Mari Berpikir Positif

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Berpikir adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang terambil dari bahasa Arab al fikr, yang berarti “kekuatan yang menembus suatu obyek sehingga menghasilkan pengetahuari”. Manakala pengetahuan atau pandangan yang dihasilkannya didukung oleh bukti-bukti kuat yang meyakinkan maka dinamakan “ilmu”. Sementara jika bukti-bukti tersebut belum meyakinkan, tetapi kebenarannya lebih dominan, maka disebut zhann (dugaan). Dan jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut syakk (keraguan). Sementara jika tidak didukung bukti, atau bukti tersebut lemah, sehingga kemungkinan salahnya lebih besar disebut wahm.

Akar kata fa, ka, ra, sampai pun ia berubah susunan (fa, ra, ka), memiliki makna seperti disebut di muka. Sebab al fark dalam bahasa Arab berarti “menyisiri sesuatu untuk mencapai hakikat yang sebenarnya”. Bedanya, menurut beberapa pakar bahasa, al-farak/ al-firk untuk sesuatu yang bersifat materil, sementara al-fikr untuk yang bersifat maknawi (Al-Mufradat Fi Gharib AI­Qur’aan 2/496).

Dengan demikian, berfikir merupakan sebuah proses cara pandang seseorang terhadap suatu obyek, baik itu nyata ataupun tidak, yang kemudian menghasilkan penilaian apakah obyek itu positif atau negative. Banyak hal tentunya yang dapat mempengaruhi hasilpenilaian tersebut, antara lain, yang bersifat internal; suasana hati, pemahaman dan penafsiran suatu informasi yang tidak lengkap, peristiwa yang dialami seseorang dalam kehidupan yang mendorong adanya pergeseran cara pandang terhadap sesuatu/orang lain. Yang bersifat eksternal antara lain faktor tingkat pendidikan, budaya, ekonomi, dan lain-lain

Berpikir positif adalah cara berfikir secara terbuka dan melihat segala sesuatu selalu memberi hikmah bagi pengalaman hidup. Sebaliknya, seorang yang berfikir negatif hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian atau keburukan pada seseorang. Pernahkah kita terpikir mengapa pita film yang umum kita kenal untuk mencuci gambar-gambar yang kita inginkan dikenal dengan film negatif. Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu di sana. Namun, bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik , kita akan dapati suansa indah penuh warna-warni sebagaimana yang kita harapkan. Demikian halnya dengan gambaran pikiran negatif; pikiran yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Kita takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah, mengapa kita disarankan untuk selalu melihat segala sesuatunya dengan kacamata positif. Apalagi jika disadari, bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berada dalam kendali Tuhan Yang Mahakuasa.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi” (Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku). Imam Al-Qurthubi, seperti dikutip pakar hadis Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari (13/386), menjelaskan dugaan atau sangkaan dimaksud adalah “dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diterima jika bertobat, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan”. Imam Nawawi dalam Syarh shahih Muslim (17/2) menambahkan, “dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi”.

Hadis di atas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusan, pasti akan diberi balasan oleh swt. (QS. Ali Imran 195). Sebab rahmat Allah sangatlah luas, “maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”, demikian QS.Yusuf ayat 87. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit telah diperuntukkan untuk kebaikan manusia, karena ia telah dipilih untuk bertugas menjadi khalifah yang akan memakmurkan bumi.

Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi dan berprestasi. Alkisah, seorang Jendral Jepang termasyur bernama Nobunaga memutuskan untuk menyerang musuh meskipun jumlah prajuritnya hanya sepersepeluh dari jumlah prajurit musuh yang akan dihadapinya. Ia memiliki keyakinan akan mendapatkan kemenangan, tapi para prajuritnya pesimis/sangsi. Para prajurit mengatakan ini hal yang mustahil. “Mana mungkin kita melawan musuh yang secara jumlah kita sudah tidak berimbang”. Dalam perjalanannya menuju medan pertempuran, Jendral Nobunaga berhenti di sebuah kuil Shinto, la kemudian melakukan doa, setelah berdoa dalam kuil sang Jendral berkata, “sekarang aku akan melempar mata uang, jika nanti yang muncul gambar kepala maka kita akan menang, dan jika angka kita akan kalah, nasib akan terungkap sekarang. Lalu ia melempar mata uang tersebut. Ternyata kepala yang muncul. Kemudian para prajurit begitu bersemangat untuk maju kemedan perang dan memenangkan dengan mudah. Hari berikutnya, seorang Ajudan berkata kepada Sang Jendral Nobunaga, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan”. ” Memang benar”, kata Sang Jendral Nobunaga sambil menunjuk mata uang rangkap yang kedua sisinya bergambar kepala.

Kisah di atas, kendati nuansanya berbeda, mengingatkan kita akan kisah Thalut dan Jalut yang terekam dalam (QS.Al-Baqarah 247-251). Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas raja muda, Thalut, berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu tumbuh karena mereka yakin pasti akan “menjumpai Tuhan”, sehingga “berapa banyak kelompok minoritas/ kecil berhasil mengalahkan mayoritas/ besar dengan kekuasaan Allah” (QS. Al-Baqarah 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan kembali dengan anaknya, Yusuf as., setelah berpisah sekian lama.

Memang betul seperti kata sang ajudan, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan'”. Tetapi dalam pandangan Islam, manusia memiliki kebebasan untuk memilih antara kebaikan atau keburukan (QS. Al-Balad: 10), (QS. Al-Syams : 8). Karena itu, jika diterpa musibah atau keburukan, jangan tergesa-gesa menyalahkan Tuhan, orang lain atau lingkungan. Ketahuilah, “Kebaikan yang kamu terima adalah dari Allah, dan keburukan yang kamu derita berasal dari dirimu sendiri”; QS. Al-Nisa Ayat 79. Ayat 10 surah al-Jin mengajarkan kepada kita bagaimana bersopan santun kepada Tuhan dengan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. “Dan kami tidak tahu, apakah keburukan yang diinginkan oleh penghuni bumi (asyarrun urida biman fil arhd), ataukah mereka menghendaki agar Tuhan memberikan petunjuk (kebaikan) kepada mereka (arada bihim rabbuhum rasyada)”. Perhatikan, ketika menunjuk keburukan kata yang digunakan bersifat pasif/majhul (urida), dan ketika menunjukkan kebaikan kata yang dipilih bersifat aktif (araada).

Seorang yang berpikir positif akan diliputi dengan ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagai anugrah yang patut disyukuri, bukan berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya, musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) di balik itu. Untuk itu ia akan bersikap terbuka menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan. Perhatikan kehidupan Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat, Ya’qub memperoleh keistimewaan karena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka (husnu al-zhann) kepada Tuhan (Tafsir Ibnu Katsir 4/18). Keluh kesahnya hanya ditumpahkan kepada Allah Swt (QS. Yusuf 86), bukan kepada orang lain. Sehingga beliau cepat mengambil tindakan dengan mengirim kembali anak-anaknya ke Negeri Mesir untuk mencari Yusuf (QS. Yusuf 87).  Seorang yang berfikir positif bukan penganut NATO yang diplesetkan menjadi “No Action, Talk Only”.

Terakhir, sikap optimis dan cara pandang positif akan melahirkan bahasa yang positif, baik tutur kata maupun bahasa tubuh. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, optimisme (al fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Kata-katanya bernadakan optimisme, seperti, “masalah itu pasti akan terselesaikan”, atau “Dia memang berbakat”. Rasul pun, seperti dalam hadis lain, senang mendengar kata “sukses” (yaa najiih) jika akan melakukan sesuatu (Aunul Ma’bud 10/293). Sudah barang tentu, ungkapan tersebut dibarengi dengan senyuman, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Berbicaranya pun dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’. Wallahua’lam.