Syarat Berbisnis dengan Allah

  Bahwa dalam aneka transaksi bisnis salah satu sifat atau syarat utama yang harus menyertainya adalah ketiadaan paksaan. Bisnis harus didasari oleh kerelaan kedua belah pihak, yakni suka sama suka. Karena itu jangan memaksa pihak lain untuk berbisnis dengan Anda.  Anda atau mitra Anda pun dapat menetapkan syarat untuk terjalinnya transaksi bisnis serta jenis dan kualifikasi komoditi yang Anda perjualbelikan, lalu terserah kepada mitra Anda menerima syarat itu atau menolaknya.

Demikian juga halnya untuk berbisnis dengan Allah. Ketika Allah menetapkan syarat-syarat dalam berbisnis dengan-Nya, maka itu datang dari pihak-Nya yang Maha kuasa dan yang tunduk kepada-Nya—suka atau tidak—seluruh jagad raya dan isinya. Jika demikian, syarat-sayarat yang akan terbaca di bawah ini adalah syarat-syarat yang wajar. Ia wajar, bukan saja jika ditinjau dari sisi kenyataan alamiah, yakni tunduknya yang lemah terhadap yang kuat, tetapi juga karena syarat-syarat itu akan diterima baik saat disadari bahwa ketundukan itu merupakan rahmat dan pertanda kasih sayang serta untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mitra bisnis-Nya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, lalu mereka enggan memikulnya, (jangan sampai jika mereka menerimanya mereka mengkhianatinya), dan mereka takut (dari pertanggung jawabannya, lalu kami menawarkannya kepada manusia) maka diterima dan) dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (yakni manusia) amat zalim (jika tidak menunaikan amanat) dan amat bodoh (jika menerima amanat itu lalu mengkhianatinya), (QS. 33:72)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah tidak memaksa siapa pun, termasuk manusia, menerima amanah yang ditawarkan-Nya. Allah yang menawarkannya tidak “menjual”-Nya dengan paksa kepada siapa atau apa pun. Buktinya langit, bumi, dan gunung-gunung enggan menerimanya, namun Allah tidak mengutuk mereka.

Syarat pertama dan utama adalah percaya pada-Nya, atau tepatnya saling percaya sebagaimana layaknya terjadi dalam setiap hubungan bisnis. Tanpa saling percaya maka semua interakasi bisnis tidak memiliki nilai dan dampak positif. Dalam konteks ini dapat digarisbawahi dua hal berikut:

a.      Allah swt percaya pada manusia

“Kepercayaan Allah” itu bukannya tanpa dasar. Allah menganugerahi manusia akal yang menjadikannya mampu memilih dan memilih serta berinisiatif. Allah swt “percaya” yakni mengakui dan menganggap bahwa manusia mampu melakukan transaksi dan menjalin bisnis dengan-Nya. Seandainya Allah tidak percaya, niscaya amanat yang ditawarkan-Nya tidak akan diserahkan kepada manusia (QS. Al-Ahzab [33]:72 diatas). Kepercayaan ini karena Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya untuk bermuamalah/berinteraksi dengan-Nya dan menjadi khalifah di dunia yakni memakmurkannya sesuai pesan-Nya.

b.     Manusia dituntut untuk percaya kepada-Nya

Manusia dituntut untuk percaya kepada Allah swt. Kepercayaan dimaksud adalah bahwa Dia Mahaesa dalam zat, sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Siapa yang tidak percaya kepada-Nya, maka transaksi bisnis dengan-Nya tidak diterima sebaik apa pun “kualitas dan kemasan bahan yang ditawarkan/dijualnya”.

Selain itu manusia harus percaya terhadap apa yang disampaikan-Nya. Mencakup kepercayaan kepada malaikat, nabi dan rasul, kitab suci maupun pesan-pesan-Nya yang tidak tercantum dalam kitab suci, dan yang tidak kurang pentingnya adalah percaya pada komitmen dan janji-janjiNya, antara lain janji bahwa “pembayaran” baru akan ditunaikan secara sempurna di Hari Kemudian yang pasti datang walau belum ditentukan tanggalnya.

Memang boleh jadi dewasa ini Anda belum menyadari atau merasakan keuntungan berbisnis dengan-Nya, bahkan boleh jadi ada yang merasa rugi, tetapi sekali lagi mari kita gunakan logika pebisnis sukses dan bertanya: bukankah seorang pebisnis atau satu perusahaan harus berhitung tentang keunutngan jangka panjang? Terkadang, bahkan demi keuntungan itu, perusahaan bersedia mengeluarkan biaya terlebih dahulu, itu mereka lakukan walau belum ada kepastian tentang keuntungan masa depan itu.

Sebagimana layaknya bisnis yang baik, pencatatan aktivitas bisnis haruslah dilakukan. Karena itu, kendati Allah Maha mengetahui serta tidak disentuh oleh kesalahan dan lupa, namun ada petugas-petuagas yang adil, cermat, pandai yakni malaikat-malaikat yang ditugaskan-Nya secara khusus mencatat semua transaksi dan muamalah sekecil apapun.

Dikutiip dari Buku : Berbisnis dengan Allah, karya M. Quraish Shihab, Tangerang; Lentera Hati, 2008, Hal. 85