Wakil PSQ di Workshop Leiden-Belanda

pak-faried-1

 

 

 

 

 

Faried F. Saenong, salah satu Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an (PSQ), di awal tahun ini berangkat ke Belanda untuk sebuah workshop bertajuk “Female Islamic Authority in Comparative Perspective: Exemplars, Institutions, Practices” yang diadakan 8-9 Januari 2015 di KITLV Leiden.

pak-farid-2

Dalam workshop yang dipandu oleh David Kloos (Indonesanis muda di KITLV) dan Mirjam Künkler (Princeton University), Faried menyampaikan paper berjudul “Exercising Religious Authority: Female Islamic Authority in Majelis Taklim Circles in Jakarta”. Workshop yang diadakan oleh KITLV, LUCIs dan IIAS tersebut, menghadirkan nara sumber (peneliti dan pakar) dari berbagai universitas di dunia untuk menyampaikan hasil riset mereka seputar otoritas keulamaan perempuan di berbagai negara, khususnya Iran, Tajikistan, Thailand, Singapura, Indonesia dan India. Workshop ini memang ingin mendalami dan mengikuti berbagai perubahan dalam model otoritas keulamaan perempuan di berbagai negara. Dalam papernya, Faried menyampaikan pengalaman Indonesia dalam mereproduksi ulama perempuan. Secara khusus, paper ini mengangkat kasus Ustadzah yang memiliki otoritas keulamaan di lingkungan Majelis Taklim di Jakarta. Paper yang mendapat sambutan baik dalam workshop ini merekomendasikan sebuah pemikiran tentang fragmentasi otoritas keulamaan di dunia Muslim khususnya di Indonesia.

 

Tragedi di Balik Makam

Muchlis M. Hanafi
Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ)

Makam tua sederhana di kota Nawa, Suriah, itu kini tiada. Sebuah pohon tua dan besar di makam itu tumbang bersama reruntuhan bangunan tak berkubah. Sekelompok orang menyerang makam Imam al-Nawawi, ulama terkemuka abad ke-13, itu dan menghancurkannya. Sebelum terjadi krisis politik di Suriah, saya sering mengunjungi makam itu. Sekadar membacakan doa dan membaca beberapa halaman karya penghuni makam. Komunitas santri menyebutnya tabbarrukan.
Rabu, 7 Januari 2015, di saat media lokal dan inter-nasional heboh memberitakan penyerangan kantor Charlie Hebdo, sebuah majalah mingguan di Prancis yang pernah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad bernada sinis dan melecehkan, sejumlah media di Timur Tengah melansir berita pengeboman makam bersejarahdi Suriah bagian selatan itu, 45 kilometer sebelah barat daya Dar’a, kota yang dikuasai pasukan anti-rezim Assad.
Perusakan makam bersejarah para nabi, ulama, dan awliya (wali) di sebuah wilayah konf1ik di Timur- Tengah bukan kali ini saja terjadi. Tidak lama sebelum itu, makam Nabi Ayyub AS, di Desa Syaikh Said kota Dar’a, tidak jauh dari makam Nawawi, juga dihancurkan. Sebelumnya, pada 2013, sekelompok orang menggali makam salah se¬orang sahabat Nabi, Hajar Ibn Addiy, di Damaskus, dan memindahkannya ke tempat yang tidak diketahui. Di Mosul, Irak, yang dikuasai Islamic State (ISIS), mereka menghancurkan makam Nabi Yunus dan sejumlah makam awliya dan ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah.
Berkat letaknya yang dekat dengan tempat-tempat suci di Hijaz dan posisinya sebagai salah satu pusat dunia Islam, kawasan Timur Tengah, temtama Bilad al-Sham (Yordania, Lebanon, Palestina, serta Suriah) dan wilayah Irak memiliki ciri khas, yaitu banyaknya tokoh masa awal Islam yang dimakamkan di kawasan ini. Pada 1690 ulama tersohor, Abd al-Gani al-Nabulsi, melakukan perjalanan dari Damaskus ke Al-Khalil (Hebron). Selama 45 hari berjalan itu dia mengunjungi tidak kurang dari 128 makam wali atau nabi. Rata-rata satu makam setiap dua kilometer. Bilad ai-Sham adalah tanah yang diberkati (QS. Al-Isra [17]: 1), antara lain dengan keberadaan para nabi di wilayah itu dan Nabi Muhammad se1alu mendoakan keberkahan untuknya (HR. AI-Bukhari).
Berbagai kejadian di atas menunjukkan bahwa konflik kemanusiaan, apa pun sebab dan latar belakangnya, termasuk yang bernuansa keagamaan, akan menghancurkan hasil-hasil pembangunan dan sejarah kemanusiaan. Penghancuran situs-situs keagamaan, termasuk makam para nabi, ulama, dan awliya, merupakan bentuk teror terhadap sejarah kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan oleh akal dan agama mana pun. Apalagi, bila tindakan tersebut dilakukan dengan mengatasnamakan agama, itu berarti telah mencoreng agama dan menampakkan diri sebagai umat beragama yang primitif dan barbarian, yang tidak menghargai warisan sejarah peradaban manusia.
Muhyiddin, Abu Zakaria, Yahya bin Syaraf al¬Nawawi (631-676 H), nama lengkap Imam Nawawi, adalah seorang ulama yang berjasa besar kepada umat melalui karya-karya ilmiah yang masih abadi sampai saat ini. Di antaranya, kitab Riyadush Shalihin, al-Tibyan fi adab Hamalatil Qur’an, penjelasan (syarh) kitab Shahih Muslim, Rawdhatu al- Thalibin, dan masih banyak lainnya.
Ia juga dikenal sebagai salah seorang peletak dasar pengembangan mazhab Syafi’i, yang bersama Imam Syafi’i mendapat julukan al-Syaikhani dalam ilmu fikih. Popularitas dan reputasi ulama asal kota Nawa, Suriah, ini tidak diragukan lagi. Banyak orang memberi nama anaknya dengan Nawawi, termasuk ulama besar Indonesia awal abad ke-20 yang cukup masyhur di negeri Hijaz, Syeikh Nawawi al-Bantaniy, dari Tanara, Banten.
Imam al-Nawawi dikenal bijak menyikapi persoalan umat dan sangat menekankan pentingnya menjaga persatuan, memelihara stabilitas negara, dan mencegah pertumpahan darah. Meski dikenal tegas dalam amar makruf nahi mungkar, ia pernah berfatwa, penguasa yang fasik dan zalim tidak boleh (haram) digulingkan, dijatuhkan atau diserang, tetapi harus dinasihati dan diingatkan.
Alasannya, menurut al-Nawawi, agar tidak timbul kekacauan (fitnah), pertumpahan darah, hubungan sila¬turahim yang terganggu, sehingga kerusakan yang ditimbulkan akibat upaya penggulingan melebihi kerusakan yang timbul bila ia dibiarkan berkuasa (Syarh Shah Muslim, 12/229). Kini ia telah tiada. Sayang, makamnya menjadi korban konflik berkepanjangan dan kekacauan yang dikhawatirkannya terjadi karena upaya menggulingkan penguasa yang sah.
Beberapa sumber menyebut Jabhat (Front) Nushrah, sayap militer Al-Qaeda di Suriah, yang beraliran salafi-takfri-jihadis berada di balik perusakan makam Imam Nawawi. Terlepas dari siapa pelakunya, dengan mencermati fenomena yang sarna di negara-negara lain, seperti di Irak, Mali, Mesir dan lainnya, tindakan perusakan makam dilatarbelakangi oleh paham keagamaan ekstrem yang beranggapan kuburan para wali dan ulama yang dikeramatkan menjadi sumber kemusyrikan. Di Mosul, misalnya, ISIS yang menyatakan bertanggung jawab atas penghancuran makam Nabi Yunus, menanggapi prates terhadapnya dengan mengatakan, mereka melakukan itu atas perintah Allah SVVT.
Bahkan, sebanyak 23 orang yang memprotes tindakan tersebut mendapat hukuman cambuk di muka umum karena dianggap menentang perintah Allah untuk memurnikan akidah dan tidak mempersekutukan Allah dengan lainnya. Prkaktek ziarah kubur dicurigai sebagai jalan menuju syirik dan bidah tercela yang menjurus kepada kesesatan. Pelakunya dicap sebagai quburiyyun (penyembah kuburan) yang musyrik. Karena itu, beberapa masjid yang di dalanmya terdapat makam para ulama dan awliya di Irak menjadi target serangan kelompok ekstrem-radikal.
Ziarah kubur, terutama makam orang-orang saleh, adalah tradisi berakar panjang dalam sejarah perkembangan Islam, bahkan dalam tradisi agama-agama sebelunmya. Perdebatan tentang tradisi ini pun bergaung jauh dalam sejarah, mulai dari Ibn al-Jauzi dan Ibn Taymiyah (abad ke 12-13), sampai dengan Muhammad Ibn Abd Wahhab dan Rasyid Ridha (abad ke-19-20). Fenomena ini bukan saja soal ibadah dan perilaku agama, melainkan juga berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, dan politik. Tradisi ini berangkat dari keyakinan sebagian muslim bahwa kehidupan orang-orang saleh (para anbiya, awliya, dan ulama) dan segala yang berkaitan dengan mereka memiliki keberkahan, sehingga mereka bertabarruk (mengharap berkah) dengan menziarahinya.
Sejarawan Al-Khatib al-Bagdadi, dalam Tarikh Bagdad menceritakan kebiasaan Imam Syafi’i yang selalu berziarah ke makam Abu Hanifah. Ketika berada di Irak, setiap hari ia selalu mendatanginya.Jika ada suatu masalah ia melakukan salat dua rakaat lalu mendatangi makam Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisi makam. Setelah itu, ia merasa semua keinginannya terkabul. Kebiasaan membawa kitab karya Imam Nawawi setiap kali berziarah ke makanmya dan membacanya sepanjang perjalanan dan saat berada di makam memberikan kesan mendalam pada diri saya. Ungkapan penulis dalam karya yang saya baca terus teringat dalam benak dan pikiran.
Tabarruk, baik kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi maupun orang-orang saleh, tidak berarti mengultuskan mereka atau berbuat syirik dengan meminta sesuatu kepada orang yang sudah meninggal dunia dan benda-benda tersebut. Tidak seorang pun ulama membolehkan itu, sebab manfaat dan mudarat itu hanya Allah SWT yang kuasa menentukannya.
Konsep berkah dan tabarruk merupakan bagian ajaran Islam yang landasannya kuat dalam Al-Quran dan sunnah, bahkan perilaku para ulama Islam, mulai dari masa Sahabat sampai saat ini. Prakteknya, konsep ini ada yang memahaminya secara berlebihan (ekstrem) sehingga terjadi penyimpangan dengan meminta sesuatu kepada yang dianggap memiliki keberkahan, dan ada pula yang terlalu ketat sehingga menutup rapat segala celah yang memungkinkan terjadinya penyimpangan dalam bentuk perbuatan bidah dan syirik. Dengan dalih menjaga akidah umat Islam agar tidak terjerumus pada perbuatan bidah dan syirik, berbagai situs sejarah, termasuk yang terkait dengan Rasulullah dan para sahabatnya, dihancurkan.
Sikap arif dan moderat diperlukan, yaitu dengan tetap menjaga dan melestarikan situs-situs peninggalan para nabi dan orang-orang saleh yang telah menorehkan sejarah emas di masa lalu, sebab itu bagian identitas dan sejarah umat. Pada saat yang sama dilakukan edukasi kepada masyarakat untuk bertabarruk secara benar berdasarkan tuntunan Al-Quran dan sunnah. Perbedaan pandangan keagamaan hendaknya tetap diberi ruang agar tercipta keharmonisan dan kedamaian.
Tindakan memberantas kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih besar. Memberantas tikus di lumbung padi tentu tidak dengan menghancurkan lumbung tersebut. Bila itu terjadi, kita akan kehilangan semuanya. Situs keagamaan, termasuk pusara para nabi dan tokoh ulama, adalah bagian sejarah kemanusiaan yang harus lestari sebagai simbol spiritualitas di tengah hegemoni materi.

Kolom-GATRA,Hal.30-31 (21 Januari 2015)

Pelatihan Multimedia Hadis bersama Dr. Ahmad Lutfi Fathullah untuk Peserta PKM

pkm-digitalBogor-(13-15 Januari 2015), para peserta Pendidikan Kader Mufassir Angk.X mengikuti pelatihan pembuatan aplikasi al-Qur’an dan Hadis digital, bertempat di Pesantren Keluarga PKH (Pusat Kajian Hadis) pimpinan Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA.

Pada kesempatan ini peserta mendapatkan materi baik Dr. Lutfi sendiri maupun Tim Pusat Kajian Hadis. Di antara materi yang disampaikan adalah cara mengolah data yang berupa ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis dengan mengacu pada pola klasifikasinya masing-masing untuk kemudian dijadikan Bank Data dalam membuat aplikasi al-Qur’an dan Hadis, Materi selanjutnya adalah praktek pembuatan aplikasi dengan menggunakan dasar power point dan dengan memaksimalkan tols yang ada di dalamnya, para pemateri juga memberikan pelajaran mengenai tips-tips membuat tampilan aplikasi menjadi menarik dan nyaman bagi pembaca. Di antaranya terkait perpaduan warna, pemilihan font dan gambar dekorasi aplikasi.

HADIS-MULTI-1 HADIS-MULTI-2
Pada tahap akhir, para peserta PKM diajarkan cara mengdan mengupload dan menginput data-data yang telah dibuat dan diselesaikan dalam bentuk powerpoint tadi ke dalam server Pusat Kajian Hadis (PKH). Demikianlah sekilas tentang kegiatan pelatihan yang diikuti para peserta PKM ke-X.

Mari, Berdakwah dengan Akhlak

Islam adalah agama yang santun dan suka pedamaian. Ajarannya senantiasa menunjukkan nilai-nilai kebajikan. Kehadirannya senatiasa memberikan kesejukan bagi lingkungannya. Bahkan terhadap pemeluk agama lain pun Islam juga tetap santun. Tetap menjaga perdamaian dalam berinteraksi.

Hal ini bisa dilihat dari prilaku Nabi Muhammad yang “dipasrahi” agama Islam. Setiap perbuatannya selalu mencerminkan kesantunan. Misalnya, saat ia dilempari batu oleh orang kafir, Nabi tak membalasnya. Justru, Nabi mendoakannya agar mereka diberi hidayah. Nabi sadar bahwa perlakuaan mereka itu dikarenakan ketidaktahuan mereka. Sehingga, dengan kesantunan akhlaknya ini, Nabi berhasil meraih simpati mereka untuk memeluk agama Islam.

Jadi, Islam dan akhlak merupakan satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Rasulullah bersabda, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”. Dari sini bisa kita pahami bahwa hanya itulah sebenarnya tujuan Nabi Muhammad diutus. Bukan yang lain. Pula, Hadist ini memberikan penghargaan yang tinggi terhadap siapa saja yang berakhlak, sekalipun dalam urusan dunia, ia masih kalah.
Kesantunan Islam ini, dahulu juga terjadi di Indonesia. Saat itu, Islam bisa membumi di nusantara ini karena (juga) didakwahkan dengan penuh kesantunan dan perdamaian. Bahkan, keberhasilan dakwah Islam ini mengalahkan agama-agama lain yang telah ada di negeri ini.

Namun, dewasa ini, kesantunan Islam ini mulai terusik oleh beberapa oknum yang “mengaku” Islam namun perilakunya kurang/tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka mengajarkan Islam dengan kekerasan. Sehingga hal ini membentuk opini masyarakat bahwa Islam adalah agama yang suka bertengkar. Suka perang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama teroris. Dan jika tidak segera ditindaklanjuti, fenomena ini akan lebih menjadi-jadi.

Apalagi pasca peristiwa peledakan gedung WTC di Amerika 2001 lalu, Islam semakin dipahami sebagai agama yang suka perang. Meskipun, juga tak dapat diingkari, kejadian ini juga sedikit banyak membawa berkah. Karenanya, orang semakin penasaran terhadap Islam. Dan, Alhamdulillah, mereka yang dahulu memebenci Islam, sekarang justru memeluk agama ini.

***
Adalah menjadi kewajiban kita semua untuk mendakwahkan Islam dengan cara yang suka damai. Mari kita kenalkan Islam yang moderat. Kita kembalikan kesantunan Islam yang sekarang mulai pudar ini. Tentunya dengan cara kita sendiri.
Caranya? Mari kita gunakan nilai-nilai Islam dalam setiap gerak langkah kita. Apapun profesi kita harusnya senantiasa menunjukkan kesantunan Islam. Karena secara tidak langsung, hal ini akan memberikan pemahaman terhadap orang lain bahwa seperti inilah Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatallil ‘alamin. Sekian. Waallahu a’lam. (Lip.M. Nurul Huda/Santri Bayt Al-Qur’an Angk.X)

 

*Kutipan ceramah yang diberikan Habib Husain Ibrahim, Jumat, 19 Desember 2014 kemarin.

Sambutan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam Pemancangan Tiang Pembangunan PSQ Pondok Cabe

Ibu-airiin

Bismillahirrahmanirrahim 
Alhamdulillah pada sore hari ini, betapa bangganya kami atas kehadiran Ibu Airin hadir dalam rangka, insyaallah, pemancangan awal dari pembangunan masjid. Yang kita pancang ini bukan hanya tiang untuk masjid, tapi juga sekaligus tiang langit. Sepanjang masih ada kalimat syahadat maka langit tidak akan roboh dan apa yang kita pancangkan disini bukan sekedar tiang masjid tapi adalah tiang langit.
Kita sangat bersyukur, Ibu Airin selaku wakil dari pemerintah di kawasan ini memberikan dukungan, Pak Quraish, Allah akan menjadi saksi bahwa keluhuran Ibu Airin merespon permintaan kita, walaupun kadang-kadang hanya lewat sms dan telepon tidak melalui surat resmi seperti halnya yang lain, tapi justru karena Ibu Airin membaca dengan hati nurani dan kami juga bekerja dengan hati nurani sehingga dua hati saling berjumpa dan inilah yang bisa kami lakukan.
Ibu Airin dibelakang kita disini ini ada anak-anak binaan dari seluruh indonesia dan ini kita istilahnya ToT, mereka-mereka ini nantinya akan menjadi guru-guru al-Qur’an yang profesional di seluruh tanah air, dan selesai nanti kita rekrut lagi yang baru, dan kedepan, insyaallah ini akan kita lakukan memperbanyak orang yang akan kita didik tapi kemampuan kami sangat terbatas.
Dengan hadirnya Pusat Studi Al-Qur’an ini maka tentu insyaallah akan kita lakukan sesuatu yang lebih besar lagi daripada apa yang selama ini telah kita lakukan di 2014.
Ibu Airin yang sama-sama kita hormati, nanti sambil jalan sesudah melakukan peresmian, nanti akan ada tayangan seperti apa nanti, bentuk bangunan yang akan kita bentuk. Insyaallah softwarenya dan hardwarenya sudah kita siapkan, yang kita mohon dari Ibu Airin adalah selain doa tentunya adalah kami memohon menjadi masyarakat binaan Ibu Airin selaku kepala daerah.
Dari segi umur Ibu Airin adinda kita tapi dari segi pemimpin wilayah adalah orang tua kita. Percayalah doa para hafidz Qur’an disini untuk Ibu Airin diberi keselamatan dan sebagainya dan keberkahan selalu menyertainya dan kebaikan selalu kita adreskan kepada Ibu Airin.
Dan yang terakhir dari kami adalah, bukan kali ini saja kita mengharapkan kehadiran Ibu Airin dan rombongan, tapi dalam keadaan apapun insyaallah bahkan tidak menjadi pejabat sekalipun juga kami akan tetap menjadikan Ibu Airin sebagai warga kehormatan dari Pusat Studi Al-Qur’an. Apa yang akan kita lakukan ini adalah sabuah sejarah buat kita semua. Insyaallah apa yang kita lakukan sore ini akan menjadi sejarah buat kita semua.
Sore ini tanggal 10 desember 2014 ini kita akan memancangkan sejarah Pusat Studi Al-Quran. Kalau kita melihat company profilenya, obsesi kita adalah akan menjadi Pusat Studi Al-Qur’an yang obsesinya terbesar di asia tenggara, nanti akan kita merealisasikannya, dan insyallah ke depan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam seperti halnya negara-negara Islam di Timur Tengah.
Inilah yang dapat kami sampaikan demikian sekali lagi atas kehadiran Ibu Airin bersama seluruh staff yang hadir juga ada tokoh-tokoh masyarakat, saya minta maaf tidak menyebutkan namanya tadi, kami juga bangga karena didampingi tokoh-tokoh masyarakat yang ada di sekitar sini, sehingga nanti komplek disini menyatu dengan masyarakat sekitar tidak akan menjadi mercusuar yang asyik dengan dirinya sendiri, selalu nanti akan kita libatkan dan kita terlibat dengan masyarakat sekitar.
Disini juga hadir pengembang yang sejak awal memberikan itikad baiknya pada kita semua, terutama Pusat Studi Al-Qur’an. Kami juga memohon sedkit kata-kata dari Ibu Airin. Sedikit tapi besar artinya buat kami.
Demikian
Wassalamualaikum.

Kunjungan Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang

FR-1

 

 

 

 

 

Ciputat (11/12/2014)- Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) menerima kunjungan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits UIN Walisongo Semarang sebanyak 52 Mahasiswa, dalam kesempatan kunjungannya yang tiba pukul 10.30 WIB para Mahasiswa ditempatkan di ruang Digital Libray PSQ. Kegiatan dibuka Ach. Zayadi selaku Divisi Program dengan mengucapkan terimakasih kepada para Mahasiswa atas kunjungannya ke PSQ yang kemudian dilanjutkan pemaparan program PSQ.

HR-3

HR-2Kegiatan dilanjutkan kuliah umum metodologi penafsiran al-Qur’an oleh Faried F. Saenong (salah satu Dewan Pakar PSQ) dengan tema ‘Sensing new significances of the Qur’an’. Tentu menjadi hal yang diharapkan bagi para Mahasiswa dengan adanya kuliah umum yang disampaikan, terlihat dengan antusiasnya para Mahasiswa untuk menanggapi dan sekaligus bertanya kepada pembicara. Kegiatan ditutup dengan penyerahan CD yang berisi kumpulan  tulisan tema-tema terkait Al-Qur’an pada kegiatan Call For Paper – International Conference On Qur’anic Studies Centre Of Qur’anic Studies (PSQ)

 

Diskusi “Perkembangan Kajian Tafsir” peserta PKM bersama Prof. Nasaruddin Umar, MA

pkm-prof-nasar (Senin, 1/12/2014) Sekitar pukul 08. 45 WIB, bertempat di Kantor PSQ, peserta PKM ke X melakukan diskusi bersama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Dengan tema besar “Perkembangan kajian Tafsir”, diskusi ini dimulai dengan sekelumit cerita dari sosok Prof. Nasar yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai aparatur negara selama + 8 tahun terakhir ini selalu berkutat pada pekerjaan kantor dengan tumpukan kertas yang harus selalu diteliti dan ditandatangani,  pada fase itu Prof. Nasar harus benar-benar meluangkan waktu untuk tetap belajar, salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan menyempatkan diri menulis minimal 10 halaman di tiap hari dan selalu menyempatkan untuk menulis di berbagai media dan juga berceramah agar ilmu-ilmu yang didapatkannya selalu tertancap dan terasah. Demikian kurang lebih prolog pengantar diskusi ini yang pada intinya Prof. Nasar memberikan motivasi akan pentingnya sebuah waktu, karena semenit pun waktu terlewat, ia takkan bisa kembali.

Dimulai dengan seruan berdoa bersama kepada Allah kiranya dibukakan pemahaman dalam proses belajar ini, baru setelah itu dimulai lah diskusi pada hari ini. Pada kali pertama tatap muka ini, Prof. Nasar mengingatkan kembali pada peserta PKM ke X dan umumnya pada para “murid” yang sedang menimba ilmu, agar hendaknya mengingat kembali pentingnya “penyucian jiwa/batin” dalam proses tranfer ilmu. Menurutnya, pembersihan jiwa “tazkiah” harus dilakukan terlebih dahulu dibanding proses tranfer ilmu itu sendiri (ta‘lim), ini berdasarkan QS. al-Baqarah [2]: 151, di mana pada ayat ini kalimat “yuzakkikum” didahulukan dari kalimat “wa yu‘allimukum”. Inilah sebab mengapa dalam kitab-kitab klasik selalu yang didahulukan adalah pembahasan “taharah” yang jika dikaji maknanya mencakup pembersihan hati dan pembersihan lahiriyah, tidak seperti kata “nazhafah” yang artinya hanya mencakup pembersihan lahiriyah saja.  Proses tazkiah berarti seorang guru “mursyid” tidak hanya cukup menyiapkan materi-materi yang akan disampaikannya, melainkan juga berdoa kepada Allah agar ia dibimbing dalam mentransfer ilmu Allah tersebut, begitu juga jangan sampai guru dan murid itu melakukan kemaksiatan sebelum, sesaat atau sesudah proses transfer ilmu, karena dengan itulah Allah akan menurunkan ilmu-Nya kepada para hamba-Nya, bukankah jika ada pesawat yang akan mendarat harus sudah memiliki landasan?, pembersihan hati adalah upaya menyiapkan landasan tempat turunnya ilmu Allah. Demikian kurang lebih penjelasan Prof. Nasar terkait pentingnya menjaga hati untuk selalu suci, dekat, dan terkait erat dengan Allah al-‘Alim.

Banyak hal yang dikaji, dikembangakan, dan dikritisi pada diskusi kali ini, sebagiannya adalah terkait cakupan makna al-Kitab,  bahwa sebenarnya al-Kitab yang notabene sebagai ayat Allah, bukan hanya terbatas pada al-Qur’an, melainkan juga alam raya dan manusia itu sendiri. Selanjutnya adalah perbedaan antara Kalamullah dan Kitabullah, antara lain: Kitabullah adalah bagian dari Kalamullah yang tertulis dalam kitab yang secara fisik bisa diperbaharui (misal ada naskh mansukh), sedangkan Kalamullah adalah lebih umum, tidak terbatas pada apa yang ada di kitab, dan juga melekat di dalam diri Allah (sifat-Nya). Perbedaan makna al-Qur’an dan al-Furqan, bahwa al-Qur’an lebih menekankan makna pengumpulan kebenaran-kebenaran yang secara umum, baik yang merupakan syari’at Allah maupun kisah atau pelajaran umat-umat terdahulu yang secara substansi mempunyai kemanfaatan untuk dijadikan pelajaran, sehingga tidak heran banyak ajaran-ajaran umat terdahulu yang tetap diambil tetapi dengan disertai perubahan dan modifikasi tatacaranya agar sesuai dengan syari’at Allah, misal haji, puasa, dan sebagainya, sedangkan al-Furqan lebih sebagai sifat al-Qur’an yang menekankan pada pemisahan, pembedaan secara tegas antara yang haq dan batil. Inilah beberapa kesimpulan terkait diskusi yang berlangsung sampai pukul 11.10 ini, dan ditutup dengan doa bersama dengan harapan apa yang dipelajari di kali ini mendapatkan berkah dari Allah.

Kegiatan Tadrib ‘Amali Peserta Pendidikan Kader Mufassir

tadrib-1

(Selasa,4/11/2014) – Bertempat di Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an, peserta PKM angkatan X melakukan kegiatan Tadrib ‘Amali bersama para santri Pasca Tahfizh Pesantren Bayt al-Qur’an angkatan X. Peserta PKM yang hadir adalah kelompok pertama yang terdiri dari lima anggota. Tiga anggota sebagai pemateri tafsir, dan dua lainnya sebagai penilai. Kegiatan diskusi dimulai pada pukul 10.00 WIB, dimulai dengan pengantar sebagai perkenalan, lalu disusul dengan pemaparan materi tafsir dari tiga anggota kelompok PKM, masing-masing memaparkan salah satu tema dalam tiap surat, yakni QS. Al-Isra’, QS. Maryam dan QS. Al-Anbiya.

tadrib-2Tema yang dipaparkan dari QS. Al-Isra’ adalah mengenai al-Qur’an dan segala hal yang berkaitan dengannya, antara lain penjelasan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk yang menghantarkan manusia pada jalan yang terbaik “aqwam”, tantangan pada orang-orang yang mendustakan al-Qur’an dan juga metode al-Qur’an dalam menyampaikan dakwahnya. Tema yang disampaikan dari QS.Maryam seputar kisah Nabi Zakariya yang dianugerahi anak oleh Allah di saat usianya telah tua dan istrinya yang mandul, dijelaskan juga seputar kisah Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa seorang suami, kedua kisah ini sebagai bukti kekuasaan Allah. Adapun tema yang dipaparkan dari QS. Al-Anbiya adalah menyangkut keadaan Hari Kiamat, di mana akan adanya perhitungan amal manusia, dan melalui salah satu ayat QS. Al-Anbiya ini Allah menegaskan bahwa perhitungan/timbangan saat itu adalah timbangan yang adil “qisth” sehingga tidak akan ada satupun yang terzhalimi oleh pengadilan pada saat itu.

Inilah beberapa inti pembahasan yang disampaikan oleh tiap pemateri yang masing-masingnya disampaikan dalam durasi 15 menit. Selain pemaparan tema tersebut, setiap pemateri memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan surat yang sedang dibahasnya, baik mengenai munasabah ayat dan surat, kategori Makiyyah atau Madaniyah, termasuk juga tema-tema pokok dan dan tujuan surat-surat tersebut.

tadrib-3Terjalin suasana yang hangat dalam diskusi ini, terbukti dengan antusias para santri dalam menyimak penjelasan, memberikan komentar, pertanyaan dan juga beberapa informasi lain sebagai kekayaan wacana dan informasi seputar surat-surat yang dikaji. Selain mendiskusikan persoalan penafsiran surat-surat yang dibahas, didiskusikan pula beberapa hal terkait ilmu-ilmu al-Qur’an seperti Komsep Makkiyah dan Madaniyah, Tartib Nuzuli dan Tartib Mushafi dan I’jaz Kebahasaan dan keindahan al-Qur’an. Demikianlah suasana diskusi yang berlangsung selama dua jam itu. (Lip. Agus Imam)

Perkuliahan Manahij Tafsir

 

KI-1

Rabu, 15 Oktober 2014 Pukul 10.00 WIB-  bertempat di Kantor PSQ, peserta PKM angkatan X mengikuti perkuliahan Manahij Tafsir yang dibawakan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. Beberapa penjelasan yang disampaikan adalah mengenai rumpun keilmuan kajian al-Qur’an. Menurut pemaparan Dr. Muchlis, rumpun kajian al-Qur’an terbagi menjadi empat, yakni, 1) Ulum al-Qur’an yang mencakup pembahasan kesejarahan al-Qur’an (antara lain kodifikasi dan perihal mushaf), pembahasan terkait kaidah yang berhubungan dengan al-Qur’an sebagai teks kebahasaan (antara lain hakikat dan majazi) dan al-Qur’an sebagai teks keagamaan (antara lain maqashid al-Qur’an).  2) Ulum al-Tafsir yang mencakup pembahasan metode dan pendekatan tafsir maupun studi naskah kitab tafsir, 3) Ushul al-Tafsir/Qawaid al-tafsir meliputi pembahasan kaidah-kaidah dalam menafsirkan al-Qur’an, dan 4) Manhaj Naqd al-Tafsir yakni ilmu untuk mengkritisi dan menyeleksi kitab-kitab tafsir yang ada sampai sekarang, termasuk kategori ini adalah pembahasan al-Dakhil fi al-Tafsir.

KI-2Selain itu, Dr. Muchlis juga menjelaskan unsur – unsur yang diperlukan dalam mencetak kader mufasir, menurutnya ada tiga unsur yang diperlukan, pertama, al-Takwin al-Khuluqi, maksudnya membekali akhlak mulia pada para kader, kedua, al-Ta’hil al-Ilmi maksudnya membekali para kader ilmu yang dibutuhkan dalam rangka menafsirkan al-Qur’an (keempat rumpun keilmuan kajian al-Qur’an), dan ketiga, Takwin Malakah al-tafsir/al-Tadrib Amali yakni mendidik kader agar memiliki ketrampilan menafsirkan al-Qur’an yang mencakup ketrampilan menafsirkan dalam bentuk tulisan, lisan, maupun menjawab pertanyaan seputar tafsir.

Lebih lanjut Dr. Muchlis menjelaskan seputar misi adanya program PKM secara khusus dan visi misi lahirnya Pusat Studi al-Qur’an secara umum, yang salah salah satunya tersimpul pada Upaya Membumikan al-Qur’an. Menurut Dr. Muchlis, untuk mencapai misi tersebut perlu dirumuskan metode/cara yang tentunya sesuai dengan metode/manhaj Qur’ani dalam hal ini mengacu pada QS. Al-Jumu’ah [62]: 2. Dia menyebutnya dengan Trilogi Interaksi. Yakni: 1) Tilawah (membaca), Hifzh (menghafal) dan istima’ (mendengarkan), 2) al-Fahm (memahami) dan al-Tafsir (menafsirkan), dan 3) Itiba’ (mengikuti), Amal (mengamalkan) dan Da’wah (mengajak), Point ketiga inilah dalam rangka tazkiyah (mensucikan jiwa), dan poin kedua termanifestasi dalam program PKM.  Demikianlah beberapa pokok bahasan yang disampaikan pada perkuliahan yang berlangsung selama hampir dua jam ini.