info@psq.or.id
+62 21 7421661

Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

    Home / Artikel / Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

Ketahanan Pangan dan Keluarga dalam al-Qur’an

0

(Allah Hadirkan contoh Empirik Masyarakat Baduwy)

disajikan pada pengajian halaqah Tafsir (Rabu,1 April 2015)

Oleh : Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi, MA

Tidak ada teks Al-Qur’am atau sunnah yang berbicara langsung terkait ketahanan pangan. Ayat-ayat yang memberi informasi terkait itu bisa dirujuk surat quraisy yang menggambarkan bahwa perintah menyembah Tuhan diikuti dengan sifat melekat terkait pentingnya memperhatikan soal pangan dan soal rasa aman.
Ayat lain yang juga terkait langsung atau tidak langsung gambaran AlQur’an tentang pohon (syajarah toyyibah) yang memberi buah tanpa musim. Mampukan petani muslim mewujudkannya?
Mari kita belajar dari contoh ayat kauniyah yang dihadirkan Allah yakni masyarakat Baduwy terkait ketahanan pangan. Indonesia telah dianugerahi Allah memiliki lahan luas yang subur darat maupun laut, namun tudak memiliki kemandirian dalam pangan sekalipun apalagi dalam bidang-bidang yang lain.
Kata baduy (بدوي) dalam bahasa Arab berarti pedalaman. Karena memang orang­orang baduy tinggal di daerah pedalaman nan jauh dari kemodernan dan gaya hidup kekinian. Mereka dalam menjalani hidup sangat menjunjung tinggi adat dan prinsif yang digariskan para leluhur mereka. Meskipun mereka terkesan hidup mengisolir diri, jangan pernah mengira bahwa keberadaannya tidak ada sisi positif untuk dicontoh bagi kehidupan modern.
Dalam soal ketersediaan pangan dan ketahanan pangan masyarakat Baduy di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Propinsi Banten boleh dicontoh. Masyarakat Baduy telah sanggup mempertahankan hidup kemandirian dalam komunitasnya sendiri. Mereka pada saat panen tiba biasa menyimpan padi untuk stok di lumbung-Iumbung padi yang disebut leuit ( Kaman Nainggolan 2011: 300). Mereka melakukan ini dengan kesiapan penuh jika ada salah satu warga komunitasnya kehabisan tabungan padi, warga lainnya pasti akan membantunya memberikan padi sehingga tidak mungkin kasus kelaparan hingga masa panen berikutnya tiba. Bukankan kita punya ayat ; Surah al-Maidah ayat 2

Apa yang dilakukan masyarakat Baduy sesungguhnya mereka telah mencontoh dan menjalankan pesan Alqur’an yang digambarkan dalam kisah Yusuf AS yang selalu

menyediakan stok pangan pada waktu panen untuk mengantisipasi masa paceklik tiba. lnilah yang dibelajarkan Nabi terkait pola hidup sederhana saat berpunya. Hasilnya sejak dulu mereka tidak pernah mengalami rawan pangan apalagi kelaparan. Kita semua tahu saat itu belum ada modernisasi tehnologi industry pertanian apapun, kecuali pertanian tradisional.

Karena itu menjadi ironis jika di dalam masyarakat modern kelemahanan pangandan mahalnya harga bahan pokok, hanya akibat naiknya harga BBM menjadi Ikon bagi kegagalan mengelola bangsa menjadi bangsa beradab dan sejahtera. Lebih-Iebih di kalangan muslim yang mencitrakan, seolah kita tidak pernah sukses mengembangkan kepedulian sebagai refleksi dari keberimanan dan ketaqwaan. Dengan demikian kita wajib berusaha menciptakan suasana hidup sejahtera berbasis rahmatan Iii alamin.

Kata kunci dari semua itu adalah hidup dalam suasana harmoni, saling peduli, hidup rukun apalagi antar sesama warga, sesama lembaga, membudayakan saling gotong royong dan saling menolong mewujudkan kesejahteraan hidup dan kebaikan hidup sebagai sesama hamba Allah. Inilah yang diisyaratkan Alqur’an dalam surat al­Maidah ayat 2 yang bagian ayatnya berbunyi:

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Artinya saling bertolonganlah kalian dalam mewujudkan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan sekali kali saling membantu dalam hidup berdosa dan permusuhan.

Pesan ayat tentang mewujudkan kebaikan hidup untuk menuju manusia taqwa jelas membutuhkan ketahanan pangan, ketahanan keamanan dan keutuhan social. Kini yang kita rasakan adalah hidup disharmoni, saling menjatuhkan, saling menuding yang mengarah dan bisa menjadi pemicu emosi tak terkendali dan konflik horizontal seperti terjadi di beberapa tempat di wilayah kesatuan Republik tercinta ini. Juga terjadi di belahan bumi berpenduduk muslim di Timur Tengah yang memilukan. Dalam suasana lapar dan terpicu oleh kecemburuan social karena ketidak adilan akses, ketidak adilan ekonomi politik dan social bara emosi masyarakat mudah dibakar ibarat BBM disuguhkan api. Ini pula yang terjadi menjelang naiknya harga BBM lalu, sa at perangkat desa berdemo di Jakarta meminta di PNS kan? Situasi massa besar hilang rasionalitas dan kesabaran didorong hawa nafsu amarah. Siapa kemudian yang harus jadi panutan moral di negeri ini? Muslim-muslimah Indonesia mestinya menjadi garda terdepan atau

Paling tidak belajar ikut memikirkan persoalan budaya bangsa yang sedang terperosok menjadi tidak beradab. Nah di masyarakat Baduy yang tradisional itu tidak ada keserakahan, filsafat hidup yang dikembangkan adalah jika ada salah satu hidup kesusahan warga lainnya pasti akan menolong. Hidup gembira dini’mati bersama dan hidup susah juga ditanggung bersama. Bisakah kita hadir mewujudkan II teori bersama pasti kita bisa”
Di sisi lain masyarakat Baduy sangat menghargai dan memelihara alam. Mereka pantang menebang hutan, atau merusak bukit dan lahan pertanian. Karena hal itu dalam pandangan mereka melanggar adat. Mereka tidak terlalu butuh undang-undang yang mereka butuhkan adalah ketaatan pada filosofi hidup yang berbunyi: ponok teu meunang disambung nu panjang teu meunag dipotong” ini memiliki makna yang dalam bahwa yang pendek tidak boleh disambung dan yang panjang tidak boleh dipotong biarkan apa adanya. lnilah filsafat beragama” membiasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan”. Mereka hidup menyatu dengan alam karena itu jangan harap mereka mau dipindahkan di tempat elite dengan merusak lingkungan. Berbeda dengan masyarakat modern tidak peduli proyek perumahan ataupun apa merusak lingkungan dan merusak tatanan hingga menjadi pemicu banjir dan longsor yang penting memberi untung besar walau sesaat.
Inilah masyarakat Baduy yang Allah hadirkan sebagai tanda hidup agar kita bisa belajar mengenali sisi positif dari kehadirannya. Dalam kisah Sulaiman AS dalam Al-Qur’an, sosok Nabi yang terkenal kaya raya dan begitu hebat ketaqwaannya kepada Allah pun pernah belajar bersyukur dari panglima semut ( an-namal). Jadi ayat Allah telah hadir di tengah-tengah kehidupan di masa manapun untuk dijadikan ibrah (pelajaran berharga).
Indonesia setelah merdeka lebih dari 60 tahun, dengan lahan darat dan lautan yang teramat luas, nelayan dan petani penggarap kita masih hidup di bawah garis kemiskinan belum bisa meni’mati layanan kesehatan apalagi mempunyai ketahanan pangan yang kokoh. Pertanyaan besar muncul kapan masyarakat terbebas dari masalah kerawanan pangan, kerawanan gizi buruk dan kemiskinan akan dapat terkikis dari bumi Indonesia. Mana pula andil kita sebagai warga muslim terbesar dunia? Berapa ribu kali lipat naiknya APBN kita tidak akan memberi arti apa-apa bagi rakyat kecil, jika kaum elite membisu dari memperjuangkan keadilan, kecuali hanya untuk kelompok dan golongannya. Yang kecil dan tidak berdaya akan tetap merana sepanjang masa walau kepemimpinan silih berganti.

Itu sebabnya Nabi Muhammad saw mengkrit keberagamaan dan keimanan kita, jika bisa tidur nyenyak padahal tetangga kita kelaparan. Di sisi lain Al-Qur’an mengecam keras para pendusta agama. Dia adalah orang-orang yang shalat namun tidak memiliki sensitifitas dan tidak memiliki kepedulian social. Ini berarti di balik perintah ibadah ritual ada pesan moral yang harus juga ditegakkan dan harus dapat diwujudkan oleh para pengelola Negara yang kita cintai ini.

Maka agama dan ajaran Islam tidak hanya bicara pentingnya ritual dikerjakan secara baik, benar dan bermutu melainkan jga bicara tanggungjawab social terutama hal yang mendasar bagi kebutuhan masyarakat yakni terbebas dari rasa lapar dan terjamin adanya rasa aman.

Haruslah diwujudkan dengan upaya maksimal sesuai porsi masing-masing dan sesuai tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan tugas hamba sebagai pengabdi.