info@psq.or.id
+62 21 7421661

Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab Nyambangi Santri-santri BQM

    Home / Bayt Quran / Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab Nyambangi Santri-santri BQM

Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab Nyambangi Santri-santri BQM

0

Usai menghadiri muktamar pada Kamis dan Jumat (27-28/4/2017), esok harinya, Sabtu (29/4) Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab menyempatkan diri menemui para santri Bayt al-Quran Mesir, alumni Bayt al-Quran-Pusat Studi al-Quran Jakarta yang melanjutkan studi di Mesir.

Pak Quraish—demikian sapaan akrabnya—mengundang para santri untuk hadir ke Hotel Fairmont Kairo. Lumrahnya “bapak” yang menyambangi “anak”, perjumpaan itu terasa demikian teduh nan hangat. Tiga puluh lima menit pertama, ruangan itu penuh dengan canda dan tawa. Cendekiawan muslim yang populer dengan tulisan-tulisan serta kajian-kajian serius itu bercerita tentang peristiwa-peristiwa jenaka masa-masa saat ia di Mesir dengan penuh humor. Hampir tanpa jeda para santri dibuatnya terpingkal-pingkal.

Menit-menit selanjutnya, Pak Quraish bertanya tentang keluhan-keluhan santrinya. Dan setelah hampir satu jam, barulah beliau mulai berbicara hal-hal yang serius.Quraish Shihab dan Santri Bayt al-Quran

Quraish Shihab dan Santri Bayt al-Quran

“Al-Azhar itu wasatiah. Kita harus menghormati semua pendapat. Walaupun, pendapat itu tidak dapat disetujui. Wong Tuhan saja memberi kebebasan. Fa Man Syā’a Fal Yu’min. Wa Man Syā’a Fal Yakfur. Siapa pun yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia muslim, meskipun tidak salat. Saya ditanya tentang ISIS. Saya menjawab, ISIS muslim, tetapi dia muslim yang durhaka,” tutur Pak Quraish.

Direktur Pusat Studi al-Quran (PSQ) itu juga memaparkan bahwa di Pusat Studi al-Quran, semua pendapat kita terima. Tapi, kita punya pendapat yang kita anut. Pendapat yang kita anut itu adalah pendapat Ahlussunnah wal Jamaah. Tetapi kita tidak kafirkan Wahabi, walaupun kita tidak setuju. Kita tidak kafirkan Syiah, walaupun kita tidak setuju.

Wasatiah adalah keberagamaan yang paling sulit. Anda yang ingin menganut dan mengamalkan paham ini, ada dua yang harus sangat diperhatikan, dan itu yang sangat menyulitkan. Yang pertama adalah ilmu. Dan yang kedua adalah kemampuan mengendalikan emosi.

Pak Quraish memberikan sebuah ilustrasi. “Jika ada sejumlah orang, dan Anda mau mencari siapa yang berada di tengah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari tahu berapa orang yang ada di sana, berapa yang bukan orang, dan berapa bayangannya. Anda harus tahu persis, itu orang yang harus dihitung, atau itu bayangannya.”

“Kenapa di mana-mana ada orang ekstrem?” lanjutnya dengan pertanyaan retorik. “Karena ilmunya kurang. Boleh jadi dia hanya mengira ada lima orang. Sehingga ia menunjuk tiga lah yang di tengah. Tapi kalau tujuh orang? Sudah salah jika tiga dikatakan yang di tengah. Karena itu Anda harus tahu.”

Pakar tafsir kebanggaan Indonesia tersebut mengatakan bahwa penyebab utama kekerasan adalah karena keterbatasan ilmu. “Dia pikir hanya ini pendapat. Dia hanya tahu yang ini. Padahal yang ini dan yang itu sama. Hanya redaksinya yang berbeda.”

“Saat ini banyak orang yang tidak memiliki keduanya. Tidak punya ilmu. Emosi semangatnya lebih hebat dari Nabi saw. Nabi dulu juga begitu semangatnya, tapi kemudian ditegur oleh Tuhan, La’allaka Bākhi’un Nafsaka An Lā Yakūnū Mu’minīn.”

“Didiklah diri Anda untuk paham, dan kendalikan emosi,” tegasnya lagi.

Nasihat lainnya yang diberikan Pak Quraish pada para mahasiswa al-Azhar itu adalah, bahwa kita sudah tidak bisa lagi berpegang sepenuhnya dengan pendapat lama. Kita akan ketinggalan. Ada hal-hal baru yang perlu kita lihat.

Riwayat selain Alquran, hampir semuanya bisa diragukan kebenarannya. Orang-orang memercayai bahwa Hadis Mutawatir dijamin kebenarannya. Tapi, Syekh Muhammad Abduh berkata, “Suatu berita yang menyenangkan, memiliki potensi banyak yang menceritakan. Sehingga, jika cerita menyenangkan itu diceritakan oleh banyak orang tetapi bohong, maka tidak harus kita menerimanya.” Dalam hal ini, Muhammad Abduh memberi contoh Hadis Mutawatir tentang al-Kautsar, bahwa ia adalah telaga di surga.

Semua riwayat dapat diragukan, kecuali Alquran. Karena Alquran selain mutawatir, ia juga dijaga oleh Allah swt. dan dijamin kemurniannya.

“Apakah semua dalam Bukhari itu benar?” Kembali Pak Quraish bertanya dengan pertanyaan retorik. “ Bahkan Imam Muslim memiliki kritik terhadap sahih Bukhari. Ada orang-orang yang dipakai oleh Imam Bukhari, tapi dianggap daif oleh Imam Muslim.”

Belajar. Berusaha objektif. Carilah pandangan yang bisa mempersatukan.

Sudah tidak bisa lagi Anda hidup dengan pemikiran-pemikiran masa lalu. Jangan lagi berbicara soal mayoritas dan minoritas. Karena mayoritas dan minoritas cenderung membeda-bedakan. Padahal kita semua sama dalam berkewarganegaraan.

“Semua bisa salah, semua bisa benar. Ada yang benar sebagian, sebagiannya salah. Bisa juga yang berbeda-beda itu benar semua. Tuhan tidak bertanya lima tambah lima berapa. Tapi, Tuhan bertanya sepuluh itu berapa tambah berapa,” pungkasnya. (tw/hd)

Sumber : https://nuhidiyah.wordpress.com/2017/04/30/prof-dr-k-h-m-quraish-shihab-nyambangi-santri-santri-bqm/