Kuliah PKM “Prof Quraish Paparkan Maslahah sebagai Prinsip Dasar Al-Quran”

 

Sebagai pedoman hidup umat muslim pada khususnya, dan seluruh manusia pada umumnya, al-Quran memang selalu menarik untuk dibahas, baik dari segi kebahasaan, tafsir, qaidahnya, hingga pada bagaimana al-Quran diposisikan sebagai sumber otentik bagi segala permasalahan yang terjadi, baik dahulu maupun saat ini.

Karena posisinya sebagai sumber hukum Islam pertama, maka al-Quran—seperti yang dipaparkan Prof Quraish Shihab dalam pertemuan kali kedua siang itu, Kamis, 05 Desember 2013, bersama peserta mahasiswa PKM IX, ialah kitab dakwah. Dakwah sendiri secara definitif berarti seruan atau ajakan, ini bertujuan khusus agar manusia memenuhi seruan Allah, melalui Rasulullah, untuk dapat mencapai derajat insan taqwa.

“Banyak terjadi pengulangan ayat dalam al-Quran yang bertujuan untuk ‘ibrah bagi manusia, serta membuktikan bahwa al-Quran ialah kitab dakwah, berbeda dengan kitab ilmiah,” ucap Prof Quraish diselingi beberapa antusiasme mahasiswa.

Lebih lanjut, meski al-Quran ialah kita dakwah, namun Prof Quraish juga menganjurkan agar dakwah selalu disesuaikan dengan konteks sosial kemasyrakatan. Berdakwah dengan orang yang sudah muslim sejak kecil dan intens mempelajari ajaran islam, tentu berbeda caranya dengan metode dakwah terhadap orang muallaf atau bahkan orang yang masih ragu terhadap ajaran islam. Karena, salah satu prinsip dasar al-Quran ialah maslahah.

“Maslahah, menjadi salah satu prinsip dasar al-Quran karena diharapkan al-Quran dapat menyentuh hati siapapun yang mempelajari dan mengkajinya. Sebagai prinsip dasar ajaran agama, al Quran diharapkan mampu memberikan solusi terhadap problematika kehidupan, “

Karena prinsip dasar tersebut itulah, sebetulnya—lanjut Prof Quraish, tdak ada masalah yang tidak ada jawabannya dalam al-Quran, “Semua ada jawabannya. Tergantung, bagaimana Anda, masyarakat atau para mufassir menyikapi ayat tersebut,”

Pertanyaan pun hadir dari salah satu peserta PKM, Mughaffar, ia mengklarifikasi kembali mengenai beberapa anggapan masyarakat melihat sisi keadilan al-Quran contohnya dalam penetapan hukum waris, dimana laki-laki mendapat bagian lebih banyak dari perempuan.

“Adil ialah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya dengan tidak menyetarakan. Misalnya jika perempuan dapat emas, apa laki-laki juga dapat emas?” ucap Prof seraya tertawa

Selain itu, Prof Quraish menegaskan bahwa prinsip dasar waris sesungguhnya sangat menguntungkan perempuan. Jika lelaki mendapatkan jatah lebih banyak, itu karena ia harus membiayai istri dan keturunannya kelak. Berbeda dengan perempuan, jika ia mendapatkan warisan, ia dapat menyimpan uang tersebut dan menggunakannya untuk kepentigan pribadinya, sebab ia tidak memiliki tanggung jawab untuk membiayai suami dan rumah tangganya. Namun, jika ada perempuan yang membelanjai keluarganya, maka itu ialah sedekah.

Pada akhirnya, setiap hukum sebetulnya tidak bisa berdiri sendiri, ia harus melihat tujuan akhir dari teks tersebut. Dan menurut Prof Quraish, maslahah ialah jawaban bahwa al-Quran diturunkan sebagai kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam.

 

 

Perkuliahan PKM bersama DR. Ahsin Sakho Muhammad : Membumikan Ilmu Qira’ah

 

Ilmu Qiraah al-Quran berperan cukup penting dalam menentukan bacaan al-Quran sesuai dengan apa yang pernah Allah wahyukan kepada Rasulullah. Tak hanya itu, bacaan al-Quran dengan qiraah yang berbeda-beda kerap menentukan makna dan berpengaruh terhadap istinbath hukum.

Berbicara mengenai ilmu Qiraah, pagi itu, Kamis, 14 November, peserta Pendidikan Kader Mufassir hanyut dalam uraian penjelasan yang diampu oleh KH Dr Ahsin Sakho Muhammad, MA yang tak lain ialah tim lajnah pentashih mushaf al-Quran sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Quran. Beliau tak hanya piawai dalam memberikan paparan mengenai ilmu Qiraah, namun beliau mencontohkan beberapa bacaan al-Quran lengkap dengan versi Qiraah Sab’ah dan Qiraah Asyr. Peserta pun antusias, karena menyadari bahwa mempelajari ilmu Qiraah itu penting, mengingat banyaknya bacaan yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

“Namun akhirnya, masyarakat menjadi bingung karena belum ada kaidah yang mencari riwayat shohih dan tidak shohihnya sanad, untuk dijadikan rujukan bacaan,” ungkap KH Ahsin yang pagi itu berbalut kemeja batik.

Menurut beliau, sudah saatnya perlu dirumuskan suatu kaidah agar masyarakat perlahan namun pasti dapat memahami, lalu mereka aplikasikan dalam bacaan al-Quran sehari-hari. Dan pemahaman terhadap masyarakat terhadap ilmu Qiraah sekiranya perlu diberikan wawasan bahwa ada dua persyaratan besar yang harus dijadikan landasan agar sebuah qiraah dapat dipraktikan. Pertama, persyaratan fisik (terlihat) yaitu harus sesuai dengan Rasm Utsmani. Kedua, persyaratan non fisik, beberapa di antaranya ialah harus sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sanadnya mutawatir, sanadnya juga shahih dan materi bacaannya masyhur (dikenal) di tengah-tengah masyarakat.

“Jika kedua persyaratan fisik dan non fisik itu tidak ada, maka bacaan itu ditolak,” tegasnya

Penjelasan Dr Ahsin melahirkan banyak pertanyaan dari sejumlah peserta. Yudi Sirojuddin Latif, salah satu peserta mengawali sesi tanya jawab yang dibuka langsung oleh Dr Ahsin. “Saya belajar al-Quran di kampung, Pak, yang notabene pengajar al-Quran pasti tidak begitu mendalami ilmu qiraah ini secara mendetail. Itu bagaimana Pak?”

“Tidak masalah. Berpijak kepada pendapat Imam As-Suyuthi dalam al-Itqan, bahwa mengajar al-Quran tidak perlu memprioritaskan sanad. Yang terpenting ialah harus sesuai dengan kaidah. Namun saya yakin, setiap guru belajar dari gurnya. Guru di atasnya belajar dari gurunya, begitu seterusnya. Insya Allah, bacaannya sesuai dengan kaidah,” jelas Dr Ahsin

 Pentingnya ilmu qiraah sebagai ilmu matang yang tak akan pernah berubah karena tidak ada ruang ijtihad, memang membutuhkan waktu lama baik untuk dipelajari maupun untuk diajari. Ulama-ulama ahli qiraah yang sangat berjasa dalam membumikan ilmu qiraah, menyatukannya dari ribuan kitab hingga dapat terangkum menjadi qiraah sab’ah maupun qiraah asyr ialah Ibn Mujahid, selanjutnya, Imam Ibn Jazari juga menulis kitab Ad-Durrah. Sedangkan Imam Syathibiyyah, juga sangat berperan dalam keilmuan ini. KH Ahsin pun menjelaskan isi kitab Syaathibiyyah secara garis besar dan memaparkan bahwa dalam kitab itu diawali dengan muqaddimah dan dilanjutkan bahwa setiap imam dan rawi memiliki kode dan rumus ijtima’i .

“Belajar qiraah itu memang harus sabar dan pelan-pelan. Hari ini belajar satu bab, pertemuan berikutya diulang lagi. Begitu seterusnya,”

Selanjutnya, pertanyaan muncul dari Alivermana, beliau bertanya mengenai qiraah yang beredar di Indonesia.

“Qiraah Imam Hafsh ialah qiraah yang digunakan oleh sebagaian besar masyarakat dunia, terlebih Indonesia,”

Ada beberapa alasan mengapa sebagian besar umat islam di dunia berpijak kepada qiraah Imam Hafsh. Menurut beliau, Imam Hafsh ialah Qari yang sangat aktif menyebarkan dan mengamalkan ilmunya, materi Imam Hafsh pun ringan dan mudah dipahami seperti jumlah imalah dan isymam yang tidak banyak. Terakhir, faktor eksternal atau karunia Allah ditambah saat ide pencetakan al-Quran itu muncul, qiraah yang tekenal dan berkembang di mayarakat ialah qiraah Imam Hafsh.

Setidaknya, beberapa alasan itulah yang menyebabkan qiraah imam hafsh menempati ¾ % dari seluruh dunia. Kedua, qiraah imam Warsy dan Qalun yang banyak dipraktikkan di daerah Afrika Utara dan terakhir imam Ad-Duri yang banyak digunakan daerah Afrika bagian selatan.

Bagaimana pun banyaknya perbedaan dalam bacaan, ini menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai akademisi sekaligus pecinta al-Quran untuk memperkenalkan ilmu qiraah dan membumikannya.[lip:Ina Salma Febriani]

Wallahu a’lam bish shawwab..

 

Peserta Progam Kader Mufassir Selalu Haus Halaqoh Ilmu

 

Walaupun hujan mulai turun rintik-rintik pada hari Ahad, 06 Oktober 2013, pukul 17.00 WIB, namun semangat para tullabul ‘ilmi untuk menghadiri halaqoh kajian tafsir bulanan di kediaman Prof. Dr. M. Quraish Shihab tidak pudar sedikitpun.

Cukup banyak sahabat dari Baitul Qur’an, masyarakat sekitar dan juga peserta Pendidikan Kader Mufassir (PKM) angkatan IX (sembilan) yang antusias untuk menerima ilmu-ilmu Al-Qur’an dari sang Master Mufassir andalan Bangsa Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab.

Halaqoh yang diadakan di hari Rabu dan Ahad pada setiap awal dan akhir bulan ini, terutama bagi Peserta Kader Mufassir (PKM) angkatan IX adalah sebuah kesempatan emas untuk menambah wawasan al-Qur’an di luar jam formal klasikal di Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) yang telah disediakan oleh tim PSQ. Padahal jarak untuk menuju kediaman Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang berada di Jeruk Purut Cilandak Jakarta Selatan cukup jauh dari asrama PKM. Menimba ilmu memang tidak kenal batas usia, tempat dan waktu, ataupun jadwal formal dalam kelas. Dan insyaAllah, semangat yang lahir dari ketulusan mencari ilmu itulah yang menjadikan kualitas ilmu seseorang menjadi berbeda.

Dalam halaqoh tersebut ada banyak pesan penting yang dapat dipetik, salah satunya adalah pesan untuk berkurban. Sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim, bahwa demi menggapai ridlo Allah swt, beliau rela berkurban apapun, termasuk putra satu-satunya. Berkurban adalah spirit untuk menghilangkan sifat hewani yang ada dalam diri manusia. Sehingga itu menjadi sebuah motivasi penting bagi peserta PKM kali ini, bahwa pengorbanan secara totalitas kepada Sang Pencipta akan menjadikan manusia itu berbeda, sebagaimana Allah swt mengistimewakan nabi Ibrahim atas seluruh umat manusia. Wallohu a’lam [lip;Rahmat]

 

Prof Thib Raya: Jangan Takut Jadi Mufassir !

 

Menjadi Mufassir? Mungkin terdengar agak menakutkan dan menantang. Tapi tidak menurut Prof Thib Raya, yang mengisi perkuliahan Kaidah Tafsir, Senin, 23 September 2013. Prof Thib justru ‘membakar’ semangat peserta Pendidikan Kader Mufassir IX untuk ‘berani’ mewujudkan impian menjadi seorang penafsir. Menjadi mufassir, memang profesi yang tidak mudah, mengingat banyak cabang ilmu yang harus dikuasai. Penguasaan beberapa keilmuan itu di antaranya ialah bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, juga yang tak kalah penting ialah kaidah tafsir.

Berbicara perihal kaidah tafsir, memang tak terlepas dari konsep kebahasaan yang digunakan Al-Quran. Jika boleh dikatakan, Al-Quran ialah sumber insipirasi tanpa batas. Karena Mahakarya Allah inilah yang membuat seluruh ilmuwan, peneliti, cendikiawan dan beberapa pakar Al-Quran menulis, menggali, mengkaji dan menghasilkan karya yang berkenaan dengan Al-Quran dari segala sisi. Baik dari sisi balaghah, tajwid, tafsir, ilmu-ilmu Al-Quran maupun kaidah tafsir itu sendiri.

Melihat dari sisi sulit itulah, banyak orang yang menganggap menjadi mufassir bukan ‘cita-cita’ yang mudah, oleh karenanya, siang itu, Prof Thib mendukung mahasiswa PKM yang memang berdisiplin ilmu lingkup ilmu-ilmu Al-Quran untuk berani menerjemahkan maupun menafsirkan dengan tetap pada koridor kaidah tafsir yang benar dan sebisa mungkin menjauhkan penafsiran yang bersifat subjektif, mengingat para mufassir memiliki corak (lawn) khusus untuk menafsirkan ribuan ayat yang terdapat dalam Al-Quran.

Mendengar ‘dukungan’ dari Pak Thib, peserta PKM pun termotivasi untuk bertanya bagaimana langkah khusus atau standarisasi untuk menjadi seorang mufassir? Pertanyaan itu terlontar dari salah satu mahasiswa S2 PTIQ, Rifqiel Asyiq.

“Standarisasi khusus tidak ada. Yang perlu ditekankan ialah pemahaman mufassir tersebut terhadap kaidah-kaidah tafsir,” jelas Prof Thib

Kaidah-kaidah tafsir yang dimaksud ialah misalnnya penggunaan ‘Kaana’ dalam Al-Quran, yang jika dikaitkan dengan nahwu, berarti ‘Dahulu’, tapi dalam konteks Al-Quran, tarjamah dari lafadz ‘Innallaha Kaana Ghafuurar Rahiima’ dimaknai sebagai Allah (dari dulu dan sampai saat ini, ialah Maha Pengampun dan Penyayang—begitu tafsiran dari Prof Thib dan senada pula seperti yang ditafsirkan oleh Prof Quraish Shihab dalam karya Tafsir Al-Mishbah.

Namun, yang perlu diketahui oleh seorang mufassir ialah, mereka harus dapat menyeimbangkan beberapa kaidah yang terdapat dalam kaidah tafsir. Satu keilmuan yang terdapat dalam kaidah tafsir tak boleh mengunggulkan atau mengalahkan ilmu yang lain.

“Misalnya, jika seorang mufassir hanya berfokus kepada masalah ketatabahasaan, maka akan mengalahkan pentingnya ilmu lain. Padahal, penafsiran yang baik ialah penafsiran yang sesuai dengan kondisi kemasyarakatan saat ini. Itu yang lebih penting dan menjadi karya yang sangat bermanfaat di lingkup masyarakat,”

Lalu bagaimana dengan ijtihad? Sejauh mana penafsir boleh berijtihad atas beberapa ayat-ayat Al-Quran? Prof Thib menegaskan bahwa pintu ijtihad belum tertutup selama masalah yang diijtihadkan disesuaikan dengan kondisi sosial kemasyarakatan saat ini. Begitupun dengan apa yang diungkapkan oleh Prof Quraish di kuliah perdana beberapa hari lalu.

“Penafsir yang baik ialah ia yang mampu mengaitkan pendapat-pendapat ulama terdahulu yang menurutnya relevan, juga mempertimbangkan pendapat itu, lalu ia menuangkan pendapatnya, ke dalam karya tafsir tersebut,”

Bagaimanapun, mempelajari dan mengkaji Al-Quran ialah sebuah tantangan tersendiri bagi para akademisi maupun praktisi yang tertarik terhadap Al-Quran. Dan tidak semua orang dapat menjadi seorang yang ‘berusaha mentransfer’ bentuk komunikasi Al-Quran dalam pengertian yang dapat dipahami oleh semua kalangan, namun, tidak ada yang tidak mungkin, dengan usaha yang kuat, pemahaman yang mendalam terhadap kaidah tafsir, maka kita semua, Insya Allah, mampu menjadi seorang mufassir.[lip;ina salmah]

 

Perkuliahan PKM bersama Prof. Quraish Shihab: Arahkan Fokus Penelitian dan Tentukan Sikap!

Ada yang berbeda dari biasanya, pagi itu menunjukkan pukul 09.30 Wib, namun, suasana ruang belajar Pendidikan Kader Mufassir (PKM) di lantai bawah gedung PSQ sudah dipadati belasan peserta PKM, kendati jam perkuliahan sebenarnya baru dimulai pukul 10.00 Wib. Jelas saja, Senin, 16 September 2013 adalah jadwal khusus perkuliahan yang diisi langsung oleh Prof M Quraish Shihab. Pagi itu, nyaris tidak ada peserta yang datang terlambat, karena begitu berharganya momen bersama beliau. Bukan karena duduk bersama, penulis karya tafsir fenomenal—Al-Mishbah—itu. Namun lebih dari itu, peserta merindu ingin bertatap langsung dan mendengar untaian kalimat dari setiap kata bermanfaat yang terucap Prof Quraish. Sehingga, meski hari itu seharusnya adalah hari non aktif perkuliahan, segenap mahasiswa datang beberapa menit sebelum Prof Quraish memasuki kelas dengan sikap sigap.

“Rasanya tidak sopan, jika perkuliahan beliau, saya hadir telat,” begitu tutur salah satu peserta PKM yang menetap di kawasan Halim Perdana Kusuma, Rifqiel ‘Asyiq.

Setelah semua peserta duduk rapi di kursi yang telah disediakan, Prof Quraish pun hadir dengan ekspresi tenang seraya memandang ke beberapa mahasiswa yang duduk berputar mengelilingi beliau. Selang beberapa detik, ketua kelas kami, Alivermana—atau yang biasa kami sapa dengan Pak Ali, membuka perkuliahan pagi itu sekaligus memperkenalkan kami semua, peserta PKM ke IX. Selepas perkenalan satu persatu, Pak Ali mempersilakan mahasiswa sesuai urutan absen, untuk mengajukan pertanyaan kepada Prof Quraish.

Adapun tema besar pagi itu ialah untuk memohon bimbingan beliau tentang karya akhir yang akan ditulis dan dirampungkan peserta, sebagai salah satu prasyarat dari kegiatan PKM ini. Pertanyaan pertama diawali oleh Pak Bustami, salah satu peserta PKM yang berasal dari Mataram, mengenai hikmah dari fawatihus suwaar.

“Hikmah dari fawatihus suwaar ialah sebagai bentuk penyadaran’ sepenuhnya kita sebagai hamba Allah, bahwa tidak semua maksud Allah mampu kita pahami. Ada batas-batas dimana manusia menyerahkan sepenuhnya jawaban atas ayat-ayat yang sulit dimaknai, kepada Allah semata,” tutur Prof Quraish serius.

Pertanyaan selanjutnya dari Bapak Asif Itsnaini, mahasiswa yang juga sedang menyusun disertasinya tentang pemikiran Rasional yang merajai mufassiriin. Bapak berkacamata ini memohon pada Prof Quraish agar memberikan gambaran secara rinci kemana arah penelitian sebaiknya dilakukan mengingat, pemikiran rasional itu cakupannya luas.

“Penelitian yang baik ialah penelitian yang fokus penelitiannya jelas. Tidak terlalu meluas. Sebab, tesis dan disertasi tidak seperti buku yang halamannya tak terbatas. Kedua karya ini, baik tesis dan disertasi ada pembatasan halaman. Oleh sebabnya, arahkan fokus penelitian Anda dan tentukan sikap dalam meneliti,” tutur Prof Quraish

Maksud dari diperlukannya arah yang jelas dalam meneliti adalah ‘fokus’ mahasiswa dalam bahasan yang akan diangkat dalam penelitian. Sebab dalam penelitian pasti ada ‘masalah’ dan solusi yang akan ditemukan dalam karya tersebut. jika fokus penelitian meluas atau tidak jelas, maka penelitian pun menjadi sia-sia dan tak bermakna. Lebih dari itu, Prof Quraish juga menganjurkan agar peneliti memiliki jiwa ‘mandiri’. Mandiri dalam arti memiliki ‘sikap’ yang tepat untuk menentukan kapan ia harus setuju dengan argument yang terdapat dalam refrensi yang digunakan, dan kapan ia harus menolak dengan pendapat tersebut.

Bagaimanapun, kita tahu bahwa Al-Quran dihadiahkan Allah untuk kita semua sebagai obat, rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam. Oleh sebabnya, dalam fokus penelitian yang berkiblat kepada Al-Quran, diperlukan kehati-hatian mengingat kitab suci ini bukanlah gubahan dan karya manusia, tapi Maha Karya Rabb Azza Wa Jalla. Tidak ada yang salah dalam setiap untaian ayat demi ayat. Yang patut diperdalam ialah jiwa dan latar belakang mufassir yang terkadang melahirkan multi makna karena arah pemikiran ataupun pendapat subyektif dari mufassir tersebut.

Pada intinya, Prof Quraish menekankan peserta PKM, dalam diskusi pertama pagi itu untuk teliti dalam meneliti. Penelitian yang bagus, menurut beliau, ialah penelitian yang fokus bahasannya sedikit namun dibahas secara detail dan mendalam, daripada cakupan bahasan luas, tapi tidak ada ‘isinya’.

Dengan menyisakan banyak pertanyaan yang sebenarnya masih ingin diajukan para peserta, Akhirnya, kelas perdana bersama Prof Quraish Shihab pun berakhir tepat waktu zhuhur, 12.00 Wib [lip;ina salmah]

Perkualiahan Minggu Pertama Pendidikan Kader Mufassir Angk. IX

 

Rangkaian kegiatan perkuliahan Pendidikan Kader Mufassir Angkatan IX pada minggu pertama telah berjalan sejak 6 September 2013, Kegiatan perkualiahan yang diikuti oleh 18 peserta ini terlihat sangat antusias diawali perkualiahan Metodologi Tafsir Kontemporer atau Literatur Kajian Tafsir yang disampaikan Farid F. Saenong, Ph.D.

Perkualiahan lain adalah Balaghah Al-Qur’an yang disampaikan Prof.Dr.D. Hidayat, MA materi ini diharapkan para peserta PKM dapat memahami dan mengetahui tentang Balaghah dalam Al-Qur’an, selain itu kuliah yang telah di mulai adalah Kajian ‘Ulum Al-Qur’an disampaikan oleh Muhammad Arifin, MA, Kajian Hadits Ilmu Hadits disampaikan oleh Dr. Sahabuddin, MA, Bimbingan Tesis dan Disertasi yang dimbing oleh Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA dan Prof. Yunan Yusuf, MA, dan untuk memperluas pengetahuan para peserta PKM dalam bidang Tafsir di berikan mata kuliah Kaidah Tafsir yang dibimbing oleh Prof. Dr. Salaman Harun, MA dan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA.

Empat Mahasiswa S3 Mengikuti Program Pendidikan Kader Mufassir Angkatan IX

Acara Halaqah Tafsir-pengajian rutin yang diadakan Pusat Studi Al-Qur’an- yang sempat vakum sebulan terakhir, secara resmi dimulai kembali Rabu, 4 September 2013 kemarin.

Di pembukaannya kali ini, mengetengahkan tema Halal-Bihalal dengan narasumber Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Tema ini diangkat sekaligus sebagai kegiatan pembuka yang dihadiri hampir 90 perserta pengajian di sekitar Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan.

Di ujung pemaparannya, Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. mengingatkan bahwa esensi penghapusan dosa kepada Tuhan akan selalu bisa dilakukan dengan cara yang mudah. Yakni menjalankan segala tuntunan-Nya sembari menghindari apa yang dilarang-Nya. Dengan berlaku demikian, kita akan senantiasa terhapus dari berbagai dosa.

Kecuali, dosa kepada sesama manusia. Yang akan membutuhkan usaha tambahan. Yakni harus membereskan urusannya kepada manusia, dengan cara memberikan maaf. Dalam Islam, kita mengenal konsep memohon ampun hanya kepada Tuhan, dan memberikan maaf kepada sesama manusia.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan pengenalan angkatan IX peserta Pendidikan Kader Mufassir (PKM) serta santri angkatan VII Bayt Al-Qur’an.

Tercatat 20 mahasiswa baik S2 dan S3 akan mengikuti program yang akan berlangsung hingga enam bulan ke depan. Sedangkan untuk santri angkatan ini tercatat 30 orang, dengan catatan santri luar jawa juga lebih banyak dari angkatan sebelumnya.

santriangkayanVIII

Santri dari Lampung dan juga Lombok Timur juga hadir di acara pembukaan yang disampaikan oleh Manager Program Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) M. Arifin, MA.[sumber:alifmagz.com]