Kegiatan Praktik Profesi Lapangan (PPL) “LANGKAH AWAL MENJADI MUFASSIR”

 

 

 

 

 

Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan Praktik Profesi Lapangan (PPL)  دورة بداية المفسر  “Langkah Awal Menjadi Mufassir”  diikuti Mahasiswa S.1 program studi tafsir hadits, Kegiatan yang dilaksanakan mulai Tanggal 28 Januari 2013 s.d 01 Februari 2013 ini ditempatkan di Ruang perkuliahan Pesantren Bayt al-Quran perum bukit raya No.10 Pondok Cabe Ciputat.

 

Kegiatan acara yang dibuka Senin 28/1/2013 pada jam 10.00 wib diawali pengenalan Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) yang disampaikan M.Arifin, MA sebagai manager program PSQ dan dilanjutkan penyampain jadwal kegiatan dan tata tertib oleh Ach. Zayadi,M.Pd. Sebagai simbolis pembukaan kegiatan diserahkan Buku Modul Profesi Lapangan (PPL) yang bertema دورة بداية المفسر “LANGKAH AWAL MENJADI MUFASSIR” dari M. Arifin, MA manager Program PSQ kepada Didi Junaedi, MA sebagai perwakilan sekaligus pendamping peserta Mahasiswa dari IAIN Nurjati Cirebon. Setelah itu kegiatan disambung dengan sesi pertama yang disampaikan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA dengan tema Pola Interaksi dengan Al-Quran dan Sunnah.

Sebagai tujuan kegaiatan PPL adalah memberikan materi berupa wawasan dibidang tafsir dan metodologi penafsiran. Mengenalkan lebih dekat program-program yang dijalankan di PSQ, dan  Memberikan informasi seputar buku referensi dibidang kajian tafsir dan digital library.

Pelaksanaan kegiatan Praktik Profesi Lapangan (PPL) ini atas Kerjasama Pusat Studi Al-Qur`An (PSQ) Jakarta Dengan Ikatan Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia (IAAI), IAIN Syekh Nurjati Cirebon Fakultas Adab Dakwah Ushuluddin Prodi Tafsir Hadits, STAIN Jember Fakultas Ushuluddin Prodi Dakwah. (Lip.arfan)

 

Holicamp bersama Living Qur’an ‘Mewujudkan Resolusi Keluarga’

Tanggal 22-23 Desember 2012 Living Qur’an mengadakan acara yang diberi tajuk Holicamp for Family. Mengingat waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan momen tahun baru, baik hijriah maupun masehi, maka panitia memilih tema ‘Mewujudkan Resolusi Keluarga’ pada holicamp kali ini. Lokasi yang dipilih yaitu Batu Tapak, Cidahu, Sukabumi.

 

 

 

 

 

Acara dimulai Sabtu siang, pukul 13.00. Setelah saling berkenalan dan mengakrabkan diri, peserta dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok orang tua dan kelompok anak-anak. Kelompok anak-anak dipandu oleh kakak-kakak guru Living Qur’an.  Mereka diajak berdiskusi  mengenai bagaimana menjadi pribadi muslim yang baik. Tidak hanya sampai di situ, peserta juga diajarkan cara mewujudkannya pada diri mereka sendiri. Salah satunya dengan cara membuat pohon ekspektasi. Semua dikemas dalam kegiatan yang bervariasi. Mulai dari diskusi, menonton film hingga membuat kerajianan tangan (art and craft).

 

Sementara itu, para orang tua juga asyik dengan diskusi yang dipandu oleh Ust M Arifin , dewan pakar Pusat Studi Al Qur’an. Diskusi ini membahas  konsep keluarga dalam islam. Bagaimana tuntunan islam dalam berkeluarga, contoh penerapannya dalam keluarga Rasulullah SAW, juga isu-isu kontemporer mengenai keluarga yang dihadapi sehari-hari oleh peserta.  Kegiatan  dilanjutkan dengan panduan untuk menyusun resolusi keluarga.  Dalam kesempatan ini, peserta diajak untuk lebih saling mengenal pasangan dan mengkomunikasikan gagasan serta mimpi-mimpi dalam keluarga masing-masing, sebagai bahan untuk menyusun resolusi keluarga.

Acara hari kedua, dimulai dengan sholat malam dan renungan menggunakan media audiovisual. Kekhusyu’an subuh hari segera dilanjutkan dengan jogging menuju air terjun. Setelah bermain-main di air terjun, peserta pun mengikuti outbound dipandu oleh tim Living Qur’an dan Batu Tapak. Tujuan dari kegiatan outbound ini yaitu  meningkatkan kohesivitas antar anggota keluarga.

Kegiatan ditutup dengan kesan dan pesan dari peserta. Semoga, liburan bersama Living Qur’an  kali ini menjadi kegiatan yang tidak saja menyenangkan namun juga bermanfaat bagi seluruh peserta Holicamp. Sampai jumpa di kegiatan Holicamp berikutnya.

Islamic Talk Show : Rasulullah is my Idol

We cordially invite you,

Islam for Busy People, Islamic talkshow for urban people

Saturday, 26 January 2013, 2-4PM.

Host by Dian Marina

 

Theme : Rasullulah is My Idol

Speaker : Muhammad Arifin MA

Moderator : Trisula Hariana Sunita

 Location at Atrium Giggle f5, fX, fX Sudirman

Jl. Jend. Sudirman, Jakarta

 

-Living Qur’an free trial for children age 3-9 years

 old at Rumah Main Cikal

-Hijab demo for Mom by Miss Marina Asessories

 This event is free of charge.

 

 

Wawasan Al-Qur’an Tentang Pelecehan Terhadap Nabi Muhammad Saw

Oleh: Hasanudin Ibnu Hibban

A.    Pengantar

Pelecehan terhadap para Nabi As dan Nabi Muhammad SAW bukan merupakan hal yang baru, melainkan memiliki rentetan pengalaman sejarah yang panjang sebagaimana yang diungkapkan al-Qur’an dengan tiga penjelasan. Pertama, Pelecehan yang termasuk jenis penghinaan dan olok-olok: “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidak datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Qs. Yasin [36]:30).

Kedua, Pelecehan yang termasuk jenis tudingan dan tuduhan: “Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Qs. Al-Dzariyat [51]:52-53).

Ketiga, Memandang perbuatan nabi sebagai sihir, dusta, tidak berakal. “Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta melimpah (dari langit), atau (mengapa) ia tidak memiliki kebun, yang ia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata, “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.” (Qs. Al-Furqan [25]:8)

 B.     Landasan Mencintai Rasulullah SAW

Semakin kuat rasa cinta seorang muslim kepada Rasulullah SAW, niscaya keimanannya semakin kuat pula. Dan keimanan tersebut akan mencapai puncaknya ketika seorang muslim lebih mencintai Rasulullah SAW dari pada rasa cintanya kepada ayah, ibu, anak, istri, saudara dan manusia siapapun juga. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits-hadits shahih:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ»

“Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya. Salah seorang di antara kalian tidak beriman sehingga aku lebih ia cintai daripada bapaknya dan anaknya sendiri.” (HR. Bukhari no. 14)

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Dari Anas bin Malik RA berkata: Nabi SAW bersabda: “Salah seorang di antara kalian tidak beriman sehingga aku lebih ia cintai daripada bapaknya sendiri, anaknya sendiri dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Dari Anas bin Malik RA dari Nabi SAW bersabda: “Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara tersebut niscaya ia akan bisa meraih lezatnya keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia siapapun juga, (2) mencintai seseorang semata-mata karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43).

C.    Dalil-Dalil Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an secara tegas telah menerangkan bahwa orang yang menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW atau agama Islam adalah orang yang kafir murtad jika sebelumnya ia adalah seorang muslim. Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik.

Adapun jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka tindakannya menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW atau agama Islam tersebut telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir. Di antara dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan hal ini adalah:

  1. Firman Allah SWT:

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

“Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah [9]: 12)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam sebagai aimmatul kufri, yaitu pemimpin-pemimpin orang-orang kafir. Jadi ia bukan sekedar kafir biasa, namun gembong orang-orang kafir. Tentang hal ini, imam Al-Qurthubi berkata, “Barangsiapa membatalkan perjanjian damai dan mencerca agama Islam niscaya ia menjadi pokok dan pemimpin dalam kekafiran, sehingga berdasar ayat ini ia termasuk jajaran pemimpin orang-orang kafir.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/84)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya membunuh setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir. Mencerca (ath-tha’nu) adalah menyatakan sesuatu yang tidak layak tentang Islam atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang termasuk ajaran Islam, karena telah terbukti dengan dalil yang qath’i atas kebenaran pokok-pokok ajaran Islam dan kelurusan cabang-cabang ajaran Islam.

Imam Ibnu Al-Mundzir berkata, “Para ulama telah berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci maki Nabi SAW harus dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat imam Syafi’i.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah mereka mencerca agama kalian adalah mereka mencela dan melecehkan agama kalian. Berdasar firman Allah ini ditetapkan hukuman mati atas setiap orang yang mencaci maki Rasulullah SAW atau mencerca agama Islam atau menyebutkan Islam dengan nada melecehkan. Oleh karena itu Allah kemudian berfirman maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti, maksudnya mereka kembali dari kekafiran, penentangan dan kesesatan mereka.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 4/116)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah Ta’ala menamakan mereka pemimpin-pemimpin orang-orang kafir karena mereka mencerca agama Islam…Maka telah tetaplah bahwa setiap orang yang mencerca agama Islam adalah pemimpin orang-orang kafir. Jika seorang kafir dzimmi mencerca agama Islam maka ia telah menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang kafir, ia wajib dibunuh berdasar firman Allah Ta’ala “maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu”.(Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 17)

  1. Firman Allah SWT:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir sesudah kalian beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kalian (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)

Tentang sebab turunnya ayat ini, para ulama tafsir seperti Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mundzir dan Jalaluddin As-Suyuthi telah meriwayatkan hadits dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah bahwa dalam perang Tabuk ada orang yang berkata, “Kita belum pernah melihat orang-orang seperti para ahli baca Al-Qur`an ini. Mereka adalah orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan.” Para ahli baca Al-Qur’an yang mereka olok-olok tersebut adalah Rasulullah SAW dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur`an. Mendengar ucapan itu, Auf bin Malik berkata: “Bohong kau. Justru kamu adalah orang munafik. Aku akan memberitahukan ucapanmu ini kepada Rasulullah SAW.” Auf bin Malik segera menemui Rasulullah SAW untuk melaporkan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, wahyu Allah (QS. At-Taubah [9]: 65-66) telah turun kepada beliau.

Ketika orang yang ucapannya dilaporkan itu datang kepada Rasulullah SAW, beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka orang itu berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Sebenarnya kami tadi hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan jauh kami.”

Ibnu Umar berkata, “Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah SAW, sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.”Namun Rasulullah SAW balik bertanya kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Beliau hanya mengatakan hal itu dan tidak memberikan bantahan lebih panjang lagi. (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayyil Qur’an, 14/333-335, Tafsir Ibnu Abi Hatim, 6/1829-1830 dan Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, 4/230-231)

Ayat di atas menegaskan bahwa orang tersebut menjadi orang kafir murtad, padahal sebelumnya ia seorang muslim yang beriman, karena ia mengucapan olok-olokan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat. Padahal olok-olokan tersebut menurut pengakuannya sekedar gurauan dan obrolan biasa sekedar pengusir kepenatan dalam perjalanan jauh perang Tabuk. Maka bagaimana lagi dengan caci makian, pelecehan dan ejekan kepada Nabi SAW secara terang-terangan? Tak diragukan lagi, hal tersebut merupakan kemurtadan dan kekafiran.

Imam Abu Bakar Al-Jashash Al-Hanafi berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang bercanda dan orang yang serius itu hukumnya sama saat ia mengucapkan kalimat kekufuran secara terang-terangan tanpa adanya paksaan (siksaan berat terhadapnya untuk mengucapkannya). Karena orang-orang munafik tersebut menyatakan bahwa ucapan yang mereka ucapkan tersebut hanyalah sendau gurau belaka. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa mereka telah kafir dengan sendau gurauan mereka itu. Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri dan Qatadah bahwa orang-orang tersebut mengatakan dalam perang Tabuk: “Apakah orang ini (Nabi Muhammad SAW) berharap bisa menaklukkan istana-istana dan benteng-benteng di Negeri Syam? Mustahil, mustahil.”

Maka Allah memberitahukan bahwa ucapan tersebut adalah sebuah kekafiran mereka, baik mereka mengucapkannya dengan bercanda maupun serius. Maka ayat ini menunjukkan kesamaan hukum (kekafiran) atas orang yang mengucapkan kalimat kekufuran secara terang-terangan, baik ia bercanda maupun serius. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengolok-olok ayat-ayat Allah atau sebagian dari syariat (ajaran) agama-Nya menyebabkan pelakunya kafir.” (Ahkamul Qur’an, 4/348-349)

Dari ayat di atas dan uraian sebab turunnya ayat tersebut, bisa diketahui bahwa Allah SWT menganggap olok-olokan terhadap Rasulullah SAW atau olok-olokan terhadap generasi sahabat sebagai olok-olokan terhadap Allah SWT dan ayat-ayat Allah SWT. Hal itu karena Allah SWT dalam banyak ayat Al-Qur’an telah memuji dan meridhai generasi sahabat (lihat misalnya QS. Al-Fath [48]: 18 dan 29, At-Taubah [9]: 110 dan Al-Hasyr [59]: 8-10). Mengolok-olok Nabi SAW atau generasi sahabat berarti melecehkan, meremehkan dan mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut; sekaligus melecehkan, meremehkan dan mendustakan Allah SWT yang telah menurunkan ayat-ayat tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat ini merupakan dalil yang tegas bahwa mengolok-olok Allah atau ayat-ayat-Nya atau rasul-Nya adalah perbuatan kekafiran. Sehingga mencaci maki lebih layak untuk menjadi perbuatan kekafiran. Ayat ini telah menunjukkan bahwa setiap orang yang melecehkan Rasulullah SAW, secara serius maupun bercanda, adalah orang yang telah kafir.” (Majmu’ Fatawa, 7/272).

  1. Firman Allah Ta’ala:

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam.” (QS. At-Taubah [9]: 74)

Para ulama tafsir menyebutkan sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat ini. Di antaranya riwayat yang menyebutkan bahwa ketika pada perang Tabuk banyak ayat Al-Qur’an yang turun membongkar kebusukan orang-orang munafik dan mencela mereka, maka Julas bin Suwaid bin Shamit dan Wadi’ah bin Tsabit berkata: “Jika memang Muhammad benar atas (ayat-ayat Al-Qur’an yang turun mencela) saudara-saudara kita, sementara saudara-saudara kita adalah para pemimpin dan orang-orang terbak di antara kita, tentulah kita ini lebih buruk dari seekor keledai.”

Mendengar ucapan kedua orang itu, sahabat Amir bin Qais berkata, “Tentu saja, demi Allah, Muhammad itu orang yang berkata benar dan ucapannya dibenarkan, dan sungguh engkau ini lebih buruk dari seekor keledai.”

Amir bin Qais lalu melaporkan ucapan kedua orang itu kepada Nabi SAW. Julas bin Suwaid segera mendatangi Nabi SAW dan bersumpah dengan nama Allah bahwa Amir telah berbohong. Amir pun balas bersumpah bahwa Julas telah benar-benar telah mengucapkan ucapan yang dilaporkan tersebut. Amir berdoa, “Ya Allah, turunkanlah sebuah wahyu kepada nabi-Mu.” Ternyata Allah kemudian menurunkan ayat tersebut.

Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad tidak lain seperti perkataan “Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu!” Jika kita telah kembali ke Madinah, niscaya orang yang mulia di antara kita (yaitu kelompok kita) akan mengusir orang yang hina (Muhammad dan para sahabatnya).”

Perkataan ini didengar oleh sebagian sahabat dan dilaporkan kepada kepada Nabi SAW. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul tergopoh-gopoh mendatangi Nabi SAW dan bersumpah tidak mengucapkan ucapan tersebut. Maka turunlah ayat tersebut. (Fathul Qadir, 2/436 dan Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)

Riwayat manapun yang lebih kuat, semuanya menunjukkan bahwa orang-orang tersebut divonis kafir murtad setelah beriman, disebabkan ucapan mereka yang bernada olok-olokan dan merendahkan Nabi SAW. Hal ini menunjukkan bahwa caci makian dan pelecehan secara terang-terangan terhadap Nabi SAW lebih berat kekafirannya, sehingga menjadikan pelakunya kafir murtad setelah beriman.

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani berkata, “Maksud dari firman Allah Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran” adalah perkataan-perkataan (olok-olokan) yang disebutkan dalam beragam riwayat tadi. Adapun maksud dari firman Allah “dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah mereka menjadi kafir dengan ucapan tersebut setelah sebelumnya mereka menampakkan keislaman, jika sebelumnya dalam hati mereka kafir. Maknanya, mereka melakukan perkara yang menyebabkan kekafiran mereka, jika keislaman mereka dianggap sah.” (Fathul Qadir, 2/436).

Imam Al-Qurthubi berkata: “Imam Al-Qusyairi menyatakan: “Makna dari perkataan kekafiran adalah mencaci maki Nabi SAW dan mencerca agama Islam. Adapun makna dari “dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah mereka menjadi kafir setelah mereka dianggap sebagai orang-orang Islam.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)

Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata: “Kesimpulannya barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran baik secara sendau gurau maupun bermain-main, niscaya ia telah kafir menurut semua ulama, tanpa mempertimbangkan keyakinan dia. Hal ini seperti telah ditegaskan dalam kitab Al-Fatawa Al-Khaniyah dan Raddul Mukhtar.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59)

  1. Firman Allah Ta’ala:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.” (QS. An-Nisa’ [4]: 140).

Ayat ini menunjukkan kekafiran orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah SWT dan juga menunjukkan kekafiran orang yang duduk-duduk bersama orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah, mendengarkan dan mendiamkan saja olok-olokan mereka tersebut. Ayat ini memvonis orang yang duduk bersama dan mendengarkan olok-olokan tersebut sebagai orang kafir, meskipun ia tidak ikut mengolok-olok. Tentu saja orang yang mencaci maki dan melecehkan Allah, ayat-ayat-Nya, rasul-Nya atau ajaran agama-Nya lebih jelas lagi kekafirannya.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh berkata, “Makna ayat ini adalah sesuai zhahirnya. Yaitu, jika seseorang mendengarkan ayat-ayat Allah dikufuri dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), lalu ia duduk-duduk bersama orang-orang kafir yang mengolok-olok tersebut padahal ia tidak dipaksa untuk duduk mendengarkan (melalui siksaan yang berat) dan ia pun tidak melakukan pengingkaran serta tidak beranjak meninggalkan mereka sampai mereka membicarakan urusan lainnya; niscaya ia telah kafir seperti orang-orang kafir tersebut. Meskipun ia tidak melakukan seperti perbuatan mereka, karena sikapnya (duduk, diam dan mendengarkan) tersebut mengandung makna ridha dengan kekafiran, sementara ridha dengan kekafiran merupakan sebuah kekafiran.

Jika ia mengklaim bahwa ia membencinya dengan hatinya, niscaya klaim tersebut tidak bisa diterima, karena penilaian didasarkan kepada aspek lahiriah dirinya. Sementara ia telah menampakkan kekafiran, sehingga ia pun menjadi orang kafir.” (Majmu’atut Tauhid, hlm. 48)

Imam Al-Qurthubi berkata: “Barangsiapa tidak menjauhi mereka, berarti ia rela dengan perbuatan mereka. Sementara rela dengan kekafiran merupakan sebuah kekafiran. Maka barangsiapa duduk dalam sebuah majelis kemaksiatan dan ia tidak mengingkari perbuatan mereka, niscaya dosanya sama dengan dosa mereka. Jika ia tidak mampu mengingkari mereka, maka ia selayaknya beranjak pergi agar tidak termasuk dalam golongan yang terkena ayat ini.” (Al-Jami’ fi Ahkamil Qur’an, 5/418)

Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i dalam kitabnya, Al-I’lam bi-Qawathi’il Islam pada bahasan kekufuran yang disepakati oleh para ulama, mengutip dari kitab para ulama madzhab Hanafi yang menyebutkan: “Barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran, maka ia telah kafir. Setiap orang yang menganggap baik ucapa kekafiran tersebut atau rela dengannya juga telah kafir.”

Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i juga mengutip dari kitab Al-Bahr bahwa seseorang yang secara sukarela mengucapkan ucapan kekafiran sementara hatinya masih meyakini keimanan, maka status dirinya adalah ia telah kafir dan di sisi Allah ia bukanlah orang yang beriman. Demikian pula disebutkan dalam Fatawa Qadhi Khan, Al-Fatawa Al-Hindiyah dan Jami’ul Fushulain.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59)

  1. D.    Dalil-dalil dari as-sunnah

Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil ‘alamien. Beliau terkenal luas sebagai seorang yang sabar, santun, pemaaf, dan penyayang. Seluruh ucapan dan perbuatan beliau adalah pelaksanaan dari wahyu Al-Qur’an. Beliau adalah “Al-Qur’an yang berjalan”. Seluruh ucapan dan perbuatan beliau adalah akhlak mulia yang wajib dicontoh oleh kaum muslimin.

Lantas bagaimana teladan ucapan dan perbuatan Nabi SAW dalam menyikapi orang-orang yang mencaci maki, melecehkan dan mengolok-olok Allah atau ajaran Islam atau diri beliau sendiri? Jawabannya bisa kita dapatkan dari hadits-hadits shahih berikut ini:

  1. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقَعُ فِيهِ، فَيَنْهَاهَا، فَلَا تَنْتَهِي، وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ، قَالَ: فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَشْتُمُهُ، فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا، وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا، فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ، فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ،

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang laki-laki buta yang memiliki seorang budak perempuan yang hamil dari hubungan dengannya (ummu walad). Budak perempuan itu biasa mencaci maki dan merendahkan Nabi SAW. Sebagai tuan, laki-laki buta itu telah memperingatkan budak perempuannya untuk menghentikan perbuatan buruknya itu, namun perempuan itu tidak mau menuruti peringatannya. Laki-laki buta itu telah memerintahkan budak perempuannya menghentikan perbuatan buruknya itu, namun perempuan itu tidak mau berhenti.

Pada suatu malam, budak perempuan itu kembali mencaci maki Nabi SAW. Maka laki-laki buta itu mengambil belati dan menusukkannya ke perut perempuan serta menekannya dengan kuat sampai budak perempuan itu tewas. Tiba-tiba seorang bayi laki-laki keluar dari perut perempuan itu di antara kedua kakinya, dan darahnya menodai ranjang.

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ: «أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ»، فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَا صَاحِبُهَا، كَانَتْ تَشْتُمُكَ، وَتَقَعُ فِيكَ، فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي، وَأَزْجُرُهَا، فَلَا تَنْزَجِرُ، وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ، وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً، فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ، وَتَقَعُ فِيكَ، فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا، وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ»

Keesokan paginya, berita pembunuhan terhadap budak perempuan yang hamil itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Maka beliau mengumpulkan para sahabat dan bersabda, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaknya orang yang melakukan pembunuhan itu berdiri sekarang juga memenuhi panggilanku!”

Maka laki-laki yang buta itu berdiri, berjalan di antara orang-orang dan maju ke depan sehingga ia bisa duduk di depan Nabi SAW. Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, akulah yang telah membunuhnya. Dia selalu mencaci maki dan merendahkan Anda. Aku telah memperingatkannya, namun ia tidak mau peduli. Aku telah melarangnya, namun ia tidak mau berhenti. Aku memiliki dua orang anak seperti intan pertama darinya. Ia adalah kawan hidupku. Ketika tadi malam ia kembali mencaci maki dan merendahkan Anda, maka aku pun mengambil belati, menusukkan ke perutnya dan menekannya dengan kuat sampai ia tewas.”

Mendengar pengakuan laki-laki buta itu, Nabi SAW bersabda: “Hendaklah kalian semua menjadi saksi, bahwa darah perempuan itu telah sia-sia.” (HR. Abu Daud no. 4361, An-Nasai no. 4070, Al-Baihaqi no. 13375, sanadnya dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi berkata: “Beliau bersabda “darah perempaun itu telah sia-sia” barangkali karena berdasar wahyu, beliau telah mengetahui kebenaran pengakuan laki-laki itu. Hadits ini menunjukkan bahwa jika orang kafir dzimmi tidak menahan lisannya dari (mencaci maki atau melecehkan) Allah dan rasul-Nya, niscaya ia tidak memiliki dzimmah (jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi) sehingga ia halal dibunuh. Demikian dikatakan oleh imam (Muhammad Hayat) As-Sindi.

Imam Al-Mundziri berkata: Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasai. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mencaci maki Rasulullah SAW dijatuhi hukuman mati.

Dikatakan (oleh para ulama): Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika orang yang mencaci maki tersebut adalah seorang muslim, maka ia wajib dihukum mati. Perbedaan pendapat terjadi ketika orang yang mencaci maki adalah orang kafir dzimmi. Imam Syafi’i berpendapat ia harus dihukum bunuh dan ikatan dzimmahnya telah batal. Imam Abu Hanifah berpendapat ia tidak dihukum mati, sebab dosa kesyirikan yang mereka lakukan masih lebih besar dari dosa mencaci maki. Imam Malik berpendapat jika orang yang mencaci maki Nabi SAW adalah orang Yahudi atau Nasrani, maka ia wajib dihukum mati, kecuali jika ia masuk Islam. Demikian penjelasan dari imam Al-Mundziri. (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 12/11)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hadits ini merupakan dalil yang tegas tentang bolehnya membunuh perempuan tersebut karena ia telah mencaci maki Nabi SAW. Tentu saja, hadits ini juga menjadi dalil lebih bolehnya membunuh orang kafir dzimmi dan membunuh seorang muslim atau muslimah yang mencaci maki Nabi SAW.”(Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul, hlm. 62).

  1. Hadits Jabir bin Abdullah tentang kisah pembunuhan terhadap pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Asyraf:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ، فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ»، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ: أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ»،

“Dari Jabir bin Abdullah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Siapakah yang mau “membereskan” Ka’ab bin Asyraf? Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah bertanya, “Apakah Anda senang jika aku membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya”…” (HR. Bukhari no. 3031 dan Muslim no. 1801).

Imam Bukhari telah menyebutkan kisah pembunuhan Ka’ab bin Asyraf tersebut dalam beberapa hadits (no. 2510, 3031, 4037). Kisah pembunuhan oleh regu suku Aus tersebut juga disebutkan dalam semua kitab sirah nabawiyah (sejarah hidup Nabi SAW).

  1. Hadits Barra’ bin Azib tentang kisah satu regu suku Khazraj yang diutus oleh Rasulullah SAW untuk membunuh tokoh Yahudi Khaibar, Abu Rafi’ Salam bin Abil Huqaiq karena ia sering mencaci maki dan melecehkan Nabi SAW.

Hadits tersebut diriwayatkan beberapa kali oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya dan kisahnya juga disebutkan dalam semua kitab Sirah Nabawiyah. Di antara lafal hadits tersebut dalam shahih Bukhari adalah sebagai berikut:

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي رَافِعٍ اليَهُودِيِّ رِجَالًا مِنَ الأَنْصَارِ، فَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَتِيكٍ، وَكَانَ أَبُو رَافِعٍ يُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُعِينُ عَلَيْهِ، وَكَانَ فِي حِصْنٍ لَهُ بِأَرْضِ الحِجَازِ

Dari Barra’ bin Azib berkata: Rasulullah SAW mengirim beberapa orang sahabat Anshar untuk (membunuh) pemimpin Yahudi, Abu Rafi’. Rasulullah SAW mengangkat Abdullah bin Atik sebagai komandan regu untuk tugas tersebut. Abu Rabi’ adalah pemimpin Yahudi yang sering menyakiti dan memusuhi beliau. Ia tinggal di sebuah benteng miliknya di daerah Hijaz…” (HR. Bukhari no. 4039, Al-Baihaqi no. 18100)

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَهْطًا إِلَى أَبِي رَافِعٍ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَتِيكٍ بَيْتَهُ لَيْلًا وَهُوَ نَائِمٌ فَقَتَلَهُ»

“Dari Barra’ bin Azib berkata: Rasulullah SAW mengirim beberapa orang sahabat Anshar untuk (membunuh) pemimpin Yahudi, Abu Rafi’. Maka Abdullah bin Atik memasuki (benteng dan rumah) Abu rafi’ pada malam hari saat ia tengah terlelap tidur, maka Abdullah bin Atik pun segera membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 4038, Al-Baihaqi no. 18100)

Imam Bukhari memasukkan hadits-hadits kisah pembunuhan Abu Rafi’ Al-Yahudi tersebut dalam bab “membunuh orang musyrik yang sedang tidur” (no. hadits 3022 dan 3023) dan bab “pembunuhan atas Abu Rafi’ Abdullah bin Abil Huqaiq” (no. hadits 4038, 4039, 4040). Kisah pembunuhan atas Abu Rafi’ Al-Yahudi juga diriwayatkan oleh imam Abdur Razzaq Ash-Shan’ani, Al-Baihaqi, Abu Ya’la Al-Maushili, Ath-Thabarani dan lain-lain dari jalur Abdullah bin Atik, Abdullah bin Unais dan Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Hadits ini menunjukkan kebolehan membunuh orang-orang mereka (kafir) yang sangat menyakiti Rasulullah SAW. Abu Rafi’ adalah orang yang sangat memusuhi Rasulullah SAW dan ia memprokovasi manusia untuk hal itu.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 6/156)

Makalah disampaikan pada kegaiatan pengajian halaqah tafsir Rabu,23 Januari 2013″ bertempat di Pesantren Bayt Qur’an Perum Villa Bukit Raya No.10 Pondok Cabe Ciputat 15419. Informasi: Tlp. 021-7421661 atau 021-97943494

Bank Mandiri Mendukung Program Training of Trainers Pusat Studi Al-Qur’an

Senin, 21 Januari 2013, bertempat di Pesantren Bayt al-Qur’an, Pondok Cabe, pihak dari Bank Mandiri menyerahkan sumbangan kepada Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ).

Sumbangan tersebut ditujukan untuk mensponsori salah satu program PSQ, yaitu Training of Trainer (ToT) pada tahun 2013 ini. ToT merupakan program yang dimaksudkan untuk membekali para pengajar di bidang tafsir dengan wawasan dan pemahaman tambahan, baik mengenai kaidah penafsiran, maupun tentang nilai-nilai Islam yang moderat dan toleran. Dana yang diberikan oleh Bank Mandiri tersebut akan digunakan untuk penyelenggaraan program ToT di lima kota di Indonesia, yaitu: Sumbawa, Kupang,Sorong,Ternate dan Palu.

Dari pihak Bank Mandiri acara penyerahan bantuan dihadiri oleh Direktur Institutional Banking Abdul Rachman Assegaf, Direktur Finance dan Strategy Pahala N. Mansury dan beberapa karyawan Bank Mandiri. Sedangkan dari pihak PSQ, hadir Ketua Yayasan Dakwah Lentera Hati Indonesia Husein Ibrahim, Direktur PSQ Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Dewan Kurator PSQ Robby Djohan, perwakilan Dewan Pakar PSQ Dr. A. Wahib Mu`thi, MA, Dr. Muchlis Hanafi, MA, dan M. Arifin, MA, yang juga merupakan Ketua Program PSQ.

Turut hadir dalam acara tersebut, General Manager Penerbit Lentera Hati Husni Kamil, para santri Bayt al-Qur’an dan beberapa orang jamaah pengajian Halaqah Tafsir, serta perwakilan dari program PSQ yang lainnya.

Acara dimulai pada pukul 10.30 WIB oleh Manajer Operasional PSQ Artika Mantaram, yang pada hari itu berperan sebagai moderator. Setelah dilakukan pembacaan tilawah oleh Lalu Azhari, salah satu santri Bayt al-Qur’an yang bersal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, acara dilanjutkan dengan pemberian sambutan oleh perwakilan dari kedua pihak.

Sambutan pertama diberikan oleh Ketua Yayasan Dakwah Lentera Hati Indonesia Husein Ibrahim yang menyatakan kegembiraannya akan adanya bantuan tersebut. Beliau selalu percaya bahwa Islam bisa semakin berkembang di Indonesia, kemudian ke seluruh dunia. PSQ diharapkan menjadi salah satu roda penggeraknya, dan bantuan dari Bank Mandiri tentu turut menjadi pendukung terwujudnya cita-cita tersebut.

Direktur Institutional Banking Abdul Rachman Assegaf memberikan sambutan

Selanjutnya, Direktur Institutional Banking Abdul Rachman Assegaf, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan kepada PSQ merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Mandiri, yang kegiatannya terdiri atas tiga pilar utama, yaitu kemandirian komunitas, kemandirian edukasi dan kewirausahaan, serta fasilitas ramah lingkungan. Pada dasarnya, Bank Mandiri ingin berperan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui peningkatan pendidikan dan kemandirian masyarakat itu sendiri.

Hal itu juga yang disebutkan oleh Direktur PSQ Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. yang selanjutnya memberikan sambutan. Bahwa Bank Mandiri bersedia membantu pihak lain selain Bank Mandiri sendiri untuk bersama-sama menjadi mandiri, adalah sesuatu yang patut dihargai.

Penyerahan berkas bantuan Bank Mandiri; ki-ka: Pahala N. Mansury, Abdul Rachman Assegaf, Husein Ibrahim, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Acara ditutup dengan penandatanganan surat penyerahan bantuan dan penyerahan donasi secara simbolik, pada pukul 11.30 WIB. [teks: aca; gambar: agus]

Ulum al-Qur’an [3]

     3. Ruang Lingkup Pembahasan ‘Ulum al-Qur’an

Pembahasan seputar al-Qur’an merupakan pemabahasan yang sangat luas. Didalamnya tercakup berbagai persoalan dan keilmuan yang terkait dengan al-Qur’an secara umum. Syeikh Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menyatakan bahwa ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Qur’an itu mencapai 77.450 buah. Jumlah ini disimpulkan berdasarkan hasil perkalian jumlah kalimat al-Qur’an dengan bilangan empat. Hal ini dikarenakan masing-masing kalimat mempunyai makna zhahir , bathin, hadd, dan mathla‘. Jumlah ini akan semakin bertambah banyak jika melihat urutan kalimat dalam al-Qur’an dan hubungan antar urutan  tersebut. Apabila berpijak pada sisi ini, maka lingkup pembahasan ‘ulum al-Qur’an tidak akan dapat di hitung secara pasti.

Berkenaan dengan lingkup pembahasan ‘Ulum al-Qur’an ini, Prof. T. M. Hasbi al-Shiddiqi menyimpulkan bahwa ruang lingkup atau cakupan pembahasan dalam ‘Ulum al-Qur’an terdiri atas enam hal pokok, yaitu:

1)      Persoalan Turunnya al-Qur’an (Nuzul al-Qur’an) yang menyangkut tiga pembahasan pokok, yakni:

(a)    Persoalan seputar waktu dan tempat turunnya al-Qur’an (awqat wa mawathin al-nuzul),

(b)   Sebab-sebab turunnya al-Qur’an (asbab al-nuzul), dan

(c)    Sejarah turunnya al-Qur’an (tarikh al-nuzul).

2)      Persoalan Sanad (Rangkaian Para Periwayat) yang menyangkut enam pembahasan pokok, yaitu:

(a)    Riwayat mutawatir,

(b)   Riwayat ahad,

(c)    Riwayat syaz,

(d)   Macam-macam qira’at (bacaan)Nabi saw,

(e)    Para Perawi dan Penghafal al-Qur’an, dan

(f)    Cara-cara Penyebaran riwayat (tahamul)

3)      Persoalan Qira’at (Cara Pembacaan al-Qur’an) yang menyangkut:

(a)    Cara berhenti (waqaf),

(b)   Cara memulai (ibtida’),

(c)    Imalah,

(d)   Bacaan yang dipanjangkan (madd),

(e)    Meringankan bacaan Hamzah (tashil),

(f)    Memasukkan bunyi huruf yang sukun (mati) kepada bunyi huruf sesudahnya (idgam).

4)      Persoalan Kata-kata al-Qur’an yang menyangkut:

(a)    Kata-kata al-Qur’an yang asing (garib),

(b)   Kata-kata al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya (murab),

(c)    Kata-kata al-Qur’an yang mempunyai makna serupa (homonim),

(d)   Padanan Kata-kata al-Qur’an (sinonim),

(e)    Istiarah,

(f)    Penyerupaan (tasybih)

5)      Persoalan Makna-makna al-Qur’an yang Berkaitan dengan Hukum yang menyangkut:

(a)    Makna umum yang tetap dalam keumumannya (‘am baqin ‘ala ‘umumihi),

(b)   Makna umum yang dimaksudkan makna khusus (‘am urida bihi al-khosh),

(c)    Makna umum yang maknanya dikhususkan dalil lain (‘am makhshush)

(d)   Nash,

(e)    Makna lahir,

(f)    Makna global (mujmal),

(g)   Makna yang diperinci (mufashshal),

(h)   Makna yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan (manthuq),

(i)     Makna yang dapat dipahami dari konteks pembicaraan (mafhum),

(j)     Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan (muhkam),

(k)   Nash yang mesti ditafsirkan karena terdapat kesamaran didalamnya (mutasyabih),

(l)     Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri (musykil),

(m)  Ayat-ayat “yang menghapus” dan “yang dihapus” (nasikh-mansukh),

(n)   Yang didahulukan (muqaddam),

(o)   Yang diakhirkan (mu’akhkhar)

6)      Persoalan Makna al-Qur’an yang Berpautan dengan Kata-kata al-Qur’an yang menyangkut:

(a)    Berpisah (fashl),

(b)   Bersambung (washl),

(c)    Uraian singkat (ijaz),

(d)   Uraian panjang (ithnab),

(e)    Uraian seimbang (musawat),

(f)    Pendek (qashr)

  1. Cabang-Cabang ‘Ulum al-Qur’an

Berdasarkan uraian diatas, maka cabang-cabang atau pembahasan-pembahasan pokok dalam ‘Ulum al-Qur’an sangat banyak, diantaranya adalah:

(1)   Imu Adab Tilawat al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang aturan-aturan dalam pembacaan al-Qur’an.

(2)   Ilmu al-Tajwid, yaitu ilmu yang menerangkan cara-cara membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, seperti tempat memulai (ibtida’), tempat berhenti (waqf), dan lainnya.

(3)   Ilmu Mawathin Wa Mawaqith al-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat, musim, awal, dan akhir turunnya ayat serta waktu-waktu diturunkannya ayat.

(4)   Ilmu Tawarikh al-Nuzul, yaitu ilmu yang menjelaskan sejarah, masa, dan urutan turun ayat satu demi satu dari awal hingga akhir turunnya.

(5)   Ilmu Asbab al-Nuzul, yaitu Ilmu yang menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat.

(6)   Ilmu al-Qira’at, yaitu ilmu yang menjelaskan ragam bentuk qira’at dalam pembacaan al-Qur’an yang diterima dari Nabi saw.

(7)   Ilmu Garib al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang dianggap asing dan tidak familiar dalam bahasa percakapan sehari-hari.

(8)   Ilmu I‘rab al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan bentuk harakat al-Qur’an dan kedudukan sebuah kata dalam struktur kalimat.

(9)   Ilmu Wujuh wa al-Nazha’ir, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang kata-kata al-Qur’an yang mengemukakan makna lebih dari satu.

(10)     Ilmu al-Muhkam wa al-Mutasyabih, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang ayat-ayat yang dipandang muhkam dan mutasyabih.

(11)     Ilmu al-Nasaikh wa al-Mansukh, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang hal-hal yang terkait dengan penghapusan dan penggantian hukum syara‘ dalam al-Qur’an.

(12)     Ilmu Badai‘u al-Qur’an, yaitu ilmu yang mengungkap bentuk-bentuk keindahan dan stilistika ungkapan bahasa al-Qur’an.

(13)     Ilmu I‘jaz al-Qur’an, yaitu ilmu yang mengungkap segi-segi kemukjizatan al-Qur’an yang melemahkan atau membungkam para penentangnya untuk mengemukakan hal yang sama atau serupa dengan apa yang ada pada al-Qur’an.

(14)     Ilmu Munasabat al-Qur’an, yaitu ilmu yang mengemukakan bentuk-bentuk kesesuaian, keserasian, dak kesatuan organik antara bagian-bagian al-Qur’an, baik antara satu atau kelompok ayat dengan satu atau kelompok ayat lainnya, maupun antara satu atau kelompok surat dengan satu atau kelompok surat lainnya.

(15)     Ilmu Aqsam al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang seluk beluk sumpah dalam al-Qur’an.

(16)     Ilmu Amtsal al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang seluk beluk perumpamaan dalam al-Qur’an.

(17)     Ilmu Jadal al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan tentang cara-cara al-Qur’an dalam mendebat para penentangnya guna menunjukkan bukti kebenaran kandungannya.

(18)     Ilmu Rasm al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang kaidah-kaidah dalam penulisan al-Qur’an.

(19)     Ilmu Qashash al-Qur’an, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang seluk beluk kisah-kisah dalam al-Qur’an.

(20)     Ilmu Fawatih al-Suwar wa Khawatimiha, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk pembukaan surat al-Qur’an dan bentuk-bentuk penutupnya.

(21)     Tarikh al-Qur’an, yaitu pembahasan seputar sejarah al-Qur’an, mulai dari tahap-tahap penurunan (tanazulat al-Qur’an), penulisan, pengumpulan, dan pengkodifikasian, pencetakan, pendistribusian, penerjemahan, dan hal-hal terkait lainnya.

DAFTAR PUSTAKA:

 Abu> Zahrah, al-Ima>m Muhammad, al-Mu‘jizah al-Kubra> al-Qur’a>n: Nuzu>luhu>, Kita>batuhu>, Jam‘uhu>, I‘ja>zuhu>, Jadaluhu>, ‘Ulu>muhu>, Tafsi>ruhu>, Hukm al-Gina>’ bihi>, (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi, 1418 H/1998 M)

Abu Syuhbah, Muhammad, al-Madkhal Li Dirasat al-Qur’an al-Karim, (Riyadh: Dar al-Liwa’, 1987)

‘Abba>s, Fadhl H{asan, Itqa>n al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (‘Oma>n: Da>r al-Furqa>n, 1997)

Amin, Bakri Syeikh, al-Ta‘bir al-Fanni Fi al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1980)

Baidan, Nashruddin, Wawwasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)

Djalal, H. Abdul, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000)

Al-Qaththan, Manna‘ Khalil, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tt)

Al-Sayu>thi, Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rahma>n, Al-Itqa>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqi>q: Muhammad Abu> al-Fadl Ibra>hi>m (Kairo: Maktabah Da>r al-Tura>ts, tt)

Al-Sha>bu>ni, Muhammad ‘Ali, al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Damaskus: Maktabah al-Ghaza>li, 1390 H)

Al-Shaleh, Subhi, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ilmi Li al-Malayin, 1988)

Al-Shiddiqi, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988)

Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad bin ‘Abdulla>h, Al-Burha>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqiq Mushtafa> ‘Abd al-Qa>dir ‘Atho’ (Beirut: Da>r al-Fikr, 1408 H/1988 M)

Al-Zarqa>ni, Muhammad ‘Abd al-‘Azi>m, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Kairo: Maktabah al-Tau>fiqiyyah, tt.)

al-Zahabi, Muh}ammad H{usein, Al-Tafsi>r wa Al-Mufassiru>n (Maktabah Mash’ab bin ‘Umair al-Isla>miyyah, 1424 H/2004 M)

Zarzur, ‘Adna>n Muh}ammad, Madkhal Ila> al-Tafsi>r al-Qur’a>n wa ‘Ulu>mihi, (Damaskus: Da>r al-Qalam, 1419 H/1998 M)

Ulum al-Qur’an [2]

    2. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan tokoh dalam memandang muncullnya istilah “’Ulum al-Qur’an”, diantaranya adalah:

(a)    Dr. Subhi al-Shaleh dalam “Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an” mengemukakan bahwa istilah “’Ulum al-Qur’an” muncul untuk pertama kalinya pada peralihan dari abad III H ke abad IV H, yaitu ketika Muhammad bin Khallaf al-Marzuban (w. 309 H) atau yang di kenal dengan Ibnu al-Marzuban menulis kitab setebal 27 jilid yang berjudul “al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an”.

(b)   Syeikh ‘Abdul ‘Azim al-Zarqani dalam “Manahil al-‘Irfan” menyatakan bahwa istilah “’Ulum al-Qur’an” diperkenalkan untuk pertama kalinya  oleh ‘Ali bin Ibrahim bin Sa‘id al-Hufi (w. 430 H) pada abad V H melalui karya tulis setebal 30 juz yang berjudul “al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an”.

(c)    Imam al-Sayuthi dalam pengantar kitab “al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an” menyatakan bahwa istilah ini pertama kali dimunculkan oleh Abu al-Farj bin al-Jauzi (w. 597 H) pada akhir abad VI H melalui kitab “Funun al-Afnan Fi ‘Aja’ib ‘Ulum al-Qur’an” dan kitab “al-Mujtaba Fi ‘Ulumin Tata‘allaq bi al-Qur’an”. Pandangan ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama yang melihat keberadaan ‘Ulum al-Qur’an pada akhir abad ke-VI H dan memasuki awal abad ke-VII H, selaku disiplin ilmu yang sudah terkodifikasi secara teratur, sistematis, dan utuh melalui kitab Ibn al-Jauzi tersebut.

(d)   Dr. Muhammad Abu Syuhbah dalam “al-Madkhal Li Dirasah al-Qur’an” cenderung menilai kemunculan istilah “’Ulum al-Qur’an” pada abad V H dengan dikenalnya sebuah kitab yang berjudul “al-Mabani fi Nazhm al-Ma’ani” yang ditulis oleh seorang Penulis yang tidak diketahui namanya pada tahun 425 H. Dalam kitab itu sudah  disajikan persoalan seputar makkimadani, nuzul al-Qur’an, pengumpulan al-Qur’an, penulisan al-Qur’an ke dalam bentuk mushaf, penolakan terhadap berbagai keraguan menyangkut pengumpulan, penulisan mushaf, jumlah surat dan ayat, tafsir, ta’wil, muhkammutasyabih, turunnya al-Qur’an dengan tujuh huruf, dan pembahasan-pembahasan lainnya.

(e)  Prof. Dr. T. M. Hasbi al-Shiddiqi dalam buku “Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an” mengemukakan bahwa berdasarkan hasil penelitian sejarah, ternyata Imam al-Kafiji (w. 879 H) merupakan orang pertama yang membukukan ‘Ulum al-Qur’an.

Dan berikut ini akan dikemukakan potret pertumbuhan dan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an semenjak dari masa Nabi Muhammad saw, sahabat, era kodifikasi, sampai perkembangannya pada masa sekarang:

(1). ‘Ulum al-Qur’an Pada Masa Nabi saw dan Sahabat  (‘Ash al-Nabi saw wa al-Sahabah)

Pada masa Nabi Muhammad saw masih hidup (‘ashr al-nabi), keberadaan ‘Ulum al-Qur’an sebagaimana ilmu-ilmu lainnya masih tercecer dan belum dikodifikasi secara sistematis, teratur, dan utuh. Namun, benih-benih selaku embrio ilmu ini sudah dirasakan keberadaannya. Hal ini sangat jelas, karena posisi Rasulullah saw selaku pengemban al-Qur’an yang berkewajiban untuk menyampaikan pesan-pesan dan petunjuk al-Qur’an kepada umat manusia selaku pegangan hidup mereka sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Nahl [16] ayat 44 yang berbunyi:

Artinya: “… Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir”. (Q.S. al-Nahl [16]: 44)

Oleh karenanya, setiap Rasulullah saw menerima wahyu berupa ayat al-Qur’an, beliau selalu menyampaikannya kepada para sahabat dan meminta beberapa orang diantara mereka selaku juru tulis wahyu (Kuttab al-Wahyi) untuk mencatatnya dengan cermat dan teliti. Bahkan Rasulullah saw melarang para sahabat untuk menulis selain al-Qur’an agar tidak terjadi percampuran antara ayat-ayat al-Qur’an dengan selain al-Qur’an. Rasulullah saw menyatakan:

عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تكتبوا عني غير القرآن ومن كتب عني غير القرآن فليمحه وحدثوا عني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه مسلم)

 Artinya: Dari Abi Sa‘id al-Khudri ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menulis dari padaku selain al-Qur’an; siapa saja yang (terlanjur) menulis daripadaku selain al-Qur’an, maka (hendaklah) dia menghapusnya. Dan ceritakanlah daripadaku) dan itu tidak ada masalah. Siapa saja yang sengaja berdusta atas atas namaku, maka bersiap-siaplah untuk mengambil tempatnya di dalam neraka”. (H. R. Muslim).

Rasulullah saw selalu membacakan setiap wahyu yang diterimanya kepada para sahabat dengan tekun dan tenang, sehingga mereka dapat mengikuti bacaan Rasulullah saw dengan baik dan selanjutnya menghafalkan ayat-ayat tersebut. Rasulullah saw juga tak lupa menjelaskan kepada mereka maksud, pesan, dan makna kandungan ayat yang diterimanya agar para sahabat mampu memahami dan mengamalkannya dengan baik sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qiyamah [75] ayat 16-19 yang berbunyi:

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya”. (Q.S. al-Qiyamah [75]: 16-19)

Dan dalam menerima pengajaran dari Rasulullah saw ini, para sahabat menunjukkan minat dan semangat yang tinggi. Bahkan dalam mempelajari al-Qur’an, para sahabat tidak akan berpindah dari satu ayat ke ayat lain sebelum mereka benar-benar memahami dan mengamalkannyanya dengan baik, sehingga Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa Ibnu ‘Umar ra saja memerlukan waktu delapan tahun untuk menghapal surat al-Baqarah.

Mengenai pengajaran dan penjelasan Rasulullah saw terhadap makna ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabat dapat dibuktikan dengan adanya riwayat-riwayat yang memperkuat dan menunjukkan kepada hal tersebut, seperti:

Pertama, Riwayat yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari sahabat Ibnu Mas‘ud ra:

عن عبد الله قال: لما نزلت:”الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بطلم”، شقَّ ذلك على المسلمين، فقالوا: يا رسول الله، ما منّا أحدٌ إلا وهو يظلم نفسه؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”ليس بذلك، ألا تسمعون إلى قول لقمان لابنه إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [سورة لقمان : 13]

 Artinya: Dari ‘Abdullah Ibn Mas‘ud ra berkata: “Tatkala turun firman Allah SWT yang berbunyi: “الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم” (Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kezaliman) (Q.S. al-An‘am [6]: 82), kaum Muslimin merasa tertekan dan kesulitan dan bertanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah saw, siapa sih diantara kami yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri?” Nabi saw menjawab: “Hal itu bukan seperti yang kalian pahami; Bukankah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada putranya bahwa kemusyrikan itu adalah bentuk kezaliman yang besar” (Q.S. Luqman [31]: 13). Itulah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.

 Kedua, Riwayat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad, al-Tirmizi, dan lainnya dari sahabat ‘Adi bin Hatim ra:

عن عدي بن حاتم، قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن قول الله جلّ وعزّ “غير المغضوب عليهم ولا الضالين”، قال: إن المغضوب عليهم هم اليهود, و إن الضالين هم النصارى

 Artinya: Dari ‘Adi bin Hatim ra berkata: “Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang maksud firman Allah SWT “غير المغضوب عليهم ولا الضالين (bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai atas mereka dan orang-orang yang tersesat) (Q.S. al-Fatihah [1]: 7)?” Nabi saw menjawab: “yang dimaksudkan dengan orang-orang yang dimurkai Allah adalah orang-orang Yahudi, dan yang dimaksudkan dengan orang-orang yang tersesat itu adalah orang-orang Nashrani”.

 Ketiga, Riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat ‘Adi bin Hatim ra:

َعنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ “حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ”, عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِي فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِي اللَّيْلِ فَلَا يَسْتَبِينُ لِي فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ

 Artinya: Dari ‘Adi bin Hatim ra berkata: “Tatkala turun ayat “حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ (hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam) (Q.S. al-Baqarah [2]: 187), aku berpegang pada ikatan yang berwarna hitam dan ikatan yang berwarna putih, yang (keduanya) aku letakkan dibawah bantalku. Akupun melihat (kedua ikatan) pada waktu masih malam hari, tapi tetap tidak jelas bagiku. Keesokan harinya aku menghadap kepada Rasulullah saw dan aku ceritakan tentang hal tersebut. Nabi saw lalu mengatakan: “Yang dimaksudkan (ayat itu) adalah hitamnya malam dan putihnya cahaya siang”.

 Dari  keterangan data-data diatas, tampak dengan jelas bahwa keberadaan ilmu-ilmu al-Qur’an pada masa Rasulullah saw disampaikan dengan jalan talqin dan musyafahah atau dari mulut ke mulut. Keadaan ini terus berlanjut setelah wafatnya Rasulullah saw, dimana pucuk kepemimpinan dipegang oleh Khalifah pertama, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq ra.

Pada masa khalifah Abu Bakar ra, para sahabat tetap menaruh perhatian dan minat yang tinggi dalam mengkaji, menyampaikan, dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Pada masa khalifah Abu Bakar ra mulai ada inisiatif untuk mengumpulkan teks-teks al-Qur’an ke dalam satu mashaf, karena adanya kekhawatiran hilangnya teks-teks tersebut yang masih tersebar dalam bentuk tulisan di tulang belulang, bebatuan, atau pelepah kurma. Keadaan ini masih berlanjut pada masa Khalifah kedua yaitu ‘Umar bin Khaththab ra.

Pada masa khalifah ‘Umar ra ditengarai sudah mulai adanya inisiatif untuk meletakkan titik-titik bagi beberapa huruf (tanqith) guna membedakan bentuk satu huruf dengan huruf lainnya yang memiliki kemiripan. Hal ini berawal dari suatu kasus salah seorang prajurit muda yang bermaksud pulang ke kampung halamannya setelah mengikuti satu pertempuran dalam penyebaran Islam. Ketika pemuda tersebut menghadap kepada khalifah ‘Umar ra dan memohon izin untuk pulang, khalifah meminta kepadanya untuk membawa sepucuk surat agar dia menyerahkannya kepada gubernur wilayah kampung halamannya. Dalam surat tersebut, khalifah ‘Umar ra menulis satu kalimat yang berbunyi: أقبل حامل هذه الرسالة(artinya: sambutlah dengan hangat pembawa surat ini) tanpa adanya titik-titik pada huruf-huruf kalimat tersebut. Ketika pemuda tersebut menyerahkan surat khalifah ‘Umar ra itu kepada Gubernurnya, maka sang Gubernur lalu membacanya. Setelah membaca isi surat, maka tampak adanya keheranan, kebingungan dan tanda tanya yang terpancar dari wajah sang Gubernur yang saat itu membacanya dengan ungkapan أقتل حامل هذه الرسالة(artinya: bunuhlah pembawa surat ini). Sang gubernur lalu menyuruh ajudannya untuk menghadap kepada khalifah ‘Umar ra dan mempertanyakan apa bentuk kesalahan pemuda yang membawa surat tersebut sehingga beliau memerintahkan Gubernur untuk membunuhnya. Khalifah ‘Umar ra tersentak dan menegaskan bahwa dia tidak bermaksud memerintahkan Gubernur untuk membunuhnya, melainkan titah untuk memuliakannya dengan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya. Maka, atas kasus tersebut diusulkan untuk meletakkan titik-titik bagi beberapa huruf (tanqith) guna menghindari kekeliruan dalam membedakan bentuk satu huruf dengan huruf lainnya yang memiliki kemiripan. Namun peletakan titik untuk beberapa huruf ini belum diarahkan kepada penulisan al-Qur’an. Karena penulisan al-Qur’an ditengarai sepenuhnya berdasarkan keterangan yang didengar dan diterima secara langsung dari Nabi saw (sima‘i). Dan al-Qur’an yang baru dikumpulkan pada masa khalifah Abu Bakar ra hanya disimpan di rumah Siti Hafshah, dan baru dikaji atau direvis ulang penulisan dan pengumpulannya pada masa khalifah ketiga, yaitu Utsman bin ‘Affan ra. Abu Syuhbah menggarisbawahi bahwa sebenarnya pemberian titik-titik pada sebagian huruf ini guna membedakan antara yang satu dengan yang lain bahkan sudah dikenal sebelum Islam muncul; hanya saja para sahabat zaman Nabi saw tidak memberlakukannya dalam penulisan al-Qur’an karena alasan di atas.

Pada masa khalifah Utsman ra, keberadaan ‘Ulum al-Qur’an mengalami perkembangan dari sebelumnya. Pada masa Utsman ra ini Islam semakin tersebar ke berbagai pelosok yang berdampak kepada adanya kontak dan kerjasama antara bangsa Arab dengan bangsa non-Arab (‘ajam). Karena beberapa faktor, khalifah Utsman melihat adanya tuntutan untuk menyeragamkan al-Qur’an dalam satu mushaf standard guna menghindari perpecahan dikalangan umat Islam. Mushaf standard itu dikenal dengan mushaf al-Imam atau mushaf Utsmani. Langkah khalifah Utsman untuk menyeragamkan al-Qur’an dalam satu mushaf standar ini merupakan titik awal berkembangnya salah satu cabang ‘Ulum al-Qur’an, yakni Ilmu Rasm al-Qur’an.

Setelah itu, datanglah masa kepemimpinan khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra. Pada masa khalifah ‘Ali ra ini wilayah Islam semakin meluas sehingga kontak antara bangsa Arab dan non-Arab semakin luas. Apalagi khalifah ‘Ali ra memusatkan pemerintahannya di kota Kufah, Irak. Salah satu dampak negatif dari kontak bangsa Arab dengan non-Arab adalah ternodanya kefasihan bahasa Arab. Salah seorang bawahan dan murid beliau yang bernama Abu al-Aswad al-Du’ali sering mendengarkan suatu ungkapan yang menimbulkan kerusakan tatanan bahasa Arab yang fasih. Kejadian-kejadian itu mengkhawatirkan Abu al-Aswad al-Du’ali akan berdampak kepada rusaknya sistem bahasa Arab yang fasih. Oleh karenanya, Abu al-Aswad mengemukakan kegelisahan dan kekhawatirannya kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Sebagai upaya tindak lanjut atas laporan dari Abu al-Aswa al-Duali, khalifah ‘Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Abu al-Aswa al-Duali untuk menetapkan beberapa rumusan kaidah kebahasaan guna menjaga dan memelihara kemurnian dan kefasihan bahasa Arab selaku bahasa al-Qur’an. Dengan demikian Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra dan Abu al-Aswa al-Duali telah meletakkan dasar pertama bagi perkembangan ilmu Nahwu atau Ilmu I‘rab al-Qur’an.

Dari keterangan berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan ‘Ulum al-Qur’an pada masa sahabat khulafa’ al-Rasyidin (‘ahd al-sahabah) masih sama dengan masa Rasulullah saw dan hanya mengalami sedikit perkembangan. ‘Ulum al-Qur’an belum terkodifikasi dan menyatu dengan ilmu tafsir selaku induk ilmu-ilmu al-Qur’an (Umm al-‘Ulum al-Qur’aniyyah). Dengan demikian dapat ditetapkan tokoh-tokoh yang berjasa dalam merintis perkembangan dan pertumbuhan ‘Ulum al-Qur’an pada abad I H di era Khulafa’ al-Rasyidin adalah para sahabat yang di kenal memiliki pengetahuan dalam ilmu tafsir dan memiliki semangat dalam mengumpulkan al-Qur’an. Diantara mereka adalah: (1) Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq ra; (2) Khalifah ‘Umar bin Khaththab ra; (3) Khalifah Utsman bin ‘Affan ra; (4) Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra; (5) Ibnu ‘Abbas ra; (6) Ibnu Mas‘ud ra; (7) Zaid bin Tsabit ra; (8) Ubai bin Ka‘ab ra; (9) Abu Musa al-Asy‘ari ra; (10) ‘Abdullah bin Zubair; Mu‘awiyah bin Abu Sufyan ra; (11) Abu al-Aswad al-Du’ali. Disamping para sahabat tersebut, juga ada kalangan tabi‘in selaku murid langsung dari para sahabat tersebut, diantaranya adalah: (1) Mujahid bin Jabr; (2) Sa‘id bin Jubair; (3) Thawus bin Kisan; (4) Atho’ bin Abi Rabah; (5) ‘Ikrimah; (6) Masruq bin al-Ajda‘; (7) ‘Alqamah bin Qais al-Nakha‘i; (8) al-Aswad bin Yazid; (9) Qatadah bin Di‘amah al-Sadusi; (10) Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami; (11) ‘Amr bin Syurahbil; (12) Abu al-‘Aliyah al-Rayahi; (13) Zaid bin Aslam; (14) Muhammad bin Ka‘ab al-Qurazhi; (15) Hasan al-Bashri; dan lain-lain. Mereka dianggap sebagai peletak dasar ilmu-ilmu yang dikenal dengan Ilmu Tafsir, Ilmu Asbab al-Nuzul, Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu Garib al-Qur’an, dan ilmu-ilmu lainnya dari berbagai cabang ‘Ulum al-Qur’an.

 (2)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad II H

Para ulama menilai bahwa pada abad ke II H telah terjadi penyusunan dan penulisan beberapa bidang ilmu-ilmu agama, termasuk ‘Ulum al-Qur’an dalam bentuk bagian-bagian yang belum terkodifikasi secara teratur sebagai satu disiplin ilmu yang utuh. Pada awal abad ini telah ada upaya tindak lanjut terhadap pengembangan keilmuan yang dirintis pada abad I H (‘ashr al-sahabat) seperti keberadaan ilmu Rasm al-Qur’an yang dirintis oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan ra dan ilmu Nahwu yang dikemukakan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra atas gagasan murid beliau Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H). Pada abad II H ini para ulama melihat adanya perkembangan ilmu Tafsir al-Qur’an yang ditandai oleh munculnya para penulis tafsir dari kalangan tabi‘in selaku murid-murid para sahabat yang kompeten di bidang tafsir. Dan ilmu tafsir dipandang sebagai induk ‘Ulum al-Qur’an. Sebab, pembahasan-pembahasan yang merupakan bagian dari ‘Ulum al-Qur’an masih menyatu dengan ilmu tafsir. Diantara ulama yang menyusun kitab tafsir pada abad ke II H ini adalah:

(a)    Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H)

(b)   Syu‘bah bin Hajjaj (w. 160 H)

(c)    Sufyan al-Tsauri (w. 161 H)

(d)   Waki‘ bin Jarrah (w. 197 H)

(e)    Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H)

Disamping para penulis tafsir tersebut, pada abad ke II H ditengarai ada seorang ulama yang telah menulis tentang Nasikh dan Mansukh, yaitu Qatadah bin Di‘amah (w. 118 H).

 (3)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad III H

Pada abad ke-III H ini, muncul para ulama yang menulis tentang cabang-cabang ‘Ulum al-Qur’an disamping tafsir dan ilmu tafsir. Diantara ulama tersebut adalah:

(a)    Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i (w. 204 H) menulis tentang Ahkam al-Qur’an dan beberapa pembahasan terkait dengan ‘Ulum al-Qur’an dalam kitab al-Risalah;

(b)    Muhammad bin al-Mustamir (w. 206 H) menulis tentang Ilmu Tasyabuh al-Qur’an;

(c)    Abu ‘Ubaidah al-Mutsanna (w. 209 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an;

(d)   Abu ‘Ubaid bin Salam (w. 224 H) menulis tentang Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh, ilmu Qira’at, dan Fadha’il al-Qur’an;

(e)    ‘Ali bin al-Madini (w. 234 H) merupakan guru dari Imam al-Bukhari yang menulis tentang Asbab al-Nuzul;

(f)    Imam al-Jahizh (w. 255 H) menulis tentang Nazhm al-Qur’an; yang mengemukakan sisi kemukjizatan al-Qur’an;

(g)   Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H) menulis tentang Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh;

(h)   Ibnu Quthaibah al-Dainuri (w. 276 H) menulis tentang Ilmu Musykil al-Qur’an; dan

(i)     Muhammad bin Ayyub al-Dhirris (w. 294 H) menulis kitab tentang Ilmu al-Makki dan al-Madani.

(4)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad IV H

Para ulama menilai bahwa pada abad ke-IV H ini mulai dikemukakan tulisan tentang Garib al-Qur’an (Kosa kata al-Qur’an yang dipandang asing) dan beberapa pembahasan dalam ‘Ulum al-Qur’an dengan mempergunakan istilah ‘Ulum al-Qur’an secara jelas dan tegas. Diantara ulama yang menyusun pembahasan tentang ‘Ulum al-Qur’an pada abad ke-IV H ini adalah:

(a)    Muhammad bin Zaid al-Wasithi (w. 306 H) menulis tentang Ilmu I‘jaz al-Qur’an;

(b)   Muhammad bin Khalaf al-Marzuban (w. 309 H) yang menulis kitab al-Hawi Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)    Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H) menulis kitab al-Mukhtazan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(d)   Abu Bakar Muhammad bin Qasim al-Anbari (w. 328 H) menulis kitab ‘Aja’ib ‘Ulum al-Qur’an yang mengemukakan uraian tentang keutamaan al-Qur’an, perihal turunnya dalam tujuh huruf, penulisan dan pengumpulannya dalam mushaf, dan jumlah bilangan surat, ayat, dan kalimat;

(e)    Abu Bakar al-Sijistani (w. 330 H) menulis tentang Garib al-Qur’an;

(f)    Abu Ja‘far al-Nahhas (w. 338 H) menulis tentang al-Waqf wa al-Isti’naf;

(g)   Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad bin ‘Ali al-Karkhi (w. 360 H) menulis kitab Nukat al-Qur’an al-Dallah ‘ala al-Bayan Fi Anwa‘ al-‘Ulum wa al-Ahkam al-Munbi’ah ‘an Ikhtilaf al-Anam;

(h)   Imam al-Rumani (w. 384 H) menulis tentang Ilmu I‘jaz al-Qur’an;

(i)     Abu Sulaiman al-Khaththabi (w. 388 H) menulis kitab Bayan I‘jaz al-Qur’an;

(j)     Muhammad bin ‘Ali al-Adfawi (w. 388 H) menyusun kitab setebal 20 jilid dengan judul al-Istigna’ Fi ‘Ulum al-Qur’an.

 (5)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad V H

Pada abad ke V H perkembangan ‘Ulum al-Qur’an terus mengalami peningkatan. Pada abad ini sudah mulai disusun Ilmu I‘rab al-Qur’an dalam satu kitab utuh. Diantara ulama ‘Ulum al-Qur’an yang muncul pada abad ke V H ini adalah:

(a)    Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin al-Thayyib al-Baqillani (w. 403 H) menulis kitab tentang I’jaz al-Qur’an dan al-Intishar li al-Qur’an;

(b)   Al-Syarif al-Murtadha (w. 406 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an;

(c)    ‘Ali bin Ibrahim al-Khufi (w. 430 H) menulis kitab, yaitu al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an, yang disamping berisi penafsiran al-Qur’an, juga menjelaskan pembahasan dalam ilmu-ilmu al-Qur’an yang ada kaitannya dengan ayat-ayat yang ditafsirkan. Disamping itu al-Khufi juga menulis kitab tentang Ilmu I‘rab al-Qur’an;

(d)   Abu ‘Amr al-Dani (w. 444 H) menulis beberapa kitab tentang Ilmu Qira’at, seperti al-Taisir bi al-Qira’at al-Sab‘, al-Waqfu wa al-Ibtida’, dan al-Muhkam Fi al-Nuqath;

(e)    Abu Hasan al-Mawardi (w. 450 H) menulis tentang Ilmu Jidal al-Qur’an;

(f)    Yusuf bin ‘Abd Allah bin Muhammad ‘Abd al-Barr atau yang dikenal dengan Ibnu ‘Abd al-Barr (w. 463 H) menulis setidaknya lima kitab tentang ‘Ulum al-Qur’an, yaitu: (1) al-Bayan ‘an Tilawah al-Qur’an; (2) al-Iktifa’ Fi al-Qira’at; (3) al-Tajwid wa al-Madkhal Ila ‘Ilmi al-Qira’at bi al-Tahdid; (4) al-Madkhal Fi al-Qira’at; dan (5) Ikhtishar Ahkam al-Qur’an;

(g)   Imam al-Wahidi al-Naisaburi (w. 468 H) menulis tentang Ilmu Asbab al-Nuzul;

(h)   ‘Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 471 H) menulis beberapa kitab tentang kemukjizatan dan kebalagahan al-Qur’an, seperti al-Risalah al-Syafiyah Fi al-I‘jaz, Dala’il al-I‘jaz, dan Asrar al-Balagah.

(6)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VI H

Pada abad ke VI H, pertumbuhan ‘Ulum al-Qur’an terus berkembang dengan munculnya para ulama yang mengemukakan pembahasan-pembahasan ilmu-ilmu ini dalam satu karya yang semakin teratur dan sistematis. Diantara ulama yang muncul pada abad ke VI H ini adalah:

(a)    Imam al-Ragib al-Ashfahani (w. 502 H) menulis kitab Ilmu Mufradat al-Qur’an;

(b)   Abu al-Qasim bin ‘Abd al-Rahman al-Suhaili (581 H) yang menulis tentang Ilmu Mubhamat al-Qur’an dalam kitab al-Ta‘rif wa al-I‘lam Bima Ubhima Fi al-Qur’an Min al-Asma’ wa al-A‘lam;

(c)    Imam al-Syathibi (w. 590 H) yang menulis tentang Ilmu al-Qira’at dalam kitab yang berjudul Nuzhum al-Qira’at al-Sab‘i;

(d)   Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menulis kitab Funun al-Afnan Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan al-Mujtaba Fi ‘Ulum Tata‘allaqu Bi al-Qur’an.

 (7)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VII H

Pertumbuhan dan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an pada abad ke VII H ditandai dengan munculnya para ulama yang mengemukakan karya tulis seputar ilmu-ilmu tersebut, diantaranya adalah:

(a)    Imam al-‘Akbari (w. 616 H) menulis tentang Ilmu I‘rab al-Qur’an;

(b)   ‘Alam al-Din al-Sakhawi (w. 643 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an dan Ilmu al-Qira’at melalui kitabnya Munzhumat al-Sakhawiyyah dan kitab Jamal al-Qurra’ wa Kamal al-Iqra’;

(c)    Ibnu ‘Abd al-Salam (w. 660 H) menulis tentang Majaz al-Qur’an;

(d)   Abu Syamah ‘Abd al-Rahman bin Isma‘il al-Maqdisi (w. 665 H) menulis kitab berjudul al-Mursyid al-Wajiz Fi Ma Yata‘allaqu Bi al-Qur’an al-‘Aziz.

(8)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VIII H

Para ulama memandang bahwa abad ke VIII H merupakan abad kecemerlangan dalam perkembangan ‘Ulum al-Qur’an dengan munculnya para tokoh yang mengemukakan pembahasan-pembahasan baru dalam ‘Ulum al-Qur’an yang melengkapi dan menyempurnakan pembahasan-pembahasan sebelumnya. Diantara ulama yang muncul pada abad ke VIII H ini adalah:

(a)    Ahmad bin Ibrahim bin Zubair al-Tsaqafi (w. 708 H) guru dari Abu Hayyan al-Andalusi, menulis tentang Munasabah al-Qur’an melalui karyanya al-Burhan Fi Tanasub Suwar al-Qur’an;

(b)   Najm al-Din al-Thufi (w. 716 H) menulis tentang Ilmu Jidal al-Qur’an atau Hujaj al-Qur’an;

(c)    Taqiy al-Din Ahmad Ibn Taimiyah al-Harani (w. 728 H) menulis tentang Ilmu Ushul al-Tafsir;

(d)   Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 752 H) menulis tentang Aqsam al-Qur’an atau sumpah-sumpah dalam al-Qur’an;

(e)    Badr al-Din al-Zarkasyi (w. 794 H) menulis kitab yang berjudul al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)    Ibn Abi al-Ishba‘ menulis tentang Ilmu Bada’i‘ al-Qur’an atau bentuk-bentuk keindahan bahasa dan kandungan makna al-Qur’an.

(9)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad IX H

Abad ke IX H merupakan kelanjutan dari kecemerlangan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an dari abad sebelumnya. Para ulama pada abad ke IX ini semakin mengembangkan dan memperdalam pembahasan ‘Ulum al-Qur’an. Diantara ulama yang muncul pada abad ini adalah:

(a)    Imam Jalal al-Din al-Bulqini (w. 824 H) menulis kitab yang berjudul Mawaqi‘ al-‘Ulum Min Mawaqi‘ al-Nujum, yang memuat 50 persoalan ‘Ulum al-Qur’an. Imam al-Suyuthi menilai bahwa Imam Jalal al-Din al-Bulqini selaku pelopor dalam penyusunan kitab ‘Ulum al-Qur’an yang lengkap dan utuh;

(b)   Muhammad bin Sulaiman al-Kafiyaji (w. 879 H) menyusun kitab al-Taisir Fi Qawa‘id al-Tafsir, yang berisikan penjelasan tentang makna tafsir, takwil, arti surat, ayat, dan syarat-syarat menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yi (akal);

(c)    Burhan al-Din al-Biqa‘i (w. 885 H) menulis tentang penafsiran berdasarkan kesesuaian, keserasian, dan kesatuan ayat-ayat al-Qur’an melalui kitab Nazhm al-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar. Kitab ini dipandang selaku kitab terbaik dalam mengemukakan dan menampakkan munasabat di dalam al-Qur’an.

 (10)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad X H

Abad ke-X H dipandang oleh para ulama selaku abad penyempurnaan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an. Karena pada abad ini muncul seorang tokoh yang menulis tentang ‘Ulum al-Qur’an secara lengkap, yaitu Imam Jalal al-Din al-Sayuthi (w. 911 H) yang setidaknya menyusun sembilan buah karangan yang terkait dengan ‘Ulum al-Qur’an, yaitu: (a) Tanasuq al-Durar Fi Tanasub al-Suwar; (b) al-Tahbir Fi ‘Ulum al-Tafsir; (c) al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an; (d) al-Durr al-Mantsur Fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur; (e) Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul; (f) Mu‘tarak al-Aqran Fi I‘jaz al-Qur’an; (g) Marashid al-Mathali‘ Fi Tanasub al-Maqathi‘ wa al-Mathali‘; (h) Mufahhamat al-Aqran Fi Mubhamat al-Qur’an; dan (i) Thabaqat al-Mufassirin.

Para ulama juga menilai abad ke X ini selaku awal kemunduran perkembangan ‘Ulum al-Qur’an. Hal ini dikarenakan sedikitnya para ulama yang muncul dibandingkan masa-masa sebelumnya. Keadaan ini juga ditengarai disebabkan oleh anggapan bahwa ‘Ulum al-Qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan berhenti dengan berhentinya kegiatan para ulama dalam mengembangkan ilmu-ilmu al-Qur’an. Kebekuan dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an ini terus berlanjut sampai akhir abad ke XIII H dan bangkit kembali pada abad ke XIV H.

(11)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad XIV-XVH

Abad XIV merupakan awal abad modern, dimana pada abad ini para perintis dan pembaharuan pemikiran Islam berusaha untuk membangkitkan kembali kondisi umat Islam yang mengalami keterpurukan, keterbelakangan, dan kemandegan pemikiran dalam berbagai bidang kehidupan. Dr. Muhammad Syakib Arselan dalam kitab “Limaza Ta’akhkhara al-Muslimun Wa Taqaddama Gairuhum” menilai bahwa salah satu sebab terjadinya kondisi ini adalah semakin terabaikannya nilai-nilai petunjuk kitab suci al-Qur’an dari kehidupan kaum Muslimin. Mereka jauh dari ajaran dan petunjuk al-Qur’an. Oleh karena itu, para perintis dan pembaharuan pemikiran Islam berusaha untuk mengintesifkan interaksi mereka dengan al-Qur’an guna menemukan solusi cerdas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghimpit dunia Islam dan kaum Muslimin. Atas usaha sungguh-sungguh ini, maka lahirlah karya-karya baru yang berhubungan dengan al-Qur’an, seperti tafsir, ilmu tafsir, dan ‘Ulum al-Qur’an.

Diantara para ulama yang memberikan perhatian besar dalam menyusun kitab-kitab yang berhubungan dengan pembahasan-pembahasan dalam ‘Ulum al-Qur’an pada abad XIV H ini adalah:

(a)    Imam al-Dahlawi menulis kitab al-Fauz al-kabir Fi ushul al-Tafsir;

(b)   Al-Syeikh Thahir al-Jazairi menulis kitab al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)    Jamal al-Din al-Qasimi menulis kitab al-Qur’an wa al-‘Ulum al-‘Ashriyyah, dan Mahasin al-Ta’wil, dimana pada juz pertama kitab ini dikhususkan untuk pembahasan ‘Ulum al-Qur’an;

(d)   Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zarqani menulis kitab Manahil ‘Irfan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(e)    Muhammad ‘Ali Salamah menulis kitab Manhaj al-Furqan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)    ‘Abd al-Hamid al-Farahi menulis kitab Dala’il al-Nizham;

(g)   Badi‘ al-Zaman Sa‘id Mirza al-Nursi menulis kitab al-Kalimat;

(h)    Mushtafa Shadiq al-Rafi‘i menulis kitab I‘jaz al-Qur’an;

(i)     Sayyid Quthub menulis kitab al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an;

(j)     Malik bin Nabi menulis kitab al-Zhahirat al-Qur’aniyyah;

(k)   Muhammad al-Gazali menulis kitab Kaifa Nata‘amal Ma‘a al-Qur’an, dan Nazharat Fi al-Qur’an;

(l)     Muhammad ‘Abd Allah Diraz menulis kitab al-Naba’ al-‘Azim: Nazharat Jadidah Fi al-Qur’an, Madkhal Ila al-Qur’an, dan Hashshad Qalam;

(m) Imam Abu Zahrah menulis kitab al-Mu‘jizah al-Kubra al-Qur’an: Nuzuluhu, Kitabatuhu, Jam‘uhu, I‘jazuhu, Jadaluhu, ‘Ulumuhu, Tafsiruhu, Hukm al-Gina’ Bihi;

(n)   Muhammad Shadiq ‘Arjun menulis kitab tentang I‘jaz al-Qur’an;

(o)   ‘Abd al-Qadir ‘Atho’ menulis kitab ‘Azhmat al-Qur’an;

(p)   Muhammad Mahmud Hijazi menulis kitab al-Wahdah al-Maudhu‘iyyah Fi al-Qur’an al-Karim;

(q)   Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi menulis kitab al-Mu‘jam al-Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim;

(r)     Khalid ‘Abd al-Rahman al-‘Akk menulis kitab Ushul al-Tafsir Wa Qawa‘iduhu;

(s)    Muhammad Abu Syuhbah menulis kitab al-Madkhal Li Dirasat al-Qur’an;

(t)     Dr. Subhi al-Shaleh menulis kitab Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an;

 Perhatian besar dalam berinteraksi dengan al-Qur’an ini terus berlanjut dan semakin berkembang pada abad ke-XV H. Perhatian ini juga terlihat jelas dengan semakin menggeliatnya kajian-kajian seputar al-Qur’an yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam dan departemen keagamaan Islam. Banyak universitas dan lembaga pendidikan tinggi Islam yang mulai membuka secara khusus jurusan-jurusan dan program-program studi yang terkait dengan ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti Universitas al-Azhar di Kairo, Universitas al-Zaitunah di Tunisia, Universitas Umm al-Qura di Makkah, Universitas Qum Iran, Universitas Ahl al-Bait di Yordania, dan universitas-universitas serta perguruan tinggi Islam lainnya di berbagai penjuru dunia. Dari universitas dan perguruan tinggi Islam ini muncul kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah, termasuk dalam meneliti kajian-kajian ke-al-Qur’an-an, sehingga melahirkan karya tulis yang tak terhitung jumlahnya. Diantara ulama dan tokoh yang mengemukakan karya tulis tentang ‘Ulum al-Qur’an pada abad XV ini adalah:

(a)      Sa‘id Hawwa menulis kitab al-Asas Fi Qawa‘id al-Ma‘rifat wa Dhawabith al-Fahm Li al-Nushush;

(b)     Manna‘ Khalil al-Qaththan menulis kitab Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)      Al-Sayyid Ahmad ‘Abd al-Gaffar menulis kitab Fi al-Dirasat al-Qur’aniyyah: al-Janib al-Tarikhi, al-Janib al-Uslubi, al-Janib al-Balagi;

(d)     Muhammad Quthub menulis kitab Dirasat Qur’aniyyah;

(e)      Muhammad ‘Ali al-Shabuni menulis kitab al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)      Ahmad al-Syirbashi menulis kitab tentang Qashash al-Qur’an;

(g)     Muhammad Sayyid Thanthawi menulis kitab tentang al-Qishshah Fi al-Qur’an al-Karim;

(h)      Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Makki menulis kitab al-Qawa‘id al-Asasiyyah Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan Zubdat al-Itqan;

(i)       Syeikh Muhammad bin Ibrahim menulis kitab al-Jawab al-Wadhih al-Mustaqim Fi al-Tahqiq Fi Kaifiyyat Inzal al-Qur’an al-Karim

(j)       ‘Abd al-Fattah Abu Sinnah menulis kitab ‘Ulum al-Qur’an;

(k)     Muhammad Hadi Ma‘rifat menulis kitab al-Tamhid Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan Tarikh al-Qur’an;

(l)       Nashr Hamid Abu Zaid menulis kitab Mafhum al-Nash: Dirasat Fi ‘Ulum al-Qur’an, Isykaliyyat al-Qira’ah wa Aliyat al-Ta’wil, dan Naqd al-Khithab al-Dini;

(m)   Muhammad Syahrur menulis kitab al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah Mua‘shirah;

(n)     Fadhl Hassan ‘Abbas menulis kitab Itqan al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(o)     Ziyad Khalil al-Dagamin menulis kitab I‘jaz al-Qur’an Wa Ab‘aduhu al-Hadhriyyah Fi Fikr al-Nursi;

(p)     ‘Abd al-Karim Hamidi menulis kitab Dhawabith Fi Fahm al-Nash;

(q)     Muhammad ‘Abid al-Jabiri menulis kitab Madkhal Ila al-Qur’an;

(r)       Shalah ‘Abd Fattah al-Khalidi menulis kitab Mafatih Li al-Ta‘amul Ma‘a al-Qur’an;

(s)      Al-Mutsanna ‘Abd al-Fattah Mahmud menulis kitab Nazhariyyat al-Siyaq al-Qur’ani;

(t)       Mushtafa Muslim menulis kitab Mabahits Fi I‘jaz al-Qur’an;

(u)     ‘Imran Sumaih Nazzal menulis kitab al-Madkhal al-‘Ilmi wa al-Ma‘rifi Li Fahm al-Qur’an al-Karim: Nazharat Fi al-Tajdid al-Manhaji;

(v)     ‘Adnan Muhammad Zarzur menulis kitab Madkhal Ila Tafsir al-Qur’an wa ‘Ulumihi;

(w)   Fahd bin ‘Abd al-Rahman al-Rumi menulis kitab Buhuts Fi Ushul al-Tafsir Wa Manahijuhu;

(x)     ‘Abd al-Muta‘al al-Jabari menulis kitab al-Nasakh fi al-Syari‘ah al-Islamiyah Kama Afhamuhu, dan La Naskha fi al-Qur’an; Limaza?;

(y)     ‘Abd al-Shabur Syahin menulis kitab Tarikh al-Qur’an: Difa‘  Dhidda Hajamat al-Istisyraq;

(z)      Ibrahim ‘Abdurrahman Khalifah menulis kitab Minnah al-Mannan Fi ‘Ulum al-Qur’an.

(12)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia

Semangat untuk berinteraksi dengan al-Qur’an melalui pengkajian dan pengembangan ‘Ulum al-Qur’an meluas ke seluruh penjuru dunia dimanapun umat Islam berada, termasuk di Indonesia. Semangat dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia sudah tampak dari adanya naskah kitab dan buku-buku tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Indonesia, baik yang di tulis dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Melayu, maupun bahasa-bahasa daerah. Semangat pengembangan ‘Ulum al-Qur’an ini semakin tampak dari adanya inisiatif pemerintah (Departemen Agama RI) untuk membentuk Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Qur’an, menunjuk TIM penulis Tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang terus mengalami revisi, perbaikan, dan penyempurnaan, serta membangun Bait al-Qur’an. Disamping melalui langkah pemerintah tersebut,  semangat pengembangan ‘Ulum al-Qur’an juga tampak dari adanya lembaga pendidikan Islam swasta dan lembaga non-pendidikan yang memfokuskan diri dalam  al-Qur’an dan keilmuannya, seperti lembaga Tahfiz al-Qur’an, Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ), Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) dan lembaga-lembaga lainnya. Demikian juga dengan Pendidikan Tinggi Islam Negeri yang bernaung di bawah Departemen Agama mulai membuka program dan jurusan Tafsir/Hadits dan ‘Ulum al-Qur’an, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN ‘Alauddin Makassar, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, IAIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Wali Songo Semarang, IAIN al-Raniri Banda Aceh, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Raden Fatah Palembang, dan Pendidikan Tinggi Islam Negeri lainnya.

Diantara ulama dan tokoh Indonesia yang memiliki andil dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an adalah:

(a)    Syeikh ‘Abd al-Rauf Singkel yang menulis Tafsir Tarjuman al-Mustafid pada abad ke- 17 M. Kitab ini merupakan kitab tafsir pertama yang ditulis di Nusantara dalam bahasa Melayu;

(b)   Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Jawi yang menyusun kitab Tafsir Marah Labid dalam bahasa Arab pada abad ke-19 M;

(c)     Prof. H. Mahmud Yunus yang menulis buku Tafsir al-Qur’an al-Karim Bahasa Indonesia;

(d)   Prof. T.M. Hasbi al-Shiddiqi yang menulis kitab Tafsir al-Nur dan beberapa buku tentang ‘Ulum al-Qur’an, seperti buku Ilmu-Ilmu al-Qur’an: Membahas Ilmu-Ilmu Pokok Dalam Menafsirkan al-Qur’an;

(e)    Prof. K.H. R. Muhammad ‘Adnan menulis Tafsir al-Qur’an Suci dalam bahasa Jawa;

(f)    K. H. M. H. D. Ramli menulis al-Kitab al-Mubin Tafsir al-Qur’an dalam bahasa Sunda;

(g)   Drs. Muhammad Rifa‘i menulis tentang Al-Qur’an dan Terjemahannya;

(h)   H. Oemar Bakry yang menulis Tafsir Rahmat;

(i)     Prof. HAMKA yang menulis Tafsir al-Azhar;

(j)     Bachtiar Surin yang menulis Al-Zikra: Terjemah dan Tafsir al-Qur’an dalam Huruf Arab dan Latin;

(k)   Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menulis tentang Tafsir al-Amanah, Wawasan al-Qur’an, Membumikan al-Qur’an, Tafsir al-Mishbah, dan beberapa buku terkait lainnya;

(l)     K.H. Mustofa Bisri menulis Tafsir al-Ubairiz dalam bahasa Jawa;

(m) Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis tentang Tafsi bi al-Ma’tsur dan Tafsir Sufi;

(n)   AG. H. Daud Isma‘il menulis Tarjumana Nenniya Tafsẻrẻna Juzu’ Mammulangngẻ Mabbicara Ogi, sebuah kitab tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis.     

 Disamping kitab dan buku-buku tafsir al-Qur’an di atas, para ulama, tokoh, dan pemerhati ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia juga menulis tentang pembahasan-pembahasan ‘Ulum al-Qur’an lainnya. Diantaranya adalah:

(a)    Prof. Dr. H. ‘Abdul Jalal H.A. menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(b)   Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menulis buku Mukjizat al-Qur’an: Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib, dan  Sejarah ‘Ulum al-Qur’an (bersama TIM);

(c)    Prof. Dr. Taufik Adnan Amal menulis buku Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an;

(d)   Prof. Dr. M. Dawam Raharjo menulis tentang Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci;

(e)    Prof. Dr. Nashruddin Baidan menulis buku Wawasan Baru Ilmu Tafsir;

(f)    Prof. Dr. Sa‘id Agil Husein al-Munawwar menulis buku I‘jaz al-Qur’an dan Metodologi Tafsir;

(g)   Prof. Dr. Roem Rowi menulis buku Menafsir Ulumul Qur’an: Upaya Apreseasi Tema-Tema Pokok Ulumul Qur’an;

(h)   Drs. A. Syadali dan Drs. A. Rafi‘i menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(i)     Dr. Rosihan Anwar menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(j)     Prof. Dr. Muhammad Amin Summa menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(k)   Prof. Dr. Nasaruddin ‘Umar menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(l)     Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan menulis buku al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar.

Ulum al-Qur’an [1]

      1. Pengertian Ulum al-Qur’an

Pembahasan tentang ‘Ulum al-Qur’an harus ditinjau dari sisi kata-kata yang merangkai kalimatnya. Ungkapan “’Ulum al-Qur’an” berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas dua suku kata, yaitu ”’Ulum” dan “al-Qur’an”. Kata “’Ulum” merupakan bentuk jamak (plural) dari kata tunggal “ilmu’. Kata “ilmu” dapat diartikan dengan salah satu dari tiga makna dasarnya, yaitu:

(a) Masalah-masalah yang telah ditetapkan dalam lingkup rumusan satu disiplin pengetahuan tertentu;

(b) Pengetahuan atau pemahaman tentang masalah-masalah yang telah ditetapkan tersebut secara mantap dan meyakinkan; dan

(c) Kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang dihasilkan melalui kajian mendalam terhadap masalah-masalah tersebut.

Dari ketiga makna dasar di atas, yang dimaksudkan dengan kata “ilmu” disini adalah pengertian pertama, yakni sejumlah masalah atau materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau suatu tujuan tertentu.

Sementara kata “al-Qur’an” menurut bahasa berarti: (a) semakna dengan lafaz “qira’ah” yang berarti bacaan; (b) kumpul dan berhimpun menjadi satu (al-jam‘ wa al-dhamm); dan (c) bukti (qarinah).

Dan menurut istilah, ada beberapa definisi “al-Qur’an” yang dikemukakan, diantaranya adalah:

(a)    Menurut Dr. Yusuf al-Qasim

القرآن هو الكلام المعجز المنزل على النبي المكتوب في المصاحف المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته

 Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, ditulis dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir, dan membacanya memiliki nilai ibadah”.

 (b)   Menurut Syeikh Ali al-Shabuni:

القرآن هو كلام الله المعجز المنزل على خاتم الأنبياء والمرسلين بواسطة الأمين جبريل عليه السلام المكتوب في المصاحف المنقول إلينا بالتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة والمختوم بسورة الناس

 Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul, melalui perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya memiliki nilai ibadah, (disusun secara sistematis) mulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas”.

 (c)    Menurut Dr. Bakri Syeikh Amin:

القرآن هو كلام الله المعجز المنزل على خاتم الأنبياء والمرسلين بواسطة الأمين جبريل عليه السلام المكتوب في المصاحف المحفوظ في الصدور المنقول إلينا بالتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة والمختتم بسورة الناس

 Artinya: “Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mengandung kemukjizatan, yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul, melalui perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, dihafal di dalam dada, disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya memiliki nilai ibadah, (disusun secara sistematis) mulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas”.

Dr. Bakri Syeikh Amin menegaskan bahwa definisi inilah yang disepakati oleh para ulama umumnya dengan para ulama Ushul.

 (d)   Menurut ‘Abd al-Wahhab Khalaf:

القرآن هو كلام الله الذي نزل به الروح الأمين على قلب رسول الله محمد بن عبد الله بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة للرسول على أنه رسول الله، ودستورا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته؛ وهو المدون بين دفتي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا بالتواتر كتابة ومشافهة جيلا عن جيل محفوظا من أي تغيير أو تبديل

 “Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang dibawa turun oleh al-Rûh al-Amin ke dalam hati sanubari Rasulullah Muhammad saw secara bersamaan antara lafaz dan maknanya, sebagai bukti yang mengukuhkan kebenaran Rasulullah saw selaku utusan Allah dan (untuk dijadikan) sebagai pedoman bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar, dan membacanya merupakan perbuatan ta‘at yang bernilai ibadah. Semua firman itu terhimpun dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fatihah dan di tutup dengan surat al-Nas, diriwayatkan secara mutawatir dari satu generasi ke generasi yang lain melalui tulisan dan lisan, serta tetap terjamin keaslian dan keutuhannya dari segala bentuk perubahan, pertukaran, atau penggantian”.

 Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, meski diungkapkan dengan berbagai redaksi namun mengacu kepada inti pemahaman yang sama. Namun, disini terlihat bahwa definisi yang diungkapkan oleh ‘Abd al-Wahhab Khalaf lebih lengkap dan mencakup pengertian definisi-definisi lainnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ungkapan “’Ulum al-Qur’an” secara bahasa, adalah ilmu-ilmu (pembahasan-pembahasan) yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Sedangkan menurut istilah, ada beberapa definisi “’Ulum al-Qur’an” yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya adalah:

  1. Menurut Imam al-Suyuthi:

علم يبحث فيه عن أحوال الكتاب العزيز من جهة نزوله وسنده وآدابه وألفاظه ومعانيه المتعلقة بالأحكام وغير ذلك

 Artinya: “Suatu ilmu yang membahas tentang berbagai keadaan kitab suci Al-Qur’an, dari sisi turun, sanad, adab, lafaz, makna-maknanya yang berkaitan hukum, dan hal lainnya”.

  1. Menurut Syeikh ‘Abdul ‘Azim al-Zarqani:

مباحث تتعلق بالقرآن الكريم من ناحية نزوله وترتيبه وجمعه وكتابته وقراءته وتفسيره وإعجازه وناسخه ومنسوخه ودفع الشبه عنه ونحو ذلك

 Artinya: “Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari sisi turun, pengaturan urutan (ayat dan surat), pengumpulan, penulisan, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh-mansukh, dan bantahan atau penolakan terhadap hal-hal yang bias menimbulkan kerancauan terhadapnya, serta hal-hal terkait lainnya”.

  1. Menurut Syeikh ‘Ali al-Shabuni:

يقصد بعلوم القرآن الأبحاث التي تتعلق بهذا الكتاب المجيد من حيث النزول والجمع والترتيب والتدوين ومعرفة أسباب النزول والمكي والمدني ومعرفة الناسخ والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الأبحاث التي تتعلق بالقرآن الكريم

Artinya: “Yang dimaksud dengan ‘Ulum al-Qur’an adalah pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an menyangkut segi turunnya, pengumpulan, tata urutan, kodifikasi, pengetahuan tentang sebab-sebab turun, makki-madani, pengetahuan tentang nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, dan persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan al-Qur’an al-Karim”.

  1.  Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan:

العلم الذي يتناول الأبحاث المتعلقة بالقرآن من حيث معرفة أسباب النزول وجمع القرآن وترتيبه ومعرفة المكي والمدني والناسخ والمنسوخ والمحكم والمتشابه إلى غير ذلك مما له صلة بالقرآن

Artinya: “Ilmu yang mencakup berbagai pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an dari sisi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya al-Qur’an, pengumpulan, tata urutan (ayat dan surat), pengetahuan tentang makki-madani, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, dan persoalan-persoalan lain yang terkait dengan ke-al-Qur’an-an”.

  1. Menurut Dr. Muhammad Abu Syuhbah:

علم ذو مباحث تتعلق بالقرآن الكريم من حيث نزوله وترتيبه وكتابته وجمعه وقراءته وتفسيره وإعجازه وناسخه ومنسوخه ومحكمه ومتشابهه إلى غير ذلك من المباحث التي تذكر في هذا العلم

 Artinya: “Ilmu yang memiliki berbagai objek pembahasan yang terkait erat dengan al-Qur’an dari sisi turun, pengaturan urutan (ayat dan surat), pengumpulan, penulisan, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih dan pembahsan terkait lainnya yang dikaji dalam lingkup ilmu ini”.

Meski “Ulum al-Qur’an” didefinisikan dengan redaksi yang sedikit agak berbeda, namun menunjuk kepada maksud yang sama, yaitu sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti persoalan sebab-sebab diturunkannya ayat (asbab al-nuzul), pengumpulan al-Qur’an, penulisan al-Qur’an, penertiban susunan ayat-ayat dan surat-suratnya, masalah makkiyah-madaniyyah, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, cara-cara membacanya, kemukjizatannya, upaya penolakan hal-hal yang dapat menimbulkan keragu-raguan terhadapnya, dan berbagai permasalahan lainnya yang menyangkut materi-materi selaku pokok-pokok bahasannya.

Pembukaan Program Pasca Tahfidz Angkatan VII

PELAKSANAAN PROGRAM

Program pasca tahfidz berlangsung selama  6 (enam) bulan tiap angkatannya. Saat ini sudah masuk angkatan VI. Dan akan dimulai lagi untuk angkatan VII pada tanggal 13 Februari 2013 dan berakhir pada tanggal 24 Juli 2013 M/15 Ramadhan 1434 H.

POLA PENERIMAAN PESERTA

Pola pertama, adalah dengan dilakukan tes hafalan al-qur’an, tes baca kitab, interview, dan psikotes.  Tes biasanta dilakukan langsung oleh team Pusat Studi Al-Qur’an yang terjun ke daerah-daerah. Pola kedua, adalah dengan rekomendasi langsung oleh Pesantren mitra

WAKTU DAN TEMPAT TES

Untuk angkatan VII waktu dan tempat pelaksanaan tes dibagi dua gelombang :

Gelombang I :

Waktu                   : 7 – 28 Januari 2013

Wilayah                : Jawa Timur, Jawa tengah, Yogyakarta

Gelombang II:

Waktu                   : 4 – 10 Februari 2013

Wilayah                : Jawa Barat, Jabodetabek, Luar Jawa

Untuk tempat tes terbagi dalam tiga zona :

  • Wilayah Jawa barat, dan Jabodetabek bertempat di kantor PSQ Jl. Kertamukti no.63 Pisangan Ciputat Tangerang. Tiap hari kerja (senin – jum’at, dari jam 10.00-16.00)
  • Wilayah Jawa Tengah dan Sekitarnya
  1. Yogyakarta dan sekitarnya bertempat di pesantren Al-Nur Ngrukem Yogyakarta
  2. Demak dan sekitarnya bertempat di Pesantren Lebaksiu Demak Jawa Tengah
  • Wilayah Jawa Timur tes bertempat di Surabaya, Madrasah Al-Qur’an Tebuireng Jombang dan Pesantren Darussalam Blogagung Banyuwangi.
  • Luar Jawa, mengikuti tes yang dekat dengan tempat tinggalnya atau melalui jalur rekomendasi.

 Kontak Person: Ach. Zayadi (0813 1957 7060)

FORMULIR PENDAFTARAN

FORMULIR PESERTA PROGRAM PASCA TAHFIDZ

Dikirm via Email : info@psq.or.id, atau zayadi@psq.or.id

MATERI TES

Materi tes meliputi :

  1. Hafalan Al-Qur’an (fokus : hafalan dan Tajwid)
  2. Bahasa Arab (fokus: bisa baca kitab turats/kitab kuning) kitab rujukan untuk  tes adalah kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an karya Al-Zarkasi
  3. Psikotes (fokus: melihat potensi diri peserta program