info@psq.or.id
+62 21 7421661

Salat, Antara Kewajiban atau Kebutuhan?

    Home / Agenda / Salat, Antara Kewajiban atau Kebutuhan?

Salat, Antara Kewajiban atau Kebutuhan?

0

Ibadah salat sudah sering kita dirikan. Bahkan sebagian dari kita ada yang melaksanakan salat lebih, diluar yang wajib. Ada sebagian yang merasakan kesenangan yang luar biasa saat mereka bisa mendapati kehadiran hatinya bisa begitu dekat dengan Rab-nya. Inilah yang melatarbelakangi banyak dari kita yang tetap bisa menjaga salatnya dengan baik.

Ketika pertanyaan salat diajukan menjadi, apakah ia menjadi kewajiban atau kebutuhan, inilah yang menjadikan ibadah ini begitu menarik. Terutama bagi orang tua yang mendapati anaknya begitu sulitnya untuk dikendalikan agar tetap menjaga salat.

Bagi mereka, jangankan untuk membuat ibadah salat menjadi kebutuhan, menjadikannya sebagai kewajiban saja sudah begitu merepotkan. Tak hanya berlaku bagi anak-anak, nyatanya kegiatan ini juga masih banyak yang ditinggalkan oleh mereka yang baligh, dan mengaku muslim. Inilah yang menjadikan pertanyaanya menjadi relevan untuk kembali diangkat.

Menurut Romli Syarqawi Zaen, MA, yang hadir sebagai salah satu narasumber, kebutuhan atupun kewajiban pun keduanya memang benar. Sudah jelas bahwa ibadah salat sudah diwajibkan atas semua muslim. Seperti yang disebut dalam QS. Adz Dzariyat: 56-57. Dan di ayat inipun disebutkan bahwa Allah bukanlah sebagai pihak yang membutuhkan kegiatan salat dari umat-Nya. Karena umatnya lah yang memeiliki kebutuhan untuk berdoa.

Kebutuhan ini, nantinya tidak akan menganggu kekuasaan Allah, karena tanpa umat-Nya beribadah pun Allah masih tetap Maha Agung dan Perkasa atas segala sesuatu. Manusia, disebutkan lebih lanjut, memiliki kecenderungan untuk menyembah kepada mahluk hidup. Untuk itu perintah salat dibentuk untuk meluruskan kembali niat manusia agar menyembah hanya kepada Yang Maha Esa.

Lebih lanjut, untuk persoalan teknis kepada anak-anak didik, dijelaskan oleh Ust. Chairul Amin, S.Th.I dari sekolah Mumtaza, bahwa anak-anak tidak bisa langsung diberikan konsep salat yang utuh agar mereka memahami secara penuh atas perintah salat. Untuk usia-usia dini di sekolah, mereka biasanya secara mudah diperkenalkan dengan hal seperti menjaga kesucian masjid, tetap tenang saat berada di dalam masjid, agar mereka mengetahui bahwa inilah tempat ibadah. Sekaligus mempersiapkan kondisi psikologis mereka agar tahu memperlakukan rumah ibadah ini dengan baik, tanpa menganggu kegiataan jamaah lain.

Bagi Dyah Wahyuningsih yang berasal dari Living Qur’an, beliau menambahkan bahwa dalam sebuat penelitian terkini, rujukan anak saat beribadah, terumata salat, kini lebih banyak ditumpu oleh sang Ayah. Jadi baik buruknya, rajin tidaknya, konsistensi dalam beribadah bisa sangat efektif apabila dalam sebuah keluarga ada yang menjadi panutan dalam mendidik, terutama faktor sang Ayah dalam sebuah keluarga (tanpa mengecilkan peran sang Ibu, tentu saja.)

Inilah ringkasan yang bisa diambil dari kegiatan Talkshow yang diadakan pada hari Rabu, 3 Mei 2017 bertempat di Pesantren Bayt al-Quran Pondok Cabe, Tangerang Selatan.