Tragedi di Balik Makam

Muchlis M. Hanafi
Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ)

Makam tua sederhana di kota Nawa, Suriah, itu kini tiada. Sebuah pohon tua dan besar di makam itu tumbang bersama reruntuhan bangunan tak berkubah. Sekelompok orang menyerang makam Imam al-Nawawi, ulama terkemuka abad ke-13, itu dan menghancurkannya. Sebelum terjadi krisis politik di Suriah, saya sering mengunjungi makam itu. Sekadar membacakan doa dan membaca beberapa halaman karya penghuni makam. Komunitas santri menyebutnya tabbarrukan.
Rabu, 7 Januari 2015, di saat media lokal dan inter-nasional heboh memberitakan penyerangan kantor Charlie Hebdo, sebuah majalah mingguan di Prancis yang pernah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad bernada sinis dan melecehkan, sejumlah media di Timur Tengah melansir berita pengeboman makam bersejarahdi Suriah bagian selatan itu, 45 kilometer sebelah barat daya Dar’a, kota yang dikuasai pasukan anti-rezim Assad.
Perusakan makam bersejarah para nabi, ulama, dan awliya (wali) di sebuah wilayah konf1ik di Timur- Tengah bukan kali ini saja terjadi. Tidak lama sebelum itu, makam Nabi Ayyub AS, di Desa Syaikh Said kota Dar’a, tidak jauh dari makam Nawawi, juga dihancurkan. Sebelumnya, pada 2013, sekelompok orang menggali makam salah se¬orang sahabat Nabi, Hajar Ibn Addiy, di Damaskus, dan memindahkannya ke tempat yang tidak diketahui. Di Mosul, Irak, yang dikuasai Islamic State (ISIS), mereka menghancurkan makam Nabi Yunus dan sejumlah makam awliya dan ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah.
Berkat letaknya yang dekat dengan tempat-tempat suci di Hijaz dan posisinya sebagai salah satu pusat dunia Islam, kawasan Timur Tengah, temtama Bilad al-Sham (Yordania, Lebanon, Palestina, serta Suriah) dan wilayah Irak memiliki ciri khas, yaitu banyaknya tokoh masa awal Islam yang dimakamkan di kawasan ini. Pada 1690 ulama tersohor, Abd al-Gani al-Nabulsi, melakukan perjalanan dari Damaskus ke Al-Khalil (Hebron). Selama 45 hari berjalan itu dia mengunjungi tidak kurang dari 128 makam wali atau nabi. Rata-rata satu makam setiap dua kilometer. Bilad ai-Sham adalah tanah yang diberkati (QS. Al-Isra [17]: 1), antara lain dengan keberadaan para nabi di wilayah itu dan Nabi Muhammad se1alu mendoakan keberkahan untuknya (HR. AI-Bukhari).
Berbagai kejadian di atas menunjukkan bahwa konflik kemanusiaan, apa pun sebab dan latar belakangnya, termasuk yang bernuansa keagamaan, akan menghancurkan hasil-hasil pembangunan dan sejarah kemanusiaan. Penghancuran situs-situs keagamaan, termasuk makam para nabi, ulama, dan awliya, merupakan bentuk teror terhadap sejarah kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan oleh akal dan agama mana pun. Apalagi, bila tindakan tersebut dilakukan dengan mengatasnamakan agama, itu berarti telah mencoreng agama dan menampakkan diri sebagai umat beragama yang primitif dan barbarian, yang tidak menghargai warisan sejarah peradaban manusia.
Muhyiddin, Abu Zakaria, Yahya bin Syaraf al¬Nawawi (631-676 H), nama lengkap Imam Nawawi, adalah seorang ulama yang berjasa besar kepada umat melalui karya-karya ilmiah yang masih abadi sampai saat ini. Di antaranya, kitab Riyadush Shalihin, al-Tibyan fi adab Hamalatil Qur’an, penjelasan (syarh) kitab Shahih Muslim, Rawdhatu al- Thalibin, dan masih banyak lainnya.
Ia juga dikenal sebagai salah seorang peletak dasar pengembangan mazhab Syafi’i, yang bersama Imam Syafi’i mendapat julukan al-Syaikhani dalam ilmu fikih. Popularitas dan reputasi ulama asal kota Nawa, Suriah, ini tidak diragukan lagi. Banyak orang memberi nama anaknya dengan Nawawi, termasuk ulama besar Indonesia awal abad ke-20 yang cukup masyhur di negeri Hijaz, Syeikh Nawawi al-Bantaniy, dari Tanara, Banten.
Imam al-Nawawi dikenal bijak menyikapi persoalan umat dan sangat menekankan pentingnya menjaga persatuan, memelihara stabilitas negara, dan mencegah pertumpahan darah. Meski dikenal tegas dalam amar makruf nahi mungkar, ia pernah berfatwa, penguasa yang fasik dan zalim tidak boleh (haram) digulingkan, dijatuhkan atau diserang, tetapi harus dinasihati dan diingatkan.
Alasannya, menurut al-Nawawi, agar tidak timbul kekacauan (fitnah), pertumpahan darah, hubungan sila¬turahim yang terganggu, sehingga kerusakan yang ditimbulkan akibat upaya penggulingan melebihi kerusakan yang timbul bila ia dibiarkan berkuasa (Syarh Shah Muslim, 12/229). Kini ia telah tiada. Sayang, makamnya menjadi korban konflik berkepanjangan dan kekacauan yang dikhawatirkannya terjadi karena upaya menggulingkan penguasa yang sah.
Beberapa sumber menyebut Jabhat (Front) Nushrah, sayap militer Al-Qaeda di Suriah, yang beraliran salafi-takfri-jihadis berada di balik perusakan makam Imam Nawawi. Terlepas dari siapa pelakunya, dengan mencermati fenomena yang sarna di negara-negara lain, seperti di Irak, Mali, Mesir dan lainnya, tindakan perusakan makam dilatarbelakangi oleh paham keagamaan ekstrem yang beranggapan kuburan para wali dan ulama yang dikeramatkan menjadi sumber kemusyrikan. Di Mosul, misalnya, ISIS yang menyatakan bertanggung jawab atas penghancuran makam Nabi Yunus, menanggapi prates terhadapnya dengan mengatakan, mereka melakukan itu atas perintah Allah SVVT.
Bahkan, sebanyak 23 orang yang memprotes tindakan tersebut mendapat hukuman cambuk di muka umum karena dianggap menentang perintah Allah untuk memurnikan akidah dan tidak mempersekutukan Allah dengan lainnya. Prkaktek ziarah kubur dicurigai sebagai jalan menuju syirik dan bidah tercela yang menjurus kepada kesesatan. Pelakunya dicap sebagai quburiyyun (penyembah kuburan) yang musyrik. Karena itu, beberapa masjid yang di dalanmya terdapat makam para ulama dan awliya di Irak menjadi target serangan kelompok ekstrem-radikal.
Ziarah kubur, terutama makam orang-orang saleh, adalah tradisi berakar panjang dalam sejarah perkembangan Islam, bahkan dalam tradisi agama-agama sebelunmya. Perdebatan tentang tradisi ini pun bergaung jauh dalam sejarah, mulai dari Ibn al-Jauzi dan Ibn Taymiyah (abad ke 12-13), sampai dengan Muhammad Ibn Abd Wahhab dan Rasyid Ridha (abad ke-19-20). Fenomena ini bukan saja soal ibadah dan perilaku agama, melainkan juga berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, dan politik. Tradisi ini berangkat dari keyakinan sebagian muslim bahwa kehidupan orang-orang saleh (para anbiya, awliya, dan ulama) dan segala yang berkaitan dengan mereka memiliki keberkahan, sehingga mereka bertabarruk (mengharap berkah) dengan menziarahinya.
Sejarawan Al-Khatib al-Bagdadi, dalam Tarikh Bagdad menceritakan kebiasaan Imam Syafi’i yang selalu berziarah ke makam Abu Hanifah. Ketika berada di Irak, setiap hari ia selalu mendatanginya.Jika ada suatu masalah ia melakukan salat dua rakaat lalu mendatangi makam Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisi makam. Setelah itu, ia merasa semua keinginannya terkabul. Kebiasaan membawa kitab karya Imam Nawawi setiap kali berziarah ke makanmya dan membacanya sepanjang perjalanan dan saat berada di makam memberikan kesan mendalam pada diri saya. Ungkapan penulis dalam karya yang saya baca terus teringat dalam benak dan pikiran.
Tabarruk, baik kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi maupun orang-orang saleh, tidak berarti mengultuskan mereka atau berbuat syirik dengan meminta sesuatu kepada orang yang sudah meninggal dunia dan benda-benda tersebut. Tidak seorang pun ulama membolehkan itu, sebab manfaat dan mudarat itu hanya Allah SWT yang kuasa menentukannya.
Konsep berkah dan tabarruk merupakan bagian ajaran Islam yang landasannya kuat dalam Al-Quran dan sunnah, bahkan perilaku para ulama Islam, mulai dari masa Sahabat sampai saat ini. Prakteknya, konsep ini ada yang memahaminya secara berlebihan (ekstrem) sehingga terjadi penyimpangan dengan meminta sesuatu kepada yang dianggap memiliki keberkahan, dan ada pula yang terlalu ketat sehingga menutup rapat segala celah yang memungkinkan terjadinya penyimpangan dalam bentuk perbuatan bidah dan syirik. Dengan dalih menjaga akidah umat Islam agar tidak terjerumus pada perbuatan bidah dan syirik, berbagai situs sejarah, termasuk yang terkait dengan Rasulullah dan para sahabatnya, dihancurkan.
Sikap arif dan moderat diperlukan, yaitu dengan tetap menjaga dan melestarikan situs-situs peninggalan para nabi dan orang-orang saleh yang telah menorehkan sejarah emas di masa lalu, sebab itu bagian identitas dan sejarah umat. Pada saat yang sama dilakukan edukasi kepada masyarakat untuk bertabarruk secara benar berdasarkan tuntunan Al-Quran dan sunnah. Perbedaan pandangan keagamaan hendaknya tetap diberi ruang agar tercipta keharmonisan dan kedamaian.
Tindakan memberantas kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih besar. Memberantas tikus di lumbung padi tentu tidak dengan menghancurkan lumbung tersebut. Bila itu terjadi, kita akan kehilangan semuanya. Situs keagamaan, termasuk pusara para nabi dan tokoh ulama, adalah bagian sejarah kemanusiaan yang harus lestari sebagai simbol spiritualitas di tengah hegemoni materi.

Kolom-GATRA,Hal.30-31 (21 Januari 2015)

Mari, Berdakwah dengan Akhlak

Islam adalah agama yang santun dan suka pedamaian. Ajarannya senantiasa menunjukkan nilai-nilai kebajikan. Kehadirannya senatiasa memberikan kesejukan bagi lingkungannya. Bahkan terhadap pemeluk agama lain pun Islam juga tetap santun. Tetap menjaga perdamaian dalam berinteraksi.

Hal ini bisa dilihat dari prilaku Nabi Muhammad yang “dipasrahi” agama Islam. Setiap perbuatannya selalu mencerminkan kesantunan. Misalnya, saat ia dilempari batu oleh orang kafir, Nabi tak membalasnya. Justru, Nabi mendoakannya agar mereka diberi hidayah. Nabi sadar bahwa perlakuaan mereka itu dikarenakan ketidaktahuan mereka. Sehingga, dengan kesantunan akhlaknya ini, Nabi berhasil meraih simpati mereka untuk memeluk agama Islam.

Jadi, Islam dan akhlak merupakan satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Rasulullah bersabda, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”. Dari sini bisa kita pahami bahwa hanya itulah sebenarnya tujuan Nabi Muhammad diutus. Bukan yang lain. Pula, Hadist ini memberikan penghargaan yang tinggi terhadap siapa saja yang berakhlak, sekalipun dalam urusan dunia, ia masih kalah.
Kesantunan Islam ini, dahulu juga terjadi di Indonesia. Saat itu, Islam bisa membumi di nusantara ini karena (juga) didakwahkan dengan penuh kesantunan dan perdamaian. Bahkan, keberhasilan dakwah Islam ini mengalahkan agama-agama lain yang telah ada di negeri ini.

Namun, dewasa ini, kesantunan Islam ini mulai terusik oleh beberapa oknum yang “mengaku” Islam namun perilakunya kurang/tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka mengajarkan Islam dengan kekerasan. Sehingga hal ini membentuk opini masyarakat bahwa Islam adalah agama yang suka bertengkar. Suka perang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama teroris. Dan jika tidak segera ditindaklanjuti, fenomena ini akan lebih menjadi-jadi.

Apalagi pasca peristiwa peledakan gedung WTC di Amerika 2001 lalu, Islam semakin dipahami sebagai agama yang suka perang. Meskipun, juga tak dapat diingkari, kejadian ini juga sedikit banyak membawa berkah. Karenanya, orang semakin penasaran terhadap Islam. Dan, Alhamdulillah, mereka yang dahulu memebenci Islam, sekarang justru memeluk agama ini.

***
Adalah menjadi kewajiban kita semua untuk mendakwahkan Islam dengan cara yang suka damai. Mari kita kenalkan Islam yang moderat. Kita kembalikan kesantunan Islam yang sekarang mulai pudar ini. Tentunya dengan cara kita sendiri.
Caranya? Mari kita gunakan nilai-nilai Islam dalam setiap gerak langkah kita. Apapun profesi kita harusnya senantiasa menunjukkan kesantunan Islam. Karena secara tidak langsung, hal ini akan memberikan pemahaman terhadap orang lain bahwa seperti inilah Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatallil ‘alamin. Sekian. Waallahu a’lam. (Lip.M. Nurul Huda/Santri Bayt Al-Qur’an Angk.X)

 

*Kutipan ceramah yang diberikan Habib Husain Ibrahim, Jumat, 19 Desember 2014 kemarin.

Fanatisme

M. Quraish Shihab

Tidak jarang orang mencela sikap fanatisme atau siapa yang fanatik. Celaan itu bisa pada tempatnya dan bisa juga tidak, karena fanatisme dalam pengertian bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Keyakinan/ kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya)”.

Sifat ini bila menghiasi diri seseorang dalam agama dan keyakinannya dapat dibenarkan bahkan terpuji, tetapi ia menjadi tercela jika sikapnya itu mengundangnya melecehkan orang lain dan merebut hak mereka menganut ajaran, kepercayaan atau pendapat yang dipilihnya.

Umat Islam, walaupun dituntut untuk meyakini ajaran Islam, konsisten dan berpegang teguh dengannya, dengan kata lain harus fanatik terhadap ajaran agamanya, namun dalam saat yang sama Islam memerintahkan untuk menyatakan“Lakum dînukum Wa Liya Dîny”/ Buat kamu agamamu dan buat aku agamaku. (Q.S. Al-Kâfirûn [109]: 6). selengkapnya

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

Oleh : Dr. Muchlis. M. Hanafi, MA
(Disampaikan pada kegiatan Isra’ Mi’raj 1435 H, Rabu-28 Mei 2014 di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe)

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa pergantian misi keNabian dan kerasulan dari Bani Israil kepada bangsa lain. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan Nabi dan rasul berasal dari keturunan Bani Israil. Pengalihan tugas keNabian dan kerasulan kepada pihak lain ini Allah lakukan karena beberapa hal, yakni:
- Bani Israil adalah bangsa yang ngeyel; ke-ngeyel-an mereka tergambar jelas dalam QS. al-Baqarah: 67-71 tentang peristiwa penyembelihan sapi.
- Bukan bangsa yang tidak loyal; keloyalan mereka terhadap Nabi Musa dan ajaran yang dibawanya diuji pada saat Nabi Musa bermunajat kepada Allah. Hanya dalam tempo waktu kurang dari 40 hari, keimanan mereka sudah tergoyahkan oleh pengaruh Musa Samiri (QS. Thaha: 85-89).
- Bangsa yang pengecut; selain terkenal ngeyel dan tidak loyal, Bani Israil juga pengecut. Oleh Allah sifat ini digambarkan melalui percakapan mereka dengan Nabi Musa (QS. Al-Maidah: 2)
Isra’ adalah perjalan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Isra’ Nabi terjadi dalam tempo waktu kurang dari semalam. Selain memang tidak masuk akal, mereka yang tidak memercayai singkatnya waktu yang dibutuhkan Nabi untuk Isra’ ini agaknya kurang teliti atau lupa terhadap redaksi yang digunakan al-Qur’an dalam menggambarkan kejadian tersebut.

Dalam QS. Al-Isra’: 1, al-Qur’an menggunakan lafal asra yang bermakna “memperjalankan pada waktu malam hari” dan bukan sara yang berarti “berjalan pada waktu malam hari”. Dalam ayat tersebut secara jelas terlihat bahwa Allah-lah yang memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang jaraknya tidak mungkin ditempuh dalam waktu kurang dari satu malam. Bukan Nabi sendiri yang melakukan perjalanan ini. Hal ini tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang mampu menempuh jarak jauh dalam waktu yang relatif singkat. Secara pribadi, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal itu. Namun demikian, kejadian ini bisa saja terjadi karena anak tersebut tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan oleh ayahnya, baik dengan digendong atau menggunakan alat bantu. Jadi bukanlah hal yang mustahil bagi anak kecil itu jika jarak yang demikian jauh bisa ia taklukkan dalam waktu yang begitu singkat. Dengan kata lain, dibalik perjalanan Nabi dan anak kecil yang terkesan mustahil menjadi sangat bisa diterima akal sehat karena keberadaan campur tangan Allah selaku pemilik masa dan jarak atau ayah yang bisa berlari dan mengendarai motor.

Mi’raj merupakan peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke sidrat al-muntaha dari Masjid al-Aqsha. Tidak ada ayat yang dengan tegas berbicara tentang mi’raj Nabi. Ketiadaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut tidak mengandung peluang bagi nalar untuk mejangkau kejadian tersebut. Dari sekian ayat yang tidak tegas tersebut, ada sebuah ayat yang dinilai paling mendekati kejadian ini yakni QS. Al-Najm: 13-14. Jika kita perhatikan keberadaan ayat tersebut, kita akan tahu bahwa ia terletak pada sebuah surat yang hakikatnya belum bisa diketahui bahkan oleh para ilmuan modern sekalipun, yakni jumlah bintang (najm) yang ada di langit. Sampai sekarang jumlah bintang di langit belum dapat diketahui dengan pasti oleh siapapun bahkan dengan alat tercanggih sekalipun. Dengan demikian, untuk mempercayai kejadian mi’raj ini hendaknya kita menggunakan kalbu tanpa harus memaksakan akal untuk menerimanya.

Peristiwa yang Terjadi dalam Mi’raj
Melihat Allah secara langsung
Pada saat di Sidrat al-Muntaha Nabi Muhammad diperkenankan melihat Allah secara langsung. Ini merupakan salah satu keistimewaan yang hanya dianugerahkan kepada Beliau. Pernah ada seorang Nabi yang terkenal kuat dan gagah perkasa yang minta diizinkan untuk melihat Allah secara langsung. Permintaan ini tidak Allah kabulkan. Dia hanya bilang “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku” (QS. Al-A’raf: 143).

Minuman yang dipilih
Pada saat ditawari madu, khamr dan susu, Nabi lebih memilih susu. Ini mengindikasikan bahwa ajaran Islam yang dibawanya tidak sempit dan memberatkan. Hal ini karena oleh al-Qur’an kondisi susu digambarkan sebagai sesuatu yang mudah dicerna (khalishan sa`ighan li al-syaribin). Sesuatu yang mudah tidak mungkin mengandung unsur sempit sehingga sulit untuk dilalui dan berat sehingga merepotkan untuk dibawa.
Kemudahan ajaran Islam ini juga tergambar dalam ayat ke-6 surat al-Fatihah. Dalam ayat tersebut terdapat kata shirath yang terambil dari saratha. Akar kata ini memiliki makna menelan dengan mudah. Kemudahan menelan ini menggambarkan bahwa Islam itu luas tidak sempit. Semuanya bisa masuk ke dalamnya pada saat yang bersamaan. Di sisi lain, sesuatu yang luas memudahkan orang untuk beraktifitas.
Selain itu, ajaran Islam juga bersifat moderat, tidak terlalu keras dan lembut. Kemoderatan ajaran ini digambarkan oleh air susu yang diproduksi antara kotoran dan darah (min baini fartsin wa damin). Dalam ajaran Yahudi, jika ada baju yang terkena najis maka bagian baju tersebut harus dipotong. Ini adalah gambaran ajaran yang keras. Sementara ajaran Nabi Isa terlalu pengasih, sampai-sampai muncul istilah di kalangan pengikutnya “jika pipi kanan ditampar, kasihkan pipi kiri”.

Jumlah rakaat salat fardlu
Misi utama Allah dalam memperjalankan hamba pilihan-Nya ini adalah menyerahkan kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam. Pada mulanya jumlah tersebut tidaklah lima melainkan lima puluh kali. Oleh Nabi Musa – pada saat pertemuannya dengan Nabi Muhammad ketika hendak pulang – jumlah yang dirasa sangat memberatkan. Akhirnya Nabi Musa menyarankan agar jumlah tersebut minta dikurangi. Dalam pengurangan dari lima puluh menjadi lima ini terjadi proses yang dilalui Nabi, yakni naik turun ke sidrat al-muntaha. Jika memperhatikan proses dan hasil yang diperoleh, kita bisa mengatakan bahwa Islam tidak memberatkan dan untuk mencapai tujuan harus ada proses yang harus dilalui.

Ingin Cepat Menang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin

menang

Ketergesa-gesaan adalah salah satu sifat manusia. Ini seperti disebut dalam firman Allah SWT, ’’Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.” (QS al-Anbiya [21]: 37).

Pada ayat lain Allah SWT berfirman, ’’Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.’’ (QS al-Isra’ [17]: 13).

Penyebutan kata ‘ajal yang berarti ketergesa-gesaan dengan berbagai turunannya dalam Alquran hampir semuanya dalam konteks celaan.
Ini mengisyaratkan, meskipun merupakan sifat yang melekat pada diri manusia, ketergesa-gesaan adalah sifat kurang baik yang harus dihindari. Termasuk, tergesa-gesa untuk memperoleh kemenangan.
Salah seorang sahabat Nabi SAW, Khabbab bin Al-Art, pernah mengalami penderitaan sangat parah. Ia pernah disiksa dengan api oleh tuannya saat diketahuinya memeluk Islam.

Siksaan itu tidak lain agar Khabbab tidak mempercayai kerasulan Nabi Muhammad. Pada kesempatan lain, Khabbab yang sebelum Islam pernah bekerja sebagai pandai besi, menagih utang pada Al-‘Ash bin Wa’il as-Suhami. Malang, As-Suhami menolak membayar utangnya.

As-Suhami mengatakan,’’Aku tidak akan membayar utangku kepadamu sebelum kamu mengingkari (kenabian) Muhammad.”
Dengan tegas Khabbab menjawab, “Aku tidak akan mengingkari kenabian Muhammad sampai Allah mematikanmu dan membangkitkanmu lagi.”

Khabbab lebih memilih utangnya tidak dibayar daripada harus mengingkari kenabian Muhammad SAW yang sudah ia yakini.
Akan tetapi, ketabahan Khabbab rupanya sedikit tergoda ketika tekanan orang-orang musyrikin semakin bertambah berat.

Ia mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berteduh di bawah Kabah dan meminta beliau bermohon agar Allah SWT segera menurunkan kemenangan kepada umat Islam.

“Mohonlah segera pertolongan Allah untuk kita, berdoalah kepada Allah untuk kami, ya Rasulullah!” Demikian permohonannya kepada Rasulullah SAW.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam permintaan Khabbab itu. Sebuah permohonan yang datang dari hati yang telah lama lelah menahan siksa.

Permohonan dari hati yang berharap kemenangan yang dijanjikan oleh Allah. Tetapi Rasulullah SAW menanggapi permintaan Khabbab itu dengan muka merah.

Beliau duduk dari pembaringannya dan bersabda, “Orang sebelum kamu dahulu ada yang sudah digalikan tanah untuk dikubur, lalu di kepalanya diletakkan gergaji untuk memenggalnya tetapi hal itu tidak menghalanginya tetap teguh pada agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, tetapi hal itu tidak membuatnya goyah dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seseorang berjalan dari Sanaa ke Hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, tidak pula merasa khawatir atas kambing-kambingnya dari serangan serigala. Tetapi kalian tergesa-gesa.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Dalam perjuangan dakwah menegakkan agama, kita terkadang bersikap kurang sabar dan ingin cepat menang, ingin cepat berhasil.
Padahal, Nabi Musa AS dan kaumnya baru berhasil mengalahkan Firaun setelah puluhan tahun mengalami penyiksaan dan penderitaan.

Nabi Yusuf AS baru berhasil menjadi penguasa Mesir setelah terlebih dahulu mengalami fitnah dan bahkan dipenjara.
Sahabat-sahabat Nabi SAW baru berhasil menegakkan ajaran setelah harus melalui dua kali pengungsian ke Habasyah, berkali-kali terlibat perang, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya.

Kita tidak dituntut menang, tetapi dituntut terus berjuang. Bahkan, Nabi Muhammad mendapat pesan dari Allah, ’’Jika mereka berpaling, (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).’’ (QS Asy-Syura [42]: 48). Kemenangan justru terletak pada keteguhan kita memegang erat tali Allah. Wallahu a’lam.

Benarkah Quraish Shihab Syi’ah?

Hormati Perbedaan, Junjung Tinggi Persatuan (Tanggapan atas Tuduhan Ke-Syi’ah-an M.Quraish Shihab)

Beribadah dengan Jiwa Bebas

Dalam melaksanakan agamanya, umat tergolong menjadi dua. Ada yang tulus, sering disebut dengan mukhlishin lahu ad-din hunafa (QS al-Bayyinah [98]: 5).
Ada juga yang tidak tulus (disebut ya‘budullaha ‘ala harf, beribadah di tepi. (QS al-Hajj [22]: 11). Tentu saja yang pertama benar, dan yang kedua salah. Tetapi, dalam kelompok pertama pun ada tiga model pendekatan.

Dalam buku Nahj al-Balaghah, sebuah buku kumpulan nasihat, wejangan, dan kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib yang disusun dan dikumpulkan Asy-Syarîf ar-Radhiy, sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, “Ada orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu, itu adalah cara ibadahnya pedagang. Ada orang yang beribadah kepada Allah karena takut, itu cara ibadahnya budak atau hamba sahaya. Ada pula orang yang beribadah kepada Allah karena rasa syukur, itulah cara ibadahnya orang-orang yang merdeka.”

Jika kita berpikir akan dapat pahala apa atau dapat untung berapa ketika hendak bersedekah, itu artinya kita beribadah dengan cara pedagang, lebih mempertimbangkan untung-rugi. Meski dibolehkan, ibadah cara ini bukan yang terbaik.

Jika kita baru terpanggil untuk beribadah karena takut masuk neraka, itu berarti kita termasuk kelompok kedua, beribadah cara budak. Ini mirip pengendara sepeda motor yang memakai helm karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan dirinya.

Kalau tidak ada polisi, dia tidak memakai helm. Polisi boleh saja tidak ada, tetapi kecelakaan bisa terjadi kapan saja.

Ibadah cara seperti ini pun boleh walaupun bukan yang terbaik. Yang ketiga, adalah cara beribadahnya orang-orang yang berjiwa bebas!

Orang seperti ini melaksanakan shalat bukan lantaran takut neraka, tetapi semata-mata karena sadar Allah satu-satunya yang patut disembah. Ibaratnya, ada atau tidak ada polisi, orang seperti ini akan tetap menggunakan helm demi menghindari bahaya.

Orang-orang seperti ini akan lebih konsisten dalam beribadah karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang mereka terima dan patut mereka syukuri.

Sebesar apa pun derita yang dialami, mereka lebih memandang kenikmatan yang ada di balik itu. Sesuatu yang patut mereka syukuri sehingga terdorong untuk terus beribadah. Orang yang beribadah dengan cara pedagang dan budak, biasanya bersikap itung-itungan.

Dia cenderung hanya mengerjakan ibadah wajib. Sudah merasa cukup kalau sudah melaksanakan shalat lima waktu. Sudah merasa cukup kalau sudah puasa Ramadhan.

Tetapi, orang yang beribadah dengan jiwa bebas akan selalu terdorong untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Sebab, orang seperti ini yakin sekali, nikmat Allah yang harus disyukuri pun begitu amat banyak, bahkan tak terhitung.

Dari sinilah kita bisa memahami, mengapa Rasulullah selalu bangun malam, shalat tahajud, dan witir sampai kaki beliau bengkak.
Ketika ditanya Aisyah mengapa masih saja berpayah-payah bangun malam, padahal Allah SWT sudah mengampuni dosanya, beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

Rasa ingin bersyukur itulah yang mendorong beliau melakukan banyak sekali ibadah. Dengan kata lain, ibadah yang beliau lakukan itu merupakan wujud dari kesyukuran kepada Allah atas berbagai karunia-Nya.

Dan ini sejalan dengan firman Allah,’’Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang amat banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).’’ (QS al-Kautsar [108]: 1-3).

Dari sini pula kita bisa memahami ungkapan Sayyidina Ali yang lain ketika beliau bermunajat kepada Allah. “Ya Allah! Aku menyembah-Mu bukan karena takut siksa-Mu, juga bukan karena aku ingin pahala-Mu, tetapi aku menyembah-Mu semata-mata karena Engkau memang layak dan patut untuk disembah.” [Muhammad Arifin- seperti yang dipublikasikan di Republika]

Kematian Adalah Nikmat “Sekelumit Pandangan Filosof, Agamawan, Ilmuan, dan Al-Qur’an

Kalau kita memperhatikan fenomena yang terjadi dalam masyarakat, kita akan menemukan bahwa hidup dan mati silih berganti terjadi. Karena itu MAUT bukan sekedar persoalan saya dan Anda, bukan juga hanya generasi masa kini, tetapi ia merupakan persoalan semua generasi, bahkan seluruh manusia kapan dan dimana pun. Maut adalah persolan semua yang hidup. Ini antara lain karena semua diciptakan membawa keinginan kekal, atau paling tidak, mendambakan hidup selama mungkin, setelah manusia menyadari bahwa mereka tak kuasa hidup langgeng.

Demikian sekelumit isi tulisan yang terdapat dalam buku dengan ukuran 13×19 cm ini, dari sekian buku yang telah diterbitkan melalui karya – karyanya, penulis melengkapi dengan menghadirkan buku barunya ini tentang “kehidupan” dan “kematian”, yang pernah juga sebagian dibahas dalam karya penulis sebelumnya seperti dalam buku Perjalanan Menuju Keabadian.

 

Buku ini hadir dengan melengkapi karya sebelumnya dengan memberikan aneka pandangan manusia tentang makna Mati dan Hidup, baik oleh para filosof yang optimis maupun pesimis, juga pendapat agamawan yang penulis usahakan tersaji dalam bentuk yang menenangkan hati ketimbang menakutkan, serta pandangan ilmuan yang mereka peroleh berkat penelitian, pengamatan, dan pengalaman mereka menghadapi sekian pasien.

Menarik buku ini dibaca selain membahas tentang kematian, penulis juga mengaitkan pembahasan tentang Ilmu dan Iman, Alam Barzakh, Kiamat, serta dilampirkan riwayat menjelang wafatnya Nabi saw dan Khulafa Ar-Rasyidin. Sehingga kata penutup dalam pengantar buku ini penulis mengatakan semoga dengan membaca buku ini, ketakutan yang tidak wajar dan pesimisme yang bukan pada tempatnya dapat sedikit terkikis sehingga hidup dan kehidupan kita alami dengan bahagia dan kematian kita sambut dengan legowodan tenang.

 

Judul Buku : Kematian Adalah Nikmat “Sekelumit Pandangan Filosof, Agamawan, Ilmuan, dan Al-Qur’an
Penulis : M. Quraish Shihab
Editor : Abd. Syakur Dj
Penerbit : Ciputat, Lentera Hati 2013
Kolasi : 288 hlm  ; 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-7720-05-3
Cetakan : I, Rajab 1434 / Mei 2013
No.Kelas : 2×14.1.506/D21

Mari Berpikir Positif

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Berpikir adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang terambil dari bahasa Arab al fikr, yang berarti “kekuatan yang menembus suatu obyek sehingga menghasilkan pengetahuari”. Manakala pengetahuan atau pandangan yang dihasilkannya didukung oleh bukti-bukti kuat yang meyakinkan maka dinamakan “ilmu”. Sementara jika bukti-bukti tersebut belum meyakinkan, tetapi kebenarannya lebih dominan, maka disebut zhann (dugaan). Dan jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut syakk (keraguan). Sementara jika tidak didukung bukti, atau bukti tersebut lemah, sehingga kemungkinan salahnya lebih besar disebut wahm.

Akar kata fa, ka, ra, sampai pun ia berubah susunan (fa, ra, ka), memiliki makna seperti disebut di muka. Sebab al fark dalam bahasa Arab berarti “menyisiri sesuatu untuk mencapai hakikat yang sebenarnya”. Bedanya, menurut beberapa pakar bahasa, al-farak/ al-firk untuk sesuatu yang bersifat materil, sementara al-fikr untuk yang bersifat maknawi (Al-Mufradat Fi Gharib AI­Qur’aan 2/496).

Dengan demikian, berfikir merupakan sebuah proses cara pandang seseorang terhadap suatu obyek, baik itu nyata ataupun tidak, yang kemudian menghasilkan penilaian apakah obyek itu positif atau negative. Banyak hal tentunya yang dapat mempengaruhi hasilpenilaian tersebut, antara lain, yang bersifat internal; suasana hati, pemahaman dan penafsiran suatu informasi yang tidak lengkap, peristiwa yang dialami seseorang dalam kehidupan yang mendorong adanya pergeseran cara pandang terhadap sesuatu/orang lain. Yang bersifat eksternal antara lain faktor tingkat pendidikan, budaya, ekonomi, dan lain-lain

Berpikir positif adalah cara berfikir secara terbuka dan melihat segala sesuatu selalu memberi hikmah bagi pengalaman hidup. Sebaliknya, seorang yang berfikir negatif hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian atau keburukan pada seseorang. Pernahkah kita terpikir mengapa pita film yang umum kita kenal untuk mencuci gambar-gambar yang kita inginkan dikenal dengan film negatif. Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu di sana. Namun, bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik , kita akan dapati suansa indah penuh warna-warni sebagaimana yang kita harapkan. Demikian halnya dengan gambaran pikiran negatif; pikiran yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Kita takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah, mengapa kita disarankan untuk selalu melihat segala sesuatunya dengan kacamata positif. Apalagi jika disadari, bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berada dalam kendali Tuhan Yang Mahakuasa.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi” (Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku). Imam Al-Qurthubi, seperti dikutip pakar hadis Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari (13/386), menjelaskan dugaan atau sangkaan dimaksud adalah “dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diterima jika bertobat, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan”. Imam Nawawi dalam Syarh shahih Muslim (17/2) menambahkan, “dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi”.

Hadis di atas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusan, pasti akan diberi balasan oleh swt. (QS. Ali Imran 195). Sebab rahmat Allah sangatlah luas, “maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”, demikian QS.Yusuf ayat 87. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit telah diperuntukkan untuk kebaikan manusia, karena ia telah dipilih untuk bertugas menjadi khalifah yang akan memakmurkan bumi.

Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi dan berprestasi. Alkisah, seorang Jendral Jepang termasyur bernama Nobunaga memutuskan untuk menyerang musuh meskipun jumlah prajuritnya hanya sepersepeluh dari jumlah prajurit musuh yang akan dihadapinya. Ia memiliki keyakinan akan mendapatkan kemenangan, tapi para prajuritnya pesimis/sangsi. Para prajurit mengatakan ini hal yang mustahil. “Mana mungkin kita melawan musuh yang secara jumlah kita sudah tidak berimbang”. Dalam perjalanannya menuju medan pertempuran, Jendral Nobunaga berhenti di sebuah kuil Shinto, la kemudian melakukan doa, setelah berdoa dalam kuil sang Jendral berkata, “sekarang aku akan melempar mata uang, jika nanti yang muncul gambar kepala maka kita akan menang, dan jika angka kita akan kalah, nasib akan terungkap sekarang. Lalu ia melempar mata uang tersebut. Ternyata kepala yang muncul. Kemudian para prajurit begitu bersemangat untuk maju kemedan perang dan memenangkan dengan mudah. Hari berikutnya, seorang Ajudan berkata kepada Sang Jendral Nobunaga, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan”. ” Memang benar”, kata Sang Jendral Nobunaga sambil menunjuk mata uang rangkap yang kedua sisinya bergambar kepala.

Kisah di atas, kendati nuansanya berbeda, mengingatkan kita akan kisah Thalut dan Jalut yang terekam dalam (QS.Al-Baqarah 247-251). Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas raja muda, Thalut, berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu tumbuh karena mereka yakin pasti akan “menjumpai Tuhan”, sehingga “berapa banyak kelompok minoritas/ kecil berhasil mengalahkan mayoritas/ besar dengan kekuasaan Allah” (QS. Al-Baqarah 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan kembali dengan anaknya, Yusuf as., setelah berpisah sekian lama.

Memang betul seperti kata sang ajudan, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan’”. Tetapi dalam pandangan Islam, manusia memiliki kebebasan untuk memilih antara kebaikan atau keburukan (QS. Al-Balad: 10), (QS. Al-Syams : 8). Karena itu, jika diterpa musibah atau keburukan, jangan tergesa-gesa menyalahkan Tuhan, orang lain atau lingkungan. Ketahuilah, “Kebaikan yang kamu terima adalah dari Allah, dan keburukan yang kamu derita berasal dari dirimu sendiri”; QS. Al-Nisa Ayat 79. Ayat 10 surah al-Jin mengajarkan kepada kita bagaimana bersopan santun kepada Tuhan dengan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. “Dan kami tidak tahu, apakah keburukan yang diinginkan oleh penghuni bumi (asyarrun urida biman fil arhd), ataukah mereka menghendaki agar Tuhan memberikan petunjuk (kebaikan) kepada mereka (arada bihim rabbuhum rasyada)”. Perhatikan, ketika menunjuk keburukan kata yang digunakan bersifat pasif/majhul (urida), dan ketika menunjukkan kebaikan kata yang dipilih bersifat aktif (araada).

Seorang yang berpikir positif akan diliputi dengan ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagai anugrah yang patut disyukuri, bukan berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya, musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) di balik itu. Untuk itu ia akan bersikap terbuka menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan. Perhatikan kehidupan Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat, Ya’qub memperoleh keistimewaan karena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka (husnu al-zhann) kepada Tuhan (Tafsir Ibnu Katsir 4/18). Keluh kesahnya hanya ditumpahkan kepada Allah Swt (QS. Yusuf 86), bukan kepada orang lain. Sehingga beliau cepat mengambil tindakan dengan mengirim kembali anak-anaknya ke Negeri Mesir untuk mencari Yusuf (QS. Yusuf 87).  Seorang yang berfikir positif bukan penganut NATO yang diplesetkan menjadi “No Action, Talk Only”.

Terakhir, sikap optimis dan cara pandang positif akan melahirkan bahasa yang positif, baik tutur kata maupun bahasa tubuh. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, optimisme (al fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Kata-katanya bernadakan optimisme, seperti, “masalah itu pasti akan terselesaikan”, atau “Dia memang berbakat”. Rasul pun, seperti dalam hadis lain, senang mendengar kata “sukses” (yaa najiih) jika akan melakukan sesuatu (Aunul Ma’bud 10/293). Sudah barang tentu, ungkapan tersebut dibarengi dengan senyuman, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Berbicaranya pun dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’. Wallahua’lam.

404