Fanatisme

M. Quraish Shihab

Tidak jarang orang mencela sikap fanatisme atau siapa yang fanatik. Celaan itu bisa pada tempatnya dan bisa juga tidak, karena fanatisme dalam pengertian bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Keyakinan/ kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya)”.

Sifat ini bila menghiasi diri seseorang dalam agama dan keyakinannya dapat dibenarkan bahkan terpuji, tetapi ia menjadi tercela jika sikapnya itu mengundangnya melecehkan orang lain dan merebut hak mereka menganut ajaran, kepercayaan atau pendapat yang dipilihnya.

Umat Islam, walaupun dituntut untuk meyakini ajaran Islam, konsisten dan berpegang teguh dengannya, dengan kata lain harus fanatik terhadap ajaran agamanya, namun dalam saat yang sama Islam memerintahkan untuk menyatakan“Lakum dînukum Wa Liya Dîny”/ Buat kamu agamamu dan buat aku agamaku. (Q.S. Al-Kâfirûn [109]: 6). selengkapnya

Kuliah Pendidikan Kader Mufassir bersama Prof. Quraish Shihab

mqs-1

(Ciputat 18/9/2014) Diskusi Peserta PKM Angkatan X (sepuluh) bersama Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Pukul 10.00 WIB bertempat di kantor PSQ, acara diawali pengantar oleh Muhammad Arifin, MA memperkenalkan seputar profil para peserta PKM kepada Prof. Quraish Shihab. Selanjutnya diskusi dimulai dan dipimpin oleh moderator sekaligus ketua angkatan PKM X Agus  Imam Kharomen. Diskusi ini dikemas dalam bentuk tanya jawab, tiap peserta diberikan kesempatan mengajukan beberapa pertanyaan untuk selanjutnya dijawab oleh Prof. Quraish Shihab sebagai narasumber, dan pertanyaan yang diajukan adalah seputar materi pembahasan Tesis/Disertasi peserta PKM.

mqs-3Pertanyaan yang diajukan sangat beragam seperti maqashid al-Qur’an, prisip multikultural dalam al-Qur’an, tafsir bil ma’tsur di Indonesia, kemu’jizatan bahasa al-Qur’an, penafsiran kelompok Ibadiyah di Oman, amsal al-Qur’an, fenomena ta’wil dalam ayat antropomorfisme, eksisitensi tafsir sufi, implikasi penafsiran secara lughawi, dan penafsiran ayat-ayat beredaksi mirip. Inilah tema pokok pertanyaan yang diajukan dan didiskusikan oleh para peserta PKM bersama Prof. Quraish Shihab.

Meskipun format diskusi ini adalah tanya jawab, tidak mengurangi antusias dan keseriusan para peserta PKM, terbukti adanya feed back (timbal balik) di antara peserta mengenai jawaban yang telah dikemukakan, yang disusul komentar sebagai solusi dari narasumber diskusi Prof. M. Quraish Shihab sehingga terciptanya suasana keilmuan yang hangat di ruang diskusi ini. Disela-sela memberikan jawabannya, Prof. Quraish juga sering melontarkan pertanyaan untuk membangkitkan perhatian para peserta tentang hal-hal yang sedang didiskusikan. Banyak informasi yang didapatkan melalui diskusi ini, baik yang berkaitan dengan penelitian mereka, ataupun seputar ilmu-ilmu tafsir dan al-Qur’an secara umum.

mqs-2Beberapa informasi penting yang dimaksud adalah dalam menilai madzhab/aliran seseorang (mufasir misalnya) harus dilihat apakah ia telah menganut semua dasar-dasar suatu madzhab tersebut (ushul al-madzhab). Sebagai ilmuan haruslah dapat mencari informasi/pendapat yang paling baik walaupun itu di luar madzhabnya. Betapa pun para sahabat adalah seseorang yang kita hormati, kita juga tetap harus menyeleksi penafsiran mereka, karena bisa jadi terdapat kesalahpahaman didalamnya disebabkan perbedaan tingkat keilmuan (kita tidak mengatakan mereka berbohong). Betapapun penafsiran al-Qur’an adalah hal yang subyektif, tetap ada kaidah/rambu-rambu yang harus dipatuhi, dan tidak hanya mendasarkan penafsirannya pada prasangka semata, melainkan pada “dugaan keras” yang tetap mengacu pada teks al-Qur’an dan kaidah-kaidah yang ada. Pentingnya bersikap moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat, tanpa harus memaksakan kehendak. Hal penting dalam menilai syari’at Allah adalah adanya mashlahah (manfaat, kebaikan) di dalamnya, bahkan ada ungkapan bahwa dimana ada mashlahah, maka di situlah syari’at Allah. Tapi perlu diingat, mashlahah itu harus benar-benar mashlahah, bukan sekedar prasangka hawa nafsu semata. Akhirnya pukul 11.45 diskusi ditutup oleh moderator dengan harapan ilmu yang didapatkan pada diskusi singkat ini memberikan manfaat dan kelak dapat berjumpa lagi pada diskusi-diskusi di waktu mendatang Amin.

Kunjungan Mahasiswa Tafsir Hadis STAIN Pekalongan

stain

 Ciputat (15/9/2014) – Sekitar pukul 10.30 Pusat Studi Al-Qur’an ”PSQ” menerima  kunjungan dari STAIN Pekolangan – Prodi Tafsir Hadis sebanyak 40 Mahasiswa.  Rombongan langsung diterima diruang Perpustakaan (Digital Library Of Al-  Qur’an) yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi seputar  program dan kegiatan PSQ yang disampaikan oleh Farid F. Saenong dan Ach.  Zayadi sebagai Manager Program PSQ. Sementara sambutan mewakili rombongan  disampaikan Hasan Su’aidi, M.Si, disampaikan bahwa kali ketiga kunjungan yang diagendakan ke PSQ ini memang sengaja dijadwal bagi Mahasiswa Prodi Tafsir Hadis STAIN Pekalongan disetiap angkatannya, untuk memperkenalkan lembaga yang fokus pada kajian – kajian Al-Qur’an atau Tafsir seperti PSQ ini.

Dari kunjungan ini peserta dan para dosen pendamping tertarik dan berharap agar ada kerjasama selanjutnya seperti pelatihan Dauroh Bidayah Al-Mufassir untuk para mahasiswa Tafsir Hadis STAIN Pekalongan sebagaimana yang pernah dilaksanakan kerjasama dengan IAIN Surakarta.

stain-2

stain-3

Pembagian Sembako – Ramadhan 1435 H

IMG_2317

Ciputat (16/7/2014) Yayasan Lentera Hati – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) menggelar kegiatan pembagian sembako bagi warga miskin dan tidak mampu disekitar Kantor PSQ. Kegiatan ini biasa dilaksanakan pada setiap Tahun di bulan Ramadhan, dan untuk Ramadhan 1435 H ini disediakan 190 paket sembako untuk didistribusikan kepada warga yang benar – benar berhak menerimanya. Pelaksanaan pembagian sembako dilaksanakan secara langsung dengan mendata dan mensurvei beberapa hari sebelumnya melalui empat RT disekitar Kantor PSQ.

Warga terlihat sangat senang semoga bermanfaat untuk yang menerimanya dan semoga menambah keberkahan untuk Yayasan Lentera Hati – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ)

IMG_2375IMG_2404IMG_2414

Pusat Studi Al Quran Jakarta Jalin Kerjasama di Maroko

maroko-5

Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerjasama dengan dua lembaga studi Al-Quran di Maroko. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA., selaku Direktur Eksekutif PSQ Jakarta menyambut antusias kerjasama yang telah ditandatangani pada hari Jum’at (4/7) dengan Ketua Pusat Studi Al-Quran Ikatan Muhammadiyah Ulama Maroko (Markaz Al-Dirasat Al-Quraniyyah Al-Rabithah Al-Muhammadiyyah li Al-‘Ulama) Dr. Mohamed Al-Mantar dan Rektor Institut Studi Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran Mohamed VI (Ma’had Mohamed VI li Al-Qiraat wa Al-Dirasat Al-Quraniyah) Dr. Khalid Al-Saqi di Rabat-Maroko.

Hari Jum’at adalah hari penuh keutamaan sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari). Pada hari ini kita membicarakan serta menandatangani kerjasama yang dibangun untuk merayakan bulan suci Ramadhan sebagai perayaan kedua bangsa Indonesia-Maroko atas diturunkannya Al-Quran, ujar Dr. Muchlis M. Hanafi, MA., yang didampingi langung Dubes RI untuk Maroko H. Tosari Widjaja pada acara penandatanganan MoU tersebut.

Dr. Mohamed Al-Mantar mengaku sangat tertarik dengan beberapa program kerjasama yang telah didiskusikan seperti Seminar Internasional Kajian Tafsir Indonesia dan Maroko. Masyarakat Maroko menurutnya perlu mengetahui lebih banyak karya-karya magnum opus para ulama ahli tafsir Indonesia semisal tafsir klasik Al-Munir (Murah Labid) karya Imam Nawawi Banten dan juga tafsir modern Al-Azhar karya Buya Hamka dan Al-Mishbah karya Quraish Shihab.

maroko-1

maroko-2

Sementara Dr. Khalid Al-Saqi menjelaskan bahwa Institut Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran ini memiliki persyaratan ketat dengan hanya menerima 30 orang mahasiswa setiap tahunnya dengan pilihan dua jurusan studi, Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran. Dikatakannya bahwa persyaratan utama adalah calon mahasiswa harus sudah hafidz Al-Quran 30 juz dan memiliki ijazah setara SMA/MA kemudian mengikuti tes lisan dan tulisan.  Rektor menyambut baik bilamana para hafidz Al-Quran dari Indonesia berniat melanjutkan studi di Institut ini. Sepuluh persen dari jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya dikhususkan untuk para mahasiswa non-Maroko termasuk Indonesia.
Ikatan Muhammadiyah Ulama Maroko (Al-Rabithah Al-Muhammadiyyah li Al-‘Ulama) di mana Pusat Studi Al-Quran (Markaz Al-Dirasat Al-Quraniyyah) bernaung didirikan berdasarkan Royal Decry (Al-Zhahir Al-Syarif) Raja Maroko Mohamed VI nomor 1.05.210 pada 4 Februari 2006 sebagai pengukuhan dari Organisasi Ulama Maroko (Jam’iyyah Ulama Al-Maghrib) yang telah ada sejak tahun 1970 sebagai lembaga kajian keilmuan para ulama otoritatif di Maroko. Lembaga ini melengkapi keberadaan Dewan Tinggi Ulama Maroko (Majlis Al-‘Ilmi Al-A’la ) yang dipimpin langung oleh Raja Mohamed VI selaku Amir Al-Mukminin serta Institut Daar Al-Hadith Al-Hassaniyah sebagai lembaga pendidikan tinggi, kajian dan riset yang didirikan oleh Almarhum Raja Hassan II Maroko pada tahun 1974 untuk menjaga warisan keilmuan dan melestarikan identitas keberagamaan (Islam) bangsa Maroko.
Melengkapi perhatian besar terhadap pelestarian warisan keilmuan Islam di Kerajaan Maroko khususnya tentang kajian Al-Quran, pada 2 Mei 2013 Raja Maroko Mohamed VI melalui  Royal Decry (Al-Zhahir Al-Syarif)  nomor 1.13.50 memerintahkan pendirian lembaga pendidikan tinggi Institut Studi Ilmu Qiraat dan Studi Al-Quran Mohamed VI (Ma’had Mohamed VI li Al-Qiraat wa Al-Dirasat Al-Quraniyah) yang memulai aktifitas penerimaan mahasiswa barunya pada tahun ini. berita terkait

maroko-3maroko-4

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

Oleh : Dr. Muchlis. M. Hanafi, MA
(Disampaikan pada kegiatan Isra’ Mi’raj 1435 H, Rabu-28 Mei 2014 di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe)

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa pergantian misi keNabian dan kerasulan dari Bani Israil kepada bangsa lain. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan Nabi dan rasul berasal dari keturunan Bani Israil. Pengalihan tugas keNabian dan kerasulan kepada pihak lain ini Allah lakukan karena beberapa hal, yakni:
– Bani Israil adalah bangsa yang ngeyel; ke-ngeyel-an mereka tergambar jelas dalam QS. al-Baqarah: 67-71 tentang peristiwa penyembelihan sapi.
– Bukan bangsa yang tidak loyal; keloyalan mereka terhadap Nabi Musa dan ajaran yang dibawanya diuji pada saat Nabi Musa bermunajat kepada Allah. Hanya dalam tempo waktu kurang dari 40 hari, keimanan mereka sudah tergoyahkan oleh pengaruh Musa Samiri (QS. Thaha: 85-89).
– Bangsa yang pengecut; selain terkenal ngeyel dan tidak loyal, Bani Israil juga pengecut. Oleh Allah sifat ini digambarkan melalui percakapan mereka dengan Nabi Musa (QS. Al-Maidah: 2)
Isra’ adalah perjalan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Isra’ Nabi terjadi dalam tempo waktu kurang dari semalam. Selain memang tidak masuk akal, mereka yang tidak memercayai singkatnya waktu yang dibutuhkan Nabi untuk Isra’ ini agaknya kurang teliti atau lupa terhadap redaksi yang digunakan al-Qur’an dalam menggambarkan kejadian tersebut.

Dalam QS. Al-Isra’: 1, al-Qur’an menggunakan lafal asra yang bermakna “memperjalankan pada waktu malam hari” dan bukan sara yang berarti “berjalan pada waktu malam hari”. Dalam ayat tersebut secara jelas terlihat bahwa Allah-lah yang memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang jaraknya tidak mungkin ditempuh dalam waktu kurang dari satu malam. Bukan Nabi sendiri yang melakukan perjalanan ini. Hal ini tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang mampu menempuh jarak jauh dalam waktu yang relatif singkat. Secara pribadi, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal itu. Namun demikian, kejadian ini bisa saja terjadi karena anak tersebut tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan oleh ayahnya, baik dengan digendong atau menggunakan alat bantu. Jadi bukanlah hal yang mustahil bagi anak kecil itu jika jarak yang demikian jauh bisa ia taklukkan dalam waktu yang begitu singkat. Dengan kata lain, dibalik perjalanan Nabi dan anak kecil yang terkesan mustahil menjadi sangat bisa diterima akal sehat karena keberadaan campur tangan Allah selaku pemilik masa dan jarak atau ayah yang bisa berlari dan mengendarai motor.

Mi’raj merupakan peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke sidrat al-muntaha dari Masjid al-Aqsha. Tidak ada ayat yang dengan tegas berbicara tentang mi’raj Nabi. Ketiadaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut tidak mengandung peluang bagi nalar untuk mejangkau kejadian tersebut. Dari sekian ayat yang tidak tegas tersebut, ada sebuah ayat yang dinilai paling mendekati kejadian ini yakni QS. Al-Najm: 13-14. Jika kita perhatikan keberadaan ayat tersebut, kita akan tahu bahwa ia terletak pada sebuah surat yang hakikatnya belum bisa diketahui bahkan oleh para ilmuan modern sekalipun, yakni jumlah bintang (najm) yang ada di langit. Sampai sekarang jumlah bintang di langit belum dapat diketahui dengan pasti oleh siapapun bahkan dengan alat tercanggih sekalipun. Dengan demikian, untuk mempercayai kejadian mi’raj ini hendaknya kita menggunakan kalbu tanpa harus memaksakan akal untuk menerimanya.

Peristiwa yang Terjadi dalam Mi’raj
Melihat Allah secara langsung
Pada saat di Sidrat al-Muntaha Nabi Muhammad diperkenankan melihat Allah secara langsung. Ini merupakan salah satu keistimewaan yang hanya dianugerahkan kepada Beliau. Pernah ada seorang Nabi yang terkenal kuat dan gagah perkasa yang minta diizinkan untuk melihat Allah secara langsung. Permintaan ini tidak Allah kabulkan. Dia hanya bilang “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku” (QS. Al-A’raf: 143).

Minuman yang dipilih
Pada saat ditawari madu, khamr dan susu, Nabi lebih memilih susu. Ini mengindikasikan bahwa ajaran Islam yang dibawanya tidak sempit dan memberatkan. Hal ini karena oleh al-Qur’an kondisi susu digambarkan sebagai sesuatu yang mudah dicerna (khalishan sa`ighan li al-syaribin). Sesuatu yang mudah tidak mungkin mengandung unsur sempit sehingga sulit untuk dilalui dan berat sehingga merepotkan untuk dibawa.
Kemudahan ajaran Islam ini juga tergambar dalam ayat ke-6 surat al-Fatihah. Dalam ayat tersebut terdapat kata shirath yang terambil dari saratha. Akar kata ini memiliki makna menelan dengan mudah. Kemudahan menelan ini menggambarkan bahwa Islam itu luas tidak sempit. Semuanya bisa masuk ke dalamnya pada saat yang bersamaan. Di sisi lain, sesuatu yang luas memudahkan orang untuk beraktifitas.
Selain itu, ajaran Islam juga bersifat moderat, tidak terlalu keras dan lembut. Kemoderatan ajaran ini digambarkan oleh air susu yang diproduksi antara kotoran dan darah (min baini fartsin wa damin). Dalam ajaran Yahudi, jika ada baju yang terkena najis maka bagian baju tersebut harus dipotong. Ini adalah gambaran ajaran yang keras. Sementara ajaran Nabi Isa terlalu pengasih, sampai-sampai muncul istilah di kalangan pengikutnya “jika pipi kanan ditampar, kasihkan pipi kiri”.

Jumlah rakaat salat fardlu
Misi utama Allah dalam memperjalankan hamba pilihan-Nya ini adalah menyerahkan kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam. Pada mulanya jumlah tersebut tidaklah lima melainkan lima puluh kali. Oleh Nabi Musa – pada saat pertemuannya dengan Nabi Muhammad ketika hendak pulang – jumlah yang dirasa sangat memberatkan. Akhirnya Nabi Musa menyarankan agar jumlah tersebut minta dikurangi. Dalam pengurangan dari lima puluh menjadi lima ini terjadi proses yang dilalui Nabi, yakni naik turun ke sidrat al-muntaha. Jika memperhatikan proses dan hasil yang diperoleh, kita bisa mengatakan bahwa Islam tidak memberatkan dan untuk mencapai tujuan harus ada proses yang harus dilalui.

Peringatan Isra’ Mi’raj 1435 H di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al – Qur’an

mi'raj-1Pondok Cabe – (Rabu,28 Mei 2014) Peringatan Isra’ Mi’raj diadakan di Masjid dan pelataran Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al – Qur’an pondok cabe, kegaiatan sengaja diadakan berbarengan dengan jadwal kegiatan rutin pengajian halaqah tafsir yang diadakan setiap hari Rabu. Kegiatan Isra’ Mi’raj selain dihadiri jama’ah tetap pengajian halaqah juga dihadiri ibu – ibu jama’ah pengajian sekitar wilayah pesantren dan para pengurus dan staff Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Ciputat dan ikut hadir juga beberapa alumni santri pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al – Qur’an, sehingga terlihat tempat yang disediakan panitia terisi semua oleh jama’ah.

Kegiatan Isra’ Mi’raj diawali pada selasa 27 Mei 2014 dimulai pukul 19.30-21.30 WIB dengan pembacaan Khatmil Qur’an (pertama) yang dibacakan para santri Bayt Al – Qur’an, kegiatan dilanjutkan pada Rabu 28 Mei 2014 di mulai pukul 09.00 – 11.40 WIB dengan rangkaian acara pembacaan Khatmil Qur’an (kedua/lanjutan) sekaligus pembacaaan tahlil dan do’a Khatmil Qur’an. Kegiatan kemudian dibuka dan dilanjutkan dengan pembacaan tilawah, pembacaan Asmaul Husna (bacaan yang biasa dibaca sebelum narasumber menyampaikan materi pada pengajian rutin hari rabu), sambutan panitia kegiatan oleh Amrol Musyrifin (santri bayt qur’an angkatan IX dan sambutan pengasuh pesantren Bayt Al-Qur’an Dr. Wahib Mu’thi,MA kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian ceramah oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Dalam ceramahnya Dr. Muchlis menyampaikan kilas balik peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw secara mendalam melalui pemahaman ayat – ayat al-Qur’an, Dengan demikian, untuk mempercayai kejadian mi’raj Dr. Muchlis mengajak para jama’ah hendaknya kita menggunakan kalbu tanpa harus memaksakan akal untuk menerimanya (lanjutan ceramah di artikel). Terakhir rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan do’a.