info@psq.or.id
+62 21 7421661

Prof. Dr. Quraish Shihab dan Pengurus PSQ Bersilaturahmi ke Kyai, Ulama, dan Santri di Cirebon

    Home / Agenda / Prof. Dr. Quraish Shihab dan Pengurus PSQ Bersilaturahmi ke Kyai, Ulama, dan Santri di Cirebon

Prof. Dr. Quraish Shihab dan Pengurus PSQ Bersilaturahmi ke Kyai, Ulama, dan Santri di Cirebon

0

Pada 8 dan 9 Januari 2018 Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dan rombongan dari Pusat Studi al-Quran (PSQ) silaturahmi ke sejumlah kyai, ulama, dan santri di Cirebon, Jawa Barat. Turut dalam rombongan kali ini, di antaranya, Habib Husein Assegaf selaku Ketua Yayasan PSQ, dan cucunya, Izzat Ibrahim Assegaf, Najeela Shihab dan putranya, Fathi Ahmad Assegaf, Dr. Muchlis M. Hanafi selaku wakil direktur PSQ, dan Muhammad Arifin, MA, pengasuh pondok pesantren pascatahfidz Bayt al-Quran. Selain untuk memperkuat tali silaturahmi dan persahabatan dengan pengasuh dan santri pesantren, kunjungan itu juga untuk membincangkan persoalan-persoalan keislaman, keumatan, dan kebangsaan.

Silaturahmi ini merupakan kegiatan kedua kali. Pada 2017 Prof. Quraish dan PSQ juga bersilaturahmi ke KH Mustofa Bisri atau Gus Mus (Rembang, Jawa Tengah), KH Maimoen Zoebair (Sarang, Jawa Tengah), dan KH Shalahuddin Wahid (Jombang, Jawa Timur).

Ada tiga pondok pesantren yang Prof. Dr. Quraish dan rombongan kunjungi kali ini. Kunjungan pertama ke Pondok Pesantren Dar al-Quran pimpinan Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad. Pertemuan dengan keluarga besar Pesantren Dar al-Quran berlangsung pada Senin, 8 Januari 2018, pukul 18.30–22.00. Selain bertemu dengan pengasuh pesantren, pengarang Tafsir Al-Misbah itu juga memberikan tausiah kepada santri Dar al-Quran dan masyarakat setempat tentang moderasi Islam. DR. KH Ahsin Sakho sendiri merupakan anggota Dewan Pakar PSQ. Beliau sangat senang atas silaturahmi ini.

pesantren-dar-al-quran

Dalam tausiahnya, Prof. Quraish menyampaikan banyak hal penting terkait Islam dan kondisi di tanah air. Mengenai moderasi Islam, menurut Prof. Quraish ada hal yang harus kita perhatikan dalam hal ajaran Islam. Beliau membacakan firman Allah dalam QS. al-Baqarah [2]: 143: ”Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ummatan washatan (umat pertengahan, moderat dan teladan) supaya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan supaya Rasul (Nabi Muhammad saw.) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Minimal adil,” kata Prof. Quraish. “Adil itu adalah pertengahan antara dua ekstrem. Dan adil itu harus kita perlakukan walau terhadap musuh.”

Prof. Quraish menjelaskan makna ini dengan mengibaratkan bahwa manusia itu bukan malaikat yang hanya ruhani; bukan pula setan, keburukan semata-mata. Manusia ada di pertengahan. “Diberi potensi untuk baik, diberi potensi untuk buruk. Silakan kelola Anda punya negeri, kelola masyarakat Anda. Dalam konteks itu, Tuhan memberi kita petunjuk agama.

Menurut Prof Quraish, berdasarkan prinsip pertengahan inilah ajaran Islam diukur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan manusia. “Karena itulah kita diciptakan dalam bentuk washatiyah maka ajaran ini harus bersifat washatiyah. Tanpa itu tak pas kita,” katanya.

Selain membabarkan makna washatiyah, Prof. Quraish juga cerita mengenai jalan hidupnya saat remaja yang akhirnya mengantarkannya kepada tafsir al-Quran. Saat di al-Azhar dulu, ketika menentukan jurusan beliau berkonsultasi kepada dosennya. Prof. Quraish mengambil Fakultas Ushuluddin dan ada dua jurusan saat itu, yaitu filsafat atau tafsir dan hadis. Dia mendapatkan nasihat dari dosennya bahwa kalau mengambil filsafat dia bisa tergelincir. Tapi, kalau dia mempelajari al-Quran dia tidak akan tergelincir. Selain itu, kalau kelak mengambil filsafat dan pakar di bidangnya, belum tentu dia mengerti fikih, Bahasa Arab. Tapi, kalau belajar al-Quran maka semua ilmu pengetahuan bisa dia kuasai.

Itu sebabnya saya pilih jurusan tafsir. Itu juga keisitimewaannya orang yang belajar di Dar al-Quran. Karena di dalam al-Quran anda dapat fikih, hadis, filsafat, segalanya. Al-Quran bisa memberi penjelasan melalui ayat-ayatnya untuk hal-hal ini. Berbahagialah saudara yang belajar di Dar al-Quran. Lebih berbahagia lagi karena yang pimpin Dar al-Quran adalah orang yang amat paham al-Quran.”

KH. Dr. Akhsin Sakho Muhammad yang menjadi pengasuh Dar al-Quran merupakan pakar al-Quran dalam bidang qiraat dari Universitas Madinah. Kepakaran beliau sudah diakui di tingkat nasional dan internasional.

Dalam pertemuan itu hadir pula KH Husein Muhammad. Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid ini menjelaskan sejumlah prinsip dalam nalar pikiran moderat. Di antaranya adalah tidak mudah menuduh orang lain salah.

Selain tausiah, Prof Quraish juga mengadakan pertemuan dengan alumni pesantren pascatahfizh Bayt al-Quran (BQ) —sebuah program berbeasiswa penuh binaan PSQ bagi para hafizh atau santri yang telah menghafal 30 juz al-Quran dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendalami ilmu-ilmu yang terkait dengan studi ke-al-Quran-an (dirasat Quraniyyah) selama enam bulan, di kawasan SouthCity, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Pertemuan para alumni BQ dengan tim PSQ itu dimaksudkan untuk tukar menukar informasi sekitar kiprah alumni di masyarakat, tantangan dakwah yang dihadapi, sekaligus mendiskusikan upaya-upaya peningkatan peran alumni di masyarakat. Pada kesempatan pertemuan itu, alumni yang hadir terbatas pada alumni yang berasal dari provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebelumnya, pertemuan serupa telah dilakukan di Jombang, bagi alumni BQ yang berasal dari Jawa Timur.

Pada hari kedua, yaitu 9 Januari 2018, Prof. Quraish berkunjung ke Buntet Pesantren. Pesantren ini sarat dengan sejarah perjuangan bangsa dan nasionalisme. Cikal bakal Pesantren ini didirikan Mbah Muqoyim, Mufti Keraton Cirebon. Meski memiliki kesempatan untuk mendapatkan kenyamanan dan fasilitas dari Keraton Cirebon, Mbah Muqoyim memilih untuk mendirikan pesantren yang jauh dari Keraton. Beliau tak ingin bekerja sama dengan penjajah Belanda. Tak aneh bila semangat cinta tanah air sudah tumbuh lama dalam nadi perjalanan pesantren ini. Saat revolusi Indonesia pada kurun 1940-an KH Abdullah Abbas memimpin santri-santrinya dalam Laskar Hizbullah untuk terjun langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, menurut satu riwayat, KH Hasyim Asyari mesti menunggu kedatangan KH Abbas untuk menurunkan santri-santrinya yang turut dalam Pertempuran 10 November 1045 di Surabaya.

Pesantren Buntet Cirebon

Saking lekatnya pesantren ini dengan semangat nasionalisme, KH Adib Rofiuddin Izza, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren, mengatakan: “Kami santri sudah lama cinta tanah air, sebelum Indonesia ada,” katanya. KH Adib mengisahkan bahwa pada kurun 1930-an di pesantren ini sudah didirikan madrasah yang dinamai Wathaniyah (tanah air).

Dalam kesempatan diskusi dengan para kyai pengasuh pondok pesantren, kyai muda, dan jajaran guru Prof. Quraish menandaskan bahwa Islam dan nasionalisme bukan dua pilihan. Keduanya merupakan satu kesatuan. Tidak mungkin ada Islam tanpa nasionalisme.

Rasulullah saw. sendiri, lanjut Prof. Quraish, adalah orang yang mencintai tanah kelahirannya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengemukakan kecintaannya kepada kota Mekah yang merupakan tanah kelahiran beliau beberapa saat sebelum berhijrah ke Madinah. “Demi Allah. Sungguh engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai,” kata Rasulullah saw kepada kota Mekah seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah. “Kalau bukan karena orang-orang kafir mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu,” lanjut beliau dalam hadis itu. Kecintaan Rasulullah saw itu juga terlihat pada keinginan kuat beliau mengharap agar menghadap ke Masjidilharam sebagai kiblat ketika melakukan salat. Dan keinginan beliau itu dikabulkan oleh Allah dengan memindahkan arah kiblat salat dari sebelumnya ke Masjidil Aqsa ke Masjidilhharam di Mekah.

Prof. Quraish juga mengingatkan hadirin betapa semangat keagamaan telah mewarnai dan menjiwai pemikiran dan sikap para pendiri bangsa Indonesia dalam merumuskan dasar-dasar kehidupan berbangsa di Indonesia. “Saya hampir yakin bahwa pendiri bangsa kita mendapat ilham dari Allah swt ketika merumuskan Pancasila sebagai dasar negara,” katanya. Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Karena itu, menurut Prof. Quraish, “Orang yang tidak cinta tanah air itu adalah orang yang sakit.”

Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan para kyai dan ulama di Buntet Pesantren, Prof. Quraish bertandang ke Pondok Pesantren Kempek KHAS. Di pesantren ini beliau diterima KH Mustofa Aqil Siraj dan keluarganya, juga jajaran akademika IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Pondok Pesantren Kempek Cirebon

KH Mustofa Aqil Siroj sangat senang dengan kehadiran Prof. Quraish. Beliau merasa seperti anak yang kedatangan sosok ayah. Dalam diskusi dengan para kyai, ulama, dan jajaran akademika IAIN Syekh Nurjati, Prof. Quraish menyampaikan tentang perlunya kyai-kyai muda untuk mendapatkan gelar akademik secara formal. Di sisi lain, kampus juga perlu memberikan ruang kepada kyai-kyai yang memang sangat luas ilmunya untuk mengajar mahasiswa.

KH Mustofa Aqil menyatakan kebahagiaannya dengan kehadiran Prof. Quraish. “Sebetulnya beliau hadir ke kita setiap Ramadhan. Cuma beliau tidak mengenal kita. Beliau sudah ada di hati kita semua, dengan tafsirnya, al-Misbah. Tafsir yang enak dibaca dan enak dirasa,” kata KH Mustofa Aqil.

Dalam diskusi dengan santri dan masyarakat sekitar, Prof. Quraish mendorong hadirin untuk mencintai al-Quran. “Saya merasa bahwa sebenarnya prinsip dasar yang ditanamkan di pesantren ini adalah cara terbaik untuk memahami al-Quran. Tadi saya diceritakan bahwa di sini dasarnya itu nahwu, bahasa, dan al-Quran. Al-Quran dan nahwu itu bergandengan. Anda tidak akan bisa paham al-Quran tak paham bahasa Arab. Bukan sekadar paham dan bisa bicara, tapi tahu nahwu sharaf-nya.” Lebih jauh, Prof. Quraish menguraikan bahwa bahasa itu mengajarkan orang untuk berpikir. “Bahasa Arab itu sangat rasional. Untuk memahami al-Quran harus berbahasa Arab, dan orang yang paham bahasa Arab pasti berakal. Memahami al-Quran tanpa menggunakan akal pasti salah,” katanya.

Beliau lalu mengutip Imam Ghazali yang mengatakan bahwa al-Quran itu seperti cahaya yang sangat terang. Kalau melihat langsung kepada cahaya tentu akan silau. “Bagaimana caranya bisa melihat matahari tanpa silau? Dengan kacamata hitam. Kacamata hitam itu menurut Imam Ghazali disebut dengan akal,” kata Prof. Quraish.

Dr. Muchlis Hanafi dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa dalam memahami al-Quran akal memainkan peranan penting. “Bagaimana ketika kita menggunakan akal dalam memahami teks al-Quran itu juga memerhatikan realitas di mana dan kapan kita berada. Inilah sesungguhnya yang dinamakan manhaj Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah. Salah satu cirinya adalah al-jam’u baina al-aqli wa al-nashi (memadukan antara akal dan teks),” katanya.

Prof. Quraish juga mendorong hadirin untuk mencintai al-Quran. “Pelajari dia, cintai dia maka dia akan memberitahu rahasia-rahasia yang tidak dia berikan kepada orang lain.”

Habib Husein Assegaf selaku Ketua Yayasan PSQ ingin kegiatan silaturahmi ini bisa lebih digalakkan lagi. “Kalau bisa setahun dua atau tiga kali,” katanya. Beliau melihat bahwa kegiatan ini sangat positif untuk menyambungkan rasa dan pikiran. Hal senada diungkapkan Najeela Shihab. “Meskipun sekarang sudah ada skype atau teknologi, pertemuan tatap muka selalu memiliki makna,” katanya. Karena itu dia berharap kegiatan ini bisa memperkuat jaringan yang sudah PSQ bina. Sehingga, kolaborasi untuk menciptakan kondisi Islam yang berpandangan moderat (washatiyah) bisa menjadi arus utama kembali.
[Muhammad Arifin dan Muhammad Husnil]