HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

Oleh : Dr. Muchlis. M. Hanafi, MA
(Disampaikan pada kegiatan Isra’ Mi’raj 1435 H, Rabu-28 Mei 2014 di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe)

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa pergantian misi keNabian dan kerasulan dari Bani Israil kepada bangsa lain. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan Nabi dan rasul berasal dari keturunan Bani Israil. Pengalihan tugas keNabian dan kerasulan kepada pihak lain ini Allah lakukan karena beberapa hal, yakni:
– Bani Israil adalah bangsa yang ngeyel; ke-ngeyel-an mereka tergambar jelas dalam QS. al-Baqarah: 67-71 tentang peristiwa penyembelihan sapi.
– Bukan bangsa yang tidak loyal; keloyalan mereka terhadap Nabi Musa dan ajaran yang dibawanya diuji pada saat Nabi Musa bermunajat kepada Allah. Hanya dalam tempo waktu kurang dari 40 hari, keimanan mereka sudah tergoyahkan oleh pengaruh Musa Samiri (QS. Thaha: 85-89).
– Bangsa yang pengecut; selain terkenal ngeyel dan tidak loyal, Bani Israil juga pengecut. Oleh Allah sifat ini digambarkan melalui percakapan mereka dengan Nabi Musa (QS. Al-Maidah: 2)
Isra’ adalah perjalan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Isra’ Nabi terjadi dalam tempo waktu kurang dari semalam. Selain memang tidak masuk akal, mereka yang tidak memercayai singkatnya waktu yang dibutuhkan Nabi untuk Isra’ ini agaknya kurang teliti atau lupa terhadap redaksi yang digunakan al-Qur’an dalam menggambarkan kejadian tersebut.

Dalam QS. Al-Isra’: 1, al-Qur’an menggunakan lafal asra yang bermakna “memperjalankan pada waktu malam hari” dan bukan sara yang berarti “berjalan pada waktu malam hari”. Dalam ayat tersebut secara jelas terlihat bahwa Allah-lah yang memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang jaraknya tidak mungkin ditempuh dalam waktu kurang dari satu malam. Bukan Nabi sendiri yang melakukan perjalanan ini. Hal ini tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang mampu menempuh jarak jauh dalam waktu yang relatif singkat. Secara pribadi, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal itu. Namun demikian, kejadian ini bisa saja terjadi karena anak tersebut tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan oleh ayahnya, baik dengan digendong atau menggunakan alat bantu. Jadi bukanlah hal yang mustahil bagi anak kecil itu jika jarak yang demikian jauh bisa ia taklukkan dalam waktu yang begitu singkat. Dengan kata lain, dibalik perjalanan Nabi dan anak kecil yang terkesan mustahil menjadi sangat bisa diterima akal sehat karena keberadaan campur tangan Allah selaku pemilik masa dan jarak atau ayah yang bisa berlari dan mengendarai motor.

Mi’raj merupakan peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke sidrat al-muntaha dari Masjid al-Aqsha. Tidak ada ayat yang dengan tegas berbicara tentang mi’raj Nabi. Ketiadaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut tidak mengandung peluang bagi nalar untuk mejangkau kejadian tersebut. Dari sekian ayat yang tidak tegas tersebut, ada sebuah ayat yang dinilai paling mendekati kejadian ini yakni QS. Al-Najm: 13-14. Jika kita perhatikan keberadaan ayat tersebut, kita akan tahu bahwa ia terletak pada sebuah surat yang hakikatnya belum bisa diketahui bahkan oleh para ilmuan modern sekalipun, yakni jumlah bintang (najm) yang ada di langit. Sampai sekarang jumlah bintang di langit belum dapat diketahui dengan pasti oleh siapapun bahkan dengan alat tercanggih sekalipun. Dengan demikian, untuk mempercayai kejadian mi’raj ini hendaknya kita menggunakan kalbu tanpa harus memaksakan akal untuk menerimanya.

Peristiwa yang Terjadi dalam Mi’raj
Melihat Allah secara langsung
Pada saat di Sidrat al-Muntaha Nabi Muhammad diperkenankan melihat Allah secara langsung. Ini merupakan salah satu keistimewaan yang hanya dianugerahkan kepada Beliau. Pernah ada seorang Nabi yang terkenal kuat dan gagah perkasa yang minta diizinkan untuk melihat Allah secara langsung. Permintaan ini tidak Allah kabulkan. Dia hanya bilang “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku” (QS. Al-A’raf: 143).

Minuman yang dipilih
Pada saat ditawari madu, khamr dan susu, Nabi lebih memilih susu. Ini mengindikasikan bahwa ajaran Islam yang dibawanya tidak sempit dan memberatkan. Hal ini karena oleh al-Qur’an kondisi susu digambarkan sebagai sesuatu yang mudah dicerna (khalishan sa`ighan li al-syaribin). Sesuatu yang mudah tidak mungkin mengandung unsur sempit sehingga sulit untuk dilalui dan berat sehingga merepotkan untuk dibawa.
Kemudahan ajaran Islam ini juga tergambar dalam ayat ke-6 surat al-Fatihah. Dalam ayat tersebut terdapat kata shirath yang terambil dari saratha. Akar kata ini memiliki makna menelan dengan mudah. Kemudahan menelan ini menggambarkan bahwa Islam itu luas tidak sempit. Semuanya bisa masuk ke dalamnya pada saat yang bersamaan. Di sisi lain, sesuatu yang luas memudahkan orang untuk beraktifitas.
Selain itu, ajaran Islam juga bersifat moderat, tidak terlalu keras dan lembut. Kemoderatan ajaran ini digambarkan oleh air susu yang diproduksi antara kotoran dan darah (min baini fartsin wa damin). Dalam ajaran Yahudi, jika ada baju yang terkena najis maka bagian baju tersebut harus dipotong. Ini adalah gambaran ajaran yang keras. Sementara ajaran Nabi Isa terlalu pengasih, sampai-sampai muncul istilah di kalangan pengikutnya “jika pipi kanan ditampar, kasihkan pipi kiri”.

Jumlah rakaat salat fardlu
Misi utama Allah dalam memperjalankan hamba pilihan-Nya ini adalah menyerahkan kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam. Pada mulanya jumlah tersebut tidaklah lima melainkan lima puluh kali. Oleh Nabi Musa – pada saat pertemuannya dengan Nabi Muhammad ketika hendak pulang – jumlah yang dirasa sangat memberatkan. Akhirnya Nabi Musa menyarankan agar jumlah tersebut minta dikurangi. Dalam pengurangan dari lima puluh menjadi lima ini terjadi proses yang dilalui Nabi, yakni naik turun ke sidrat al-muntaha. Jika memperhatikan proses dan hasil yang diperoleh, kita bisa mengatakan bahwa Islam tidak memberatkan dan untuk mencapai tujuan harus ada proses yang harus dilalui.