info@psq.or.id
+62 21 7421661

PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI

    Home / Artikel / PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI

PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI

1

Oleh : Wahib Mu’thi

Surat Al-Baqarah/2 : 30-33

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ {30} وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَآءِ هَؤُلآءِ إِن كُنتُم صَادِقِينَ {31} قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32} قَالَ يَآءَادَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّآ أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ {33}

ARTINYA

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata : “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku me-ngetahui apa yang tidak Engkau ketahui.”  Dia mengajar kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian memaparkannya kepada para malaikat, lalu berfirman : “Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda itu, jika kamu ‘orang-orang’ yang benar.” Mereka berkata : “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman : “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini !” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman : “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan kamu sembunyikan?”

 TAFSIR MUFRADAT

Khalifah berarti pengganti, yaitu pengganti dari jenis makhluk yang lain, atau  pengganti, dalam arti makhluk yang diberi wewenang oleh Allah agar  melaksanakan perintahNya di muka bumi. Tasbih berarti menyucikan Allah dengan meniadakan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah. Taqdis, berarti menyucikan Allah dengan menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Al-Asma’ adalah bentuk jamak dari ism. Secara harfiah al-asma’ berarti ma bihi yu’lam al-syay’, yakni sesuatu (kata/lambang) yang dengannya diketahui sesuatu (benda/orang dan sebagainya). Al-inba’ berarti al-ikhbar, yaitu memberitakan atau mengabarkan sesuatu. Perkataan al-inba’ secara khusus dipergunakan dalam arti memberitakan sesuatu yang penting nilainya. Al-‘Alim berarti yang maha mengetahui segala sesuatu. Al-Hakim berarti yang maha bijaksana dalam segala perbuatan-Nya, yang tidak berbuat sesuatu kecuali di dalamnya terkandung hikmah yang besar nilainya. (Tafsir Al-Maraghi).

 TAFSIR IJMALI

Ayat tersebut di atas menjelaskan ketetapan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Yang dimaksud dengan khalifah ialah makhluk Allah yang mendapat kepercayaan untuk menjalankan kehendak Allah dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya di muka bumi. Untuk menjalankan fungsi kekhalifahan itu Allah mengajarkan kepada manusia ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan manusia mempunyai kemampuan mengatur, menundukkan, dan memanfaatkan benda-benda ciptaan Allah di muka bumi sesuai dengan maksud diciptakannya.

PENJELASAN

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan ketetapanNya untuk menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman : Inni ja’ilun fi al-ardh khalifah.” (“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi).” Ketika hal itu disampaikan kepada para malaikat, para malaikat itu bertanya kepada Tuhan : “Apakah Engkau akan menjadikan di muka bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Sedangkan kami, para malaikat, adalah makhluk yang senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan memahasucikan Engkau? Para malaikat itu bertanya mengapa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah, karena mereka mengira bahwa manusia yang diciptakan Allah sebagai khalifah itu akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia di mana ada makhluk yang berlaku demikian atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat maka pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan menyucikan Allah (Tafsir Al-Misbah, I, hal. 139). Maka Allah berfirman menjawab pertanyaan malaikat itu dengan firmanNya : “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Artinya, di balik ketetapan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah itu ada hikmah yang tersembunyi. Allah mengetahui hikmah itu sedangkan para malaikat tidak mengetahuinya.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah mengajarkan “nama-nama” kepada Adam. Allah berfirman : Wa ‘allama Adam al-asma’a kullaha. (Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya). Yang dimaksud dengan nama-nama bukanlah nama-nama dalam pengertian harfiah dari kalimat itu, tetapi yang dimaksud dengan “nama-nama” itu ialah pengetahuan tentang benda-benda,  yakni karakteristiknya, sifatnya, fungsinya dan kegunaan dari benda-benda  yang ada di muka bumi, di mana tugas kekhalifahan dibebankan kepada manusia. Dengan kata lain Allah memberikan kepada Adam anugerah yang agung, yaitu  anugerah pengetahuan, yang tidak dimiliki oleh malaikat. Dengan berbekal ilmu pengetahuan itu manusia mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi.

            Mohammad Quraish Shihab menjelaskan arti khalifah sebagai berikut  : “Khalifah pada mulanya berarti “yang menggantikan” atau “yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya”. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan. Dengan pengangkatan itu Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.” (Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 140).

Perkataan khalifah itu sendiri disebut dua kali di dalam Al-Qur’an. Pertama dalam Surat Al-Baqarah/2 : 30, yang telah dikutip di atas. Kedua dalam Surat Surat Shad/38 : 26, yang artinya “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Syaikh Thabathaba’i berkata yang dimaksud khilafah adalah khilafah ‘an Allah, yakni pengganti, dalam arti makhluk yang mendapat kepercayaan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk menjalankan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Fungsi kekhalifahan ialah mengatur, menundukkan, dan memanfaatkan benda-benda ciptaan Allah di muka bumi ini sesuai dengan maksud diciptakannya.  Hal ini sesuai dengan makna yang terkandung dalam ayat berikutnya “wa ‘allama Adam Al-Asma’ (“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama.)” Dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan Adam bukanlah syakhsiyyat Adam, bukan Adam sebagai pribadi,  akan Adam dan keturunannya yaitu manusia pada umumnya. Khilafah dalam ayat tersebut diperuntukkan bagi manusia pada umumnya. Bahwa khilafah itu mengandung arti umum juga diperkuat dengan ayat Al-Qur’an “idz ja’alakum khulafa’ min ba’di qawm Nuh” (Al-A’raf/7 : 69), “Tsumma ja’alnakum khala’ifa fi al-ardh” (Yunus/10 : 14), “Wa yaj’alakum khulafa al-ardh” (Al-Naml/27 : 62).

Perkataan Al-Asma’, secara harfiah berarti “nama-nama”, yang dimaksud ialah al-asyya’ al-musammayat (benda-benda yang diberi nama). Mengajarkan nama-nama artinya mengajarkan pengetahuan tentang benda-benda, sifatnya, fungsinya, kegunaannya dan sebagainya. Telah dikemukakan yang dimaksud dengan Adam bukanlah Adam sebagai seorang manusia, akan tetapi manusia secara keseluruhannya, yaitu Nabi Adam dan keturunannya, dari semenjak penciptaan sampai hari kiamat. Dengan demikian yang dimaksud mengajarkan nama-nama kepada Adam yang dimaksud bukanlah mengajar dengan komunikasi lisan, tetapi untuk memberikan pengertian bahwa pengetahuan manusia tentang nama-nama itu meliputi seluruh nama-nama, merupakan pengetahuan yang berkembang dari masa ke masa, yang digunakan untuk kemajuan kehidupan di dunia.

Faruq Ahmad Dasuqi dalam bukunya Istikhlaf Al-Insan fi Al-Ardh menjelaskan bahwa di dalam khilafah itu terdapat lima   unsur. Pertama, yang memberi wewenang. Kedua, yang diberi wewenang. Ketiga, apa tugas yang dibebankan. Keempat,  syarat kekhalifahan.  Kelima, kapan berlangsungnya masa kekhalifahan dan bagaimana pertanggungannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Pertama, yang memberi wewenang ialah Allah. Kedua, yang diberi wewenang ialah manusia, yaitu Nabi Adam dan keturunannya. Ketiga, tugas yang dibebankan ialah tugas kekhalifahan di muka bumi, yaitu memakmurkan kehidupan di muka bumi, menjadikan benda-benda bumi bermanfaat bagi dirinya dan alam semesta pada umumnya sesuai dengan maksud diciptakannya. Keempat, syarat melaksanakan kekhalifahan ialah dengan ilmu dan dengan petunjuk agama. Kelima, masa kekhalifahan ialah semenjak penciptaan sampai hari kiamat dan tanggung jawab atau hisabnya adalah di hari pembalasan. Dengan demikian khilafah adalah hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan alam semesta. Hubungan manusia dengan Allah yang membebankan taklif kekhalifahan adalah hubungan ketaatan, kepatuhan, menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, dengan kata lain merupakan hubungan yang bersifat ‘ubudiyah. Hubungan manusia dengan alam semesta ialah hubungan manusia sebagai khalifah dengan benda-benda di muka bumi agar dipelihara dan digunakan untuk kehidupan yang baik di muka bumi. Dengan kata lain hubungan yang bersifat siyadah (kepemimpinan) antara pemimpin yang dipimpin. Khilafah adalah ‘ubudiyah dan sekaligus siyadah, ‘ubudiyah dilihat dari segi manusia dalam hubungannya dengan Allah dan siyadah dilihat dari segi manusia dalam hubungannya dengan alam semesta.

Syaikh Al-Maraghi berkata bahwa Surat Al-Baqarah/3 : 30 tersebut di atas yaitu ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang penciptaan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi termasuk ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang samar artinya. Dalam ayat tersebut digambarkan ada dialog yang digambarkan dalam bentuk tanya jawab antara Allah dan malaikat. Dialog tersebut sulit dipahami bagaimana hakikatnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat tersebut. (1). Pendapat mutaqaddimin (para ulama pada zaman dahulu),  mereka bersikap tafwidh kepada Allah, yakni menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan firmanNya kepada Allah. Dengan kata lain mereka mengatakan bahwa bagaimana terjadinya dialog antara Allah dengan malaikat, hanyalah Allah yang mengetahui. Kita hanya dapat memahami maksud ayat tersebut secara ijmali, yaitu menjelaskan tentang keistimewaan manusia dan kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi. (2). Pendapat muta’akhhirin, yaitu mereka berkata bahwa dialog antara Allah dan para malaikat, yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas dalam bentuk tanya jawab, sesungguhnya merupakan kisah perumpamaan. Dengan perumpamaan tersebut dimaksud untuk memberikan pemahaman tentang penciptaan manusia dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepadanya.  Manusia adalah makhluk yang diberi oleh Allah daya berfikir dan kebebasan berkehendak yang oleh karenanya, seperti diindikasi oleh para malaikat, manusia cenderung berbuat kerusakan di muka bumi. Maka Allah SWT memberikan kepada manusia ilmu pengetahuan, dengan pengetahuan yang dianugerahkan Allah itu manusia dapat mengemban amanat Allah sebagai khalifahNya di muka bumi. Demikian Syaikh Al-Maraghi menjelaskan di dalam Tafsirnya. (Tafsir Al-Maraghi, Juz, I, hal. 78-79).

DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, I, hal. 138-149.  Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan, I, hal. 115-123. Tafsir Al-Maraghi, Juz I, hal. 77-85. Faruq Ahmad Dasuqi, Istikhlaf Al-Insan fi Al-Ardh, Dar Al-Da’wah, Iskandariah, t.t. “Khalifah” dalam Ensiklopedi  Al-Qur’an,  Penerbit Lentera Hati, edisi 1997, hal. 206.

[] Input 17/9/12

One thought on PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI