TAFAKKUR DAN TADZAKKUR
"Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi,
dalam perbedaan siang dan malam,
merupakan kebesaran Allah bagi mereka yang berpikir.
Yaitu, mereka yang selalu ingat Allah pada saat berdiri, duduk, atau berbaring. Mereka selalu berpikir tentang ciptaan langit dan bumi.
Mereka akhirnya berkata: “Wahai Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini sia-sia. Mahasuci Engkau,
lindungilah kami dari siksa api neraka”.
(QS. Ali ‘Imran: 190-191)
Tafakkur berarti merenung, ia merupakan aktivitas akal. Hati yang lalai dan tidak sadar dapat dibangkitkan, dibangunkan, dan disadarkan dengan bertafakkur atau berfikir. Dengan berfikir menjadikan manusia akan sadar dengan dirinya.
Perintah para nabi dan orang bijak selama berabad-abad berbunyi, "Pahamilah dirimu sendiri, hanya dengan berfikirlah kita dapat memahami diri kita sendiri”. Nabi Muhammad Saw. mengingatkan kita, "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." Bagi para sufi, untuk mengenal Allah tidak perlu jauh-jauh tetapi kenalilah Dia lewat diri kita sendiri. Allah berfirman dalam surat adz-Dzariyat ayat 21: æÝí ÇäÝÓßã ÇÝáÇ ÊÈÕÑæä (Dan dalam diri kamu sendiri, apakah kamu tidak melihat?). Islam mewajibkan kepada kaum muslim untuk berfikir.
Pada ayat di atas, kita disuruh untuk memperhatikan serta merenungkan kejadian alam raya karena setelah memperhatikan dan merenungkannya dengan mendalam akan mengantarkan kita kepada hakekat dan kesimpulan seruan: "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam raya ini secara sia-sia (bathil). Maha suci Engkau, Maka hindarkanlah kami dari api neraka."
Maha suci Engkau ( (ÓÈÍÇäß merupakan kalimat zikir kepada Allah. Tampaknya tadzakkur (ingat) merupakan hasil dari tafakkur (merenung). Karena itu, kedudukan tafakkur dianggap mendahului kedudukan tadzakkur. Dalam artian, fikir mendahului zikir. Karena sesungguhnya tafakkur adalah mencari (yang dicintai), sedangkan tadzakkur adalah mencapai (yang dicintai), maka kuat dan sempurnanya zikir bergantung kepada kuat dan sempurnanya fikir. Fikir yang menghasilkan zikir merupakan kesempurnaan dari ibadah, makanya ia merupakan kebaikan dan keutamaan yang tidak dapat dibandingkan dengan amalan-amalan lainnya. Dalam beberapa hadis mulia disebutkan, satu jam berfikir dipandang lebih daripada beribadat satu tahun, atau enam puluh tahun, atau bahkan tujuh puluh tahun; ÝßÑ ÓÇÚÉ ÎíÑ ãä ÚÈÇÏÉ ÓÈÚíä ÓäÉ . Bahkan, berfikir itu sendiri dianggap sebagai ibadah. Jelaslah bahwa tujuan akhir dan buah ibadah adalah mengetahui dengan fikir dan mengingat akan Allah dengan zikir. Dan, ini lebih dapat dicapai dengan melalui tafakkur yang sempurna.
Perlu diketahui bahwa tafakkur mengandung banyak sekali manfaatnya. Tafakkur merupakan kunci untuk membuka pintu-pintu ma’rifah, pengetahuan, dan keutamaan. Tafakkur merupakan langkah pertama di jalan manusia sejati. Ini sangat dianjurkan dan dimuliakan dalam al-Qur'an juga hadis-hadis, dan orang yang tidak melakukan tafakkur akan dicela. Diriwayatakan dari al-Imam ash-Shadiq bahwa sebaik-baik bentuk ibadah adalah tafakkur tentang Allah dan kekuasaan-Nya.
Kata tafakkur dan jadiannya dalam al-Qur'an terulang sebanyak 18 kali, di mana semuanya dimaksudkan untuk mengantarkan manusia ke kesempurnaan iman kepada Allah. Iman tidak boleh diterima dengan taklid buta. Islam tidak mempertentangkan antara iman dan berfikir, bahkan menegaskan bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah berfikir. Itu sebabnya banyak ayat al-Qur'an yang mengingatkan dan memerintahkan kita untuk berfikir, sebagaimana pernyataan ayat "Sesungguhnya Islam diperuntukkan bagi kaum yang berfikir (áÞæã íÊÝßÑæä)" dan “apakah kamu tidak memikirkan (Çæáã íÊÝßÑæä) ?” .
Islam mengangkat derajat orang yang berilmu (‘alim) atas orang beribadah (‘abid) seperti kelebihan bulan atas semua bintang. Kalau bulan gelap, maka bintang-bintangpun tak akan bercahaya. Kalau tidak ada ulama, maka gelaplah kehidupan manusia. Al-Hasan berkata, "kalau bukan karena ulama, maka jadilah manusia bagaikan hewan. Dengan ilmu para ulama mengeluarkan manusia dari batas hewan menjadi manusia yang sesungguhnya. Tafakkur adalah jalan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan”. Barakallahu ‘Alaina Jami’an, Amin ya Rabbal ‘Alamin. Sumber :
|