info@psq.or.id
+62 21 7421661

Ulum al-Qur’an [2]

    Home / Artikel / Ulum al-Qur’an [2]

Ulum al-Qur’an [2]

0

    2. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan tokoh dalam memandang muncullnya istilah “’Ulum al-Qur’an”, diantaranya adalah:

(a)    Dr. Subhi al-Shaleh dalam “Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an” mengemukakan bahwa istilah “’Ulum al-Qur’an” muncul untuk pertama kalinya pada peralihan dari abad III H ke abad IV H, yaitu ketika Muhammad bin Khallaf al-Marzuban (w. 309 H) atau yang di kenal dengan Ibnu al-Marzuban menulis kitab setebal 27 jilid yang berjudul “al-Hawi fi ‘Ulum al-Qur’an”.

(b)   Syeikh ‘Abdul ‘Azim al-Zarqani dalam “Manahil al-‘Irfan” menyatakan bahwa istilah “’Ulum al-Qur’an” diperkenalkan untuk pertama kalinya  oleh ‘Ali bin Ibrahim bin Sa‘id al-Hufi (w. 430 H) pada abad V H melalui karya tulis setebal 30 juz yang berjudul “al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an”.

(c)    Imam al-Sayuthi dalam pengantar kitab “al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an” menyatakan bahwa istilah ini pertama kali dimunculkan oleh Abu al-Farj bin al-Jauzi (w. 597 H) pada akhir abad VI H melalui kitab “Funun al-Afnan Fi ‘Aja’ib ‘Ulum al-Qur’an” dan kitab “al-Mujtaba Fi ‘Ulumin Tata‘allaq bi al-Qur’an”. Pandangan ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama yang melihat keberadaan ‘Ulum al-Qur’an pada akhir abad ke-VI H dan memasuki awal abad ke-VII H, selaku disiplin ilmu yang sudah terkodifikasi secara teratur, sistematis, dan utuh melalui kitab Ibn al-Jauzi tersebut.

(d)   Dr. Muhammad Abu Syuhbah dalam “al-Madkhal Li Dirasah al-Qur’an” cenderung menilai kemunculan istilah “’Ulum al-Qur’an” pada abad V H dengan dikenalnya sebuah kitab yang berjudul “al-Mabani fi Nazhm al-Ma’ani” yang ditulis oleh seorang Penulis yang tidak diketahui namanya pada tahun 425 H. Dalam kitab itu sudah  disajikan persoalan seputar makkimadani, nuzul al-Qur’an, pengumpulan al-Qur’an, penulisan al-Qur’an ke dalam bentuk mushaf, penolakan terhadap berbagai keraguan menyangkut pengumpulan, penulisan mushaf, jumlah surat dan ayat, tafsir, ta’wil, muhkammutasyabih, turunnya al-Qur’an dengan tujuh huruf, dan pembahasan-pembahasan lainnya.

(e)  Prof. Dr. T. M. Hasbi al-Shiddiqi dalam buku “Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an” mengemukakan bahwa berdasarkan hasil penelitian sejarah, ternyata Imam al-Kafiji (w. 879 H) merupakan orang pertama yang membukukan ‘Ulum al-Qur’an.

Dan berikut ini akan dikemukakan potret pertumbuhan dan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an semenjak dari masa Nabi Muhammad saw, sahabat, era kodifikasi, sampai perkembangannya pada masa sekarang:

(1). ‘Ulum al-Qur’an Pada Masa Nabi saw dan Sahabat  (‘Ash al-Nabi saw wa al-Sahabah)

Pada masa Nabi Muhammad saw masih hidup (‘ashr al-nabi), keberadaan ‘Ulum al-Qur’an sebagaimana ilmu-ilmu lainnya masih tercecer dan belum dikodifikasi secara sistematis, teratur, dan utuh. Namun, benih-benih selaku embrio ilmu ini sudah dirasakan keberadaannya. Hal ini sangat jelas, karena posisi Rasulullah saw selaku pengemban al-Qur’an yang berkewajiban untuk menyampaikan pesan-pesan dan petunjuk al-Qur’an kepada umat manusia selaku pegangan hidup mereka sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Nahl [16] ayat 44 yang berbunyi:

Artinya: “… Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir”. (Q.S. al-Nahl [16]: 44)

Oleh karenanya, setiap Rasulullah saw menerima wahyu berupa ayat al-Qur’an, beliau selalu menyampaikannya kepada para sahabat dan meminta beberapa orang diantara mereka selaku juru tulis wahyu (Kuttab al-Wahyi) untuk mencatatnya dengan cermat dan teliti. Bahkan Rasulullah saw melarang para sahabat untuk menulis selain al-Qur’an agar tidak terjadi percampuran antara ayat-ayat al-Qur’an dengan selain al-Qur’an. Rasulullah saw menyatakan:

عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تكتبوا عني غير القرآن ومن كتب عني غير القرآن فليمحه وحدثوا عني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه مسلم)

 Artinya: Dari Abi Sa‘id al-Khudri ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menulis dari padaku selain al-Qur’an; siapa saja yang (terlanjur) menulis daripadaku selain al-Qur’an, maka (hendaklah) dia menghapusnya. Dan ceritakanlah daripadaku) dan itu tidak ada masalah. Siapa saja yang sengaja berdusta atas atas namaku, maka bersiap-siaplah untuk mengambil tempatnya di dalam neraka”. (H. R. Muslim).

Rasulullah saw selalu membacakan setiap wahyu yang diterimanya kepada para sahabat dengan tekun dan tenang, sehingga mereka dapat mengikuti bacaan Rasulullah saw dengan baik dan selanjutnya menghafalkan ayat-ayat tersebut. Rasulullah saw juga tak lupa menjelaskan kepada mereka maksud, pesan, dan makna kandungan ayat yang diterimanya agar para sahabat mampu memahami dan mengamalkannya dengan baik sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qiyamah [75] ayat 16-19 yang berbunyi:

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya”. (Q.S. al-Qiyamah [75]: 16-19)

Dan dalam menerima pengajaran dari Rasulullah saw ini, para sahabat menunjukkan minat dan semangat yang tinggi. Bahkan dalam mempelajari al-Qur’an, para sahabat tidak akan berpindah dari satu ayat ke ayat lain sebelum mereka benar-benar memahami dan mengamalkannyanya dengan baik, sehingga Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa Ibnu ‘Umar ra saja memerlukan waktu delapan tahun untuk menghapal surat al-Baqarah.

Mengenai pengajaran dan penjelasan Rasulullah saw terhadap makna ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabat dapat dibuktikan dengan adanya riwayat-riwayat yang memperkuat dan menunjukkan kepada hal tersebut, seperti:

Pertama, Riwayat yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari sahabat Ibnu Mas‘ud ra:

عن عبد الله قال: لما نزلت:”الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بطلم”، شقَّ ذلك على المسلمين، فقالوا: يا رسول الله، ما منّا أحدٌ إلا وهو يظلم نفسه؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”ليس بذلك، ألا تسمعون إلى قول لقمان لابنه إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [سورة لقمان : 13]

 Artinya: Dari ‘Abdullah Ibn Mas‘ud ra berkata: “Tatkala turun firman Allah SWT yang berbunyi: “الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم” (Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kezaliman) (Q.S. al-An‘am [6]: 82), kaum Muslimin merasa tertekan dan kesulitan dan bertanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah saw, siapa sih diantara kami yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri?” Nabi saw menjawab: “Hal itu bukan seperti yang kalian pahami; Bukankah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada putranya bahwa kemusyrikan itu adalah bentuk kezaliman yang besar” (Q.S. Luqman [31]: 13). Itulah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.

 Kedua, Riwayat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad, al-Tirmizi, dan lainnya dari sahabat ‘Adi bin Hatim ra:

عن عدي بن حاتم، قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن قول الله جلّ وعزّ “غير المغضوب عليهم ولا الضالين”، قال: إن المغضوب عليهم هم اليهود, و إن الضالين هم النصارى

 Artinya: Dari ‘Adi bin Hatim ra berkata: “Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang maksud firman Allah SWT “غير المغضوب عليهم ولا الضالين (bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai atas mereka dan orang-orang yang tersesat) (Q.S. al-Fatihah [1]: 7)?” Nabi saw menjawab: “yang dimaksudkan dengan orang-orang yang dimurkai Allah adalah orang-orang Yahudi, dan yang dimaksudkan dengan orang-orang yang tersesat itu adalah orang-orang Nashrani”.

 Ketiga, Riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat ‘Adi bin Hatim ra:

َعنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ “حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ”, عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِي فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِي اللَّيْلِ فَلَا يَسْتَبِينُ لِي فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ

 Artinya: Dari ‘Adi bin Hatim ra berkata: “Tatkala turun ayat “حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ (hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam) (Q.S. al-Baqarah [2]: 187), aku berpegang pada ikatan yang berwarna hitam dan ikatan yang berwarna putih, yang (keduanya) aku letakkan dibawah bantalku. Akupun melihat (kedua ikatan) pada waktu masih malam hari, tapi tetap tidak jelas bagiku. Keesokan harinya aku menghadap kepada Rasulullah saw dan aku ceritakan tentang hal tersebut. Nabi saw lalu mengatakan: “Yang dimaksudkan (ayat itu) adalah hitamnya malam dan putihnya cahaya siang”.

 Dari  keterangan data-data diatas, tampak dengan jelas bahwa keberadaan ilmu-ilmu al-Qur’an pada masa Rasulullah saw disampaikan dengan jalan talqin dan musyafahah atau dari mulut ke mulut. Keadaan ini terus berlanjut setelah wafatnya Rasulullah saw, dimana pucuk kepemimpinan dipegang oleh Khalifah pertama, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq ra.

Pada masa khalifah Abu Bakar ra, para sahabat tetap menaruh perhatian dan minat yang tinggi dalam mengkaji, menyampaikan, dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Pada masa khalifah Abu Bakar ra mulai ada inisiatif untuk mengumpulkan teks-teks al-Qur’an ke dalam satu mashaf, karena adanya kekhawatiran hilangnya teks-teks tersebut yang masih tersebar dalam bentuk tulisan di tulang belulang, bebatuan, atau pelepah kurma. Keadaan ini masih berlanjut pada masa Khalifah kedua yaitu ‘Umar bin Khaththab ra.

Pada masa khalifah ‘Umar ra ditengarai sudah mulai adanya inisiatif untuk meletakkan titik-titik bagi beberapa huruf (tanqith) guna membedakan bentuk satu huruf dengan huruf lainnya yang memiliki kemiripan. Hal ini berawal dari suatu kasus salah seorang prajurit muda yang bermaksud pulang ke kampung halamannya setelah mengikuti satu pertempuran dalam penyebaran Islam. Ketika pemuda tersebut menghadap kepada khalifah ‘Umar ra dan memohon izin untuk pulang, khalifah meminta kepadanya untuk membawa sepucuk surat agar dia menyerahkannya kepada gubernur wilayah kampung halamannya. Dalam surat tersebut, khalifah ‘Umar ra menulis satu kalimat yang berbunyi: أقبل حامل هذه الرسالة(artinya: sambutlah dengan hangat pembawa surat ini) tanpa adanya titik-titik pada huruf-huruf kalimat tersebut. Ketika pemuda tersebut menyerahkan surat khalifah ‘Umar ra itu kepada Gubernurnya, maka sang Gubernur lalu membacanya. Setelah membaca isi surat, maka tampak adanya keheranan, kebingungan dan tanda tanya yang terpancar dari wajah sang Gubernur yang saat itu membacanya dengan ungkapan أقتل حامل هذه الرسالة(artinya: bunuhlah pembawa surat ini). Sang gubernur lalu menyuruh ajudannya untuk menghadap kepada khalifah ‘Umar ra dan mempertanyakan apa bentuk kesalahan pemuda yang membawa surat tersebut sehingga beliau memerintahkan Gubernur untuk membunuhnya. Khalifah ‘Umar ra tersentak dan menegaskan bahwa dia tidak bermaksud memerintahkan Gubernur untuk membunuhnya, melainkan titah untuk memuliakannya dengan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya. Maka, atas kasus tersebut diusulkan untuk meletakkan titik-titik bagi beberapa huruf (tanqith) guna menghindari kekeliruan dalam membedakan bentuk satu huruf dengan huruf lainnya yang memiliki kemiripan. Namun peletakan titik untuk beberapa huruf ini belum diarahkan kepada penulisan al-Qur’an. Karena penulisan al-Qur’an ditengarai sepenuhnya berdasarkan keterangan yang didengar dan diterima secara langsung dari Nabi saw (sima‘i). Dan al-Qur’an yang baru dikumpulkan pada masa khalifah Abu Bakar ra hanya disimpan di rumah Siti Hafshah, dan baru dikaji atau direvis ulang penulisan dan pengumpulannya pada masa khalifah ketiga, yaitu Utsman bin ‘Affan ra. Abu Syuhbah menggarisbawahi bahwa sebenarnya pemberian titik-titik pada sebagian huruf ini guna membedakan antara yang satu dengan yang lain bahkan sudah dikenal sebelum Islam muncul; hanya saja para sahabat zaman Nabi saw tidak memberlakukannya dalam penulisan al-Qur’an karena alasan di atas.

Pada masa khalifah Utsman ra, keberadaan ‘Ulum al-Qur’an mengalami perkembangan dari sebelumnya. Pada masa Utsman ra ini Islam semakin tersebar ke berbagai pelosok yang berdampak kepada adanya kontak dan kerjasama antara bangsa Arab dengan bangsa non-Arab (‘ajam). Karena beberapa faktor, khalifah Utsman melihat adanya tuntutan untuk menyeragamkan al-Qur’an dalam satu mushaf standard guna menghindari perpecahan dikalangan umat Islam. Mushaf standard itu dikenal dengan mushaf al-Imam atau mushaf Utsmani. Langkah khalifah Utsman untuk menyeragamkan al-Qur’an dalam satu mushaf standar ini merupakan titik awal berkembangnya salah satu cabang ‘Ulum al-Qur’an, yakni Ilmu Rasm al-Qur’an.

Setelah itu, datanglah masa kepemimpinan khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra. Pada masa khalifah ‘Ali ra ini wilayah Islam semakin meluas sehingga kontak antara bangsa Arab dan non-Arab semakin luas. Apalagi khalifah ‘Ali ra memusatkan pemerintahannya di kota Kufah, Irak. Salah satu dampak negatif dari kontak bangsa Arab dengan non-Arab adalah ternodanya kefasihan bahasa Arab. Salah seorang bawahan dan murid beliau yang bernama Abu al-Aswad al-Du’ali sering mendengarkan suatu ungkapan yang menimbulkan kerusakan tatanan bahasa Arab yang fasih. Kejadian-kejadian itu mengkhawatirkan Abu al-Aswad al-Du’ali akan berdampak kepada rusaknya sistem bahasa Arab yang fasih. Oleh karenanya, Abu al-Aswad mengemukakan kegelisahan dan kekhawatirannya kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Sebagai upaya tindak lanjut atas laporan dari Abu al-Aswa al-Duali, khalifah ‘Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Abu al-Aswa al-Duali untuk menetapkan beberapa rumusan kaidah kebahasaan guna menjaga dan memelihara kemurnian dan kefasihan bahasa Arab selaku bahasa al-Qur’an. Dengan demikian Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra dan Abu al-Aswa al-Duali telah meletakkan dasar pertama bagi perkembangan ilmu Nahwu atau Ilmu I‘rab al-Qur’an.

Dari keterangan berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan ‘Ulum al-Qur’an pada masa sahabat khulafa’ al-Rasyidin (‘ahd al-sahabah) masih sama dengan masa Rasulullah saw dan hanya mengalami sedikit perkembangan. ‘Ulum al-Qur’an belum terkodifikasi dan menyatu dengan ilmu tafsir selaku induk ilmu-ilmu al-Qur’an (Umm al-‘Ulum al-Qur’aniyyah). Dengan demikian dapat ditetapkan tokoh-tokoh yang berjasa dalam merintis perkembangan dan pertumbuhan ‘Ulum al-Qur’an pada abad I H di era Khulafa’ al-Rasyidin adalah para sahabat yang di kenal memiliki pengetahuan dalam ilmu tafsir dan memiliki semangat dalam mengumpulkan al-Qur’an. Diantara mereka adalah: (1) Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq ra; (2) Khalifah ‘Umar bin Khaththab ra; (3) Khalifah Utsman bin ‘Affan ra; (4) Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra; (5) Ibnu ‘Abbas ra; (6) Ibnu Mas‘ud ra; (7) Zaid bin Tsabit ra; (8) Ubai bin Ka‘ab ra; (9) Abu Musa al-Asy‘ari ra; (10) ‘Abdullah bin Zubair; Mu‘awiyah bin Abu Sufyan ra; (11) Abu al-Aswad al-Du’ali. Disamping para sahabat tersebut, juga ada kalangan tabi‘in selaku murid langsung dari para sahabat tersebut, diantaranya adalah: (1) Mujahid bin Jabr; (2) Sa‘id bin Jubair; (3) Thawus bin Kisan; (4) Atho’ bin Abi Rabah; (5) ‘Ikrimah; (6) Masruq bin al-Ajda‘; (7) ‘Alqamah bin Qais al-Nakha‘i; (8) al-Aswad bin Yazid; (9) Qatadah bin Di‘amah al-Sadusi; (10) Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami; (11) ‘Amr bin Syurahbil; (12) Abu al-‘Aliyah al-Rayahi; (13) Zaid bin Aslam; (14) Muhammad bin Ka‘ab al-Qurazhi; (15) Hasan al-Bashri; dan lain-lain. Mereka dianggap sebagai peletak dasar ilmu-ilmu yang dikenal dengan Ilmu Tafsir, Ilmu Asbab al-Nuzul, Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu Garib al-Qur’an, dan ilmu-ilmu lainnya dari berbagai cabang ‘Ulum al-Qur’an.

 (2)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad II H

Para ulama menilai bahwa pada abad ke II H telah terjadi penyusunan dan penulisan beberapa bidang ilmu-ilmu agama, termasuk ‘Ulum al-Qur’an dalam bentuk bagian-bagian yang belum terkodifikasi secara teratur sebagai satu disiplin ilmu yang utuh. Pada awal abad ini telah ada upaya tindak lanjut terhadap pengembangan keilmuan yang dirintis pada abad I H (‘ashr al-sahabat) seperti keberadaan ilmu Rasm al-Qur’an yang dirintis oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan ra dan ilmu Nahwu yang dikemukakan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra atas gagasan murid beliau Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H). Pada abad II H ini para ulama melihat adanya perkembangan ilmu Tafsir al-Qur’an yang ditandai oleh munculnya para penulis tafsir dari kalangan tabi‘in selaku murid-murid para sahabat yang kompeten di bidang tafsir. Dan ilmu tafsir dipandang sebagai induk ‘Ulum al-Qur’an. Sebab, pembahasan-pembahasan yang merupakan bagian dari ‘Ulum al-Qur’an masih menyatu dengan ilmu tafsir. Diantara ulama yang menyusun kitab tafsir pada abad ke II H ini adalah:

(a)    Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H)

(b)   Syu‘bah bin Hajjaj (w. 160 H)

(c)    Sufyan al-Tsauri (w. 161 H)

(d)   Waki‘ bin Jarrah (w. 197 H)

(e)    Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H)

Disamping para penulis tafsir tersebut, pada abad ke II H ditengarai ada seorang ulama yang telah menulis tentang Nasikh dan Mansukh, yaitu Qatadah bin Di‘amah (w. 118 H).

 (3)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad III H

Pada abad ke-III H ini, muncul para ulama yang menulis tentang cabang-cabang ‘Ulum al-Qur’an disamping tafsir dan ilmu tafsir. Diantara ulama tersebut adalah:

(a)    Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i (w. 204 H) menulis tentang Ahkam al-Qur’an dan beberapa pembahasan terkait dengan ‘Ulum al-Qur’an dalam kitab al-Risalah;

(b)    Muhammad bin al-Mustamir (w. 206 H) menulis tentang Ilmu Tasyabuh al-Qur’an;

(c)    Abu ‘Ubaidah al-Mutsanna (w. 209 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an;

(d)   Abu ‘Ubaid bin Salam (w. 224 H) menulis tentang Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh, ilmu Qira’at, dan Fadha’il al-Qur’an;

(e)    ‘Ali bin al-Madini (w. 234 H) merupakan guru dari Imam al-Bukhari yang menulis tentang Asbab al-Nuzul;

(f)    Imam al-Jahizh (w. 255 H) menulis tentang Nazhm al-Qur’an; yang mengemukakan sisi kemukjizatan al-Qur’an;

(g)   Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H) menulis tentang Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh;

(h)   Ibnu Quthaibah al-Dainuri (w. 276 H) menulis tentang Ilmu Musykil al-Qur’an; dan

(i)     Muhammad bin Ayyub al-Dhirris (w. 294 H) menulis kitab tentang Ilmu al-Makki dan al-Madani.

(4)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad IV H

Para ulama menilai bahwa pada abad ke-IV H ini mulai dikemukakan tulisan tentang Garib al-Qur’an (Kosa kata al-Qur’an yang dipandang asing) dan beberapa pembahasan dalam ‘Ulum al-Qur’an dengan mempergunakan istilah ‘Ulum al-Qur’an secara jelas dan tegas. Diantara ulama yang menyusun pembahasan tentang ‘Ulum al-Qur’an pada abad ke-IV H ini adalah:

(a)    Muhammad bin Zaid al-Wasithi (w. 306 H) menulis tentang Ilmu I‘jaz al-Qur’an;

(b)   Muhammad bin Khalaf al-Marzuban (w. 309 H) yang menulis kitab al-Hawi Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)    Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H) menulis kitab al-Mukhtazan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(d)   Abu Bakar Muhammad bin Qasim al-Anbari (w. 328 H) menulis kitab ‘Aja’ib ‘Ulum al-Qur’an yang mengemukakan uraian tentang keutamaan al-Qur’an, perihal turunnya dalam tujuh huruf, penulisan dan pengumpulannya dalam mushaf, dan jumlah bilangan surat, ayat, dan kalimat;

(e)    Abu Bakar al-Sijistani (w. 330 H) menulis tentang Garib al-Qur’an;

(f)    Abu Ja‘far al-Nahhas (w. 338 H) menulis tentang al-Waqf wa al-Isti’naf;

(g)   Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad bin ‘Ali al-Karkhi (w. 360 H) menulis kitab Nukat al-Qur’an al-Dallah ‘ala al-Bayan Fi Anwa‘ al-‘Ulum wa al-Ahkam al-Munbi’ah ‘an Ikhtilaf al-Anam;

(h)   Imam al-Rumani (w. 384 H) menulis tentang Ilmu I‘jaz al-Qur’an;

(i)     Abu Sulaiman al-Khaththabi (w. 388 H) menulis kitab Bayan I‘jaz al-Qur’an;

(j)     Muhammad bin ‘Ali al-Adfawi (w. 388 H) menyusun kitab setebal 20 jilid dengan judul al-Istigna’ Fi ‘Ulum al-Qur’an.

 (5)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad V H

Pada abad ke V H perkembangan ‘Ulum al-Qur’an terus mengalami peningkatan. Pada abad ini sudah mulai disusun Ilmu I‘rab al-Qur’an dalam satu kitab utuh. Diantara ulama ‘Ulum al-Qur’an yang muncul pada abad ke V H ini adalah:

(a)    Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin al-Thayyib al-Baqillani (w. 403 H) menulis kitab tentang I’jaz al-Qur’an dan al-Intishar li al-Qur’an;

(b)   Al-Syarif al-Murtadha (w. 406 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an;

(c)    ‘Ali bin Ibrahim al-Khufi (w. 430 H) menulis kitab, yaitu al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an, yang disamping berisi penafsiran al-Qur’an, juga menjelaskan pembahasan dalam ilmu-ilmu al-Qur’an yang ada kaitannya dengan ayat-ayat yang ditafsirkan. Disamping itu al-Khufi juga menulis kitab tentang Ilmu I‘rab al-Qur’an;

(d)   Abu ‘Amr al-Dani (w. 444 H) menulis beberapa kitab tentang Ilmu Qira’at, seperti al-Taisir bi al-Qira’at al-Sab‘, al-Waqfu wa al-Ibtida’, dan al-Muhkam Fi al-Nuqath;

(e)    Abu Hasan al-Mawardi (w. 450 H) menulis tentang Ilmu Jidal al-Qur’an;

(f)    Yusuf bin ‘Abd Allah bin Muhammad ‘Abd al-Barr atau yang dikenal dengan Ibnu ‘Abd al-Barr (w. 463 H) menulis setidaknya lima kitab tentang ‘Ulum al-Qur’an, yaitu: (1) al-Bayan ‘an Tilawah al-Qur’an; (2) al-Iktifa’ Fi al-Qira’at; (3) al-Tajwid wa al-Madkhal Ila ‘Ilmi al-Qira’at bi al-Tahdid; (4) al-Madkhal Fi al-Qira’at; dan (5) Ikhtishar Ahkam al-Qur’an;

(g)   Imam al-Wahidi al-Naisaburi (w. 468 H) menulis tentang Ilmu Asbab al-Nuzul;

(h)   ‘Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 471 H) menulis beberapa kitab tentang kemukjizatan dan kebalagahan al-Qur’an, seperti al-Risalah al-Syafiyah Fi al-I‘jaz, Dala’il al-I‘jaz, dan Asrar al-Balagah.

(6)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VI H

Pada abad ke VI H, pertumbuhan ‘Ulum al-Qur’an terus berkembang dengan munculnya para ulama yang mengemukakan pembahasan-pembahasan ilmu-ilmu ini dalam satu karya yang semakin teratur dan sistematis. Diantara ulama yang muncul pada abad ke VI H ini adalah:

(a)    Imam al-Ragib al-Ashfahani (w. 502 H) menulis kitab Ilmu Mufradat al-Qur’an;

(b)   Abu al-Qasim bin ‘Abd al-Rahman al-Suhaili (581 H) yang menulis tentang Ilmu Mubhamat al-Qur’an dalam kitab al-Ta‘rif wa al-I‘lam Bima Ubhima Fi al-Qur’an Min al-Asma’ wa al-A‘lam;

(c)    Imam al-Syathibi (w. 590 H) yang menulis tentang Ilmu al-Qira’at dalam kitab yang berjudul Nuzhum al-Qira’at al-Sab‘i;

(d)   Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menulis kitab Funun al-Afnan Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan al-Mujtaba Fi ‘Ulum Tata‘allaqu Bi al-Qur’an.

 (7)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VII H

Pertumbuhan dan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an pada abad ke VII H ditandai dengan munculnya para ulama yang mengemukakan karya tulis seputar ilmu-ilmu tersebut, diantaranya adalah:

(a)    Imam al-‘Akbari (w. 616 H) menulis tentang Ilmu I‘rab al-Qur’an;

(b)   ‘Alam al-Din al-Sakhawi (w. 643 H) menulis tentang Ilmu Majaz al-Qur’an dan Ilmu al-Qira’at melalui kitabnya Munzhumat al-Sakhawiyyah dan kitab Jamal al-Qurra’ wa Kamal al-Iqra’;

(c)    Ibnu ‘Abd al-Salam (w. 660 H) menulis tentang Majaz al-Qur’an;

(d)   Abu Syamah ‘Abd al-Rahman bin Isma‘il al-Maqdisi (w. 665 H) menulis kitab berjudul al-Mursyid al-Wajiz Fi Ma Yata‘allaqu Bi al-Qur’an al-‘Aziz.

(8)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad VIII H

Para ulama memandang bahwa abad ke VIII H merupakan abad kecemerlangan dalam perkembangan ‘Ulum al-Qur’an dengan munculnya para tokoh yang mengemukakan pembahasan-pembahasan baru dalam ‘Ulum al-Qur’an yang melengkapi dan menyempurnakan pembahasan-pembahasan sebelumnya. Diantara ulama yang muncul pada abad ke VIII H ini adalah:

(a)    Ahmad bin Ibrahim bin Zubair al-Tsaqafi (w. 708 H) guru dari Abu Hayyan al-Andalusi, menulis tentang Munasabah al-Qur’an melalui karyanya al-Burhan Fi Tanasub Suwar al-Qur’an;

(b)   Najm al-Din al-Thufi (w. 716 H) menulis tentang Ilmu Jidal al-Qur’an atau Hujaj al-Qur’an;

(c)    Taqiy al-Din Ahmad Ibn Taimiyah al-Harani (w. 728 H) menulis tentang Ilmu Ushul al-Tafsir;

(d)   Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 752 H) menulis tentang Aqsam al-Qur’an atau sumpah-sumpah dalam al-Qur’an;

(e)    Badr al-Din al-Zarkasyi (w. 794 H) menulis kitab yang berjudul al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)    Ibn Abi al-Ishba‘ menulis tentang Ilmu Bada’i‘ al-Qur’an atau bentuk-bentuk keindahan bahasa dan kandungan makna al-Qur’an.

(9)    Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad IX H

Abad ke IX H merupakan kelanjutan dari kecemerlangan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an dari abad sebelumnya. Para ulama pada abad ke IX ini semakin mengembangkan dan memperdalam pembahasan ‘Ulum al-Qur’an. Diantara ulama yang muncul pada abad ini adalah:

(a)    Imam Jalal al-Din al-Bulqini (w. 824 H) menulis kitab yang berjudul Mawaqi‘ al-‘Ulum Min Mawaqi‘ al-Nujum, yang memuat 50 persoalan ‘Ulum al-Qur’an. Imam al-Suyuthi menilai bahwa Imam Jalal al-Din al-Bulqini selaku pelopor dalam penyusunan kitab ‘Ulum al-Qur’an yang lengkap dan utuh;

(b)   Muhammad bin Sulaiman al-Kafiyaji (w. 879 H) menyusun kitab al-Taisir Fi Qawa‘id al-Tafsir, yang berisikan penjelasan tentang makna tafsir, takwil, arti surat, ayat, dan syarat-syarat menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yi (akal);

(c)    Burhan al-Din al-Biqa‘i (w. 885 H) menulis tentang penafsiran berdasarkan kesesuaian, keserasian, dan kesatuan ayat-ayat al-Qur’an melalui kitab Nazhm al-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar. Kitab ini dipandang selaku kitab terbaik dalam mengemukakan dan menampakkan munasabat di dalam al-Qur’an.

 (10)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad X H

Abad ke-X H dipandang oleh para ulama selaku abad penyempurnaan perkembangan ‘Ulum al-Qur’an. Karena pada abad ini muncul seorang tokoh yang menulis tentang ‘Ulum al-Qur’an secara lengkap, yaitu Imam Jalal al-Din al-Sayuthi (w. 911 H) yang setidaknya menyusun sembilan buah karangan yang terkait dengan ‘Ulum al-Qur’an, yaitu: (a) Tanasuq al-Durar Fi Tanasub al-Suwar; (b) al-Tahbir Fi ‘Ulum al-Tafsir; (c) al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an; (d) al-Durr al-Mantsur Fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur; (e) Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul; (f) Mu‘tarak al-Aqran Fi I‘jaz al-Qur’an; (g) Marashid al-Mathali‘ Fi Tanasub al-Maqathi‘ wa al-Mathali‘; (h) Mufahhamat al-Aqran Fi Mubhamat al-Qur’an; dan (i) Thabaqat al-Mufassirin.

Para ulama juga menilai abad ke X ini selaku awal kemunduran perkembangan ‘Ulum al-Qur’an. Hal ini dikarenakan sedikitnya para ulama yang muncul dibandingkan masa-masa sebelumnya. Keadaan ini juga ditengarai disebabkan oleh anggapan bahwa ‘Ulum al-Qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan berhenti dengan berhentinya kegiatan para ulama dalam mengembangkan ilmu-ilmu al-Qur’an. Kebekuan dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an ini terus berlanjut sampai akhir abad ke XIII H dan bangkit kembali pada abad ke XIV H.

(11)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an Pada Abad XIV-XVH

Abad XIV merupakan awal abad modern, dimana pada abad ini para perintis dan pembaharuan pemikiran Islam berusaha untuk membangkitkan kembali kondisi umat Islam yang mengalami keterpurukan, keterbelakangan, dan kemandegan pemikiran dalam berbagai bidang kehidupan. Dr. Muhammad Syakib Arselan dalam kitab “Limaza Ta’akhkhara al-Muslimun Wa Taqaddama Gairuhum” menilai bahwa salah satu sebab terjadinya kondisi ini adalah semakin terabaikannya nilai-nilai petunjuk kitab suci al-Qur’an dari kehidupan kaum Muslimin. Mereka jauh dari ajaran dan petunjuk al-Qur’an. Oleh karena itu, para perintis dan pembaharuan pemikiran Islam berusaha untuk mengintesifkan interaksi mereka dengan al-Qur’an guna menemukan solusi cerdas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghimpit dunia Islam dan kaum Muslimin. Atas usaha sungguh-sungguh ini, maka lahirlah karya-karya baru yang berhubungan dengan al-Qur’an, seperti tafsir, ilmu tafsir, dan ‘Ulum al-Qur’an.

Diantara para ulama yang memberikan perhatian besar dalam menyusun kitab-kitab yang berhubungan dengan pembahasan-pembahasan dalam ‘Ulum al-Qur’an pada abad XIV H ini adalah:

(a)    Imam al-Dahlawi menulis kitab al-Fauz al-kabir Fi ushul al-Tafsir;

(b)   Al-Syeikh Thahir al-Jazairi menulis kitab al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)    Jamal al-Din al-Qasimi menulis kitab al-Qur’an wa al-‘Ulum al-‘Ashriyyah, dan Mahasin al-Ta’wil, dimana pada juz pertama kitab ini dikhususkan untuk pembahasan ‘Ulum al-Qur’an;

(d)   Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zarqani menulis kitab Manahil ‘Irfan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(e)    Muhammad ‘Ali Salamah menulis kitab Manhaj al-Furqan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)    ‘Abd al-Hamid al-Farahi menulis kitab Dala’il al-Nizham;

(g)   Badi‘ al-Zaman Sa‘id Mirza al-Nursi menulis kitab al-Kalimat;

(h)    Mushtafa Shadiq al-Rafi‘i menulis kitab I‘jaz al-Qur’an;

(i)     Sayyid Quthub menulis kitab al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an;

(j)     Malik bin Nabi menulis kitab al-Zhahirat al-Qur’aniyyah;

(k)   Muhammad al-Gazali menulis kitab Kaifa Nata‘amal Ma‘a al-Qur’an, dan Nazharat Fi al-Qur’an;

(l)     Muhammad ‘Abd Allah Diraz menulis kitab al-Naba’ al-‘Azim: Nazharat Jadidah Fi al-Qur’an, Madkhal Ila al-Qur’an, dan Hashshad Qalam;

(m) Imam Abu Zahrah menulis kitab al-Mu‘jizah al-Kubra al-Qur’an: Nuzuluhu, Kitabatuhu, Jam‘uhu, I‘jazuhu, Jadaluhu, ‘Ulumuhu, Tafsiruhu, Hukm al-Gina’ Bihi;

(n)   Muhammad Shadiq ‘Arjun menulis kitab tentang I‘jaz al-Qur’an;

(o)   ‘Abd al-Qadir ‘Atho’ menulis kitab ‘Azhmat al-Qur’an;

(p)   Muhammad Mahmud Hijazi menulis kitab al-Wahdah al-Maudhu‘iyyah Fi al-Qur’an al-Karim;

(q)   Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi menulis kitab al-Mu‘jam al-Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim;

(r)     Khalid ‘Abd al-Rahman al-‘Akk menulis kitab Ushul al-Tafsir Wa Qawa‘iduhu;

(s)    Muhammad Abu Syuhbah menulis kitab al-Madkhal Li Dirasat al-Qur’an;

(t)     Dr. Subhi al-Shaleh menulis kitab Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an;

 Perhatian besar dalam berinteraksi dengan al-Qur’an ini terus berlanjut dan semakin berkembang pada abad ke-XV H. Perhatian ini juga terlihat jelas dengan semakin menggeliatnya kajian-kajian seputar al-Qur’an yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam dan departemen keagamaan Islam. Banyak universitas dan lembaga pendidikan tinggi Islam yang mulai membuka secara khusus jurusan-jurusan dan program-program studi yang terkait dengan ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti Universitas al-Azhar di Kairo, Universitas al-Zaitunah di Tunisia, Universitas Umm al-Qura di Makkah, Universitas Qum Iran, Universitas Ahl al-Bait di Yordania, dan universitas-universitas serta perguruan tinggi Islam lainnya di berbagai penjuru dunia. Dari universitas dan perguruan tinggi Islam ini muncul kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah, termasuk dalam meneliti kajian-kajian ke-al-Qur’an-an, sehingga melahirkan karya tulis yang tak terhitung jumlahnya. Diantara ulama dan tokoh yang mengemukakan karya tulis tentang ‘Ulum al-Qur’an pada abad XV ini adalah:

(a)      Sa‘id Hawwa menulis kitab al-Asas Fi Qawa‘id al-Ma‘rifat wa Dhawabith al-Fahm Li al-Nushush;

(b)     Manna‘ Khalil al-Qaththan menulis kitab Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(c)      Al-Sayyid Ahmad ‘Abd al-Gaffar menulis kitab Fi al-Dirasat al-Qur’aniyyah: al-Janib al-Tarikhi, al-Janib al-Uslubi, al-Janib al-Balagi;

(d)     Muhammad Quthub menulis kitab Dirasat Qur’aniyyah;

(e)      Muhammad ‘Ali al-Shabuni menulis kitab al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(f)      Ahmad al-Syirbashi menulis kitab tentang Qashash al-Qur’an;

(g)     Muhammad Sayyid Thanthawi menulis kitab tentang al-Qishshah Fi al-Qur’an al-Karim;

(h)      Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Makki menulis kitab al-Qawa‘id al-Asasiyyah Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan Zubdat al-Itqan;

(i)       Syeikh Muhammad bin Ibrahim menulis kitab al-Jawab al-Wadhih al-Mustaqim Fi al-Tahqiq Fi Kaifiyyat Inzal al-Qur’an al-Karim

(j)       ‘Abd al-Fattah Abu Sinnah menulis kitab ‘Ulum al-Qur’an;

(k)     Muhammad Hadi Ma‘rifat menulis kitab al-Tamhid Fi ‘Ulum al-Qur’an, dan Tarikh al-Qur’an;

(l)       Nashr Hamid Abu Zaid menulis kitab Mafhum al-Nash: Dirasat Fi ‘Ulum al-Qur’an, Isykaliyyat al-Qira’ah wa Aliyat al-Ta’wil, dan Naqd al-Khithab al-Dini;

(m)   Muhammad Syahrur menulis kitab al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah Mua‘shirah;

(n)     Fadhl Hassan ‘Abbas menulis kitab Itqan al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an;

(o)     Ziyad Khalil al-Dagamin menulis kitab I‘jaz al-Qur’an Wa Ab‘aduhu al-Hadhriyyah Fi Fikr al-Nursi;

(p)     ‘Abd al-Karim Hamidi menulis kitab Dhawabith Fi Fahm al-Nash;

(q)     Muhammad ‘Abid al-Jabiri menulis kitab Madkhal Ila al-Qur’an;

(r)       Shalah ‘Abd Fattah al-Khalidi menulis kitab Mafatih Li al-Ta‘amul Ma‘a al-Qur’an;

(s)      Al-Mutsanna ‘Abd al-Fattah Mahmud menulis kitab Nazhariyyat al-Siyaq al-Qur’ani;

(t)       Mushtafa Muslim menulis kitab Mabahits Fi I‘jaz al-Qur’an;

(u)     ‘Imran Sumaih Nazzal menulis kitab al-Madkhal al-‘Ilmi wa al-Ma‘rifi Li Fahm al-Qur’an al-Karim: Nazharat Fi al-Tajdid al-Manhaji;

(v)     ‘Adnan Muhammad Zarzur menulis kitab Madkhal Ila Tafsir al-Qur’an wa ‘Ulumihi;

(w)   Fahd bin ‘Abd al-Rahman al-Rumi menulis kitab Buhuts Fi Ushul al-Tafsir Wa Manahijuhu;

(x)     ‘Abd al-Muta‘al al-Jabari menulis kitab al-Nasakh fi al-Syari‘ah al-Islamiyah Kama Afhamuhu, dan La Naskha fi al-Qur’an; Limaza?;

(y)     ‘Abd al-Shabur Syahin menulis kitab Tarikh al-Qur’an: Difa‘  Dhidda Hajamat al-Istisyraq;

(z)      Ibrahim ‘Abdurrahman Khalifah menulis kitab Minnah al-Mannan Fi ‘Ulum al-Qur’an.

(12)Perkembangan ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia

Semangat untuk berinteraksi dengan al-Qur’an melalui pengkajian dan pengembangan ‘Ulum al-Qur’an meluas ke seluruh penjuru dunia dimanapun umat Islam berada, termasuk di Indonesia. Semangat dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia sudah tampak dari adanya naskah kitab dan buku-buku tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Indonesia, baik yang di tulis dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Melayu, maupun bahasa-bahasa daerah. Semangat pengembangan ‘Ulum al-Qur’an ini semakin tampak dari adanya inisiatif pemerintah (Departemen Agama RI) untuk membentuk Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Qur’an, menunjuk TIM penulis Tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang terus mengalami revisi, perbaikan, dan penyempurnaan, serta membangun Bait al-Qur’an. Disamping melalui langkah pemerintah tersebut,  semangat pengembangan ‘Ulum al-Qur’an juga tampak dari adanya lembaga pendidikan Islam swasta dan lembaga non-pendidikan yang memfokuskan diri dalam  al-Qur’an dan keilmuannya, seperti lembaga Tahfiz al-Qur’an, Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ), Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) dan lembaga-lembaga lainnya. Demikian juga dengan Pendidikan Tinggi Islam Negeri yang bernaung di bawah Departemen Agama mulai membuka program dan jurusan Tafsir/Hadits dan ‘Ulum al-Qur’an, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN ‘Alauddin Makassar, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, IAIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Wali Songo Semarang, IAIN al-Raniri Banda Aceh, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Raden Fatah Palembang, dan Pendidikan Tinggi Islam Negeri lainnya.

Diantara ulama dan tokoh Indonesia yang memiliki andil dalam pengembangan ‘Ulum al-Qur’an adalah:

(a)    Syeikh ‘Abd al-Rauf Singkel yang menulis Tafsir Tarjuman al-Mustafid pada abad ke- 17 M. Kitab ini merupakan kitab tafsir pertama yang ditulis di Nusantara dalam bahasa Melayu;

(b)   Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Jawi yang menyusun kitab Tafsir Marah Labid dalam bahasa Arab pada abad ke-19 M;

(c)     Prof. H. Mahmud Yunus yang menulis buku Tafsir al-Qur’an al-Karim Bahasa Indonesia;

(d)   Prof. T.M. Hasbi al-Shiddiqi yang menulis kitab Tafsir al-Nur dan beberapa buku tentang ‘Ulum al-Qur’an, seperti buku Ilmu-Ilmu al-Qur’an: Membahas Ilmu-Ilmu Pokok Dalam Menafsirkan al-Qur’an;

(e)    Prof. K.H. R. Muhammad ‘Adnan menulis Tafsir al-Qur’an Suci dalam bahasa Jawa;

(f)    K. H. M. H. D. Ramli menulis al-Kitab al-Mubin Tafsir al-Qur’an dalam bahasa Sunda;

(g)   Drs. Muhammad Rifa‘i menulis tentang Al-Qur’an dan Terjemahannya;

(h)   H. Oemar Bakry yang menulis Tafsir Rahmat;

(i)     Prof. HAMKA yang menulis Tafsir al-Azhar;

(j)     Bachtiar Surin yang menulis Al-Zikra: Terjemah dan Tafsir al-Qur’an dalam Huruf Arab dan Latin;

(k)   Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menulis tentang Tafsir al-Amanah, Wawasan al-Qur’an, Membumikan al-Qur’an, Tafsir al-Mishbah, dan beberapa buku terkait lainnya;

(l)     K.H. Mustofa Bisri menulis Tafsir al-Ubairiz dalam bahasa Jawa;

(m) Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis tentang Tafsi bi al-Ma’tsur dan Tafsir Sufi;

(n)   AG. H. Daud Isma‘il menulis Tarjumana Nenniya Tafsẻrẻna Juzu’ Mammulangngẻ Mabbicara Ogi, sebuah kitab tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis.     

 Disamping kitab dan buku-buku tafsir al-Qur’an di atas, para ulama, tokoh, dan pemerhati ‘Ulum al-Qur’an di Indonesia juga menulis tentang pembahasan-pembahasan ‘Ulum al-Qur’an lainnya. Diantaranya adalah:

(a)    Prof. Dr. H. ‘Abdul Jalal H.A. menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(b)   Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menulis buku Mukjizat al-Qur’an: Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib, dan  Sejarah ‘Ulum al-Qur’an (bersama TIM);

(c)    Prof. Dr. Taufik Adnan Amal menulis buku Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an;

(d)   Prof. Dr. M. Dawam Raharjo menulis tentang Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci;

(e)    Prof. Dr. Nashruddin Baidan menulis buku Wawasan Baru Ilmu Tafsir;

(f)    Prof. Dr. Sa‘id Agil Husein al-Munawwar menulis buku I‘jaz al-Qur’an dan Metodologi Tafsir;

(g)   Prof. Dr. Roem Rowi menulis buku Menafsir Ulumul Qur’an: Upaya Apreseasi Tema-Tema Pokok Ulumul Qur’an;

(h)   Drs. A. Syadali dan Drs. A. Rafi‘i menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(i)     Dr. Rosihan Anwar menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(j)     Prof. Dr. Muhammad Amin Summa menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(k)   Prof. Dr. Nasaruddin ‘Umar menulis buku ‘Ulum al-Qur’an;

(l)     Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan menulis buku al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar.