info@psq.or.id
+62 21 7421661

Menghadirkan Khusyu’

    Home / Artikel / Menghadirkan Khusyu’

Menghadirkan Khusyu’

0

Kajian Halaqah Tafsir oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.

(Rabu, 19 Agustus 2015)

Penyakit masyarakat moderen adalah sulit khusyu atau fokus. Mereka kuat dalam beribadah tapi kurang berkualitas. Hal ini karena mereka cenderung lebih suka berlogika dalam melihat segala sesuatu. Dari sini mereka lebih mudah disetir oleh pikiran. Sementara, cara kerja pikiran adalah memetak-metakkan sesuatu. Dialah yang mengatakan adanya aku, kamu, dia, di sini, di sana, dan sebagainya.

“Anakku yang itu begini dan yang itu begitu” misalnya. Secara tidak langsung, ungkapan ini menuntun orang tua untuk memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda terhadap anaknya. Perhatian dan perlakuan tersebut berbanding lurus dengan perbuatan anaknya. Semakin baik perbuatan sang anak, semakin baik pula perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, semakin buruk perilaku si anak, semakin biasa pula – bahkan semakin buruk – perhatian dan perlakuan yang diberikan kepadanya. Sepanjang orang tua tersebut mampu dalam mengisi kotak-kotak tersebut – terlebih terhadap anakknya yang berperilaku baik dengan memberikan perhatian dan perlakuan yang baik – ia akan merasa senang dan gembira. Namun jika tidak, ia akan tertekan dan menderita.

Pada dasarnya, perasaan “terkena musibah” bukan berasal dari diri kita sendiri. Ia adalah barang luar yang menempel pada diri kita. Jadi efek yang ditimbulkan olehnya tergantung pada bagaimana kita melihatnya. Jika kita menilainya sebagai hukuman atau kesulitan yang Tuhan berikan kepada kita, ia akan menjadi musibah. Dan jika kita melihatnya sebagai bentuk perhatian-Nya kepada kita, ia akan menjadi kenikmatan. Dengan demikian, penyebab penderitaan yang sebenarnya bukanlah kondisi buruk yang menghampiri kita, melainkan bagaimana fikiran dan cara kita menyikapi kondisi tersebut. Ada sebuah penemuan yang layak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan, “pasien yang bersahabat dengan penyakitnya hanya merasakan 60% rasa sakit tersebut. Sedangkan dia yang mengutuk penyakitnya, akan merasakan 100% rasa sakit tersebut”. Untuk lebih memantapkan hal ini, silahkan perhatikan kisah Nabi Ayyub as. Oleh karenanya, jinakkan pikiran dan bukan mengusir tamu permasalahan.

Racun dalam kehidupan kita bukan hanya nafsu melainkan juga fikiran. Ia perlu dikendalikan sebagaimana nafsu. Kebanyakan dari kita masih suka memberikan ruang gerak yang luas kepada fikiran dalam berkreasi dan mempersempit ruang gerak nafsu. Padahal, fikiran punya potensi seperti nafsu. Ia bisa berkolaborasi dengan nafsu. Cara menjinakkan keduanya adalah dengan memahami, menghayati dan mempraktikkan agama.

Orang tua dahulu para pejuang berpegang pada prinsip dengan kuat. Bagi mereka berangkat ke medan perang belum tentu tertembak. Kalaupun tertembak belum tentu mati. Kalaupun mati sudah tentu kematian tersebut adalah mati syahid. Terkait dengan kematian, Jalaluddin al-Rumi berkata pada mulanya kita adalah mati yang kemudian hidup sebagai bebatuan.setelah itu, kita mati dan hidup kembali sebagai tumbuhan. Pada saatnya kita akan mati lagi lalu dihidupkan kembali sebagai hewan. Pada usia tertentu kita akan mati lagi dan kemudian hidup terlahir sebagai manusia. Setelah itu mati lagi dan hidup kembali sebagai malaikat. Setelah menjadi malaikat kita akan bersatu dengan Dzat sumber segala sesuatu. Pernyataan Rumi ini berbeda dengan reingkarnasi yang menjadi keyakinan umat Hindu. Bagi mereka, kehidupan berikutnya bergantung pada amal perbuatan yang dikerjakan pada kehidupan sebelumnya. Selain itu, dalam perputaran tersebut ada siklus mundur dari manusia menjadi hewan. Berbeda dengan pernyataan Rumi, perputaran tersebut bersifat linier maju. Terkait hidup dan mati, yang perlu diperhatikan adalah dari mana, sedang dimana, dan akan kemanakah kita.

Kesadaran akan “eksistensi segala sesuatu adalah Engkau” harus kita miliki. Hal ini karena seluruh alam raya ini merupakan tajalli-nya Allah (QS. al Baqarah: 115). Untuk mencapai hal ini kita harus lebih sering mengajak batin untuk aktif dalam kehidupan. Penggunakan batin dalam melihat dan menangkap sesuatu akan memberikan jawaban yang sama, yakni “aku”. Berbeda dengan fikiran, ia akan memberikan jawaban “itu kamu dan ini aku”.

Dengan mata batin, penderitaan akan jarang meghampiri. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pasti ada satu dari dua perasaan yang menyertainya. Perasaan tersebut adalah suka dan beban. Rasa suka akan menghantarkan pelakunya pada kenyamanan Misalnya pada saat menyiram tanaman, terbesit rasa bahwa kita sama-sama butuh air dan perawatan. Kondisi akan merlahirkan rasa suka dan cinta. Dalam menolong juga demikian, jika masih terkotak-kotak oleh pikiran, yakni dengan merasa “ini aku dan itu kamu”, rasa pamrih bisa muncul. Karena ia menlong orang lain dan bukan diri sendiri. Jarang ada orang yang pamrih ketika menolong dirinya sendiri, bahkan tidak ada.

Kesenangan dan penderitaan akan tetap eksis terwujud ketika pikiran tetap bekerja. Perhatikan saat kita tidur, kesenangan dan beban yang terasa sebelum tidur akan hilang tidak membekas sama sekali. Semakin beristirahat pikiran kita, semakin tenang pula tidur kita.

Sholat adalah waktu yang paling enak untuk menghayal. Pada saat itu, biasanya seseorang mendadak menjadi cerdas. Biasanya ia mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini dicari. Orang yang terlalu pintar biasanya sedikit khusyuknya. hal ini karena pikirannya masih bekerja sehingga muncul pengotak-kotakan segala sesuatu. Untuk memperoleh kualitas solat yang baik, Allah memberikan beberapa shock theraphy, antara lain:

1. Azan; karena isinya memperdengarkan akhirat yang hanya bisa digapai oleh batin.
2. Wudhu; terdapat rahasia di balik pendiktean Allah secara langsung terkait oragan tubuh yang harus dibasuh dalam wudlu.

Menurut Omar Barren Ehren Falles, pakar neurologi yang sekaligus psikiater, pusat kesadaran manusia terdapat pada tiga tempat; wajah, tangan dan kaki. Ketiga tempat ini merupakan anggota tubuh yang dibasuh pada saat berwudhu. Terkait hal ini ada yang mengatakan bahwa orang yang tidak khusyu dalam mengambil air wudlu, akan susah khusyu dalam sholat.

Sholat mampu menghadirkan ketenangan pada pelakunya. Ketenangan tersebut diperoleh malalui dzikir yang terdapat di dalamnya. Allah menyuruh hamba-Nya menjalankan sholat untuk mengingat-Nya, berdzikir kepada-Nya (QS. Thaha: 14). Sebagaimana janji Allah, berdzikir akan menghadirkan ketenangan diri (QS. arRa’d: 28