Lowongan Kerja

Yayasan Lentera Hati merupakan lembaga yang menaungi Pusat Studi al-Quran (PSQ) dan penerbitan Lentera Hati. PSQ memiliki misi mewujudkan nilai-nilai al-Qur’an di tengah masyarakat plural. Untuk tujuan tersebut PSQ memiliki program dengan sasaran anak hingga dewasa baik non formal hingga Pasca Sarjana dalam bentuk pendidikan, pelatihan dan pengembangan kajian dan publikasi al-Qur’an. Sedangkan Lentera Hati menerbitkan berbagai buku yang sebagian besar bertemakan wacana keislaman, utamanya bidang tafsir al-Qur’ an.

Mari bergabung bersama kami dalam mewujudkan visi kami bersama, yaitu membumikan al-Qur’an di Indonesia.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)

Nusantara bukan kata yang banyak dipakai oleh generasi muda. Nusantara terdengar seperti barang lama, nusantara dianggap hanya menggambarkan kejayaan di era yang berbeda. Di sisi lain, kemajuan bukan kata yang diterima tanpa tantangan. Kemajuan didefinisikan sebagai meninggalkan adat istiadat, kemajuan dipandang bertentangan dengan akar ajaran keagamaan.

Namun, kedua kata yang sering dianggap berlawanan, disatukan dalam doa dan harapan Abi Muhammad Quraish Shihab, di perjalanan ke Cirebon minggu ini. “Semoga kita bisa terus hidup bersama Al-Qur’an dengan mewujudkan Islam Nusantara yang Berkemajuan”, begitu ujarnya disambut tepuk tangan bahagia ribuan santri di Pesantren Dar Al-Qur’an, Buntet Pesantren dan Pesantren KHAS Kempek di Cirebon.

Abi menggambarkan persatuan sebagai bagian terpenting dari ajaran Islam. Persatuan antar sesama Muslim, apapun mazhabnya, menjadi fondasi dari pengamalan Al-Qur’an. Selama manusia yang bersangkutan berikat pada syahadat dan bersujud ke kiblat yang sama – selama itu pula kita tidak berhak mengkafirkannya. Islam dan Al-Qur’an bukan untuk dimonopoli oleh mazhab tertentu – salafi dan syiah, wahabi maupun aswaja (ahlul sunnah wal jamaah) seperti kita, sesungguhnya punya jauh lebih banyak persamaan daripada perbedaan yang seringkali digadangkan.

Saya makin yakin, bahwa 100% Muslim bukan berarti 100% cara beragama yang seragam, selama kita menjaga 100% mengikuti kaidah akidah.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara

Sebagaimana semua muslim bersaudara, semua warganegara adalah saudara dalam bangsa. Saudara yang salah satu peran utamanya adalah saling menjaga. Mengutip Abi, “Hanya orang gila yang tidak cinta pada negaranya, karena ikatan pada tumpah darah adalah fitrah”. Saya teringat doa Nabi Muhammad SAW yang begitu sedih pada saat meninggalkan Makkah, dan memohon pada Allah untuk menumbuhkan kecintaannya pada Madinah sebagaimana cintanya pada kota kelahiran yang penuh sejarah. Di uraiannya, Abi mencontohkan doa Nabi Ibrahim AS (dalam semangat keagamaannya)1 yang membatasi permohonannya hanya bagi kaumnya yang beriman dan kemudian mendapat “peringatan” dari Allah SWT akan hak semua manusia, apapun keyakinannya (Q.s. Al-Baqarah: 126).

Sebagaimana selalu diucapkannya sejak saya kecil dulu, Abi menyatakan berulang dalam perjalanan minggu ini, “Perbedaan mayoritas dan minoritas sudah selesai sejak kita semua mengikatkan diri dalam satu nama kebangsaan.”

Saya makin yakin, jaminan keamanan dan kesempatan memanfaatkan alam raya, bukan monopoli umat satu agama. Pertanggungjawaban pilihan agama, perhitungan jatah surga-neraka bukan urusan manusia di dunia, tetapi menjadi bukti keadilan dari Tuhan yang penuh rahmat di akhirat.

Sesungguhnya uraian di atas bukan sekadar cita-cita, tetapi sudah dibuktikan dengan pengamalan oleh orangtua kita, pemuka agama dan budaya masyarakat sejak dahulu kala. Sejak kesepakatan Madinah maupun kejayaan Nusantara. Menjadi penggerak, bukan sekedar pengikut, apalagi penghambat kemajuan zaman, adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Perintah mengambil pengalaman dari sejarah (Q.s. Ali Imran: 137) dan beradaptasi pada potensi alam (dan teknologi) (Q.s. Al-Haj: 65), sering kita pelajari. Tetapi kita kadang masih lupa bahwa tradisi dan inovasi tidak dipertentangkan dalam ajaran kitab suci.

Sekali lagi, mari bersama-sama mempraktikkan Islam Berkemajuan yang Nusantara – ini seharusnya menjadi cita-cita kekinian, lintas golongan.[Najelaa Shihab (Pendidik)]

BACA JUGA; Semua Murid Semua Guru:
Pesantren yang Memanusiakan Hubungan, Al-Qur’an yang Hidup dan Menghidupkan (Bagian 1 dari Dua Catatan Perjalanan)

Pesantren yang Memanusiakan Hubungan, Al-Qur’an yang Hidup dan Menghidupkan (Bagian 1 dari Dua Catatan Perjalanan)

Datang dan belajar di pesantren, jarang diceritakan. Padahal pengalaman ini tidak bisa dinikmati semua orang, dan untuk yang beruntung menjalaninya, dirindukan sepanjang hayat. Abi Muhammad Quraish Shihab selalu menceritakan, 1.5 tahun di Pesantren Dar Al-Hadits Malang, beliau belajar jauh lebih banyak daripada 15 tahun di Al-Azhar Cairo.

Keluarbiasaan pesantren, bukan soal mutu pembelajaran agama yang diajarkan, tetapi karena keikhlasan dan kesederhanaan. Saya seringkali bicara tentang memanusiakan hubungan dalam pendidikan, di perjalanan keliling pesantren Dar Al-Qur’an, Buntet Pesantren dan Pesantren KHAS Kempek tempo hari, saya melihat nyata bagaimana ini dipraktikkan.

Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara

Rantai keikhlasan dimulai dari relasi yang bermakna dengan kyai. Abi bercerita betapa hubungannya dengan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bafaqih, terus terjalin hingga sekarang, saat Almarhum datang lewat firasat dan mimpi. Kyai bukan hanya tempat setor hafalan Al-Qur’an, kyai adalah teladan kehidupan. Yang seringkali mengagetkan buat orang kebanyakan, penghormatan pada kyai ini bukan didasarkan oleh ketakutan atau keturunan, tetapi didasari oleh keyakinan akan keberkahan. Kekuatan akidah tidak dicapai dengan materi ceramah satu arah, tetapi dengan bertukar kisah hikmah yang selalu penuh tawa.

Kebiasaan kesederhanaan adalah modal kedamaian dalam pergaulan. Jurus anti kelaparan dilatihkan sejak dini – jatah makanan bisa “diakalin” asal punya strategi. Menambahkan kecap yang sengaja dibikin kebanyakan, sehingga bisa mengantri lagi minta tambahan nasi. Konsistensi dibiasakan lewat kedisiplinan ibadah malam, keberagaman dihormati dengan tidak menyalahkan bacaan tartil yang bermacam-macam. Merasa berkecukupan walau tidak hidup berlebihan, adalah modal menjadi ummatan washatan.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren mengasah penghormatan pada keber-agama-an, pesantren adalah praktik kehidupan ke-manusia-an. Semua tujuan ini dicapai santri dengan hidup bersama Al-Qur’an.

Membaca, memahami dan hidup bersama Al-Qur’an adalah tiga tingkatan berbeda. Sekadar membaca harfiah mudah menjebak kita pada penafsiran tunggal. Hanya dengan hidup bersama Al-Qur’an kita menyadari bahwa kebenaran bukan pembenaran berlebihan pada satu jawaban. Pemahaman mengantar kita mengenal wahyu dalam berbagai konteks budaya dimana kita berada. Namun hidup bersama Al-Qur’an yang akan membuktikan mukjizatnya yang tak lekang oleh masa.

Dalam pertemuan dengan ribuan santri di Cirebon minggu hari, satu kalimat Abi yang paling memotivasi diri adalah “Mendekatlah pada Al-Qur’an, karena Kitab ini sesungguhnya hidup dan menghidupkan. Saat kita mengajaknya bercakap layaknya sahabat, maka di saat itulah Al-Qur’an mengungkap rahasianya yang tidak pernah diceritakannya pada sembarang orang.”

Saya, bersama tim Pusat Studi Al-Qur’an, menjadi saksi betapa mata para santri menyala mendengar kata-kata ini, saya membayangkan betapa banyaknya api perjuangan yang ditularkan Abi. Bukan karena santri-santri ini -seperti Abi – selalu qunut saat shalat subuh, tetapi karena kecintaan pada Al-Qur’an yang insya Allah menyatukan mereka untuk terus berjihad dengan ilmu.

Menjadi ahli yang bukan saja hafal, memahami dan mempraktikan kehidupan bersama Al-Qur’an selama 60 tahun lebih seutuh Abi, rasanya masih luar biasa jauh untuk diri ini. Tetapi nasihat sederhana untuk menjawab pertanyaan yang diajukan wahyu, berdoa saat mendengar kabar gembira di dalamnya, dan mengucapkan salam saat Al-Qur’an menceritakan tokoh panutan, bisa mulai kita lakukan.

Saya yakin, pertanyaan Allah dalam surah Ar-Rahman, فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, layak kita jawab dengan syukur. Sungguh ya Allah, tak terhitung nikmat-Mu untuk kami sebagai bangsa dan segenap alam raya.

Perjalanan adalah cara menemukan persamaan dengan teman dalam pikiran. Semoga catatan ini juga menjadi sarana meneguhkan perjanjian kita berjalan seiringan dalam moderasi.

BACA JUGA: Semua Murid Semua Guru:
Islam Nusantara yang Berkemajuan, Islam Berkemajuan yang Nusantara (Bagian 2 dari Dua Catatan Perjalanan)
[Najelaa Shihab (Pendidik)]

Prof. Dr. Quraish Shihab dan Pengurus PSQ Bersilaturahmi ke Kyai, Ulama, dan Santri di Cirebon

Pada 8 dan 9 Januari 2018 Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dan rombongan dari Pusat Studi al-Quran (PSQ) silaturahmi ke sejumlah kyai, ulama, dan santri di Cirebon, Jawa Barat. Turut dalam rombongan kali ini, di antaranya, Habib Husein Assegaf selaku Ketua Yayasan PSQ, dan cucunya, Izzat Ibrahim Assegaf, Najeela Shihab dan putranya, Fathi Ahmad Assegaf, Dr. Muchlis M. Hanafi selaku wakil direktur PSQ, dan Muhammad Arifin, MA, pengasuh pondok pesantren pascatahfidz Bayt al-Quran. Selain untuk memperkuat tali silaturahmi dan persahabatan dengan pengasuh dan santri pesantren, kunjungan itu juga untuk membincangkan persoalan-persoalan keislaman, keumatan, dan kebangsaan.

Silaturahmi ini merupakan kegiatan kedua kali. Pada 2017 Prof. Quraish dan PSQ juga bersilaturahmi ke KH Mustofa Bisri atau Gus Mus (Rembang, Jawa Tengah), KH Maimoen Zoebair (Sarang, Jawa Tengah), dan KH Shalahuddin Wahid (Jombang, Jawa Timur).

Ada tiga pondok pesantren yang Prof. Dr. Quraish dan rombongan kunjungi kali ini. Kunjungan pertama ke Pondok Pesantren Dar al-Quran pimpinan Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad. Pertemuan dengan keluarga besar Pesantren Dar al-Quran berlangsung pada Senin, 8 Januari 2018, pukul 18.30–22.00. Selain bertemu dengan pengasuh pesantren, pengarang Tafsir Al-Misbah itu juga memberikan tausiah kepada santri Dar al-Quran dan masyarakat setempat tentang moderasi Islam. DR. KH Ahsin Sakho sendiri merupakan anggota Dewan Pakar PSQ. Beliau sangat senang atas silaturahmi ini.

pesantren-dar-al-quran

Dalam tausiahnya, Prof. Quraish menyampaikan banyak hal penting terkait Islam dan kondisi di tanah air. Mengenai moderasi Islam, menurut Prof. Quraish ada hal yang harus kita perhatikan dalam hal ajaran Islam. Beliau membacakan firman Allah dalam QS. al-Baqarah [2]: 143: ”Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ummatan washatan (umat pertengahan, moderat dan teladan) supaya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan supaya Rasul (Nabi Muhammad saw.) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Minimal adil,” kata Prof. Quraish. “Adil itu adalah pertengahan antara dua ekstrem. Dan adil itu harus kita perlakukan walau terhadap musuh.”

Prof. Quraish menjelaskan makna ini dengan mengibaratkan bahwa manusia itu bukan malaikat yang hanya ruhani; bukan pula setan, keburukan semata-mata. Manusia ada di pertengahan. “Diberi potensi untuk baik, diberi potensi untuk buruk. Silakan kelola Anda punya negeri, kelola masyarakat Anda. Dalam konteks itu, Tuhan memberi kita petunjuk agama.

Menurut Prof Quraish, berdasarkan prinsip pertengahan inilah ajaran Islam diukur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan manusia. “Karena itulah kita diciptakan dalam bentuk washatiyah maka ajaran ini harus bersifat washatiyah. Tanpa itu tak pas kita,” katanya.

Selain membabarkan makna washatiyah, Prof. Quraish juga cerita mengenai jalan hidupnya saat remaja yang akhirnya mengantarkannya kepada tafsir al-Quran. Saat di al-Azhar dulu, ketika menentukan jurusan beliau berkonsultasi kepada dosennya. Prof. Quraish mengambil Fakultas Ushuluddin dan ada dua jurusan saat itu, yaitu filsafat atau tafsir dan hadis. Dia mendapatkan nasihat dari dosennya bahwa kalau mengambil filsafat dia bisa tergelincir. Tapi, kalau dia mempelajari al-Quran dia tidak akan tergelincir. Selain itu, kalau kelak mengambil filsafat dan pakar di bidangnya, belum tentu dia mengerti fikih, Bahasa Arab. Tapi, kalau belajar al-Quran maka semua ilmu pengetahuan bisa dia kuasai.

Itu sebabnya saya pilih jurusan tafsir. Itu juga keisitimewaannya orang yang belajar di Dar al-Quran. Karena di dalam al-Quran anda dapat fikih, hadis, filsafat, segalanya. Al-Quran bisa memberi penjelasan melalui ayat-ayatnya untuk hal-hal ini. Berbahagialah saudara yang belajar di Dar al-Quran. Lebih berbahagia lagi karena yang pimpin Dar al-Quran adalah orang yang amat paham al-Quran.”

KH. Dr. Akhsin Sakho Muhammad yang menjadi pengasuh Dar al-Quran merupakan pakar al-Quran dalam bidang qiraat dari Universitas Madinah. Kepakaran beliau sudah diakui di tingkat nasional dan internasional.

Dalam pertemuan itu hadir pula KH Husein Muhammad. Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid ini menjelaskan sejumlah prinsip dalam nalar pikiran moderat. Di antaranya adalah tidak mudah menuduh orang lain salah.

Selain tausiah, Prof Quraish juga mengadakan pertemuan dengan alumni pesantren pascatahfizh Bayt al-Quran (BQ) —sebuah program berbeasiswa penuh binaan PSQ bagi para hafizh atau santri yang telah menghafal 30 juz al-Quran dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendalami ilmu-ilmu yang terkait dengan studi ke-al-Quran-an (dirasat Quraniyyah) selama enam bulan, di kawasan SouthCity, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Pertemuan para alumni BQ dengan tim PSQ itu dimaksudkan untuk tukar menukar informasi sekitar kiprah alumni di masyarakat, tantangan dakwah yang dihadapi, sekaligus mendiskusikan upaya-upaya peningkatan peran alumni di masyarakat. Pada kesempatan pertemuan itu, alumni yang hadir terbatas pada alumni yang berasal dari provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebelumnya, pertemuan serupa telah dilakukan di Jombang, bagi alumni BQ yang berasal dari Jawa Timur.

Pada hari kedua, yaitu 9 Januari 2018, Prof. Quraish berkunjung ke Buntet Pesantren. Pesantren ini sarat dengan sejarah perjuangan bangsa dan nasionalisme. Cikal bakal Pesantren ini didirikan Mbah Muqoyim, Mufti Keraton Cirebon. Meski memiliki kesempatan untuk mendapatkan kenyamanan dan fasilitas dari Keraton Cirebon, Mbah Muqoyim memilih untuk mendirikan pesantren yang jauh dari Keraton. Beliau tak ingin bekerja sama dengan penjajah Belanda. Tak aneh bila semangat cinta tanah air sudah tumbuh lama dalam nadi perjalanan pesantren ini. Saat revolusi Indonesia pada kurun 1940-an KH Abdullah Abbas memimpin santri-santrinya dalam Laskar Hizbullah untuk terjun langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, menurut satu riwayat, KH Hasyim Asyari mesti menunggu kedatangan KH Abbas untuk menurunkan santri-santrinya yang turut dalam Pertempuran 10 November 1045 di Surabaya.

Pesantren Buntet Cirebon

Saking lekatnya pesantren ini dengan semangat nasionalisme, KH Adib Rofiuddin Izza, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren, mengatakan: “Kami santri sudah lama cinta tanah air, sebelum Indonesia ada,” katanya. KH Adib mengisahkan bahwa pada kurun 1930-an di pesantren ini sudah didirikan madrasah yang dinamai Wathaniyah (tanah air).

Dalam kesempatan diskusi dengan para kyai pengasuh pondok pesantren, kyai muda, dan jajaran guru Prof. Quraish menandaskan bahwa Islam dan nasionalisme bukan dua pilihan. Keduanya merupakan satu kesatuan. Tidak mungkin ada Islam tanpa nasionalisme.

Rasulullah saw. sendiri, lanjut Prof. Quraish, adalah orang yang mencintai tanah kelahirannya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengemukakan kecintaannya kepada kota Mekah yang merupakan tanah kelahiran beliau beberapa saat sebelum berhijrah ke Madinah. “Demi Allah. Sungguh engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai,” kata Rasulullah saw kepada kota Mekah seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah. “Kalau bukan karena orang-orang kafir mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu,” lanjut beliau dalam hadis itu. Kecintaan Rasulullah saw itu juga terlihat pada keinginan kuat beliau mengharap agar menghadap ke Masjidilharam sebagai kiblat ketika melakukan salat. Dan keinginan beliau itu dikabulkan oleh Allah dengan memindahkan arah kiblat salat dari sebelumnya ke Masjidil Aqsa ke Masjidilhharam di Mekah.

Prof. Quraish juga mengingatkan hadirin betapa semangat keagamaan telah mewarnai dan menjiwai pemikiran dan sikap para pendiri bangsa Indonesia dalam merumuskan dasar-dasar kehidupan berbangsa di Indonesia. “Saya hampir yakin bahwa pendiri bangsa kita mendapat ilham dari Allah swt ketika merumuskan Pancasila sebagai dasar negara,” katanya. Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Karena itu, menurut Prof. Quraish, “Orang yang tidak cinta tanah air itu adalah orang yang sakit.”

Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan para kyai dan ulama di Buntet Pesantren, Prof. Quraish bertandang ke Pondok Pesantren Kempek KHAS. Di pesantren ini beliau diterima KH Mustofa Aqil Siraj dan keluarganya, juga jajaran akademika IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Pondok Pesantren Kempek Cirebon

KH Mustofa Aqil Siroj sangat senang dengan kehadiran Prof. Quraish. Beliau merasa seperti anak yang kedatangan sosok ayah. Dalam diskusi dengan para kyai, ulama, dan jajaran akademika IAIN Syekh Nurjati, Prof. Quraish menyampaikan tentang perlunya kyai-kyai muda untuk mendapatkan gelar akademik secara formal. Di sisi lain, kampus juga perlu memberikan ruang kepada kyai-kyai yang memang sangat luas ilmunya untuk mengajar mahasiswa.

KH Mustofa Aqil menyatakan kebahagiaannya dengan kehadiran Prof. Quraish. “Sebetulnya beliau hadir ke kita setiap Ramadhan. Cuma beliau tidak mengenal kita. Beliau sudah ada di hati kita semua, dengan tafsirnya, al-Misbah. Tafsir yang enak dibaca dan enak dirasa,” kata KH Mustofa Aqil.

Dalam diskusi dengan santri dan masyarakat sekitar, Prof. Quraish mendorong hadirin untuk mencintai al-Quran. “Saya merasa bahwa sebenarnya prinsip dasar yang ditanamkan di pesantren ini adalah cara terbaik untuk memahami al-Quran. Tadi saya diceritakan bahwa di sini dasarnya itu nahwu, bahasa, dan al-Quran. Al-Quran dan nahwu itu bergandengan. Anda tidak akan bisa paham al-Quran tak paham bahasa Arab. Bukan sekadar paham dan bisa bicara, tapi tahu nahwu sharaf-nya.” Lebih jauh, Prof. Quraish menguraikan bahwa bahasa itu mengajarkan orang untuk berpikir. “Bahasa Arab itu sangat rasional. Untuk memahami al-Quran harus berbahasa Arab, dan orang yang paham bahasa Arab pasti berakal. Memahami al-Quran tanpa menggunakan akal pasti salah,” katanya.

Beliau lalu mengutip Imam Ghazali yang mengatakan bahwa al-Quran itu seperti cahaya yang sangat terang. Kalau melihat langsung kepada cahaya tentu akan silau. “Bagaimana caranya bisa melihat matahari tanpa silau? Dengan kacamata hitam. Kacamata hitam itu menurut Imam Ghazali disebut dengan akal,” kata Prof. Quraish.

Dr. Muchlis Hanafi dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa dalam memahami al-Quran akal memainkan peranan penting. “Bagaimana ketika kita menggunakan akal dalam memahami teks al-Quran itu juga memerhatikan realitas di mana dan kapan kita berada. Inilah sesungguhnya yang dinamakan manhaj Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah. Salah satu cirinya adalah al-jam’u baina al-aqli wa al-nashi (memadukan antara akal dan teks),” katanya.

Prof. Quraish juga mendorong hadirin untuk mencintai al-Quran. “Pelajari dia, cintai dia maka dia akan memberitahu rahasia-rahasia yang tidak dia berikan kepada orang lain.”

Habib Husein Assegaf selaku Ketua Yayasan PSQ ingin kegiatan silaturahmi ini bisa lebih digalakkan lagi. “Kalau bisa setahun dua atau tiga kali,” katanya. Beliau melihat bahwa kegiatan ini sangat positif untuk menyambungkan rasa dan pikiran. Hal senada diungkapkan Najeela Shihab. “Meskipun sekarang sudah ada skype atau teknologi, pertemuan tatap muka selalu memiliki makna,” katanya. Karena itu dia berharap kegiatan ini bisa memperkuat jaringan yang sudah PSQ bina. Sehingga, kolaborasi untuk menciptakan kondisi Islam yang berpandangan moderat (washatiyah) bisa menjadi arus utama kembali.
[Muhammad Arifin dan Muhammad Husnil]

Bedah Buku Moderasi Islam Karya Dr. Muchlis M. Hanafi

Sabtu, 16 Desember 2017 di Jogoroto. Tepatnya pada waktu menjelang senja. Sekitar jam 16:30, bedah buku “Moderasi Islam” karya Dr. Muchlis M. Hanafi, MA dimulai dengan pembacaan surat Al-fatihah yang dipandu langsung oleh pembawa acara, Ust. Muhammad Faiq Faizin, M.Pd.

Acara itu bertempat di halaman pondok pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto-Jombang. Tepatnya berada di panggung utama yang akan digunakan untuk mewisuda 64 santri yang telah merampungkan hafalan 30 juz al-Qur’an bil-ghoib dan yang telah memenuhi persyaratan untuk mengikuti wisuda hafidh ke empat tahun 2017.

Tampak di depan Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA, Kiai Ainul Yaqin, SQ, dan Ust. Muhammad Faiq Faizin, M.Pd sedang duduk di panggung utama yang telah disediakan panitia dan sudah siap untuk mendiskusikan buku “Moderasi Islam.”

Tidak sedikit hadirin yang hadir di majelis itu. Lebih kurang ada 200 yang ikut serta khidmat mendengarkan setiap apa yang di dauhkan Dr. Mukhlis. Bukan hanya santri Hamalatul Qur’an dan alumni Bayt al-Quran, hadirin dari luar pun juga banyak yang antusias mengikuti bedah buku hingga acara selesai.

Inti ditulisnya buku itu, karena banyaknya orang-orang yang masih memiliki pemahaman yang tidak sejalan dengan agama. Ada sekelompok yang sangat ketat dalam beragama, ada juga yang sangat longgar. Sebagian ekstrim ke kiri, sebagian lagi ada yang ke kanan. Nah, dalam buku itu, penulis mengenalkan pemahaman Islam yang moderat, adil, lagi baik yang sejalan dengan ajaran agama.

Bedah buku “Moderasi Islam” oleh Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA itu diadakan dalam rangka wisuda hafidh yang ke-empat pondok pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto dan sebagai reoni (silaturahmi) alumni pondok pesantren pasca tahfidh Bayt al-Quran Pusat Studi al-Quran Jakarta.. 

Dalam rangkaian acara pada sore hari itu dimulai dengan pembukaan, pembacaan Kalam ilahi oleh saudara Haidar Ali. Sambutan pengasuh pondok pesantren Hamalatul Qur’an oleh Bapak Kiai Ainul Yaqin, SQ pada rangkaian acara setelah Kalam ilahi. Dilanjutkan bedah buku “Moderasi Islam” yang langsung disampaikan oleh beliau Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA. Acara itu ditutup dengan do’a oleh K.H Imam Mawardi.

Jogoroto, 16 Desember 2017

Silaturahmi Alumni Bayt al-Quran di Ndalem Kiai

Ustad Anwar membuka silaturrahmi alumni Bayt al-Quran dengan ayahanda Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA diawali bacaan al-Fatihah. 

Di ndalem Kiai Ainul Yaqin yang sangat-sangat sederhana itu, berkumpul alumni Bayt al-Quran dari angkatan pertama hingga angkatan limabelas yang lebih kurang dengan jumlah 20-an.

Setelah dibuka, Ust. Anwar mempersilakan semua alumni untuk menyampaikan apa saja yang ingin disampaikan. Ada salah satu alumni angkatan pertama bercerita tentang apa yang sedang di jalankannya sekarang, salah satunya meneruskan ternak lele yang dulu ketika di Bayt al-Quran di ajar-praktikkan. Ada yang sedang merintis madrasah al-Quran (TPQ)). Ada juga alumni yang mengeluhkan teman-teman satri di pesantrennya yang hanya merasa cukup dengan menghafalkan al-Quran saja, tanpa ada keinginan untuk  terus melanjutkan belajar memperdalam pemahamannya terhadap al-Quran. Juga ada salah satu alumni yang menyampaikan program-progam yang sedang dirintis untuk membumikan al-Quran di kampus-kampus, bukan hanya di pesantren-pesantren saja. Dan masih ada beberapa lagi yang disampaikan alumni saat itu.

Dr. Mukhlis menanggapi satu persatu, sesekali memberi solusi, masukan, saran, dan dikali lain beliai juga meminta masukan atau keluhan dari para alumni apa yang sekiranya dari pihak PSQ bisa membantu. Baik pribadi atau sekelompok yang  mempunyai misi yang sama, InshaaAllah pihak PSQ akan membantunya. Entah pendidikan atau yang lainnya.

Terakhir beliau mempunyai tiga harapan yang semoga dapat terlaksana. Pertama, beliau menginginkan entah setahun dua kali atau sekali diadakan daurah atau semacamnya untuk alumni yang berpusat di Bayt al-Quran. Selain untuk mempererat silaturahmi dan jaringan, diharapkan juga bisa mengkaji bersama apa yang sekiranya teman-teman alumni inginkan untuk dikaji bersama. Kedua, diharapkan setiap wilayah mempunyai agenda yang sama, yakni silaturahmi dan kajian-kajian al-Quran. Ketiga, beliau menginginkan masing-masing alumni menyampaikan masukan, kendala, atau keluhan yang sekiranya apa yang bisa pihak PSQ bantu.

Acara silaturahmi kecil-kecilan itu ditutup dengan foto bersama bapak Dr. Mukhlis M. Hanafi, MA di depan ndalem Kiai Ainul Yaqin yang sederhana itu.

Jogoroto, 16 Desember 2017

Program Tafsir Al Misbah Raih Anugerah Syar Ramadhan 2017

PROGRAM talkshow ‘Tafsir al-Misbah’ yang ditayangkan Metro TV selama Ramadan tampil sebagai pemenang sebagai program talkshow terbaik dalam Anugerah Syar Ramadhan 2017. Pemberian penghargaan tersebut diberikan pada acara Milad ke-42 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Balai Sarbini, Rabu (26/7) malam.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis, program-program yang menjadi pemenang dalam Anugerah Syar Ramadhan 2017 sudah melewati proses seleksi antara KPI dan MUI.

“Secara prinsip program televisi yang kita pilih adalah yang memuat semangat Syar Ramadhan untuk meningkatkan spiritualitas umat, sebagaimana amanat Undang-Undang Penyiaran bahwa program televisi yang dalam hal ini memakai frekuensi publik harus mampu meningkatkan moralitas manusia atau umat berdasarkan nilai agama,: kata Darwis.

Bukan itu saja, konten-konten Syar Ramadan yang dipilih, kata dia, sedapat mungkin membawa pesan-pesan kebangsaan di tengah industri televisi yang condong menyajikan tayangan dengan konten-konten asing yang bukan saja merusak moralitas umat tetapi juga membahayakan keutuhan bangsa.

“Yang intinya konten tersebut harus mendidik, menghibur tetapi juga mengedepankan kontrol sosial yang konstruktif dan paling penting lagi adalah tidak menyiarkan berita atau tayangan yang memuat konten-konten hoax,” lanjut Darwis.

Dalam malam penganugerahan Syar Ramadhan 2017 ini juga dibacakan pemenang untuk beberapa kategori lain seperti ceramah, sinetron, dan juga tayangan film dokumenter.

Untuk Metro TV sendiri, selain menjadi pemenang untuk kategori talkshow, beberapa program yang lain juga masuk dalam nominasi seperti program ceramah Cahaya Hati, Demi Masa, dan Syar Ramadhan.

Ketua MUI, Ma’ruf Amin, menambahkan, Anugerah Syar Ramadhan 2017 merupakan bentuk apresiasi terhadap program televisi yang mencerminkan semangat Ramadan.

“Tentu saja harapan kita agar program yang disajikan kepada umat adalah yang membawa kemaslahatan untuk umat. Harapannya ke depan program televisi kita terutama terkait Ramadan bisa lebih baik lagi,” katanya. (OL-2)


Dikutip dari mediaindonesia.com, Rabu, 26 Juli 2017