Diskusi Tafsir Tabi’in

oke Setelah beberapa hari Prof. Thib Raya tidak bisa hadir sebab sakit, kini Kamis (5/10) beliau kembali mengisi perkuliahan PKM dengan tema Tafsir al-Quran dengan pendapat tabi’in. Menurut suami Prof. Muzda Mulia ini, tafsir tabiin tidak bisa dilepaskan dari tafsir ayat al-Quran dengan ayat yang lain. dicontohkan tentang tafsir QS. al-Thalaq [65]:10. dalam ayat ini lafadz zikr ditafsiri sebagai al-Quran yang merupakan ruh Allah. Hal itu sesuai dengan makna ayat lain QS. al-Syura [42]: 52. Logikanya karena peringatan Allah itu disampaikan melalui wahyu. Wahyu itulah yang menjadi sarana untuk memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Jadi zikr itu dipahami sebagai al-Quran. Zikru dan ruh, menurutnya, dalam al-Quran disebutkan di beberapa tempat.

Selanjutnya tafsir tabi’in juga tidak lepas dari penafsiran al-Quran dengan Sunnah Nabi saw. Misalnya tafsir QS. Maryam [19]: 57. Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi dalam ayat ini ditafsirkan sebagai Nabi Idris berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Tabiin dari sahabat Anas ibn Malik dari sabda Nabi saw.

Tafsir Tabi’in juga dapat bersumber dari pendapat sahabat. Misalnya, dalam QS. al-Najm [53]: 9 lafadz fa kana qaba qausaini (Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah, terj-), ditafsiri sebagai jibril yang begitu dekat dengan Nabi saw. tafsir ini berdasarkan informasi dari Ibn Mas’ud bahwa Nabi saw pernah melihat Jibril dengan 600 sayab. dari sini bisa disimpulkan bahwa karena begitu dekatnya Nabi saw dengan Jibril maka Nabi saw sampai dapat menghitung.

Sumber tafsir tabi’in berikutnya adalah tabi’in lain. misalnya, informasi dari Ibnu Mas’ud di atas didapatkan oleh Abu Ishaq al-Syaibani, seorang tabi’in, dari Zir ibn Hubaisyi yang juga seorang tabi’in lain. Setelah tafsir dari tabi’in lain, maka mereka main di bahasa. Lalu, apakah bahasa merupakan kategori ra’yu? jawabannya, menurut Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sarif Hidayatullah ini, adalah iya. Misalnya, tafsir QS. al-Jatsiyah [45]: 29 lafadz nastansihu dalam ayat ini ditafsiri sebagai naktubu (menulis, terj-).

sumber tafsir tabi’in yang lain adalah ahl kitab. Misalnya tafsir QS. al-Maidah [5]: 23. Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jarir dari Ibn Ishaq dari sumber kalangan Ahli Kitab. kemudian pembahasan sumber tafsir tabi’in dilanjutkan dengan ijtihad tabi’in lain dan pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi pada waktu ayat turun.

Dalam perkuliahan ini, dibahas juga fungsi tafsir tabi’in. Diantaranya adalah menjelaskan kosakata, menjelaskan pengkhususan yang umum, yang ringkas, pengkaitan yang muthlaq, pembatalan (naskh) dan menjelaskan yang samar. Perkulihan dengan suasana ‘gayeng’ ini diselingi juga cerita tentang toleransi sunni-syiah, toleransi Imam syafi’i dengan Imam Hanafi, dan cerita tentang pemilihan Abu bakar sebagai Khalifah.

Perkuliahan dilanjutkan dengan pembahasan kedudukan tafsir tabi’in. berdasarkan kedudukannya, tafsir tabi’in diklasifikasikan menjadi; rafa, ijmak, kutipan dari ahli kitab dan perbedaan pendapat, Namun, kehujjahannya tidak mutlak, bila ijmak, barulah ucapan tabi’in itu menjadi hujjah. Perkuliahan diakhiri dengan cerita tentang penyadaran Prof. Thib terhadap saudara yang meyakini menyentuh istri tidak membatalkan wudhu menjadi membatalkan wudhu. “Saya ceritakan kepada Pak Quraish,  kata Pak Quraish, itu kan cara orang NU agar orang tidak berwudhu berwudhu lagi.” Kelakarnya sambil bersyukur dalam kondisi kurang sehat, beliau tetap dapat mengajar. bersambung. (Hamzah/PKMXI).

Konsultasi Tafsir bersama Prof. M. Quraish Shihab

Untitled-1

Senin, 26/11/2015 sebuah pertemuan atau diskusi terbuka bagi mahasiswa PKM (Pendidikan Kader Mufassir) yang di adakan oleh Pusat Studi al-Qur’an bersama Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Dalam diskusi terbuka ini diikuti 19 mahasiswa programa magister dan doktor dari berbagai kampus Islam baik di Jawa maupun luar Jawa negeri maupun swasta. Dalam diskusi terbuka ini di mulai pada jam 10.30-11.50. Tentu sekelas Prof Quraish Dalam jangka waktu demikian memberikan informasi dan gagasan yang yang penting seputar tafsir maupun al-Qur’an.

Diskusi ini terbuka sebab para mahasiswa dengan secara terbuka diberikan “kebebasan” untuk bertanya maupun meminta saran-saran yang terkait dengan kajian tesis masing-masing, sehingga diskusi ini tidak dibatasi topik tertentu karena setiap peserta/mahasiswa menanyakan atau meminta saran kepada beliau apa saja yang menjadi kendala dan seperti apa seharusnya sebuah kajian atau penelitian yang tepat dan menarik seputar tesis.

Dengan berbagai kajian atau judul tesis para mahasiswa, maka diskusi ini menarik karena berbagai aspek dibahas, mulai terkait mutasyabih al-Qur’an, kecerdasan menurut al-Qur’an, toleransi menurut al-Qur’an, pancasila, nasionalisme dan lain-lain yang menjadi pertanyaan para mahsiswa. Para peserta PKM menanyakan dan meminta saran kepada beliau, misalnya penelitian Muhammad Adib dalam tesisnya meniliti tentang nasionalisme dalam tafsir kontemporer dengan problem yang dihadapi apakah harus mencari kata kunci nasionalisme itu sendiri atau di dalam al-Qur’an menjelaskan tentang nasionalisme. Beliau menegaskan bahwa seorang peneliti harus meneliti terlebih dahulu tujuan dan apa yang diinginkan peneliti. Dalam hal nasionalisme memang tidak disebutkan suatu kata yang membahas demikian, akan tetapi subtansi dan semangat nasionalisme telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya coba baca buku saya di Wawasa al-Qur’an. Tandasnya kepada mahasiswa.

Pertanyaan yang lain adalah apakah kebenaran tafsir ilmi bisa menjadi sebuah kebenaran yang mapan? Karena fokus kajian yang saya tulis adalah penciptaan manusia menurut Thahthawi Jauhar. Tanya Hulaimi. Beliau menjawab bahwa apapun penelitian itu tetap baik dan benar selama didukung dengan metodologi yang baik dan benar pula. Yang terpenting adalah ilmu pengetahuan itu berkembang sehingga bisa relatif, sehingga apa yang ditafsirkan Thantawi Jauhari pada saat itu benar pada masanya.[lip.Mabrur.pkmXI]

Arah Strategis Pembangunan Masjid Bayt Al-Qur’an di Tangerang Selatan

kecil

Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) pada hari Kamis 10 September 2015 mengundang beberapa pejabat pemerintahan daerah di sekitar Tangerang Selatan dan Depok. Terkait dengan peletakan batu pertama yang menandai dimulainya pembangunan masjid yang diberi nama Bayt al-Qur’an.

Pemberian nama ini menjadi kelanjutan kegiatan PSQ selama ini yang setia menggunakan namanya, termasuk untuk masjid yang sedang dibangun di wilayah Pondok Cabe ini. Lokasi yang berada di wilayah administrasi pemerintahan Tangerang Selatan ini memiliki lokasi strategis. Posisinya berada di pertumbuhan Tangerang Selatan di sebelah timur yang berbatasan langsung dengan provinsi Jakarta Selatan dan berbatasan pula dengan kota Depok sebagai pusat pertumbuhan regional Jawa Barat di sebelah utara.

Daya tarik lokasi ini pula yang menurut Wakil Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Bpk. Drs. H. Benyamin Davnie akan menjadi anugerah bagi wilayahnya untuk menyediakan sarana infrastuktur bagi warganya, sejalan dengan motto kota Tangerang Selatan sendiri yaitu ‘Cerdas, Modern dan Religius’.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Benyamin-Davnie.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Benyamin-Davnie.jpg” alt=”Benyamin Davnie” width=”600″ height=”469″ class=”size-full wp-image-31209″ /></a> Benyamin Davnie

“Maka kehadiran masjid menjadi sebuah sentral kehidupan masyaratkat yang memegang peranan penting. Terlebih lagi wilayah Tangsel sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor perbatasan wilayah, kemudian dinamika sosial, politik, hukum maka tak heran bila kehidupan warga Tangsel begitu dinamis,” tambahnya.

Masih kuat dalam ingatannya saat pergantian tahun baru 2014 lalu. Dirinya mendapati laporan adanya keberadaan teroris di wilayah Kampung Sawah. Beliau meyakini bahwa sebagai sebuah wilayah yang memiliki potensi strategis, semua warga di wilayahnya mempunyai rencana, apakah rencana baik maupun tidak.

Akan menjadi tantangan berat bagi pemerintahannya untuk bisa mewujudukan motto kotanya dengan kepadatan penduduk yang semakin menuntut fasilitas yang memadai.

“Kepadatan penduduk di wilayah kami sudah mencapai 8000-9000 jiwa perkilometer persegi. Artinya dalam satu meter perseginya ada 8 orang berdiam. Tentu ini menuntut adanya fasilitas memadai dengan infrastruktur, bila tidak tentunya akan menimbulkan friksi dan problematik sosial antar masyakarat.”

Selain karena tingkat kepadakatan yang tinggi, juga latar belakang yang berbeda di antara warganya. Tentunya beliau berharap agar pembangunan yang dilakukan adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas, modern dan religius baik secara duniawiyah, maupun uhrowiyah.

Menilik hal ini, maka menurutnya peran masjid menjadi semakin strategis guna mengisi dan membentengi semua aspek kehidupan masyarakat di wilayahnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA selaku perwakilan dari PSQ saat memberikan sambutan dalam acara peletakan batu pertama menegaskan, upaya pembangunan Masjid Bayt al-Qur’an ini merupakan keinginan yang sejalan dengan visi dan misi PSQ selama ini.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nasaruddin-umar2.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nasaruddin-umar2.jpg” alt=”nasaruddin umar” width=”600″ height=”400″ class=”size-full wp-image-31212″ /></a> nasaruddin umar

“Apa yang akan kita lakukan pada pagi hari ini, bukan saja untuk meletakan batu pertama pembanguna Masjid Bayt al-Qur’an, tetapi sekaligus kita juga meletakan batu sejarah PSQ yang akan memancrkan cahayanya di kawasan ini.”

Menurut mantan wakil agama Republik Indonesia ini, umat saat ini membutuhkan pelayanan yang intensif, sungguh pun tanpa harus melalui pendidikan formal. Ini terbukti dengan apa yang telah PSQ rintis dan lakukan selama ini, dimana lulusan PSQ sudah bisa dinikmati hasilya dan sudah bisa mengharumkan nama baik PSQ sendiri.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nassarudin-umar.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/nassarudin-umar.jpg” alt=”Nassarudin Umar” width=”600″ height=”902″ class=”size-full wp-image-31211″ /></a> Nassarudin Umar

Dalam sambutannya, beliau juga memberikan apresiasi yang sangat positif kepada Wiraland selaku pengembang yang telah bekerja bersama PSQ dan berharap kerjasama ini bisa terus kita lanjutkan. Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan dakwah Yayasan Lentera Hati; Husein Ibrahim, Ali Ibrahim, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Fikri Assegaf, Zarkasih Noer yang merupakan Menteri Negara Koperasi dan UKM pada Kabinet Persatuan Nasional.

<a href=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Zarkasih-Noer.jpg”><img src=”http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2015/09/Zarkasih-Noer.jpg” alt=”Zarkasih Noer” width=”600″ height=”400″ class=”size-full wp-image-31210″ /></a> Zarkasih Noer

 

 

 

Tafsir Isyari Dasar Pertama Perintah Membaca

pk-1Ciputat,(24/9/2015)- Salah satu mata kuliah dalam Pendidikan Kader Mufassir (PKM) yang di adakan PSQ adalah kajian tafsir Isyari dalam hal ini di bimbing langsung oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA salah satu pakar tafsir Indonesia yang di agendakan setiap Senin jam 09.00-10.30. Pada Pertemuan pertama ini Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan perintah awal Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw yaitu iqra’ (bacalah). Dalam ayat ini Tuhan memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca namun pada saat itu Jibril datang kepada Muhammad tidak membawa objek apa yang akan dibaca. Pesan dari ayat ini menegaskan bahwa, perintah membaca dalam ayat tersebut bukan menegaskan membaca hanya sebatas membaca semata.

            Penjelasan lebih detail beliau menjelaskan bahwa perintah membaca lebih dari itu adalah bagaimana kita bisa memahami dan mendalami al-Qur’an sehingga bisa dijadikan sebagai hudan (petunjuk). Nah, langkah awal untuk memahami al-Qur’an adalah dengan tazkiyatun nafs (penyucian diri) lebih awal sehingga al-Qur’an memberikan pancaran dan maknanya terhadap pembaca. Lalu beliau memberikan sebuah pertanyaan bahwa apakah hanya manusia (pembaca) yang memahami al-Qur’an atau al-Qur’an sendiri juga memahami maksud atau keinginan pembaca?. Dalam proses membaca dan memahami al-Qur’an ternyata antara pembaca dan al-Qur’an terhadap pembacanya sama-sama berinteraksi untuk saling memahami, sehingga langkah awal untuk memahami dan mengkaji al-Qur’an adalah dengan tazkiyah nafs (penyucian diri) di awal. Dengan merujuk pada al-Qur’an bahwa la yamassuhu illa al-mutahharun (janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali bagi-bagi orang yang suci).

pk-3

         Beliau kemudian memetakan makna iqra pada lima hal yaitu, how to read, how to learn, how understanding, how to meditate dan how to realize. Dari pemetaan lima kategori membaca ini juga memberi dampak tersendiri terhadap proses pembacaan terhadap al-Qur’an. Pertama, how to read itu hanya sebatas membaca teks-teks al-Qur’an sebagaimana semangat umat Islam dalam bulan suci Ramadhan yang hanya memberi implikasi pahala bagi yang membacanya. Kedua, how to learn/think.  Proses pembacaan seperti melibatkan daya kemampuan berpikir manusia dalam memahami al-Qur’an. Beliau menegaskan dalam ranah akademik bentuk pembacaan kedua ini juga banyak. Ketiga, how to undestanding, dengan melibatkan emosional dalam menghayati pesan-pesan al-Qur’an. Keempat, how to meditate, proses pembacaan dalam konteks ini melibatkan kecerdasan spritual dalam memahami pesan-pesan al-Qur’an sehingga dalam memahaminya selalu memberikan kesejukan, pesan kedamaian dan ketenangan jiwa. Dan kelima, how to realize, bagaimana dalam proses pemahaman dan penghayatan dapat direalisasikan, dalam konteks ini bagaimana al-Qur’an terungkag segala pesan-pesannya atau pembaca dapat mukasyafah  dengan al-Qur’an sendiri.

pk-2

Sebab al-Qur’an sebagai bacaan dan itu merupakan kalamullah, beliau menegaskan selama ini terkadang kita menyamakan antara kalamullah dengan kitabullah. Pada dasarnya setiap kitabullah adalah kalamullah, dan tidak semua kalamullah adalah kitabullah.. Kalamullah itu merupakan alamul al-amr sedangkan kitabullah pada wilayah alamaul khalk.

            Pada pertemuan berikutnya akan dikaji dengan pendekatan atau analisi sufistik terkait dengan pemamahan dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. [lip.Mabrur.PKMXI]

Menghadirkan Khusyu’

Kajian Halaqah Tafsir oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.

(Rabu, 19 Agustus 2015)

Penyakit masyarakat moderen adalah sulit khusyu atau fokus. Mereka kuat dalam beribadah tapi kurang berkualitas. Hal ini karena mereka cenderung lebih suka berlogika dalam melihat segala sesuatu. Dari sini mereka lebih mudah disetir oleh pikiran. Sementara, cara kerja pikiran adalah memetak-metakkan sesuatu. Dialah yang mengatakan adanya aku, kamu, dia, di sini, di sana, dan sebagainya.

“Anakku yang itu begini dan yang itu begitu” misalnya. Secara tidak langsung, ungkapan ini menuntun orang tua untuk memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda terhadap anaknya. Perhatian dan perlakuan tersebut berbanding lurus dengan perbuatan anaknya. Semakin baik perbuatan sang anak, semakin baik pula perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, semakin buruk perilaku si anak, semakin biasa pula – bahkan semakin buruk – perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sepanjang orang tua tersebut mampu dalam mengisi kotak-kotak tersebut – terlebih terhadap anakknya yang berperilaku baik dengan memberikan perhatian dan perlakuan yang baik – ia akan merasa senang dan gembira. Namun jika tidak, ia akan tertekan dan menderita.

Pada dasarnya, perasaan “terkena musibah” bukan berasal dari diri kita sendiri. Ia adalah barang luar yang menempel pada diri kita. Jadi efek yang ditimbulkan olehnya tergantung pada bagaimana kita melihatnya. Jika kita menilainya sebagai hukuman atau kesulitan yang Tuhan berikan kepada kita, ia akan menjadi musibah. Dan jika kita melihatnya sebagai bentuk perhatian-Nya kepada kita, ia akan menjadi kenikmatan. Dengan demikian, penyebab penderitaan yang sebenarnya bukanlah kondisi buruk yang menghampiri kita, melainkan bagaimana fikiran dan cara kita menyikapi kondisi tersebut. Ada sebuah penemuan yang layak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan, “pasien yang bersahabat dengan penyakitnya hanya merasakan 60% rasa sakit tersebut. Sedangkan dia yang mengutuk penyakitnya, akan merasakan 100% rasa sakit tersebut”. Untuk lebih memantapkan hal ini, silahkan perhatikan kisah Nabi Ayyub as. Oleh karenanya, jinakkan pikiran dan bukan mengusir tamu permasalahan.

Racun dalam kehidupan kita bukan hanya nafsu melainkan juga fikiran. Ia perlu dikendalikan sebagaimana nafsu. Kebanyakan dari kita masih suka memberikan ruang gerak yang luas kepada fikiran dalam berkreasi dan mempersempit ruang gerak nafsu. Padahal, fikiran punya potensi seperti nafsu. Ia bisa berkolaborasi dengan nafsu. Cara menjinakkan keduanya adalah dengan memahami, menghayati dan mempraktikkan agama.

Orang tua dahulu para pejuang berpegang pada prinsip dengan kuat. Bagi mereka berangkat ke medan perang belum tentu tertembak. Kalaupun tertembak belum tentu mati. Kalaupun mati sudah tentu kematian tersebut adalah mati syahid. Terkait dengan kematian, Jalaluddin al-Rumi berkata pada mulanya kita adalah mati yang kemudian hidup sebagai bebatuan.setelah itu, kita mati dan hidup kembali sebagai tumbuhan. Pada saatnya kita akan mati lagi lalu dihidupkan kembali sebagai hewan. Pada usia tertentu kita akan mati lagi dan kemudian hidup terlahir sebagai manusia. Setelah itu mati lagi dan hidup kembali sebagai malaikat. Setelah menjadi malaikat kita akan bersatu dengan Dzat sumber segala sesuatu. Pernyataan Rumi ini berbeda dengan reingkarnasi yang menjadi keyakinan umat Hindu. Bagi mereka, kehidupan berikutnya bergantung pada amal perbuatan yang dikerjakan pada kehidupan sebelumnya. Selain itu, dalam perputaran tersebut ada siklus mundur dari manusia menjadi hewan. Berbeda dengan pernyataan Rumi, perputaran tersebut bersifat linier maju. Terkait hidup dan mati, yang perlu diperhatikan adalah dari mana, sedang dimana, dan akan kemanakah kita.

Kesadaran akan “eksistensi segala sesuatu adalah Engkau” harus kita miliki. Hal ini karena seluruh alam raya ini merupakan tajalli-nya Allah (QS. al Baqarah: 115). Untuk mencapai hal ini kita harus lebih sering mengajak batin untuk aktif dalam kehidupan. Penggunakan batin dalam melihat dan menangkap sesuatu akan memberikan jawaban yang sama, yakni “aku”. Berbeda dengan fikiran, ia akan memberikan jawaban “itu kamu dan ini aku”.

Dengan mata batin, penderitaan akan jarang meghampiri. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pasti ada satu dari dua perasaan yang menyertainya. Perasaan tersebut adalah suka dan beban. Rasa suka akan menghantarkan pelakunya pada kenyamanan Misalnya pada saat menyiram tanaman, terbesit rasa bahwa kita sama-sama butuh air dan perawatan. Kondisi akan merlahirkan rasa suka dan cinta. Dalam menolong juga demikian, jika masih terkotak-kotak oleh pikiran, yakni dengan merasa “ini aku dan itu kamu”, rasa pamrih bisa muncul. Karena ia menlong orang lain dan bukan diri sendiri. Jarang ada orang yang pamrih ketika menolong dirinya sendiri, bahkan tidak ada.

Kesenangan dan penderitaan akan tetap eksis terwujud ketika pikiran tetap bekerja. Perhatikan saat kita tidur, kesenangan dan beban yang terasa sebelum tidur akan hilang tidak membekas sama sekali. Semakin beristirahat pikiran kita, semakin tenang pula tidur kita.

Sholat adalah waktu yang paling enak untuk menghayal. Pada saat itu, biasanya seseorang mendadak menjadi cerdas. Biasanya ia mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini dicari. Orang yang terlalu pintar biasanya sedikit khusyuknya. hal ini karena pikirannya masih bekerja sehingga muncul pengotak-kotakan segala sesuatu. Untuk memperoleh kualitas solat yang baik, Allah memberikan beberapa shock theraphy, antara lain:

1. Azan; karena isinya memperdengarkan akhirat yang hanya bisa digapai oleh batin.
2. Wudhu; terdapat rahasia di balik pendiktean Allah secara langsung terkait oragan tubuh yang harus dibasuh dalam wudlu.

Menurut Omar Barren Ehren Falles, pakar neurologi yang sekaligus psikiater, pusat kesadaran manusia terdapat pada tiga tempat; wajah, tangan dan kaki. Ketiga tempat ini merupakan anggota tubuh yang dibasuh pada saat berwudhu. Terkait hal ini ada yang mengatakan bahwa orang yang tidak khusyu dalam mengambil air wudlu, akan susah khusyu dalam sholat.

Sholat mampu menghadirkan ketenangan pada pelakunya. Ketenangan tersebut diperoleh malalui dzikir yang terdapat di dalamnya. Allah menyuruh hamba-Nya menjalankan sholat untuk mengingat-Nya, berdzikir kepada-Nya (QS. Thaha: 14). Sebagaimana janji Allah, berdzikir akan menghadirkan ketenangan diri (QS. arRa’d: 28

Perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir [PKM XI] Perkembangan Ilmu Hadis

pk-xi Pengembangan pemahaman dan pengetahuan tentang ilmu hadis dan berbagai disiplinnya sangat penting dalam memahami kajian ke-Islaman. Sebab hadis merupakan representasi kedua sebagai sumber hukum dalam Islam. Hal itulah yang menjadi kesadaran bagi mahasiswa S2 dan S3 Pelatihan Kader Mufassir (PKM) yang diselenggarakan dan difasilitasi oleh Pusat Studi al-Qur’an dibawah bimbingan Prof. Dr. Quraish Shihab.

            Pada pertemuan awal tepatnya senin tanggal 11-08-2015  pada materi ilmu hadis, yang diampuh oleh Dr. Sahabuddin. MA yang dimulai pada jam 14:00-17:30 dengan metode ceramah, namun diselingi dengan dialog terhadap mahasiswa. Pokok mendasar yang dibahas adalah bagamaina perkembangan ilmu hadis itu sendiri. Beliau memaparkan di awal bahwa kunci utama dalam memahami ilmu hadis didasarkan pada 10 poin. Namun pada kesempatan tersebut beliau belum memaparkan apa saja 10 poin tersebut. Namun tandasnya nanti akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Namun yang paling mendasar adalah awal mula perkembangan ilmu hadis itu sendiri dimulai sejak kapan dan dipopulerkan oleh siapa yang pertama kali yang menjadikan sebagai sebuah disiplin keilmuan. Beliau menegaskan bahwa secara konsep ulum hadis sudah terjadi pada masa Imam Malik, namun belum menjadi sebuah disiplin keilmuan. Singkat cerita, pada masa Imam Syafi’i-lah kemudian ulum hadis menjadi sebuah disiplin keilmuan sehingga beliau disebut sebagai nashiru al-sunnah (pembela sunnah). Istilah-istilah yang terkait dengan ulum hadis yang pertama kali dipopulerkan oleh Imam Syafi’i dapat dilihat dalam kitabnya al-Risalah meskipun secara konten kitab banyak mengkaji tentang ushul fiqh, namun beberapa istilah dan dibahas didalamnya sering dimunculkan semisal istilah hadis mursal, hadis ahad dan lain-lain.

Bahkan lebih lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa Imam Syafii juga lah yang membela bahwa hadis ahad dapat dijadikan sebagai hujjah baik pada persoalan akidah maupun hukum. Pada perkembangan berikutnya yang mengembangkan ulum hadis dan yang terkait dengannya adalah beberapa ulama sebagai berikut:

–          Ibn Sa’din dengan karyanya Thabaqat al-Kubra wafat pada tahun 230 H

–          Yahya Ibn Ma’im (w 233 H) dengan karyanya al-Asma wa al-Kuna

–          Imam Ali bin al-Madini (w 234 H) dengan karya al-‘Ilal

–          Imam Bukhari (w 256 H) salah satu karyanya adalah al-Kuna

–          Imam Muslim dengan karyanya al-Tamyiz sebanyak 12 jilid

–          Imam Tirmidzi (w 279 H) dengan karyanya al-‘Ilal sebanyak 4 jilid

Kajian Buku : Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir

sip

Buku “Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir” dibedah di Pesantren Bayt al-Qur’an, Selasa (9/6). Pesantren yang mengelola program Pasca-Tahfidzh Al-Quran ini beralamat di Perum Villa Bukit Raya (South City) Jl Boulevard Diamond Selatan, No 10 Pondok Cabe, Cinere, Tangerang Selatan, Banten.

Diskusi dan bedah buku karya kader muda NU Dr M Ulin Nuha Husnan ini dimoderatori Romli Syarqawi Zain. Dua narasumber didaulat membedah buku tersebut, yakni intelektual muda NU Dr Abdul Moqsith Ghazali dan peneliti Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Faried F Saenong, PhD.

Dalam prolognya, moderator Romli Syarqawi Zain mengatakan, ada beberapa sarjana muslim yang mencoba memberi pendekatan baru bagi teks atau penafsiran Al-Quran. Selain Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir, Muhammad Syahrur asal Suriah juga mencoba mendekati kitab suci ini secara kritis.

Tradisi kritis terhadap pendekatan Al-Quran, lanjut Romli, lahir bukan dari sarjana lulusan kuliah keagamaan, bukan lulusan UIN atau IAIN. Umumnya, yang menyumbangkan pemikiran kritis itu justru lulusan ilmu umum.

“Nah, Doktor Ulin Nuha memecahkan rekor ini. Penulis buku ini ternyata santri lulusan madrasah dan pesantren di Lamongan lalu kuliah di Al-Azhar Cairo. Beliau ini adik kelas saya di Mesir. Huwa asgharu minni sinnan, wa akbaru minni ‘ilman. Meski secara umur lebih muda, namun ilmunya lebih luas dari saya,” ujar Romli mengawali diskusi.

Dalam presentasinya, Ulin Nuha Husnan mengatakan, metodologi tafsir penting untuk mengetahui makna Al-Quran. Penelitian ini berangkat dari beberapa temuan adanya inhirafat yang kalau dibiarkan akan berimplikasi kepada pemaknaan kitab suci itu sendiri.

“Padahal Al-Quran berbeda sama sekali dengan tafsir. Al-Quran itu universal yang melampaui ruang dan waktu. Sementara Tafsir itu nisbi. Meski nisbi, tetap saja ia harus memiliki parameter untuk mengukur kenisbian itu agar tidak melampaui batas,” ujar Ulin.

Abdul Moqsith Ghazali dalam penilaiannya menyatakan, tentu jika dicari kesalahan buku ini pasti banyak sekali apalagi ketika yang dikritik sudah dituliskan. Buku ini misalnya, menjelaskan adanya banyak kosakata dalam Al-Quran yang bukan bahasa Arab, misalnya, kaafuuraa, zanjabiilaa, firdaus, dan lain-lain.selanjutnya

a-3a-4

a-2a-1

Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

(Allah Hadirkan contoh Empirik Masyarakat Baduwy)

disajikan pada pengajian halaqah Tafsir (Rabu,1 April 2015)

Oleh : Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi, MA

Tidak ada teks Al-Qur’am atau sunnah yang berbicara langsung terkait ketahanan pangan. Ayat-ayat yang memberi informasi terkait itu bisa dirujuk surat quraisy yang menggambarkan bahwa perintah menyembah Tuhan diikuti dengan sifat melekat terkait pentingnya memperhatikan soal pangan dan soal rasa aman.
Ayat lain yang juga terkait langsung atau tidak langsung gambaran AlQur’an tentang pohon (syajarah toyyibah) yang memberi buah tanpa musim. Mampukan petani muslim mewujudkannya?
Mari kita belajar dari contoh ayat kauniyah yang dihadirkan Allah yakni masyarakat Baduwy terkait ketahanan pangan. Indonesia telah dianugerahi Allah memiliki lahan luas yang subur darat maupun laut, namun tudak memiliki kemandirian dalam pangan sekalipun apalagi dalam bidang-bidang yang lain.
Kata baduy (بدوي) dalam bahasa Arab berarti pedalaman. Karena memang orang­orang baduy tinggal di daerah pedalaman nan jauh dari kemodernan dan gaya hidup kekinian. Mereka dalam menjalani hidup sangat menjunjung tinggi adat dan prinsif yang digariskan para leluhur mereka. Meskipun mereka terkesan hidup mengisolir diri, jangan pernah mengira bahwa keberadaannya tidak ada sisi positif untuk dicontoh bagi kehidupan modern.
Dalam soal ketersediaan pangan dan ketahanan pangan masyarakat Baduy di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Propinsi Banten boleh dicontoh. Masyarakat Baduy telah sanggup mempertahankan hidup kemandirian dalam komunitasnya sendiri. Mereka pada saat panen tiba biasa menyimpan padi untuk stok di lumbung-Iumbung padi yang disebut leuit ( Kaman Nainggolan 2011: 300). Mereka melakukan ini dengan kesiapan penuh jika ada salah satu warga komunitasnya kehabisan tabungan padi, warga lainnya pasti akan membantunya memberikan padi sehingga tidak mungkin kasus kelaparan hingga masa panen berikutnya tiba. Bukankan kita punya ayat ; Surah al-Maidah ayat 2

Apa yang dilakukan masyarakat Baduy sesungguhnya mereka telah mencontoh dan menjalankan pesan Alqur’an yang digambarkan dalam kisah Yusuf AS yang selalu

menyediakan stok pangan pada waktu panen untuk mengantisipasi masa paceklik tiba. lnilah yang dibelajarkan Nabi terkait pola hidup sederhana saat berpunya. Hasilnya sejak dulu mereka tidak pernah mengalami rawan pangan apalagi kelaparan. Kita semua tahu saat itu belum ada modernisasi tehnologi industry pertanian apapun, kecuali pertanian tradisional.

Karena itu menjadi ironis jika di dalam masyarakat modern kelemahanan pangandan mahalnya harga bahan pokok, hanya akibat naiknya harga BBM menjadi Ikon bagi kegagalan mengelola bangsa menjadi bangsa beradab dan sejahtera. Lebih-Iebih di kalangan muslim yang mencitrakan, seolah kita tidak pernah sukses mengembangkan kepedulian sebagai refleksi dari keberimanan dan ketaqwaan. Dengan demikian kita wajib berusaha menciptakan suasana hidup sejahtera berbasis rahmatan Iii alamin.

Kata kunci dari semua itu adalah hidup dalam suasana harmoni, saling peduli, hidup rukun apalagi antar sesama warga, sesama lembaga, membudayakan saling gotong royong dan saling menolong mewujudkan kesejahteraan hidup dan kebaikan hidup sebagai sesama hamba Allah. Inilah yang diisyaratkan Alqur’an dalam surat al­Maidah ayat 2 yang bagian ayatnya berbunyi:

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Artinya saling bertolonganlah kalian dalam mewujudkan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan sekali kali saling membantu dalam hidup berdosa dan permusuhan.

Pesan ayat tentang mewujudkan kebaikan hidup untuk menuju manusia taqwa jelas membutuhkan ketahanan pangan, ketahanan keamanan dan keutuhan social. Kini yang kita rasakan adalah hidup disharmoni, saling menjatuhkan, saling menuding yang mengarah dan bisa menjadi pemicu emosi tak terkendali dan konflik horizontal seperti terjadi di beberapa tempat di wilayah kesatuan Republik tercinta ini. Juga terjadi di belahan bumi berpenduduk muslim di Timur Tengah yang memilukan. Dalam suasana lapar dan terpicu oleh kecemburuan social karena ketidak adilan akses, ketidak adilan ekonomi politik dan social bara emosi masyarakat mudah dibakar ibarat BBM disuguhkan api. Ini pula yang terjadi menjelang naiknya harga BBM lalu, sa at perangkat desa berdemo di Jakarta meminta di PNS kan? Situasi massa besar hilang rasionalitas dan kesabaran didorong hawa nafsu amarah. Siapa kemudian yang harus jadi panutan moral di negeri ini? Muslim-muslimah Indonesia mestinya menjadi garda terdepan atau

Paling tidak belajar ikut memikirkan persoalan budaya bangsa yang sedang terperosok menjadi tidak beradab. Nah di masyarakat Baduy yang tradisional itu tidak ada keserakahan, filsafat hidup yang dikembangkan adalah jika ada salah satu hidup kesusahan warga lainnya pasti akan menolong. Hidup gembira dini’mati bersama dan hidup susah juga ditanggung bersama. Bisakah kita hadir mewujudkan II teori bersama pasti kita bisa”
Di sisi lain masyarakat Baduy sangat menghargai dan memelihara alam. Mereka pantang menebang hutan, atau merusak bukit dan lahan pertanian. Karena hal itu dalam pandangan mereka melanggar adat. Mereka tidak terlalu butuh undang-undang yang mereka butuhkan adalah ketaatan pada filosofi hidup yang berbunyi: ponok teu meunang disambung nu panjang teu meunag dipotong” ini memiliki makna yang dalam bahwa yang pendek tidak boleh disambung dan yang panjang tidak boleh dipotong biarkan apa adanya. lnilah filsafat beragama” membiasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan”. Mereka hidup menyatu dengan alam karena itu jangan harap mereka mau dipindahkan di tempat elite dengan merusak lingkungan. Berbeda dengan masyarakat modern tidak peduli proyek perumahan ataupun apa merusak lingkungan dan merusak tatanan hingga menjadi pemicu banjir dan longsor yang penting memberi untung besar walau sesaat.
Inilah masyarakat Baduy yang Allah hadirkan sebagai tanda hidup agar kita bisa belajar mengenali sisi positif dari kehadirannya. Dalam kisah Sulaiman AS dalam Al-Qur’an, sosok Nabi yang terkenal kaya raya dan begitu hebat ketaqwaannya kepada Allah pun pernah belajar bersyukur dari panglima semut ( an-namal). Jadi ayat Allah telah hadir di tengah-tengah kehidupan di masa manapun untuk dijadikan ibrah (pelajaran berharga).
Indonesia setelah merdeka lebih dari 60 tahun, dengan lahan darat dan lautan yang teramat luas, nelayan dan petani penggarap kita masih hidup di bawah garis kemiskinan belum bisa meni’mati layanan kesehatan apalagi mempunyai ketahanan pangan yang kokoh. Pertanyaan besar muncul kapan masyarakat terbebas dari masalah kerawanan pangan, kerawanan gizi buruk dan kemiskinan akan dapat terkikis dari bumi Indonesia. Mana pula andil kita sebagai warga muslim terbesar dunia? Berapa ribu kali lipat naiknya APBN kita tidak akan memberi arti apa-apa bagi rakyat kecil, jika kaum elite membisu dari memperjuangkan keadilan, kecuali hanya untuk kelompok dan golongannya. Yang kecil dan tidak berdaya akan tetap merana sepanjang masa walau kepemimpinan silih berganti.

Itu sebabnya Nabi Muhammad saw mengkrit keberagamaan dan keimanan kita, jika bisa tidur nyenyak padahal tetangga kita kelaparan. Di sisi lain Al-Qur’an mengecam keras para pendusta agama. Dia adalah orang-orang yang shalat namun tidak memiliki sensitifitas dan tidak memiliki kepedulian social. Ini berarti di balik perintah ibadah ritual ada pesan moral yang harus juga ditegakkan dan harus dapat diwujudkan oleh para pengelola Negara yang kita cintai ini.

Maka agama dan ajaran Islam tidak hanya bicara pentingnya ritual dikerjakan secara baik, benar dan bermutu melainkan jga bicara tanggungjawab social terutama hal yang mendasar bagi kebutuhan masyarakat yakni terbebas dari rasa lapar dan terjamin adanya rasa aman.

Haruslah diwujudkan dengan upaya maksimal sesuai porsi masing-masing dan sesuai tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan tugas hamba sebagai pengabdi.

Studi Pengayaan Lapangan Mahasiswi UNIDA Gontor ke PSQ

gontor-1

(Senin-26/1/2015) tepat pukul 09.00 WIB Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ” menerima kunjungan dari mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor “UNIDA”, sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan Studi Pengayaan Lapangan yang salah satu tujuannya adalah Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ”. Dengan mengangkat tema “ Integrasi Keilmuan” rombongan mengawali kegiatan dengan mengujungi Perpustakaan Digital yang berada di lantai dua Pusat Studi Al-Qur’an, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian dan pemaparan program – program PSQ oleh Ach. Zayadi, M.Pd yang kemudian disambung dengan penyampaian kata sambutan mewakili rombongan dan sekaligus Dosen pembimbing yang disampaikan Asif Trisnani, MA dan M. Adib Fuadi Nuriz, MA. M.Phil.

gontor-2

Kegiatan pertemuan dalam rangka studi pengayaan lapangan ini sekaligus disampaikan pemaparan materi oleh Farid. F. Saenong Ph.D terkait Integrasi Keilmuan khususnya tentang Integrasi Keilmuan dalam Pendekatan Kajian Tafsir. kemudian dilanjutkan dengan dialog tanya jawab dan sampai akhirnya kegiatan di tutup dengan sama-sama memberikan cinderamata.

gontor-3gontor-4