan upaya maksimal sesuai porsi masing-masing dan sesuai tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan tugas hamba sebagai pengabdi.

Tragedi di Balik Makam

Muchlis M. Hanafi
Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ)

Makam tua sederhana di kota Nawa, Suriah, itu kini tiada. Sebuah pohon tua dan besar di makam itu tumbang bersama reruntuhan bangunan tak berkubah. Sekelompok orang menyerang makam Imam al-Nawawi, ulama terkemuka abad ke-13, itu dan menghancurkannya. Sebelum terjadi krisis politik di Suriah, saya sering mengunjungi makam itu. Sekadar membacakan doa dan membaca beberapa halaman karya penghuni makam. Komunitas santri menyebutnya tabbarrukan.
Rabu, 7 Januari 2015, di saat media lokal dan inter-nasional heboh memberitakan penyerangan kantor Charlie Hebdo, sebuah majalah mingguan di Prancis yang pernah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad bernada sinis dan melecehkan, sejumlah media di Timur Tengah melansir berita pengeboman makam bersejarahdi Suriah bagian selatan itu, 45 kilometer sebelah barat daya Dar’a, kota yang dikuasai pasukan anti-rezim Assad.
Perusakan makam bersejarah para nabi, ulama, dan awliya (wali) di sebuah wilayah konf1ik di Timur- Tengah bukan kali ini saja terjadi. Tidak lama sebelum itu, makam Nabi Ayyub AS, di Desa Syaikh Said kota Dar’a, tidak jauh dari makam Nawawi, juga dihancurkan. Sebelumnya, pada 2013, sekelompok orang menggali makam salah se¬orang sahabat Nabi, Hajar Ibn Addiy, di Damaskus, dan memindahkannya ke tempat yang tidak diketahui. Di Mosul, Irak, yang dikuasai Islamic State (ISIS), mereka menghancurkan makam Nabi Yunus dan sejumlah makam awliya dan ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah.
Berkat letaknya yang dekat dengan tempat-tempat suci di Hijaz dan posisinya sebagai salah satu pusat dunia Islam, kawasan Timur Tengah, temtama Bilad al-Sham (Yordania, Lebanon, Palestina, serta Suriah) dan wilayah Irak memiliki ciri khas, yaitu banyaknya tokoh masa awal Islam yang dimakamkan di kawasan ini. Pada 1690 ulama tersohor, Abd al-Gani al-Nabulsi, melakukan perjalanan dari Damaskus ke Al-Khalil (Hebron). Selama 45 hari berjalan itu dia mengunjungi tidak kurang dari 128 makam wali atau nabi. Rata-rata satu makam setiap dua kilometer. Bilad ai-Sham adalah tanah yang diberkati (QS. Al-Isra [17]: 1), antara lain dengan keberadaan para nabi di wilayah itu dan Nabi Muhammad se1alu mendoakan keberkahan untuknya (HR. AI-Bukhari).
Berbagai kejadian di atas menunjukkan bahwa konflik kemanusiaan, apa pun sebab dan latar belakangnya, termasuk yang bernuansa keagamaan, akan menghancurkan hasil-hasil pembangunan dan sejarah kemanusiaan. Penghancuran situs-situs keagamaan, termasuk makam para nabi, ulama, dan awliya, merupakan bentuk teror terhadap sejarah kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan oleh akal dan agama mana pun. Apalagi, bila tindakan tersebut dilakukan dengan mengatasnamakan agama, itu berarti telah mencoreng agama dan menampakkan diri sebagai umat beragama yang primitif dan barbarian, yang tidak menghargai warisan sejarah peradaban manusia.
Muhyiddin, Abu Zakaria, Yahya bin Syaraf al¬Nawawi (631-676 H), nama lengkap Imam Nawawi, adalah seorang ulama yang berjasa besar kepada umat melalui karya-karya ilmiah yang masih abadi sampai saat ini. Di antaranya, kitab Riyadush Shalihin, al-Tibyan fi adab Hamalatil Qur’an, penjelasan (syarh) kitab Shahih Muslim, Rawdhatu al- Thalibin, dan masih banyak lainnya.
Ia juga dikenal sebagai salah seorang peletak dasar pengembangan mazhab Syafi’i, yang bersama Imam Syafi’i mendapat julukan al-Syaikhani dalam ilmu fikih. Popularitas dan reputasi ulama asal kota Nawa, Suriah, ini tidak diragukan lagi. Banyak orang memberi nama anaknya dengan Nawawi, termasuk ulama besar Indonesia awal abad ke-20 yang cukup masyhur di negeri Hijaz, Syeikh Nawawi al-Bantaniy, dari Tanara, Banten.
Imam al-Nawawi dikenal bijak menyikapi persoalan umat dan sangat menekankan pentingnya menjaga persatuan, memelihara stabilitas negara, dan mencegah pertumpahan darah. Meski dikenal tegas dalam amar makruf nahi mungkar, ia pernah berfatwa, penguasa yang fasik dan zalim tidak boleh (haram) digulingkan, dijatuhkan atau diserang, tetapi harus dinasihati dan diingatkan.
Alasannya, menurut al-Nawawi, agar tidak timbul kekacauan (fitnah), pertumpahan darah, hubungan sila¬turahim yang terganggu, sehingga kerusakan yang ditimbulkan akibat upaya penggulingan melebihi kerusakan yang timbul bila ia dibiarkan berkuasa (Syarh Shah Muslim, 12/229). Kini ia telah tiada. Sayang, makamnya menjadi korban konflik berkepanjangan dan kekacauan yang dikhawatirkannya terjadi karena upaya menggulingkan penguasa yang sah.
Beberapa sumber menyebut Jabhat (Front) Nushrah, sayap militer Al-Qaeda di Suriah, yang beraliran salafi-takfri-jihadis berada di balik perusakan makam Imam Nawawi. Terlepas dari siapa pelakunya, dengan mencermati fenomena yang sarna di negara-negara lain, seperti di Irak, Mali, Mesir dan lainnya, tindakan perusakan makam dilatarbelakangi oleh paham keagamaan ekstrem yang beranggapan kuburan para wali dan ulama yang dikeramatkan menjadi sumber kemusyrikan. Di Mosul, misalnya, ISIS yang menyatakan bertanggung jawab atas penghancuran makam Nabi Yunus, menanggapi prates terhadapnya dengan mengatakan, mereka melakukan itu atas perintah Allah SVVT.
Bahkan, sebanyak 23 orang yang memprotes tindakan tersebut mendapat hukuman cambuk di muka umum karena dianggap menentang perintah Allah untuk memurnikan akidah dan tidak mempersekutukan Allah dengan lainnya. Prkaktek ziarah kubur dicurigai sebagai jalan menuju syirik dan bidah tercela yang menjurus kepada kesesatan. Pelakunya dicap sebagai quburiyyun (penyembah kuburan) yang musyrik. Karena itu, beberapa masjid yang di dalanmya terdapat makam para ulama dan awliya di Irak menjadi target serangan kelompok ekstrem-radikal.
Ziarah kubur, terutama makam orang-orang saleh, adalah tradisi berakar panjang dalam sejarah perkembangan Islam, bahkan dalam tradisi agama-agama sebelunmya. Perdebatan tentang tradisi ini pun bergaung jauh dalam sejarah, mulai dari Ibn al-Jauzi dan Ibn Taymiyah (abad ke 12-13), sampai dengan Muhammad Ibn Abd Wahhab dan Rasyid Ridha (abad ke-19-20). Fenomena ini bukan saja soal ibadah dan perilaku agama, melainkan juga berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, dan politik. Tradisi ini berangkat dari keyakinan sebagian muslim bahwa kehidupan orang-orang saleh (para anbiya, awliya, dan ulama) dan segala yang berkaitan dengan mereka memiliki keberkahan, sehingga mereka bertabarruk (mengharap berkah) dengan menziarahinya.
Sejarawan Al-Khatib al-Bagdadi, dalam Tarikh Bagdad menceritakan kebiasaan Imam Syafi’i yang selalu berziarah ke makam Abu Hanifah. Ketika berada di Irak, setiap hari ia selalu mendatanginya.Jika ada suatu masalah ia melakukan salat dua rakaat lalu mendatangi makam Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisi makam. Setelah itu, ia merasa semua keinginannya terkabul. Kebiasaan membawa kitab karya Imam Nawawi setiap kali berziarah ke makanmya dan membacanya sepanjang perjalanan dan saat berada di makam memberikan kesan mendalam pada diri saya. Ungkapan penulis dalam karya yang saya baca terus teringat dalam benak dan pikiran.
Tabarruk, baik kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi maupun orang-orang saleh, tidak berarti mengultuskan mereka atau berbuat syirik dengan meminta sesuatu kepada orang yang sudah meninggal dunia dan benda-benda tersebut. Tidak seorang pun ulama membolehkan itu, sebab manfaat dan mudarat itu hanya Allah SWT yang kuasa menentukannya.
Konsep berkah dan tabarruk merupakan bagian ajaran Islam yang landasannya kuat dalam Al-Quran dan sunnah, bahkan perilaku para ulama Islam, mulai dari masa Sahabat sampai saat ini. Prakteknya, konsep ini ada yang memahaminya secara berlebihan (ekstrem) sehingga terjadi penyimpangan dengan meminta sesuatu kepada yang dianggap memiliki keberkahan, dan ada pula yang terlalu ketat sehingga menutup rapat segala celah yang memungkinkan terjadinya penyimpangan dalam bentuk perbuatan bidah dan syirik. Dengan dalih menjaga akidah umat Islam agar tidak terjerumus pada perbuatan bidah dan syirik, berbagai situs sejarah, termasuk yang terkait dengan Rasulullah dan para sahabatnya, dihancurkan.
Sikap arif dan moderat diperlukan, yaitu dengan tetap menjaga dan melestarikan situs-situs peninggalan para nabi dan orang-orang saleh yang telah menorehkan sejarah emas di masa lalu, sebab itu bagian identitas dan sejarah umat. Pada saat yang sama dilakukan edukasi kepada masyarakat untuk bertabarruk secara benar berdasarkan tuntunan Al-Quran dan sunnah. Perbedaan pandangan keagamaan hendaknya tetap diberi ruang agar tercipta keharmonisan dan kedamaian.
Tindakan memberantas kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih besar. Memberantas tikus di lumbung padi tentu tidak dengan menghancurkan lumbung tersebut. Bila itu terjadi, kita akan kehilangan semuanya. Situs keagamaan, termasuk pusara para nabi dan tokoh ulama, adalah bagian sejarah kemanusiaan yang harus lestari sebagai simbol spiritualitas di tengah hegemoni materi.

Kolom-GATRA,Hal.30-31 (21 Januari 2015)

Mari, Berdakwah dengan Akhlak

Islam adalah agama yang santun dan suka pedamaian. Ajarannya senantiasa menunjukkan nilai-nilai kebajikan. Kehadirannya senatiasa memberikan kesejukan bagi lingkungannya. Bahkan terhadap pemeluk agama lain pun Islam juga tetap santun. Tetap menjaga perdamaian dalam berinteraksi.

Hal ini bisa dilihat dari prilaku Nabi Muhammad yang “dipasrahi” agama Islam. Setiap perbuatannya selalu mencerminkan kesantunan. Misalnya, saat ia dilempari batu oleh orang kafir, Nabi tak membalasnya. Justru, Nabi mendoakannya agar mereka diberi hidayah. Nabi sadar bahwa perlakuaan mereka itu dikarenakan ketidaktahuan mereka. Sehingga, dengan kesantunan akhlaknya ini, Nabi berhasil meraih simpati mereka untuk memeluk agama Islam.

Jadi, Islam dan akhlak merupakan satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Rasulullah bersabda, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”. Dari sini bisa kita pahami bahwa hanya itulah sebenarnya tujuan Nabi Muhammad diutus. Bukan yang lain. Pula, Hadist ini memberikan penghargaan yang tinggi terhadap siapa saja yang berakhlak, sekalipun dalam urusan dunia, ia masih kalah.
Kesantunan Islam ini, dahulu juga terjadi di Indonesia. Saat itu, Islam bisa membumi di nusantara ini karena (juga) didakwahkan dengan penuh kesantunan dan perdamaian. Bahkan, keberhasilan dakwah Islam ini mengalahkan agama-agama lain yang telah ada di negeri ini.

Namun, dewasa ini, kesantunan Islam ini mulai terusik oleh beberapa oknum yang “mengaku” Islam namun perilakunya kurang/tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka mengajarkan Islam dengan kekerasan. Sehingga hal ini membentuk opini masyarakat bahwa Islam adalah agama yang suka bertengkar. Suka perang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama teroris. Dan jika tidak segera ditindaklanjuti, fenomena ini akan lebih menjadi-jadi.

Apalagi pasca peristiwa peledakan gedung WTC di Amerika 2001 lalu, Islam semakin dipahami sebagai agama yang suka perang. Meskipun, juga tak dapat diingkari, kejadian ini juga sedikit banyak membawa berkah. Karenanya, orang semakin penasaran terhadap Islam. Dan, Alhamdulillah, mereka yang dahulu memebenci Islam, sekarang justru memeluk agama ini.

***
Adalah menjadi kewajiban kita semua untuk mendakwahkan Islam dengan cara yang suka damai. Mari kita kenalkan Islam yang moderat. Kita kembalikan kesantunan Islam yang sekarang mulai pudar ini. Tentunya dengan cara kita sendiri.
Caranya? Mari kita gunakan nilai-nilai Islam dalam setiap gerak langkah kita. Apapun profesi kita harusnya senantiasa menunjukkan kesantunan Islam. Karena secara tidak langsung, hal ini akan memberikan pemahaman terhadap orang lain bahwa seperti inilah Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatallil ‘alamin. Sekian. Waallahu a’lam. (Lip.M. Nurul Huda/Santri Bayt Al-Qur’an Angk.X)

 

*Kutipan ceramah yang diberikan Habib Husain Ibrahim, Jumat, 19 Desember 2014 kemarin.

Fanatisme

M. Quraish Shihab

Tidak jarang orang mencela sikap fanatisme atau siapa yang fanatik. Celaan itu bisa pada tempatnya dan bisa juga tidak, karena fanatisme dalam pengertian bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Keyakinan/ kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya)”.

Sifat ini bila menghiasi diri seseorang dalam agama dan keyakinannya dapat dibenarkan bahkan terpuji, tetapi ia menjadi tercela jika sikapnya itu mengundangnya melecehkan orang lain dan merebut hak mereka menganut ajaran, kepercayaan atau pendapat yang dipilihnya.

Umat Islam, walaupun dituntut untuk meyakini ajaran Islam, konsisten dan berpegang teguh dengannya, dengan kata lain harus fanatik terhadap ajaran agamanya, namun dalam saat yang sama Islam memerintahkan untuk menyatakan“Lakum dînukum Wa Liya Dîny”/ Buat kamu agamamu dan buat aku agamaku. (Q.S. Al-Kâfirûn [109]: 6). selengkapnya

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

Oleh : Dr. Muchlis. M. Hanafi, MA
(Disampaikan pada kegiatan Isra’ Mi’raj 1435 H, Rabu-28 Mei 2014 di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe)

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa pergantian misi keNabian dan kerasulan dari Bani Israil kepada bangsa lain. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan Nabi dan rasul berasal dari keturunan Bani Israil. Pengalihan tugas keNabian dan kerasulan kepada pihak lain ini Allah lakukan karena beberapa hal, yakni:
- Bani Israil adalah bangsa yang ngeyel; ke-ngeyel-an mereka tergambar jelas dalam QS. al-Baqarah: 67-71 tentang peristiwa penyembelihan sapi.
- Bukan bangsa yang tidak loyal; keloyalan mereka terhadap Nabi Musa dan ajaran yang dibawanya diuji pada saat Nabi Musa bermunajat kepada Allah. Hanya dalam tempo waktu kurang dari 40 hari, keimanan mereka sudah tergoyahkan oleh pengaruh Musa Samiri (QS. Thaha: 85-89).
- Bangsa yang pengecut; selain terkenal ngeyel dan tidak loyal, Bani Israil juga pengecut. Oleh Allah sifat ini digambarkan melalui percakapan mereka dengan Nabi Musa (QS. Al-Maidah: 2)
Isra’ adalah perjalan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Isra’ Nabi terjadi dalam tempo waktu kurang dari semalam. Selain memang tidak masuk akal, mereka yang tidak memercayai singkatnya waktu yang dibutuhkan Nabi untuk Isra’ ini agaknya kurang teliti atau lupa terhadap redaksi yang digunakan al-Qur’an dalam menggambarkan kejadian tersebut.

Dalam QS. Al-Isra’: 1, al-Qur’an menggunakan lafal asra yang bermakna “memperjalankan pada waktu malam hari” dan bukan sara yang berarti “berjalan pada waktu malam hari”. Dalam ayat tersebut secara jelas terlihat bahwa Allah-lah yang memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang jaraknya tidak mungkin ditempuh dalam waktu kurang dari satu malam. Bukan Nabi sendiri yang melakukan perjalanan ini. Hal ini tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang mampu menempuh jarak jauh dalam waktu yang relatif singkat. Secara pribadi, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal itu. Namun demikian, kejadian ini bisa saja terjadi karena anak tersebut tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan oleh ayahnya, baik dengan digendong atau menggunakan alat bantu. Jadi bukanlah hal yang mustahil bagi anak kecil itu jika jarak yang demikian jauh bisa ia taklukkan dalam waktu yang begitu singkat. Dengan kata lain, dibalik perjalanan Nabi dan anak kecil yang terkesan mustahil menjadi sangat bisa diterima akal sehat karena keberadaan campur tangan Allah selaku pemilik masa dan jarak atau ayah yang bisa berlari dan mengendarai motor.

Mi’raj merupakan peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke sidrat al-muntaha dari Masjid al-Aqsha. Tidak ada ayat yang dengan tegas berbicara tentang mi’raj Nabi. Ketiadaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut tidak mengandung peluang bagi nalar untuk mejangkau kejadian tersebut. Dari sekian ayat yang tidak tegas tersebut, ada sebuah ayat yang dinilai paling mendekati kejadian ini yakni QS. Al-Najm: 13-14. Jika kita perhatikan keberadaan ayat tersebut, kita akan tahu bahwa ia terletak pada sebuah surat yang hakikatnya belum bisa diketahui bahkan oleh para ilmuan modern sekalipun, yakni jumlah bintang (najm) yang ada di langit. Sampai sekarang jumlah bintang di langit belum dapat diketahui dengan pasti oleh siapapun bahkan dengan alat tercanggih sekalipun. Dengan demikian, untuk mempercayai kejadian mi’raj ini hendaknya kita menggunakan kalbu tanpa harus memaksakan akal untuk menerimanya.

Peristiwa yang Terjadi dalam Mi’raj
Melihat Allah secara langsung
Pada saat di Sidrat al-Muntaha Nabi Muhammad diperkenankan melihat Allah secara langsung. Ini merupakan salah satu keistimewaan yang hanya dianugerahkan kepada Beliau. Pernah ada seorang Nabi yang terkenal kuat dan gagah perkasa yang minta diizinkan untuk melihat Allah secara langsung. Permintaan ini tidak Allah kabulkan. Dia hanya bilang “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku” (QS. Al-A’raf: 143).

Minuman yang dipilih
Pada saat ditawari madu, khamr dan susu, Nabi lebih memilih susu. Ini mengindikasikan bahwa ajaran Islam yang dibawanya tidak sempit dan memberatkan. Hal ini karena oleh al-Qur’an kondisi susu digambarkan sebagai sesuatu yang mudah dicerna (khalishan sa`ighan li al-syaribin). Sesuatu yang mudah tidak mungkin mengandung unsur sempit sehingga sulit untuk dilalui dan berat sehingga merepotkan untuk dibawa.
Kemudahan ajaran Islam ini juga tergambar dalam ayat ke-6 surat al-Fatihah. Dalam ayat tersebut terdapat kata shirath yang terambil dari saratha. Akar kata ini memiliki makna menelan dengan mudah. Kemudahan menelan ini menggambarkan bahwa Islam itu luas tidak sempit. Semuanya bisa masuk ke dalamnya pada saat yang bersamaan. Di sisi lain, sesuatu yang luas memudahkan orang untuk beraktifitas.
Selain itu, ajaran Islam juga bersifat moderat, tidak terlalu keras dan lembut. Kemoderatan ajaran ini digambarkan oleh air susu yang diproduksi antara kotoran dan darah (min baini fartsin wa damin). Dalam ajaran Yahudi, jika ada baju yang terkena najis maka bagian baju tersebut harus dipotong. Ini adalah gambaran ajaran yang keras. Sementara ajaran Nabi Isa terlalu pengasih, sampai-sampai muncul istilah di kalangan pengikutnya “jika pipi kanan ditampar, kasihkan pipi kiri”.

Jumlah rakaat salat fardlu
Misi utama Allah dalam memperjalankan hamba pilihan-Nya ini adalah menyerahkan kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam. Pada mulanya jumlah tersebut tidaklah lima melainkan lima puluh kali. Oleh Nabi Musa – pada saat pertemuannya dengan Nabi Muhammad ketika hendak pulang – jumlah yang dirasa sangat memberatkan. Akhirnya Nabi Musa menyarankan agar jumlah tersebut minta dikurangi. Dalam pengurangan dari lima puluh menjadi lima ini terjadi proses yang dilalui Nabi, yakni naik turun ke sidrat al-muntaha. Jika memperhatikan proses dan hasil yang diperoleh, kita bisa mengatakan bahwa Islam tidak memberatkan dan untuk mencapai tujuan harus ada proses yang harus dilalui.

Ingin Cepat Menang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin

menang

Ketergesa-gesaan adalah salah satu sifat manusia. Ini seperti disebut dalam firman Allah SWT, ’’Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.” (QS al-Anbiya [21]: 37).

Pada ayat lain Allah SWT berfirman, ’’Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.’’ (QS al-Isra’ [17]: 13).

Penyebutan kata ‘ajal yang berarti ketergesa-gesaan dengan berbagai turunannya dalam Alquran hampir semuanya dalam konteks celaan.
Ini mengisyaratkan, meskipun merupakan sifat yang melekat pada diri manusia, ketergesa-gesaan adalah sifat kurang baik yang harus dihindari. Termasuk, tergesa-gesa untuk memperoleh kemenangan.
Salah seorang sahabat Nabi SAW, Khabbab bin Al-Art, pernah mengalami penderitaan sangat parah. Ia pernah disiksa dengan api oleh tuannya saat diketahuinya memeluk Islam.

Siksaan itu tidak lain agar Khabbab tidak mempercayai kerasulan Nabi Muhammad. Pada kesempatan lain, Khabbab yang sebelum Islam pernah bekerja sebagai pandai besi, menagih utang pada Al-‘Ash bin Wa’il as-Suhami. Malang, As-Suhami menolak membayar utangnya.

As-Suhami mengatakan,’’Aku tidak akan membayar utangku kepadamu sebelum kamu mengingkari (kenabian) Muhammad.”
Dengan tegas Khabbab menjawab, “Aku tidak akan mengingkari kenabian Muhammad sampai Allah mematikanmu dan membangkitkanmu lagi.”

Khabbab lebih memilih utangnya tidak dibayar daripada harus mengingkari kenabian Muhammad SAW yang sudah ia yakini.
Akan tetapi, ketabahan Khabbab rupanya sedikit tergoda ketika tekanan orang-orang musyrikin semakin bertambah berat.

Ia mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berteduh di bawah Kabah dan meminta beliau bermohon agar Allah SWT segera menurunkan kemenangan kepada umat Islam.

“Mohonlah segera pertolongan Allah untuk kita, berdoalah kepada Allah untuk kami, ya Rasulullah!” Demikian permohonannya kepada Rasulullah SAW.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam permintaan Khabbab itu. Sebuah permohonan yang datang dari hati yang telah lama lelah menahan siksa.

Permohonan dari hati yang berharap kemenangan yang dijanjikan oleh Allah. Tetapi Rasulullah SAW menanggapi permintaan Khabbab itu dengan muka merah.

Beliau duduk dari pembaringannya dan bersabda, “Orang sebelum kamu dahulu ada yang sudah digalikan tanah untuk dikubur, lalu di kepalanya diletakkan gergaji untuk memenggalnya tetapi hal itu tidak menghalanginya tetap teguh pada agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, tetapi hal itu tidak membuatnya goyah dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seseorang berjalan dari Sanaa ke Hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, tidak pula merasa khawatir atas kambing-kambingnya dari serangan serigala. Tetapi kalian tergesa-gesa.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Dalam perjuangan dakwah menegakkan agama, kita terkadang bersikap kurang sabar dan ingin cepat menang, ingin cepat berhasil.
Padahal, Nabi Musa AS dan kaumnya baru berhasil mengalahkan Firaun setelah puluhan tahun mengalami penyiksaan dan penderitaan.

Nabi Yusuf AS baru berhasil menjadi penguasa Mesir setelah terlebih dahulu mengalami fitnah dan bahkan dipenjara.
Sahabat-sahabat Nabi SAW baru berhasil menegakkan ajaran setelah harus melalui dua kali pengungsian ke Habasyah, berkali-kali terlibat perang, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya.

Kita tidak dituntut menang, tetapi dituntut terus berjuang. Bahkan, Nabi Muhammad mendapat pesan dari Allah, ’’Jika mereka berpaling, (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).’’ (QS Asy-Syura [42]: 48). Kemenangan justru terletak pada keteguhan kita memegang erat tali Allah. Wallahu a’lam.

Benarkah Quraish Shihab Syi’ah?

Hormati Perbedaan, Junjung Tinggi Persatuan (Tanggapan atas Tuduhan Ke-Syi’ah-an M.Quraish Shihab)

Beribadah dengan Jiwa Bebas

Dalam melaksanakan agamanya, umat tergolong menjadi dua. Ada yang tulus, sering disebut dengan mukhlishin lahu ad-din hunafa (QS al-Bayyinah [98]: 5).
Ada juga yang tidak tulus (disebut ya‘budullaha ‘ala harf, beribadah di tepi. (QS al-Hajj [22]: 11). Tentu saja yang pertama benar, dan yang kedua salah. Tetapi, dalam kelompok pertama pun ada tiga model pendekatan.

Dalam buku Nahj al-Balaghah, sebuah buku kumpulan nasihat, wejangan, dan kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib yang disusun dan dikumpulkan Asy-Syarîf ar-Radhiy, sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, “Ada orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu, itu adalah cara ibadahnya pedagang. Ada orang yang beribadah kepada Allah karena takut, itu cara ibadahnya budak atau hamba sahaya. Ada pula orang yang beribadah kepada Allah karena rasa syukur, itulah cara ibadahnya orang-orang yang merdeka.”

Jika kita berpikir akan dapat pahala apa atau dapat untung berapa ketika hendak bersedekah, itu artinya kita beribadah dengan cara pedagang, lebih mempertimbangkan untung-rugi. Meski dibolehkan, ibadah cara ini bukan yang terbaik.

Jika kita baru terpanggil untuk beribadah karena takut masuk neraka, itu berarti kita termasuk kelompok kedua, beribadah cara budak. Ini mirip pengendara sepeda motor yang memakai helm karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan dirinya.

Kalau tidak ada polisi, dia tidak memakai helm. Polisi boleh saja tidak ada, tetapi kecelakaan bisa terjadi kapan saja.

Ibadah cara seperti ini pun boleh walaupun bukan yang terbaik. Yang ketiga, adalah cara beribadahnya orang-orang yang berjiwa bebas!

Orang seperti ini melaksanakan shalat bukan lantaran takut neraka, tetapi semata-mata karena sadar Allah satu-satunya yang patut disembah. Ibaratnya, ada atau tidak ada polisi, orang seperti ini akan tetap menggunakan helm demi menghindari bahaya.

Orang-orang seperti ini akan lebih konsisten dalam beribadah karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang mereka terima dan patut mereka syukuri.

Sebesar apa pun derita yang dialami, mereka lebih memandang kenikmatan yang ada di balik itu. Sesuatu yang patut mereka syukuri sehingga terdorong untuk terus beribadah. Orang yang beribadah dengan cara pedagang dan budak, biasanya bersikap itung-itungan.

Dia cenderung hanya mengerjakan ibadah wajib. Sudah merasa cukup kalau sudah melaksanakan shalat lima waktu. Sudah merasa cukup kalau sudah puasa Ramadhan.

Tetapi, orang yang beribadah dengan jiwa bebas akan selalu terdorong untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Sebab, orang seperti ini yakin sekali, nikmat Allah yang harus disyukuri pun begitu amat banyak, bahkan tak terhitung.

Dari sinilah kita bisa memahami, mengapa Rasulullah selalu bangun malam, shalat tahajud, dan witir sampai kaki beliau bengkak.
Ketika ditanya Aisyah mengapa masih saja berpayah-payah bangun malam, padahal Allah SWT sudah mengampuni dosanya, beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

Rasa ingin bersyukur itulah yang mendorong beliau melakukan banyak sekali ibadah. Dengan kata lain, ibadah yang beliau lakukan itu merupakan wujud dari kesyukuran kepada Allah atas berbagai karunia-Nya.

Dan ini sejalan dengan firman Allah,’’Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang amat banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).’’ (QS al-Kautsar [108]: 1-3).

Dari sini pula kita bisa memahami ungkapan Sayyidina Ali yang lain ketika beliau bermunajat kepada Allah. “Ya Allah! Aku menyembah-Mu bukan karena takut siksa-Mu, juga bukan karena aku ingin pahala-Mu, tetapi aku menyembah-Mu semata-mata karena Engkau memang layak dan patut untuk disembah.” [Muhammad Arifin- seperti yang dipublikasikan di Republika]

404