Rihlah Ilmiah “Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA)” UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke PSQ

 

 

 

 

 

Rabu-(24/4/2013) Unit Kegiatan Mahasiswa  “Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA)” UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan ke Kantor Pusat Studi Al-Qur’an [PSQ], dalam kunjungannya sebanyak 31 orang terdiri dari pengurus dan anggota HIQMA.  Disampaikan ketua kunjungan Aan Hanafiah  kegiatan kali ini mengangkat tema “Rihlah Ilmiah : Menggali Potensi Al-Qur’an sebagai Integrasi Nilai Kehidupan’ bertujuan mengetahui program yang dijalankan PSQ sebagai pusat kajian al-Qur’an.

 

Selanjutnya sambutan sekaligus pemaparan program PSQ disampaikan Ach. Zayadi, M.Pd dan pemaparan khusus Perpustakaan PSQ disampaikan Yasir Arfan, setelah pemaparan dibuka dialog dan tanya jawab terkait program serta kemungkinan rencana program yang dapat dijalankan secara kerjasama. Kegiatan diakhiri penyerahan Cinderamata dari HIQMA kepada PSQ dan sebagai ucapan terimkasih atas kunjungannya PSQ memberikan buku berjudul Moderasi Islam“ Menangkal Radikalisasi Berbasis Agama” kepada masing-masing peserta kunjungan.

Institut Al-Qur’an Terengganu Malaysia Kunjungi PSQ

 

 

 

 

 

Kamis (11/4)- Pusat Studi Al-Qur’an “PSQ” menerima kunjungan sebanyak 21 orang terdiri dari Pengurus dan Dosen Institut Al-Qur’an Terengganu Malaysia,  dalam rangka silaturahim sekaligus studi banding dan menjalin kerjasama antara 2 lembaga dalam pengembangan nilai – nilai al-Qur’an.  Kegiatan dibuka Trisula H Sunita sebagai Marcomm & Fundraising PSQ dan dilanjutkan pemaparan program PSQ oleh Manager Program Dr. Wahib Mu’thi dan dan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA yang sebelumnya disampaikan kata sambutan mewakili Institut Al-Qur’an Terengganu oleh Muhad Bidin.

Dalam pertemuan diisi dialog dan tanya jawab seputar program yang dilakukan PSQ kemudian acara diakhiri dengan pemberian cinderamata dari masing masing-masing lembaga.

 

 

Kegiatan Training For Trainer “ToT” di Kupang NTT

 

 

Pelaksanaan Training For  Trainer “ToT” bagi da`i dan penyuluh agama Islam Se-Nusa Tenggara Timur akan dilaksanakan pada tanggal 9 – 11 April 2013, bertempat di Asrama Haji Nusa Tenggara Timur “NTT” Kegiatan atas kerjasama Pusat Studi Al-Qur’an, Kementerian Agama NTT, Yayasan Thoifa Kupang dan kegiatan ini terlaksana atas partisipasi Bank. Mandiri (Persero), Tbk,

 

Tema : Mengusung Wasathiyyah (Moderasi) Islam untuk Indonesia Damai.

 

Materi :
(1). Pola Interaksi dgn Al-Quran dan Sunnah
(2). Toleransi dan Perdamaian dalam tinjauan Al-Quran
(3). Hubungan antar umat beragama (tinjauan alquran, aturan-aturan formal, dan analisis lokal)
(4). Metodologi dakwah Islam Rahmatal lil `Alamin
(5). Sinergitas Tokoh agama dan Ormas dalam menciptakan kerukunan umat beragama (studi kasus di NTT)
(6). Kebijakan pemerintah ttg kerukunan umat beragama

 

Narasumber:
1. Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
2. Prof. Dr. Ridwan Lubis, MA
3. Dr. Muchlis M. Hanafi, MA
4. Dr. H. Asep Utsman Isma`il, MA
5. Dr. Ahmad Atang, MA (narasumber lokal)

 

Fasilitator Kegiatan:
1. Faried F. Saenong, MA
2. Muhammad Arifin, MA
3. Ach. Zayadi, M. Pd

Perkuliahan Santri Bayt Al-Qur’an tentang Furuq al-Lughawi

 

 

 

 

 

Kamis(28/3/2013) agenda kegiatan perkuliahan santri pasca tahfidz angkatan VII berlangsung di Masjid Pesantren Bayt al-Qur’an Perum Villa Bukit Raya Pndok Cabe Ciputat, perkuliahan disampaikan Ustz. Muhammad Arifin, MA dengan membahas Furuq al-Lughawi, dalam pembahasannya beliau memberikan contoh melalui kata – kata yang terdapat di dalam al-Qur’an.

Disampaikan al-Qur’an tidak bisa kita sebut sebagai syair atau puisi, walaupun teks al-Qur’an berirama. Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah pemilihan kosa kata yang bermakna tinggi, sehingga tidak memungkinkan bagi ahli bahasa pada zaman nabi, bahkan sampai saat ini untuk menandinginya. Kata-kata yang digunakan Allah dalam al-Qur’an merupakan kata “super”, kata pilihan, mengandung makna yang indah.

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pemilihan kata benda (isim), al-Qur’an pun sangat teliti memperhatikan maknanya. Walaupun secara sekilas kata-kata tersebut memiliki arti sama, tapi bagi orang yg memiliki dzauq dan pemahaman bahasa arab yang mahir akan mendapati perbedaan yang sangat jelas diantaranya. Kali ini akan penulis ambil satu contoh kata dalam bahasa indonesia yang memiliki banyak artian dalam bahasa al quran. Kata ‘hujan’ dalam bahasa arab bisa menggunakan al-mathor (المطر), Al Ghoits (الغيث) dan bisa juga menggunakan kata As-Shoyyib (الصيّب).

Kata-kata diatas dapat dipahami dengan jelas ketika kita melihat pemakaiannya dalam al-Qur’an. Allah berfirman dalam surat al a’rof ayat 84

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

“Kami turunkan kepada mereka hujan (batu) Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu”
Seperti yang termaktub dalam tafsir al muyassar mengenai penjelasan ayat 84 surat al a’rof diatas

 “وعذَّب الله الكفار من قوم لوط بأن أنزل عليهم مطرًا من الحجارة”

Allah menyiksa kaum nabi Luth yang yang ingkar dengan menurunkan hujan batu. Sehingga jelas dalam pemakaiannya kata mator (المطر) berkonotasi negatif, bermakna siksaan dan ‘adzab. Walaupun secara harfiah kita dalam memahami arti kata mator (المطر) adalah hujan namun dalam al quran kata ini lebih sering Allah gunakan untuk menunjukan siksaannya.

Kata berikutnya yang seperti dengan al mator (المطر) adalah al ghoist (الغيث). Kata al ghoist (الغيث) termaktub dalam al quran surat As Syuro ayat 28

وَهُوَ الَّذِي يُنزلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ } [ الشورى:28 ]

Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. dan Dialah yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji.

Kata al ghoist (الغيث) memiliki kecenderungan bermakna kebaikan, rahmat, dan kasih sayang . Masyarakat arab menggunakan kata al ghoist untuk menunjukkan hujan yang bermanfaat, dalam artian tidak menimbulkan bencana

 

Syarat Berbisnis dengan Allah

  Bahwa dalam aneka transaksi bisnis salah satu sifat atau syarat utama yang harus menyertainya adalah ketiadaan paksaan. Bisnis harus didasari oleh kerelaan kedua belah pihak, yakni suka sama suka. Karena itu jangan memaksa pihak lain untuk berbisnis dengan Anda.  Anda atau mitra Anda pun dapat menetapkan syarat untuk terjalinnya transaksi bisnis serta jenis dan kualifikasi komoditi yang Anda perjualbelikan, lalu terserah kepada mitra Anda menerima syarat itu atau menolaknya.

Demikian juga halnya untuk berbisnis dengan Allah. Ketika Allah menetapkan syarat-syarat dalam berbisnis dengan-Nya, maka itu datang dari pihak-Nya yang Maha kuasa dan yang tunduk kepada-Nya—suka atau tidak—seluruh jagad raya dan isinya. Jika demikian, syarat-sayarat yang akan terbaca di bawah ini adalah syarat-syarat yang wajar. Ia wajar, bukan saja jika ditinjau dari sisi kenyataan alamiah, yakni tunduknya yang lemah terhadap yang kuat, tetapi juga karena syarat-syarat itu akan diterima baik saat disadari bahwa ketundukan itu merupakan rahmat dan pertanda kasih sayang serta untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mitra bisnis-Nya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, lalu mereka enggan memikulnya, (jangan sampai jika mereka menerimanya mereka mengkhianatinya), dan mereka takut (dari pertanggung jawabannya, lalu kami menawarkannya kepada manusia) maka diterima dan) dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (yakni manusia) amat zalim (jika tidak menunaikan amanat) dan amat bodoh (jika menerima amanat itu lalu mengkhianatinya), (QS. 33:72)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah tidak memaksa siapa pun, termasuk manusia, menerima amanah yang ditawarkan-Nya. Allah yang menawarkannya tidak “menjual”-Nya dengan paksa kepada siapa atau apa pun. Buktinya langit, bumi, dan gunung-gunung enggan menerimanya, namun Allah tidak mengutuk mereka.

Syarat pertama dan utama adalah percaya pada-Nya, atau tepatnya saling percaya sebagaimana layaknya terjadi dalam setiap hubungan bisnis. Tanpa saling percaya maka semua interakasi bisnis tidak memiliki nilai dan dampak positif. Dalam konteks ini dapat digarisbawahi dua hal berikut:

a.      Allah swt percaya pada manusia

“Kepercayaan Allah” itu bukannya tanpa dasar. Allah menganugerahi manusia akal yang menjadikannya mampu memilih dan memilih serta berinisiatif. Allah swt “percaya” yakni mengakui dan menganggap bahwa manusia mampu melakukan transaksi dan menjalin bisnis dengan-Nya. Seandainya Allah tidak percaya, niscaya amanat yang ditawarkan-Nya tidak akan diserahkan kepada manusia (QS. Al-Ahzab [33]:72 diatas). Kepercayaan ini karena Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya untuk bermuamalah/berinteraksi dengan-Nya dan menjadi khalifah di dunia yakni memakmurkannya sesuai pesan-Nya.

b.     Manusia dituntut untuk percaya kepada-Nya

Manusia dituntut untuk percaya kepada Allah swt. Kepercayaan dimaksud adalah bahwa Dia Mahaesa dalam zat, sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Siapa yang tidak percaya kepada-Nya, maka transaksi bisnis dengan-Nya tidak diterima sebaik apa pun “kualitas dan kemasan bahan yang ditawarkan/dijualnya”.

Selain itu manusia harus percaya terhadap apa yang disampaikan-Nya. Mencakup kepercayaan kepada malaikat, nabi dan rasul, kitab suci maupun pesan-pesan-Nya yang tidak tercantum dalam kitab suci, dan yang tidak kurang pentingnya adalah percaya pada komitmen dan janji-janjiNya, antara lain janji bahwa “pembayaran” baru akan ditunaikan secara sempurna di Hari Kemudian yang pasti datang walau belum ditentukan tanggalnya.

Memang boleh jadi dewasa ini Anda belum menyadari atau merasakan keuntungan berbisnis dengan-Nya, bahkan boleh jadi ada yang merasa rugi, tetapi sekali lagi mari kita gunakan logika pebisnis sukses dan bertanya: bukankah seorang pebisnis atau satu perusahaan harus berhitung tentang keunutngan jangka panjang? Terkadang, bahkan demi keuntungan itu, perusahaan bersedia mengeluarkan biaya terlebih dahulu, itu mereka lakukan walau belum ada kepastian tentang keuntungan masa depan itu.

Sebagimana layaknya bisnis yang baik, pencatatan aktivitas bisnis haruslah dilakukan. Karena itu, kendati Allah Maha mengetahui serta tidak disentuh oleh kesalahan dan lupa, namun ada petugas-petuagas yang adil, cermat, pandai yakni malaikat-malaikat yang ditugaskan-Nya secara khusus mencatat semua transaksi dan muamalah sekecil apapun.

Dikutiip dari Buku : Berbisnis dengan Allah, karya M. Quraish Shihab, Tangerang; Lentera Hati, 2008, Hal. 85

Pengenalan Internet dan Jejaring Sosial untuk para santri

 

 

 

 

 

 Jum’at–(22/3/2013) Bertempat di perpustakaan Pusat Studi al-Qur’an “PSQ” sebanyak 15 santri Bayt al-Qur’an angkatan VII mengikuti pembelajaran tentang internet dan pengenalan berbagai jejaring sosial, Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 wib ini sebagai narasumber Agus Hery mangajak para santri untuk mengenal tentang penggunaan dan manfaat internet dan jejaring sosial. Pengenalan dimaksudkan agar para santri mengerti media sosial seperti penggunaan Web, Email, Chatting, File Sharing, dan lain-lain. Sebagai sarana pemanfaatan bagi para santri diharapkan dapat mengakses informasi dan menyampaikan dakwah melalui jejaring sosial yang dimilikinya. Termasuk seperti yang sudah umum dimiliki kebanyakan orang pada saat ini seperti blog, Facebook dan Twitter. Kegiatan pembelajaran ini langsung dipraktekkan dan bagi para santri yang baru mengenal tentu menjadi hal baru yang tentunya sangat menarik bagi mereka terlihat dari antusias para santri dalam mengikuti kegiatan tersebut.

 

Perkuliahan Santri Bayt al-Qur’an tentang Sirah Nabawiyah

 

 

 

 

 

Bertempat di Pesantren Bayt al-Qur’an Perum Villa Bukit Raya No.10 Pondok Cabe Ciputat sebanyak 26 santri Bayt al-Qur’an angkatan VII mengikuti perkuliahan pada mata kuliah Sirah Nabawiyah dengan tema Jahiliyah Pra Islam dan Jahiliah Modern, perkuliahan yang berlangsung pada Rabu 13/3/2013 ini disampaikan oleh Ustz. Dr. Asep Usman Ismail, MA.

Terlihat sangat antusias para santri mengikuti perkuliahan dengn materi yang disampaikan narasumber diantaranya tentang konsep Kejahiliyahan yang sebernarnya bukanlah karena minimnya pengetahuan dan rendahnya intelektualitas, melainkan karena tidak adanya aqidah yang mendasari prilaku. Nabi Muhammad diutus di Makkah pada permulaan abad ke 7, dan masyarakat Arab saat itu telah sangat berkembang dalam segi pengetahuan dan peradabannya. Mereka telah mengenal perdangangan, bahkan sampai perdagangan internasional, terdapat balai musyawarah semacam DPR, dan mereka telah mengenal syair-syair.

terlihat sangat serius para santri mengikuti perkuliahan

Disamping kemajuan peradaban yang mereka alami, masyarakat Arab (Kafir Quraisy) pada masa itu juga mengalami puncak kejahiliyahan, menyekutukan Allah, tindakan asusila, pembunuhan anak-anak dan wanita, praktek riba, dan kebiadaban-kebiadaban yang lain.

Esensi jahiliyah adalah  جهيلية في العقيدة, tidak mengetahui nilai-nilai aqidah. Diantaranya nilai aqidah adalah :

  1. Tauhid, mengesakan Allah.
  2. Ibadatullah, beribadah kepada Allah dengan tuntunan yang benar dari syariat.
  3. Akhlaq, budi pekerti kepada allah dan kepada sesama.
  4. Percaya dengan kehidupan setelah mati.
  5. Percaya dengan pertanggungjawaban amal perbuatan.
  6. Percaya adanya surga dan neraka.

Masyarakat arab dahulu tidak memiliki ke 6 aspek aqidah diatas, mereka menyekutukan Allah, tidak mau menyembah Allah, prilaku menyimpang, membunuh dan memperdagangkan wanita dan mereka ingkar dengan kehidupan setelah mati.

Sehingga apabila dijaman modern ini muncul lagi prilaku-prilaku yang sama dengan keadaan masyarakat arab 14 abad lalu, maka bisa juga dikatakan jahiliyah di masa modern. Dan bahkan juhala’ murokab, karena selain sudah mengerti tuntunan yang benar dari nabi Muhammad melalui penerus-penerusnya manusia sekarang lebih brutal dibanding kafir quraisy.

Kegiatan Penutupan Program Pendidikan Kader Mufassir “PKM” Angk. VIII

 

 

 

 

 

Jum’at 28/2/2013, bertempat di ruang Perpustakaan PSQ acara penutupan Program Pendidikan Kader Mufassir “PKM” angkatan VIII (delapan) yang diadakan Pusat Studi Al-Qur’an resmi ditutup. Kegiatan diawali penyampaian pesan dan kesan sekaligus masukkannya dari masing – masing peserta PKM selama mengikuti kegiatan program. Kegiatan penutupan yang dihadiri peserta program juga dihadiri manager program PSQ yaitu bapak Wahib Mu’thi dan Bapak Moh. Arifin yang intinya beliau menerima masukkan yang disampaikan rekan-rekan peserta program PKM angk.VIII dan selanjutnya berpesan agar apa yang didapat dari program PKM dapat bermanfaat dan yang paling inti adalah sebagai sasaran dari program ini adalah meyelesaikan tugas akhir Tesis atau Disertasi.

 
Penyampaian pesan dan kesan serta foto bersama setelah acara penutupan program

 

Selanjutnya Program Pendidikan Kader Mufassir “PKM” untuk angkatan berikutnya IX (sembilan) akan mulai dibuka pendaftarannya pada tanggal 11 Maret 2013, dan programnya baru dibuka kembali pada bulan September 2013 (bulan syawal). Ikuti syarat dan ketentuan untuk ikut program PKM Angkatan IX di www.psq.or.id, mulai tanggal 11 Maret 2013.