Kunjungan Pengurus Perpustakaan Pusat Dakwah Islam Bandung

(Ciputat, 28/2/2013) – Perpustakaan PSQ menerima kunjungan studi banding dari pengelola Perpustakaan Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Bandung Jawa Barat, dalam kesempatan ini pengurus Perpustakaan PUSDAI ingin mengetahui apa saja yang dilakukan Perpustakaan PSQ dalam mengelalo perpustakaan khususnya dalam proses pendigitalan koleksi yang dimiliki, serta layanan yang diberikan kepada pengguna atau pengunjung perpustakaan.

Pertemuan diawali pemaparan kondisi secara umum Perpustakaan PUSDAI Jawa Barat disampaikan bapak Taufik Rahman dan Ibu Lina susiyani, kemudian pemarapan dan berbagi informasi dari perpustakaan PSQ disampaikan Ach. Zayadi dan Yasir Arfan (sebagai pengelola perpustakaan PSQ) dalam mengatur dan mengelola Perpustakaan PSQ dengan berfokus kepada tujuan dan sasaran program : Fokus Manajemen Layanan, Fokus Koleksi (Cetak & Digital), Fokus Keanggotaan dan Kunjungan, Fokus Sarana dan Prasarana, Fokus Kerjasama dan Fokus Kegiatan Non Layanan. Kegiatan ini berharap dapat bersinergi antar perpustakaan sehingga saling memberikan informasi dan saling melengkapi.

pemaparan tanya jawab seputar perpustakaan

 

penjelasan tentang penggunaan komputer untuk pengunjung

 

 

 

 

 

 

Perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir Bersama Prof. Quraish Shihab

Selasa, 19/2/2013 pelaksaan kuliah Pendidikan Kader Mufassir “PKM” diadakan diruang serbaguna Pusat Studi Al-Qur’an [PSQ] bersama Prof. Quraish Shihab. Kuliah yang di mulai pada jam 11.00 wib ini diberikan kesempatan langsung kepada peserta kuliah untuk mengajukan pertanyaan – pertanyaan seputar kajian tafsir , ulumul qur’an dan terkait dengan rencana penulisan Tesis para peserta PKM. Antusias peserta kuliah yang mengikuti terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada Prof. Quraish, dengan tidak membuang kesempatan yang berharga dapat berkuliah dengan beliau di sisa-sisa penjadwalan perkuliahan program Pendidikan Kader Mufassir.

 

 

suasana perkuliahan Pendidkan Kader Mufassir bersama Prof. Quraish Shihab
Suasana perkuliahan Pendidkan Kader Mufassir bersama Prof. Quraish Shihab

Moderasi Islam “Menangkal Radikalisasi Berbasis Agama”

Penulis buku: Dr. Muchlis Hanafi, MA [Kepala bidang pengkajian Al-Qur’an Balitbang Kementerian Agama RI, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ”, dan Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Mesir Cabang -Indonesia]

Sedikitnya ada dua kecenderungan ekstrem yang ditunjukkan umat Islam beberapa dekade belakangan ini;  yang pertama dicirikan oleh sikap ketat dalam beragama, bahkan cenderung menutup diri; Yang kedua malah bersikap terlalu longgar dan terbuka sehingga mengaburkan esensi ajaran agama itu sendiri. Sikap ekstrem dalam beragama memang bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam. Sejak periode yang paling dini, sejumlah kelompok keagamaan telah menunjukkan sikap ekstrem ini. Sebut saja misalnya yang paling menonjol adalah khawarij dan Murjiah.

Munculnya kencenderungan-kecenderungan ekstrem dalam beragama ini, bukan saja telah merugikan Islam dan Umat Islam, tetapi juga bertentangan dengan karakteristik umat Islam yang oleh al-Qur’an  disebut sebagai ummatan wasathan (QS. Al-Baqarah [2]:143), yaitu umat “tengahan”, “moderat”, adil, dan “terbaik”. Karakter dasar ajaran Islam yang moderat saat ini tertutupi oleh ulah sebagian kalangan umatnya yang bersikap radikal di satu sisi dan liberal di sisi lain. Kedua sisi ini tentu berjauhan dengan titik tengah (wasath)

Mengedepankan sikap moderat memang sangat bersesuaian dengan anjuran ayat di atas (dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya yang senafas), tetapi harus disadari sejak dini bahwa penerapannya bukanlah perkara gampang, Untuk itu perlu upaya-upaya rintisan agar “moderasi” atau wasathiyyah menjadi acuan berpikir, bersikap, dan bertindak umat Islam. Apa yang tersaji dalam buku kecil ini disusun dalam spirit semacam itu.

Melalui tulisan yang diberi judul Moderasi Islam “Menangkal Radikalisasi Berbasis Agama”, buku ini ditulis oleh Dr. Muchlis M Hanafi dengan membagi bukunya menjadi delapan bab yang menarik dan perlu untuk dibaca oleh umat Islam.

Bab pertama, mengupas konsep al-Washatiyyah (moderasi) dalam Islam. Bab kedua menyinggung soal Islam, kekerasan, dan terorisme. Bab ketiga yang membahas amar makruf nahi munkar. Bab keempat berbicara yang mengusung fenomena takdir. Bab kelima korelasi perbedaan tafsir Al-Qur’an dan konflik di masa lalu dan masa kini serta solusinya, etika dialog dalam perspektif al-Qur’an. Bab ketujuh mencegah radikalisme berbasis agama; melueruskan konsep jihad dalam Islam. Bab kedelapan menjelaskan toleransi dan perdamaian.

penerbit ; Ikatan Alumni al-Azhar dan Pusat Studi Al-Qur’an. Cetakan ; Januari 2013. Tebal ; 295 hlm

 

Hafalan Al-Qur’an Sehatkan Mental

Hasil penelitian di Mesir dan Saudi menyebutkan bahwa siswa yang berprestasi rata-rata penghafal Alquran.

Meski tak ada data yang pasti, jumlah umat Islam di Tanah Air yang masih buta huruf Alquran diperkirakan masih sangat tinggi. Salah satu faktanya, separuh jamaah haji asal Indonesia yang berangkat setiap tahun ke Tanah Suci ternyata buta huruf Alquran alias tak bisa membaca kitab suci.

Kondisi itu tentu sangat memprihatinkan. Apalagi, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kini, gerakan untuk membebaskan umat dari buta huruf Alquran memang tengah digulirkan. Namun, upaya itu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Pakar tafsir yang juga Dewan Pakar Pusat Studi Alquran (PSQ), Dr Muchlis Hanafi, mengungkapkan, guna mencegah munculnya generasi buta huruf Alquran,   setiap pelajar Muslim di Tanah Air harus bisa membaca dan memiliki hafalan Alquran. Menurut dia, Indonesia bisa mencontoh Mesir.

Doktor tafsir dari Universitas Al Azhar itu, mengungkapkan, di Mesir, anak-anak telah menghafal Alquran sebelum masuk sekolah dasar.  ”Jadi, melalui katatib atau kuttab (tempat-tempat menghafal Alquran), anak-anak sejak kecil menghafal Alquran,” papar Muchlis.

”Begitu tamat madrasah Ibtidaiyah atau SD di Al-Azhar, anak-anak sudah selesai hafal Alquran 30 juz. Anak-anak di sana hafal Alquran umur sembilan tahun atau paling lambat 13 tahun,” tuturnya.  Muchlis mengungkapkan, hasil penelitian di Mesir dan Saudi menyebutkan  bahwa  siswa-siswa yang berprestasi rata-rata mereka hafal Alquran.

”Jadi, hafalan Alquran itu sangat menunjang prestasi belajar para siswa. Selain tentunya hafalan Alquran itu sendiri membantu meningkatkan kesehatan mental anak. Ini hal positif,”  ungkapnya. Namun, kata dia, jangan hanya berhenti pada hafalan.

Hafalan  Alquran itu perlu terus dikembangkan. Karena itu,  di pesantren yang didirikan Pusat Studi Alquran (PSQ), Pesantren Baitul Quran sebanyak 19 orang huffadz yang sudah hafal 30 juz  diberi wawasan keilmuan, wawasan kewirausahaan, training, bermacam-macam training selama enam bulan.

Menurut Muchlis, sekarang anak-anak kecil sudah banyak yang pandai membaca Alquran.  Setelah bisa membaca Alquran, kata dia,  perlu digalakkan program hafalan alias tahfiz Alquran. Sekarang ini, tuturnya, semangat menghafal Alquran sangat tinggi sekali.

Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Dr Ahsin Sakho Muhammad menambahkan,  periode menghafalkan Alquran itu harus mulai dari taman kanak-kanak sampai umur enam tahun. Jadi, anak sudah bisa menghafal Alquran. Kemudian mulai SD belajar umum, lalu sorenya dilanjutkan dengan menghafal Alquran ternyata hasilnya bagus sekali.

”Ini yang dilakukan oleh orang-orang Arab Saudi dan Mesir. Paginya sekolah umum, sore hari setelah pulang sekolah dilanjutkan dengan menghafal Alquran. Ternyata di Palestina sekarang ribuan anak sudah menghafal Alquran. Kemudian di masa musim liburan anak-anak dimasukkan ke dalam tahfiz Alquran,”  ungkap Ahsin.

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur tengah mempersiapkan lahirnya para dosen, dekan hingga rektor yang hafal Alquran.

”Di dunia ini Perguruan Tinggi yang paling hebat Harvard University, AS. Perguruan Tinggi yang nomor satu milik Islam adalah Al-Azhar Kairo Mesir. Orang tatkala menyebut nomor satu tidak ada yang mengklaim nomor dua apalagi nomor empat. Makanya saya katakan kepada mahasiswa dan dosen di sini kita harus harus ambil posisi kosong itu. Kapan? Bukan sekarang tapi 25 tahun yang akan datang,” papar Rektor UIN Malang,  Prof Imam Suprayogo.

Guna memenuhi target itu,  sejak 2009 UIN Malang merekrut 35 mahasiswa baru yang sudah hafal Alquran. ”Saya ambil dari pondok, aliyah-aliyah yang ada di Indonesia. Ke-35  itu kita beri beasiswa, uang saku, uang buku dan macam-macam. Nanti kalau empat tahun mereka lulus dan nilainya baik lalu kita teruskan di S-2 hingga S-3,” tuturnya.

Menurut Imam, dunia harus diprogram. ”Dunia jangan tumbuh alamiyah. Kalau alamiyah, tidak indah. Pemimpin kampus juga diprogram sehingga nanti menjadi indah jangan hanya berjalan alami.”

Karena itulah, Ustaz Yusuf Mansur meluncurkan program i’daad. Lewat program itu, para siswa  SD yang akan meneruskan ke SMP atau SMP ke SMA atau SMA ke perguruan tinggi bisa vacuum satu tahun dari pendidikan umum. Selama satu tahun itulah, mereka digembleng dan dibekali dengan pendidikan Alquran dan Sunah. Sehingga, mereka memiliki bekal berupa kekuatan tauhid yang sangat kokoh dalam mengarungi kehidupan.

Prof Imam menilai, program i’daad seperti itu perlu didukung, karena merupakan  memprogram masa depan, bukan memprogram ujian. ”Saya senang sekali kalau ada inovasi seperti ini. Karena itu perlu kita dukung bersama-sama,” paparnya. Upaya itu, dinilai sebagai usaha untuk menciptakan  nuansa Qurani di Indonesia. (republika.co.id)

Pengantar Penulisan Tesis bersama Prof. Yunan Yusuf

 

 

 

 

 

Bertepatan Rabu,13-02-2013 di Perpustakaan PSQ perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir “PKM” dimulai jam 10.00 wib bersama Prof. Dr. Yunan Yusuf, MA. Pertemuan kali ini lebih kepada tanya jawab berkaitan dengan proposal tesis yang sedang digarap oleh masing-masing pesertra Pendidikan Kader Mufassir. Diantara peserta PKM yang hadir, M. Yusuf Qardhawi mengutarakan pertanyaannya berkaitan tentang kemaksuman para Rasul. Tanya jawab semakin menarik ketika salah satu peserta yang lain menanyakan tentang proposalnya yang berkaitan tentang homoseksual. Setelah mendapatkan jawaban yang panjang lebar dari dosen si pemilik proposal pun mulai ragu untuk melanjutkan kajian yang akan dia kupas karena banyak hal yang perlu disiapkan termasuk referensi dan latar belakang rencana mengambil judul.

 

 

Sang dosen banyak memberikan masukan tentang tema yang masih layak untuk diangkat, khususnya yang berhubungan dengan tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Diantaranya adalah keminangkabauan dalam tafsir beliau. Karena saat ini minangkabau mulai mengalami keterkikisan, sehingga ada ungkapan “minangkabau di tepi jurang”. Dengan kajian tersebut diharapkan sanggup mengembalikan minagkabau kepada jalur yang semestinya. (MYQ, ed:arfan)

Penutupan Program Pasca Tahfidz Angkatan VI

 

 

 

 

 

 

 

Bertempat di Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an, peserta program Pasca Tahfidz berkerumun mengitari aula pondok yang pada hari Rabu, 6 Februari 2012 tengah melaksanakan penutupan program yang dimulai 5 bulan yang lalu. Tepatnya program ini dibuka pada tanggal 9 September 2012.

Selama 5 bulan menjalani program yang padat dan kaya materi berupa Ulumul Qur’an, Pengembangan diri serta Kewirausahaan ini, sebagian peserta didik tengah mengupayakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Sebagian lain dengan mantap ingin pulang kembali ke pesantren asal, untuk meneruskan bekal pengetahuan yang diberikan untuk disebarkan ke lingkungan masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu perwakilan santri, Mufti Aliyuddin dalam untaian kalimat perpisahannya, menekankan program yang selama ini diikutinya semakin meyakinkan dirinya untuk bisa memilah apa yang bisa diperlukannya untuk melanjutkan keingintahuannya selama ini. Santri yang berasal dari Pondok Pesantren Al-nur Litahfizhil Qur’an di Bogor ini menyadur ungkapan “give a man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime” yang mengisyaratkan bahwa apa yang dia dan rekan-rekan dapatkan selama program ini adalah kemampuan untuk ‘memancing’ di lahan yang lebih luas selepasnya dari sini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr. A. Wahib Mu`thi, MA dalam sambutan perpisahan kali ini juga menyiratkan rasa bangganya kepada seluruh peserta program yang berjumlah 30. Semua peserta yang berasal dari lingkungan berbeda, mulai dari Jawa Timur, Kalimantan hingga NTB bisa berkumpul dan memadukan dasar keilmuannya hingga program berlangsung lancar.

Perbedaan latar belakang ini pula yang menyebabkan beberapa santri mesti meredam ‘faham’ yang diyakininya untuk bisa menengahi kemungkinan konflik yang timbul. Selaras dengan semangat moderasi yang selama ini juga ditekankan oleh Pusat Studi Al-Qur’an dalam mengambil sikap terhadap apa yang tengah terjadi di masyarakat yang plural.

Di akhir penutupannya, pihak Pusat Studi Al-Qur’an yang diwakili oleh Manager Programnya, M. Arifin, MA, turut mengucapkan terima kasih kepada pihak Bank BNI 46 sebagai donatur program Pasca Tahfidz hingga berakhirnya program angkatan terakhir. [Teks&Foto:Agus]

Kajian Buku “Nalar Ayat-Ayat Semesta”

Pengajian Halaqah tafsir Rabu 6 Februari 2013 diisi dengan kajian buku dengan tema “Nalar Ayat-Ayat Semesta, Menjadikan al-Qur’an Sebagai Basis Kontruksi Ilmu Pengetahuan”, sebagai narasumber disampaikan langsung oleh penulis buku Agus Purwanto, D.Sc  (yang datang langsung dari Surabaya) dan sebagai pemateri lain Farid F Saenong, Phd (salah satu bagian divisi program Pusat Studi Al-Qur’an).

Dalam penyampain materinya penulis mengungkapkan upaya menggali potensi yang dimilkinya untuk mengkaji ayat – ayat kauniyah, karena dalam Al-Qur’an jumlah ayat-ayat kauniyah sangatlah banyak, tetapi seringkali terabaikan dari perhatian umat Muslim, sebagai lulusan Doktor Fisika dan pengkaji serius Al-Qur’an –mengajak umat muslim untuk senantiasa merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam al-Qur’an demi tumbuhnya kecintaan pada sains sekaligus pada bahasa arab dan al-Qur’an.

Banyak contoh ayat yang diuangkapkan dalam kajian tersebut dan melalui kajian itu pula banyak masukan dan pertanyaan dari jama’ah yang hadir, khususnya yang disampaikan Farid F Saenong sebagai pemateri kedua mengkritisi buku tersebut karena terdapat beberapa hal yang perlu dikaji ulang terkait terjemahan dan makna ayat dan agar tidak lepas dari kaidah penafsiran yang sudah banyak disampaikan oleh para mufassir tentang ayat-ayat kauniyah. Semakin kaya khazanah dan wawasan keilmuan tentang ayat-ayat kauniyah

Bantuan BNI untuk Program Pasca Tahfiz

Bantuan BNI untuk Program Pasca Tahfiz Pesantren Bayt Al-Qur’an

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan bantuan untuk salah satu program  Pusat Studui Al-Qur’an (PSQ), Yaitu program Pasca Tahfiz Angkatan VI (enam) Pesantren Bayt Al-Qur’an yang beralamat di Perum Villa Bukit Raya No.10 Pondok Cabe Ciputat 15419. Dana bantuan BNI diharapkan dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan program tersebut.