Halaqah Tafsir
DAFTAR AGENDA ]

Halaqah Tafsir bersama Ustadz Ahmad Thib Raya

Tgl Pelaksanaan : 20/01/2010 - 20/01/2010
Lokasi : Pesantren Bayt al-Quran, Villa Bukit Raya Pd Cabe

Untuk pertemuan ke-3 pada tahun 2010 ini, Halaqah Tafsir akan mengangkat tema Tafsir Tahlili tentang Tafsir Maudhu'i: "Istighfar dan Taubat Menurut al-Quran". Pada kesempatan kali ini insya Allah akan diisi oleh Ustadz Ahmad Thib Raya sebagai narasumber. Seperti biasa, acara dimulai dari jam 10.00 sampai 12.00 WIB, di Pesantren Bayt al-Quran PSQ, Perumahan Villa Bukit Raya No. 100, samping Pom Bensin Pertamina depan Lapangan Terbang Pondok Cabe, Ciputat.

Rencananya, akan dihadiri para peserta dari beberapa Majlis Ta'lim sekitar Ciputat, di mana sebagian merupakan peserta lama sedangkan sebagian lagi peserta baru yang diundang khusus oleh panitia atau datang sendiri.                   

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Wafa' di telp. 021-97943494, atau Edi Junaedi di telp: 021-7421661, faks: 021-7421822, email: info@psq.or.id.



Liputan Kegiatan

Pesantren Bayt al-Quran, Ciputat (20/01/2010): “Taubat dan istighfar itu memiliki pengertian yang berbeda. Taubat berkaitan dengan dosa besar, sedangkan istighfar berkaitan dengan dosa kecil”, demikian penegasan Ustadz A. Thib Raya dalam Halaqah Tafsir yang membahas tentang “Hakikat Taubat” di Pesantren Bayt al-Quran PSQ, Perumahan Villa Bukit Raya depan Lapangan Terbang pondok Cabe, Ciputat, Rabu (20/01/2010) kemarin.

 

Namun begitu, menurut beliau lebih lanjut, keduanya merupakan sikap hamba kepada Tuhan agar diampuni segala dosanya dan kembali ke jalan-Nya. Yang menarik, katanya, “taubat” hanya disandarkan kepada manusia tetapi juga kepada Allah. Bila disandarkan kepada manusia berarti seperti pengertian di atas, sedangkan bila disandarkan kepada Allah berarti memberi ampun kepada hamba yang bertaubat. Allah disebut at-tawwâb, karena Allah senantiasa memberikan pengampunan kepada hamba-hamba-Nya. At-Tawwâb adalah salah satu nama Allah (al-Asmâ’ al-Husnâ) yang sangat Agung. Dengan sifat “al-tawwâb” itu Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.

 

Taubat tidak akan pernah lepas dari kamus hidup manusia, demikian sentil Pembantu Rektor III UIN Jakarta ini dengan candanya, karena fitrah manusia selalu pada dua kecenderungan, kepada yang baik atau kepada yang buruk, dan itulah potensinya. Ada saatnya berada pada hal yang baik, ada saatnya terjerembab pada keburukan, baik itu disengaja atau tidak disengaja.

 

Di situlah tampak urgensi Taubat, dengan kasih sayang-Nya Allah memberikan fasilitas itu (taubat) agar manusia bisa kembali pada kehidupan yang baik. Bayangkan bila itu tidak diberikan? Jelas Ustadz Thib menggugah 40-an jamaah di Masjid Bayt al-Quran yg saat itu sedang diguyur hujan kencang. Subhanallah, betapa pemurahnya Allah kepada hamba-hamba-Nya.

 

Hanya saja, urainya kemudian, Taubat tidak hanya patut bagi orang yang serang berdosa, tapi juga bagi yang tidak. Bagi yang berdosa, Taubat merupakan jalan untuk memohonkan ampun kepada Allah agar dosa-dosanya diampuni Allah, sedangkan bagi yang tidak berdosa merupakan jalan yang baik untuk menumpuk pahala. Karenanya, taubat merupakan salah satu perintah agama yang harus dilakukan oleh umat. [Edi]
©2003 pusat studi alquran