Seputar Surah Al-Fatihah

 Oleh : Wahib Mu’thi

Surat al-Fatihah tergolong Surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekah sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Perkataan Al-Fatihah berarti “pembuka”. Surat ini dinamakan Surat Al-Fatihah karena menjadi pembuka kitab suci Al-Qur’an. Ia merupakan surat yang pertama dari segi penempatannya dalam susunan Kitab Suci Al-Qur’an.  Perkataan Al-Fatihah yang menjadi nama dari surat ini dapat juga berarti “pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebajikan.”

Surat Al-Fatihah mempunyai beberapa nama lainnya. Di antara nama-nama dari Surat Al-Fatihah ialah :

1. Umm Al- Qur’an atau Umm Al-Kitab. Dinamakan Umm Al-Qur’an atau Umm Al-Kitab karena Surat Al-Fatihah itu merupakan induk dari semua ayat-ayat Al-Qur’an.

2.  Al-Sab’ al-Matsani, yang berarti “tujuh ayat yang diulang-ulang.” Allah SWT berfirman (artinya) :“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan As-Sab’ al-Matsani dan Al-Qur’an yang Agung.”  Q. S. Al-Hijr/15 : 87. Dinamakan Al-Sab’ al-Matsani karena surat tersebut terdiri dari tujuh ayat yang diulang-ulang pembacaannya di dalam shalat. Dapat juga dinamakan Al-Sab’ Al-Matsani karena kandungan atau pesannya diulang-ulang dan dirinci oleh ayat-ayat lainnya di dalam Al-Qur’an.

3.  Surat Al-Shalat. Dinamakan Surat Al-Shalat, demikian tersebut dalam hadits qudsi,  karena Surat Al-Fatihah dibaca pada setiap ra’kaat di dalam shalat.

4.  Surat Al-Hamd, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah.

Pokok-Pokok Kandungan Surat Al-Fatihah

 Surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Empat ayat yang pertama berisi puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya disebut  Nama Allah : Al-Rahman, Al-Rahim, Rabb al-‘Alamin, dan Maliki Yaum al-ddin. Tiga ayat yang terakhir berisi  doa  kepada Allah SWT, yaitu mohon pertolongan kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang membawa kepada kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Syekh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah mengandung lima intisari ajaran Al-Qur’an (maqashid al-Qur’an), yaitu  :

1.  Tauhid (Keesaan Allah), yaitu terdapat pada ayat Al-hamdulillahi Rabb Al-‘Alamin dan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.

2.  Ibadah (Ketaatan kepada Allah), yaitu terdapat pada ayat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.

3.  Jalan menuju kebahagiaan, yaitu terdapat pada ayat Ihdina al-shirath al-mustaqim.

4. Janji dan ancaman, yaitu terdapat pada ayat Al-Rahman Al-Rahim dan Malik Yawm Al-Din.

5. Kisah-kisah umat pada zaman dahulu, yaitu sebagaimana diisyaratkan pada ayat “Shirat alladzina an’amta ‘alaihim ghayr al-maghdhubi ‘alaihim wala al-dhallin”. Dalam ayat tersebut disebutkan  tiga golongan manusia, yaitu orang-orang yang diberi nikmat, orang-orang yang dimurkai dan  orang-orang yang sesat.

Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah dinamakan Umm Al-Kitab, karena di dalamnya terkandung initisari ajaran Al-Qur’an. Sebagaimana biji korma dinamakan Umm Al-Nahlah, karena ia merupakan benih atau asal dari pohon korma secara keseluruhannya. Demikian tersebut dalam Tafsir Al-Manar, jilid I, hal. 383.

Tafsir Ayat Demi Ayat

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Allah, yang Rahman lagi Rahim.”

 Allah SWT memulai kitabnya dengan Basmalah. Ayat yang pertama dari Surat Al-Fatihah tersebut  mengandung pesan kepada umat manusia agar memulai segala aktivitasnya dengan menyebut nama Allah. Kata “ba’ yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “dengan” mengandung pengertian  yang tidak diucapkan, yaitu “saya memulai” (“abtadi’u). “Bismillah” yang diucapkan ketika kita memulai suatu pekerjaan mengandung arti  “Saya memulai pekerjaan ini dengan menyebut nama Allah”.  Sebagai ayat yang pertama dari Surat Al-Fatihah, Basmalah mengandung arti bahwa semua yang terkandung di dalam Kitab Suci Al-Qur’an adalah wahyu Allah.

Menyebut Nama Allah ketika kita akan memulai sesuatu pekerjaan merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam agama. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ أَمْرٍ ذِى باَلٍ لَمْ يُبْدَأ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara yang penting yang tidak dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim”, maka perkara tersebut cacat”. (Hadits diriwayatkan oleh Al-Suyuthi dalam Jami’ Al-Shaghir). Yang dimaksud dengan “cacat” ialah “munqathi’ al-akhir”, artinya terputus atau gagal dengan kata lain perbuatan itu tidak membawa kebaikan di dalam kesudahannya.  M. Quraish Shihab menjelaskan : “Ketika membaca Basmalah dan memulai satu pekerjaan, apapun jenis pekerjaan itu : makan, minum, belajar, belajar, bahkan bergerak dan diam sekalipun, kesemuanya harus disadari bahwa titik tolaknya adalah Allah SWT dan bahwa ia dilakukan demi karena Allah. Ia tidak mungkin dapat terlaksana kecuali atas bantuan dan kekuasaan Allah SWT. (Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 12).

Kata Allah adalah Nama yang menunjuk kepada Dzat yang wajib wujudnya yang menciptakan alam semesta. DaripadaNya berasal segala sesuatu, dan kepadaNya kembali segala sesuatu. Jika disebut nama “Allah” maka Nama itu telah mencakup semua Nama-nama yang lain seperti Al-Rahman, Al-Rahim, Al-‘Alim dan sebagainya. Sedangkan Nama-nama yang lain hanya mengandung makna atau sifat tertentu seperti Al-Rahman (Yang Maha Pengasih/penyayang) mengandung sifat  rahmat,  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) mengandung sifat ilmu,  dan sebagainya. Apabila seseorang mengucapkan kata Allah maka akan terlintas dalam benaknya segala sifat kesempurnaan. Allah SWT menamai dirinya “Allah”, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an (artinya) : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” Q.S. Thaha/20 : 14.

Para ulama berbeda pendapat apakah kata Allah itu diambil  dari kata yang lain atau merupakan kata asal yang tidak diambil atau dibentuk dari kata yang lain. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Allah itu tidak terambil dari kata lain (ghair musytaq). Ia merupakan kata asal, yaitu Nama bagi Tuhan. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Allah diambil dari kata ilah, kemudian diberi adat al-ta’rif,  yaitu huruf alif dan lam (al) maka berbunyi Al-Ilah. Kemudian hamzah pada kata Al-Ilah dibuang, maka berbunyi Allah. Adapun  al-ilah itu berasal dari aliha yang berarti ‘abada  (menyembah, mengabdi, tunduk). Disebut ilah karena sesuatu itu disembah (li’annahu ma’bud).  Kata ilah diper-gunakan dalam arti segala sesuatu yang disembah oleh manusia, apapun agama dan kepercayaannya. Sedangkan Allah adalah Tuhan yang sesungguhnya, sebagaimana yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul sepanjang masa. Bentuk jamak dari ilah adalah alihah yang berarti tuhan-tuhan, sedangkan kata Allah itu tidak ada bentuk jamak-nya.

Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah termasuk ayat dari surat Al-Fatihah atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa basmalah tidak termasuk ayat dari surat Al-Fatihah, karena itu tidak dibaca ketika membaca Surat Al-Fatihah di dalam shalat. Imam Syafi’i berpendapat bahwa basmalah termasuk Surat Al-Fatihah karena itu wajib dibaca di dalam shalat. Imam Abu Hanifah mengambil jalan tengah berpendapat bahwa Basmalah dibaca ketika membaca Surat Al-Fatihah, tetapi tidak dengan suara keras. Berbagai pendapat itu tidak harus dipertentangkan. Masing-masing dari pendapat tersebut ada dalilnya, yaitu  merujuk kepada hadits Nabi. Para ulama dari berbagai madzhab sepakat bahwa sah shalat seseorang yang berpendapat bahwa basmalah wajib dibaca di dalam shalat, dan sah pula shalatnya ketika mengikuti imam yang tidak membaca basmalah di dalam shalat. Tafsir Al-Misbah, jilid I, hal. 24-26.

 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya bagi Allah, pemelihara seluruh alam.”

Puji (al-hamdu) dan syukur (al-syukru) adalah dua kata yang sering digabungkan sehingga menjadi kesatuan di dalam ucapan dan keduanya ditujukan kepada Allah. Kedua kata tersebut  mempunyai makna yang berdekatan. Puji, dalam bahasa Arab al-hamd,  berarti ucapan yang baik yang mengandung penghormatan yang ditujukan kepada siapa yang berbuat kebaikan, baik kebaikan itu ditujukan kepada yang memuji atau tidak. Adapun syukur, dalam bahasa Arab al-syukr, adalah ucapan atau ungkapan yang ditujukan kepada siapa yang berbuat kebaikan kepada orang yang menyatakan syukur itu. Syukur dinyatakan dengan hati, dengan lisan maupun dengan perbuatan, sedangkan puji dinyatakan dengan lisan atau perkataan saja. Dengan demikian, dari satu sisi kata puji lebih umum daripada syukur, dari sisi lain syukur mengandung pengertian yang lebih umum daripada pujian. Perkataan al-hamd, yang berarti segala puji, dalam ayat tersebut di atas ditujukan kepada Allah, Dialah sumber dari segala kebaikan.

Rabb, mengandung arti yang memelihara, yang mendidik. Pemeliharaan Allah kepada makhluk meliputi pemeliharaan fisik (tarbiyah khalqiyah), dan pemeliharaan agama dan budi pakerti (tarbiyah diniyah/khuluqiyah). Al-‘Alamin, adalah bentuk jamak dari ‘alam, berarti seluruh alam semesta, yaitu semua yang mempunyai wujud dalam alam semesta ini.  Ada  alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.

Memuji Allah merupakan ibadah yang dianjurkan dalam agama. Rasulullah saw memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa memuji kepada Allah, lebih-lebih ketika merasakan adanya anugerah ilahi. Bahkan ketika mendapat cobaan atau ditimpa musibah kita dian-jurkan memuji Allah dengan mengucapkan : “Alhamdulillah alladzi la yuhmadu ‘ala makruh siwah.” Segala puji bagi Allah, tidak ada yang dipuji ketika suatu cobaan menimpa, selain Allah.

 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Rahman, lagi Rahim

Allah bersifat Al-Rahman dan Al-Rahim. Kedua kata tersebut merupakan bentuk superlatif (mubalaghah) yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu al-rahmah, yang berarti kasih sayang.  Al-Rahman, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, yadullu ‘ala al-katsrah, yakni mengandung arti bahwa kebaikan atau kasih sayang itu sangat banyak, tidak terbatas. Al-Rahim, kata tersebut yadullu ‘ala al-tsabat wa al-baqa’, yakni mengandung arti bahwa kasih sayang Allah merupakan kasih sayang yang tetap dan selama-lamanya. Atas dasar makna tersebut para ulama berpendapat bahwa Al-Rahman adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan kepada semua makhlukNya. Sedangkan Al-Rahim adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan khusus kepada orang-orang yang beriman. Al-Rahman adalah kasih sayang yang ditujukan kepada makhluk pada umumnya baik yang beriman maupun yang tidak beriman (misalnya dalam Q.S. Maryam : 75), sedangkan Al-Rahim secara khusus ditujukan kepada orang yang beriman (misalnya dalam Q.S. Al-Ahzab : 43, Al-Taubat : 117). Sebagian ulama ada pula yang berpendapat bahwa Al-Rahman mengan-dung arti kasih sayang pada umumnya, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan. Sedangkan Al-Rahim secara khusus mengandung arti kasih sayang yang dirasakan.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang Memiliki hari pembalasan.

Kata Malik dapat dibaca dengan mim panjang dan dapat pula dibaca dengan mim pendek. Jika dibaca dengan mim panjang, kata tersebut berarti “yang memiliki” atau “yang menguasai.” Jika dibaca dengan mim pendek, berarti “raja.” Kedua bacaan itu merupakan bacaan Nabi berdasarkan riwayat yang dapat dipertanggung jawabkan kesahihan-nya. Ad-Din, berarti perhitungan atau pembalasan, yang dimaksud ialah perhitungan dan pembalasan kelak di hari kiamat tentang amal baik dan buruk yang dilakukan manusia. Allah SWT adalah Maliki Yawm Al-Din. Artinya yang memiliki hari pembalasan atau Raja di hari pembalasan.  Allah SWT berfirman, “milikNya kerajaan/ ke-kuasaan pada hari ditiup sangkakala” (Q.S. Al-An’am/6 : 73).  Dalam ayat lain Allah berfirman (artinya) : “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Al-Jatsiyah/45 : 28).

Firman Allah Maliki yaumiddin disebutkan dalam surat Al-Fatihah sesudah Al-Rahman Al-Rahim. Hal tersebut mengandung isyarat adanya tarhib, yaitu memberi peri-ngatan dengan menyampaikan berita yang menakutan, sesudah adanya targhib, yaitu menyampaikan kabar yang menggembirakan.  Dalam penjelasan lain, ayat tersebut mengandung wa’d dan wa’id. Yang dimaksud wa’d ialah janji bahwa Allah akan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik. Sedangkan wa’id ialah ancaman bahwa Allah akan menim-pakan siksa kepada orang yang berbuat jahat.

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Iyyaka Na’budu, Hanya kepada Engkau, kami ber-ibadah.  Na’budu diterjemahkan dengan menyembah, me-ngabdi atau taat.  Ibadah  mengandung arti tunduk dan patuh kepada Allah. Dalam pengertian khusus, yang di-maksud dengan ibadah ialah perbuatan yang diperin-tahkan atau dianjurkan dalam agama seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya. Dalam pengertian yang luas, ibadah ialah segala pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan mengabdi kepada Allah SWT.

Iyyaka Nastain, Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Ayat ini mengandung pengajaran kepada umat manusia agar mohon pertolongan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, dan meyakini dengan setulus-tulusnya bahwa segala sesuatu itu terjadi karena per-tolongan Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Syaikh al-Maraghi menyebutkan ada 4 macam hidayah (petunjuk) yang diberikan oleh Allah kepada makhlukNya. Yaitu hidayah ilham (intuisi, naluri), hidayah indra (panca indra), hidayah akal dan hidayah agama. Dengan hidayah dari Allah manusia menempuh jalan yang benar, jalan yang membawa kepada kebahagiaan, dunia dan akhirat.

Shirath al-mustaqim berarti jalan yang lurus. Jalan yang membawa kepada kebahagiaan, di dunia dan di akhirat.  Yang dimaksud dengan jalan yang lurus tidak lain adalah agama yang intinya lain adalah menjalani hidup dengan tujuan beribadah kepada Allah.  Allah SWT berfirman (artinya) : “Katakanlah, sesungguhnya aku telah ditunjukkan oleh Tuhanku kepada shirath al-mustaqim, jalan luas yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Al-An’am/6 : 161).  Al-Shirath Al-Mustaqim adalah menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah. Allah berfirman (artinya) : “Dan beribadahlah kepadaKu, inilah Shirath Al-Mustaqim.” (Q.S. Yasin/36 : 61).

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ

(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka,  bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

 Yang dimaksud dengan “alladzina an’amta ‘alayhim” ialah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Menurut Syaikh Thabathaba’i penafsiran yang paling tepat tentang siapa yang diberi nikmat itu ialah dengan merujuk firman Allah dalam Surat Al-Nisa’/4 : 69 (artinya) : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Al-Maghdhubi ‘alaihim, berarti orang yang dimurkai oleh Allah, ialah orang yang telah datang kepadanya petunjuk, tetapi petunjuk Allah itu diabaikan. Dengan kata lain orang yang mempunyai ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya.  Al-dhallin, berarti orang-orang yang sesat,  ialah orang yang tak pernah mendapat petunjuk, atau tidak mau menerima petunjuk,  karena tertutup hatinya oleh hawa nafsu sehingga ia terjerumus ke dalam kesesatan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang hanya mengandalkan kepada akalnya dan mengabaikan ajaran agama.

 آمين

 Semoga Engkau mengabulkan doa kami.

 Dianjurkan mengakhiri bacaan Surat Al-Fatihah dengan mengucapkan Amin, walaupun kata ini bukan bagian dari Surat Al-Fatihah. Amin berarti “kabulkanlah permintaan  kami,” yakni doa sebagaimana yang tersebut pada ayat 6 dan 7 : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka,  bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”  

Kepustakaan :

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, jilid I, hal. 3-77. Syaikh Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar.  Syaikh Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan.

Hadits Qudsi : Keutamaan Surat Al-Fatihah

عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ :قاَلَ اللهُ تعَالىَ : قَسَّمْتُ  الصَّلاَةَ بَيْنىِ وَبَيْنَ عَبْدِى  نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِى مَا سَألَ . وَفِى رِوَايَةٍ : فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهاَ لِعَبْدِى .  فَاِذَا قَالَ العَبْدُ:  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمَيِن  قاَلَ اللهُ : حَمَدَنِى عَبْدِى . فَاذَا قاَلَ : الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : قَالَ : أثنىَ عَلَىَّ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ  قاَلَ : مَجَّدَنىِ عَبْدِى . فاَذاَ قاَلَ : اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ  نَسْتَعِيْنُ  قاَلَ : هَذاَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَألَ . فَاذاَ قاَلَ : اِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ  صِرَاطَ الَّذِيْنَ  أنعَمْتَ عَلَيْهِمْ  غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ  قاَلَ : هَذاَ لِعَبْدِى  وَلِعَبْدِى مَا سَألَ”. رَوَاهُ الامَام ُمُسْلِم .

Diriwayatkan oleh  Abu Hurairah RA bahwa  Rasulullah saw bersabda : Allah SWT berfirman : “Aku membagi shalat (yakni al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dimohonnya. Apabila hamba-Ku berkata   “Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin”, Allah menyambut dengan berfirman  “Hamadani ‘Abdi” (“Aku dipuja oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Al-Rahman Al-Rahim”, Allah berfirman “Atsna ‘Alayya ‘Abdi” (“Aku dipuji oleh hamba-Ku”). Apabila dia membaca “Maliki Yawmid Din”, Allah berfirman : “Majjadani ‘Abdi” (“Aku diagungkan oleh hamba-Ku”). Dan apabila ia membaca : “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, maka Allah berfiman : “Hadza bayni wa bayna ‘abdi, wa li’abdi ma sa’ala”, (“Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon (kepada-Ku)”. Dan apabila ia berkata : “Ihdina al-shirath al-mustaqim, Shirat al-ladzina an’amta ‘alayhim ghayr al-maghdhubi ‘alayhim wala al-dhallin”, maka Allah berfirman: “Hadza li ‘abdi wa li’abdi ma sa’ala” (“Ini adalah bagi hamba-Ku. Bagi hamba-Ku segala sesuatu yang dimohon kepada-Ku”).

Demikian hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah ra. (radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah SWT memberi ridha kepadanya).

 

 

 

404