[ DAFTAR AGENDA ]
Halaqah Tafsir bersama Ustadz Ahmad Thib Raya
Tgl Pelaksanaan : 09/06/2010 - 09/06/2010 Lokasi : Bayt al-Quran, Villa Bukit Raya/100 dpn Lap Pdcabe
Untuk pertemuan ke-23 pada tahun 2010 ini, Halaqah Tafsir akan mengangkat tema Tafsir Tematis tentang "Qona'ah itu Menenteramkan". Pada kesempatan kali ini insya Allah akan diisi oleh Ustadz Ahmad Thib Raya sebagai narasumber. Seperti biasa, acara dimulai dari jam 10.00 sampai 12.00 WIB, di Pesantren Bayt al-Quran PSQ, Perumahan Villa Bukit Raya No. 100, samping Pom Bensin Pertamina depan Lapangan Terbang Pondok Cabe, Ciputat.
Rencananya, akan dihadiri para peserta dari beberapa Majlis Ta'lim sekitar Ciputat, di mana sebagian merupakan peserta lama sedangkan sebagian lagi peserta baru yang diundang khusus oleh panitia atau datang sendiri.
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Wafa' di telp. 021-97943494, faks: 021-7421822, email: info@psq.or.id.
Liputan Kegiatan
Kegiatan Halaqah Tafsir bersama Ust. Muhammad Thib Raya, dilaksanakan di Pesantren Bayt Al-Qur`an. Hari Rabu, 9 Juni 2010 Jam 10.00-12.00 WIB. Topik yang dibahas mengenai sifat qana`ah. Hadir dalam pengajian ini jama`ah pengajian Pusat Studi al-Qur`an sebanyak 50 orang muslimin dan muslimat. Kegiatan pengajian ini didahului oleh bacaan al-Qur`an bi al-tartil oleh santri tahfidz al-Qur`an Pesantren Bayt Al-Qur`an.
Dalam ceramahnya Ust. Muhammad Thib Raya memulai dengan membahas mengenai apa pengertian qana`ah. Qana`ah berarti “menerima sesuatu dengan lapang dada” qana`ah juga berarti puas dan senang. Seseorang dapat disebut qani` apabila ia meminta, apabila perilaku tersebut sama sekali tidak memperlihatkan adanya desakan, apalagi paksaan agar permintaannya dipenuhi, dan ia sudah merasa cukup dan puas dengan apa yang diberikan kepadanya.
Dalam al-Quran, kata yang berakar dari huruf qaf, nun, dan `ain, ditemukan dua kali, keduanya diungkapkan dalam bentuk ism fail, yang pertama disebut dalam bentuk kata ism fail dari kata kerja qani`a yakni qani` (QS.Al-Hajj, 22: 36), sedangkan yang kedua diungkapkan dalam bentuk ism fa`il dari kata kerja aqna`a yakni muqni` (QS.Ibrahim, 14: 43).
Kata al-Qani` dalam surat al-Hajj, 22: 36 disebut dalam konteks penyembelihan binatang korban dan pembagian dagingnya kepada orang-orang yang membutuhkan, menurut mufassir al-Thabathaba`i bahwa al-Qani` mengandung pengertian orang fakir yang merasa puas dan cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, baik dia meminta maupun tidak.
Sementara itu Muhammad Al-Bahy, mengemukakan bahwa qana`ah positif pada hakekatnya baru bisa terpenuhi apabila seseorang telah berusaha semaksimal mungkin kemudian memperoleh hasil usaha tersebut, lalu menyerahkannya ke pihak lain karena telah merasa puas dengan apa yang dimiliki sebelumnya. Ini berarti bahwa kata qani` dapat tertuju kepada yang fakir maupun kepada yang berkecukupan.
Sementara itu kata al-muqni` dalam surat Ibrahim, 14: 43 disebut dalam konteks peringatan keras kepada orang-orang zalim berikut siksaaan yang disiapkan pada mereka di hari akhirat.
Bersama dengan lahirnya manusia, Allah juga menganugerahkan kepada manusia keinginan. Keinginan dalam bahasa arab diungkapkan dengan tiga istilah (1) al-iradah, (2) al-hawa, (3) al-syahwat.
Al-iradah adalah kehendak atau keinginan yang bersifat umum, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Seperti juga tercantum dalam al-Qur`an QS.Al-Anfal, 8: 67.
Al-hawa, populer dengan sebutan “hawa nafsu” yaitu menginginkan dan mencintai sesuatu, yang menimbulkan akibat negatif.
Al-syahwat ialah keinginan dan kecintaan terhadap sesuatu yang dapat memuaskan hati. Syahwat adalah sebuah kekuatan yang diberikan Allah kepada manusia untuk beraktifitas, berkeinginan, mengejar dan mencapai segala cita-citanya. Syahwat itulah yang mendorong manusia untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Terkait dengan keinginan manusia yang tidak terbatas, maka sikap qana`ah sangat penting ditumbuhkan di dalam diri dalam rangka menghadapi berbagai tantangan dalam usaha dan kehidupan kita yang penuh dengan persaingan. Qanaah bukan dalam pengertian merasa puas tanpa usaha, tetapi puas setelah secara maksimal berusaha. Qanaah akan membawa ketenangan hati, yang kemudian akan melahirkan ketenangan, ketentraman dalam kehidupan. Sumber: Makalah Pengajian. [Mikhail]
|