Artikel Bebas
Cari Artikel     

 

MAKNA HIJRAH DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN
Nilai-nilai moral di balik peristiwa hijrah adalah lebih penting dibanding kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial yang seringkali justru jauh dari semangat peringatan hijrah tersebut.

Bagi umat Islam, hijrah bukan sekedar peristiwa biasa yang ditandai dengan perpindahan secara fisik dari Mekkah ke Medinah, akan tetapi hijrah merupakan suatu peristiwa yang cukup monumental, yang memiliki makna strategis dan filosofis bagi perkembangan Islam. Karena itu, bukan tanpa alasan, jika Khalifah Umar lebih memilih ide Ali bin Thalib untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib mengemukakan tiga alasan, pertama, dalam al-Quran sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah, kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriyah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.

 

Di antara keunggulan orang-orang yang berhijrah, sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur’an adalah:

 

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah, merekalah yang senantiasa mengharap rahmat Allah”. (Qs. al-Baqarah/2: 218)

 

“Orang-orang yang berhijrah adalah orang-orang yang senantiasa diridhai Allah” (Qs. at-Taubah/9: 100).

 

“Keengganan seorang muslim untuk berhijrah berarti ia telah mencederai imannya sendiri dan tidak layak dibantu oleh sesamanya” (Qs. al-anfal/8: 72).

 

“Dijanjikan kehidupan yang baik di dunia, dihapus segala kesalahan dan dosanya, serta memperoleh derajat yang tinggi di akhirat” (Qs. 3: 195, Qs.16: 41, Qs. 9: 20).

 

Melihat janji-janji Allah di atas, maka menjadi sangat wajar apabila setiap muslim ingin menjadi seorang muhājir. Namun, sejak penaklukan kota Mekah, sudah tidak ada lagi hijrah fisik sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat (lā hijrah ba’d al-fath). Padahal, ayat di atas akan senantiasa berlaku di setiap masa dan tempat mengikuti sejarah perjalanan manusia. Karena itu, peristiwa hijrah harus dipahami secara filosofis terutama sekali sebagai bentuk refleksi akhir dan awal tahun, sebab hijrah selalu berhubungan dengan tahun baru Islam.

 

Nilai-nilai Filosofis di balik Hijrah

Memang benar, seseorang tidak bisa begitu saja dikatakan sebagai seorang muhajir hanya sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau berhijrah dalam artian berusaha mengubah kehidupannya agar bisa lebih baik, dalam kaitannya dengan duniawi, karena hijrah memang tidak ada hubungannya dengan kesuksesan yang bersifat duniawi. Sebab, seandainya terdapat motivasi duniawi di balik hijrah, pastilah mereka tidak akan melakukan hijrah. Justru motivasi-motivasi duniawi inilah yang membuat sebagian kaum mukminin merasa keberatan untuk berijrah, mengingat resikonya begitu besar, baik dari segi fisik maupun finansial.

 

Barangkali tidak begitu bermasalah, jika mereka yang berhijrah itu adalah orang-orang miskin, namun bagi mereka yang sudah mapan, baik dari sisi pekerjaan maupun harta benda, tentu saja berijrah adalah sesuatu yang sangat berat. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat saat itu melebihi berijrah, sehingga menjadi sangat wajar jika hijrah menjadi ujian keimanan umat Islam saat itu.

 

Di sinilah, mengungkap nilai-nilai moral di balik peristiwa hijrah adalah lebih penting dibanding kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial yang seringkali justru jauh dari semangat peringatan hijrah tersebut. Di antara hal- hal penting di balik peristiwa hijrah yang bisa dijadikan bahan perenungan adalah:

 

A.  Keimanan yang Kokoh

Iman tidak identik dengan percaya. Seseorang tidak lantas disebut sebagai mukmin, hanya karena “percaya” kepada Allah sebagai Pencipa langit dan bumi, Yang menurunkan hujan, Yang memberi rizki dan sebagainya. Sebab, kepercayaan semacam ini juga dimiliki oleh orang musyrik, kafir dan munafik. Tetapi iman, sesuai dengan asal katanya, āmana yu’minu, harus dimaknai sebagai sikap “mempercayai”.

 

Ketika seseorang percaya Allah sebagai Pemberi rizki, namun apabila dalam proses mencarinya menggunakan cara-cara yang dilarang, maka ia hanya percaya Allah sebagai Pemberi rizki tetapi tidak mempercayai Allah sebagai Yang memberi rizki dirinya. Ketika ia percaya bahwa Allah adalah Pencipta semuany makhluk, termasuk dirinya, oleh karenanya, Allah-lah yang mengetahui persis kebutuhannya dan apa saja yang manfaat dan tidak manfaat di dalm hidupnya. karena itu, Allah-lah satu-satunya yang bisa dijadikan sebagai sandaran hidup.

 

Di sinilah, kaum muhajirin telah menunjukkan ketangguhan imannya. Mereka berani meninggalkan pekerjaan, harta benda, dan apa saja yang selama ini dijadikan gantungan hidupnya. Mereka yakin betul bahwa bukan pekerjaan dan harta benda itu yang menjadikan mereka hidup dan eksis, sebab hidup dan mati menjadi hak prerogratif Allah. Kematian bukan lantaran tidak punya harta atau pekerjaan. Kebahagiaan dan kemuliaan juga tidak disebabkan oleh banyaknya harta atau jabatan-jabatan tertentu. Iman yang kokoh itulah yang menjadikan ia tetap berdiri tegak dan senantiasa optimis dalam memandang hidup ke depan, sesulit apapun keadaannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum muhajirin. Sebagai seorang mukmin sejati akan senantiasa sadar bahwa kesulitan dan masalah hidup adalah sesuatu yang niscaya.

 

B.  Totalitas Ketaatan

Berhijrah saat itu bukan sekedar merubah nasib, sebab di antara mereka banyak yang sudah mapan secara ekonomi. Hijrah merupakan wujud ketaatan sejati sebagai manifestasi dari pengabdian dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Khalik. Ini semua dilakukan demi mendapatkan ridha dari Yang ditaati tersebut, yakni Allah swt.

 

Allah senang kepada kaum muhajirin, bukan karena mereka mau berhijrah dari Mekah ke Medinah, akan tetapi kesungguhan mereka menaati Allah dan rasul-Nya, meski dengan begitu, mereka harus melawan hawa nafsu. Bahkan, mereka berani mengorbankan segala kepemilikan yang selama ini menjadi gantungan hidupnya. Makanya, yang diridhai oleh Allah bukan saja kaum muhajirin, tetapi juga kaum anshor, penduduk asli Medinah.

 

Adalah sebuah kebohongan belaka, jika upaya meneladani ketaatan kaum muhajirin tersebut tanpa dibarengi dengan kesungguhan untuk melawan dorongan hawa nafsu. Sebab, pada kondisi tertentu seseorang harus memilih antara taat kepada Allah atau hawa nafsu; antara taat kepada Allah atau makhluk. Namun, jika ingin selalu diridhai Allah, tentunya kita harus sungguh-sungguh menunjukkan keaatan kepada-Nya, meski hal itu bertentangan dengan apa yang diingini oleh hawa nafsu.

 

c.  Kesabaran dalam Ketaatan

Sabar di dalam Islam tidak identik dengan sikap fatalistik. Sabar mencakup tiga hal, pertama, sabar dalam ketaatan (al-shabr ’alā al-Thā’ah); kedua,  sabar terhadap musibah (al-shabr ’alā al-mushībah); dan ketiga, sabar dari hal-hal yang dilarang (al-shabr ’an al-muharramāt). Karena itu, sabar bisa bersifat pasif (menerima), juga bisa bersifat aktif (bertindak). Dalam kaitannya dengan cobaan dan musibah, maka sabar haruslah bersifat pasif, yakni menerimanya sebagai ketetapan Allah. Akan tetapi, dalam hal ketaatan menjalankan perintah, maka sabar harus bersifat aktif.

 

Sikap sabar yang luar biasa inilah yang ditunjukkan oleh kaum muhajirin. Rasanya sulit dibayangkan, mereka bisa melakukan sesuatu yang sangat berat tersebut tanpa kesabaran, bahkan bukan sekedar sabar biasa, tetapi kesabaran yang menuntut tindakan aktif.

 

Berhijrah secara fisik memang sudah tidak ada lagi, namun sikap sabar yang ditunjukkan secara dramatis oleh kaum muhajirin tentu saja harus selalu dijadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga dalam situasi dan kondisi apapun. Sabar dalam hal ini adalah kemampuan diri untuk menanggung hal-hal yang tidak menyenangkan. Di sinilah, seseorang terkadang tidak cukup berani menanggung resiko tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muhajirin. Padahal, resiko hidup itulah yang menyatu dengan ketaatan, sebab sebuah ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya tidak selalu berbanding lurus dengan kesenangan dan kesuksesan duniawi.

 

d.  Kesuksesan Hakiki (sebuah refleksi awal tahun)

Ada satu keinginan yang menjadi cita-cita bersama setiap orang, dari strata dan latar belakang manapun, yaitu sukses atau kesuksesan. Sedemikian pentingnya kata ini, sehingga ia menjadi kata keramat bahkan memiliki nilai magis yang sedemikian kuat yang mampu menyihir seseorang untuk bergerak ke mana dan melakukan apa, semua ditentukan oleh sejauh mana ia dapat merealisasikan kata tersebut, sukses.

 

Namun, pernahkah kita mencoba memberikan definisi yang tepat menyangkut kata sukses tersebut. Sebab, definisi inilah yang sebenarnya menjadi standar dan tolok ukur dari setiap keputusan yang kita ambil. Bahkan sebenarnya, keberhasilan kita memformulasikan kata sukses justru jauh lebih urgen dari pada upaya menggapainya, sebab formulasi itulah yang menjadi guidence dari setiap langkah kita. Sebaliknya, kegagalan kita untuk memformulasikan definisi kesuksesan berarti kita telah berusaha menggapai sesuatu yang kita sendiri tidak tahu batasannya. Ini seperti orang yang memasuki sebuah rimba belantara yang sangat lebat dan hampir tak berujung. Tidak bisa kita bayangkan, jika ada orang yang melakukan perjalanan yang sangat panjang dan sulit dengan biaya yang cukup besar ternyata tidak jelas arah dan tujuannya.

 

Jika kita coba mengacu kepada definisi sukses yang dibuat oleh sebagian besar orang, maka akan kita jumpai bahwa orang sukses adalah orang yang memiliki segalanya dan terpenuhinya fasilitas hidup, seperti rumah mewah, mobil bagus, pekerjaan mapan, deposito besar, perusahaan multi nasional, dan sebagainya. Definisi ini meskipun tidak tertulis dalam sebuah paragraf tertentu tetapi kayaknya ini telah menjadi semacam hukum tak tertulis yang disepakati oleh setiap orang. Dan, jika ini yang kita cita-citakan maka wajarlah kalau ada orang menjadi pesimis bahkan kehilangan gairah hidup ketika dirinya jauh dari kesukesan sebagaimana gambaran di atas. Padahal, definisi ini tentu saja tidak fair, apalagi kalau dikatakan sebagai yang dikehendaki oleh Islam. Gambaran kesuksesan semacam ini sama saja mencita-citakan menjadi orang kaya. Padahal, untuk jadi kaya seseorang tidak butuh ilmu tertentu.

 

Dari sinilah, kita perlu merenungkan ungkapan Umar bin Khaththab,

ãä ÏÇä äÝÓå æ Úãá áãÇ ÈÚÏ ÇáãæÊ

orang yang sukses adalah orang yang senantiasa introspeksi diri dan motivasi gerak hidupnya adalah demi membangun kehidupan pasca  kematian.

 

Jika kita setuju terhadap pernyataan Umar di atas, maka sebagai konsekuensinya juga harus merubah paradigma kita terhadap kehidupan ini. Yakni Hidup bukan untuk hidup itu sendiri, tetapi hidup kita untuk yang Maha hidup. Hidup tidak untuk menunggu mati, tetapi kematian itulah justru untuk membangun kehidupan yang hakiki.

 

Melihat hal ini, maka kita menjadi mafhum kenapa kaum muhajirin sebegitu relanya mereka mengorbankan apa saja demi keimanan dan ketaatannya kepada Allah. Sebab, mereka percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah, sehingga prinsip hidupnya tidak untuk menyenangkan hawa nafsu tetapi demi menyenangkan Sang Maha hidup, Allah swt. Wa Allāhu a’lam bish-shawwab.


Sumber :
Ditulis oleh Dr. Husnul Hakim, MA, Pengasuh Pesantren Bayt al-Quran PSQ, yang dipresentasikan pada Halaqah Tafsir di Masjid Bayt al-Quran, hari Rabu, 30 Desember 2009, jam 10.00-12.00 Wib.
©2003 pusat studi alquran