PPL Mahasiswa jurusan IAT IAIN Pekalongan di Bayt al-Qur’an PSQ Jakarta

Sejak resmi di dirikan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA sejak 18 September 2004, PSQ (Pusat Studi AlQuran) masih tetap kukuh dengan visi utama yakni “Mewujudkan nilai-nilai al-Qur’an di tengah masyarakat yang Pluralis”. Kekukuhan visi tersebut kian serius untuk Yayasan Pusat Studi Alquran wujudkan dengan bertambahnya program yang tetap konsen dalam bidang Alquran dan Tafsir. Salah satu Progam yang kini kian digandrungi tiap visitas akademika untuk menjalin kerjasama Mahasiswanya dari jururan Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) dengan mengadakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Bayt Alquran, PSQ yang bertempat di jalan Kertamukti, no. 69, Pisangan,Ciputat, Tangerang Selatan.

Di tahun 2019 ini, baru kemarin di bulan Februari PSQ menampung Mahasiswa IAIN Syekh Nur Jati Cerebon dan IAIN Surakarta. Di bulan Maret ini IAIN Pekalongan kembali mengirim mahasiswanya untuk menimba ilmu di PSQ. Sebanyak 61 Mahasiswa akan diberi kesempatan bertemu langsung dengan para pakar tafsir sekaligus menimba ilmunya. Diantara para pakar tersebut adalah Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Prof. H. Asep Usman Ismail, MA, Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. Khusnul Hakim,MA, dan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Selain PPL, PSQ yang notabene merupakan lembaga dakwah yang bertujuan menyebarkan pengetahuan Islam kepada masyarakat dengan cara/metode baru dalam berdakwah, juga memiliki program lain, di antaranya adalah pembuatan Pesantren Pascatahfidz atau lebih akrab dengan sebutan Pesantren Bayt al-Qur’an, Pendidikan Kader Mufassir yang disingkat menjadi PKM, halaqah Tafsir, Training of Trainer, Daurah Bidayatul Mufassir, dan jurnal studi al-Qur’an.

Progam-progam PSQ tersebut sejatinya merupakan usaha mengimplementasikan isi QS. Al-Jumu’ah:2, dimana interaksi manusia dengan Alquran seharusnya tidak hanya berhenti di level tilawah, hifdzu, dan Istia’an. Akan tetapi harus dilanjutkan dengan tahapan memahami dan menafsirkan bahkan kemudian meningkat menjadi ittiba’an (mengkuti isi al-Qur’an), amalan, dan dakwah. Semua tahapan tersebut tidak boleh meloncat-loncat, akan tetapi harus urut. Jangan sampai terjadi yang sebenarnya masih baru ditahap membaca dan menghafal kemudian langsung berdakwah tanpa melewati tahap memahami dan menafsikan. Demikianlah progam-progam PSQ dikemas sedemikiannya termasuk PPL yang sejatinya berada di tingkat fahman wa tafsiran.

Alumnus PKM Kholilullah yang kini aktif menjadi trainer peserta PPL menyambut dengan antusias tinggi para mahasiswa untuk belajar bersama menyelami nilai-nilai al-Qur’an. Terlebih akhir-akhir ini di tengah masyarakat yang plural ini tidak sedikit muncul persinggungan diranah furu’iyyah namun kembali melibatkan al-Qur’an namun penyikapannya kerap kali menyentuh ranah ikhtilafiyyah. Menurutnya sangat tepat jika para mahasiswa yang konsen di bidang keislaman khususnya tafsir bersedia belajar di PSQ, karena para mahasiswa akan mendapatkan ilmu yang bisa membantunya merespon, menanggapi atau paling tidak memahami untuk bersikap atas berbagai problema dengan tuangan dasar-dasar ilmu ke-al-Qur’an-an langsung dengan para pakarnya.

Untuk itu dalam serangkaian acara PPL di PSQ mahasiswa berkesempatan belajar tentang I`jaz Lughawi fi Alquran, Semantik Alquran, Kaidah Tafsir, Kaidah Ushul, Munasabah Alquran,kaifa ta’mal bil Quran, Peta Studi Alquran, Ilmu Qira’ah, Publik Speaking, Studi Literatur berbasis ICT. Selain di PSQ mahasiswa juga diberi kesempatan oleh Dr. Muhlis Hanafi untuk mengunjungi Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMA) belajar tentang mushaf Alquran yang akan dicetak oleh penerbit dan percetakan berdasarkan pada mushaf standar Indonesia. Mengembangkan kajian keislaman, khususnya dalam bidang tafsir. Selain itu, di LPMA juga terdapat museum Bayt Alquran. Didalamnya terdapat banyak naskah Alquran kuno, artefak, dan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan Alquran di Nusantara.

Dihari-hari awal pun mahasiswa langsung bisa meneguk samudra ilmu dari Prof. Dr. Quraish Shihab saat diundang langsung menjadi audien dalam acara “Hidup Bersama Alquran” di studio 5 Indosiar. Para Mahasiswa rata-rata mengungkapkan “menjadi sebuah kebahagian yang terasa istimewa dengan PPL di PSQ karena bisa bertemu dan mencerna keilmuan para pakar tafsir secara langsung yang selama ini hanya menjadi hajat yang sulit diwujudkan untuk menghadirkan mereka di seminar-seminar, baik kampus ataupun yang lainnya. Sedang dengan adanya PPL di PSQ tentu bagi mahasiswa yang aktif dibidang Alquran dan Tafsir akan memperoleh banyak pengalaman bagaimana para pakar mengutarakan langsung pergulatannya dibidang Alquran dan Tafsir dan bahkan juga hadits yang notabene adalah sejalan dengan Alquran sebagai sumber hukum utama. Terlebih saat di Studio Indosiar mahasiswa secara bersamaan mendapatkan dua hal secara langsung antara ilmu dan prakteknya sebagai pemangku ilmu dengan memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Dengan demikian atas semua agenda kegiatan PPL di PSQ ini diharapkan agar Mahasiswa kelak menjadi para pemangku ilmu yang benar-benar berguna ditengah masyarakat.

Mahasiswa PPL juga dilibatkan dalam aktivitas sehari-hari santri Bayt Alquran yang juga bagian dari progam yang tidak lepas dari PSQ. Seperti belajar Tahsin, Tahfidz, dzikir, yasinan, sholawatan dan aktivitas/kegiatan lainnya. Sehingga secara tidak langsung membangun kekuatan emosional/mental dan kesehatan ruhani santri maupun mahasiswa. Yang tentu tidak pernah didapat dalam perkuliahan dikampus[kholilullah].

Persaudaraan Kemanusiaan; Tantangan dan peluang

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hadirin sekalian,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mungkin tidak terlalu salah jika saya buka pembicaraan tentang persaudaraan kemanusiaan ini dengan kata mutiara yang cukup terkenal, terutama di kalangan cendekiawan muslim, yaitu:

الناس صنفان إما أخ لك في الدين أو نظير لك في الإنسانية

(Manusia ada dua: saudaramu dalam agama atau mitramu dalam kemanusiaan)

Ungkapan ini bukan baru lahir hari ini, bukan pula muncul pada waktu yang belum lama, saat era globalisasi sudah memangkas jarak dan menjadikan semua orang merasa perlu menghormati hak-hak asasi manusia dan membangun kerja sama dengan semua orang. Ungkapan tersebut sudah dikenal sejak masa yang sangat lampau. Kata-kata itu disandangkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib yang disebutkannya dalam sepucuk surat yang dia kirimkan kepada gubernur Mesir, Al-Asytar an-Nakha‘i, saat Imam Ali menjabat sebagai khalifah pada abad ke-7 Masehi (656-661 M.).

Ungkapan singkat itu menggambarkan kecenderungan humanisme luar biasa. Di dalamnya berdetak semangat membangun hubungan dengan semua orang tanpa ada pembedaan. Semua manusia setara bagaikan gigi sisir. Mereka semua berasal dari satu unsur. Tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan atas orang lain dari segi kemanusiaan. Bahkan, dari segi kemanusiaan, seharusnya tidak ada “orang lain”. Semuanya berasal dari Adam, sedangkan Adam berasal dari tanah. Agama mengajarkan kepada kita untuk mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri.

Demikianlah. Kita dapat berkata bahwa ungkapan itu terinspirasi dari kitab suci al-Qur’an sebagaimana juga didukung oleh sunah Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuan beliau. Dalam al-Qur’an, kata ikhwān (saudara) muncul lebih dari sekali. Terkadang disandingkan dengan kata ad-dīn (agama) dan sekali waktu tidak disandingkan. Bahkan, para rasul yang diutus kepada umat mereka disebut dalam al-Qur’an dengan istilah akh (saudara) meskipun umat-umat itu menolak kerasulan mereka bahkan memusuhi mereka. Allah swt. berfirman, “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh”; “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud”; “Dan kepada kaum Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib.”

Hadirin yang saya hormati,
Kata mutiara yang disandangkan kepada Imam Ali ra. itu mengungkapkan adanya dua ikatan. Juga mengungkapkan bahwa tali kesamaan agama (ukhuwwah diniyyah) tidak memutus tali kemanusiaan—tak sebagaimana diyakini oleh sebagian orang bahwa agama dapat memutus tali kemanusiaan. Dua ikatan itu disebut secara berdampingan untuk menggugah kesadaran manusia tentang perlunya ikatan kemanusiaan; juga untuk menegaskan urgensi keduanya dalam membangun dunia yang penuh dengan kerukunan dan kedamaian, meski berbeda-beda suku dan agama.

Allah swt. berfirman, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Dari saling mengenal akan lahir pengakuan dan kerjasama. Dari saling mengenal akan muncul saling menghormati. Menghormati tidak selamanya identik dengan menerima pandangan orang lain, apalagi meridai, menyukai, atau mengikutinya. Akan tetapi, yang dimaksud menghormati adalah menerima orang lain untuk hidup berdampingan dalam suasana damai demi kemaslahatan bersama tanpa mengusik agama dan kepercayaan masing-masing.

Hadirin yang saya hormati,
Tantangan terbesar dalam mewujudkan persaudaraan antar umat manusia terletak pada peradaban modern yang memberikan perhatian berlebih pada materi dengan penuh ketamakan dan egoisme, sementara manusia dan kemanusiaannya dipinggirkan. Ya, secara jujur kita harus mengakui. Umat manusia memang sudah maju di segala bidang ilmu dan teknologi. Tetapi, dalam waktu yang sama, kemajuan tersebut juga membahayakan kemanusiaannya. Umat manusia pada saat ini tak ubahnya seperti anai-anai yang menari gembira di sekeliling api, namun sesaat kemudian terbakar dan mati. Perhatian sebagian besar ahli dan ilmuwan zaman ini terhadap alam lahiriah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan materi jauh melebihi perhatian mereka terhadap manusia, mencakup jiwanya, rohnya, dan nilai-nilainya. Sehingga, pengetahuan tentang manusia—yang terdiri dari jasad dan roh ini—pun amat sangat sedikit bila dibandingkan dengan pengetahuan mereka tentang alam lahiriah. Bahkan, seperti dikatakan oleh Alexis Carlyle dalam bukunya, Man The Unknown, “Betapa banyak pertanyaan tentang manusia yang disampaikan oleh para ahli tidak kunjung menemukan jawabannya hingga kini.”

Dr. Carlyle kemudian menandaskan bahwa keterbatasan pemahaman manusia terhadap dirinya tidak hanya timbul dari keterlambatannya dalam mencari jati diri karena sibuk menghadapi ancaman alam pada kurun waktu tertentu, tetapi juga timbul dari kompleksitas objek bahasan—yakni makhluk istimewa ini; sementara manusia biasanya tidak suka memikirkan masalah-masalah yang pelik.

“Namun, yang lebih penting dari sebab ini dan ini,” lanjut Dr. Carlyle, “adalah akal manusia yang memang tidak mampu mengetahui segala sesuatu.”
Saya katakan, apa yang disebutkan oleh Dr. Carlyle mengenai sebab yang lebih penting, mengisyaratkan perlunya kita untuk kembali kepada Pencipta manusia untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang manusia. Ini tidak akan terlaksana kecuali dengan membuka kembali lembaran-lembaran kitab suci lalu memahaminya secara benar sesuai dengan spirit zaman.
Demikianlah. Selanjutnya mari berpindah ke tantangan kedua terkait topik bahasan kita kali ini.

Sangat disayangkan ada sekelompok anak zaman ini yang menganggap persaudaraan agama tidak sejalan dengan persaudaraan kemanusiaan karena pemahaman buruk mereka terhadap agama atau karena tidak menguasai perubahan yang terjadi.

Apa yang kami sebutkan tentang sikap sekelompok anak zaman ini telah dan akan terus melahirkan sikap menutup diri bahkan memisahkan diri, meski kenyataan menuntut—mau atau tidak mau—adanya hubungan dan upaya untuk memahami orang lain.
Itu di masa lalu.

Lalu, bagaimana dengan masa kini saat penghalang telah roboh; ketika tapal batas telah runtuh; kala tidak berguna lagi segala bentuk pemisah meski kita berusaha untuk membangunnya lagi?
Saat ini, hidup kita yang berada di tengah suasana globalisasi tidak akan mungkin dilindungi dari sentuhan dan pengaruh pihak lain.
Lalu, bersamaan dengan sikap menutup diri dan memutus hubungan dengan pihak lain, gagasan persaudaraan antar manusia telah hilang di banyak kawasan. Salah satu bukti dari hilangnya ide persaudaraan kemanusiaan itu adalah apa yang dihasilkan oleh sejumlah sensus bahwa pada setiap menit ada dua puluh empat orang yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari penindasan atau untuk mencari kedamaian; setiap hari ada sekitar tiga puluh empat ribu orang yang terpaksa meninggalkan negerinya beserta segala yang mereka miliki untuk mencari perlakuan manusiawi yang selama ini tidak mereka temukan.

Demikian keadaan itu terus berlangsung hingga jumlah pengungsi di seluruh dunia pada saat ini mencapai lebih dari enam puluh juta jiwa berdasarkan sensus PBB. Anehnya, separuh dari jumlah itu ditampung oleh negara berkembang atau negara berpenghasilan menengah, padahal penghasilan negara-negara itu jika dijumlahkan hanya sekitar 2,5% dari total penghasilan dunia. Lalu, di mana negara-negara kaya?
Ini tentang masalah pengungsi; sementara masalah-masalah lain juga banyak yang butuh bantuan dan penyelesaian, minimal untuk meringankan penderitaan anak manusia.

Kemanusiaan—sebagaimana Anda ketahui—bukan hanya manusia. Persaudaraan manusia juga bukan sekadar hubungan, melainkan konsep manusia sosial dan hubungan yang terbangun di atas dasar nilai-nilai keadilan, perlakuan baik, kasih sayang, dan kedamaian, bahkan mementingkan orang lain dan berkorban. Yang menyandang sifat kemanusiaan adalah akal, rasa, emosi, dan perilaku. Akal berpikir secara benar; rasa dengan sangat peka ikut merasakan penderitaan orang lain; emosi selalu mendorong untuk meraih kebaikan dan keindahan; perilaku selalu berusaha membangun kerjasama dengan semua orang demi mewujudkan kepentingan semua makhluk.
Itulah, bapak-bapak, nilai-nilai yang sepertinya sudah hilang dari masyarakat kita.

Pada hari ini, kita lebih layak daripada filosof Yunani yang—menurut cerita—tak pernah berhenti menyusuri lorong-lorong dengan membawa lentera untuk mencari orang yang menyandang sifat kemanusiaan. Ada sebagian anak Adam yang dengan jujur merasa malu menjadi anggota keluarga manusia setelah mereka melihat sejumlah binatang—tidak seperti manusia—membantu binatang lain meskipun berbeda jenis.

Inilah beberapa problem kita. Inilah bagian dari tantangan zaman kita. Pihak yang pertama-tama diharapkan mampu meringankan problem itu adalah mereka yang mengampu urusan agama dan pemerhati masalah-masalah akhlak dan kemanusiaan.

Kondisi dunia kita saat ini berbeda dengan kondisi kemarin-kemarin. Dunia kita saat ini harus dikelola dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan pemikiran-pemikiran kemarin, dengan syarat tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama dan nilai-nilai moral. Betapa banyak pemikiran-pemikiran masa lalu yang bisa jadi cocok dengan masanya, tetapi tidak sesuai lagi dengan zaman kita. Lalu, betapa banyak pemikiran-pemikiran yang pernah diterapkan di masa lampau, endapannya masih melekat dalam diri sebagian orang, meski kemanusiaan berteriak meminta untuk membuangnya. Rasisme atau gagasan superioritas suatu suku di atas suku lain masih hadir—terang-terangan atau samar-samar—termasuk di negara yang mengaku beradab. Perbudakan masih ada hingga kini—dengan bentuk berbeda dengan yang ada di masa lalu—meski sudah ada deklarasi hak-hak asasi manusia.

Hadirin yang saya hormati,
Sikap sebagian orang yang tetap berpegang pada pemikiran-pemikiran usang itu—juga pemikiran-pemikiran lain, meskipun tidak diungkapkannya secara terang-terangan, disimpan di alam bawah sadarnya—telah memberikan sumbangan besar terhadap bertahannya—bahkan timbul baru—berbagai problem sosial yang mengakibatkan hilangnya persaudaraan kemanusiaan.

Lalu, lebih parah lagi, para pemangku urusan agama atau orang-orang yang berpegang teguh pada tradisi usang itu juga ikut andil dalam melestarikan problem-problem tersebut melalui khutbah-khutbah, bimbingan-bimbingan, dan sikap-sikap yang mereka ambil, sehingga permasalahan bertambah runyam.

Di antara mereka ada yang meyakini bahwa berbuat baik kepada non-Muslim atau sekadar menyampaikan salam atau mengucapkan selamat saat memperingati hari besar nasional maupun hari besar agama merupakan perbuatan yang dilarang agama Islam. Saya katakan, bagaimana mungkin ada keyakinan seperti itu, sedangkan al-Qur’an yang dibaca kaum Muslim tiap hari telah mengatakan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ (الممتحنة 8).
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berbagi (harta untuk menjaga hubungan baik) terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Meski kata tabarrūhum (berbuat baik) sudah mencakup pemberian materi kepada mereka, tetapi firman Allah tuqsiṭū menegaskan salah satu jenis perbuatan baik. Ibnu al-‘Arabiy mengatakan dalam kitabnya, Aḥkām al-Qur’ān, “Ungkapan itu bermakna: kamu memberikan sebagian hartamu kepada mereka untuk menjaga hubungan baik, dan tidak dimaksudkan untuk menunjuk makna adil, karena bersikap adil memang wajib diambil, baik kepada orang yang memerangi kita maupun orang yang tidak memerangi kita. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 8).
Itu dari pihak kaum Muslim.

Dari pihak lain, juga ada sejumlah tokoh sangat terkenal dari kalangan non-Muslim yang biasa menyampaikan pemikiran-pemikiran yang disebutnya islami tetapi sebenarnya tidak islami sama sekali karena diambil dari sumber-sumber non-islami yang berisi banyak kesalahan dan kebohongan. Di samping itu, kita juga sering mendengar pernyataan tak pantas dari tokoh-tokoh pemerintahan. Jika harus digambarkan dengan ungkapan yang paling halus: mereka itu sedang mengatur negaranya dengan cara yang tidak mendukung tegaknya persaudaraan kemanusiaan sama sekali.
Selanjutnya, bercampurnya agama dengan politik—politik dalam arti upaya memperebutkan kekuasaan dengan cara apapun—juga telah menarik sebagian orang untuk menceburkan diri dalam beberapa hal yang bisa mengeruhkan hubungan kemanusiaan. Didorong oleh semangat yang menggebu-gebu, mereka tak segan melontarkan kata-kata yang rasa-rasanya berat untuk diucapkan oleh lidah orang yang adil, terasa jijik untuk ditulis oleh pena-pena yang netral, bahkan rasa-rasanya, si penutur sendiri pun menolaknya.
Di samping pemikiran yang harus diluruskan, di sana ada juga sejumlah tindakan sebagian orang pada zaman ini yang tidak sejalan dengan prinsip persaudaraan kemanusiaan. Mohon dikatakan dengan jujur: apakah masuk akal, memusnahkan hasil panen dengan tujuan untuk menjaga harga agar tetap tinggi demi memperoleh keuntungan berlipat? Juga bisakah kita menggambarkan perilaku sebagian orang yang membuang-buang makanan dan minuman? Apakah Anda pernah membayangkan seberapa banyak sisa makanan yang dibuang ke tong sampah dan bahkan jalanan?

Organisasi pangan dan pertanian (FAO) yang menginduk pada PBB menaksir sisa makanan yang terbuang itu, di Eropa saja, cukup untuk memberi makan 200 juta jiwa, yang terbuang di Amerika Latin cukup untuk memberi makan 300 juta jiwa. Bahkan, menurut taksiran FAO, jika seperampat volume makanan yang dibuang dari seluruh dunia dikumpulkan maka akan cukup untuk memberi makan 870 juta jiwa. Alangkah jauhnya kita—karena perilaku semacam itu—dari prinsip ukhuwwah insāniyyah atau persaudaraan kemanusiaan, sementara saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia sedang berperang melawan lapar? Tentu saja, kita semua tahu bahwa lapar serta rasa tertindas dan terzalimi merupakan sebab utama munculnya permusuhan dan saling benci.
Itulah beberapa permasalahan dan tantangan yang menghambat proses lahirnya persaudaraan kemanusiaan. Permasalahan dan tantangan itu tidak mungkin dipecahkan oleh tangan-tangan yang terhimpun dalam persaudaraan agama saja; harus dipecahkan oleh banyak tim yang terhimpun dalam wadah persaudaraan kemanusiaan berdasarkan nilai-nilai agama yang dimiliki oleh semua.
Akhirnya, apakah di sana masih ada peluang?

Tentu! Di sana masih ada peluang! Demikian, kami katakan dengan tegas. Bukan saja karena manusia tidak boleh berputus asa atau kita yakin bahwa benih-benih kebaikan tetap ada di dalam diri manusia meski terkadang bersembunyi di dasar perasaan, melainkan juga—kami mengatakannya—karena tanda-tanda peluang itu terlihat jelas di depan mata. Di antaranya adalah hubungan baik, kebiasaan saling mengunjungi, pembicaraan jujur dan ikhlas antar para pemuka berbagai agama, pemikiran-pemikiran mencerahkan dan sejalan dengan kondisi kekinian yang sering kita dengar dari para pemuka agama dan masyarakat umum. Al-Azhar, misalnya, tak pernah berhenti menyajikan pemikiran-pemikiran dan usulan-usulan yang menerangi jalan untuk meraih tujuan. Imam besarnya, Prof. Dr. Ahmad Thayyib dengan tegas mengatakan bahwa Dunia Timur, baik sebagai peradaban dan agama, tidak punya masalah dengan Barat, baik Barat yang diwakili oleh organisasi-organisasi keagamaannya maupun Barat sebagai peradaban ilmiah materialis.

Dalam waktu yang sama, kita menemukan sejumlah gagasan dan kegiatan yang disarikan dari keputusan Konsili Vatikan II yang—menurut pengetahuan saya yang serba terbatas—menunjukkan keterbukaan Gereja dan adanya penafsiran agama Nasrani yang sejalan dengan kondisi dunia masa kini yang menuntut adanya pemahaman terhadap manusia modern dan uluran tangan untuk bekerjasama dengan para penganut agama lain. Di samping itu, keputusan-keputusan tersebut juga merekam pengakuan Gereja tentang adanya ajaran Islam yang sejalan dengan ajaran Kristen. Sikap ini jauh berbeda dengan sikap-sikap Gereja sebelumnya yang pernah menjadi ajang mengail ikan di air keruh.
Selain hal-hal positif itu, kita juga menemukan penegasan-penegasan dari sejumlah negara dan pemerintahan, terutama negara Emirat Arab, tentang perlunya berusaha tiada henti untuk mengukuhkan toleransi, kerjasama, dan karya membangun demi terwujudnya persaudaraan kemanusiaan yang dapat dinikmati oleh semua manusia.

Semua faktor itu, jika kita niatkan dengan tulus dan dibarengi kerjasama yang baik, tentu akan menjadi peluang besar untuk mewujudkan persaudaraan kemanusiaan di dunia kita ini. Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kita semua.
Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya yang baik.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[Muhammad Quraish Shihab]

Halaqah Tafsir : Kajian Tafsir Ayat-ayat Tentang Salat

Ayat-ayat yang membahas perihal salat dalam al-Qur’an bersifat global, karena itu kita tidak akan menemukan ayat yang secara rinci menjelaskan teknis bagaimana mengawali dan mengakhiri alat.

Kita akan menemukan rincian salat dalam hadits-hadits Nabi saw., seperti صلوا كما رأيتموني اصلي

Jumlah rakaat itu sifatnya tauqifiy, tidak perlu ada kajian khusus untuk membahasnya.

Ayat–ayat mengenai salat bertebaran dalam al-Qur’an, ini menunjukkan bahwa salat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama dan memiliki hikmah yang sangat besar.

Pengertian salat menurut al-Qur’an memiliki dua pengertian:

1. Ibadah sholat seperti yang dikenal dalam fiqh
Salat secara bahasa adalah doa. Secara istilah ucapan-ucapan dan gerakan yang diawali takbiratul ihram dan diakhiri salam.
Kaitannya terdapat tiga tempat;
a. Salat lima waktu
QS. Al-Baqarah 238 Lafadz صلاة – صلوات menunjukan salat lima waktu
b. Salat Jum’at
QS. Jumu’ah ayat 9 ; lafadz للصلاة maksudnya adalah salat jum’at.
c. Salat janazah
QS. At-Taubah 84; ولاتصل maksud disini adalah larangan untuk salat yang bertujuan mendoakan orang munafik.

2. Bukan bermakna ibadah salat
Ada 7 tempat lafadz salat yang tidak bermakna ibadah salat :
a. Memberi keberkahan
QS. Al-Baqarah 157. صلوات bermakna memberi keberkahan.
b. Memohonkan ampun
QS. Al-Ahzab 56, يصلون – صلوا bermakna memohonkan ampunan
c. Membaca sholawat
QS. Al-Ahzab 56 يصلون bermakna membaca sholawat

Nabi mengajarkan bersalawat tanpa lafal sayyidina karena Nabi bukanlah orang yang gila pujian. Penambahan lafal sayyidina dalam salawat adalah untuk penghormatan kepada Nabi. Allah memanggil Nabi pun dengan panggilan yang mesra, wahai orang yang berselimut, Hai Nabi, Rasul, kalau disebut nama saja disebut juga jabatannya, Muhammadur rasulullah.

d. Mendoakan
At-Taubah 103; صل bermakna doakanlah mereka. Dan lafadz صلاتك doamu.
At-taubah 99; صلوات bermakna memperoleh doa rasul.
e. Membaca al-Qur’an
Al-Isra’ 110; ولا تجهر بصلاتك
Menurut Imam asy-Syaukani dengan mengutip ibnu abbas ra. Kata بصلاتك adalah membaca al-Qur’an
Menurut Aisyah ra. بصلاتك disini adalah doa.
f. Rumah ibadah orang yahudi
QS. Al-Hajj 40 ; صلوات bermakna tempat ibadah orang yahudi
Ibnu katsir menyebutkan dalam tafsirnya, menurut Ibnu Abbas maknanya adalah gereja-gereja orang Kristen.
Menurut Ikrimah, ad-Dhahak, Qatadah artinya adalah tempat ibadahnya orang yahudi.
g. Masjid
An-Nisa’ 43 الصلاة bermakna masjid
Imam Qurtubi mengutip pendapatnya Imam Syafi’i, jangan dekat-dekat dengan salat, maksudnya adalah larangan masuk masjid.

Inilah ayat awal yang menjelaskan pelarangan khamr, sebab al-Qur’an memakai metode tadrij as-Syar’ (step by step) dalam mengharamkan khamr, dengan diawali لا تقربوا الصلوة وأنتم سكارى lalu kemudian إثمهما أكبر من نفعهما terakhir dengan ayat إنما الخمر والميسر.
Begitu pula pada pengharaman riba nasi’ah (disebut juga riba jahiliyyah), sebab memakan riba adalah kebiasaan orang jahiliah selain mabuk-mabukan.

Tafsir Ayat-ayat Salat

1. Waktu dan nama-nama salat, Al-Isra’ 78
Menjelaskan waktu-waktu salat wajib. Yaitu sejak tergelincirnya matahari yakni permulaan waktu zuhur dan ashar. Sampai gelapnya malam maksudnya adalah salat maghrib dan isya’ dan salat yang didirikan karena munculnya fajar yakni salat subuh.
Kalimat قرأن الفجر secara harfiah berarti bacaan di waktu fajar, tapi sebab ayat ini berbicara dalam konteks kewajiban salat, maka semua penafsir menyatakan bahwa lafadz ini adalah salat subuh.
Berdasarkan sabda rasulullah, salat subuh itu disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang.
Salat subuh disebut juga قرأن الفجر karena di waktu subuh masih hening sehingga dianjurkan membaca surat yang agak panjang.

Pokok kandungan ayat
• Perintah mendirikan salat 5 waktu
• Petunjuk waktu salat wajib.
• Informasi bahwa keutamaan salat subuh itu disaksikan malaikat siang dan malaikat malam.

Nama-nama salat berdasarkan ayat tersebut
1. Salat fajar/ subuh.
Waktu fajar berlangsung kurang lebih 45 menit, sampai kemudian cahaya alam menjadi terang yang menandakan terbitya matahari. Disamping perintah ibadah salat, Allah SWT juga memerintah untuk mengkaji al-Qur’an di waktu fajar.
2. Salat wustha -ditengah-tengah dan utama- yakni salat asar.
3. Duluki as-Syamsi yakni salat zuhur dan ashar sedangkan ghasaqil laili berarti maghrib dan isya
2. Perintah salat dalam al-Qur’an
• Sedikitnya tercatat dalam 14 tempat dalam al-Qur’an dalam bentuk perintah yang khithabnya jama’ (aqimu as-Sholah).
• Sementara 5 perintah yang ditujukan pada 1 orang dengan lafadz aqimi
Pada QS Hud 114, al-Isra’ 78, Thaha 14, al-Ankabut 45, Luqman 17.

Penafsiran ayat وأقم الصلوة طرفي النهار وزلفا من الليل.
Mengajarkan untuk salat secara teratur dan benar sesuai dengan ketentuannya.
Kata zulafan merupakan bentuk jamak dari zulfa yakni waktu-waktu yang berdekatan.
Tsa’labi mengatakan bahwa zulafan adalah permulaan malam.
Innal hasanat hudzhibnas sayyiat, perbuatan baik yang didasarkan pada keimanan dan ketulusan akan dapat membentengi diri sehingga terhindar dari keburukan. Dapat juga diartikan Allah mengampuni dosa-dosa kecil. Artinya, dosa kecil dapat dihapus dengan perbuatan baik dan dengan beristighfar, sedangkan dosa besar dihapus dengan taubat.
Menurut M. Quraish shihab, Al-Hasanat diartikan dengan salat dan istighfar, tapi lebih baik adalah memahami dengan makna umum. Sedangkan as-Sayyiat dipahami dengan makna khusus, yakni dosa kecil.

Pokok QS hud 114
• Pendirikan mendirikan salat wajib dan petunjuk waktunya
• Perintah untuk selalu berbuat baik karena dapat menghapus dosa

3. Larangan berbicara saat salat حافظوا علي الصلاة QS. Al-Baqoroh: 238-239
Pokok kandungan ayat ini kurang lebih:
• Memelihara salat wajib secara teratur, harus khusyu’, salat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun. Ayat ini diapit ayat dengan tema pernikahan, talak, cerai, ‘iddah, ruju’ serta nafkah namun tiba-tiba menjelaskan tentang salat. Ketentuan yang diceritakan Allah sebelum ayat tersebut, semua disatukan oleh kesamaan berupa ibadah kepada Allah SWT.
4. Wudlu sebelum salat, QS. Al-Maidah ayat 6.
Menurut Imam Syafi’i menyentuh perempuan berarti sentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa halangan. Sedangkan Imam Hanafi mengartikan lafal ini sebagai hubungan suami istri.
5. Pakaian, QS. Al-A’raf 31
Menggunakan pakaian yang indah dan bagus.
6. Kiblat QS. Al-Baqarah 144
Manakala seeorang tidak mengatahui arah kiblat atau berada dalam perjalanan, seseorang boleh salat menghadap kemana saja.
7. Adzan, QS. Jumuah: 9
Menurut Imam Syafi’i yang wajib mendatangi salat Jum’at adalah yang mendengar suara azan dimanapun mereka berada.
8. Bacaan
Bacaan dalam salat dalam al-Qur’an hanya berisi memohon pertolongan pada Allah, lihat QS. Al-Baqoroh: 45. Sedangkan bacaan salat diajarkan oleh Rasullah saw.
Shalat juga didirikan untuk mengingat /menyebut nama Allah.
9. Suara
Jangan terlalu dikeraskan dan dilirihkan yang sedang-sedang saja, QS. Al-Isro: 10
10. Gerakan, QS. Al-Hajj 26
11. Memendekkan salat/ Qoshor salat, QS. An-Nisa’ 101.

Wallahu a’lam

Disaripatikan dari narasumber KH. HASANUDDIN IBNU HIBBAN, MA, pada Rabu 21 September 2016

Usai Lebaran, PSQ Terima Kunjungan dari IAIN Salatiga

Ini adalah kegiatan terkait program kependidikan yang pertama dilakukan Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) usai lebaran 2016 usai. Adalah mahasiswa-mahasiswi dan staf pengajar, berikut Dekan dari Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora yang berkunjung ke kantor pada hari Rabu, 20 Juli 2016.

Dipimpin langsung oleh Dekan Benny Ridwan, M. Hum., anggota rombongannya yang berjumlah sekitar 40 orang memenuhi ruangan aula PSQ yang berada di lantai bawah. Rombongan disambut perwakilan PSQ yang dihadiri Faried F. Saenong PhD. Dalam sambutannya, beliau menyambut baik lawatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke kantor pusat PSQ.

IAIN Salatiga

IAIN Salatiga

IAIN Salatiga

Sementara itu pihak IAIN Salatiga menanyakan beragam hal mengenai kegiatan yang telah dilakukan selama ini oleh PSQ, terlebih menyangkut kegiatan yang berhubungan erat dengan dunia pendidikan. Terlebih fakultas yang berada di kota Salatiga ini terhitung baru dalam menjalankan program pendidikannya.

Inisiatif Faried F Saenong PhD untuk lebih rinci menjelaskan mengenai program pesantren Bayt al-Quran dan Pendidikan Kader Mufassir (PKM) sangat diapresiasi rombongan. Terutama mahasiswi S1 yang juga berminat untuk megikuti program pesantren yang dikelola PSQ ini. Hanya saja hingga saat ini, menurut Faried, pesantren belum menerima santriwati untuk bisa tinggal dan menimba ilmu di pesantren yang berlokasi di Pondok Cabe.

Untuk PKM sendiri hingga angkatan XII yang akan efektif berjalan pada Juli 2016 ini, akan segera memulai programnya pada 27 Juli mendatang. Bagi mahasiswa-mahasisiw IAIN Salatiga yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang S2

Berita Duka dari Gurunda Dr. Ahmad Wahib Mut’hi MA

Innallahi wa inna ilahi rajiun.
Telah berpulang ke pangkuan-Nya, guru kita, Dr. Ahmad Wahib Mut’hi, MA,. Pengasuh Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an sekaligus dewan pakar Pusat Studi al-Qur’an, sekitar pukul 2 malam pada 19 Juli 2016/14 Syawal 1437 H. Mohon do’anya semoga amal beliau diterima oleh Allah, dan dosanya diampuni oleh-Nya.
Al-fatihah.

Dr. Wahib A. Muthi, MA

Sekedar tambahan, beliau juga adalah dosen tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Asy-Syafi’iyah, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.